Naruto © Masashi Kishimoto
Author © Ryusuke Akarkay ... Ehh ... Akairyuu
Rate : M (For Safety)
Genre : Adventure, Family, Romance, Friendship.
Pair : Naruto X Kushina – Karin X ?
Warning : Typo, Alur Berantakan, Mainstream, Ancur, GaJe, OOC, OC, Etc.
.
CHAPTER 32 : Great Five Shinobi Village Reaction about PDS-4
Semenjak berakhirnya Perang Dunia Shinobi ke-3, Sebagian besar orang terutama Shinobi mengira bahwa perang tersebut adalah Perang Terakhir yang akan terjadi. Namun harapan itu sepertinya harus tertunda dulu dikarenakan Desa Konohagakure, Desa Shinobi terkuat di Elemental Nation membuat sebuah kesalahan dimana mereka mengira kematian Sandaime-Hokage disebabkan oleh seorang Genin bernama ...
Uzumaki Naruto.
Dan sekarang Mantan Genin Konohagakure itu menyandang Status SS-Rank Missing-nin sekaligus Yondaime-Uzukage di desa leluhurnya Uzushiogakure. Salah satu Desa yang akan ikut serta dalam Perang Dunia Shinobi selanjutnya. Walaupun Naruto menolak untuk melakukan Perang ini, tetapi pihak lawan yaitu Iwagakure bersikeras karena pemimpin mereka Sandaime-Tsuchikage memiliki kepala sekeras bangunan desanya (Menurut Naruto) beralasan kalau desa Naruto merupakan ancaman bagi Elemental Nation selain Akatsuki, Organisai Rank-SS yang didalamnya berkumpul Shinobi-Shinobi hebat dari beberapa desa di Elemental Nation.
Alhasil, Naruto tidak punya cara lain selain mengikuti Perang Dunia Shinobi ke-4 yang akan terjadi dalam waktu dekat ini agar kelak kedamaian yang sesungguhnya dapat tercapai dengan syarat Naruto dan Uzushiogakure harus memenangkan perang ini serta kedepannya dapat menghapuskan Organisasi bernaman Akatsuki.
.
.
.
.
Di sebuah hamparan padang rumput yang cukup luas dan terdapat sebuah danau pada bagian tengah serta sebuah hutan di bagian barat, terlihat tiga orang yang tengah menikmati pemandangan. Dua dari tiga orang duduk bersila, sedangkan yang satunya lagi, tertidur di pangkuan orang yang duduk di samping kiri.
"Dasar manja." Gumam orang yang duduk di sebelah kiri kemudian terkikik geli. Orang itu adalah seorang wanita berambut merah dengan Iris Violet dan mengenakan baju terusan tanpa lengan yang warnanya senada dengan rambut merahnya.
"Ughhh ... " Pemuda yang tertidur itu bergerak pelan memperbaiki posisi kepalanya yang berada di pangkuan wanita tadi.
"Sebaiknya kau tidak mengganggunya Ayuki-chan." Sahut orang yang terakhir yaitu pria berambut pirang yang memiliki jambang panjang hingga menutupi telinganya. Wanita yang diketahui bernama Ayuki atau lebih tepatnya Uzumaki Ayuki tersenyum tipis kemudian mengelus lembut rambut pirang pemuda yang tertidur di pangkuannya.
"Biarkan saja, ia pasti tengah memikirkan masalah yang dihadapinya sekarang ini." Tambah pria itu sembari menatap anaknya yang bernama Uzumaki Naruto.
Masih membelai lembut rambut anaknya, Ayuki menoleh ke sebelah kanan atau lebih tepaynya ke suaminya. "Nee~ ... Minato-kun ... "
"Hmmn?" Pria bernama Minato itu menganggukkan kepala.
"Apa kau yakin Naru dan yang lain bisa memenangkan Perang ini?" Tanya Ayuki yang masih ragu anak pertamanya Naruto, bisa memenangkan Perang yang nantinya mereka hadapi melawan Iwagakure dan sudah pasti Kumogakure pasti memilih untuk menghancurkan Uzushiogakure ditambah lagi Konohagakure yang bisa dibilang masih belum menentukan siapa yang akan mereka dukung karena Mayoritas Shinobinya pasti menginginkan Naruto dan Uzushiogakure dihilangkan dari muka bumi ini.
Minato menaikkan alisnya. "Aku yakin mereka pasti menang Ayuki-chan." Kata Minato yang sorot matanya tidak mengatakan keraguan sedikit pun ... Tohh, anak mereka adalah Murid dari Rikudou Sannin, Seorang yang dikatakan sebagai Dewa-nya para Shinobi. Apalagi Uzushiogakure tidak akan berjuang sendiri, mereka akan dibantu Kirigakure dan Sunagakure selaku aliansi mereka.
"Kuharap itu akan terjadi Minato-kun." Ayuki mengalihkan pandangannya ke Naruto yang masih tertidur di pangkuannya. "Aku benar-benar bangga denganmu nak." Ujarnya diakhiri senyum bangga melihat anak pertama mereka.
"Aku pun sama denganmu Ayuki-chan." Minato ikut-ikutan memandang Naruto sambil tersenyum bangga seperti Istirnya. "Ia menjalan tugas berat yang sebagian orang sangat mustahil." Tambahnya.
"Bagaimana denganmu Ayuki-chan? ... apa yang membuatmu bangga dengan Naruto?" Tanya Minato kepada Istrinya.
"Tentu saja, sama denganmu omelanmu barusan." Minato seketika tersentak mendengat ucapan dari Ayuki yang mengingatkan ucapannya 16 tahun yang lalu dimana untuk terakhir kalinya (dalam artian hidup) mereka melihat anak mereka Naruto dan Karin.
"U-Ucapan itu?"
Ayuki mengangguk pelan kemudian menatap dalam-dalam suaminya. "Hmmnn benar." Katanya pelan. Wanita berambut merah itu kemudian melingkarkan lengan kirinya di pinggang suaminya ketika ia mendapati Mantan Hokage itu menundukan kepalanya karena teringat kejadian penyerang Kyuubi 16 Tahun yang lalu.
"Maaf Ayuki-chan." Hanya itu yang dilontarkan oleh Minato masih menundukan kepalanya.
"Untuk apa?" Tanya Ayuki penasaran kenapa suaminya meminta maaf kepadanya.
