Tittle : The Chronicle of Trio Uzumaki

Dislaimer © Masashi Kishimoto

Rate : M (Untuk jaga-jaga)

Genre : Adventure, Family, Romance, Friendship, Etc.

Pair : Naruto X Kushina, Slight Other Pairings

Warning : Typo, Alur Berantakan, Mainstream, EYD (Ejaan Yang Disemrawutkan), Ancur, GaJe, OOC, OC, Etc.

Summary : Setelah meninggalkan desa Konoha dan menyandang status SS-Rank Missing-nin, Naruto bersama adiknya Karin dan Kushina memilih untuk menetap dan membangun kembali desa leluhur mereka Uzushiogakure, disamping Naruto menjalankan tugas dari Rikudou Sannin menuntun dunia shinobi menuju kedamaian

...

...


Chapter 34 : Finally Meet Again

.

.

"Ughh~ Sempit sekali Kushi-chan."

"A-Aku sedikit lagi sampai Naru-kun ..."

"Si-Sial ... semakin kedalam, semakin sempit saja ... Ughh~!"

"Pelan-pelan Naru-kun!"

"I-Iya nihh ... Aku sudah sangat pelan!" Naruto memperbaiki posisinya agar lebih nyaman melakukan kegiatan yang kini ia geluti sekarang. "Benar-benar sempit ... Ughh~!"

"Se-sedikit lagi Naru-kun!"

"Ka-kau benar Kushi-chan ... A-Aku sudah bisa merasakannya ... "

"B-Benarkah Ughh ... "

"Sudah hampir ... "

"Be-Benar Naru-kun ... ak-aku juga sudah merasakannya."

"I-Ini dia ... "

.

.

.

Brakk!

Tap! Tap! Tap! Tap!

"APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN?"

Suara dobrakan pintu lalu suara langkah dan disusul teriakan memekkan telinga langsung membuat kedua orang yang kita ketahui adalah dua tokoh utama dalam cerita ini yaitu Uzumaki Naruto dan Uzumaki Kushina langsung menoleh secara bersamaan ke arah pintu dan mendapati empat orang menatapnya dengan wajah melongo tidak percaya. Bahkan Naruto sampai-sampai menghentikan ucapannya barusan.

"Heii ... apa-apaan wajah kalian berempat?" Tanya Naruto kepada keempatnya. Karena saat ini Naruto melihat wajah keempatnya yang dalam keadaaan melongo goblok layaknya melihat sebuah hal aneh seaneh wajah Arashi yang akhirnya berhenti mesum yang mampu membuat Naruto jingkrak-jingkrak kegirangan karena salah satu orang terdekatnya akhirnya berhenti mesum.

"He he ... kami kira kalian melakukan 'itu'." Salah dari mereka yaitu gadis berambut merah dan mengenakan kacamata menjawab pertanyaan dari Naruto agak canggung. Ketiga orang di sampingnya pun mengangguk mengenai membenarkan jawaban dari gadis tersebut.

Naruto yang saat ini dalam keadaan menungging pada bagian samping kiri sebuah lemari kecil ciptaan dari Mokuton miliknya langsung sweatdrop mendengar jawaban dari gadis berambut merah yang diketahui bernama Uzumaki Karin, adiknya sendiri. "Kau kira aku ini laki-laki hidung belang yang seenak jidatnya melakukan hal itu kepada Kushina-chan." Naruto berucap pelan masih dalam keadaan sweatdropnya serta masih dalam pose munungging.

"Dan aku mana mau melakukan hal itu dengan pirang bodoh nan ceroboh ini." Kushina menimpali ucapan Naruto dengan nada sinis sembari menunjuk kekasihnya dengan jari telunjuk tangan kanan. "Heii ... siapa yang kau panggil bodoh dan ceroboh?" Tanya Naruto agaknya tidak suka dipanggil seperti oleh kekasihnya sendiri.

Kushina kemudian memperbaiki posisinya yang tadi nungging pada bagian kanan lemari menjadi duduk bersilah sehingga rambut merah indahnya tergerai di permukaan lantai kayu di tempatnya duduk. "Siapa lagi kalau bukan kau ... " Kushina kembali menunjuk lurus Naruto yang masih nungging dan tangan kanannya masih berada di balik lemari kayu. " ... masa cuman memasang sebuah jepitan rambut susahnya minta ampun." Sambung Kushina.

Naruto mengabaikan sindiran Kushina karena pemuda pemilik iris biru Sapphire kembali sibuk meraba-raba bagian belakang lemari. "Ini dia!" Naruto menarik tangan kanannya dan setelah keluar dari balik lemari terlihat sebuah jepitan rambut violet digemgang olehnya.

"Jadi itu yang membuat kalian mengeluarkan suara desahan barusan?" Tanya gadis berambut merah lainnya yang masih setia berdiri dengan wajah melongo pada ambang pintu. Sepasang kekasih itupun mengangguk secara bersamaan. "Dan jepitan itu terjatuh di situ ... " Kushina menjeda kalimatnya sambil menunjuk kolom lemari. " ... gara-gara Naruto-kun."

"Baiklah-baiklah aku yang salah." Naruto mengalah pasrah karena dirinya tau kalau berdebat melawan seorang wanita. Maka laki-laki tidak akan pernah benar apalagi menang, kecuali jika berdebatnya di atas ranjang sambil melakukan 'pertarungan' sengit.

"Memang kau salah!" Kushina berucap kemudian menyilangkan kedua lengan dibawah belahan dadanya sehingga membuat kedua 'aset' miliknya sedikit mengembang.

Naruto berdiri dan menyodorkan jepitan rambut yang dipegang kepada Kushina. Setelah itu ia menoleh ke arah empat orang yang masih setia berdiri pada ambang pintu kamarnya. "Setelah Red-Death Habanero kita sudah mengenakan jepitan rambutnya. Sebaiknya ... " Naruto menjeda lalu memasang wajah seriusnya. " ... kalian bersiap-siap karena kita akan segera berangkat." Sambung Naruto dan dibalas dengan anggukan paham oleh keempatnya.

