Pertama-tama saya ingin berterima kasih kepada kalian semua yang masih setia menunggu Fic Gaje milik saya ini … Kedua saya ingin meminta maaf karena terlambatnya saya untuk Update Fic ini dan Fic lain, itu karena saya sangat sibuk akhir-akhir ini sampai-sampai menyita waktu luang untuk menulis, jangankan menulis … duduk depan Laptop saja sangat jarang. #Abaikan ini
Hmnn … 2K lebih Review! … ini diluar perkiraaan saya lohh, dan itu membuat saya semakin semangat melanjutkan Fic walaupun nantinya agak terlambat Update-nya.
…
…
…
Tittle : The Chronicle of Trio Uzumaki © Ryusuke Akairyuu (RootWood)
Dislaimer Masashi Kishimoto
Rate : M (Untuk jaga-jaga)
Genre : Adventure, Family, Romance, Friendship, Etc.
Pair : Naruto X Kushina, Slight Other Pairings
Warning : Typo, Alur Berantakan, Mainstream, EYD (Ejaan Yang Disemrawutkan), Ancur, GaJe, OOC, OC, Humor yang Garing dan Romance yang kagak kerasa Feel-nya, Etc.
Summary : Setelah meninggalkan desa Konoha dan menyandang status SS-Rank Missing-nin, Naruto bersama adiknya Karin dan Kushina memilih untuk menetap dan membangun kembali desa leluhur mereka Uzushiogakure, disamping Naruto menjalankan tugas dari Rikudou Sannin menuntun dunia shinobi menuju kedamaian
AN : Di Chapter kemarin saya melakukan kesalah yaitu harga kepala Naruto yang seharusnya 100 Juta Ryo … Dan itu sudah saya perbaiki kok … Kenapa kemahalan, jawabannya ada di Chapter ini.
...
Chapter 36 : Big Impact in Tenchi Bridge Part II
…
…
…
Flashback Two Hours Earlier
Di sebuah kuil yang letaknya berada di kawasan Negara Api, terlihat halaman dari kuil tersebut terlihat porak-porakda. Kawah berbagai ukuran, senjata-senjata berserakan dimana-mana, darah segar yang terlihat di beberapa lokasi dan yang lebih buruk adalah puluhan mayat yang berserakan.
"Sialan! … Apa sebenarnya kalian incar, HAA!" Bentak seorang Biksu yang kini tersisa dirinya saja. Di depan biksu itu berdiri dua pria yang mengenakan jubah hitam bermotif awan merah.
Akan tetapi, kedua pria itu tidak menggubris bentakan dari sang biksu. Mereka berdua malah asik berdebat karena salah dari mereka tampaknya tidak puas dengan pertarungan ini.
"Hoii Kakuzu … kau bilang akan banyak, tetapi kenapa hanya segini?" Pria berambut klimiks dan memegang sebuah senjata menyerupai sabit namun memiliki tiga mata tampaknya tidak puas akan apa yang baru ia lakukan, yaitu membantai puluhan biksu. Dan pria itu langsung menunjuk pria bernama Kakuzu yang berdiri di samping kanannya.
"Diamlah Hidan!" Pria bernama Kakuzu membalas pria yang diketahui bernama Hidan. "Apa kau belum puas memberikan persembahan kepada dewa bodohmu itu?" Kakuzu bertanya dengan nada sinis.
Hidan yang tidak suka dewa-nya dikatai bodoh mendelik Kakuzu dengan perempatan di ujung keningnya. "Oii~Oii … Apa kau bilang mata duitan? Tarik ucapanmu atau kutusuk mata duitanmu sampai tidak bias melihat lagi!"
Kakuzu menoleh ke Hidan dengan wajah kalem. "Kau memang sebodoh dewamu itu Hidan!"
Mata Hidan membulat sempurna sampai-sampai pupilnya menghilang. Persimpangan di ujung keningnya pun berkedip-kedip tanda bahwa ia sudah benar-benar kesal dengan partnernya. "SUDAH KUBILANG JANGAN KAU SEBUT JASHIN-SAMA SEPERTI ITU, SIALAN!" Hidan berteriak kesal sambil menunjuk-nunjuk Kakuzu.
"Sialan Kalian!"
Sebuah umpatan kesal langsung mengintrupsi kedua member Akatsuki tersebut, secara bersamaan Hidan dan Kakuzu menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Biksu yang mereka abaikan tadi kini berlari ke arah mereka dengan ekspresi kesal dan di tangan kanannya memegang sebuah tombak besar.
"Akan kubunuh kalian berdua keparat!" Biksu itu melompat dan bersiap menyerang Hidan dan Kakuzu dengan tombak yang ia pegang.
"Hidan! Apa kau atau … Haa!" Kakuzu mendesah pasrah ketika Hidan sudah melompat mendahuluinya.
Trank!
Tombak sang biksu dan senjata milik Hidan pun saling beradu di udara menciptakan suara dentingan logam yang sangat keras.
"Kau akan menjadi persembahan selanjutnya untuk Dewa Jashin, Botak!" Hidan melakukan sebuah tendangan di atas udara yang diarahkan menuju kepala sang biksu.
Dengan baik sang Biksu menghindarinya dengan sempurna. "Tidak semudah itu keparat!"
"Hidan! Cukup sisahkan kepalanya saja … harga kepala orang ini 30 Juta Ryo di pasar gelap!" Hidan memberitahukan tujuan mereka mengapa jauh-jauh ke tempat ini.
"Jadi mereka mengincarku!"
…
…
…
At Konohagakure no Sato
Di sebuah lorong sebuah bangunan, seorang pria yang terlihat sudah tua karena ia berjalan dengan bantuan tongkat, pada dagu pria itu terdapat sebuah luka berbentuk 'X' dan mata kanannya ditutupi sebuah perban.
Tujuan pria adalah untuk menemui dua tetua Konoha untuk memberitahukan sesuatu, apa lagi kalau bukan mengenai rencana busuknya. Sesampainya di depan sebuah ruangan, ia hendak mengetuk pintu di depannya tetapi pintu itu terlebih dahulu terbuka.
"Danzo!" Dua manusia yang hampir sama tuanya dengan pria bernama Danzo itu terkejut mendapati mantan rekan setim mereka berdiri di depan pintu.
"Ada apa?" Salah satu dari mereka bertanya.
"Ada yang ingin aku bicarakan!"
"Nanti saja … kami sedang buru-buru." Salah satu dari mereka kembali bertanya.
"Apa yang terjadi Koharu?" Danzo menyipitkan mata kirinya.
"Kuil di bagian Negara Api diserang dua orang tidak di kenal … Kita harus segera mengirimkan seseorang agar Daimyo tidak marah akan hal ini." Wanita tua bernama Koharu menjawab pertanyaan dari Danzo dengan wajah terlihat khawatir.
Danzo mendecih pelan lantasan ia harus mengurungkan niatnya untuk memulai rencana busuknya, raut wajah kesal terlihat jelas dari wajah murid Nidaime Hokage itu. "Kalau begitu aku pamit dulu." Dengan hati yang sedikit kesal, Danzo berujar pelan. Tetapi, pria itu berpikir, mungkin ada baiknya jika ia tidak melakukan rencananya sekarang dan ia bahkan bisa menggunakan penyerangan kuil Negara Api ini untuk memperbesar kemungkinan rencana busuknya akan berhasil.
…
Scene Break
Beberapa menit kemudian, kini kedua Tetua Konoha berusia tua itu tengah berdiri di hadapan Tsunade yang tengah duduk sambil menopang dagu pada permukaan meja kerja. Dengan raut wajah serius, Tsunade memandang kedua Lansia di depannya.
"Apa yang kalian ingin katakan adalah masalah di Kuil Negara api yang diserang?" Tsunade langsung To The Point karena memang ia sudah mengetahui hal ini dari laporan divisi penerimaan/pengiriman pesan Konohagakure no Sato.
Kedua Tetua di depan Tsunade mengangguk serentak. "Apa kau sudah mengirim Tim untuk membantu?"
Tsunade menggeleng pelan, kedua orang tua di depannya sedikit terkejut. "Aku baru saja memberikan perintah pada seluruh Shinobi Konoha untuk keluar desa, jika aku mengirim Tim … maka mereka akan menganggapku tidak tetap pada pendirian."
Koharu mengerutkan kening. "Kenapa kau memberikan perintah seperti itu, Tsunade? Apa yang terjadi?" Koharu langsung melempar dua pertanyaan sekaligus lantasan ia tidak menahu mengenai perintah Tsunade itu.