"Kalau bukan karena kesalahanku waktu itu. Kita berdua mungkin saja dapat hidup bersama Naruto dan Karin-chan." Kata Minato lirih dan jika diperhatikan lebih jelas, setitik cairan bening keluar dari kelopak matanya. Melihat suaminya sedang merutuki kesalahannya hingga membuat Mantan Hokage itu mengeluarkan setetes air mata, Ayuki langsung menarik suaminya kedalam pelukannya sambil berkata.
"Sudahlah Minato-kun, ... itu sudah terjadi. Jadi kau tidak perlu menyesalinya." Kata Ayuki berusaha untuk menenangkan suami cengengnya. "Lagipula kita masih bisa bertemu dengan mereka berdua dan melihat bagaimana kehidupan mereka dari dalam tubuh Naru." Tambahnya. Seketika Minato pun membalas pelukan dari Ayuki hingga membuat wanita itu tersenyum tipis.
"Arigatou." Ucap Minato singkat dan dibalas anggukan kecil dari istrinya. Beberapa saat kemudian keduanya melepas pelukan masing-masing dan mengembalikan pendangan mereka menuju ke danau dimana terlihat seekor Kura-kura berukuran raksasa dengan tiga ekor panjang tengah berenang dengan bebasnya.
...
Scene Break
"Hoammzzz ... " Pemuda bernama Uzumaki Naruto itu duduk bersimpuh sambil menguap selebar-lebarnya setelah dirinya bangun dari acara tidurannya. Hal itu sontak membuat Minato dan Ayuki yang duduk di dekat menjadi terganggu. "Ada apa?" Tanya Naruto setelah dirinya merasa risih dipandangi oleh kedua orang tuanya.
"Sebelum kesini kau makan apa N-a-r-u?" Tanya balik Ayuki.
"Memangnya ke-"
"Jawab saja!" Potong Ayuki yang kini memasuki mode sangar yang mampun membuat Shinobi sekelas Namikaze Minato ketakutakuan dibuatnya. Melihat mode sangar dari Ibunya, tubuh Naruto langsung merinding disko dan dengan cepat langsung menjawab pertanyaan dari Ibunya itu.
"R-Ramen."
"Pantas nafasmu bau Kuah Ramen yang sudah basi." Kata Ayuki sembari menutup hidungnya dengan tangan kanan untuk memberikan gambaran kepada pemuda pirang itu bahwa nafasnya ketika menguap sangat bau menurut Ayuki sendiri. Menyaksikan gelagat dari ibunya, Naruto mengankat tangan kanan dan memposisikannya di depan mulut. "Hoaaaa ... " Pemuda itu menghembuskan nafas menuju ke tangannya.
"Tidak bau 'kok." Ujarnya setelah mencium bau nafas yang memantul di tangan kanannya.
"Baka! ... menurutmu memang tidak bau." Balas wanita berambut merah itu dengan mendelik Naruto. Sedangkan Minato yang menyaksikan keduanya hanya tersenyum tipis. "Hey Ayuki-chan ... bukannya kau juga penggila ramen. Jadi sudah pasti bau nafasmu juga seperti Naruto." Batin Minato yang kini sweatdrop karena Ayuki sama dengan Naruto dan Karin, yaitu Ramen maniak. Sudah tidak terhitung berada banyak uang yang dikeluarkan Minato semasa hidupnya hanya untuk mentraktir Ayuki yang tidak lain adalah Ramen.
Naruto yang mempunyai kemampuan membaca pikiran seseorang pun terkikik geli dalam hati mendengar batinan dari ayahnya. "Baiklah-baiklah ... " Naruto mendesah pelan. " ... setelah ini aku akan menyikat gigi untuk menghilangkan bau mulutku." Sambung pemuda pirang itu. Ayuki yang duduk bersilah di depannya pun menganggukkan kepala.
"Jangan lupa pakai pasta gigi yang banyak. Kalau perlu gunakan satu kemasan pasta gigi untuk menghilangkan baunya." Kata Ayuki memberikan nasehat membuat Naruto yang mendengarnya langsung sweatdrop di tempat. "Kenapa tidak sekalian pakai pewangi ruangan." Batin Naruto masih dengan sweatdropnya.
"Sudah-sudah hentikan Naruto, Ayuki-chan." Lerai Minato akhirnya membuka suara. Seketika kedua orang yang namanya disebuat langsung menoleh ke arahnya. "Bukannya kau kesini untuk meminta saran untuk menyusun rencana menghadapi perang ini." Tambah Minato setidaknya agar keduanya tidak melanjutkan perbincangan yang mungkin saja tidak ada akhirnya, menurut Mantan Hokage itu.
"Benar juga." Kata Naruto sambil memukul pelan telapak tangan kirinya di depan dada karena ia akhirnya mengingat tujuannya kesini dan menarik keluar chakra kedua orang tuanya, tetapi sebelum itu terlaksanakan. Ia keburu tidur di pangkuan ibunya.
"Dasar Pikun."
Urat-urat kekesalan muncul di kening Naruto ketika mendengar cibiran dari wanita di depannya itu. "Aku tidak pikun Kaa-san, aku hanya lupa karena tertidur." Balas Naruto sengit.
"Sama saja."
Naruto mendesah pelan sambil bergumam mengucapkan kata yang hanya didengar oleh dirinya. Tampaknya hari ini Ayuki terlihat sering mengejek Naruto. Namun semuanya langsung terjawab ketika Naruto menyadari kalau ibunya melakukan hal ini agar dirinya tidak terlalu pusing memikirkan masalah perang ini Sama seperti yang dilakukan oleh Kiyoshi dan yang lain ketika mereka kembali dari Iwagakure. "Haaa ... " Naruto membuang nafas sejenak dengan mata terpejam kemudian menatap serius ke ayahnya.
"Begini Tou-san ... " Minato selaku orang yang dipanggil manggut-manggut dengan wajah tidak kalah seriusnya dengan Naruto. " ... aku sudah memikirkan sebuah rencana, namun aku butuh saran untuk menyempurnakan rencana ini." Jelas Naruto.