"Apa tidak terlalu cepat Naruto-kun?" Tanya Kushina yang baru saja selesai memasang jepitan rambut violet pada poni bagian kiri rambut merahnya. Sedangkan Hitae-Atte milikknya ia pasang di lengan kiri.

"Kalau bisa cepat kenapa lambat." Oke. Pernyataan barusan Naruto benar-benar membuat Kushina ingin menghantamkan bogeman mentah kepada pemuda bersurai pirang yang berdiri di depannya. Tetapi mengingat mereka sudah menginap selama sehari di pondok kayu ciptaan Naruto membuat dirinya enggan melakukan hal tersebut. "Haaa ... kenapa kau sangat ingin melakukan ini dengan cepat Naruto-kun?" Tanya Kushina setelahnya.

"Jawabannya sudah pasti kalian tau kan?" Tanya balik Naruto kepada mereka yang berada pada kamar tersebut.

"Baiklah! Segerahlah bersiap-siap!"

.

Scene Break

.

Naruto dan Tim Uzushiogakure kini berkumpul tepat di depan pondok kayu dari Mokuton ciptaan Naruto. Pakaian khas Uzushiogakure lengkap telah mereka kenakan. Dan untuk Sasori, perlengkapannya agak berbeda dimana pada dalaman, ia mengenakan jaket bertudung yang menutupi rambut merahnya. Dan pada bagian wajahnya, ia tutupi dengan topeng dengan Kanji bertuliskan Art pada bagian kening topeng tersebut.

"Apa sudah semuanya?" Naruto menatap satu per satu Tim yang berdiri berjejer di depannya. Kelima Jounin Uzushiogakure mengangguk untuk merespon pertanyaan dari Naruto. Dan setelah itu Naruto berbalik ke arah pondok lalu menciptakan Handseal sederhana dan bergumam pelan. "Kai!"

Boft!

Ledakan asap putih berukuran sedang pun tercipta tepat setelah Naruto bergumam pelan. Dan setelah asap ledakan itu menghilang, Naruto berbalik dan mengangguk.

"Ayo berangkat!"

...


Iwagakure

Seperti biasa. Di dalam sebuah ruangan yang didominai oleh batu (?). Seorang kakek tua kembali mencak-mencak tidak jelas setelah mendengar berita dari Tim Shinobi dari desanya yang dibuat Naruto dan Timnya merasakan apa yang namanya kekalahan.

"Bocah kuning sialan! Andai saja balasan dari Kirigakure dan Sunagakure sudah ada. Akan segera kuhancurkan dirinya beserta desa kesayangannya itu Dan juga langsung mencari keberadaan kelompok Akatsuki itu." Begitulah umpatan kekesalan dari seorang kakek bertubuh kecil yang menderita penyakit encok stadium akhir tersebut.

"Kenapa tidak sekarang saja Jiji? Bukannya sudah ada Konoha dan Kumogakure?" Tanya gadis berambut hitam sepundak bernama Kurotsuchi yang berdiri di depan meja kakek itu. Tampaknya ia agak bingung dengan Kakek-nya satu ini. Mereka sudah unggul dalam jumlah tetapi kenapa masih menunggu dua desa lainnya.

"Hmmn ... itu karena aku mengingankan agar kita semua yang ikut dalam pemusnahan ini tidak ada lagi yang berniat berhianat setelah melihat perang ini." Jelas Oonoki.

Cucu dari Oonoki mengangguk pelan tanda bahwa dia mulai mengerti maksud dari Kakeknya."Jadi ... Jiji dan desa lain menggunakan perang ini sebagai pengingat kepada desa-desa lain agar tidak ada lagi yang menyulut api peperangan?" Tanya Kurotsuchi setelahnya dan direspon anggukan oleh Oonoki sendiri. "Lantas apa lagi yang ditunggu?" Tanya Kurotsuchi untuk kedua kalinya.

Kakek pemilik Kekkai Touta Jinton mendengus agak kesal. "Dasar cucu bodoh! Bukannya sudah kukatan kalau kita menunggu kedua desa besar yang belum mengirim balasannya." Jelas Oonoki yang kekesalannya mulai naik tanda bahwa dirinya mulai memasuki mode kakek-kakek pemarah khas-nya.

"Makanya kirim lagi pesan, namun kali Jiji juga menyertakan sebuah ancaman agar mereka cepat membalasnya." Kata Kurotsuchi sinis dan tidak lupa memandang Oonoki dengan tatapan sinis pula. Oonoki membalas tatapan cucunya itu dengan delikan. "Apaan tatapan itu dasar cucu kurang ajar." Katanya dengan nada agak meninggi karena ketidaksopanan Kurotsuchi yang seenaknya menatap sinis dirinya yang jelas-jelas perbedaan umurnya sangat jauh bagaikan bumi dan langit.

"Tapi saranmu itu lumayan juga." Kata Oonoki setelahnya yang tentu saja membuat Kurotsuchi menghela nafas semberi menutup mata. "Kenapa aku tidak memikirkan hal ini ... Khukukuku ... Uhokk ... Uhok!" Kurotsuchi seketika sweatdrop mendengar tawa serta batuk khas orang tua yang sudah bau tanah dari Oonoki.

"Jangan memaksakan tertawa Jiji ... Bisa-bisa anda langsung koid hanya karena tertawa seperti barusan." Ujar Kurotsuchi masih dalam keadaan sweatdropped.

"Urusai Kuso-Magoco!" Bentak Oonoki. "Cepat kau kirim lagi pesan namun kali ini sertakan juga sebuah ancaman." Perintah Oonoki setelahnya masih dengan nada membentak.

"Maa~Maa ... Tidak usah dengan menbentak juga Jiji." Balas Kurotsuchi. Gadis berambut hitam itu kemudian melenggang dari depan meja kerja kakek kecilnya menuju pintu keluar untuk melaksanakan perintah yang diberikan kepadanya.

...


