Disclaimer © Masashi Kishimoto
The Chronicle Of Trio Uzumaki © Ryusuke Akairyuu (Ganti Pen Name)
Rate : M
Genre : Adventure – Family – Romance – Friendship
Pair : Naruto X Kushina – Karin X ?
Warning : Typo dan Miss Typo, Alur Berantakan, Ide Pasaran, Ancur, GaJe, OOC, OC, StrongNaru, GodlikeNaru, Etc.
Summary : Setelah meninggalkan desa Konoha. Naruto bersama adiknya dan Kushina memilih
untuk menetap dan membangun kembali desa leluhur mereka yaitu Uzushiogakure disamping Naruto menjalankan tugas dari Rikudou Sannin yaitu kedamaian.
Chapter 28
Setelah ritual untuk menghidupkan Gaara selesai. Nenek Chiyo pun menghembuskan nafas terakhirnya. Tim 7 dan 9 minus sensei mereka langsung memasukkan Nenek Chiyo ke dalam sebuah kantong hitam besar yang digunakan untuk membawa korban jiwa dalam perang di dunia shinobi.
Selama proses itu, Sakura dan Tenten tidak dapat menahan air matanya untuk mengalir melihat pengorbanan yang dilakukan oleh nenek Chiyo. Sedangkan Gai dan Lee, jangan ditanya lagi. Mereka berdua menangis sekeras-kerasnya sambil berpelukan yang membuat semuanya sempat sweatdrop di sela-sela suasana sedih.
Perlahan Gaara mulai membuka matanya, dan hal yang pertama ia lihat adalah dua sosok berbeda gender yang berdiri di depan kedua kakinya. Mereka adalah Naruto dan Karin. "K-Karin-chan!"
Gadis berambut merah itu mengangguk pelan lalu berjalan ke samping kanan Gaara, sedangkan di samping kiri adalah Sakura. Keduanya pun membantu Gaara untuk duduk. "Bagaimana keadaanmu?" Tanya Karin.
Gaara mengedarkan pandangannya ketika ia sudah dalam posisi duduk. "B-bagaimana bisa ... bukannya tadi aku ..." Gaara menghentikan perkataan ketika melihat sebuah kantong hitam yang ia ketahui adalah kantong untuk membungkus korban jiwa ketika dalam peperangan.
"Chiyo-baasama mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkanmu ... Ia menggunakan sebuah Kinjutsu ... cara kerjanya memberikan semua chakra miliknya untuk menghidupkanmu." Naruto langsung memotong perkataan dari Gaara yang bertanya-tanya mengapa ia bisa hidup kembali.
Gaara langsung membulatkan matanya dan akhirnya mengetahui siapa yang berada di dalam kantong besar berwarna hitam itu. Beberapa menit kemudian akhinya ia merelakan hal tersebut setelah Kakashi yang sudah dibopoh oleh rivalnya Maito Gai menjelaskan alasan Nenek Chiyo melakukan hal tersebut.
Satu persatu Shinobi dari Suna akhinya tiba di tempat mereka berkumpul. Temari yang melihat keadaan dari Gaara langsung tersenyum bahagia dan sedikit meneteskan air mata. Namun setelah Gaara menjelaskan bagaimana ia bisa hidup kembali setelah Bijuu di dalam tubuhnya diambil ekspresi seluru Shinobi Suna langsung berubah menjadi sedih.
"Jadi ... kepada siapa kami harus berterimakasih selain Chiyo-sama?" Seluruh shinobi Sunagakure pun ikut mengangguk membenarkan pertanyaan dari Temari.
Gaara, Tim 7 dan 9 minus Sakura dan Neji langsung menoleh secara bersamaan ke arah Naruto yang berdiri di belakang Karin. Sontak Temari dan Shinobi dari Sunagakure membulatkan mata mereka karena orang yang paling berjasah dalam penyelamatan ini selain Nenek Chiyo adalah seorang SS-Rank Missing-nin dari Konohagakure.
"M-Mana mungkin seorang Missing-nin dari Konoha yang harus mendapatkan ungkapan terima kasih dari kami."
"Seharusnya Shinobi Konohagakure yang pantas mendapatkan rasa terima kasih kami."
"Semuanya ..." Seluruh Shinobi Sunagakure langsung terdiam ketika mendengar suara lemah ndari Kazekage mereka. "Mau dia Missing-nin atau tidak ... Naruto pantas mendapatkan kata terima kasih dari kita." Sambung Gaara.
Mantan Jinchuriki itu lalu menoleh ke arah Naruto. "Arigatou ... Naruto!" Pemuda berambut pirang jabrik itu hanya mengangguk dengan wajah datarnya yang sudah ia pasang karena sempat mendengar bisikan-bisikan dari Shinobi Sunagakure.