"Ceba jelaskan rencanamu, jika aku bisa memberi saran, maka akan kulakan." Kata Minato dibalas anggukan kecil oleh Naruto. Detik selanjutnya pemuda pirang itu pun menjelaskan secara rinci mengenai rencana miliknya kepada ayahnya. Setelah beberapa menit menjelaskan rencananya. Minato akhirnya mengangguk mengerti sementara Ayuki hanya terbengong mendengar rencana dari Naruto yang menurutnya sangat bagus.
"Haaa ... " Ayuki mendesah pelan setelahnya membuat Naruto maupun Minato langsung menatapnya penasaran. " ... sepertinya aku memang tidak mewarisi apapun kepadamu Naru." Sambungnya pelan. Bagaimana tidak, Naruto bisa dikatakan adalah Minato kedua, mulai dari rambut, warna mata hingga kecerdasannya dalam menyusun rencana. Berbeda dengannya yang sama sekali tidak ada yang ia wariskan pada Naruto.
"Siapa bilang Kaa-san." Ujar Naruto membuat Ayuki langsung menatapnya dalam-dalam. "Maniak Kaa-san dalam kesukaan makanan para dewa yaitu Ramen menurun kepadaku. Lagipula ada Karin-chan yang mewarisi rambut Kaa-san yang indah serta mata Violet yang menghangatkan." Jelas Naruto panjang lebar membuat Ayuki terkikik sejenak mendengar ucapan Naruto mengenai Ramen, kemudian tersenyum kikuk sambil menggaruk bagian kepala belakangnya.
"Tehe~ ... aku lupa kalau ada Karin-chan."
"Dasar Kaa-san pikun." Naruto langsung mengeluarkan cibiran Ayuki mengenai dirinya beberapa saat yang lalu.
"Hmmnn ... benar!" Minato membenarkan ucapan dari Naruto membuat Ayuki langsung mendelik keduanya secara bergantian dan akhirnya berhenti kepada Minato.
"Apa maksudmu pirang bego, kau mengatakan aku Pikun?" Tanya Ayuki dengan nada tinggi ditambah wajah sangar yang kembali ia pasang.
"Kaa-san memang ... "
Duaghh!
"Ittteeeee ... "
Sebelum menyelesaikan ucapannya, Naruto keburu dihantam sebuah bogem mentah hingga membuatnya terjatuh ke samping dan menghantam tanah dengan kerasnya. Selanjutnya dengan gerakan terpatah-patah, Ayuki menoleh ditambah wajah sangar ke suaminya. Sontak Hokage Pirang itu langsung menelan ludah serta merinding disko. "Sekarang giliranmu M-i-n-a-t-o!" Ujar Ayuki.
"T-Tunggu d-dulu ... "
"Untuk apa? kau membernakan cibiran dari Naru, jadi kau juga harus mendapatkan hadiah." Ayuki menyeringai yang membuat Minato yang melihatnya semakin merinding. Tetapi sebelum Ayuki memberinya hadiah ia langsung berkata.
"Yang aku benarkan itu adalah kecantikanmu, rambut indahmu, mata indahmu yang kau wariskan ke Karin-chan."
"Benarkah?" Tanya Ayuki memastikan yang kini wajahnya tidak lagi sangar melainkan memunculkan semburat merah yang mulai menjalar.
"Tentu saja, ... aku bersumpah demi Jiraiya-sensei yang berhenti mesum." Kata Minato. Semburat merah di wajah istrinya pun semakin menjalar hingga Minato pun menghela nafas karena selamat dari hadiah yang akan diberikan Ayuki. "Arigatou Kami-sama." batin Minato bersyukur.
Sementara Naruto yang masih berada di permukaan tanah membatin kesal yang ditujukan kepada Minato. "Sialan ... Tou-san punya cara saja untuk mengelak." Masih dalam posisi menungging di permukaan tanah serta wajahnya mengarah ke Minato yang terlihat menyungging senyum kemenangan Naruto membatin kesal karena hanya dirinya yang mendapat bogeman mentah dari Ayuki sedangkan Minato berhasil lolos.
Pemuda pirang itu kemudian bangkit dari acara menunggingnya kemudian kembali duduk bersila di depan kedua orang tuanya. Di kepalanya terlihat sebuah benjolan berasap hasil karya dari Ibunya. "Jadi ... " Minato dan Ayuki secara bersamaan menoleh ke Naruto. " ... apa Tou-san punya saran?" Tanyanya to the point.
Sang ayah, Minato mengangguk pelan kemudian memegang dagunya dengan tangan kanan tanda bahwa ia tengah memikirkan rencana dari Naruto. Setelah hampir 1 menit, Minato menurunkan tangannya kemudian memandang Naruto dengan mata menyipit. "Bagaimana kalau begini saja ... " Naruto manggut-manggut antusias menunggu Ayahnya menjelaskan saran yang sudah ia dapatkan. Detik selanjutnya Minato pun menjelaskan secara rinci sarannya untuk rencana yang telah disusun oleh Naruto.
"Arigatou Tou-san! ... dengan saran darimu, aku tidak perlu mengkhawatirkan Akatsuki." Kata Naruto setelah Ayahnya menjelaskan secara rinci.
"Doita." Balas Minato. Sedangkan Ayuki hanya diam tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia memang tidak terlalu ahli dalam hal menyusun ataupun memberi saran. Ia lebih suka bertindak sebagai pelaksana seperti saat dirinya masih menjadi Partner dari Minato waktu mereka berdua masih belum berstatus suami-istri.
"Baiklah ... " Naruto berdiri dari tempat ia duduk. " ... kalau begitu aku pergi dulu." Minato dan Ayuki mengangguk pelan kemudian tubuh mereka berdua mulai bercahaya hingga akhirnya terhisap masuk ke dalam tubuh Naruto. Setelah kedua orang tuanya kembali ke dalam tubuhnya, Naruto merapalkan handseal.
"Jikkukan Hori!" Sebuah pintu Dimensi berbentuk lingkaran yang dikelilingi Kanji-Kanji berbagai bentuk muncul di depan Naruto dan seketika pemuda itu melompat masuk ke dalam pintu Dimensi itu.
.
Konohagakure no Sato
Matahari Senja mulai menyinari setiap sisi dari desa Konohagakure no Sato. Sebagian besar penduduk non Shinobi dari desa itu mulai menghentikan aktifitas mereka. Berbeda dengan seorang wanita cantik berambut pirang pucat dengan belahan dada yang berukuran di atas rata-rata. Wanita itu bernama Senju Tsunade Sang Godaime-Hokage tengah sibuk melawan musuh abadi dari para Kage di Elemental Nation bernama 'Paper Works' yang terdapat pada meja kerjanya.