"Keempat desa tengah dalam situasi genting … aku tidak mau mengambil resiko melibatkan Konoha pada masalah mereka." Jelas Tsunade serius.
"Kalau begitu cabut perintah itu!" Titah pria di samping Koharu tegas.
"Apa kau mau Daimyo marah atas kejadian ini? Sedikitnya kita harus mengirim bala bantuan untuk mereka Tsunade." Koharu menimpali ucapan pria di sampingnya dengan nada sedikit keras agar Tsunade paham situasi jika saja mereka tidak melakukan tindakan.
"Aku tidak akan mencabut perintah itu … " Secara terang-terangan Tsunade menolak perintah dari pria di samping Koharu. "Tetapi, aku akan mengirim Tim secara diam-diam!"
"Tora!"
Poft!
Sebuah kepulan asap putih tercipta di depan meja kerja Tsunade, setelah itu seorang Anbu yang mengenakan topeng harimau tengah berlutut terlihat dari balik kepulan asap putih barusan.
"Segera panggil Asuma dan Timnya!"
Sang Anbu mengangguk sekali kemudian lenyap dari depan meja Tsunade untuk melaksanakan perintah dari Godaime-Hokage memanggil Tim yang dikenal dengan kombinasi Ino-Shika-Cho yang sudah cukup dikenal kehebatannya.
"Kenapa mereka?" Koharu agak bingung kenapa Tsunade malah mengirim Tim Asuma, sedangkan di Konoha masih banyak Tim yang memiliki kemampuan yang baik dibanding mereka, contonya Tim 9 yang diatas satu tahun dari mereka.
"Karena Asuma adalah mantan anggota Guardian dua belas ninja, jadi dia tau persis seluk beluk Kuil itu."
…
…
...
Skip Time
"Haaa … ternyata kau tidak sekuat yang kukira botak!" Pria berambut klimiks memandang remeh biksu yang tengah berdiri dengan nafas tersenggal-senggal di depannya. "Sebaiknya segera kuakhiri ini."
Sang Biksu memandang terkejut pria berambut klimiks itu. "Manusia macam apa dia itu?" Biksu membatin dengan nada tidak percaya menyaksikan kejadian diluar akal manusia di depannya, lawannya yaitu Hidan masih dapat berdiri bahkan berbicara dengan lancar walaupun di perutnya sudah menancap sebuah tombak hingga tembus di bagian punggung.
Perlahan Hidan mulai menggerakkan kedua kakinya sehingga jejak darah segar tampak jelas pada permukaan tanah hingga akhirnya sebuah symbol aneh selesai gambar tepat di bawah dirinya berdiri. "Bersiaplah botak!" Hidan berteriak kegirangan lalu menjilat bercak darah di ujung tajam senjatanya. "Ritual dimulai!"
"Apa yang dilakukannya?" Sang Biksu a.k.a Chiriki tampaknya bingung menyaksikan apa yang dilakukan Hidan, mulai dari gerakan hingga teriakannya.
Setelah menjilat darah di ujang senjata miliknya, tubuh Hidan langsung menghitam dengan garis-garis putih berpola tengkorak yang menambah bingung Chiriku. "Jashin-sama … terimalah persembahanku yang selanjutnya!" Hidan mencabut tombak yang menancap di perutnya.
Bruuk!
"Uggghhh!" Chiriku tiba-tiba berlutut sembari memegang bagian perutnya tiba-tiba muncul lubang yang disertai darah segar dengan posisi hampir sama dengan lubang di perut Hidan. "Ohook … Ohook … A-Apa y-yang terjadi? Ke-Kenapa … "
Jleb!
Hidan seketika menusukkan tombak yang ia pegang pada bagian dada, dan dampak dari itu membuat Chiriku berhenti berucap, mata biksu itu terlihat sayu dan perlahan menutup. Itu semua karena tehnik dari Hidan yang bernama Jujutsu : Shiji Hyōketsu yang memungkin Hidan untuk melakukan sebuah ritual yang sangat mengerikan dimana ia memanfaatkan keabadiannya untuk membunuh lawannya dengan cara mencicip darah lawannya dan berdiri di atas symbol Jashin sehingga luka yang dialaminya akan berdampak juga pada lawan yang telah ia cicip darahnya.
"Kau lama sekali Hidan!"
Hidan menoleh kebelakang dan mendapati Partnernya berjalan ke arahnya. "Kerja bagus Pengikut aliran sesat." Kakuzu menepuk pelan pundak Hidan, ia lalu berjalan ke arah Chiriku yang sudah meregang nyawa karena tusukan Hidan pada jantungnya berakibat juga kepada dirinya. "Lumayan 30 Juta Ryo." Hidan mengankat tubuh Chiriku dan berjalan menuju gerbang keluar dari kuil tempat pertarungan.
"Oiii … Kakuzu, tunggu aku!" Hidan segera berlari mengejar Kakuzu yang sudah berada bawah gerbang.
"Salah sendiri kenapa melakukan ritual penutupan anehmu itu."
Tetapi belum sempat mereka menuruni tangga, seekor burung besar berwarna putih tiba-tiba menghampiri mereka dan diatas burung tersebut, berdiri seorang pria bersurai pirang yang mengenakan jubah yang sama dengan Hidan dan Kakuzu kenakan.
"Deidara! Ada apa?"
"Rentenir Kamvret … setidaknya biarkan aku mendarat dulu baru bertanya." Orang yang dipanggil Deidara sedikit kesal karena Kakuzu langsung bertanya to the point kepadanya.
"Cepat katakan saja kadal, aku ada urusan penting."
"Tck … palingan cuman mencari kertas hijau bodoh yang tidak sebanding dengan seni tingkat tinggiku." Deidara berdecak kesal mendengar balasan dari Kakuzu.
"Apa katamu Pirang? Kau cari mati yaaa?"
Deidara tidak menggubris ucapan Kakuzu lalu mengalihkan perhatiannya ke Hidan. "Dan apa-apaan tubuhmu Hidan, apa kau baru berendam di kubangan lumpur?"
"Kakuzu … apa pirang brengsek itu bisa jadi persembahan Jashin-sama selanjutnya?" Hidan menunjuk Deidara yang berada di atas burung tanah liatnya.
"Mau aku bantu!"
"HUAAAA … !"
Sebuah teriakan cempreng yang mampu membuat gendang telinga lapis ke-7 pecah dari arah atas tiba-tiba terdengar dan menginterupsi ketiganya, secara serentak ketiga anggota Akatsuki menoleh ke atas dan mendapati seekor burung lain menukik tajam ke arah mereka dengan kecepatan tinggi.
"Oiii … apa yang di lakukan bocah autis itu?" Dengan wajah konyolnya menyaksikan hal ini, Hidan mengoceh.
"HUAAAA … DIMANA SETIR BENDA INI!" Pria bertopeng spiral yang tengah tengkurap sambil memegang erat bagian punggung burung itu kembali berteriak dengan suara cemprengnya. "KAKUZU-SENPAI~~ HIDAN-SENPAI~~~ … MENJAUH! BURUNG ANEH INI TIDAK ADA SETIRNYA!"
"Oiii ~ Oiii!" Deidara berdecak kesal dengan perempatan yang berkedip-kedip pada surai pirangnya mendengar karya seni miliknya diejek oleh sang pengendara yaitu si bocah autis a.k.a Tobi.
"TOBI SIALAN!" Kakuzu dan Hidan berteriak kesal dan sesegera mungkin melompat menjauh.
Duaaarrr!
Sebuah ledakan besar pun terjadi ketika burung yang dinaiki Tobi menghantam tangga. Kepulan debu mengepul di area tersebut. Hidan dan Kakuzu pun mencak-mencak tidak jelas menatap kepulan debu itu ketika sudah mendarat.
"Itte~Itte … dimana punggungku?" Suara cempreng Tobi terdengar dari balik kepulan debu, Hidan dan Kakuzu pun dibuat sweatdrop mendengarnya. "Ini dia!" Setelah kepulan debu menghilang, terlihatlah Tobi yang tengah meregangkan tubuh dengan wajah watados di balik topengnya (?).
"Ohhh … ada Hidan-senpai dan Kakuzu-senpai … " Tobi menoleh ke arah keduanya. "Domo~Domo!" Tobi melambai-lambaikan tangan kepada Hidan dan Kakuzu sembari menyapa dengan nada polos.
"Domo dengkulmu sialan! … kau hampir membunuhku Tobi!" Hidan kembali mencak-mencak tidak jelas membalas sapaan polos Tobi.