"Berterima kasihlah pada Karin-chan ... karena membujukku untuk melakukan hal ini." Kata Naruto datar. Gaara mengangguk lalu mengunkapkan rasa terima kasihnya kepada Karin ditambah suffix –chan dan senyuman tipis yang jarang ia perlihatkan.
"Baiklah! ... mari kita kembali ke Suna dan ... Karin-chan dan kalian berdua juga ikut!" Naruto menaikkan alisnya dan akhirnya mengangguk setuju setelah mendapatkan tatapan memelas dari adiknya.
"Haaaa ... baiklah!"
.
Di depan gerbang masuk desa Sunagakure, seluruh penduduk dan shinobi dari desa itu berkumpul untuk menyambut kedatangan Kazekage mereka. Beberapa diantara mereka terlihat memasang wajah khawatir atas keadaan dari Kazekage mereka. Gaara!
"Tenanglah! ... Temari-sama dan yang lain akan mengembalikan Gaara-sama dalam keadaan baik-baik saja!" Salah satu Kunoichi memberitahukan kepada rekan mereka agar tidak terlalu mengkhawatirkan keadaan dari Gaara.
Salah satu Jounin dari Sunagakure yang setengah wajahnya tertutupi kain putih menatap penuh penantian ke arah matahari yang hampir tenggelam pada padang pasir di depannya."Temari ... Chiyo-sama ... Shinobi Konoha ... Kuharap kalian membawa Gaara kembali dengan keadaan selamat." Batin Jounin tersebut.
Beberapa menit kemudian ekspresi semua orang yang berada disana langsung berubah ketika mendapati beberapa siluet yang lama kelamaan menampakkan Gaara yang dibopoh oleh Neji dan Lee, dibelakang mereka adalahh shinobi Sunagakure yang mendapatkan tugas sebagai bala bantuan bersama Temari.
"Gaara-sama!"
"Hidup ... Gaara-sama!"
"Kazekage-sama!"
Teriakan dari para penduduk dan shinobi Sunagakure langsung pecah ketika melihat orang yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba juga walaupun keadaan terlihat kurang baik. Tetapi ketika rombongan Gaara sudah menghampiri mereka, beberapa dari mereka langsung memasang ekspresi wajah kasar karena melihat seorang dengan status yang dianggap sangat berbahaya.
"Uzumaki Naruto ... SS-Rank Missing-nin dari Konoha ... kenapa ia bersama dengan Gaara dan kenapa yang lain tidak menyerangnya bahkan shinobi Konoha pun tidak mengambil tindakan."
Naruto menghela nafas berat ketika mengetahui pikiran dari Baki, Sensei dari Gaara, Kankuro dan Temari. "Sudah kuduga!"
Kurama Yin yang berada di dalam tubuh Naruto yang merasakan apa yang Jinchurikinya rasakan mendesah dalam keadaan kesal. Ingin rasanya ia keluar dari tubuh Naruto dan mencabik-cabik tubuh para shinobi di dekat Naruto. "Seandainya saja aku bisa keluar ... akan kuperlihatkan kepada mereka apa itu namanya rasa sakit."
Naruto kembali menghela nafasnya ketika mendengar umpatan kesal dari Partnernya. Dengan tenang Naruto menenangkan Bijuu di dalam tubuhnya itu. Pemuda itu kemudian melirik ke arah adiknya. "Ayolah!" Naruto kembali mengumpat kesal ketika adiknya merespon lirikannya dengan gelengan.
Gaara yang mendengarkan umpatan dari Naruto, menoleh ke arah orang-orang yang berdiri di depannya. "Aku tahu yang kalian pikirkan ... namun dialah orang yang telah menyelamatkanku bersama ... Nenek Chiyo." Semua orang yang berada di sana langsung terkejut ketika dua orang yang berjalan melewati Gaara setelah berkata demikian. Kedua orang itu membawa sebuah tandu yang diatasnya terdapat kantong besar berwarna hitam.
"Berikan penghormatan terakhir kalian untuk Nenek Chiyo ... Hening cipta dimulai!" Gaara diikuti semua orang yang berada di sana langsung menundukan kepala mereka sambil mengheningkan cipta ala shinobi. "Hening cipta ... selesai!"
Penduduk dan shinobi Sunagakure yang berdiri menghalangi jalan masuk langsung bergerak mundur untuk membuat sebuah jalan. Kedua orang yang membawa tubuh Nenek Chiyo berjalan di depan diikuti Gaara dan yang lainnya.
.
Skip Time
Setelah pemakaman Nenek Chiyo dilakukan. Tim 7 dan 9 kembali ke Konoha setelah berpamitan. Sebelum pergi Gaara sempat berterima kasih. Tim 7 dan 9 hanya tersenyum membalas kata terima kasih dari Kazekage muda itu.