Disamping meja itu, seorang wanita berambut hitam sebahu yang mengenakan Kimono dan menggendong seekor babi berdiri sambil memperhatikan Tsunade yang menurutnya sebentar lagi akan mengamuk karena 'Paper Works' yang ia kerjakan tidak ada habisnya. "Haaaa ... " Mendengar Pemimpin desa mendesah pelan, wanita itu langsung berkata memperingatkan. "Tsunade-sama ... Ingat! laporan ini harus segera diselesaikan."
Walaupun sudah diberi peringatan, Tsunade tetap menghentikan pekerjaannya kemudian menoleh ke arah matahari terbenam sambil bergumam pelan. "Entah kenapa aku merasa sesuatu yang besar akan terjadi. Bagaimana denganmu Shizune?"
Walaupun tidak mengerti dengan arti ucapan dari Tsunade, wanita yang dipanggil Shizune itu tetap menganggukkan kepalanya. Dan tak berselang lama, sebuah kepulan asap tiba-tiba tercipta di depan meja Tsunade dan menanmpakkan seorang Anbu yang tengah berlutut sambil memegang sebuah gulungan kecil. "Godaime Hokage-sama!" Kata Anbu itu.
"Ada apa?" Tanya Tsunade tanpa mengalihkan pandangannya dari matahari senja. Mendengar ucapan dari pemimpin desa itu, sang Anbu berdiri dan berjalan ke arah meja kerja Tsunade kemudian meletakkan gulungan yang ia bawa.
"Gulungan apa itu?" Tanya Shizune yang agaknya penasaran dengan gulungan yang dibawa sang Anbu.
"Pesan dari Iwagakure Shizune-san, Godaime Hokage-sama!" Jawab Anbu itu. Seketika Tsunade langsung berbalik dan mengambil gulungan tersebut.
"Iwagakure?" Tanya Tsunade direspon anggukan pelan oleh Anbu tersebut. Tidak ingin mengganggu sang Hokage, Anbu tersebut langsung pamit undur diri kemudian menghilang menggunakan Shushin miliknya.
Setelah kepergian sang Anbu, Tsunade memerintah para Anbu yang berada di ruangan tersebut untuk meninggalkan dirinya dan Shizune berdua. Setelah di ruangan itu tinggal mereka berdua, Sang Godaime langsung membuka gulungan itu dan mulai membacanya. Seketika kening dari Tsunade langsung mengkerut ketika membaca gulungan itu "Ini ... " Shizune yang melihat gelagat dari Tsunade pun langsung penasaran dengan isi gulungan itu.
"Ada apa Tsunade-sama?" Tanya Asisten dari Sannin itu penuh rasa penasaran mengenai isi dari gulungan itu.
"Kau ingin perkataanku barusan mengenai sesuatu yang besar akan terjadi?" Tanya Tsunade. Shizune yang masih mengingat dengan jelas perkataan dari Tsunade beberapa menit yang lalu hanya menganggukan kepala. "Apa Jiraiya masih ada di desa?" Tanya Tsunade lagi.
Wanita berambut hitam itu mengangguk mengiyakan. "Beliau belum berangkat untuk melanjutkan penelitiannya."
"Kalau begitu panggil Si Bodoh itu kemari!" Perintah Tsunade kemudian menghantamkan gulungan itu ke meja kerjanya hingga membuat Shizune sweatdrop walaupun hanya sejekap. Apakah salah dari meja itu sehingga harus menerima hantaman dari Tsunade hingga retak, pikir Shizune.
...
Scene Break
"Ada apa Hime memanggilku secara tiba-tiba? Padahal aku baru saja mau berangkat." Ujar seorang pria paru baya berambut putih dan terdapat sebuah garis dari sudut matanya hingga ke pipi.
"Sebaiknya kau membatalkan perjalananmu kali ini, Jiraiya." Pria yang diketahui bernama Jiraiya itu langsung menaikkan alis ketika Tsunade menyuruhnya untuk tetap berada di desa dan membatalkan perjalanannya untuk melanjutkan penelitiannya.
"Apa Akatsuki lagi?" Tanya Jiraiya dengan raut wajah yang kini terlihat serius.
"Bukan." Tsunade menggeleng pelan. "Tetapi lebih parah, yaitu Iwagakure mendeklarasikan Perang Dunia Shinobi ke-4 melawan ... "
"NANIIIII!" Teriak Jiraiya dan Shizune yang kebutulan juga berada di ruangan tersebut.
"Jangan memotong ucapanku. Dan asal kau tahu, lawan mereka adalah pihak Naruto dan Uzushiogakure." Seketika mata Jiraiya langsung membulat sempurna mendengar fakta bahwa anak dari mendiang muridnya 'lah yang akan menjadi lawan Iwagakure dalam perang ini dan menurut pendapat Jiraiya, bukan hanya Iwagakure yang akan ikut serta namun kelimanya desa shinobi akan ikut serta.
"D-Darimana kau mengetahuinya Tsunade?" Tanya Jiraiya kepada Tsunade yang kembali memasang raut wajah serius yang sebelumnya terkejut.
Tsunade menyatukan kedua telapak tangannya dan sikunya berada di permukaan meja. "Dari gulungan ini atau lebih tepatnya gulungan dari Iwagakure." Tsunade menatap gulungan yang sudah tidak berbentuk lagi pada permukaan mejanya begitupula dengan Jiraiya.
"Apa hanya itu isi dari gulungan itu?" Tanya Jiraiya lagi yang direspon gelengan pelan oleh Tsunade kemudian berkata.
"Mereka mengajak kita untuk ikut serta dalam perang ini untuk melawan Naruto."
"Tolak saja!" Tukas Jiraiya cepat.
"Tentu saja bodoh! mana mungkin aku menyerang desa cucu tersayangku." Kata Tsunade kemudian mengambil gulungan itu dan melemparnya ke sebuh tempat sampah di sudut ruang kerjanya. "Shizune! ... cepat kirim balasan dari kita perihal penolakan ini!" Perintah Sannin itu kepada asistennya.
