Disclaimer : Saya tidak pernah mengakui kepemilikan atas Naruto ataupun unsur dari Anime/Manga lain yang muncul dalam Fic ini.

Genre : Adventure, Friendship, Family, Romance, Etc.

Rate M untuk jaga-jaga

Pair : Naruto X Kushina, Karin X ?

Warning : Typo[s], Miss-Typo[s], Bahasa Gado-Gado, Mainstream, OOC, OC, Adult-Scene, Gore[Maybe], Godlike!Naruto, NaruKarin!Sibling, MoreFriendly!Kurama, Etc.

.

.

.

.

.


The Chronicle of Trio Uzumaki

Arc VIII - Chapter 37 : Kematian Asuma dan Terima kasih untuk semuanya.


.

.

.

.

.

Tidak mau kehilangan orang yang sangat berharga dalam hidupnya, Naruto segera memikirkan berbagai cara. Sepersekian milidetik kemudian Naruto mengingat bahwa Kushina memiliki kunai [Hiraishin] miliknya. Dalam keadaan melayang di udara, Naruto menghilang diikuti seberkah kilatan kuning.

Di tempat Kushina berdiri, Gadis bersurai merah itu segeraa mendongak ke atas setelah mendengar teriakan keras dari Naruto dan mendapati sebuah tombak petir berukuran besar mengarah tepat ke arahnya. Kushina hendak merangkai beberapa Handseal namun ia bingung ingin mengeluarkan Ninjutsu berelemen apa. Tidak ada satu pun elemen yang ia punya berdampak besar pada [Raiton], satu-satunya Elemen miliknya yang memiliki sifat Defensif kuat adalah [Doton], namun [Doton] lemah terhadap [Raiton].

"Baiklah!" Dan akhirnya Kushina memutuskan untuk menggunakan salah satu Ninjutsu bersifat Defensif miliknya. Sesegara mungkin ia merapalkan beberapa Handseal sambil menarik nafas dalam-dalam. "Suiton : Sui-"

Belum sempat Kushina mengeluarkan Ninjutsu miliknya, sebuah kilatan kuning muncul di depannya dan tepat setelah itu Naruto muncul dengan posisi kaki kanan melebar ke samping sedangkan kaki kirinya ditekuk sehingga tubuhnya agak bungkuk.

"Na-Naruto-kun?!"

Naruto menghiraukan panggilan sang kekasih dan memilih fokus pada tombak petir yang sudah hampir mencapai keduanya. Dengan gerakan cepat, Naruto merapalkan Handseal.

"[Mokuton : Mokujōheki]"

Dua puluh pilar kayu langsung mencuat dari permukaan tanah di sekitar kedua pasangan itu dan perlahan membentuk sebuah kubah berlapis-lapis. Belum cukup sampai disitu, Naruto kembali merapal Handseal walaupun kubah miliknya belum sepenuhnya terbentuk. "Masih belum... Ah Sialan!"

Akan tetapi belum sempat Naruto menyelesaikan Handseal dan mengucapkan nama tehnik miliknya, Tombak Petir Kakuzu sudah berjarak beberapa meter dari mereka dan kubah Naruto akhirnya terbentuk walaupun tidak merapat sempurna sehingga...

"NARUTO... KUSHINA!" Teriak Kiyoshi yang dalam keadaan tertahan sulur-sulur milik Kakuzu.

Jdeerr! Duarrr!

Jleb!

Suara gemuruh petir diikuti ledakan yang cukup besar tercipta tepat setelah tombak petir milik Kakuzu mengenai kubah tidak sempurna milik Naruto. Diantara dua suara besar tersebut, terdengar samar-samar suara sesuatu menancap dari balik kubah itu.

"Brengsek!" Teriakan kemarahan Kiyoshi akhirnya pecah dan sekuat tenaga ia merobak sulur-sulur Kakuzu yang mengikat dirinya dan langsung berlari ke arah orang yang telah menanamkan [Jiongu] di dalam tubuhnya.

"Datanglah kesini Kiyoshi-chan!" Dalam keadaan melayang di atas udara, Kakuzu menantang Jounin kepercayaan Naruto.

Pertarungan antara pengguna [Kinjutsu : Jiongu] kembali berlangsung antara keduanya.

.

.

.

.

.

Sama seperti partarungan Naruto, Kushina dan Kiyoshi. Pertarungan antara Hidan melawan Tim 10 tampaknya akan segera memanas melihat gairah bertarung salah satu Immortal member Akatsuki mulai mencapai tahap akhir yang artinya Dukun Sesat itu tidak akan segan-segan menggunakan Tehnik mematikan yang mengandalkan keabadiannya.

"Itu sakit, Brengsek!"

Anggota Tim sepuluh menyipitkan mata mereka mendengar teriakan Hidan dari balik kepulan debu bekas hantaman tubuh Hidan pada permukaan tanah.

"Asuma!" Shikamaru memanggil Sensei mereka yang berdiri paling depan. Kedua rekannya pun ikut memandang ke arah Jounin Perokok berat itu. "Naruto mengatakan kita harus berhati-hati melawan orang ini... Tehnik dan cara bertarungannya belum kita ketahui sama sekali."

"Aku tahu itu!" Asuma menyahut datar tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Hidan.

Hidan memperbaiki posisi senjata besar miliknya dan dalam satu kedipan mata langsung berlari ke Tim 10. "Aku datang Brengsek... Heeehaaa!" Sambil berlari menyeret senjata miliknya, Hidan berteriak kegirangan seperti orang gila yang baru melarikan diri dari rumah sakit jiwa.

"Dia datang!" Secara serentak Tim 10 menyiapkan kuda-kuda mereka masing-masing.

Asuma yang berada di posisi paling depan segera berlari diikuti Shikamaru yang sudah menyiapkan sebuah kunai. Sedangkan Ino dan Chouji bersiap di belakang menunggu aba-aba dari Asuma dan Shikamaru.

Setelah jarak ketiganya terpaut beberapa meter, Hidan melompat ke arah Asuma dan Shikamaru sambil mengayunkan senjata berupa sabit tiga bilah miliknya.

Shikamaru segera melompat ke arah kiri karena kunai yang ia pegang mungkin tidak dapat menahan senjata besar milik Hidan. Sementara Asuma mempersiapkan [Chakura Tō] di kedua tangannya...

Trankk!

Suara dentingan dari dua buah logam terdengar nyaring ketika dua senjata masing-masing kubu berbenturan.

"Kena kau!" Hidan menyeringai tepat di depan wajah Asuma yang hanya berjarak beberapa senti dan diantarai senjata mereka masing-masing. Ia lalu bersiap menarik ke samping kanan sabit tiga bilah miliknya.

"Sial!" Asuma sedikit meringis dan mengubah posisi [Chakura Tō] miliknya dan hasilnya...

Triiinkkk!

Suara gesekan keras disertai percikan api tercipta di depan kedua wajah Asuma dan Hidan.

"Shikamaru... Chouji... Sekarang!" Teriak Asuma lalu mengaitkan [Chakura Tō] miliknya di sela bilah pertama dan kedua, tidak lupa ia mengalirkan sedikit [Chakra] miliknya ke kaki agar bisa menahan kekuatan dari Hidan.

Brakk! Brakk!

Kedua kaki Asuma yang dialiri [Chakra] menciptakan dua retakan pada permukaan tanah.

Di sisi Shikamaru yang sudah menapak permukaan tanah keras kawasan Kusagakure memberi kode kepada kedua rekan se-timnya untuk memulai serangan kombinasi mereka. Setelah itu, Shikamaru berjongkok sambil merapal Handseal yang sangat familiar bagi Klan Nara. "Ino.. Chouji!" Shikamaru berteriak keras memanggil kedua rekannya namun pandangannya terfokus pada Hidan yang masih ditahan oleh Asuma.

"[Kagemane no Jutsu]"

Bayangan tubuh Shikamaru langsung memanjang menuju ke Hidan dan bersamaan dengan itu Chouji berlari sambil merapal Handseal sementara Ino juga melakukan hal yang sama namun Gadis Yamanaka ini tidak bergerak dari tempatnya berdiri.

"[Baika no Jutsu]"

Boft!

Tubuh Chouji tiba-tiba meledak menjadi kepulan asap putih.

"[Nikudan Sensha]"

Dari dalam asap putih tebal tersebut tiba-tiba sebuah bola yang berputar sangat cepat melesat keluar menujut ke arah Hidan dan Asuma.

"Dasar Bod... Sialan!" Hidan hendak melompat menjauh setelah melepaskan kaitan [Chakura Tō] milik Asuma dari sela-sela bila sabit, akan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya tidak dapat digerakkan. Immortal Member Akatsuki itu pun mendapati bayangan Shikamaru ternyata sudah mencapai bayangan dirinya dan hasilnya ia sudah terikat [Kagemane no Jutsu] Shikamaru.

"Sialan! Dasar Kampret kalian!" Hidan menyumpah serapah Tim 10 dengan raut wajah kesal.

Ketika serangan dari Chouji hampir mencapai keduanya, Asuma segera melompat menjauh meninggalkan Hidan sudah tidak dapat bergerak lagi dan tinggal menghitung detik terkena serangan.

Duaarrr!

Ledakan disertai kepulan debu pekat pun tercipta ketika Chouji menghantamkan dirinya yang berputar seperti gasing pada tubuh Hidan yang dengan timing yang tepat Shikamaru melepaskan [Kagemane]. Dan beberapa detik setelah ledakan itu, Chouji melompat keluar dan mendarat di samping Asuma yang sudah terlebih dahulu menapak permukaan tanah.

"Serangan ini mungkin belum memberinya cedera yang parah... Jadi kalian bertiga siapkan [Fōmēshon Ino–Shika–Chō] yang sudah kalian sempurnakan beberapa hari yang lalu!" Perintah Jounin Perokok berat bernama Asuma.

"Hai!" Jawab Tim 10 secara bersamaan. Lalu segera melakukan persiapan untuk melakukan Formasi itu.

Akan tetapi,

"CUKUP MAIN-MAINNYA BRENGSEK!"

Tiba-tiba saja Hidan dengan keadaan tubuh penuh memar dan Jubah Akatsuki miliknya yang sudah robek di bagian bahu kiri berlari keluar dari kepulan debu ke arah Asuma dan Chouji sambil mempersiapkan Sabit Tiga Bilah miliknya.

"HEAYAAHHHH!" Hidan melompat ke arah keduanya sambil mengayunkan senjata miliknya.

"Awas... Asuma-sensei... Chouji!" Tegur Ino sambil berjongkok dengan Handseal khas Yamanaka sudah tercipta dan hendak menangkap Hidan ke dalam tehnik penukar pikiran.

Duaarr!

Hidan menghantamkan senjata miliknya ke arah Asuma dan Chouji, namun kedua berhasil melompat ke arah yang berbeda sehingga serangan Hidan hanya mengenai permukaan tanah. Akan tetapi, tiba-tiba saja Hidan kembali melesat dan kali ini tujuannya adalah Ino yang fokus untuk menangkap Hidan.

"Sial! dia mengincar Ino!" Seru Asuma dan Shikamaru bersamaan di tempat yang berbeda. "INO!"

Ino yang mendengar teriakan Chouji seketika syok melihat Hidan sudah berjarak 20 meter darinya.