Konohagakure

Di sebuah tempat yang hanya diterangi beberapa lilin kecil. Seorang kakek uzur yang pada bagian mata kanannya ditutupi perban untuk menyembunyikan sesuatu yang berharga untuknya dan pada dagunya terdapat luka berbentuk tanda X. Di depan kakek Uzur itu, dua orang atau lebih tepatnya bawahannya tengah berlutut.

"Lapor Danzou-sama ... tampaknya Iwagakure sedikit kecewa karena kita hanya mengirim pasukan Anbu."

"Kecewa? Bukannya lawan mereka cuman sekumpulan penghianat desa-desa lain. Jadi itu mungkin sudah cukup." Jelas Danzou kepada kedua bawahannya.

"Itu benar, namun Tsuchikage-sama ... "

"Sudah hentikan! Aku tau ucapan dari orang tua keras kepala itu." Potong Danzou dan dirinya ternyata tidak sadar kalau umurnya sebenarnya hampir sama dengan Oonoki. Alhasil kedua bawahannya sedikit sweatdrop mendengarnya. "Bukannya anda hampir seumuran dengannya." Batin keduanya sweatdrop.

"Jadi ... apa yang akan kita lakukan Danzou-sama?" Tanya salah dari bawahan Danzou sembari sedikit mendongak menatap kakek tua uzur yang duduk nyaman di singgasananya. "Apa maksudmu?" Tanya balik Danzou agak penasaran sembari menyipitkan mata kirinya.

"Maksud hamba ... apa Danzou-sama tidak berencana meminta kepada Hokage-sama untuk menambah pasukan dari Konoha." Jelas bawahan Danzou yang tadi melempar pertanyaan sebelumnya. Danzou menggeleng pelan kemudian berkata. "Itu tidak mungkin terjadi ... mengingat Tsunade menolak mentah-mentah hal ini."

Beberapa menit setelah berucap demikian. Tiba-tiba saja Danzou menyeringai ketika sebuah rencana terlintas di pikirannya. Sesegera mungkin ia bangkit dari singgasananya. "Kembalilah bertugas. Aku ada urusan mendadak." Perintah Danzou. Kedua bawahannya mengangguk serentak lalu menghilang menggunakan Shunshin masing-masing meninggalkan Danzou yang semakin memperlebar seringai yang dibaliknya terdapat makna yang mungkin akan berakibat buruk pada Naruto atau hal-hal lainnya.

"Kenapa aku tidak memikirkan hal ini dari awal." Gumam Danzou yang ditujukan kepada dirinya sendiri. Ia pun segera beranjak menuju pintu keluar ruangan tempatnya sekarang. Dan tujuannya sudah pasti tempat dimana rencana busuknya akan segera dimulai.

...

Beralih ke tempat lain di desa Konohagakure no Sato. Yaitu di sebuah Training Ground dimana pada tempat tersebut berkumpul tiga orang.

"Kenapa mengumpulkan kami disini Kakashi-sensei?" Tanya salah dari mereka yakni seorang gadis muda berambut pink kepada pria berambut silver melawan Gravitasi yang diketahui bernama Hatake Kakashi yang tengah asik membaca novel keramat miliknya. "Apa kita mendapatkan misi?" Tanya lagi gadis tersebut.

"Mungkin bukan misi. Karena Kakashi-sensei tidak terlihat serius. Itu pernah aku baca di sebuah buku dimana mengatakan jika seseorang tidak memperlihatkan wajah serius maka ... bla bla bla ..."

"Diam kau Sai!" Bentak gadis itu yang agak risih mendengar penjelasan pemuda berkulit putih pucat bernama Sai yang menurut gadis sangat menjengkelkan karena selalu menyangkut pautkan segala hal dari buku yang dibaca pemuda bernama Sai tersebut. Dan seperti biasa, Sai hanya menanggapi bentakan gadis itu dengan senyum palsu miliknya.

Gadis berambut pink tersebut hanya bisa menghela nafas melihat senyum palsu dari rekan setim di Tim 7 yang sekarang. Gadis tersebut kemudian beralih menatap Kakashi. "Nee, Kakashi-sensei ... untuk apa anda mengumpulkan kami disini?" Tanya Gadis mengulang pertanyaan yang pertama.

Kakashi menutup novel keramatnya kemudian menatap sang penanya. "Begini Sakura ... " Gadis yang diketahui bernama Sakura itu mengangguk antusias menunggu kelanjutan dari ucapan Kakashi. " ... Hokage-sama memberi kita, bukan tetapi semua shinobi Konoha agar tidak keluar desa sampai ada informasi lebih lanjut dari Hokage-sama." Jelas Kakashi yang seketika membuat Sakura terkejut mendengar hal ini yang tentu saja membuat rencananya untuk pergi mencari sang Uchiha Sasuke menjadi terhalang.

"Kenapa Kakashi-sensei? Bukannya sebentar lagi kita akan pergi mencari Sasuke-kun di tempat yang diduga tempat persembunyian Orochimaru yang ditemukan beberapa hari yang lalu oleh tim yang melakukan misi diluar desa beberapa hari yang lalu." Sakura berkata dengan sedikit nada emosi.

"Ya ... memangnya ada apa sampai-sampai kita dilarang keluar desa?" Mantan Anbu Root pun ikut bertanya penasaran mengenai hal ini.

Kakashi menggeleng pelan lalu berkata. "Aku juga kurang tahu mengenai kenapa. Tetapi Hokage-sama mengatakan bahwa suasana di luar desa tangah memanas antara keempat desa besar Shinobi lain." Dengan tenang Kakashi menjelaskan mengenai apa yang diucapkan Tsunade kepadanya sebelum kesini.

Walaupun sebenarnya hal yang diucapkan Tsunade bohong. Itu karena Godaime-Hokage tersebut tidak mau para Shinobi Konoha mengetahui kalau Naruto akan berperang melawan Iwagakure. Dan jika saja para Shinobi Konoha mengenai hal ini, maka dapat dipastikan mereka akan mendesak Tsunade agar ikut dalam perang ini mengingat Naruto dibenci hampir sebagian besar warga Konoha karena kejadian saat Invasi tiga tahun lalu.