Gaara menghampiri Naruto, Karin dan Kushina yang berdiri tepat di depan gerbang masuk Sunagakure. "Sekali lagi ... aku sangat berterima kasih kepada kalian."
"Sama-sama!" Balas Karin dan Kushina bersamaan. Sedangkan Naruto hanya mengangguk dengan wajah datarnya. Karin yang melihat Naruto langsung memukul lengan Uzukage itu. "Haaaaa ... baiklah! ... sama-sama!"
Gaara tersenyum tipis. "Sebagai balasan dari apa yang kau lakukan ... Sunagakure akan menghapus status Missing-nin ... yang kau sandang Naruto."
"Menghapus?" Naruto menaikkan alis, Gaara mengangguk pelan diikuti kedua saudaranya yang dari tadi cuman diam saja. "Tidak usah! ... bisa-bisa desamu akan dicurigai." Naruto berkata dengan datar membuat Gaara, Kankuro dan Temari tertegun. Bagaimana tidak Naruto lebih mementingkan desa mereka dibanding dirinya sendiri.
"Bagaimana kalau menjadi aliansi saja ... aku dengar dari Kakashi ... kalian bertiga sekarang tinggal dan membangun sebuah desa."
"Kalau itu aku bisa menerimanya." Naruto tersenyum tipis karena ia tidak perlu repot-repot mengatakan bahwa mereka ingin beraliansi. Berterimakasih kepada Kakashi yang menjelaskan tujuan lain Naruto mau melakukan misi ini.
Naruto menyentuh Fuinjutsu di lengan kirinya dan mengeluarkan sebuah gulungan kecil. "Disini tertulis ... semua hal yang menyangkut desa yang kubangun!" Gaara mengangguk dan menerima gulungan yang disodorkan Naruto kepadanya.
"Tapi aliansi ini bersifat tertutup ... tidak ada desa lain yang boleh mengetahuinya ... Kecuali Kirigakure yang sudah lama menjadi aliansiku!" Naruto berujar demikian dengan datarnya.
"Hn."
"Dan satu lagi!" Naruto mendelik ke arah ketiganya. "Jika sampai kalian berhianat pada desaku ... maka jangan salahkan aku jika Sunagakure akan menjadi sebuah padang pasir yang gersang!" Kankuro dan Temari langsung meneteskan keringat dingin mendengar ancaman dari Naruto. Sedangkan Gaara kembali ber'hn' pelan sambil mengangguk walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga terintimidasi oleh ancaman dari Naruto.
Naruto menyentuh pundak Karin dan Kushina yang keduanya berada di samping kiri dan kanan Naruto. "Kami pamit dulu!"
"Sekali lagi ... Arigatou!" Kata Gaara dibalas anggukan oleh ketiganya.
Ketiga shinobi Uzushiogakure itu pun meninggalkan tempat itu diikuti seberkah kilatan kuning. Mereka berangkat menggunakan Hiraishin milik Naruto.
"Gaara ... apa kau yakin ingin menjadikan desa mereka sebuah aliansi ... kalau boleh tahu apa nama desa mereka?" Gaara mengangguk bahwa ia yakin ingin menjadikan Naruto dan desa Uzushiogakure sebagai aliansi Sunagakure tidak lupa memberitahukan nama desa Naruto. Tetapi anggukan itu belum meyakinkan Kankuro.
"Apa kau tahu Gaara ... Naruto itu SS-Rank Missing-nin ... jadi kita desa Sunagakure akan dirugikan dengan Aliansi ini." Kankuro mengutaran pendapatnya dengan raut wajah serius.
Kazekage muda itu menggeleng pelan. "Walaupun Naruto seorang Missing-nin ... aku tahu ia bukanlah seseorang seperti yang kau pikirkan Kankuro." Pengguna Kugutsu yang sering merias (?) wajahnya itu pun mendecih mendengar adiknya tidak mencurigai Naruto sedikit pun.
"Bilang saja kalau kau ... menyetujui aliansi ini agar... mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan adik si Naruto itu." Kankuro berujar demikian sambil memutar-mutar jari telunjuk yang ia arahkan kepada Gaara. Temari yang mengerti arah pembicaraan Kankuro ikut-ikutan mengangguk.
"Hn." Gaara mengeluarkan gumaman ambigu. Kankuro dan Temari tampaknya bingung mengenai arti gumaman itu.
"Apa arti 'hn'-mu itu Gaara?" Temari mengangguk antusias mendengar pertanyaan dari pemuda pengguna Kugutsu tersebut.
"Sudahlah kalian berdua ... aku menerima persetujuan aliansi ini ... karena Kakashi mengatakan kalau desa Naruto itu sangatlah kuat." Gaara berujar dengan nada datar khas miliknya. Sedangkan Temari dan Kankuro memasang seringai karena mereka berdua mengetahui kalau Gaara mengalihkan topik pembicaraan.