"Ha'i Tsunade-sama!" Sebelum Shizune beranjak dari tempatnya, ia menatap Tsunade sambil berkata. "Bagaimana jika Iwagakure menuduh Konoha bekerja sama dengan Naruto."
"Katakan saja kalau kita berada di pihak netral dan tidak mau lagi ikut campur. Cukup sudah bagi kita, Konoha untuk ikut andil dalam sebuah perang." Jelas Tsunade mantab yang membuat Shizune akhirnya paham dengan maksud dari Sensei-nya itu.
Sepeninggal Shizune dari ruangan itu. Jiraiya kembali menatap Rekan Setimnya itu dengan mata menyipit. "Lantas apa yang akan kita lakukan?" Tanyanya.
"Kita serahkan saja pada Naruto, lagipula mereka tidak sendirian. Ada Kiri dan Suna yang merupakan Aliansi mereka, ditambah lagi aku yakin kalau Naruto mempunyai sebuah rencana mengenai perang ini." Jawab Tsunade.
"Hmmnn ... aku mengerti!"
...
Tetapi diluar dugaan keduanya, ternyata sesosok bayangan tiba-tiba saja melompat menjauh dari dinding bagian luar gedung Hokage. Walaupun keduanya merupakan seorang Sannin, jika tengah membahas masalah serius. Mereka berdua jadi lupa untuk mengecek kondisi di sekitar mereka agar setidaknya tidak ada seorang pun yang mengetahui perihal perang ini.
"Danzou-sama harus mengetahui informasi ini!" Gumam sosok itu sangat pelan kemudian setelah mendarat di salah satu bangunan di dekat Gedung, sosok itu langsung menghilang diikuti kepulan asap putih dan tujuannya adalah markas dari pasukan Anbu Ne atau Root (Akar Kayuu :v).
...
Scene Break
Di sebuah ruangan minim penerangan. Seorang kakek tua yang mata kananya tertutupi perban dan pada dagunya, terdapat bekas luka berbentuk silang. Kakek itu adalah Danzou Shimura. Pemimpin dari Organisasi bernama Root yang memiliki tugas melindungi Konohagakure dari balik layar. Beberapa menit berlalu, sebuah kepulan asap muncul di depan Kakek itu dan menampakkan Anbu yang memakai topeng polos beruliskan 'Ne'.
"Danzou-sama, ... aku memiliki informasi yang sangat berharga." Ucap Anbu itu hormat masih dalam keadaan berlutut di depan Kakek Tua itu.
"Apa itu?" Tanya Danzou to the point dengan nada datar.
"Kita mendapatkan peluang besar untuk mendapatkan Jinchuriki Kyuubi dan juga Gadis Uzumaki yang memiliki Kekkai Genkai itu." Jawab Anbu itu membuat seringai muncul dari wajah Danzou.
"Jadi kau telah menemukan tempat mereka?" Tanya Danzou lagi dibalas gelengan oleh Anbu tersebut.
"Bukan hanya itu informasi yang aku dapatkan Danzou-sama ... tetapi aku juga mendapatkan informasi lain yang tidak kalah berhaganya.
"Katakan!" Titah Danzou.
Sang Anbu mengangguk paham kemudian mulai menjelaskan secara detail apa yang ia dengar dari pembicaraan Jiraiya dan Tsunade perihal Perang Dunia Shinobi ke-4 yang nantinya akan terjadi. Tidak lupa ia juga menjelaskan mengenai keputusan Tsunade yang menolak ikut ambil bagian dalam perang ini dan memilih menjadi pihak netral. "Tsunade sialan! Apa dia ingin menjatuhkan harga diri Konoha." Danzou menghentakkan ujung tongkatnya pada lantai tanda bahwa ia kesal mengenai keputusan dari Tsunade.
"Apa yang akan kita lakukan Danzou-sama?" Tanya Anbu itu.
"Segera kirimkan balasan untuk Iwagakure bahwa kita akan ikut serta dalam perang ini untuk menghancurkan desa itu beserta Bocah Brengsek itu hingga dirinya tidak dapat lagi bereinkarnasi." Ujar Danzou penuh keyakinan bahwa pemuda pirang yang ia panggil Bocah Brengsek akan tewas pada perang kali ini sehingga melancarkan jalannya untuk mendapatkan adik dan kekasih pemuda itu lalu menjadikannya sebagai senjata pamungkas Konohagakure.
Danzou mengatakan hal ini seolah-olah membunuh Naruto semuda membalikkan telapak tangan. "Tunggu saja." Danzou menyeringai kemudian memberikan sebuah perintah berupa anggukan kepada Anbu di depannya. Sang Anbu merespon paham dengan anggukan kemudian menghilang diikuti kepulan asap putih meninggalkan Danzou yang semakin memperlebar seringainya.
.
Kumogakure no Sato
Di sebuah ruangan yang hampir didominasi oleh kaca transparan untuk memandang keluar lebih tepatnya ke arah desa Kumogakure. Ruangan ituberada di ketinggian. Di dalam ruangan tersebut, terlihat seorang pria berbadan kekar tengah berlatih mengankat Barbel berukuran sedang menggunakan satu tangan. Sedangkan tangannya yang lain tengah memegang sebuah gulungan yang baru saja ia terima dari asistennya.
"Apa isi gulungan itu Raikage-sama?" Tanya Sang Asisten. Sang Raikage kemudian meletakkan barbel itu kemudian membuka dan membaca kata demi kata yang tertulis di dalamnya.
"MABUI!" Teriak Raikage A.
"H-Ha'i!" Balas Mabui, seorang wanita asisten dari Raikage A dengan nada tergagap karena teriakan dari pria kekar itu.
"Segera beritahukan kepada seluruh shinobi kita untuk bersiap-siap." Perintah Raikage A.
"Memangnya ada apa?" Tanya Mabui yang penasaran kenapa tiba-tiba Pemimpin desanya itu memerintahkan dirinya untuk mempersiapkan seluruh shinobi. Dan menurut wanita itu, penyebabnya adalah isi dari gulungan yang baru saja Raikage A baca.