Kakuzu menoleh ke Hidan. "Memang kau bisa mati, dasar Bodoh!"
"Sialan kau Kakuzu!"
"Oii Deidara, ada apa kau kesini?" Kakuzu mengalihkan perhatiannya ke Deidara. Hidan kembali kesal karena dikacangin oleh partner abadinya.
"Ada pesan dari Leader Bokep untuk kalian."
"Apa itu?"
"Zetsu baru saja membawa kabar kalau Jinchuriki Kyuubi berada di kawasan Kusagakure, dan kalian ditugaskan untuk menangkapnya." Jawab Deidara.
"Hanya itu, apa tidak ada pesan lain yang menyangkut uang?"
Sontak ucapan dari Kakuzu membuat Hidan geram karena Rentenir itu selalu saja menanyakan tentang uang jika mendapat tugas. Dengan mata membulat sempurna ditambah perempetan besar yang berkedip-kedip di ujung keningnya, Hidan menunjuk Kakuzu. "Berhenti menanyakan hal itu jika ada misi Kamvret."
"Tidak ada!" Celutuk Deidara kesal.
Kakuzu mengangguk pelan. "Deidara! Tangkap!" Kakuzu melempar jasad Chiriku menuju ke orang yang dipanggil.
Deidara menangkap sang biksu, namun alisnya sedikit terangkat. "Untuk apa ini Kakuzu?"
"Akan kujual di pasar gelap sebagai misi untuk mencari dana segar untuk organisasi."
"Aku mengerti." Deidara mengalihkan pandangannya ke Tobi yang tengah menusuk tubuh seorang biksu dengan sebuah ranting kayu. "Oii Tobi … ayo kita pergi!" Tepat setelah itu, burung yang dinaiki Deidara terbang menjauh meninggalkan Tobi yang baru sadar kalau dirinya ditinggalkan oleh Deidara.
"HUAAAA … DEIDARA-SENPAI … KAU KEJAM MENINGGALKAN TOBI SI ANAK BAIK INI!" Tobi berteriak keras sambil berlari mengejar Deidara yang sudah terbang menjauh, Poor Tobi :v
"Aku beruntung tidak dipasangkan pada dua orang bodoh itu." Kakuzu mengangguk paham kenapa Hidan berkata demikian, bisa berabe jadinya kalau dirinya juga dipasangkan Sang Leader Bokep bersama Deidara atau Tobi. Hidan kemudian menoleh ke Kakuzu dengan wajah lesu. "Tapi sialnya … aku harus berpasangan dengan mahluk mata duitan macam orang gila bin aneh ini."
"Kita berangkat Hidan!"
"Dengan apa?" Hidan kembali menoleh ke Kakuzu namun kini dengan wajah polos yang membuat penganut aliran Dewa Jashin itu kelewat OOC.
"Ya jalan kaki lahh Bodoh … memang kau mau memakai apa? … Naga?"
Sweatdrop di tempat, itulah yang terjadi pada Hidan ketika mendengar ucapan kelewat bodoh dari Kakuzu. Bayangkan saja, mereka harus jalan kaki menuju Kusagakure. "Kau lebih bodoh kamvret … kurasa otakmu sudah terkontaminasi dengan penyakit mata duitan stadium akhir, Kakuzu!"
"Apa katamu?"
"Sudah lebih baik kita berangkat dengan burung aneh yang tidak ada setirnya itu!" Hidan menunjuk burung yang dari digunakan Tobi.
"Tumben otak sesatmu bekerja Hidan … Dewa Bodohmu pasti senang melihatnya."
"Diam kau monyet … " Hidan melangkahkan kakinya meninggalkan Kakuzu yang terkekeh pelan melihat wajah kesalnya. " … Kuharap ada banyak persembahan untuk Dewa Jashin-sama untuk misi kali."
…
Sepeninggal kedua member Akatsuki yang kenal dengan julukan 'Duo Immortal' itu, Tim Asuma akhirnya tiba di lokasi tersebut. Mata Asuma dan Timnya pun terbebelak kaget melihat keadaan Kuil porak-porakda seperti baru saja terkena angin puting beliung.
"Apa yang baru saja terjadi pada tempat ini?" Gadis bersurai pirang pucat diikat pony tail menutup mulut dengan kedua tangan melihat puluhan mayat tercecer di depannya sampai-sampai tubuhnya merinding ketakutan melihatnya.
"Mengerikan." Pemuda bertubuh gempal juga ikut mengutaran pendapatnya melihat hal ini.
Pemuda bersurai hitam model nanas menoleh ke arah Jounin pembimbing mereka. "Asuma … " Pria yang dipanggil Asuma mengangguk sekali. " … apa kau tahu siapa yang menyebabkan semua ini?"
"Dari informasi … " Asuma menghentikan ucapannya ketika melihat kaki yang bergerak dari balik sebuah semak-semak. Sesegera mungkin Asuma langsung berlari ke arah kaki itu. Sesampainya di sana, Asuma menggerakkan semak-semak dan mendapati seorang biksu yang masih hidup, namun kondisinya sudah sangat memprihatikankan. "Ino!" Asuma memanggil salah satu muridnya.
Gadis bersurai pirang pucat yang dipanggil langsung berlari menghampiri pembimbing Timnya itu. "Ada apa Sensei?"
"Cepat sembuhkan dia … " Asuma menunjuk sang biksu, Ino mengangguk cepat dan segera duduk bersimpuh di samping kanan sang biksu, ia lalu mulai menyembuhkan sang bikus, walaupun Ino masih dalam tahap pembelajara Inryo-nin tapi itu sudah cukup untuk meringankan rasa sakit sang biksu.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Ino selesai menutup luka sang biksu. Asuma segera membantu Biksu itu untuk duduk. Dua Tim Asuma yang tadi memeriksa keadaan juga telah bergabung bersama mereka. "Apa sebenarnya yang terjadi disini?" Asuma tampaknya tidak sabaran menunggu penjelasan detail perihal serangan ini.
"Ohh Asuma-san … " Biksu itu menoleh ke samping dengan pelan. Setelah itu ia mulai menjelaskan secara detail perihal serangan ini. "Untungnya tubuhku terlempar kesini … jadi aku bisa mengamati dengan jelas apa yang mereka bicarakan." Sang Biksu menutup penjelasannya.
Asuma tersentak kaget setelah mendengar penjelasan sang Biksu. "Kenapa mereka mengincar Chiriku … Akatsuki sialan!" Kini Asuma sadar jika Akatsuki tidak hanya mengincar Bijuu dan Jinchuriki-nya, melainkan mereka juga mengincara seseorang yang memiliki harga kepala tinggi di pasar gelap.
"Kemana arah mereka! Aku harus mengambil jasad Chiriku kembali, tidak akan kubiarkan mereka menjual kepalanya." Asuma mengepal tangan kanan, kuku-kuku tangannya pun memutih. Siapa yang mau sahabatnya diperlakukan seperti barang yang seenaknya dijual di pasar gelap.
"Apa Asuma-sensei yakin ingin mengejar Akatsuki?" Salah murid Asuma yang bertubuh gempal tampaknya ragu untuk mengikuti sensei-nya untuk mengejar anggota organisasi itu.
"Diam Chouji … Asuma tidak hanya ingin mengejar mereka." Sahabat dari pemuda bertubuh gempal itu menoleh ke Asuma. "Benarkan?"
Asuma mengangguk antusias, tapi raut wajahnya masih memancarkan sedikit kemarahan. "Ada kemungkinan kita akan bertemu Naruto karena Akatsuki mengincar adikknya yang merupakan Jinchuriki … Ada sesuatu yang mau kupastikan keberannya."
Pemuda berambut model nanas a.k.a Shikamaru hanya manggut-manggut mendengar ucapan Asuma, pasalnya ia sudah mengetahui apa yang dipastikan oleh sensei-nya. Itu adalah kejadian 3 tahun yang lalu tepat dimana Sandaime-Hokage wafat. Asuma mengetahui hal itu dari Shikaku ayah Shikamaru. Maka dari itu ia ingin bertemu Naruto dan memastikan kebenaran hal itu.
"Sesuatu?" Beo Chouji dan Ino secara bersamaan.
"Sebaiknya kita segera berangkat saja, takutnya Naruto pergi … tetapi sebelum itu, bawa dia ke tempat yang aman dan kirim pesan ke Konoha." Jelas Asuma dibalas anggukan oleh Timnya.