Tidak mau kehilangan sang murid, Asuma segera mengalirkan chakra pada [Chakura Tō] di tangan kirinya dan melemparnya ke arah Hidan yang berlari ke Ino. Namun tidak Asuma sangka ternyata inilah yang diincar Hidan, Pria bersurai klimiks itu melompat ke samping tanpa menoleh kebelakang menghindari lempara [Chakura Tō] milik Asuma sehingga benda tajam itu mengarah tepat ke muridnya Ino.

"Kena kau Pirang!" Hidan menyeringai dan dalam keadaan melayang, ia mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya berupa sebuah tombak besi.

Dalam keadaan berjongkok, Ino melompat ke menghindari [Chakura Tō] Asuma, namun di saat bersamaan Hidan melempar tombaknya ke arah tempat mendarat ia mendarat dan hasilnya...

Jleeb!

"Arrrggghhhhhhhh!" Ino meraung kesakitan ketika paha kirinya tertembus tombak Hidan hingga ujung tombak itu menancap di permukaan tanah.

"INOOO!" Teriak sisa Tim 10.

"Kiihihihihi... Satu sudah tumbang dan siap dikorbankan..." Hidan memutar tubuhnya dan memandang penuh nafsu Asuma dan Shikamaru. "... Sisa tiga tukik lagi yang perlu dilumpuhkan!"

"PERGILAH KE NERAKA BRENGSEK!" Teriak Asuma dan Shikamaru secara bersamaan lalu pemuda bersurai model nanas itu menghampiri Asuma, sedangkan Chouji kini syok melihat Ino meraung-raung kesakitan sambil menahan rasa sakit di pahanya.

"Neraka?" Hidan menaikkan sebelah alisnya. "Apa kalian bisa mengirimku ke sana?"

"ITU AKAN SEGERA TERJADI!" Namun secara tiba-tiba Asuma dan Shikamaru terbelalak kaget ketika Hidan merobek bagian atas jubahnya lalu bergerak sedikit menyamping dan memperlihatkan sebuah luka tusukan pada bagian punggung dimana disana merupakan posisi jantung dari punggung.

"Apa yang terjadi? L-Luka itu... tusukan itu pasti mencapai jantungnya!" Syok Shikamaru sampai-sampai tubuhnya sedikit merinding melihat luka yang lumayan besar dan apabila diperhatikan, itu adalah bekas tusukan kunai yang cukup dalam mengingat besarnya lubang pada punggung Hidan sebesar bagian terlebar sebuah kunai.

"Berhentilah bergetar... Rasa sakit ini memuakkan, Brengsek!" Hidan menekan luka di punggungnya sehingga darah segar pun mengalir dengan derasnya turun ke bawah.

"Apakah dia tidak bisa mati? Tusukan itu pasti mengenai jantungnya." Asuma kembali membuka suara, namun kali ini agak syok melihat keanehan di depannya.

"Aku juga berpikir demikian." Respon Shikamaru lemah dan agak serak.

"Tidak, bodoh sekali kalian... Dan sekarang siapa kalian?" Hidan menatap Tim 10 satu persatu karena sebelumnya ia memang tidak tahu siapa lawan mereka karena selama pertarungan berlangsung, ia hanya fokus untuk memberikan persembahan kepada Dewa Agung-nya. Dan tiba-tiba pandangan Hidan tertuju pada sabuk yang dikenakan oleh Asuma yang seketika membuatnya sedikit tersentak. "Tanda itu! Itu milik para Ninja Penjaga! Pantas saja tadi Kakuzu begitu bersemangat."

Setelah itu, Hidan mendesah sejenak. "Halah, Kampret!... Aku harus kembali ke toilet busuk langganan Kakuzu itu untuk kesekian kalinya." Hidan menggerutu tidak jelas karena Hobi dari Rekannya yang mata duitan bin pelit.

Mendengar hal itu, Asuma mendecih pelan. "Kami adalah Shinobi Konoha yang diperintahkan untuk menangkap dan membunuh anggota Akatsuki. Bukankah kalian anggota Akatsuki seharusnya bekerja berpasangan, kami berencana menangkap satu dan menghabisi yang satunya lagi. Tapi..." Asuma kembali memasang kuda-kuda bertarungnya walaupun salah satu [Chakura Tō] menancap di belakang Ino yang masih berusaha mencabut tombak Hidan. "... Sejauh ini kau memiliki kemampuan yang cukup aneh dan mengerikan."

'Jadi ini Akatsuki. Kemampuan gila macam apa itu. Naruto memang sempat memberitahu jika orang ini punya kemampuan aneh... Tapi aku tidak menyangka kemampuannya ternyata benar-benar gila.' Shikamaru membatin dengan ekspresi wajah yang akhirnya terlihat ketakutan walaupun di awal ia sempat percaya diri. Beberapa keringat dingin pun bercucuran di wajahnya.

Hidan tertawa sejenak sambil menundukan kepalanya lalu mendongak dan memasang wajah songong miliknya. "Brengsek sekali kalian."

Asuma menoleh ke tempat pertarungan lain dimana Kubah Naruto masih diselubungi debu serta percikan-percikan petir. 'Sepertinya pertarungan disana juga tengah berat sebelah... Rekan Naruto itu tampaknya kewalahan melawan Anggota Akatsuki yang satunya.' Batin Asuma yang memperhatikan pertarungan Kakuzu bersama antek-anteknya melawan Kiyoshi.

Hidan memperbaiki posisi sabitnya lalu menatap penuh nafsu membunuh Asuma dan Shikamaru secara bergantian. "Baiklah... Ayo maju Brengsek! Akan kuperlihat sebuah ritual yang indah." Hidan mulai menggerakkan kakinya untuk menggambar pola aneh menggunakan darah dari luka tusukan di punggungnya hingga akhirnya membentuk sebuah pola lingkaran yang dibagian tengah terdapat pola segitiga.

Shikamaru mengerutkan kening melihat apa yang digambar oleh Hidan. 'Apa yang akan dilakukan orang ini dengan pola itu.'

"Chouji! Berhenti melamun dan segera kesini!" Teriak Shikamaru lagi memanggil sahabat gendutnya.

Mendengar teriakan Shikamaru, lamuan Chouji terhenti dan segera berlari menuju Shikamaru dan Asuma. Sesampainya di sana, Chouji langsung mengambil posisi bertahan di depan Shikamaru.

"Aku yang akan memimpin..."

Asuma menoleh kebelakang dan menjelaskan rencana mereka secara detail. Awalnya Shikamaru dan Chouji menolak rencana Asuma, akan tetapi kondisi Ino yang saat dikatakan sangat rentang terkena serangan dan tidak ada lagi strategi selain punya Asuma membuat Duo Sahabat itu pasrah dan mengikuti strategi dari Asuma. Dan setelah selesai menjelaskan strategi mereka, ingatan Shikamaru ketika pertama kali bermain Shogi bersama Asuma terlintas di benaknya. Akhirnya Shikamaru menyadari kenapa Asuma memilih strategi ini.

"Kau tidak cocok menjadi 'Pemanjat Perak'." Ujar Shikamaru serius.

Asuma kembali menolah ke arahnya dan sedikit tertawa. "Aku tidak akan berakhir seperti Pion yang dikorban Shikamaru. Itu karena kau ada di belakangku." Jelas Anak dari Mendiang Sandaime Hokage.

Shikamaru mendesah dalam hati dengan kedua mata terpejam. 'Mendokusei nee... Aku mungkin tidak cukup bagus untuk menjadi umpan begitupula Chouji...' Pemuda bersurai model nanas itu membuka kedua matanya lalu menatap Sahabatnya. '... Tapi aku yakin bisa menang.'

"Apa diskusi kelompok bodoh kalian sudah selesai!"

Secara bersamaan Tim 10 minus Ino menatap sumber dari suara yang membuat mereka berhenti berdiskusi sejenak.

"Luka yang diberikan bocah kuning itu lumayan sakit...Itee-Iteee!" Hidan sedikit menggurutu sambil mengusap bekas tusukan Naruto. "Dewa akan membunuh bocah kuning itu dan kalian yang tidak mengerti rasa sakit."

Hidan mengarahkan sabit tiga bilah miliknya ke Tim 10 dan disaat bersamaan, Shikamaru merapal Handseal untuk memulai strategi mereka. Beberapa menit kemudian hening melanda kedua belah pihak. Hidan tetap memandang penuh nafsu bertarung miliknya, sedangkan Asuma sedikit menunduk sehingga beberapa tetes keringat bercucuran di wajahnya.

.

Sambil memandang serius lawannya, Asuma mengalirkan chakra ke [Chakura Tō] di tangan kanannya sehingga Aura Biru melapisi pisau itu disertai suara yang cukup nyaring lalu mengeluarkan satu kunai untuk berjaga-jaga. Dan tak berselang lama setelah itu Asuma langsung merangsek ke depan menuju ke Hidan yang juga melakukan hal yang sama.

"Ayo kita mulai!"

Pertarungan pun berlanjut antara Tim 10 melawan Hidan. Saling serang menggunakan benda tajam yang dimiliki kedua bela pihak pun saling bertabrakan hingga menciptakan bunyi dentingan di area tersebut. Dan disaat Hidan dan Asuma bertarung serius, Shikamaru terus berusaha menangkap Hidan dengan [Kagemane] miliknya. Akan tetapi, dengan lihai Hidan menahan serangan Asuma dan menghindari [Kagemane] miliknya.

Traank!

Kunai dan [Chakura Tō] Asuma berbenturan dengan sabit tiga bilah Hidan. Setelah itu Asuma melakukan serangan lain diikuti Bayangan Shikamaru yang terus mengikuti Hidan.

"Huh,... Kenjutsu milikmu ternyata lumayan juga." Hidan bersorak girang sambil menoleh ke Asuma yang berada di udara setelah melakukan serangan yang berhasil ia hindari namun disaat bersamaan [Kagemane] Shikamaru bergerak ke arahnya. Dengan cepat ia langsung melompat ke udara sambil memperhatikan Bayangan yang terus mengikutinya.

"Sialan! Tangkap dia!" Shikamaru berteriak kesal karena Hidan tidak dapat ia jebak dalam tehniknya.

"Tidak akan bisa bodoh!" Hidan kembari bersorak girang dalam keadaan melayang, namun di depannya Asuma sudah menunggu dirinya.

Saling lempar serangan diikuti aliran-aliran bayangan Shikamaru kembali terjadi selama beberapa menit hingga Asuma mendarat di depan Shikamaru dan Chouji lalu melirik sejenak kedua Chunin dibelakangnya.

'Shikamaru... terus kejar dan Chouji... jangan sampai lengah sedikit saja.' Pandangan Asuma kembali dia arahkan ke Hidan yang berlari ke arahnya.

Sambil mempertahankan Handsealnya, Shikamaru berdiri dan menganalisa keadaaan dengan raut wajah serius. Saking seriusnya, beberapa keringat bercucuran. '[Kagemane] milikku membuat pertarungan ini mudah bagi Asuma, dasar dari strateginya sangat jelas... Tapi itu, tidak menjadi masalah jika dalam pertarungan jarak dekat Asuma bisa unggul.'