"Lantas apa hubungannya dengan melarang kita kelaur desa?" Tanya Sakura lagi yang tampaknya masih belum puas mendengar ucapan dari Kakashi.

"Mungkin saja Hokage-sama tidak mau Konoha terlibat dengan masalah ini." Sai mengemukan pendapatnya mengenai hal ini dan tentu saja Kakashi mengangguk pelan tanda bahwa ia setuju dengan pendapat mantan anggota Root tersebut.

Sakura hanya bisa menundukan kepala bersurai merah muda miliknya. Dan tak berselang lama, ia mendongak karena tiba-tiba saja sebuah cara untuk keluar desa muncul di benaknya. "Aku akan menemui Tsunade-sama dan meminta ijinya untuk keluar desa." Kakashi dan Sai seketika menoleh ke Sakura dengan alis terangkat. "Apa maksudmu Sakura?" Tanya Kakashi.

"Apa Kakashi-sensei tidak tahu kalau ini adalah kesempatan emas untuk membawa pulang Sasuke-kun ke Konoha ... Maka dari itu aku akan tetap akan pergi ke tempat itu, walaupun aku hanya sendiri yang akan pergi." Kata Sakura tanpa keraguan sedikitpun dari raut wajahnya.

"Demi keluarnya edisi terbaru novel Icha-Icha Paradise ... " Kakashi berujar agak OOC membuat Sakura dan Sai seketika sweatdrop di tempat. " ... Apa kau sudah gila Sakura, kau karena lebih mementingkan Sasuke dibanding Konoha." Sambung Kakashi menyelesaikan ucapannya barusan.

Pemuda berkulit pucat bernama Sai manggut-manggut mengiyakan ucapan dari Jounin yang terkenal dengan sifat malas tersebut. "Sebenarnya seberapa penting Sasuke bagimu Sakura?" Tanya Sai setelah menyelesaikan acara menggut-manggut yang terlihat seperti seekor anjing Chihuhua yang diberikan tulang oleh majikannya jika saja ia menjulurkan lidahnya.

"Sangat penting." Jawab Sakura cepat-cepat. "Begitupula dengan Rei yang sudah tiada ... orang bodoh sepertimu tidak akan mengerti akan ikatan kami bertiga." Jelas Sakura setelahnya. Dan hanya sebuah senyum palsu yang dikeluarkan oleh Sai untuk merespon penjelasan dari Sakura. "Dan aku ingat-ingat ... Kakashi-sensei pernah mengatakan hal seperti ini, 'memang orang yang melanggar peraturan adalah sampah ... tetapi orang yang mengabaikan temannya lebih buruk dari sampah'."

Kakashi seketika tersentak mendengar ucapan dari Sakura yang ada benarnya, namun di sisi lain dimana situasi yang terjadi sekarang ini membuat Kakashi menjadi agak bingung. "Itu benar Sakura ..."

"Makanya ... kenapa Kakashi-sensei me-"

"Jangan potong ucapanku Sakura!" Bentak Kakashi membuat Sakura seketika diam ditempat. "Apa kau lupa kalau di Konoha ada juga teman-teman kita selain Sasuke. Dan jika sampai kita terlibat dengan masalah keempat desa lain ... bisa dipastikan kita akan banyak kehilangan teman-teman kita." Sambung Kakashi dan hasilnya benar-benar membuat Sakura bungkam. "Dan jangan bilang kalau aku mengabaikan Sasuke ... asal kau tahu, sebagai Sensei kalian di Tim 7. Sebenarnya aku juga sedikit terbebani dengan masalah Sasuke ini."

Sai yang mendengarkan dengan jelas ucapan dari Kakashi dibuat tertegun. Sementara Sakura kini terlihat tengah mencerna dalam-dalam ucapan dari Jounin berambut silver melawan gravitasi tersebut. "Pikirkan matang-matang hal ini sebelum melakukannya Sakura!" Kata Kakashi mengakhiri penjelasannya kemudian menciptakan Handseal untuk melakukan Shunshin.

Poft!

Sepeninggal Kakashi. Sai mengalihkan perhatiannya ke kanan dimana Sakura tengah berdiri dengan raut wajah terlihat memikirkan apa yang baru saja Kakashi katakan. "Aku duluan Sakura!" Karena tidak mau mengganggu gadis berambut gulali yang tengah memikirkan suatu hal tersebut. Sai akhirnya memilih undur diri dari lokasi tersebut.

Sakura tidak menanggapi ucapan pamit dari rekan setimnya yang sekarang itu. Namun bagi Sai sendiri, diamnya Sakura sudah cukup untuk dirinya agar segera meninggalkan gadis itu sendirian.

"Bagaimana dengan yang lain? Apa mereka juga berpikiran sama denganku." Kata Sakura agak lesuh dalam hatinya. Dan ucapannya ini ditujukan kepada rekan-rekan seangkatannya.

...


Beberapa jam setelah itu,

Disuatu tempat, suara semilar hembusan angin di siang hari yang cerah ini membuat dedaun saling bergesakan satu sama lain dan menciptakan kombinasi alunan nada merdu menjadi penghias suasana di atas salah satu dahan pohon tidak jauh dari sebuah jembatan beraksitektur cukup megah yang memotong sebuah sungai di kawasan Kusagakure.

Dan diatas dahan pohon tersebut berdiri enam Shinobi yang mengenakan pakaian khas Jounin Uzushiogakure. Diantara kelimanya, pemuda yang berada di tengah yaitu pemuda bersurai pirang jabrik memandang serius jembatan yang berada di depan matanya sekaranga. "Jadi ini jembatan Tenchi?" Tanyanya kepada pemuda berambut merah yang menjadi alasan mereka berada di sini.

"Hn! Benar ... Tetapi sepertinya Orochimaru belum tiba." Kata pemuda bersurai merah tersebut datar. "Dan itu membuat kita mempunyai sedikit waktu untuk menyempurnakan rencana yang kita susun di pondok kemarin." Tambahnya dan direspon anggukan oleh keempat Jounin lain termasuk pemuda bersurai pirang tadi.