…
…
…
Flashback Off
…
Di kawasan Kusagakure kini pertarungan antara Naruto dan Timnya melawan Tim Otogakure sudah hampir mencapai akhir tetapi harus diganggu oleh kedatangan dua anggota Akatsuki.
Jrassh!
Satu lagi shinobi Otogakure tertebas di bagian perut, darah segar muncrat kemana-mana. Naruto selaku orang yang melakukan tebasan, menolah ke atas setelahnya dengan wajah datar. "Ternyata mereka benar-benar datang." Naruto mengalihkan perhatiannya pada lima shinobi Otogakure yang berlari ke arahnya dengan masing-masing kunai di tangan mereka.
"Mati kau!" kelimanya melesat ke Naruto sembari mengacungkan kunai mereka ke tubuh pemuda bersurai pirang lawan mereka itu.
Trank! Trank!
Suara benda tajam yang saling berbenturan terdengar keras ketika Naruto menggunakan bilah pedang hitam besarnya untuk menahan kelima kunai itu. Tetapi kelima lawan Naruto tidak tinggal diam, mereka mendorong kunai mereka sekuat tenaga.
"Dasar Bodoh!" Naruto menyindir kelima lawannya dengan nada datar, pemuda bersurai pirang ini kemudian menarik pedang hitamnya kebelakang sehingga membuat kelima shinobi Otogakure hampir terjatuh kedepan.
"Sial!" Kelimanya mengumpat kesal melihat Naruto menyungging seringai tipis.
Jrash! Jrash!
Naruto mengayungkan pedang hitam miliknya secara horizontal dan menebas kelima lawan yang berdiri di depannya. Dan bersamaan dengan itu, Hidan dan Kakuzu mendarat dibelakang kelima shinobi Otogakure yang baru saja Naruto tebas.
"Lumayan juga kau bocah … pantas harga kepalamu 100 Juta Ryo." Kakuzu memandang tertarik ke Naruto, apalagi kalau bukan tertarik untuk menebas kepala pirang Naruto dan segera menjualnya ke pasar gelap.
"Bukan hanya aku yang kalian inginkan bukan?" Naruto memandang sinis kedua anggota Akatsuki didepannya. "Kurama … lihat, ini semua salahmu."
"Gahh … santai Gaki, masa cuman dua anggota Akatsuki kau tidak bisa kalahkan, tiga ular tadi ditambah puluhan shinobi sekelas Jounin kau bisa bantai." Sebuah suara berat tergiang di kepala Naruto, dan tampaknya pemilik suara itu sedikit kesal mendengar ucapan Naruto yang menyalahkan dirinya.
"Kau pikir aku manusia super apa? Aku sudah bertarung hampir 2 jam lebih … tubuhku ada batasannya tau." Naruto membalas ucapan sang partner sekaligus sahabatnya dengan nada tidak kalah kesal
"Masalah itu … biar aku yang urus Gaki … kau sebaiknya menyuruh Karin-chan pergi dari sini secepatnya."
"Aku tahu itu –ttbayo."
"Baguslah … selamat menikmati pertarunganmu Naruto."
"Rubah sialan."
Beralih ke para shinobi Otogakure yang terlihat terkejut atas kedatangan kedua anggota Akatsuki. Beberapa dari mereka mengambil beberapa langkah mundur untuk menjauh dari kedua orang itu. Salah satu dari mereka kemudian mengedarkan pandangan mencari keberadaan seseorang.
"Sial! Dimana Kabuto?"
Shinobi Otogakure ikut-ikutan mencari keberadaan pemuda berkacamata itu. "Sial … Kita harus mundur juga … aku masih sayang dengan nyawaku lagipula aku belum menikah." Ungkap salah satu dari mereka sembari memandangi tiga lawan kuat yaitu Naruto, Kakuzu dan Hidan. "Melawan pemuda itu saja, kita kewalahan dengan jumlah sebanyak ini … apalagi ditambah dua orang yang baru saja datang."
"Ayo … kita segera pergi dari sini."
Para shinobi Otogakure pun kelimpungan mencari jalan aman kabur dari area itu. Hidan yang menyaksikan hal itu langsung mencak-mencak tidak jelas.
"Oii Konoyaro … mau kemana kalian? Kalian harus menjadi persembahan untuk Jashin-sama."Seru Hidan kesal sembari menunjuk-nunjuk para shinobi Otogakure.
"Ogah … !" Teriak para shinobi Otogakure secara serentak membuat perempatan besar muncul di ujung kening Hidan.
"Hidan! … tahan bocah ini … ada yang harus kulakukan terlebih." Hidan kembali ke mode normal dan menoleh ke Kakuzu.
"Haaa … Apa katamu?" Hidan berseru dengan alis terangkat setelah sadar apa yang diperintahkan oleh Kakuzu. "Ogahh … mending aku mempersembahkan mereka … " Hidan menunjuk Tim Naruto yang dari tadi tidak melakukan apa-apa semenjak kedatangan Naruto. Itu karena para shinobi Otogakure fokus menyerang Naruto sendiri.
Melihat kedua anggota Akatsuki tengah berdebat masalah sepele, Naruto memanfaatkan hal ini dan melompat ke arah mereka dengan Kakuto Yoru yang siap dihantamkan secara vertikal.
Namun Hidan dan Kakuzu mengetahui hal itu, mereka berdua langsung melompat ke arah yang berbeda. Kakuzu ke kanan sedangkan Hidan ke kiri.
Duaarr!
Ledakan disertai kepulan debu yang mengepul seketika muncul ketika Naruto menghantamkan Kakuto Yoru, tetapi berhasil dihindari oleh kedua lawannya dan hanya mengenai permukaan tanah. Di balik kepulan debu, Naruto menghilang diikuti seberkah kilitan kuning dan muncul di tengah-tengah Timnya.
"Nii-chan/Naruto-kun/Naruto." Seru Tim Naruto berjamaah.
Naruto memandang Tayuya. "Apa sudah tenang Tayuya-Nee?" Tayuya mengangguk pelan, walaupun sebenarnya ia masih belum sepenuhnya tenang, tetapi raut wajah Naruto yang datar + dingin membuatnya sedikit ketakutan.
"Baguslah." Naruto mengalihkan pandangannya ke Karin adikknya dengan raut wajah serius.
"Ada apa Nii-chan?" Karin tampaknya sedikit penasaran kenapa sang kakak memandanginya seperti itu.
"Kau, Kushina-chan, Art dan Tayuya-nee … segera pergi dari tempat ini, sedangkan Kiyoshi tinggal untuk membantuku."
"Aku tidak mau!" Tukas Karin dan Kushina secara bersamaan mendengar ucapan dari Naruto.
"Dengar Karin-chan … " Ekspresi Naruto berganti menjadi sedikit lembut agar bisa meluluhkan kepala keras bagaikan batu milik adiknya. " … Target utama mereka adalah dirimu. Jadi kumohon, dengarkan aku Karin-chan."
"Ta-Tapi Nii-chan … "
Dari arah belakang, Sasori berjalan mendekati Karin dan menepuk pundak gadis bersurai merah itu. "Sudahlah … kau tahu pasti sudah mengetahui maksud Naruto menyuruhmu pergi 'kan?" Tanya Art (Sasori).
"Si Dalang Boneka benar Karin-chan … Naruto tidak ingin kau dan Kushina terluka melawan mereka berdua." Tayuya menimpali ucapan dari Art sambil menunjuk Hidan dan Kakuzu yang tengah mengejar shinobi-shinobi Otogakure seperti mengejar ayam yang lepas dari kandangnya. Kakuzu mengejar untuk mengambil jantung mereka sedangkan Hidan mengejar untuk menjadikan mereka persembahan untuk Dewa kebanggaannya.
"Baiklah Nii-chan … Tapi kau harus kembali, aku juga tidak ingin kehilanganmu Nii-chan." Karin berujar lirih. Naruto tersentak mendengarnya karena ucapan adiknya seolah-seolah ia akan pergi berperang melawan ribuan shinobi.
Naruto tersenyum tipis. "Tenang saja … aku akan kembali kok." Karin mengangguk pasrah dengan wajah khawatir. Naruto mengalihkan pandangannya ke Kushina. "Jangan bilang kau … "
"Aku tetap disini Naruto-kun." Kushina langsung memotong ucapan dari Naruto.
Naruto mendesah pelan, dirinya benar-benar pusing dengan tingkah laku keduanya. "Hadeh … " Hanya itu yang dikeluarkan oleh Naruto menanggapi ucapan Kushina. Setelah ia Naruto berkata. "Kenapa? … Kenapa kalian selalu saja seperti ini?"