Pandangan Shikamaru mengeras ketika melihat Hidan terus-terusan menghindari serangan Asuma, bayangan miliknya dan tidak lupa melakukan counter untuk menyeimbangkan pertarungan. 'Orang ini tidak bisa mati... Dan kami punya batasan nyawa dan chakra, pertarungan sesungguhnya mungkin baru dimulai ketika dia tertangkap... Kuso!'

Dan tepat setelah itu, Shikamaru kembali berjongkok. 'Ini bukan waktunya untuk berpikir!'

Sementara Chouji yang dari tadi diam menyaksikan pertarungan merasa tidak berguna karena Asuma tampaknya bisa merepotkan Hidan sehingga tidak sampai menyerang Shikamaru dan dirinya. 'Aku tidak boleh lengah... Ino sedang terluka jadi satu-satunya yang bisa melindungi Shikamaru adalah aku.'

"Chouji... Sekarang!"

Mendengar perintah Sahabatnya, pemuda berbadan gempal itu segera mengeluarkan lima shuriken dan melemparnya ke arah Hidan yang berlari ke arah mereka. Namun dengan lihainya, Hidan menghindari kelima Shuriken itu.

"Sialan!"

"Lawanmu adalah aku!" Asuma hendak menerjang Hidan dengan kunai dan [Chakura Tō] miliknya.

"Kaulah yang sebenarnya aku incar, Teme!" Hidan menyeringai dan mengerem tubuh lalu berbalik sambil menggerakkan kabel yang menyambung dengan sabit tiga bilah miliknya. Tiba-tiba senjata itu bergerak liar menuju ke samping kanan Asuma yang sama sekali tidak menyadari hal itu.

"ASUMA!"

"ASUMA-SENSEI!"

Trank!

Sreekk!

Asuma berhasil menahan bilah terpendek Sabit Hidan, namun bila yang paling panjang berhasil menusuk pipi kirinya sehingga membuat darah segar mengalir keluar dan ada sedikit darah Asuma yang berada di ujung bilah sabit Hidan.

"Kena kau!" Hidan mendarat pada permukaan tanah sambil menarik kembali sabit bilah tiga miliknya dan langsung berlari menghindari bayangan Shikamaru.

Sedangkan Asuma, ia menghiraukan luka di pipi dan memilih berlari ke arah Hidan. Setelah lawannya berada di jangkauan serangannya. Asuma melempar pelan kedua senjata yang ia pegang lalu merapal Handseal. 'Jika strategi kami tidak berhasil... maka.' Setelah Handsealnya selesai, ia menangkap kembali kunai dan [Chakura Tō] miliknya.

Sementara Hidan terlihat menjilat tetesan darah Asuma pada bilah terpanjang senjata miliknya.

"[Katon : Haisekishō]"

Asuma berhenti dan menghembuskan asap pekat yang di dalamnya terkandung bubuk mesiu berintensitas banyak ke Hidan yang malah berjalan santai menuju pola yang tadi digambar sebelum pertarungan serius dimulai. Asuma terus menghembuskan bubuk mesiu karena ia berniat menghanguskan Hidan sampai tubuhnya hancur menjadi debu.

Sementara di dalam asap bubuk mesiu, Hidan malah melakukan gerakan aneh dan perlahan anggota tubuhnya mulai berubah warna menjadi hitam berpola tengkorak.

'Dia berhenti bergerak!' Batin Shikamaru dan Chouji yang merasa aneh dengan hal ini.

"Hanguslah menjadi abu!"

Ctik!

Asuma menghentakkan rahang atas dan bawahnya sehingga menciptakan sebuah pematik api dan...

Duaarrr!

Ledakan besar pun terjadi akibat dari asap bubuk mesiu yang tersulut api dari hentakkan kedua gigi atas dan bawah Asuma. Hembusan angin yang cukup kuat pun melanda area tersebut.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Brakkk!

Di dalam sebuah ruangan, suara meja yang digebrak dengan kekuatan manusia super hingga menciptakan beberapa retakan tiba-tiba terdengar. Pelaku pemukulan itu adalah seorang wanita cantik bersurai pirang pucat yang memiliki 'aset' yang ukurannya melewati batas normal alias ekstrim. Ia adalah Tsunade pemimpin desa terkuat di [Elemental Nation] [Konohagakure no Sato].

"To-Tolong tenangkan diri anda Tsunade-sama. Sebenarnanya apa yang terjadi?" Satu lagi wanita di ruangan itu mencoba menenangkan wanita bernama Tsunade.

Tsunade mendecih pelan dan mencoba menenangkan dirinya. "Tim Asuma..."

"Kenapa dengan mereka? bukannya misi mereka hanya membantu Kuil Negara Api yang diserang."

Tsunade mengerutkan kening sambil melirik gulungan yang baru saja ia baca. "Akatsuki... mereka adalah penyebab penyerangan itu dan Asuma memilih mengejar mereka karena mantan rekannya di 12 Ninja Penjaga sekaligus sahabatnya ditangkap oleh pelaku penyerangan itu."

"APA?!" Wanita bersurai coklat yang mengenakan Kimono itu berteriak syok. "Apa Asuma tidak memikirkan yang ia lakukan,... mereka hanya berempat dan kita tau para Anggota Akatsuki memiliki kemampuan yang kuat dan beberapa dari mereka masih belum diketahui."

"Itulah yang kutakutkan." Tsunade memijit pelipisnya yang mengkerut. "Mudah-mudahan saja yang mereka kejar adalah Itachi dan pria bernama Kisame itu."

"Lalu apa yang akan kita lakukan Tsunade-sama?"

Tsunade menautkan kedua tangan di depan Aset berukuran ekstrem miliknya. 'Hmnn... Hampir semua Shinobi berada di Konoha,... Tapi, siapa yang harus kukirim? Di pesan itu juga tertulis kalau Asuma dan Timnya mengejar Akatsuki karena mereka mengincar Karin dan Naruto yang keluar desa Uzushiogakure... Itu juga salah satu alasan Asuma mengejar Akatsuki.'

Tsunade kembali mendecih. 'Jika aku mengirim beberapa Jounin... maka bisa dipastika pertarungan tidak hanya melibatkan Akatsuki dan Tim Asuma serta bala bantuan... Tapi juga melibatkan Naruto dan Karin-chan melawan Tim bala bantuan karena masalah Sensei.'

"Ini benar-benar merepotkan!"

"Merepotkan bagaimana Tsunade-sama?... Bukannya kita tinggal mengirim bala bantuan."

"Shizune!" Panggil Tsunade sedikit membentak membuat wanita berambut coklat di depannya langsung menganggukkan.

"Ha'i!"

"Panggil Kakashi, Sakura dan Sai!"

"Kenapa mereka bertiga Tsuande-sama? Bukannya masih banyak Shinobi hebat selain Sakura dan Sai?"

"Sudah jangan membantah dan cepat panggil mereka!"

"Ba-Baik!" Wanita bernama Shizune itupun segera berlari keluar ruangan untuk memanggil ketiga orang yang diinginkan Tsunade.

Untuk mempercepat pencarian ketiga orang itu di Konoha, Tsunade juga mengirim beberapa Anbu untuk membantu pencarian.

'Kuharap kau bisa menenangkan Sakura jika kalian bertemu Naruto... Kakashi.'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kembali ke medan pertempuran.

"Haaa... Haaa... Haaa... Brengsek!" Sambil berlutut, Kiyoshi menatap garang Kakuzu yang berdiri tepat di depannya.

Pertarungan kedua pengguna [Jiongu] tersebut sepertinya akan segera berakhir. Setelah bertarung selama hampir 20 menit lamanya. Kiyoshi tidak mampu mengimbangi kekuatan Kakuzu yang dibantu antek-anteknya. Di sekujur tubuh Kiyoshi, beberapa luka bakar level sedang berwarna kehitaman terlihat. Sulur-sulur miliknya pun berserakan dimana-mana

'Cih Kuso... Chakraku benar-benar terkuras..." Sambil membatin, Kiyoshi melirik kubah kayu Naruto yang pada bagian depannya menancap tombak petir yang masih menggila dan tampaknya serangan itu berhasil menembus kubah Naruto yang notabene campuran antara [Doton] dan [Suiton]. 'Keadaan di dalam kubah itu pun belum aku ketahui... semoga kalian baik-baik saja... Naruto, Kushina!'

"Hanya ini kemampuan yang kau miliki Kiyoshi-chan? kau benar-benar memalukan."

"Diam kau Brengsek!" Dengan sekuat tenaga, Kiyoshi melempar sebuah pukulan lurus ke wajah Kakuzu.

Takk!

Dan dengan mudahnya Kakuzu menahan pukulan itu dengan tangan kanan. Pria yang pernah bertarung melawan Shodaime-Hokgae itu lalu mengeluarkan sulur-sulur dari lengan kiri dan mengikat tubuh Kiyoshi.

"Matilah!" Kakuzu berkata datar sambil merapal Handseal.

Dari arah depan Kiyoshi yang tengah berada di udara mahluk berelem [Katon] Kakuzu muncul dengan mulut terbuka dan dari sana keluar lima bola api berukuran kecil yang melesat bebas ke Jounin kepercayaan Naruto.

Duar! Duar! Duar! Duar! Duar!

Lima ledakan beruntung seketika tercipta ketika lima bola api mahluk Kakuzu menghantam tubuh Kiyoshi. Beberapa detik kemudian, dari balik asap hitam bekas ledakan, Kiyoshi terjun bebas menuju permukaan tanah dengan kondisi tubuh memprihatinkan. Rompi Jounin Uzushiogakure yang ia kenakan habis terbakar dan hampir di sekujur tubuhnya luka bakar terlihat.

Setelah Kiyoshi menghantam permukaan tanah, Kakuzu mengalihkan pandangannya ke arah kubah kayu Naruto. "[Mokuton]? Bocah 100 juta Ryo itu bukan shinobi sembarangan... Tapi sepertinya [Raiton] milikku berhasil menembusnya." Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke pertarungan rekannya dimana baru saja terjadi ledakan besar.

"Si Bodoh itu... sudah kubilang jangan menganggap remeh lawan." Kakuzu mendecih pelan. "Dasar pengikut aliran sesat."

Tepat setelah mengatakan hal itu, Kakuzu beserta tiga mahluk hitamnya segera berlari ke lokasi pertarungan Hidan meninggalkan Kiyoshi, Naruto dan Kushina segera berlari ke tempat pertarungan Hidan.

.

.

.

Sementara itu di dalam kubah [Mokuton] Naruto.

Akibat dari benturan tombak petir Kakuzu, Kushina sempat terlempar kebelakang dalam posisi duduk. Perlahan ia membuka kedua kelopak matanya dan samar-samar ia mendengarkan suara cairan yang menetes dan suara aliran petir. Dan ketika ia mendongak sedikit ke atas, mata Kushina membulat sempurna karena syok melihat...

"N-Naruto-kun!"

Di depannya Naruto berdiri dengan posisi agak miring membelakanginya, namun bukan itu yang membuat Kushina syok, tetapi di sebuah tombak petir berukuran kecil menembus punggung bagian bawah pemuda bersurai pirang itu dan ketika ia menoleh ke samping kiri, ujung tombak petir itu tepat berada di sampingnya.

"M-Maaf..."

"Tidak usah meminta maaf!" Potong Naruto agak datar. "Apa kau terluka?"

"APA MAKSUDMU HAA?! LIHAT DULU KEADAANMU SENDIRI!"