Gaara mulai beranjak meninggalkan kedua Kakaknya menuju ke dalam desa. Tampaknya ia mulai kesal lantasan kedua Kakaknya mulai menggoda dirinya. "Sebaiknya kalian kembali ... banyak pekerjaan yang ingin aku berikan kepada kalian." Ucap pemuda berambut merah bata itu tanpa menoleh ke arah belakang sembari berjalan menjauh dari keduanya.
Temari dan Kankuro hanya menghela nafas, tampaknya mereka berdua kesal karena harus kembali bergelut dengan tugas-tugas aneh yang akan diberikan Gaara kepada mereka.
"Kuharap tugasnya bukan mengurusi anak kecil lagi." Dengan nada malas Kankuro berujar demikian. Tampaknya ia memiliki trauma tersendiri jika bersama-sama dengan anak kecil.
Temari mengangguk antusias menyetujui perkataan dari Kankuro. Gadis berambut pirang yang dikuncir empat itu tampaknya juga memiliki trauma tersendiri jika bersama dengan anak-anak. "Kau benar!"
Keduanya pun beranjak dari tempat mereka berdiri dan mengikuti Gaara yang sudah menjauh dari. Sementara di sisi Gaara, ia terlihat menyeringai karena memang ia bermaksud untuk memberikan tugas yang kedua kakaknya itu benci.
.
Sementara di wilayah hutan Negara Api. Tim 7 dan 9 terlihat melompat dahan demi dahan dengan irama yang konstan kecuali Kakashi yang berada di gendongan rival abadinya.
Sakura yang berada di barisan paling depan menoleh ke arah Kakashi dan Gai yang berada di belakangnya. "Kakashi-sensei ... bisa jelaskan kenapa jika kita menyerang Naruto ... Konoha akan diserang?" Sakura nampak menunjukan ketidaksukaannya saat menyebut nama Uzukage muda itu. Ia juga mulai mengingat perkataan Kakashi saat ia hendak menyerang Naruto.
Jounin bermasker yang berada di gendongan rivalnya itu menoleh ke arah Sakura. "Bukan aku yang berhak menjawab pertanyaan itu ... setidaknya untuk saat ini." Kakashi menampilkan eye smile miliknya. Memang untuk saat ini keadaan tidak memungkinkan untuk menjelaskan apa yang menjadi tanda tanya besar bagi Sakuran dan yang lainnya.
"Sebenarnya siapa orang bernama Naruto itu?" Sai bertanya dengan polosnya. Ia tampaknya penasaran dengan apa yang terjadi dengan Uzumaki berambut pirang itu.
"Dia adalah ... orang yang paling ingin aku pukul." Sakura menjawab pertanyaan dari Sai sambil mengepal tangan kanannya sekuat mungkin untuk menunjukan seberapa besar ketidaksukaannya pada Naruto.
"Aku pun sama denganmu Sakura." Neji ikut-ikutan menyahut dengan nada arogan yang sudah kembali setelah sempat dihilangkan oleh Naruto saat ujian Chunin.
"Dia adalah temanku yang mempunyai semangat muda yang membara." Reinkarnasi dari Rival Abadi Kakashi pun menyorocos masuk ke dalam percakapan yang membuat Sakura dan Neji yang tadinya kesal, kini sweatdrop. Sementara Sai hanya tersenyum palsu seperti biasanya.
"Sebenci itukah kalian berdua kepada Naruto?" Tanya Kakashi.
"Tentu saja ... Naruto itu sudah membuatku kehilang dua rekan setimku." Jawab Sakura yang sudah pulih dari sweatdropnya karena kejadian barusan.
"Tapi apa kau tahu alasan Sasuke meninggalkan desa ... Sakura?" Kakashi menatap tajam Sakura yang masih setia melompat ke dahan demi dahan. Sementara Chunin berambut gulali itu pun tersentak mendengarnya.
"Kalau tidak salah Sasuke-kun ... ingin mendapatkan kekuatan yang lebih kuat!" Jawab Sakura mengingat saat terakhir ia bertemu Sasuke di sebuah taman pada malam hari sebelum Sasuke meninggalkan Konoha.
Kakashi menghela nafas mendengar jawaban dari Sakura. Jounin itu lalu menerawang jauh ke langit untuk mengingat perkataan Sasuke saat dimana mereka terakhir berbicara.
.
Flashback
DI atas sebuah dahan pohon yang sangat besar di dalam desa konoha. Seorang anak berambut raven bermodel pantat ayam. Tengah duduk bersandar pada batang pohon itu. Kaki kanannya ia luruskan sedangkan kaki kirinya ia tekuk.