"Uzushiogakure bangkit kembali dan kali ini lebih berbahaya karena di dalamnya berkumpul para Missing-nin dari desa lain." Jelas Raikage A membuat Mabui membulatkan matanya. Karena setahunya, Uzushiogakure sudah dimusnahkan beberapa tahun yang lalu oleh Aliansi Iwa-Kiri-Kumo. "Dan pemimpin dari desa itu adalah Uzumaki Naruto, seorang SS-Rank Missing-nin dan juga anak dari Kiroi Senko." Dan sekali lagi Mabui dibuat terkejut setengah mati mendengar ucapan dari Raikage A.
"Lalu apa hubungannya dengan mengumpulkan seluruh Shinobi kita?" Tanya Mabui lagi membuat Raikage sedikit naik pitam karena asistennya itu dari tadi cuman bertanya bukannya menjalankan perintahnya.
"Perang Dunia Shinobi ke-4." Jawab Raikage A penuh penekanan di setiap katanya dan akhinya Mabui tidak melayangkan pertanyaan dan langsung berkata.
"Aku mengerti." Ucapnya kemudian berjalan keluar ruangan tersebut meninggalkan pria kekar itu.
"Hmmnn keturunan dari Kiroi Senko ya ... kuharap ia secepat ayahnya itu." Batin Raikage A sambiil menyeringai penuh makna. Dan tak berselang lama dua Jouinin dari Kumogakure masuk ke dalam ruangan tersebut. "Kalian dari mana saja?" Tanya Raikage A kepada kedua Jounin itu.
"Maaf Raikage-sama." Ucap Jounin pertama dengan wajah melongonya meminta maaf atas ketelambatannya.
"Bee menahan kami untuk tinggal di tempat latihannya." Kata Jounin kedua berambut pirang menjelaskan alasan keterlambatannya dengan nada formal mengingat Raikage di depannya bisa dikatakan tukang marah. Raikage menganggak paham kemudian berjalan kembali menuju sofanya dan mengambil sebuah barbel setelah dirinya mendudukan bokong berototnya pada Sofa itu.
"Anoo ... tadi kami berpapasan dengan Mabui di kuridor. Dan kulihat ia terburu-buru, memang ada apa Raikage-sama? apa masalah jodoh lagi?" Tanya Jounin berambut pirang itu dengan panasaran melihat asisten dari Raikage sewaktu berpapasan dengan. Dan mengenai pertanyaan kedua yang menyangkut jodoh. Ia sudah sering melihat jika Mabui terburu-buru maka hal itu pasti menyangkut jodoh mengingat Asisten dari Raikage itu memang seorang jomblo.
"Haa ... kau mengatakan hal itu seolah-olah kau sudah memiliki pasangan Cee." Ujar Jounin kedua dengan wajah tidak bersalahnya membuat Jounin yang diketahui bernama Cee itu mendelik ke arahnya.
"Sudah-sudah ... sesama Jomblo tidak perlu berdebat." Lerai Raikage yang duduk di kursinya kemudian tertawa lepas, dan tampaknya ia melupakan satu hal yaitu ia juga merupakan seorang Jomblo walaupun dirinya sudah menjadi Kage.
"Haa ... bukannya anda itu juga seorang Jomblo Raikage-sama." Batin keduanya yang kini sweatdrop menyaksikan Raikage mereka yang tidak sadar juga merupakan seorang Jomblo. Detik selanjutnya setelah pulih dari sweatdropnya. Cee melempar perntanyaan yang sama untuk kedua kalinya yaitu kenapa Mabui terlihat buru-buru.
"Tidak lama lagi ... kita akan menghadapi Perang Dunia Shinobi ke-4 dan aku menyuruh Mabui untuk mengatakan kepada para Shinobi kita untuk mempersiapkan diri mereka." seketika Cee langsung terkejut bukan main mendengar jawaban dari Raikage berbeda dengan Cee, Jounin yang satunya malah terlihat santai dengan wajah melongo miliknya seolah-olah berita ini tidak terlalu mengejutkan.
"Pe-Perang?" Tanya Cee sambil mengambil satu langkah kedepan sambil mengankat kedua tangannya tanda bahwa ia mencoba meminta jawaban pasti mengenai perang ini.
"Ya ... kita akan menghadapi Perang."
Cee kemudian mengalihkan perhatiannya dan menatap ke arah rekan Jounin yang berdiri tepat dibelakangnya. "Hey Darui ... kenapa kau terlalu santai mendengar hal ini?" Begitulah pertanyaan yang dilontarkan oleh Cee melihat sikap kelewat santai dari Jounin yang diketahui bernama Darui itu.
Darui mendesah pelan melihat ekspresi penarasan sekaligus terkejut dari Cee. "Untuk apa juga aku terkejut ... maaf saja ya, kita ini tinggal di dunia Shinobi. Jadi perang sudah menjadi hal yang umum." Cee mengkerutkan kening mendengar jawaban dari Darui. " ... dan pernahkan aku mengatakan kalau kau itu terlalu serius menanggapi sebuah berita Cee?" tanya Darui kemudian yang kini kembali memasang wajah meolongo khas-nya.
"Sudah ribuan kali." Jawab Cee ketus.
"Maka dari itu, belajarlah untuk tidak terlalu menanggapi serius sebuah masalah."
"Hn! Darui benar." Ujar Raikage A membenarkan saran dari Darui.
Setelah memberikan saran kepada Cee, Darui mengalihkan perhatiannya dan menatap serius A yang masih setia duduk di sofa sambil menaik turunkan barbel dengan tangan kanannya seolah-olah Barbel itu hanya seberat kurang dari 1 kg. "Jadi Raikage-sama, siapa yang akan menjadi lawan kita dalam perang kali ini?" Sebuah pertanyaan yang cukup logis perihal perang ini langsung dilontarkan oleh Darui. Dan memang dalam perang, kita harus mengenai secara jelas siapa yang akan menjadi lawan maupun kawan.
Raikage mengangguk mengerti. "Lawan kita adalah SS-Rank Missing-nin bernama Uzumaki Naruto sementara kawan kita mungkin kelima negara besar." Seketika Darui langsung menyipitkan matanya mendengar jawaban dari Raikage. Bagaimana mungkin lawan mereka hanya satu orang dalam perang kali ini, apalagi lawannya kelima negara besar shinobi. Gila, menurut Darui begitupula dengan Cee. Tetapi sebelum kedua bertanya, Raikage melanjutkan penjelasannya.