"Karena kau selalu mengutamakan keselamatan kami seolah-olah kau tidak peduli akan dirimu sendiri Naruto-kun, sudah berapa kali kami meninggalkanmu karena perintah darimu … " Kushina mulai mengeluarkan uneg-uneg yang selalu ia simpan perihal hal ini. " … dan kali ini, kau tidak perlu melakukan hal itu padaku. Aku pernah berjanji untuk tidak pernah meninggalkanmu walaupun dalam keadaan apapun."
"Kau salah mengartikan perihal janjimu itu Kushi-chan … " Naruto berjalan mendekati kekasihnya itu lalu mengelus surai merah milik Kushina. " … Yang kau janjikan adalah tidak meninggalkanku sendirian dalam kehidupan ini … dan soal pertarungan tidak ada sangkut pautnya."
"Tidak!" Kushina menggeleng pelan. "Aku tetap akan disini dan membatumu Naruto-kun." Kushina mengacungkan jari telunjuk ke arah Naruto ditambah wajah serius yang terpampang di paras cantiknya.
Melihat keseriusan Kushina, Naruto hanya mendesah pasrah. "Baiklah … tapi jangan sampai melakukan kesalahan fatal nantinya." Kushina mengangguk antusias mendengar Naruto akhirnya mengijinkan dirinya untuk tinggal membantu. Naruto lalu mengalihkan pandangannya ke Karin, Tayuya dan Art (Sasori). "Pergilah!"
Walaupun sedikit kecewa, Karin mengangguk paham setelah Tayuya dan Art (Sasori) mengangguk. Dan setelah itu, mereka bertiga segera meninggalkan area itu dan ternyata Hidan menyadari hal itu.
"Sial! Mereka kabur Kakuzu!" Hidan memberitahukan hal ini pada partnernya yang tengah mengambil jantung keempat untuk tubuhnya.
"Jangan diam saja bodoh … cepat cegat mereka." Hidan berdecak kesal mendengar Kakuzu seenak jidat pria itu memerintah dirinya untuk mencegat Karin, Tayuya dan Art (Sasori).
"Baiklah kadal mata duitan." Hidan mengumpat kesal lalu berlari ke arah ketiganya namun belum 10 meter berlari, ia langsung dihadang Naruto, Kiyoshi dan Kushina.
"Tidak kami biarkan!" Kiyoshi mewakili Naruto dan Kushina.
"Hn!" Naruto bergumam datar membenarkan.
"Benarkah?" Hidan langsung berlari ke arah ketiganya sambil menyeret senjata besar miliknya. Kepulan debu pun beterbangan di belakang Hidan karena seretan dari senjata miliknya.
Naruto menoleh secara bergantian ke Kiyoshi dan Kushina. "Bersiaplah!" Secara bersamaan, ketiganya memasang kuda-kuda bertarung.
"Minggir monyet-monyet sialan!" Hidan melompat sembari mengayunkan senjata miliknya.
Kushina dan Kiyoshi melompat ke arah samping, sedangkan Naruto melompat menuju Hidan sembari mengayunkan Kakuto Yoru secara vertikal dari atas.
Trank!
Suara benturan dua benda tajam disertai percikan api kecil muncul ketika dua senjata berukuran besar itu bertemu di udara. Hidan dan Naruto saling memandangi satu sama lain dengan senjata yang saling menempel diantara wajah keduanya. Seringai tipis kemudian disungging oleh Naruto, pemuda bersurai pirang itu kemudian memutar bilah Kakuto Yoru lalu menggerakkan kebawah. "Kena kau!"
"Sialan!" Tubuh Hidan tiba-tiba ikut mengarah kebawa karena Naruto mengaitkan bilah pedangnya pada senjata milik Hidan.
Kini posisi Hidan tengah melayang horizontal di bawah Naruto. "Cih!"
Naruto melepaskan pegangannya pada gagang Kakuto Yoru kemudian melakukan manuver salto di atas Hidan dengan kaki kanan yang lurus.
Duag!
Tumit Naruto menghantam keras perut Hidan hingga membuat pria bersurai kimiks itu melesat menuju permukaan tanah dengan cepat. Ledakan kecil pun terjadi ketika Hidan menghantam tanah tetapi bagi Naruto, serangan itu tidak akan cukup. Sesegera mungkin ia menangkap kembali gagang pedang miliknya lalu mengarahkan ujungnya ke bawah.
Jleeb!
Suara ujung Kakuto Yoru yang menancap pada permukaan tanah di kepulan debu pada permukaan tanah. Dengan pose terbalik di udara sambil memegang gagang pedang hitam miliknya, Naruto menyipitkan mata.
"Oii~Oii … itu hampir saja brengsek!" Suara kesal Hidan terdengar dari balik kepulan debu. Setelah kepulan debu menghilang terlihat Hidan tengah berbaring dan tepat di samping kiri perutnya, Kakuto Yoru menancap.
Hidan segera menarik kabel atau kawat yang ia pegang dan tersambung pada senjata miliknya. Setelah menangkap gagangnya, Hidan langsung mengayunkan ke arah Naruto tetapi berhasil dihindari pemuda bersurai pirang itu dengan memiringkan kepalanya. Melihat Naruto sedikit lengah, Hidan memanfaatkan hal ini untuk bangkit dan melompat sedikit menjauh dari Naruto.
…
Beralih ke Kakuzu yang kini sibuk beradu Taijutsu melawan Kushina dan Kiyoshi. Saling lempar serangan terjadi antara ketiganya, namun tidak ada satupun yang berhasil mengenai lawan mereka. Setelah beberapa menit berlalu, Kakuzu melompat ke udara lalu memanjangkan kedua lengannya yang tersambung dengan jaring-jaring aneh atau lebih mirip seperti kain-kain kasar ke arah Kiyoshi dan Kushina.
Takk! Takk!
Secara bersamaan Kiyoshi dan Kushina memukul lengan Kakuzu hingga terpental ke samping lalu tertarik kembali penggunanya yaitu Kakuzu.
"Kushina … berhati-hatilah! Aku yakin kemampuan orang ini hampir setingkat dengan Naruto." Kushina mengangguk paham mengenai peringatan Kiyoshi. Pandangan keduanya pun terfokus pada Kakuzu yang masih berada di udara. Kiyoshi memandang datar Kakuzu sambil membatin. "Jangan-jangan dia orang yang membuat masa laluku hancur."
"Kalian lumayan juga Hee … " Kakuzu merapalkan sebuah Handseal di atas udara. "Fūton: Atsugai!"
Wussh!
Perlahan sebuah tornado angin yang berbentuk setengah lingkaran yang dikompresi dalam kepadatan sangat tinggi muncul di depan Kakuzu dan langsung ia lepaskan kea rah Kiyoshi dan Kushina. Kedua Jounin Uzushiogakure itu tidak tinggal diam, keduanya langsung melompat menghindar ke arah yang berlawanan.
Bumn!
Serangan milik Kakuzu menghantam permukaan tanah hingga menyebabkan sebuah kawah seukuran tornado itu tercipta disana.
Kakuzu melirik Kushina sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke Kiyoshi yang sudah mendarat dan sedikit terseret ke samping kiri. Mata Kakuzu seketika membulat sempurna ketika melihat Kiyoshi merapalkan sebuah Handseal yang sangat ia kenali. "Jangan-jangan dia … "
"Kinjutsu : Jiongu!"
Srak! Srak!
Mata Kakuzu kini membulat dengan sempurna. Kedua lengan Kiyoshi tiba-tiba berubah menjadi seperti sebuah kain kasar mirip seperti Kakuzu tetapi berwarna hitam pekat.
"Kau … Kiyoshi 'kan?" Tanya Kakuzu dengan nada terkejut.
"Ya benar … lama tidak bertemu brengsek!" Kiyoshi membalas ucapan Kakuzu dengan nada datar. Itu karena pria ini ternyata orang yang menyebabkan dirinya dibenci dan di perlakukan bagaikan monster di Takigakure sewaktu berumur 7 tahun. Penyebabnya adalah Kakuzu yang melakukan sesuatu pada dirinya sebelum meninggalkan Takigakure yaitu memasukkan benda mirip kain kasar itu pada darah Kiyoshi hingga dirinya mampu menggunakan Kinjutsu Takigakure.
"Ternyata yang kutanam pada tubuhmu berhasil kau kuasai … sungguh, aku terkejut melihatnya."
"Ya terima kasih atas itu."