"Cih! ... kemana kau Dobe ... padahal saat ini aku ingin memberitahukanmu sesuatu yang sangat penting." Gumam anak itu yang ternyata adalah Sasuke. Uchiha terakhir di desa konoha. Ia lalu manaruh tangan kirinya di atas lututnya.
Poft!
Sebuah kepulan asap tercipta di depan Sasuke. Ketika kepulan asap itu menghilang menampakkan Jounin berambut silver melawan gravitasi yang memegang buku orange di tangan kirinya.
"Ada apa sensei?" Sasuke langsung membuka suara ketika mengetahui kalau yang muncul itu adalah sensei-nya di Tim 7.
"Apa yang kau lakukan disini? ... menikmati masa mudamu?" Kakashi melempar balik sebuah pertanyaan yang membuat Sasuke menghela nafas karena omongan dari Kakashi terdengar seperti duo shinobi berbaju ketat yang ia kenal.
"Kau seperti Lee dan Gai saja ... aku sedang menenangkan pikiranku." Sasuke menyindir Kakashi sejenak lalu memberitahukan apa yang ia lakukan disini pada malam hari. "Apa sensei melihat Naruto?" Tanya Sasuke untuk kedua kalinya.
Kakashi menggeleng pelan lalu memasukkan buku kramatnya ke dalam kantong ninja di pinggulnya. "Memangnya ada apa kau mencari Naruto?" Kakashi lalu menampilkan eye smile yang terlihat seperti sebuah eye smile mesum. "Apa kau ingin ... menyatakan cintamu padanya?"
Sasuke nampak mendecih kesal sambil memalingkan wajahnya ke arah kanan mendengar candaan Kakashi yang kelewat tidak masuk akal. "Ada hal penting yang ingin kubicarakan bersamanya." Umpat Sasuke datar lalu memalingkan wajahnya kembali ke arah Kakashi.
"Apa itu?" Kakashi nampaknya penasaran dengan hal penting yang ingin dibicarakan Sasuke ke anak dari sensei-nya. "Katakan saja kepadaku ... mungkin aku bisa membantumu." Tawar Kakashi agar setidaknya murid berwajah datarnya ini mau sedikit berbagi dengannya.
"Ini tentang desa ini ... suatu saat aku pasti akan meninggalkannya." Kakashi langsung membulatkan matanya mendengar Sasuke ingin meninggalkan Konoha. Tetapi tak berselang Kakashi akhirnya mengerti akan hal ini dimana Sasuke berniat membawa kembali Aniki-nya yaitu Uchiha Itachi.
"Apa ini juga berkaitan dengan ... Itachi?" Sasuke mengangguk mengenai hal yang dipertanyakan oleh Kakashi kemudian ia berkata untuk menambahkan alasannya meninggalkan Konoha. "Dan juga ... Naruto!"
"Beberapa hari yang lalu ... Karin memberitahukanku bahwa ... Naruto berniat meninggalkan konoha karena-"
"Karena ia sudah tidak tahan tinggal disini." Potong Kakashi dengan cepat yang dibalas anggukan oleh Sasuke.
"Aku muak pada desa ini ... mereka seperti memperlakukan Naruto layaknya seorang sampah ... padahal mereka belum tahu ... apa yang sebenarnya terjadi." Sasuke menajamkan pendangannya ketika mengatakan hal yang terakhir nampaknya ia benar-benar tidak menyukai Konoha. Dan Ia juga sudah mengetahui kebenaran mengenai pertarungan Naruto saat Invasi berlangsung.
"Dan Tim 11 sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri ... karena berkat mereka terutama Naruto ... telah menyelamatkanku dari sesuatu bernama 'kebencian'."
Kakashi kembali menampilkan eye smile miliknya. Ia nampaknya lega karena Sasuke sudah tidak terlalu memperdulikan mengenai Itachi seperti saat ia belum bertemu dengan Naruto. Jounin itu lalu berjongkok di depan muridnya. "Kalau begitu aku sebagai sensei-mu ... tidak akan menghentikan kalian berdua ... jika berniat meninggalkan desa."
Flashback Off
.
"Itulah kenapa ... aku tidak terlalu ambil pusing mengenai Sasuke." Kakashi menghentikan kegiatan menerawangnya kemudian menatap tajam ke arah Sakura yang terlihat syok mendengar Sasuke ternyata memang ingin meninggalkan Konoha.
"J-Jadi ..."
"Ya benar ... Sasuke meninggalkan Konoha ... itu karena kau dan juga teman seangkatan kalian kecuali Shikamaru." Nada yang dikeluarkan Kakashi terdengar pelan menandakan bahwa ia keweca pada Sakura yang seenaknya menilai buruk Naruto.