"APA KAU TERLUKA?!"

Kushina tersentak mendengar respon dari Naruto yang berteriak sama sepertinya. Sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan dan secara tidak sadar cairan bening pun menetes dari iris violet Kushina. "A-Aku baik-baik saja."

"Syukurlah!... [Raiton] orang benar-benar kuat... aku tak menyangka kubah kayu berlapis ini bisa tembus." Naruto mengcengkram tombak petir yang menembus perutnya dan dalam sekali kepalan yang sedikit diberi chakra [Fūton], tombak petir itu hancur dan membuat Naruto memuntahkan darah segar. "Uhuukk..."

'Aku tak menyangka kau menggunakan tubuhmu untuk membelokkan sisa [Raiton] yang menembus kubahmu... Khukukuku.' Suara serta tawa Kurama terdengar jelas di kepala Naruto. 'Benar-benar seorang pria sejati yang rela menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk gadis tercintanya.'

.

.

.

Flasback

"Masih belum... Sialan!"

Jderrr! Duaarr!

"Kyaaaa~~"

Belum sempat Naruto mengeluarkan dan menyebut nama Ninjutsu yang akan ia keluarkan, Tombak petir Kakuzu sudah terlebih dulu menghantam kubah Naruto dan tombak petir berukuran kecil berhasil menembus tiga lapis balok kayu penyusun kubah tersebut. Kushina yang berdiri di depan Naruto sedikit terpental kebelakang akibat dari benturan besar itu.

"Sial!" Naruto mengerang ketika melihat tombak petir berukuran kecil melesat ke arahnya dan Kushina dengan kecepatan lumayan cepat, dari gerakan slowmotion Naruto melirik kebelakang dan mendapati Kushina sedikit terpental kebelakang.

Jleeb!

Tombak petir itupun menusuk Naruto tepat di bagian perut kiri. Dalam keadaan tertusuk, Naruto memiringkan tubuhnya dan hasilnya ujung tombak petir itu sedikit berbelok dan menancap di permukaan tanah di samping kiri Kushina.

Flashback Off

.

.

.

'Jangan banyak bacot Kurama, cepat lakukan tugasmu!'

'Sudah kulakan dari tadi Brengsek.' Balas Kurama agak kesal diperintah dengan nada membentak melalui telepati oleh Naruto. 'Tapi bagaimana bisa [Raiton] itu menembus kubahmu Naruto? bukannya belum pernah ada yang menembus kubahmu... Dan kenapa kau tidak menggunakan kekuatan [Gakido]?... Bukannya itu bisa menyerap [Ninjutsu]?'

'Aku terlalu terburu-buru dan tidak sempat memikirkan menggunakan [Rinnegan] Karena sesuatu tiba-tiba muncul di benakku...'

'[Genjutsu]?...'

Naruto menggeleng pelan. '... Itu hanya sebuah gambaran. Jujur saja, ketika melihat [Raiton] itu berbelok ke Kushina-chan, gambaran tubuhnya hancur terkena serangan itu muncul seketika dibenakku dan hal itu mengganggu pikiran dan aliran chakraku...'

Naruto kemudian memandang lubang bekas [Raiton] di Kubah miliknya. 'Pikiranku benar-benar kacau waktu itu karena kenangan ketika Jiji tewas secara bersamaan ikut muncul bersama dengan gambaran tubuh Kushina-chan hancur... Makanya aku tidak berpikir untuk menggunakan [Gakido]... Satu-satunya yang terlintas di benakku adalah menahan [Raiton] itu... Dan seperti yang kukatakan sebelumnya... Aliran Chakraku juga ikut terganggu sehingga kubah [Mokuton] ini tidak terlalu kuat.' Jelas pemuda pirang itu.

'Begitukah... Untung saja tombak itu tidak menusuk organ vitalmu... kau seharusnya berterima kasih ke Kami-sama Naruto.'

'Ya aku tau itu.'

'Aku sarankan mulai sekarang kau melatih mentalmu... Agar sesuatu seperti tadi tidak terjadi untuk kedua kalinya.'

Naruto hanya merespon dengan gumaman pelan saran dari Kurama dan komunikasi antara keduanya pun terhenti ketika mendengar suara Kushina.

"Naruto-kun,... apa kau baik-baik saja?" Kushina menghapus jejak air mata yang tadi sempat menetes.

Naruto segera menoleh kebelakang dan menghapus jejak darah di sudut bibirnya. "Kurama sudah melakukan tugasnya jadi tenang saja... Ayo kita keluar! Kiyoshi sepertinya terluka parah."

Naruto merapal Handseal sederhana. "[Kai]"

Kubah kayu milik Naruto pun menghilang masuk ke dalam tanah dan tepat setelahnya, Naruto dan Kushina segera mencari keberadaan Kiyoshi.

"KIYOSHI-SAN!" Teriak Kushina setelah mendapati seorang pria bertubuh kekar terbaring tidak sadarkan diri dengan keadaan memprihatinkan.

Kedua shinobi berbeda gender itu pun segera menghampiri Kiyoshi dan melakukan pertolongan agar tidak sampai membuat pria bertubuh kekar itu tewas.

"Cepat bantu aku merawat luka bakarnya biar aku bisa segera membantu Asuma dan Tim-nya."

Kushina tersenyum sambil mengangguk ketika mendengar bahwa Naruto ternyata masih belum bisa melupakan Konoha, tempat kelahirannya. Itu semua karena pemuda pirang ini berniat menolong Asuma dan Shikamaru yang tampaknya sangat kesulitan menghadapi lawan mereka.

.

.

.

.

.

Beberapa menit sebelumnya di lokasi pertarungan Tim 10 melawan Hidan.

Perlahan kepulan asap hitam bekas ledakan [Katon] Asuma mulai menghilang. Tim 10 menyipitkan mata mereka menunggu bagaimana hasil dari serangan terakhir dari Asuma. Setelah kepulan debu menghilang secara keseluruhan, mereka tersentak melihat Hidan berjongkok dengan posisi lengan kanan menutup kepalanya.

"Sakit, ya?" Hidan bergumam pelan. "Dewa telah menghukummu."

Dan secara bersamaan, Asuma menjatuhkan [Chakura Tō] dan kunai yang ia pegang dan terlihat ia meringis kesakitan sambil memperhatikan lengan kanannya yang menghitam seperti baru saja terkena api.

"Apa yang terjadi dengan Asuma-sensei? Kenapa ia bisa terluka seperti itu?" Syok Chouji melihat sensei perokok berat meringis kesakitan.

"Bagaimana Haa? Apa kalian sudah mengerti arti dari rasa sakit?"

Asuma memegang bisep kanannya. 'Lengan kananku terluka... apa karena Jutsunya atau sesuatu yang lain.' Ia kemudian memandang Hidan masih dengan ekspresi wajah meringis kesakitan. 'Bukan!'

"Kutukanku akhirnya mengenai tubuhmu dan dengan ini ritual bisa dimulai." Hidan berdiri dan langsung memindahkan lengan kanan yang menutup wajahnya lalu menatap Asuma dengan ujung mata putihnya terlihat retak.

"Hahahaha... Lalu..." Hidan tertawa pelan "KITA AKAN MENDERITA RASA SAKIT YANG TIDAK TERBAYANGKAN BERSAMA-SAMA!" Teriak Hidan setelahnya.

Asuma tidak memperdulikan teriakan Hidan dan langsung berlari ke Hidan. Namun...

"DASAR BODOH!" Hidan tiba-tiba menebas kaki kirinya sendiri dengan sabit tiga bilah miliknya sehingga membuat Asuma terjatuh dengan noda merah terlihat muncul dan merembes pada paha kiri celana yang digunakan Jounin perokok berat itu.

"Apa yang terjadi Shikamaru?" Terkejut Chouji melihat Asuma tiba-tiba terjatuh dan memegang kaki kirinya. "Asuma-sensei memegang kaki kirinya... Ada yang aneh disini."

"Orang itu menebas kaki kirinya sendiri." Gumam Shikamaru. 'Asuma sudah memberi banyak informasi kepadaku... Berpikirlah... Ayo berpikir!'

Shikamaru mulai memfokuskan pandangannya ke Hidan yang berdiri membelakangi. 'Cara bicara, kepribadian, suara, sesuatu yang selalu ia bawa... Pertimbangkan semua yang sudah dilakukannya sampai saat ini... Apa arti tindakannya itu dan bagaimana mereka saling berhubungan... Hal itu akan memberitahuku bagaimana dan apa cara kerja Jutsunya serta cara menghadapinya.'

Sang Jenius dari Klan Nara akhirnya mulai mengerjakan apa yang harus ia kerjakan yaitu menggunakan otaknya untuk memperjelas apa yang terjadi saat ini. Dan tepat setelah itu, Ino akhirnya berhasil mencabut tombak Hidan dan berjalan tertatih menghampiri Shikamaru dan Chouji.

"Apa yang terjadi dengan Asuma-sensei... Kita harus membatunya Shikamaru!" Ucap Ino ketika tiba di tempat keduanya dan melihat Asuma duduk sambil memegang kaki kirinya.

"Diam Ino! Aku sedang berpikir!" Bentak Shikamaru.

Kata-kata Hidan sebelum mereka bertarung mulai terlintas di kepala Shikamaru.

["Kiihihihihi... Satu sudah tumbang dan siap dikorbankan... Sisa tiga tukik lagi yang perlu dilumpuhkan!"]

'Tumbang... Dikorbankan... Dilumpuhkan...'

["Dewa akan membunuh bocah kuning itu dan kalian yang tidak mengerti rasa sakit."]

'Dewa... Rasa sakit...'

["Kutukanku akhirnya mengenai tubuhmu dan dengan ini ritual bisa dimulai."]

'Kutukan... Ritual.'

Satu persatu satu gerakan aneh Hidan sewaktu bertarung sebelumnya mulai terlintas di benak Shikamaru hingga akhirnya pemuda daru Klan Nara itu menyadari sesuatu.

Asuma yang melihat Shikamaru menyadari sesuatu langsung membatin. 'Shikamaru akhirnya menemukan sesuatu.'

"Ada apa Shikamaru?" Tanya Ino yang berdiri di belakang pria yang ditanya.

"Apa kau sudah menyadari keanehan disini?" Tanya Chouji ikut angkat bicara.

"Iya..." Shikamaru berdiri dan menatap Hidan serius. "... Cara kerja Jutsunya adalah ketika ia sudah berada di pola yang digambarnya... maka secara tidak langsung tubuh dia dan Asuma seperti terhubung satu sama lain."

"Apa yang kalian bicarakan sih?" Ino tampaknya tidak menyadari keadaan yang saat ini menimpa Asuma yang nyawanya sudah berada di tangan Hidan.

"Tapi bagaimana tubuh dia dan Asuma-sensei bisa terhubung?"

"Darah!" Shikamaru menjawab datar pertanyaan datar dari Chouji.

"Aku mengerti... Aku tadi melihat dia menjilat darah di ujung senjata miliknya setelah melukai Asuma-sensei."

"Dan senjata yang dia bawa... tidak lebih hanya untuk melukai lawan dan mengambil darahnya... Dan satu-satunya cara melepas jutsunya adalah mengeluarkan dia dari pola aneh itu."