Kushina menoleh ke Kiyoshi. "Kau mengenalnya?"
Kiyoshi menganggguk tanpa mengalihkan pandangannya. "Dialah yang memberikanku kemampuan ini atau lebih tepatnya memasukkannya secara paksa ke tubuhku." Kiyoshi mengankat kedua lengannya yang sudah berubah menjadi jaring-jaring berwarna keputihan.
Tap!
Kakuzu mendarat dengan sempurna tidak jauh dari keduanya. Dan sedetik setelah itu, ia langsung berlari kea rah Kiyoshi. "Mari kita lihat seberapa hebat kau menggunakan itu Kiyoshi!"
"Kushina!" Teriak Kiyoshi lalu ikut berlari menuju Kakuzu yang berlari ke arahnya. Kushina mengangguk paham lalu ikut berlari, namun bedanya ia berlari menuju ke arah Kiyoshi.
Beralih ke Kakuzu dan Kiyoshi yang sudah saling berhadapan. Saling beradu Taijutsu disertai tehnik Jiongu berbeda warna pun terjadi antara keduanya. Kakuzu melancarkan sebuah pukulan lurus disertai kain-kain kasar yang siap merobek wajah Kiyoshi.
Takk! Sraakk!
Kiyoshi menyilangkan kedua lengan di depan wajahnya untuk menahan pukulan Kakuzu. Kain-kain kasar hitam berbeda warna langsung muncrat kemana-mana karena benturan kedua lengan mereka. Kiyoshi melompat mundur lalu berjongkok sambil merapalkan Handseal. "Jiongu : Kuro Bochi!" Kiyoshi menghentakkan kedua lengannya pada permukaan tanah.
"Dia menciptakan tehnik dari Jioungu miliknya."
Kain-kain kasar mulai merambat masuk ke dalam permukaan tanah dari kedua lengan Kiyoshi. Tekstur permukaan di area itu mulai berubah menjadi kain-kain kasar berwarna hitam pekat dan perlahan menyebar hingga mencapai lokasi Kakuzu berdiri.
"Sialan! Apa ini?" Kaki Kakuzu mulai terhisap ke dalam tanah hitam pekat ciptaan Kiyoshi. Pria bercadar itu menggerak-gerakkan kedua kakinya untuk melepaskan diri dari tehnik milik Kiyoshi, tapi yang ia lakukan percuma saja kain-kain itu mengikat kuat kedua kakinya.
"Sekarang Kushina!" Masih dalam posisi berjongkok, Kiyoshi menoleh ke Kushina yang sudah berada di ujung lautan kain kasar hitam miliknya.
Kushina mengangguk paham, ia lalu merapalkan sebuah handseal sembari menarik nafas dalam-dalam. "Katon : Dai Endan!" Kushina menyemburkan api berintensitas sedang kea rah lautan hitam milik Kiyoshi.
Kakuzu menatap kesal semburan api Kushina, ia lalu merapalkan sebuah handseal. "Doton : Domu!" Chakra milik Kakuzu langsung menyebar ke seluruh anggota tubuhnya menyebabkan kulit pria itu menjadi gelap dan terlihat sangat keras. Dan bersamaan dengan itu …
Blaarr!
Sembuaran api milik Kushina langsung menciptakan ledakan api yang cukup besar hingga membuat hembusan angin mengenai dirinya dan Kiyoshi, rambut keduanya pun melambai-lambai terkena hembusan angin itu.
…
…
...
Naruto vs Hidan
Trank! Trank!
Puluhan suara dentingan benda tajam yang saling berbenturan terjadi di tempat pertarungan Naruto dan Hidan. Keduanya saling melempar serangan berupa ayunan senjata tajam mereka, tetapi tidak ada satu pun yang mengenai sasaran karena baik Naruto maupun Hidan mampu memblok dan menghindari serangan itu.
"Lumayan juga kau … Tapi … " Hidan memegang gagang senjatanya dengan dua tangan, ia lalu mengayunkan senjata itu dari arah kiri menuju ke Naruto.
Naruto tidak tinggal diam, ia pun memegang gagang Kakuto Yoru dengan kedua tangan lalu mengayunkan dari kiri menuju ke Hidan dan hasilnya …
Traankkk!
Dua senjata berbeda bentuk itu pun saling berbenturan di antara pengguna benda itu, percikan-percikan api pun terlihat ketika kedua senjata itu saling bergesekan satu sama lain. Tak berselang lama, keduanya melompat mundur, keduanya mendarat dengan baik walaupun tubuh mereka sedikit terseret beberapa centi kebelakang.
Naruto menancapkan Kakuto Yoru di samping kirinya lalu merapalkan sebuah handseal. "Katon : Gokakyu no Jutsu!" Naruto memposisikan tangan kanannya di depan mulut mirip seperti seseorang yang sedang merokok, pemuda itu kemudian menghembuskan sebuah bola api berdiameter 5m menuju ke Hidan.
"Mainan bocah!" Hidan melempar ejekan pedas perihal Katon yang dikeluarkan Naruto. Sesegera mungkin Hidan menghindari serangan bola api itu dengan cara melompat ke arah kiri …
Blaarr!
Ledakan yang lumayan besar tercipta ketika bola api milik Naruto mengenai permukaan tanah, kobaran api bekas ledakan itu pun menyebar ke segalah arah disertai kepulan asap hitam yang mengepul. Melihat Hidan belum mendarat pada permukaan tanah, Naruto langsung berlari ke arah anggota Akatsuki itu tanpa membawa pedang hitamnya yang masih menancap pada tanah.
Melihat kedatangan Naruto, Hidan langsung melempar senjata miliknya yang bernama Sanjin no Ōgama ke arah Naruto, namun ia tidak lupa untuk memanjangkan kabel logam yang melekat pada ujung senjatanya itu agar ia bisa menariknya kembali.
Syuut!
Naruto berhasil menghindari lemparan Sanjin no Ōgama dengan cara menunduk sambil berlari, dan hasilnya senjata itu hanya menancap pada permukaan tanah. Setelah menghindar, Naruto langsung melompat ke arah Hidan sembari merapalkan handseal,
"Handseal lagi? Seberapa banyak chakra bocah ini sih." Hidan mengutaran sebuah pertanyaan perihal Naruto yang menurutnya boros dalam penggunaannya chakra karena terus mengeluarkan Ninjutsu. Hidan lalu menarik kabel logam yang ia pegang sehingga membuat dirinya terdorong ke arah depan, lebih tepatnya ke Naruto.
"Rasakan!" Sambil tertarik ke arah Naruto, Hidan mempersiapkan sebuah tendangan. Naruto yang tidak menyadari hal itu, seketika terkejut dan …
Duagh!
Kura-kura kaki kanan Hidan menghantam keras wajah Naruto hingga membuat pemuda bersurai pirang itu terlempar dan menghantam tanah beberapa kali.
Setelah hantaman ke enam, Naruto memperbaiki posisinya lalu mendarat dengan posisi berlutut dan sedikit terseret sekitar 2 meter kebelakang. "Haaa … Haaa!" Deru nafas Naruto mulai terdengar, itu karena dirinya sudah bertarung selama 2 jam lebih tanpa beristirahat. "Kurama … cepat sedikit, tubuhku mulai kelalahan." Naruto mengusap kasar bagian wajahnya yang terkena tendangan Hidan. Naruto melirik pertarungan Kushina dan Kiyoshi melawan Kakuzu yang tampaknya mulai panas karena ketiga mulai serius melakukan adu Taijutsu.
"Jadi itu kemampuan special Kiyoshi Hee … tapi sepertinya kemampuan itu juga dipakai oleh lawannya itu." Naruto menganalisa Kakuzu yang kedua lengannya keluar kain-kain kasar sama halnya dengan Kiyoshi. Setelah puas menganalisa keduanya, Naruto mengalihkan perhatian ke Hidan yang sudah berdiri tegak sambil meletakkan Sanjin no Ōgama di atas punggung. Naruto mulai bangkit dengan ekspresi serius.
Hembusan angin kembali bertiup di tanah lapang yang sudah dipenuhi dengan mayat puluhan shinobi Otogakure, surai pirang Naruto melambai-lambai pelan terkena hembusan angin. "Dilihat dari senjata dan gaya bertarungnya, orang ini sepertinya speasialis jarak dekat menengah."
"Haa … Haaa … Baiklah pertama-tama … " Naruto langsung berlari sambil merapalkan untuk kesekian kalinya. "Fūton : Shinku Renpa!"