"Apa kalian masih ingat dengan rencananya?" Tanya pemuda bersurai pirang tersebut kepada keempat Jounin lainnya selain pemuda berambut merah disampingnya.

"Tentu saja Naruto-kun! Kau kiri kami ini pikun apa." Kata salah dari mereka yaitu gadis berambut merah sepinggul bernama Uzumaki Kushina, kekasih dari pemuda bernama Naruto. "Kushina benar! Kami ini tidak sepikun yang kau pikirkan." Pria berbadan kekar bersurai coklat yang diikat ekor kuda itu menimpali ucapan dari Kushina.

"Sokka ... aku kira kalian lupa." Naruto tersenyum tipis kepada keempatnya. "Terutama kau Kiyoshi, mengingat kau mempunyai otak kecil yang berbanding terbalik dengan tubuhmu itu." Seketika Sasori, Kushina dan Karin langsung tertawa mendengar ucapan dari Naruto.

"Hoi ... siapa bilang otakku kecil, ukurannya masih normal tau." Sanggah Kiyoshi dengan wajah konyolnya membuat ketiga Jounin Uzushiogakure di dekatnya semakin memperbesar volume tertawa mereka, tidak lupa Naruto yang kini ikut tertawa juga. Namun berbeda dengan keempatnya. Satu lagi Gadis berambut merah yang posisinya berada di ujung paling kanan terlihat memasang ekspresi wajah tanpa emosi dan sama sekali tidak menggubris percakapan yang lain.

Menyadari hal tersebut. Naruto selaku pemimpin di tim ini langsung menghentikan tawanya kemudian menoleh ke arah gadis tadi. Karena setahu pemuda bersurai pirang ini, Gadis tersebut merupakan orang yang paling suka yang namanya ejek mengejek sesama mereka. "Ada apa denganmu Tayuya-nee? Tumben tidak ikut tertawa." Tanya Naruto kepada gadis yang diketahui bernama Tayuya itu.

Mendengar ucapan dari Naruto yang lain pun ikut menghentikan tawa mereka dan melakukan apa yang dilakukan Naruto, yaitu menoleh ke arah Tayuya. "Naruto benar ... tumben kau tidak ikut tertawa." Ujar Art (Sasori) yang terdengar datar dari balik topengnya.

Tayuya menoleh menoleh ke arah kiri untuk menatap mereka yang menatapnya heran. Dan detik selanjutnya ia menggeleng pelan lalu berkata. "Tidak ada apa-apa kok." Jawab gadis berambut merah itu kemudian menyungging senyum yang terkesan dipaksakan.

"Haa ... dia pasti memikirkan apa jadinya nanti jika ia bertemu dengan ular itu." Ujar Naruto dalam hati saat melihat senyum dipaksakan milik Tayuya. "Sokka ... kukira kau lagi sakit Tayuya-nee." Kata Naruto sedikit bercanda dan kembali dibalas gelengan pelan sebagai tanda bahwa ia benar-benar tidak apa walaupun sebenarnya tidak.

Naruto yang berada di tengah bersama Kiyoshi, menatap satu per satu timnya kemudian mengangguk secara serentak. "Mari kita mulai simulasi rencananya." Kata Naruto kemudian menaikkan Wristband yang setia ia gunakan pada lengan kirinya untuk menutup simbol Fuinjutsu di situ. Naruto kemudian menyentuh simbol tersebut dan sebuah kunai bermata tiga pun muncul dari simbol tersebut.

"Apa kau yakin ingin melakukannya sendiri Nii-chan?" Tanya sang adik dari Naruto, Uzumaki Karin yang agak takut kakaknya itu melakukan rencana ini sendirian. Naruto mengangguk mantab kemudian berkata. "Ini adalah urusanku bersama Ular Brengsek itu, kalian tinggal urus pengawalnya jika ada." Aura kebencian sedikit terlihat ketika Naruto mengucapkan panggilan sayangnya kepada Orochimaru dan hal itu membuat yang lain sedikit khawatir akan hal ini.

"Kau benar-benar berbeda 180 derajat menyangkut hal ini Naruto." Kata Kiyoshi.

"Sudahlah lupakan hal itu ... " Naruto berucap datar lalu melempar kunai yang tadi ia keluarkan entah kemana ke arah barat. " ... Ayo kita mulai simulasi!" Sambung Naruto dan dibalas anggukan oleh yang lain.

...

46 menit lewat 35 detik kemudian akhirnya mereka selesai melakukan simulasi rencana. Dan saat ini mereka sudah berada di posisi mereka masing-masing untuk menyambut kedatangan dari Sang tamu istimewa yaitu Orochimaru. Tayuya, Karin, Kushina dan Kiyoshi bersembunyi agak jauh dari lokasi jembatan. Sedangkan Naruto dan Art (Sasori) berada tepat ditenga-tengah jembatan.

"Baiklah Naruto ... semoga beruntung!" Kata Sasori kemudian beranjak dari tempatnya meninggalkan Naruto untuk segera menuju ke tempat dimana ia akan bersembunyi. Sepeninggal Sasori, Naruto menciptakan Handseal yang agak rumit. "Tosukhu Henge no Jutsu!"

Poft!

Ledakan disertai asap putih muncul tepat setelah Naruto menyebutkan tehnik Transformasi atau Henge no Jutsu namun tehnik yang Naruto gunakan berada diatas Henge no Jutsu yang memerlukan emisi konstan chakra sementara mental pengguna mempertahankan bentuk. Berbeda dengan Tosukhu Henge no Jutsu ini dimana bukan hanya bentuk yang disamakan, namun juga chakra dari sang empunya bentuk tubuh yang ditiru sehingga bisa dibilang tehnik ini merupakan tehnik Transformasi sempurna yang bahkan ninja Type sensor pun tidak dapat mengenalinya.