"Jadi kau sudah mengetahui cara kerja jutsuku yaa?" Tanya Hidan menoleh kebelakang lebih tepatnya ke Shikamaru. "KALAU BEGITU..." Sambil berteriak Hidan memposisikan ujung bilah terpanjang senjatanya tepat di depan dada pada bagian jantung.

"INO... CEPAT GUNAKAN [SHINTENSIN] KE ORANG ITU SEBELUM IA MENUSUK JANTUNGNYA!" Teriakan keputusaan dilakukan Shikamaru sambil mengubah bentuk Handseal-nya sehingga bayang tubuhnya kembali memanjang dengan kecepatan tinggi ke Hidan walaupun [Chakra] miliknya sudah hampir habis.

Ino mengangguk cepat dan langsung merapal Handseal yang mengarah tepat ke Hidan yang sudah bersiap menusuk dadanya.

"[Shintenshin No Jutsu]"

"... AKAN KUAKHIRI PENDERITANMU SEKA-" Seketika teriakan serta tubuh Hidan berhenti secara bersamaan ketika [Shintenshin] milik Ino berhasil tepat sebelum ujung bilah senjatanya menyentuh dada. 'Sial... Apa yang terjadi.' Inner Hidan ketika tubuhnya diambil alih oleh Ino.

'Berhasil!' Batin Shikamaru dan Chouji sambil menghela nafas lega sejenak. Sedangkan Ino sudah tersungkur pada permukaan tanah.

"Baiklah... Sekarang tinggal menuntunnya keluar dari pola itu." Tepat setelah mengatakan itu, [Kagemane] Shikamaru berhasil mencapai bayangan Hidan dan perlahan menuntun pria klimiks itu berjalan keluar dari pola yang ditapaknya.

'Sialan!... Keluar dari tubuhku brengsek!' Inner Hidan meraung-meraung kesal ketika menyadari bahwa dirinya tengah dikendalikan oleh seseorang.

"Sepertinya mereka berhasil menghentikanmu, Hidan... Mampus kau!" Tiba-tiba saja Tim 10 terkejut setengah mati ketika mendengar suara datar dari arah atas.

"SIAL!" Tim 10 berteriak kesal.

'Apa Naruto dan Tim-nya berhasil dikalahkan?... Bagaimana sekarang! Ayo segera berpikir... Berpikir!' Shikamaru kembali menggunakan otak jenius miliknya untuk mencari jalan keluar lain untuk menghindari kematian Asuma serta kedatangan rekan se-tim Hidan.

'Si Brengsek itu... apa yang kau lakukan haa?!... cepat bantu aku!' Inner Hidan kembali meraung kesal ketika melihat Kakuzu hanya berdiam diri tidak melakukan apa-apa di udara.

"Hidan,... kenapa kau tidak melakukan ritual bodohmu dan malah berjalan keluar lingkaran?" Tanya Kakuzu datar namun Hidan sama sekali tidak menjawab dan masih tetap berjalan keluar dari pola lingkaran. Hal itu pun membuat Kakuzu sedikit heran dan perlahan tubuhnya mulai turun ke permukaan tanah tidak jauh dari Asuma dan Hidan.

'Begitu rupannya.' Kakuzu akhirnya menyadari apa yang terjadi setelah mengawasi keadaan yang menimpa Hidan. 'Gadis Pirang itu sepertinya memiliki Tehnik memindahkan pikiran sedangkan yang berambut nanas itu mengikat bayangan Hidan dan menuntunnya keluar... Jadi ini generasi penerus dari salah satu Tim kuat Konoha... Zetsu benar-benar hebat dalam mengumpulkan informasi.' Batin Hidan.

"Kalau begitu... Kali ini akan kubantu kau, Hidan!" Kakuzu mulai merapal Handseal yang membuat Tim 10 memucat seketika karena mereka belum mengetahui kemampuan Kakuzu apalagi orang ini berhasil mengalahkan Naruto dan Tim-nya menurut Tim 10.

Salah satu mahluk hitam Kakuzu tiba-tiba melesat ke arah Ino-Shika-Chou dengan kecepatan tinggi sambil membuka mulut. Shikamaru melepas [Kagemane] miliknya dari Hidan. Sedangkan Ino yang mengambil alih tubuh Hidan hendak menghentikan mahluk hitam itu dengan menebas sabit bilah tiga. Akan tetapi, mahluk itu berhasil menghindar dengan terbang ke atas.

"Sial!" Shikamaru menggurutu kesal.

"INO... SHIKAMARU... CHOUJI!" Teriak Asuma melihat Tim asuhannya dalam bahaya. Ia hendak bangkit sambil menahan rasa sakit di kaki kirinya akan tetapi Kakuzu tiba-tiba berada di depannya masih dengan tangan yang membentuk Handseal. "Kau tidak akan kemana-mana." Sahut Kakuzu datar dengan wajah dipenuhi sulur-sulur.

"[Fūton : Atsugai]"

Setelah melewati posisi Hidan. Dari mulut topeng mahluk hitam berelemen angin Kakuzu tiba-tiba melesat sebuah hembusan angin dengan volume sangat besar dan kepadatan tinggi tiba-tiba melesat ke-3 Chunin Konoha. Saking kuatnya hembusan angin tersebut sampai-sampai meninggalkan jejak di permukaan tanah.

Wusshhh!

'Sial... Jangkauan anginnya benar-benar luas.' Shikamaru meringis melihat hembusan angin yang sudah berjarak 10 meter darinya. "Chouji!" Perintahnya cukup keras kepada sahabatnya.

Chouji mengangguk dan langsung berdiri di depan Shikamaru dan Ino sambil merapal Handseal.

"[Chō Baika no Jutsu]"

Tubuh gempal Chouji tiba-tiba membesar seukuran raksasa dengan kuda-kuda bersiap menahan hembusan angin yang sudah berada di depan mata.

"Bagus Chouji!" Puji Asuma melihat Chouji berubah menjadi raksasa.

"Itu percuma saja." Respon Kakuzu datar membuat Asuma terbelalak kaget.

Duaarrr!

"HUUAAAAAAAAA!" Chouji sekuat tenaga menahan hembusan angin yang sudah menghantam tubuhnya.

"Chouji bertahanlah!"

Tapi benar yang dikatakan oleh Kakuzu. Apa yang dilakukan Chouji ternyata sia-sia sehingga membuat Tim 10 akhirnya terseret hembusan angin itu hingga mencapai pinggiran tanah lapang tempat pertarungan dan menciptakan ledakan yang sangat besar.

"ARRGGGHHHHH!"

Setelah Ino terpental kebelakang, Hidan akhirnya lepas dari [Shintensin] dengan seringai sadis terpampang di wajahnya. "AKHIRNYA... HAHAHAHAHAAAAA!" Setelah itu berjalan kembali ke lingkaran miliknya.

"Hidan... cepat lakukan! Lalu bantu aku mengurus Bocah 100 Juta Ryo disana." Titah Kakuzu. Dan tepat setelah itu, ia langsung mencekik Asuma dan mengankatnya di udara dengan tangan kiri. "Aku kagum masih bertahan dengan luka bakar dan tebasan di tubuhmu... Tapi,..." Kakuzu menghentikan ucapannya ketika mendeteksi tekanan [Chakra] yang lumayan kuat melesat ke arahnya. Ia lalu menarik kebelakang tangan kanannya dan dua sulur berujung tajam muncul dari telapak tangannya.

"... Ini adalah akhir penderitaanmu!"

"Menjauh darinya, Brengsek!"

Duagh!

Sebuah pukulan yang teramat sangat keras tiba-tiba menghantam wajah Kakuzu dari arah kanan. Hingga membuatnya terlempar bersama pelaku pemukulan itu yang tidak lain adalah Naruto yang kini hanya mengenakan baju jaring-jaringnya saja.

Sreeett!

Kedua Missing-nin itu pun terseret beberapa meter di permukaan tanah dengan posisi Naruto berada di atas dan Kakuzu berada di bawah.

"Kau terlambat bocah 100 Juta Ryo!" Kakuzu menyeringai.

Jleeb!

Mata Naruto membulat sempurna ketika mendengar suara benda tajam menusuk tubuh manusia. Kakuzu memanfaatkan hal itu dan menendang tubuh Naruto ke udara. Naruto mendarat dengan sempurna pada permukaan tanah dan segera menoleh ke Asuma. Dan Iris biru Sapphire pemuda bersurai pirang seketika bergetar melihat Asuma berlutut dengan darah merembes di bagian dada dan juga mulutnya.

"ASUMAAAA!" Naruto segera menghampiri Jounin perokok berat itu dan menciptakan satu [Bunshin].

"Cepat bawa Asuma ke Tim-nya!" Perintah Naruto pada [Bunshin] yang baru ia ciptakan. Salinan sempurna dari Naruto mengangguk dan segera menaikkan Asuma yang terus memuntahkan darah segar ke atas punggungnya lalu segera meninggalkan Naruto asli disana.

Naruto kemudian memandang Kakuzu yang berdiri di depan tiga mahluk hitam yang sudah berkumpul kembali. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke Hidan yang berdiri di atas pola ritualnya. 'Apa-apaan orang itu?' Naruto terbebelak kaget melihat Hidan yang berdiri dengan sabit tiga bilah menancap horizontal di dadanya.

.

.

.

Beberapa menit kemudian, [Bunshin] Naruto akhirnya menghilang dan ingatan tentang informasi kemampuan Hidan berhasil masuk ke dalam kepalanya karena sebelum menghilang. Shikamaru sempat memberitahukan kepada [Bunshin] Naruto mengenai pertarungan mereka melawan Hidan tadi.

'Benar-benar kemampuan yang gila.' Naruto membatin sedikit syok. Ia kemudian menyentuh simbol [Fuinjutsu] di lengan kirinya dan mengeluarkan sebuah perban dan langsung melilit bekas luka menganga di perut dan punggungnya. 'Darahku tidak boleh di ambil oleh orang itu.'

"HAHAHAHAHA..." Hidan tiba-tiba tertawa ala psikopat. "APA KAU TAKUT SEHINGGA KAU MENUTUP LUKAMU!"

"Berteriaklah sesukamu... karena sebentar lagi hal terakhir yang kau lihat adalah kehampaan." Respon Naruto dingin.

Hidan mencabut sabit di dadanya dan sedikit merintih kesakitan. "Memang kau bisa?"

"Hidan... Jangan lengah! 100 Juta Ryo ini bukan shinobi biasa."

Hidan mendesah malas. "Jangan banyak omong Kakuzu... Yang kulihat bocah ini hanya orang yang mau menjadi pahlawan kesiangan." Ucapnya kemudian.

"Pahlawan?... Bukan-bukan... Aku hanya Shinobi biasa yang akan mencabut nyawamu." Balas Naruto masih dengan nada dinginnya.

"Buktikan kalau kau bisa... Brengsek!" Tanpa menunggu lama, Hidan langsung berlari menerjang Naruto dan menyerang pemuda itu secara membabi buta. Untung saja Naruto sudah menutup luka di perut dan punggung sehingga darahnya tidak akan tercecer kemana-mana ketika menghidari serangan membabi buta Hidan.

Sreek!

Hidan mengayunkan sabitnya secara horizontal, namun Naruto berhasil menunduk sehingga berhasil menghindar walaupun beberapa helai surai pirangnya terkena tebasan itu.