Wush! Wush!
Puluhan pedang angin tercipta di sekitar Naruto lalu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Hidan. Dengan lihai, Hidan menghindari pedang-pedang angin itu kemudian berlari ke Naruto.
Setelah jarak keduanya sudah tereleminasi beberapa meter, Naruto mengeluarkan kunai Hiraishin dari Fuinjutsu di lengan kirinya. Sedangkan Hidan bersiap mengayunkan senjata miliknya.
Ketika keduanya sudah saling berhadapan satu sama lain, Hidan mengayunkan senjatanya secara horizontal ke Naruto. Pemuda bersurai pirang itu langsung memundurkan setengah badannya kebelakang untuk menghindari ayunan senjata Hidan.
Akan tetapi, Hidan memutar balikkan senjatanya lalu menyerang secara acak Naruto.
"Sial! Dia tidak membiarkanku menyentuh tubuhnya." Naruto membatin di sela-sela dirinya menghindari secara brutal dari Hidan.
"Mati … Mati!" Sambil menyerang, Hidan terus-terusan mengatakan kata tersebut membuat Naruto sedikit risih. Hidan mengankat tinggi-tinggi senjata miliknya lalu mengayunkan ke Naruto yang sedikit menunduk di depannya.
Wushh!
Duaar!
Naruto melompat ke atas melewati tubuh Hidan, sehingga serangan pria itu hanya mengenai permukaan tanah dan menyebabkan kepulan debu mengepul disana. Dalam keadaan sedikit menunduk, Hidan menoleh ke atas dan mendapati Naruto yang berada di atasnya dengan posisi terbalik siap menusukkan kunai yang dipegang pemuda itu.
Jleeb!
Kunai Hiraishin Naruto pun menancap tepat di punggung kiri Hidan dimana disana terletak jantung pria berambut klimiks itu, setelah melakukan tusukan itu, Naruto menyentuh punggung Hidan dan menempelkan segel Hiraishin pada jubah Akatsuki yang dikenakan Hidan.
Tap!
Naruto mendarat dengan sempurna di belakang Hidan yang masih dalam posisi yang tidak berubah yaitu menunduk dengan kunai yang menancap pada punggungnya. Hal itu sontak membuat Naruto menaikkan alisnya.
"Oiii~Oiii … itu sakit Bodoh!" Naruto terbebelak kaget ketika Hidan menyatakan kekesalannya. Hidan lalu menegakkan tubuh dan mencabut kunai pada punggungnya.
"Bagaimana bisa?"
…
…
...
Kiyoshi + Kushina vs Kakuzu
Setelah beberapa menit beradu Taijutsu, Kushina dan Kiyoshi melompat ke udara secara bersamaan sambil merapalkan handseal.
"Katon : Gokakyu no Jutsu!"
"Fūton : Daitoppa!"
Kushina menyeburkan sebuah bola api berdiameter 3m sedangkan Kiyoshi mengeluarkan sebuah hembusan angin ke arah bola Kushina. Hasilnya, bola api tersebut bertambah besar menjadi 7m dan melesat dengan kecepatan rata-rata ke Kakuzu yang tubuhnya masih terlapis Doton : Domu.
Blaarrr!
Ledakan besar kembali terjadi di tempat Kakuzu hingga menyebabkan kepulan asap hitam mengepul ke langit. Dan bersamaan dengan itu, Kushina dan Kiyoshi mendarat tidak jauh dari ledakan itu.
"Berhasil 'kah?"
"Sepertinya tidak … tubuhnya masih terlapisi tehnik Doton." Kiyoshi menyipitkan kedua matanya ke arah kepulan asap hitam yang mulai menghilang.
"Kuaikui … kerja sama kalian lumayan hebat, dan khusus untukmu Kiyoshi-chan … " Kakuzu mulai terlihat dari kepulan asap dengan jubah yang compang-camping. " … aku menyesal tidak membawamu waktu itu." Kakuzu merobek paksa jubah yang ia kenakan sehingga menampakkan tubuhnya yang penuh dengan jahitan kain-kain dari tehnik Jioungu miliknya, dan pada punggungnya empat topeng berbeda menempel dengan bantuan kain-kain miliknya.
"Aku tidak peduli brengsek … " Kiyoshi mendelik Kakuzu. " … yang jelas aku akan membunuhmu karena kaulah penyebab diriku dibenci oleh penduduk desa Takigakure."
"Kalau begitu … buktikan kalau kau mampu membunuhku!" Topeng berelemen api di punggung Kakuzu tiba-tiba mencuat keluar bersama kain-kain kasar miliknya dan membentuk menyerupai tubuh manusia tetapi tidak sempurna. "Apa kau sudah sampai ke tahap ini?" Kakuzu menunjuk boneka hitam miliknya.
…
…
…
Tap! Tap! Tap! Tap!
Di pinggir tanah lapang tempat pertarungan, empat orang yang mengenakan ikat kepala Konohagakure berhenti pada sebuah dahan pohon yang cukup besar. Ekspresi berbeda-beda langsung terpampang jelas di wajah mereka.
"Itu mereka!" Asuma menatap serius dua anggota Akatsuki dari kejauhan.
"Mengerikan … apa mereka yang melakukan ini." Chouji dan Ino mengutaran pendapat mereka melihat puluhan mayat shinobi Otogakure yang berserakan dimana-mana dengan berbagai macam luka di tubuh mereka.
"Naruto … dia terlihat berbeda." Shikamaru memfokuskan pandangannya pada pemuda bersurai pirang yang tengah berdiri berhadapan dengan pria bersurai klimiks yang memegang sebuah senjata besar.
"Ayo kita kesana dan bantu Naruto!" Perintah Asuma.
Ino dan Chouji langsung menoleh ke Asuma. "Apa sensei yakin?" Chouji tampaknya tidak mengerti kenapa Asuma ingin membantu Naruto yang merupakan SS-Rank Missing-nin dari desa mereka.
"Naruto itu penghianat yang membawa pergi Kushina dan Karin." Ino menimpali ucapan Chouji.
"Sudahlah … kalian berdua akan mengetahuinya segera." Shikamaru berucap malas membalas ucapan kedua rekan setimnya.
"Ayo!"
Asuma melompat turun diikuti ketiganya. Setelah mendarat, keempatnya langsung berlari menuju ke lokasi Naruto.
…
Naruto seketika mengalihkan perhatiannya ke arah empat orang yang berlari menuju ke arahnya.
"Tim 10? … apa yang mereka lakukan disini?" Naruto mengutaran rasa penarasannya perihal kedatangan mereka. "Apa Tsunade-baachan mengetahui hal ini sehingga mengirim mereka."
"Bala bantuankah?" Hidan menoleh ke yang sama dengan Naruto.
Tim 10 berhenti di belakang Hidan dengan jarak sekitar 20 meter untuk berjaga-jaga. Asuma menoleh ke Shikamaru. "Shikamaru ... aku, Chouji dan Ino akan menahan pria itu, sedangkan kau pergi beritahu Naruto untuk menyerahkan yang ini kepada kita."
Shikamaru mengangguk sekali. Setelah mendapat persetujuan dari Shikamaru, Asuma mengeluarkan sebuah pisau yang memiliki empat lubang untuk memasukkan jari.
"Chouji! Ino!" Asuma segera berlari ke arah Hidan dengan pisau chakra yang sudah ia kenakan di kedua tangannya. Di belakang Asuma, Chouji dan Ino ikut berlari mengikuti Sensei mereka.
"Heee … Jashin-sama akan senang hari ini rupanya." Hidan memutar tubuhnya kemudian berlari ke Asuma sambil menyeret senjata besarnya. "Heyaaaa!" Hidan melompat sambil mengayunkan senjatanya dari atas kebawah yang diarahkan ke Asuma.
Trankk!
Asuma menyilangkan kedua lengan di depan kepala sehingga kedua pisau chakra miliknya berhasil memblok serangan Hidan, akan tetapi serangan Hidan yang lumayan kuat membuat Asuma sedikit meringis sampai-sampai rokok yang ada di mulutnya hampir terjatuh.
"Chouji … sekarang!" Asuma melompat ke samping kiri.
Di belakang Asuma, sudah bersiap Chouji yang menyiapkan sebuah handseal. "Baika no Jutsu!"
Bofft!
Lengan kanan Chouji seketika berubah menjadi besar, dan pemuda bertubuh gempal itu langsung mengayunkan tangan berukuran besarnya secara horizontal melawan arah jarum jam menuju ke Hidan yang sepertinya tidak menyadari hal ini.