"Sekarang tinggal menyamakan suara dari Kugutsu ini ... ehem ... " Gumam Naruto diikuti batuk yang disengaja untuk menyamakan suara hingga akhirnya. " .. Eeheem." Suara batuk yang agak menyeramkan khas Kugutsu Hiruko pun terdengar.

"Sempurna!"

...

Skip Time

Beberapa menit kemudian, akhirnya mata-mata Sasori akhirnya menampakkan dirinya dari balik pepohonan di ujung lain dari Jembatan. Secara perlahan sang mata-mata yang mengenakan jubah yang hampir menutupi seluruh tubuhnya berjalan mendekati Hiruko (Naruto) yang sudah menunggu di tengah-tengah jembatan.

"Chakra ini ... Si Mata Empat." Batin Naruto ketika mendeteksi chakra dari sang mata-mata menggunakan sensor miliknya. Dan ketika orang itu sudah berada di depan Naruto, ia langsung membuka topik pembicaraan. "Kau lama sekali. Apa yang membuatmu terlambat?"

"Maaf atas keterlabatanku Sasori-sama ... Kepalaku terasa berat." Orang itu meminta maaf sekaligus mengutaran alasan kenapa dirinya terlambat. Inner Naruto seketika menyeringai mendengar alasan bodoh tersebut. "Hmnn ... masih berpura-pura hee."

"Sudah lama sekali ya Sasori-sama." Perlahan orang itu mulai menggerakkan tangan kanannya dan memegang ujung tudung jubahnya. Ditempat persembunyain Tim Naruto. Kushina, Tayuya dan Kiyoshi mulai menatajamkan penglihatan mereka untuk mengetahui siapa sebenarnya mata-mata itu. Sedangkan Sasori yang sudah mengetahuinya terlihat memandang bosan hal itu. Dan untuk Karin, ia sudah mengetahui kalau mata-mata itu adalah orang yang pernah ia lawan saat mencari Tsunade tiga tahun yang lalu.

"Sekitar lima tahun yang lalu!" Sambung orang itu dan kini ia sudah memperlihatkan wajahnya. Seketika Tayuya dan Kushina langsung terkejut melihat wajah yang mereka kenali itu.

"Dia ... Kabuto!" Ucap keduanya secara bersamaan.

"Siapa dia?" Tanya Kiyoshi yang tidak tahu menahu siapa orang itu. Mendengar pertanyaan dari pria berbadan kekar tersebut, Karin menoleh ke arahnya kemudian berkata. "Dia adalah asisten dari Orochimaru."

Kembali ke Naruto dan Kabuto. "Apa kau diikuti?" Tanya Naruto lagi memastikan dibalas gelengan pelan oleh Kabuto lalu menoleh ke arah belakang. "Tidak! Hanya ada aku dan kau." Kata Kabuto.

"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Naruto lagi.

"Hmmmnn ... " Kabuto mengalihkan pandangannya ke arah Hiruko kembali. " ... Aku masih merasa gemetar karena efek dari tehnik anda serta ... Bla Bla Bla!" Oke Author Skip saja pembicaraan keduanya.

...

"Hmmnn ... sebaiknya kulakan sekarang juga agar Ular itu cepat-cepat keluar dari sarangnya." Pikir Naruto. Lengan kanan Hiruko pun mulai bergerak sehingga membuat Kabuto menjadi terkejut melihatnya. Dan sedetik setelah itu Hiruko terlihat memegang kunai biasa dan bersiap menerjang Kabuto.

"Percakapan kalian selesai!"

"Akhirnya muncul juga kau ... Orochimaru!" Hiruko (Naruto) menghentikan gerakannya sembari berucap datar menanggapi kemunculan secara tiba-tiba orang bernama Orochimaru tepat dibelakang Kabuto disertai ular berukuran sedang yang melingkari tubuh Kabuto. "Ternyata dugaan dari Sasori benar ... perihal Ular dan si mata empat ini mungkin sudah mengetahui Sasori sudah kukalahkan di gua waktu itu." Pikir Naruto sembari melirik kedua orang yang ia sebut namanya secara bergantian.

"Ternyata kau menyadari kedatanganku ya?" Tanya pria berkulit pucat layaknya seorang yang sudah mati. Naruto bergumam datar menanggapi pertanyaan dari ular itu sedangkan Kabuto terlihat memasang ekspresi terkejut. Dan seketika ia langsung melompat keluar dari lilitan ular Orochimaru ketika ular itu hendak mempererat lilitannya.

Tap!

Kabuto mendarat dengan sempurna tepat di samping kanan Naruto. Pemuda berkacamata itu kemudian menyiapkan kuda-kuda bertarungnya. "Sasori-sama ... anda ternyata menyadari kedatangannya ... aku mengira kunai tadi untuk menyerangku." Kata Kabuto tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Orochimaru.

"Hn!" Naruto bergumam datar. Naruto kemudian melirik sejenak ke Kabuto lalu kembali ke Orochimaru dengan tatapan dingin.

"Aku ingat rupa itu, serasa itu sedikit membawa memori ... " Kata Orochimaru. Poni rambutnya terlihat melambai-lambai ditiup angin yang berhembus pelan. " ... benarkan S-a-s-o-r-i." Sambung Orochimaru menyebut nama mantan anggota akatsuki tersebut dengan memberi sedikit penekanan di setiap hurufnya.

"Jadi kau mengikuti Kabuto ... Benarkan?" Tanya Naruto mencoba agar Orochimaru ataupun Kabuto tidak curiga kalau dirinya sudah mengetahui hal ini.

Orochimaru menyungging senyum ular miliknya kemudian berkata. "Entahlah ... " Pria berkulit pucat tersebut mengankat kedua tangan sejajar dengan dada. " ... mungkin cuman iseng saja. Lagipula kau adalah orang yang mengirim bocah itu ke tempatku. Jadi sudah sepatutnya aku curiga." Sambung Orochimaru. Kabuto yang mendengat ucapan Orochimaru menggerakkan sedikit kepalanya kebawah.