"Cih! ... walaupun begitu aku tetap tidak suka pada Naruto ... ia membuat Sandaime mati!" Pemilik dari Byakugan bernama Neji ternyata masih tidak menghilangkan ketidaksukaannya ke Naruto.
"Ya terserah kau saja Neji ... tapi jangan salahkan aku jika Naruto membunuhmu! ... karena menyerangnya!" Kakashi langsung memperingatkan Neji untuk tidak bertindak gegabah. Ia tahu sekuat apa itu Naruto, bahkan ia sendiri ragu untuk melawan anak dari senseinya itu.
"Mokuton ... Hiraishin ... Rasengan ... tiga perubahan chakra ... apa kau yakin bisa mengalahkan itu Neji." Batin Kakashi membayangkan betapa mengerikannya Naruto jika sudah mengeluarkan semua kemampuannya itu. Bahkan Kakashi masih penasaran, bukan hanya itu yang dimiliki oleh Naruto.
Sementara itu di gua bekas pertarungan Naruto melawan Sasori. Terlihat dua sosok berbeda bentuk. Sosok pertama berbentuk manusia normal tetapi wajahnya ditutupi topeng spiral yang berlubang di bagian mata kanannya. Sosok kedua bagian badan mirip dengan manusia tetapi di bagian kepala mirip sebuah tanaman Venus Flytrap
"Aku tak menyangka kalau Sasori bisa kalah ... tapi anehnya kenapa tubuhnya tidk ada disini?" Venus Flytrap itu membuka kedua benda aneh yang menutupi kepalanya sehingga menampikan kepala yang berbeda warna. Ia lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru gua.
"Aku tidak terkejut sama sekali ... orang yang dia lawan adalah Uzumaki Naruto ... anak kecil yang mengalahkan Yagura ... serta memaksaku untuk mundur waktu itu." Gumam sosok pertama itu yang bernama Tobi (nama samarannya).
Tobi lalu berjalan ke arah dinding gua yang terdapat sebuah kawah. Itu adalah tempat Naruto dan Sasori berdiskusi setelah mereka bertarung. "Uzumaki Naruto ... kau adalah penghalang besar bagi tujuanku." Tobi menunduk dan mengambil sebuah cincin yang sempat Sasori lepaskan sebelum ia memasuki pintu dimensi Naruto.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Venus Flytrap itu sambil berjalan menghampiri Tobi.
"Ini saatnya ... aku masuk ke Akatsuki sebagai anggota." Tobi bergumam sambil memakai cincin tersebut dan tiba-tiba saja Venus Flytrap a.k.a Zetsu langsung sweatdrop karena tuannya tiba-tiba saja bertingkah seperti seorang anak-anak.
"Dan sekarang ... kau harus memanggilku Tobi si anak baik!" Sweatdrop Zetsu semakin menjadi-jadi ketika mendengar Tobi memperkenalkan namanya dengan nada seperti seorang yang terkena autis dengan pose nice guy.
"Kenapa Tobi?" Tanya Zetsu masih dalam sweatdrop-nya.
"Karena Tobi Is Good Boy." Jawab Tobi kembali dengan nada autisnya, namun kali ini lebih parah dari sebelumnya. Tidak mau mati karena sweatdrop (?) dan mendengar suara melengking dari Tobi. Zetsu memutuskan meninggalkan tuan bodohnya itu dengan cara masuk kedalam tanah.
Langit biru di atas desa Uzushiogakure kini berganti menjadi jingga. Penduduk dari desa yang baru terbentuk kembali itupun mulai mengakhiri aktivitas mereka. Pemilik toko mulai menutup toko mereka. Beberapa anak kecil mulai beranjak dari taman bermain di pusat desa untuk kembali ke kediaman orang tua mereka.
Tapi tidak bagi seorang kakek-kakek berambut merah panjang begitupula dengan jenggot panjangnya. Kakek mesum menurut Naruto itu tengah berkutat dengan musuh abadi dari setiap Kage di Elemental Nation. Paper Works.
"Terkutaklah kalian ... Paper Works sialan!" Kakek tua itu langsung mengutuk dalam Paper Works yang kerjakan menandakan bahwa ia kesal.
Saat Kakek itu atau Arashi sedang sibuk berkutat dengan musuhnya, sebuah kilatan kuning muncul di depannys dan memunculkan Naruto yang dari tadi siang sudah kembali dari misinya. Ia bahkan sudah memperkenalkan Sasori kepada semua shinobi Uzushiogakure dan membangunkan sebuah rumah untuk pengguna Kugutsu tersebut menggunakan Mokuton miliknya.
"Yo Jiji ... bagaimana keadaanmu?" Naruto menyapa kakeknya lalu menampilkan cengiran khasnya sambil mengankat tangan kanannya.