"Missing-nin itu tidak sendirian, tetapi ia bersama dengan desa yang dulu sudah musnah di tangan Aliansi Iwa-Kiri-Kumo yaitu Uzushiogakure. Dan menurut pihak Iwagakure, desa itu baru-baru dibangun dan didalamnya berkumpul ratusan Missing-nin dari berbagai desa ..." Raikage menjeda sejenak kemudian mengcengkram erat barbel di tangan kanannya hingga hancur. " ... dan yang terakhir kenapa aku mau ikut serta ... "
Seketika ruangan itu langsung sunyi. Baik Cee maupun Darui tidak mau menyela Kage mereka karena takut kena marah mengingat Pria berbadan kekar itu memiliki tempramen pemarah tingkat akut. " ... Uzumaki Naruto atau lebih tepatnya Uzumaki 'Namikaze' Naruto adalah keturunan dari Namikaze Minato. Orang tercepat yang pernah hidup di dunia shinobi ini." Seketika Cee dan Darui membulatkan mata mereka mendengar fakta bahwa orang yang pernah membantai ribuan shinobi Iwagakure mempunyai keturunan.
"Hmmnn ... kami mengerti Raikage-sama." Ujar Cee mewakili. "Kalau boleh tau, kapan dan dimana perang itu akan berlangsung?" Tanyanya kemudian.
"Kalau waktu, sepertinya masih lama karena dunia shinobi saat ini juga memiliki masalah yang lain. Yaitu Organisasi bernama Akatsuki yang telah menculik Yugito." Jelas Raikage. Dan jika diperhatikan lebih jelas, tersirat ekspresi kemarahan dari pria kekar itu ketika menyebut nama organisasi yang telah menculik salah satu senjata andalan desanya yaitu Jinchuriki Niibi.
"Tapi kenapa anda memerintahkan semua shinobi kita untuk bersiap-siap?" Tanya Darui yang tampaknya bingung dengan perang ini, itu karena perangnya masih lama akan berlangsung tetapi Raikage mereka malah memerintahkan shinobi-nya untuk bersiap-siap.
"Hanya sebagai pencagahan jika saja pihak lawan malah menyerang kita tanpa memikirkan mengenai Akatsuki." Jawab Raikage. Tetapi betapa salahnya kau Raikage-sama karena Naruto juga memikirkan masalah mengenai Akatsuki ini.
.
Kirigakure no Sato
Di sebuah ruangan yang cukup luas dan terdapat sebuah meja beserta kursi tempat seseorang untuk bekerja. Pada kursi itu seorang wanita berambut merah maron tengah membaca sebuah gulungan dengan raut wajah yang memperlihatkan ekspresi terkejut. Itu karena gulungan yang baca sama seperti gulungan lain yang diterima Konogakure dan Kumogakure. Yaitu gulungan mengenai perang yang akan berlangsung.
Namun dibalik keterkejutannya mengenai berita ini, wanita itu juga bingung ingin membalas surat itu dengan balasan apa. 'YA' itu berarti ia dan desanya akan dianggap penghianat oleh pahlawan desa mereka dalam Perang Saudara 3 tahun silang yaitu Uzumaki Naruto. Baginya, Naruto tidak bisa ia hianati mengingat kontribusinya. Tetapi jika ia menjawab 'TIDAK' maka hasilnya mungkin saja 1 atau 2 Negara besar Shinobi akan mengecap desanya dengan sebutan pengecut.
Wanita yang diketahui bernama Mei Terumi itu mendesah pelan. Ia kemudian menggulung kembali gulungan kemudian meletakkannya pada permukaan meja kerjanya. "Ini benar-benar membingungkan." Sebuah gumaman tanda saat ini ia tengah dilanda dilema antara penghianat dan pengecut. Tetapi baginya lebih baik dicap 'pengecut' daripada harus menghianati Naruto.
"Ada apa Mizukage-sama? sepertinya isi gulungan itu membuat anda pusing." Ucap seorang pria yang berdiri di depan meja kerja Mizukage itu. Tampaknya ia juga penasaran dengan isi gulungan itu sampai-sampai membuat dirinya tidak tahan untuk mengambil dan membaca gulungan itu, tetapi niatnya ia urungkan.
"Iwagakure mendeklarasikan perang dunia shinobi ke-4 dan lawannya adalah Uzushiogakure. Apa kau punya saran Ao?" Seketika pria bernama Ao itu langsung membulatkan mata ketika mendengar berita ini.
"Saranku tentu saja adalah kita memihak Uzushiogakure, Mizukage-sama." Tanpa pikir panjang, Ao langsung memberikan saran kepada Mei tanpa memikirkan apa hasil dari sarannya itu.
"Tapi hal itu mungkin akan membuat kita dicap pengecut atau lebih buruknya merusak citra desa kita karena memihak Naruto-san." Kata Mei.
"Itu lebih baik daripada kita harus melawan Naruto-san. Aku lebih baik dicap 'pengecut' daripada seorang 'penghianat'." Entah kenapa Ao memiliki pemikiran yang sama dengan Mei. Seketika wanita itu langsung menyungging sebuah senyum tipis karena Ao masih memegang erat rasa hormatnya kepada Naruto.
"Aku juga berpikiran seperti itu Ao, tapi alangkah baiknya jika kita harus mendiskusikan hal ini bersama Naruto-san terlebih dahulu."
"Tentu saja. Jadi sebaiknya kita jangan membalas gulungan itu sebelum kita berdiskusi dengan Naruto-san." Kata Ao dibalas anggukan pelan oleh Mei Terumi.
.
Sunagakure no Sato
"Jadi ... apa keputusanmu Gaara?" Tanya seorang pemuda yang memakai riasan wajah kepada pemuda berambut merah bata yang tengah duduk pada kursi kerjanya. Pemuda selaku Kazekage itu baru saja membaca dan menjelaskan perihal gulungan yang baru saja ia terima.
"Tentu saja, kita akan ikut dalam perang ini ,... ini adalah waktu yang tepat untuk menunjukan bahwa Sunagakure adalah Desa Shinobi yang patut mendapatkan hormat dari desa lain." Jelas pemuda bernama Sabaku Gaara.
"Tapi kita di pihak mana?" Tanya wanita berambut pirang dikuncir empat yang membawa sebuah kipas besar di punggungnya bernama Sabaku Temari, kakak dari Godaime-Kazekage Gaara.