Keheningan pun terjadi di atas jembatan tersebut, hanya suara hembusan angin yang terdengar. Masing-masing dari ketiga orang itu tenggelam di pikiran mereka untuk merencanakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Beberapa menit kemudian Hiruko menggerakkan kepala untuk menoleh ke arah Kabuto. "Oke ... waktunya untuk memutuskan!" Ujar Hiruko (Naruto) akhirnya memutuskan untuk mengakhiri acara akting layaknya bintang Film papan atas dari Kabuto dan Orochimaru.

Menaggapi ucapan dari Naruto, Kabuto langsung mengaktifkan pisau chakra di lengan kanannya lalu mengankatnya tinggi-tinggi. Inner Naruto langsung menyeringai ketika melihat pergerakan kedua kaki Kabuto yang menurutnya akan melakukan sebuah serangan jarak dekat bukannya mau berlari ke arah Orochimaru.

Dan detik selanjutnya apa yang Naruto prediksikan benar-benar terjadi. Kabuto menyeringai lalu mengarahkan lengan kanannya ke Kugutsu Hiruko. Namun diluar dugaan, Naruto bertindak terlebih dahulu dengan bergumam pelan. "Kai!"

Poft!

Kugutsu Hiruko tiba-tiba saja meledak menjadi kepulan asap putih yang membuat Kabuto membulatkan matanya, sedangkan Orochimaru tidak memperlihatkan ekspresi apapun.

Takk!

Dari balik kepulan asap putih tersebut tangan kiri Naruto keluar dan langsung menahan lengan kanan Kabuto yang tidak telaliri pisau chakra. Dan ketika hembusa angin melenyapkan asap putih tersebut, tampaklah seorang pemuda bersurai pirang yang mengenakan Rompi Jounin Uzushiogakure, celana standar Chunin hitam begitupula dengan sepatunya.

"K-Kau!" Kata Kabuto agak terkejut pasalkan diluar dugaannya ternyata Naruto yang dari tadi menjadi Kugutsu Hiruko. Sementara Orochimaru malah menyungging seringai ularnya.

"Akting kalian lumayan juga!" Komen Naruto datar. Pemuda bersurai pirang tersebut kemudian memegang erat lengan Kabuto sedangakn kaki kanannya ia gerakkan sedikit kebelakang dan detik selanjutnya ia langsung melakukan Roundhouse Kick ke arah bagian samping kiri kepala Kabuto.

Syuut!

Dengan sigap Kabuto langsung memiringkan kepalanya ke kanan sehingga kaki kanan Naruto hanya melewati bagian samping kepala pemuda berkacamata tersebut. "Terima kasih atas pujiannya." Balas Kabuto kemudian melepaskan genggaman Naruto lalu melompat mundur dan mendarat di samping kanan atasannya, Orochimaru.

"Khukukukuku ... " Orochimaru tertawa ala psikopat kelas kakap kemudian berkata. "Lama tidak bertemu bocah Hiraishin." Setelah itu, pria berkulit pucat itu melakukan apa yang sering dilakukan mahluk sejenisnya yaitu mengeluarkan lidah panjang miliknya layaknya seekor ular yang mencari keberadaan mangsanya.

"Ya ... sekitar tiga tahun yang lalu." Balas Naruto datar sembari memperbaiki pose tubuhnya yang setelah melakukan tendangan yang tidak mengenai sasaran tadi. Dan ketika tubuhnya sudah tegak layaknya tiang bendera di sekolahan ia berkata datar. "Sepertinya ada yang berbeda denganmu Ular."

Orochimaru yang mengetahui apa yang dimaksud Naruto menggerakkan kedua lengannya. "Seperti yang kau lihat." Katanya. "Dan kau masih sama. Tatapan penuh kebencian atas kematian Monyet Tua Bangka itu masih setia melekat." Tambah Orochimaru.

Naruto menggertakan gigi mendengar ucapan Orochimaru barusan. "Tatapan kebencianku ini hanya kutujukan untuk dua orang ... dan salah satunya adalah kau!" Kata Naruto masih datar sembari menunjuk orang yang menyebabkan Hiruzen meninggal dunia sehingga membuat Konoha berkabung serta menyebabkan sang Uzumaki Naruto menjadi dibernci oleh penduduk Konohagakure.

Orochimaru terkekeh pelan begitupula asistennya yang berdiri di samping kanannya. "Aku jadi penasaran siapa orang kedua itu." Kata Orochimaru lalu mengalihkan pandangannya ke kanan. "Apa mungkin itu kau Kabuto?" Tanyanya kepada pemuda berkacamata tersebut.

Kabuto memperbaiki posisi kacamata berlensa bulatnya sembari berkata. "Entahlah Orochimaru-sama." Orochimaru mengangguk sekali kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke Naruto. "Apa sekarang kau bisa memanggil lima tikus yang bersembunyi itu." Kata Orochimaru.

Naruto tersentak sejenak mengatahui jika Orochimaru ternyata menyadari keberadaan anggota Timnya. Karena terlanjut ketahuan, Naruto akhirnya memberikan isyarat berupa mengacungkan jari telunjuk dan tengah tangan kanannya di samping kepala.

...

"Itu isyaratnya!" Ujar Sasori kepada keempatnya yang dibalas anggukan kecil.

"Akhirnya ... ototku sudah pegal jongkok di belakang batu ini." Gerutu pria berbadan kekar yang kita ketahui bernama Kiyoshi. Dan gerutuan itu membuat keempat orang di dekatnya sweatdrop sejenak. "Ayo!" Komando Kiyoshi setelahnya dan secara serentak kelima Jounin Uzushiogakure tersebut melompat keluar dari tempat persembunyian mereka.

Tap! Tap! Tap! Tap! Tap!

Kelima Jounin Uzushiogakure itu pun mendarat dibelakang Naruto. Orochimaru yang kedatangan serta rompi yang mereka berlima kenakan seketika menyeringai. Dan juga melihat salah satu orang yang ia sangat kenali membuat Orochimaru semakin memperlebar seringai ularnya.

...

Scene Break!