Duaggg!
"Sialan!" Hidan langsung terpental ke samping kanan dengan keras dan menghantam tanah hingga menyebabkan kepulan debu beterbangan.
Melihat Hidan sudah terkena seranga, Shikamaru langsung berlari menunju ke Naruto yang hanya diam melihat Tim 10 melawan Hidan.
"Ada apa Shika?"
"Kau sedikit berubah Naruto … Mendokusei nee~!"
"Sudahlah … jangan mengeluarkan trademark menyebalkanmu itu … lebih baik segera jelaskan kenapa kalian disini?" Seperti biasa, Naruto langsung to the point.
Shikamaru memutar bosan bola matanya mendengar Naruto langsung to the point. "Singkat cerita … kami diberi misi untuk mengecek kuil Negara api yang diserang, ketika sampai disana kami mengetahui kalau penyerangnya sudah pergi karena mereka mengincar adikmu … Asuma pun memutuskan untuk mengikuti mereka dan beginilah."
Naruto manggut-manggut. "Begitukah … "
"Sekarang … pergilah bantu Kushina dan rekanmu itu, satu ini biar kami yang urus."
"Kalian yakin?" Naruto memastikan kalau Shikamaru dan Timnya ingin melakukan hal ini. "Baiklah … berhatilah-hatilah, dia punya kemampuan yang aneh." Naruto seketika mengerti ketika melihat raut wajah serius Shikamaru. Setelah itu, Naruto langsung menghilang diikuti seberkah kilat kuning.
...
...
...
Kushina + Kiyoshi vs Kakuzu
"Naruto-kun!" Kushina sedikit terkejut ketika Naruto tiba-tiba sudah muncul diikuti seberkah kilatan kuning di sampingnya. "Apa lawanmu sadah kalah?"
Naruto menggeleng pelan lalu menunjuk Tim 10 yang kini sadah memulai pertarungan mereka, terlihat jelas Hidan kepayahan menghadapi kombinasi Ino-Shika-Cho ditambah Asuma.
"Tim 10? Apa yang mereka lakukan disini?"
"Nanti saja … sebaiknya kita segera menyelesaikan orang ini." Naruto menfokuskan pandangannya pada Kakuzu dan mahluk hitam yang berdiri di sampingnya.
Kiyoshi menghampiri keduanya dengan nafas sedikit memburu. "Haa … Haaa … kau akhirnya selesai … Heee Konoha? Apa yang mereka lakukan disini?" Kiyoshi seketika melempar dua pertanyaan sekaligus ketika menyaksikan pertarungan Tim 10 dan Hidan.
"Nanti saja penjelasannya … Sekarang, apa kalian berdua masih bisa bertarung?"
"Haa … Haaa … Chakraku tinggal sedikit karena menggunakan Jiongu."
"Aku sekitar 50 persen, dan juga aku sedikit kelelahan."
Naruto mendesah pelan. "Sepertinya akan lama, karena aku juga mulai kelelahan bertarung hampir 3 jam." Celutuk Naruto.
"Sudah selesai kah?" Kakuzu tiba-tiba ikut nimbrung dalam percakapan mereka, sontak ketiga shinobi Uzushiogakure itu langsung menoleh ke Kakuzu. Dan setelah mengatakan hal itu, mahluk hitam yang berdiri di samping Kakuzu langsung terbang dengan kecepatan tinggi ke arah Naruto, Kushina dan Kiyoshi.
Setelah jarak mahluk itu sekitar 5 meter, percikan-percikan api mulai muncul pada mulut topeng mahluk itu hingga akhirnya tercipta sebuah semburan api berintesitas sedang ke arah ketiganya.
Blaaaaaarrrr!
Ketiganya langsung melompat ke segala secara terus menerus untuk menghindari semburan api dari mahluk hitam Kakuzu.
Di sisi Kakuzu, topeng kedua dan ketiga pun keluar lagi dari punggungnya dan membentuk dua mahluk hitam lain. Dan setelah kedua mahluk itu keluar, Kakuzu langsung berlari ke Naruto yang jaraknya cukup dekat dengan dirinya.
"Cih! … dia akhirnya datang." Sambil melompat, Naruto mengalihkan perhatiannya ke Kakuzu.
Salah satu mahluk hitam Kakuzu terbang mengikuti dirinya. "Raiton : Gian!" Dari dalam mulut topeng mahluk itu, memancarkan petir berbentuk tombak berukuran besar dan dengan secepat kilat, tombak petir itu langsung melesat ke Naruto. Bunyi mirip suara burung pun terdengar nyaring mengikuti tombak petir tersebut.
Criiinggg!
Sebelum tombak petir itu mengenai Naruto, pemuda bersurai pirang itu merapalkan handseal sembari menarik nafas dalam-dalam. "Fūton : Shinkuuha!" Naruto menghembuskan sebuah pisau angin raksasa kea rah tombak petir itu.
Ctiinggg!
Suara benturan antara kedua Ninjutsu itu menciptakan suara dentingan yang cukup besar, akan tetapi tombak petir itu tidak berhenti ataupun hancur, melainkan tombak petir itu malah berbelok arah. Namun, seketika mata Naruto melebar sempurna saat melihat arah dari tombak petir itu. Begitupula Kiyoshi yang juga ikut melebarkan mata melihat hal ini. Pria bertubuh kekar itu hendak berlari ke arah Kushina, namun dirinya langsung dicegat oleh semburan api milik mahluk hitam Kakuzu.
"KUSHINA-CHAAAAANNN!"
…
…
…
TBC [TrouBlesome Cut] ! :v
Fiuhhh … Chapter 36 selesai juga -_-)
Arc [Tenchi Bridge] ini saya gabung dengan Arc [Duo Immortal Akatsuki Member] di canon … Hmnn Fight Arc ini belum kelar di Chapter ini … Kelarnya di Chapter depan he he he … Untuk Ehem-Ehem :v , juga ada di Chapter depan jadi tunggu aja '-')/.
Di Chapter ini OC buatan saya yaitu Hito Kiyoshi sedikit saya bongkar masa lalunya, dimana Kakuzu menanamkan Jiongu miliknya pada tubuh Kiyoshi ketika berumur 7 tahun, itu terjadi sebelum Kakuzu meninggalkan Takigakure (Ini murni karangan saya).
Untuk Fic-Fic saya yang lain … akan menyusul secara berurutan paling cepat 3-4 hari lagi.
Balasan Review non-Login :
Ndah D Amay : Yaps … Si Oro-Pedo udah jadi Uler panggang :v
Kuro-san : Noh Naruto KDK (Kushina dan Kiyoshi) udah ngelawan Kakuzu.
Kinoe : Chapter depan '-').
MATAkami : Untuk Karin, Dia baru mengusai sampai tiga ekor … Untuk Naruto, mungkin tidak, kita lihat saja nanti.
naruto lovers : Nanti saya pikirkan masalah Hinata. Untuk Naruto sedikit terluka, lihat saja nanti heheheh.
Cah uzumaki : Mungkin bakalan dikeluarin di Chapter depan.
Azizul02 : Hehehe … nanti kedepannya akan saya buat Fight-nya tidak berat sebelah lagi.
Batajoz : Tidak menentu … paling cepet sih lima hari.
Uzumaki raja : Nanti saya pikirkan.
Firnandius : Tenang aja … Chapter depan bakalan ada dikir Romance kok … walaupun saya ragu Feel-nya bakalan kena.
Yang Me-Review ... Lanjut ... Next dan sebagainya ... Ini sudah saya lanjut :v
Oke sekian dulu untuk Chapter ini yang Adegan Fight-nya mungkin tidak menarik dan masih belum selesai. Tidak lupa saya mengucapkan 'Terima Kasih' kepada kalian yang telah Me-Review, Fav, Follow ataupun sekedar membaca Fic super Gaje dan berantakan ini.
Terakhir … Sebelum pergi, setidaknya tinggalkan jejak berupa 'Review' … Baik itu Tanggapan, Saran yang mungkin saja bisa saya masukkan jika menurutku menarik dan cocok untuk rencana alur Fic ini …
Bahkan FLAME pun saya terima, asalkan ada alasan yang jelas kenapa mem-Flame Fic ini serta tidak me-Summon penghuni kebun binatang dalam FLAME kalian jika ada yang mau melakukannya :v
.
Sebelum itu … Saya mengucapkan selamat hari Selasa se-indonesia … Ehhh salah …
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA YANG KE-70 … 'o')/
…
Ryusuke RootWood Out!