"Kena kau!" Dalam keadaan berjongkok, Naruto menyeringai dan mulai merapal Handseal.

"[Mokuton]"

Jleb! Jleb!

"Arrrrrggghhh... Itee~~"

Beberapa sulur kayu berujung runcing mencuat dari dari dalam tanah tempat Hidan berpijak dan langsung menusuk beberapa anggota tubuh pria abadi itu. Sulur-sulur itu tidak berhenti memanjang hingga mengankat dan menembus kaki, tangan dan perut Hidan di udara.

"Dasar Bego... Sudah kubilang jangan remehkannya... Mampus kau Hidan!" Tanpa rasa kasihan sedikit pun kepada rekannya. Kakuzu malah mengejek rekannya itu hingga membuat Hidan kesal bukan main.

"Onore-Kakuzu... Kenapa kau malah mengejekku... Cepat bantu aku!"

Naruto sedikit tercengang melihat Hidan masih dapat berbicara. 'Kemampuannya benar-benar gila.' Naruto merangkai kembali Handseal-nya sambil membatin. 'Bagaimana jika kepala yang kutusuk... Kita lihat apa dia masih bisa bertahan.' Satu sulur kayu tiba-tiba bergerak menuju kepala Hidan dan bersiap menusuk.

"Baiklah..." Kakuzu mendesah. "... ini kedua kalinya kubantu... Jadi kau berhutang 50 Juta Ryo."

Kakuzu segera berlari ke lokasi Naruto dan Hidan bersama ketiga mahluk hitamnya. Ketika jarak mahluk berelemen [Fūton] sekitar 20 meter, lima bola udara padat langsung ditembakkan dari mulutnya menuju Naruto dan sulur kayu yang menjerat Hidan.

'Sial!' Naruto langsung melompat kebelakang menghindari dua bola udara yang diarahkan ke dirinya.

Brak! Brak!

Sementara tiga bola udara lain menghantam akar-akar kayu Naruto hingga hancur membuat Hidan terbebas dan mendarat di samping bekas akar-akar Naruto. Beberapa detik kemudian akhirnya Kakuzu tiba di samping Hidan bersama antek-anteknya.

"Kau berhutang 50 Juta Ryo."

"Diamlah dasar pengikut Atheis!"

Setelah mendarat agak jauh dari kedua lawannya. Naruto mulai menyusun beberapa strategi untuk menghancurkan mahluk milik Kakuzu yang menurutnya pengganggu dari pertarungan ini. 'Hmnnn... aku punya sedikit keuntungan dari mereka yang tampaknya tidak memperdulikan satu-sama lain... Akan kumanfaatkan hal ini untuk mengelebaui salah satu dari mereka.'

"Ngomong-Ngomong..." Lamuan Naruto pun terhenti ketika Hidan menancapkan sabit miliknya pada permukaan tanah. "... Apa Konoha mengubur mayat mereka yang telah mati?" Dengan tampang dan suara sedikit malas, Hidan melempar pertanyaan kepada Naruto.

"Bodoh! Dia itu Missing-nin... Jadi mana mungkin dia tau itu."

"Berisik, dasar brengsek!" Hidan menoleh ke samping dengan wajah kesal ala Anime dengan kendutan kecil di ujung kening.

"Hidan, awas!"

Pria yang dipanggil langsung menoleh ke depan dan terkejut ketika Naruto sudah berada tepat di hadapannya dengan bola [Chakra] yang berotasi dengan kecepatan tinggi.

"Orang sepertimu tidak pantas untuk hidup, Brengsek!"

"[Rasengan]"

Naruto mengarahkan Tehnik ciptaan Ayahnya itu menuju ke wajah Hidan, namun pria itu langsung menggunakan sabit miliknya untuk menahannya.

Krak! Krak!

Prankk!

Alhasil, senjata andalan Hidan pun hancur berkeping-keping dan membuat sang empunya terpental kebelakang namun berhasil mendarat walaupun sedikit terseret beberapa meter kebelakang.

"Ko-no-ya-ro... Berani-beraninya kau menghancurkan senjataku!" Hidan mengumpat kesal sambil memperhatikan ketiga bilahnya sudah hancur menyisahkan gagangnya saja.

Namun umpatan Hidan tidak ada seorang pun yang mendengarkan karena Naruto kini bertarung dengan sengit melawan Kakuzu dan antek-anteknya. Ketika keduanya tengah beradu [Taijutsu], tiba-tiba mahluk hitam berelemen [Raiton] melompat ke atas dari belakang Naruto dan menembakkan petir berbentuk laser. Naruto menyeringai dan membiarkan dirinya terkena pukulan Kakuzu.

Duagh!

Poft!

Tubuh Naruto tiba-tiba meledak diikuti kepulan asap putih dan menampakkan batang kayu yang retak di bagian tengah yang membuat Kakuzu terkejut.

'Dimana dia?' Sebuah bunyi tanah yang retak membuat Kakuzu langsung berbalik ke arah belakang. 'Belakang!'

Tap! Tap!

Alangkah terkejutnya Kakuzu ketika Naruto tiba-tiba muncul dari sela-sela bekas akar-akar kayu dan menangkap kedua lengannya dan langsung dilempar menuju jalur laser petir milik mahluk hitamnya sendiri.

Jleb!

"Arrrrgghhhhhh!" Laser petir itupun menembus dada Kakuzu dan langsung terjatuh pada permukaan tanah. Kini Jantung Kakuzu yang tersisah adalah tiga yaitu ketiga mahluk hitamnya. Itu karena laser tadi berhasil mengenai jantung asli dan topeng elemen [Doton] yang masih tersisah di punggungnya.

'Sekarang tinggal mengurus orang itu dan...'

Naruto langsung melompat ke samping kiri dan langsung berlari ke Hidan ketika puluhan bola api dan udara tiba-tiba melesat menuju dirinya dari arah belakang.

"Selanjutnya kau!"

Naruto dan Hidan kembali terlibat pertarungan jarak dekat. Karena senjata Hidan tinggal menyisahkan gagang membuat pria itu tersudut dan mau tidak mau harus terus menghindari serangan brutal [Taijutsu] dari Naruto. Dan di beberapa kesempatan, ia mencoba menyerang luka Naruto agar dapat membuat pemuda bersurai pirang itu memuntahkan darah sehingga ritual bisa dilakukan.

Sementara keduanya sibuk bertarung. Mahluk hitam berelemen [Raiton] Kakuzu kembali ke tubuhnya sehingga dirinya berhasil mendapatkan jantung lain sehingga dapat melanjutkan pertarungan. Sedangkan topeng [Katon] dan [Fūton] mulai bersatu.

Naruto menghindari ayunan gagang senjata Hidan dengan menunduk.

"Kau milikku!"

Duagh!

Sebuah Uppercut menghantam keras dagu Hidan hingga membuatnya terpental ke udara. Naruto tidak menyia-nyiakan kesemepatan dan langsung merapal handseal.

"[Mokuton : Jukai Heki]"

Naruto menciptakan cabang-cabang kayu yang tak terhitung jumlahnya yang tumbuh dengan kecepatan tinggi dari tanah di bawah Hidan melayang. Cabang-cabang itu mulai saling menjalin satu sama lain setelah Hidan berada di tenga-tengahnya. Alhasil, Pria bersurai klimiks itu pun terjerat dan tidak dapat bergerak.

"Ugghhh... Kayu-kayu sialan!... Oii Pirang, lepaskan aku brengsek!" Di dalam cabang-cabang kayu Hidan berteriak kesal sambil memcoba melepaskan dirinya.

Belum cukup sampai disitu, Naruto kembali merapal Handseal.

"[Mokuton : Jubaku Eisō]"

Naruto kembali mengeluarkan [Mokuton] miliknya, namun kali ini yang ia keluarkan adalah tiga pohon berukuran besar yang semakin membesar dan menutupi [Mokuton] yang menjerat Hidan sehingga orang itu tidak bisa lepas dari kurungan tersebut.

"Dan untu..." Naruto segera melompat menjauh dari pohon berurukuran sangat besar tersebut ketika [Sensor] miliknya mendeteksi sesuatu yang besar hendak menghantam dirinya dari belakang.

Dan benar saja. Sebuah bola api yang berukuran besar dan terdapat hembusan angin di sekitarnya melesat dengan kecepatan tinggi.

Blaarrrr!

Bola api itu pun mengenai pohon tempat Hidan terperangkap dan bagian batangnya mulai terbakar. Dan hal itu pun memunculkan sebuah ide di kepala Naruto.

'Benar juga... Seabadi apapun seseorang jika terbakar sampai menjadi abu tetap akan mati.' Setelah mendarat Naruto menoleh ke sumber bola api itu dan mendapati Kakuzu berdiri bersama mahluk hitam yang kali ini memiliki dua topeng.

"T-Tidak mungkin!... Aku yakin tadi laser itu menembus jantungmu."

"Tehnik [Mokuton] milikmu... Hampir setara dengan seseorang yang pernah kutemui..." Naruto menyipitkan matanya menunggu siapa yang dimaksud oleh Kakuzu. "... Shodaime-Hokage!" Dan sebuah nama yang benar-benar membuat Naruto terkejut bukan main.

"Sebenarnya mahluk apa kau, Brengsek!... Aku yakin jantungmu tadi terkena serangan itu... Apakah kau itu Abadi?"

Kakuzu menggeleng. "Tidak,... tidak ada yang abadi di dunia ini... Aku hanya memperpanjang umurku dengan mengambil jantung Shinobi yang kukalahkan sebelum mati." Jelas Kakuzu.

'Apa mungkin mahluk hitam bertopeng itu adalah jantung... Tapi bagaimana bisa mahluk itu mengeluarkan tehnik perubahan [Chakra] level tinggi.' Naruto menyipitkan mata memandang mahluk hitam yang memiliki dua topeng di belakang Kakuzu. 'Aku mengerti sekarang... Dia menghubungkan sirkulasi [Chakra] miliknya dan beberapa jantung, lalu mengubah perubahan [Chakra] miliknya menjadi perubahan [Chakra] pemilik asli jantung itu.'

Tiba-tiba saja mahluk hitam Kakuzu menembakkan semburan api yang diperkuat angin berdaya jangkau cukup luas. Naruto dengan cepat merapal Handseal sambil membatin. 'Sebaiknya aku bakar mereka berdua secara bersamaan di dalam kurungan kayu.'

"[Suiton : Suijinheki]"

Naruto memuntahkan air dalam volume banyak dan membentuk dinding air berukuran sama besar dengan semburan api yang menuju ke arahnya.

Blaarrr!

Benturan dari kedua tehnik itupun menciptakan ledakan besar disertai kepulan kabut tebal. Namun kekuatan semburan api Kakuzu yang diperkuat elemen angin membuat dinding air Naruto tidak dapat menahannya lebih lama sehingga semburan api tersebut berlanjut ke Naruto.

Naruto segera melompat kebelakang dan merapal Handseal yang sama untuk kedua kalinya.

"[Suiton : Suijinheki]"

Blaarr!

Semburan api itupun berhasil terhenti ketika menghantam dinding air yang ukurannya sama dengan yang pertama sehingga kabut tebal semakin banyak di area tersebut. Naruto yang memiliki [Sensor] seluas 200 meter tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan langsung berlari menerobos kabut tersebut menuju Kakuzu.