Suara hembusan angin yang berhembus kencang melewati jembatan yang sebentar lagi akan menjadi arena tawuran kedua belah pihak pun terdengar merdu bagi Author. Saling tatap menatap lawan pun terjadi diantara mereka.

"Khukukuku ... lama tidak bertemu Tayuya-chan!" Sapa Orochimaru kepada gadis bernama Tayuya. Sedangkan Gadis tersebut yang mendengar sapaan sayang dari mantan bosnya hanya menggeram kesal menahan amarahnya. "Aku benar-benar tidak menyangka kalau kau masih hidup tidak seperti ketiga rekan satu misimu waktu itu." Sambung Orochimaru.

Karin dan Kushina melirik Tayuya sejenak dan gadis itu membalas lirikan keduanya dengan anggukan pelan untuk memberitahu bahwa ia baik-baik saja. "Lama juga tidak bertemu Orochimaru." Tayuya membalas sapaan mantan bosnya dengan nada sinis membuat Orochimaru terkekeh pelan. "Begitukah sambutan sayangmu kepada mantan bosmu ini."

"Sudahi renuin kalian berdua ... kau membuatku ingin muntah mendengar ucapanmu Ular." Kata Naruto membuat Orochimaru kembali terkekeh. "Apa salahnya kalau aku menyapa manta-"

Perkataan Orochimaru seketika terhenti ketika mendapati Naruto sudah tidak berada di tempatnya melainkan berada di atasnya dengan bola spiral yang berputar dengan cepat di tangan kanan yang siap dihantamkan ke wajah ularnya.

"Rasengan!"

.

.

.

TBC!


Huanchin! ... Maaf #Bungkuk 450 derajat :v Lolz

Hmmnn ... Apa yang akan terjadi dengan Orochimaru? Apa dia akan dijadikan Ular Bakar atau Ular Rendang mengingat ini masih suasana lebaran :v Lolz ...
Begitu pun dengan Tayuya?
Serta apakah Rencana Busuk dari Danzou?

Nyahahahahaha ... Uhukk~Uhukk! ... Haaa ... Tunggu saja di Chapter selanjutnya.

Oh iya ... Untuk Fic Uzumaki D. Naruto ... mungkin agak terlambat ... 2-3 hari lagi baru saya Update.


Balasan Review dari Guest.

ASHALIM 31 : Entar saya Pikirin tujuh keliling vak :v

Ndah D Amay : Hehehe ... namanya juga udah sangat ingin ngehancurin si Oro Pedo ... Dan diatas sudah saya selingi dengan Scan Konoha kok ... Masalah Sasuke keluar dari markas Oro Pedo dan ke Uzushiogakure, mungkin setelah Arc ini kok ... Dan Hehehe saya tidak tersinggung kok.

Zubaidi : Itu tidak berhenti kok ... cuman lagi sibuk dan juga buntu ide :v :v

fans berat author : Entahlah ... cuman mau saja nulis sedetail itu :v :v

Melawati : Entahlah ... Mungkin sekitar 55-60 Chapter.

Uzuchiha870 : Tunggu saja hehehe.

Ka Enoh : Noh ... Pemanasannya udah ada :v ... Yang jelas setelah pertarungan melawan Oro Pedo selesai.

aldho namikaze : Hoi~Hoi ... Situ punya mulut pedas amat. Baru dipanggil seperti di Chapter kemarin sudah mengeluarkan kata-kata tidak berprikemanusian. Apa situ punya Pancasila? Atau cuman Garuda-nya saja :v ... Dan Oh iya, ketika membaca Flame-mu. Saya asumsikan kau cuman 'Bocah' yang gampang emosi gara-gara cuman dipanggil begitu ... Dan kau bilang saya sok Buat Fic. Oke saya luruskan. Saya membuat Fic cuman sebagai pelepas kebosanan dari kehidupan membosankan saya ... Oke lupakan yang sebelumnya dan mari kembali ke topik lain yaitu : Saya Tunggu Fic buatanmu dan buktikan mulut besarmu itu.

Guest : Hahaha ... makasih.

Lagaligo : Ini sudah tampilkan scene Konoha ... Dan Sasuke ... mungkin saja tidak.

Guest/Uzumaki Nurain: Oke-Oke ... saya akan bikin Se-Hot mungkin ... Masalah Lemon ... Hmnnn tunggu saja setelah pertarungan di Jembatan Tenchi selesai.

Jashin –sama : Si Mata Empat tidak akan mati di Arc ini ... Karena saya punya rencana tersendiri untuk si mata empat ... Mengenai Leader Bokep menginvasi Konoha/Uzu ... Itu masih saya pikirkan Tujuh Keliling agar alurnya menjadi tidak karuan.

Mangekyou azie : Makasih oii ... Anda saja yang Add FB saya ... Nih : Muhammad Al-Hisnun.

PainNagato : Hn! Sasuke bakalan ikut PDS-4 bersama Naruto ... Dan untuk Tim Hebi ... Entar saya pikirin tujuh keliling dulu.

Hanzo salamander : Hn! Sasuke dan Itachi bakalan Ikut PDS-4 bersama Naruto kok.

Trikainan : Belum sepenuhnya ... Masih sekitar 60%.

Guest : Untuk Sasuke datang ke Jembatan Tenchi. Mungkin tidak ... dan masalah Invasi Pain. Masih saya pikirkan tujuh keliling biar alurnya tidak berantakan.

Untuk yang Me-Review ... Lanjut – Next – Dan lain-lain ... Ini saya udah lanjut kok.


Sekali lagi saya berterima kasih telah Mereview, Favorite, Follow ataupun sekedar membaca Fic super berantakan dan Gaje ini.

Akhir kata dari saya tinggalkanlah jejak berupa Review ... Baik tanggapan atau berupa sebuah saran. Karena Review anda merupakan bahan bakar/penyemangat untuk saya agar melanjutkan Fic ini.

.

Dan Terakhir ... Saya mengucapkan "Selamat Idul Fitri 1436 H ... Minal Aidzin Wal Faidzin ... Mohon Maaf Lahir dan Batin! Baik itu kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja."

.

Ryusuke Out .