"Itu yang membuatku bingung, ... tetapi alangkah baiknya jika kita menunggu informasi dari Naruto." Jelas Gaara mengutarakan uneg-uneg di kepalanya.
.
Skip Time
Keesokan harinya Naruto akhirnya mengirimkan sebuah gulungan mengenai rencana yang ia telah buat bersama ayahnya dan sudah mendapat persetujuan dari Arashi serta seluruh shinobi Uzushiogakure. Kirigakure dan Sunagakure selaku aliansi dari Uzushiogakure langsung menyungging sebuah seringai setelah membaca gulungan berisi rencana dari Naruto yang menurut mereka sangat bagus walaupun ada satu salah satu dari mereka yang harus menjadi korban dari rencana ini.
Tetapi itu bukan halangan bagi kedua Aliansi Naruto, mengingat apabila rencana itu berhasil maka bisa sekitar 75% kemenangan pasti milik mereka.
...
Sementara di tempat entah berantah. Sekelompok hologram tengah berkumpul mendiskusikan sesuatu. Hal yang kelompok itu diskusikan tidak lain adalah masalah perang ini yang menurut mereka adalah waktu yang tepat untuk mempercepat tujuan dari Organisasi mereka, walaupun perangnya belum dipastikan akan terjadi dalam waktu dekat.
"Khukukuku ... Dengan perang ini. Dunia akan mengetahui apa sebenarnya rasa sakit itu. Dan kita Akatsuki, sudah mempunyai rencana untuk mengambil seluruh Bijuu yang tersisah." Ujar Hologram berwujud pria berambut model jabrik dengan mata berpola riak air berwarna ungu.
"Tetapi aku tekankan pada kalian untuk tidak bertindak gegabah dan malah membuat member kita akan berkurang." Tambah Hologram.
"HA'I LEADER BOKEP!" Jawab Hologram yang lain membuat orang dikatai menjadi kesal dengan nama pemberian salah satu membernya itu.
.
.
Tampaknya Perang Dunia Shinobi ke-4 yang akan berlangsung ini. Bukan hanya dua pihak yang saling berperang melainkan tiga karena Akatsuki dengan lantang mendeklarasikan bahwa mereka akan ikut serta dalam perang ini walaupun rencana dari Naruto maupun Akatsuki masih belum diketahui.
.
.
.
TBC!
Yoooo ... bertemu lagi dengan saya, Author Newbie yang sudah sangat terlambat mengupdate Fic-Fic miliknya dengan alasan Laptop rusak. Bagi para Reader yang mengira itu cuman alasan saya agar dapat mengabaikan Fic milik saya. Anda salah besar karena memang Laptop saya itu lompat dari atas mejad dan tidak mengajak saya :v .
Oke ... Abaikan ucapan bodoh diatas dan kembali ke masalah Fic ini. Dilihat dari Chapter ini, maka sudah dipastikan PDS-4 bakalan terjadi. Maka dari itu saya memberi sedikit bocoran mengenai PDS-nya. PDS-4 ini akan terjadi setelah Arc [Pain] jadi kalian harus bersabar mengenai perang ini. Kenapa saya memakai alur seperti ini. Itu karena jika PDS saya majukan, maka yang terjadi malah alurnya malah ngawur menurut saya sendiri ... Tehe~
Chapter ini merupakan penutupan dari Acr [Early PDS-4?] dan Chapter depan merupakan Arc baru yaitu Arc [Tenchi Bridge].
Saatnya untuk membalas Review dari Akun Sejuta Umat yaitu pengguna Fasilitas Guest :v
Lucifer : Hn! oke Vak :v ... ane bakalan ngasi pelajaran ke kakek kecil itu ... Khuukukukukuku
OohSeHyunie : Sepertinya anda harus bersabar dulu mengenai PDS-nya :v ... tunggu aja setelah Arc [Pain]
it : Haaaa ... Pair ... Pair dan Pair :v ... Ane belum mikir kesono vak :v ... apalagi Itachi yg anda tanyakan.
kaiLa : Hn! tentu saja, Itachi saya buat tidka langsung menerima tawaran dari Naruto. Toh dia Shinobi yang jenius (Menurut ane sihh).
Ndah D Amay : Maaf karena si Kuso Saru saya buat ditangkep Akatsuki. Itu karena saya mempunyai rencana tersendiri mengenai para Bijuu selain Sanbi dan Kyuubi ... Tujuan dari Naruto menyuruh Itachi menjadi mata-mata di Akatsuki akan terjawab di Chapter depan ... Dan yang terakhir, Masalah penyerangan Pain. Hmmmnn ... saya samakan dengan yang di Canon urutan alurnya, walaupun sebagian besar akan saya ubah.
kiroi senko : Hn! Oke Vak :v ... tunggu aja setelah lebaran ... Ane bakalan kerja sama dengan si Author Bejat untuk buat *hem-hem* Lemon.
zubaidi : Tentu saja Fic ini bakalan puanjang buanget seperi Fic "Dark Uzumaki Naruto"
haris senju : Itu karena ane punya rencana mengenai para Bijuu.
SomBroHoz : Mengenai Mode Kurama. Untuk Karin sudah pasti ada ... Tetapi untuk Naruto, Hmmnn ... ane harus pikir tujuh keliling dolo :v
dark uzumaki : Udh kejawab di Chapter ini.
White Rose : Setelah Jiraiya dan Arashi berhenti mesum #Plakk ... Bercanda, di Arc depan bakalan ada kok.
Untuk yg Review 'Lanjut' ... 'Next' ... De el el ... Nih saya udah lanjut :v
Bagi kalian yang ingin menanyakan hal-hal menyangkut Fic ataupun yang lain. Bisa Add FB saya yaitu Muhammad Al-Hisnun
Sekali lagi saya berterima kasih telah Mereview, Favorite, Follow ataupun sekedar membaca Fic super berantakan dan Gaje ini.
Akhir kata dari saya silahkan berikan komentar/saran/kritikan kalian mengenai Chapter ini di kolom Review dan akan saya balas melalui PM. Karena Review dari kalian merupakan bahan bakar saya untuk melanjutkan Fic.
.
.
.
.
Sebelum Out! ... Saya mengucapkan selamat berbuka puasa bagi yang kalian menjalankan.
.
Ryusuke Out .