Kakuzu langsung menyiagakan dirinya ketika Naruto tiba-tiba muncul dari dalam kabut. "Mati kau!" Ia merentangkan kedua tangannya ke Naruto dan puluhan sulur-sulur tajam melesat ke Naruto,

Dengan gerakan yang cukup cepat Naruto menghindari sulur-sulur tersebut hingga akhirnya dirinya berada tepat di depan Kakuzu.

"Kena kau!" Naruto melakukan sebuah pukulan lurus akan tetapi, tubuh Kakuzu tiba-tiba mengeluarkan banyak sulur-sulur.

Jleb! Jleb! Jleb!

Poft!

Tubuh Naruto pun tertusuk puluha sulur namun beberapa detik kemudian tubuh Naruto meledak menjadi kepulan asap putih yang membuat Kakuzu terkejut.

'Bunshin!'

Naruto yang asli akhirnya muncul dari balik kabut asap, namun tidak mengarah ke Kakuzu melainkan ke arah mahluk hitam tidak jauh dari Kakuzu.

'Dia mengincar yang itu.' Missing-nin Takigakure segera menyerang Naruto dengan sulur-sulur panjangnya, namun berhasil dihindari Naruto sambil melakukan Handseal.

Belum sempat mengeluarkan tehnik miliknya, mahluk hitam di depan Naruto tiba-tiba menyemburkan kombinasi [Katon] dan [Fūton] mirip sebuah tornado api berukuran sedang. Dengan sangat terpaksa, Naruto mengulang Handseal miliknya namun kali ini sedikit berbeda.

"[Suiton: Suiryūdan no Jutsu]"

Dari udara kosong di belakang Naruto perlahan partikel-partikel air mulai bermunculan hingga akhirnya membentuk naga air berukuran lebih besar dari semburan tornado api.

Blaaarrr!

Tornado api itu pun menghilang bersama asap putih sedangkan naga air Naruto hanya sedikit hancur namun masih dapat digunakan untuk menghancurkan topeng di mahluk hitam Kakuzu. Dalam keadaan melayang dengan posisi agak miring, Naruto mempertahankan Handseal-nya sehingga naga air itupun melesat ke arah mahluk hiram Kakuzu.

"Hancurlah!"

Mahluk hitam Kakuzu terhantam naga air Naruto dan dibawa ke atas langit lalu menukik dengan kecepatan tinggi ke permukaan tanah.

Blurrr!

Setelah naga air itu menghilang sepenuhnya terlihat benda cair sedikit kental berwarna hitam tercecer dimana-mana dan terdapat dua topeng yang sudah hancur berkeping-keping.

"Kisama! Mati kau!" Kakuzu tiba-tiba berada di samping Naruto menendang keras luka di perut pemuda bersurai pirang itu.

Iris biru Sapphire Naruto bergetar hebat merasakan sakit teramat sangat ketika terkena tendangan keras Kakuzu di luka tusukannya. Kakuzu melanjutkan serangan [Taijutsu] ke Naruto yang masih meringis menahan sakit sehingga hampir semua serangannya mengenai wajah, perut dan beberapa anggota tubuh Naruto hingga akhirnya pemuda bersurai pirang itu terpental dan menghantam tanah.

'Kurama! kenapa...'

'Kau dan aku sudah sama-sama mencapai batas Naruto... Kita sudah bertarung hampir 5 jam dengan waktu istirahat yang sangat sedikit.'

'Ini semua salahmu kenapa mau keluar bertarung, Brengsek!'

'Jangan memakiku seperti itu Kuso-Gaki... Kau sendiri yang memberi luka pada tubuhmu hanya untuk melindungi...'

Omelan dari Kurama seketika tidak terdengar lagi di kepala Naruto ketika ia memutus telepati mereka. Sambil berlutut Naruto menyentuh perban di perutnya yang sudah berubah warna menjadi kemerahan. 'Rubah Sialan!'

"Kau sepertinya sudah mencapai batas Hee?" Kakuzu mulai berjalan ke arah Naruto. "Akan kuambil Jantungmu bagusmu itu dan tubuhmu kutukar ke... Uhuukk!"

"Siapa bilang aku sudah mencapai batas, Brengsek!" Naruto tiba-tiba muncul diikuti seberkah kilatan kuning di depan Kakuzu dan melayang pukulan Uppercut ke perut.

"B-Bagaimana?!" Sebuah simbol aneh pun terlihat di tangan kanan Kakuzu.

"Aku sudah menandai tubuhmu ketika menyerangku tadi." Dan kini giliran Naruto yang melancarkan serangan balasan berupa [Taijutsu] tingkat tinggi yang membuat Kakuzu beberapa kali meraung kesakitan walaupun tubuhnya sudah dipenuhi sulur-sulur miliknya. Naruto terus menyerang Kakuzu hingga lokasi mereka berada di dekat pohon tempat Hidan terperangkap.

"Bocah Sialan!" Kakuzu berniat menusuk Naruto dengan sulur tajam miliknya.

Naruto berhasil menghindar dan menciptakan [Rasengan] di tangan kanannya namun sedikit berbeda dimana ada percikan-percikan api di sekitar bola [Chakra] itu.

"Makan ini!" Naruto mengarahkan tehnik ciptaan ayahnya itu tepat ke perut Kakuzu. "[Katon : Rasen Endan]"

Blaaarr!

Wussh!

Ledakan kecil tercipta ketik bola [Chakra] berelemen [Katon] itu menghantam perut Kakuzu dan membuatnya terbang bebas ke arah pohon tempat Hidan.

Brakk!

Kawah besar tercipta di batang pohon itu ketika tubuh Kakuzu menghantamnya. Kakuzu yang masih belum sepenuhnya kalah tiba-tiba membulatkan mata ketika Naruto melesat dengan kecepatan tinggi ke dirinya dengan sebuah Pedang besar berwarna hitam yang siap di hunuskan ke dirinya.

"[Kenjutsu Ougi : Shinigami Shōhin]"

Zuuuing!

Sesampainya di depan Kakuzu, Naruto langsung mengayunkan Pedang hitam besar miliknya secara diagonal. Sebuah gelombang hitam yang sangat tipis menembus pohon besar tersebut, perlahan tubuh Kakuzu dan batang pohon tersebut mulai terpisah menyebabkan mata Kakuzu mulai kehilangan cahaya dengan tubuh terbelah dua di bagian dada. Hidan yang terikat di dalam pohon tersebut tidak luput dari serangan gelombang hitam Naruto. Ketika bagian atas pohon tersebut mulai terjatuh, terlihat tubuh tanpa kepala Hidan masih terikat di pohon yang tidak tumbang.

"Bocah Sialan!" Teriak sebuah kepala tanpa tubuh yang tengah melayang.

"Sudah kuduga kau masih hidup!" Naruto menghilangkan pedang hitamnya lalu menggunakan salah satu cabang pohon tersebut untuk melompat dan menangkap kepala Hidan.

"Lepaskan kepalaku anak haram!... Hei Ka-" Hidan hendak memanggil rekannya namun terhenti ketika melihat tubuh pria itu sudah menjadi dua bagian.

Duagh!

Naruto mengankat kepala Hidan dan memukulnya sekeras mungkin hingga membuat pipi Hidan seketika memerah terkena pukulan itu. Setelah mendarat, Naruto membuang kepala Hidan ke permukaan tanah.

"Bocah Tengik... kau membuat kepalaku sakit!"

"Diam! Selanjutnya tidak ada lagi rasa sakit... Sebelum itu akan kuurus tubuh dan rekanmu itu." Naruto merapal Handseal cukup rumit.

"[Mokuton : Jukai Kōtan]"

Batang-batang pohon berukuran besar dalam jumlah tidak terhitung mulai keluar dari dalam tanah di depan Naruto dan langsung menyapu seluruh area di depannya termasuk tubuh Hidan dan Kakuzu. Setelah dirasa cukup, Naruto menghentikan pertumbuhan pohon-pohon tersebut dan merapal Handseal lain sambil menarik nafas dalam-dalam.

"[Katon : Gōka Mekkyaku]"

Naruto menyemburkan api berbentuk dinding api berintensitas sangat besar yang bersifat pemusnah dan langsung membakar habis hutan yang baru saja diciptakan olehnya beserta dua tubuh anggota Akatsuki yang berada di dalam hutan tersebut.

"APA YANG KAU LAKUKAN BRENGSEK!" Teriak kepala Hidan di samping kiri kaki Naruto.

Naruto menghentikan semburan apinya dan membiarkan hutan di depannya terbakar habis menjadi abu. Ia lalu menoleh ke kepala Hidan dengan ekspresi wajah sangat dingin. "Sekarang giliranmu!"

Naruto menyentuh [Fuinjutsu] di lengan kiri dan mengeluarkan lima kertas peladak yang membuat Hidan seketika pucat pasih dengan keringat dingin mengucur di wajahnya (?). Tanpa basa-basi Naruto menempelkan empat kertas peledak di kepala Hidan dan berjalan menuju [Chakura Tō] Asuma yang menancap tidak jauh darinya.

"OOIII... KISAMA! LEPASKAN KERTAS INI ATAU JASHIN-SAMA TIDAK AKAN MENGAMPUNIMU PENGIKUT ATHEIS!"

Naruto mencabut [Chakura Tō] milik Asuma dan mengikat kertas peledak yang tersisa. "Aku tidak butuh ampunan dari Dewa-mu itu!" Naruto melempar [Chakura Tō] Asuma dan menancap tepat di samping kepala Hidan dan perlahan ujungnya mulai terbakar.

Pupil Hidan pun bergetar hebat melihat kertas peledak itu. Naruto berbalik dan mulai berjalan menuju tempat Tim-10 dan juga Tim-nya yang sudah bergabung dengan mereka.

"Sayonara!" Ucap Naruto pelan dan...

Duar! Duar! Duar! Duar! Duar!

Lima ledakan beruntung pun tercipta di belakang Naruto yang berjalan menjauh. Dan sudah dipastikan bahwa kepala Hidan hancur berkeping-keping akibat ledakan itu begitupula dengan tubuhnya yang mungkin sudah terbakar habis menjadi abu.

Dua Immortal Member of Akatsuki akhirnya gugur di tangan Titisan Rikodou-Sennin.

Namun kemenangan itu akan segera meninggalkan luka mendalam bagi pihak Konohagakure, Tim 10 dan Yuhi Kurenai.

.

.

.

.

.

Sementara di tempat Tim 10 dan Tim Uzushiogakure, karena sudah mengetahui bahwa dirinya tidak akan selamat, Asuma pun mengatakan kata-kata perpisahan untuk Ino dan Chouji. Air mata mengalir deras dari kedua mata Chunin Konohagakure itu. Sedangkan Shikamaru yang menyangga kepala Asuma terlihat berusaha menahan dirinya agar tidak menangis dan menunggu pesan terakhir Asuma untuk dirinya.

Awan hitam mulai bergerak ke arah lokasi tersebut akibat dari panasnya api Naruto yang membakar hutan.

Dalam keadaan setengah wajah menghitam dan darah segar terus mengalir dari mulut. Asuma menoleh ke Shikamaru. "Dan juga Shikamaru..."