"Seperti yang kau lihat Naruto ... sangat buruk!" Arashi menjawab sapaan dari cucunya dengan nada pelan, Naruto mengasumsikan bahwa Kakeknya nampak frustasi melawan musuhnya Paper Works.
"Kenapa kau tidak menggunakan Bunshin ... Baka Ero Jiji." Naruto yang kasihan dengan kakeknya karena frustasi dengan Paper Works, akhirnya memberikan sebuah saran kepada Kakeknya itu.
Arashi langsung mengutuk dalam-dalam kebodohannya karena tidak memikirkan apa yang Naruto katakan. Bahkan jika Naruto tidak berada di sini, ia pasti membenturkan kepalanya. Dengan cepat ia langsung menciptakan sebuah satu bunshin. "Dengan ini aku bisa membaca maha karya dari Jiraiya ... hahahahah!"
Naruto langsung sweatdrop ketika mendengar tawa nista dari kakeknya itu. "Dasar Ero-Jiji!" Gumamnya sweatdrop.
Tanpa pikir panjang, Arashi langsung mengeluarkan buku bersampul orange bertuliskan Icha-Icha Paradise. Setelah itu beranjak dari kursi Uzukage menuju sofa di ruangan tersebut. "aku menyesal memberi saran itu ... Ero-Jiji!"
Arashi menolah ke arah Naruto sambil tersenyum mesum, tidak lupa lubang hidunya yang mulai mengeluarkan cairan merah. "Arigatou ... Naruto!" Arashi mengembalikan pandangan ke arah buku itu dan langsung mengeluarkan umpatan-umpatan yang tidak jauh-jauh dari hal mesum.
Naruto membuang nafas berat kemudian beranjak menuju ke pintu keluar ruangan Uzukage. "Tunggu Naruto!" Pemuda itu menghentikan langkahnya kemudian berbalik badan ke arah kakeknya yang tiba-tiba memanggilnya.
"Ada apa Jiji?" Tanya Naruto.
Arashi langsung memasang wajah serius, bahkan buku kramatnya pun ia turunkan hingga menyentuh pahanya. Melihat kakeknya yang terlihat sangat serius, Naruto pun ikut-ikutan serius.
"Ada apa Jiji?" Arashi menyipitkan mata, Naruto ikut melakukannya.
.
.
.
.
.
"Kapan kau dan Kushina-chan menikah?"
Gubrak!
Naruto langsung terjengkal kebelakang dengan tidak elitnya. Ternyata hal yang ditanyakan oleh Arashi adalah hal tersebut, bahkan ia menanyakan hal tersebut dengan wajah mesumnya yang tadi sempat serius.
"Kakek Sialan! ... ternyata hanya itu." Naruto berusaha berdiri dari acara terjengkalnya. "Kau tak usah mengetahuinya Kakek tua sialan!" Naruto yang sudah berdiri, kemudian membersihkan debu yang menempel di pantatnya dengan cara menepuk-nepuknya secara pelan.
"Haaaa ... kau seharusnya segera menikah agar mendapatkan keturunan asli Uzumaki! ... Jadi kapan?" Arashi nampak sangat menginginkan agar cucu pertamanya itu segera menikah. Entah apa yang ia inginkan.
Namun berbeda dengan Naruto yang terlihat acuh tak acuh dengan hal-hal yang menyangkut hubungannya dengan Kushina. Ia memang mencintai kekasihnya itu, namun ia masih belum menginginkan hubungan mereka berlanjut ke tingkat pernikahan.
"Aku akan menikah kalau Jiji berhenti mesum." Naruto menyeringai melihat Arashi yang terlihat bingung.
Kakek itu memang ingin cucunya segera menikah, tetapi sifat mesumnya menjadi taruhan jika cucunya ingin segera menikah. "Apa tidak ada yang lain?" Arashi mencoba bertanya apa tidak syarat yang lain agar Naruto segera menikah.
"Ada ... kalau Ero-Jiji mati ... baru aku akan menikah!" Setelah berkata demikian, Naruto langsung menghilang diikuti seberkah kilatan kuning meninggalkan kakeknya dan bunshin yang mengerjakan musuh dari para Kage.
Sebuah kilatan kuning tiba-tiba muncul di dalam sebuah kamar. Setelah kilatan kuning itu, Tokoh utama kita langsung muncul. Ia lalu berjalan ke arah lemari miliknya dan mengganti pakaian yang dipakainya.
Setelah mengganti pakaiannya. Naruto sekarang mengenakan T-shirt merah yang dibagian punggung terdapat gambar pusaran air. Sebagai bawahan ia mengenakan celana pendek berwarna hitam dan alas kaki mirip sandal jepit (jaman sekarang).
Clek!
Naruto membuka pintu keluar kamar miliknya dan Kushina. Beberapa bulan yang lalu Kushina memutuskan untuk sekamar dengan kekasihnya akan tetapi mereka belum pernah melakukan Itu. Naruto mulai melangkahkan kakinya di lorong pada rumah yang lumayan besar itu. Setelah mencapi ujung lorong yang merupakan dapur dari kediamannya, pemuda itu langsung menghampiri lemari penyimpanan Cup Ramen miliknya.
"Sial! ... persedianku sudah menipis." Gumam Naruto yang melihat persediaan Cup Ramennya tinggal 5 buah. Tanpa pikir panjang Naruto langsung mengambil satu cup ramen kemudian memaskan air panas di atas kompor di samping kulkas.
"Cepatlah kompor sialan! ... perutku sudah demo besar-besaran meminta diisi." Kata Naruto yang mulai nglantur ketika mengamati air yang panaskan belum juga mendidih.
Setelah menunggu beberapa menit yang menurut Naruto serasa berjam-jam akhirnya penantiannya selesai. Ia langsung menyeduh ramen cup tersebut. Setelah itu, ia langsung menuju ke meja makan dan menyantap dengan rakus ramen instan itu.
"Naru-kun!" Naruto yang sedang menyantap cup ramen miliknya langsung menoleh ke arah sumber suara dan mendapati kekasihnya, Kushina yang masih mengenakan peralatan shinobi Uzushiogakure miliknya berjalan menghampirinya. "Ada apa?" Tanya Naruto.
"Tadi Sasori-san memberi sebuah infomarsi penting." Kushina mengambil posisi duduk di depan Naruto. Setelah ia duduk, gadis berambut merah itu langsung memasang raut wajah serius. "Ia mengakan bahwa ... akan bertemu dengan mata-matanya." Tambahnya.
"Tidak tertarik!" Naruto berujar dengan datar lalu melanjutkan acara makan ramennya.
"Sebaliknya Naru-kun ... kau akan sangat tertarik dengan ini." Kata Kushina membuat Naruto kembali menoleh ke arahnya namun pemuda itu masih asik mengunyah ramen di mulutnya.
"Karena pertemuannya ini mungkin melibatkan ... Orochimaru!"
"Kapan dan dimana?" Naruto berhenti menyantap ramenne kemudian mendongak ke Kushina dan langsung menanyakan waktu dan lokasi tempat pertemuan itu setelah mendengar nama orang yang membuat Hiruzen, orang yang ia anggap kakek meninggal.
"10 hari lagi ... di jembatan Tenchi yang terletak di kawasan Kusagakure." Jawab Kushina yang paham betul kenapa Naruto langsung tertarik dengan pertemuan dari Sasori, mantan anggota Akatsuki yang kemarin ia rekrut menjadi shinobi Uzushiogakure.
"Tunggulah Orochimaru." Batin Naruto sambil menyeringai yang membuat Kushina yang melihat seringai dari Naruto sedikit merinding karena menurut gadis itu, jika kekasihnya itu sudah menampilkan seringai andalannya maka hal yang besar/buruk akan terjadi.
.
TBC
Oke ... Chapter 28 ini mungkin tidak ada yang menarik karena sama sekali tidak ada yang terjadi. Tetapi setidaknya tinggalkan jejak berupa review, karena itu merupakan penyemat saya untuk melanjutkan Fanfic ini.
Oke lagi untuk menjawab pertanyaan dari beberapa Review :
Ada review yang menanyakan siapa lawan terberat yang akan Naruto lawan nantinya. Jawaban terbaik untuk saat ini adalah Madara dan Obito. Walaupun akan ada sedikit perombakan dari saya.
Eksistensi Uzushiogakure mungkin akan diketahui saat PDS 4.
Mengenai ayah dan Ibu Naruto. tentu saja Naruto sering menarik keluar chakra mereka berdua ketika berada di dimensi miliknya namun saya tidak perlu menulisnya karena tau sendiri lah...
Naruto terlalu Godlike? Mungkin saja. Tetapi aku beritahukan bahwa Isobu atau Sanbi itu tidak tersegel di dalam tubuh Naruto melainkan menetap di dimensi milik Naruto. walaupun begitu Naruto dan Isobu bisa melakukan komunikasi lewat telepati karena Sanbi memberikan Naruto sedikit chakra miliknya.
Yang diincar Akatsuki masih sama yaitu Bijuu tetapi mulai dari chapter ini Tobi alias Obito mulai serius menangani masalah Naruto. Tobi juga belum mengetahui kalau Naruto memiliki setengah dari Kyuubi.
Oke... beberapa dari Review kalian pasti sudah terjawab.
.
.
Dan sekali lagi saya berterimakasih karena telah mereview, fav dan follow Fanfic super berantakan dan Gaje ini.