"... Kau sangat pintar serta memiliki akal hebat sebagai seorang shinobi,... Kau pasti bisa menjadi Hokage... Tapi, karena kemalasanmu... kau mungkin membencinya." Suara batuk lumayan pelan terdengar keluar dari mulut Asuma dan matanya sedikit berkaca-kaca walaupun sudah terlihat mulai kehilangan cahayanya.

"Aku bahkan tidak pernah sekalipun menang bermain Shogi melawanmu."

"Dan kalian tidak perlu menyalahkan diri sendiri atas masalah ini... Akulah yang menggali kuburanku sendiri karena sangat ingin bertemu dengan N-Naruto..." Jelas Asuma lemah. Shikamaru hendak membalas ucapan itu karena dirinya juga melakukan sebuah kesalahan ketika pertarungan, akan tetapi...

"Ba-Bagaimana keadaan Asuma?" Tanya Naruto yang tiba-tiba melayangkan pertanyaan yang sangat sensitif kepada Tim 10.

Secara serentak Tim 10 dan Tim Uzushiogakure menoleh ke kanan. Ino yang tengah menangis seketika menutup mulutnya dengan kedua tangan melihat keadaan Naruto yang sangat buruk. Wajah penuh luka lebam, baju jaring-jaring yang sobek di sana-sini dan yang paling parah adalah luka tusukan di perut terus mengeluarkan darah segar.

Lain Ino. Lain lagi dengan Kushina dan Kiyoshi. Jujur ini pertama kalinya mereka melihat Naruto dalam keadaan seperti ini. Cairan bening pun mulai keluar dari sudut mata Kushina melihat keadaan kekasihnya itu karena secara tidak langsung dialah penyebab Naruto mendapatkan luka tusukan itu.

Kushina hendak menghampiri kekasih pirangnya namun Kiyoshi yang duduk di samping kirinya menghentikan niatnya dengan menggeleng.

"Bagaimana dengan kedua anggota Akatsuki Naruto?" Tanya Shikamaru.

"Mati!"

"Tapi bagaimana caranya? orang bernama Hidan itu abadi?"

"Aku sudah menghancurkan mereka hingga ke inti sel tubuh terkecil mereka... Dan kau harus tau tidak ada yang abadi di dunia ini." Jawab Naruto dengan ekspresi wajah dingin. Tim 10 pun berdidik ngeri melihat ekspresi wajah Naruto.

"Apa maksudmu membakar mereka?" Shikamaru menunjuk hutan yang masih terbakar hebat di tengah-tengah area kosong yang lokasinya berada jauh dari mereka. Naruto hanya merespon dengan anggukan.

"N-Naruto!" Panggil Asuma lemah.

Naruto kembali mengangguk "Hmnn... Aku tahu apa yang ingin anda katakan." Ia segera menghampiri Asuma yang umurnya sudah berada di ujung tanduk dan berjongkok di samping Shikamaru. "Ini perihal kematian Jiji 'kan?"

Asuma bergumam lemah. "Karena kalian semua adalah Anggota Tim Asuma maka aku tidak keberatan jika kalian mendengar..." Dan setelah itu Naruto mulai menceritakan semua yang terjadi ketika Invasi Otogakure dan Sunagakure tiga tahun yang lalu minus pertarungannya dengan Shodaime dan Nidaime.

Ino dan Chouji pun terkejut mendengar kebenaran yang terjadi 3 tahun yang lalu. Sedangakan Asuma akhirnya mengerti, senyum kecil pun terukir jelas di wajahnya.

"Oh iya... Cerita tentang 'Raja', akan kuberitahu siapa Raja itu." Asuma kemudian menoleh ke Naruto. "Karena Otou-sama percaya padamu, kau juga akan kuberitahu siapa 'Raja' itu Naruto... Mendekatlah kalian berdua!"

Secara bersamaan Naruto dan Shikamaru mendekatkan telinga mereka ke wajah Asuma. "Anak-anak yang akan meneruskan masa depan dari Konohagakure dan dunia Shinobi... Merekalah para 'Raja' itu." Bisik Asuma kepada keduanya.

"Kurenai sedang mengandung anak kami..." Secara bersamaan Naruto dan Shikamaru membulatkan mata mereka. "... Aku percayakan 'Rajaku' kepada kalian semua terutama kalian berdua Naruto, Shikamaru." Secara bersamaan Naruto dan Shikamaru kembali ke posisi awal mereka. Shikamaru terlihat sedikit syok sedangkan Naruto hanya memasang ekspresi datarnya.

Sedetik kemudian Naruto tersenyum tipis dan berkata. "Tentu saja."

Asuma tertawa pelan dan kembali memuntahkan darah segar. "Walaupun aku sudah berhenti... Sekarang mungkin tidak masalah, ada Rokok di dalam kantongku... Aku ingin merokok untuk terkhir kalinya."

Shikamaru segera melakukan apa yang diminta oleh Asuma. Beberapa saat kemudian, abu rokok Asuma mulai berjatuhan hingga akhirnya Rokok tersebut terlepas dari mulutnnya. Tangisan Ino dan Chouji akhirnya pecah. Sedangkan Shikamaru dan Naruto memilih berjalan menjauh.

Awan hitam di atas langit wilayah Kusagakure akhirnya meneteskan air secara perlahan sebagai tanda bahwa langit pun ikut menangis akan kepergian...

Sarutobi Asuma.

.

.

Ditempat Naruto dan Shikamaru. Pemuda bersurai model nanas sedikit menceritakan bahwa betapa ia membenci rokok karena asapnya selalu membuat matanya berair. Dinginnya air hujan mengalir deras di wajah Shikamaru begipula dengan Naruto.

"Menangislah... Aku tau bagaimana rasanya melihat orang terdekat kita mati." Ujar Naruto menenangkan Shikamaru walaupun sebenarnya ia juga tengah menangis namun air matanya tidak terlihat karena bercampur dengan air hujan.

Naruto kemudian mengeluarkan satu kunai bermata tiga miliknya dan memberikan ke Shikamaru. "Berikan kepada Kurenai-san dan bila ia perlu bantuan, cukup alirkan saja Chakra ke kunai itu."

Shikamaru mengangguk dan menerima kunai tersebut.

"Satu lagi..." Naruto mendekat ke Shikamaru dan membisikkan sesuatu dengan ekspresi dingin yang membuat Shikamaru membulatkan mata mendengarnya.

"Aku mengerti!"

"Kalau begitu... Aku pamit dulu, aku merasa sesuatu yang merepotkan akan terjadi... Lagipula salah satu keluargaku terluka parah."

Naruto segera menghampiri Kushina dan Kiyoshi lalu menyentuh pundak mereka. "Ayo pergi!" Dan tepat setelah itu, mereka bertiga menghilang diikuti seberkah kilatan kuning.

Beberapa menit kemudian Tim bala bantuan. Kakashi, Sakura dan Sai akhirnya tiba. Mereka bertiga pun terkejut mendengar kabar bahwa Asuma telah berpulang ke sisi Kami-sama. Sakura segera menenangkan sahabatnya Ino sedangkan Kakashi mencoba menenangkan Chouji. Dan ketika Kakashi bertanya siapa yang mengalahkan anggota Akatsuki. Shikamaru memberitahukan kalau Naruto yang melakukannya. Mendengar nama Naruto, Sakura langsung tersentak dan hendak menanyakan dimana pemuda pirang itu tetapi Kakashi menghentikannya dan mengatakan bahwa ada yang lebih penting dari itu.

.

.

.

.

.

.

.

5 Hari kemudian.

Di bagian yang cukup ramai di desa Uzushiogakure. Kushina, Sasori, Karin dan Tayuya berjalan bersama setelah kembali dari rumah sakit tempat Kiyoshi dirawat.

"Apa kau merasa ada yang aneh dengan Naruto?" Sasori yang berjalan di paling kanan membuka suara. Tayuya dan Karin hanya mengangguk sedangkan Kushina terlihat menundukan kepala.

"Setelah Nii-chan mengunjungi Kurenai-sensei dan makam Asuma-sensei... Nii-chan selalu saja menghindari kita dan tidak mau berbicara." Jelas adik Naruto.

"Ini salahku..." Ketiga orang secara serentak menoleh ke Kushina yang berada di paling kiri. "... Gara-gara melindungiku, Naruto-kun terkena tusukan [Raiton]."

Kushina menundukan kepala sehingga bayangan poninya menutupi sebagian wajah cantiknya. "Kalau saja aku mendengarkan Naruto-kun untuk ikut barsama kalian... Dia tidak akan terluka dan mempunyai beban bertarung serta kematian Asuma-sensei mungkin bisa dihindari... Hiks... Hiks~" Jelas Kushina terisak-isak diakhir kalimatnya dan cairan bening mulai mengalir di pipi putihnya.

Tayuya yang berada di samping kanan Kushina langsung menengkan gadis itu dengan menepuk-nepuk pundaknya. "Bukan hanya kau Kushina... Aku juga merasa bersalah karena termakan omongan Orochi-yarou dan anak buahnya."

"Tunggu... Bukannya itu Naruto!" Potong Sasori sambil menunjuk seorang pemuda pirang yang melintas di sebuah perempatan.

Naruto terlihat mengenakan pakaian santai berupa T-Shirt coklat bergambar pusaran merah di punggung dan celana hitam 3/4 hitam. Naruto terlihat berjalan sambil memasukkan tangan ke saku celana dan tidak lupa menyapa beberapa penduduk Uzushiogakure yang melintas di dekatanya.

Tanpa pikir panjang, Kushina menghapus jejak air mata di pipinya dan langsung berlari mengejar Naruto diikuti Karin.

"Karin... Jangan mengejar mereka berdua!" Teriak Sasori sambil mengarahkan tangan kanannya ke samping. Namun ada yang aneh pada tangannya ketika merasakan benda kenyal. Wajah Sasori seketika pucat pasi dan keringat dingin mulai mengucur deras di wajahnya.

Karin berhenti dan berbalik ke belekang. Gadis cantik itupun menunjuk ke samping kanan Sasori dengan gerakan pelan. "S-Sasori!"

Dengan gerakan terpata-pata, Sasori menoleh ke kanan. Dan wajahnya seketika semakin memucat melihat sosok hitam besar dengan mata merah menyala dan rambut merah yang berkiba-kibar.

'Shit!'

"O-n-o-r-e..." Ternyata mahluk hitam itu adalah Tayuya yang sudah benar-benar marah karena salah satu aset berharga miliknya dipegang.

"MATI KAU DALANG BONEKA!" Sebuah Uppercut keras dilayangkan oleh Tayuya ke perut Sasori.

Wusshhhh!

"GOMENNASAAAAAIIIIIIIII!" Teriak pilu Sasori yang sudah kelewat OOC dalam keadaan terbang bebas ke langit cerah di atas Uzushiogakure hingga menghilang diikuti cahaya putih kecil di ujung langit.

Poor Sasori.

.

.

.

Naruto terus berjalan hingga tiba di sebuah area yang cukup sepi. Dan tiba-tiba saja sebuah lengan putih halus melingkat di badannya dan dua benda kenyal menekan punggungnya.

"Kushina-chan?" Naruto menoleh kebelakang dengan alis terangkat.

"Kenapa kau selalu menghidariku dan yang lain Naruto-kun?... Apa kau marah karena kejadian lima hari lalu yang menyebabkan kau terluka?"

Naruto menggeleng pelan. "Tidak kok... Siapa juga yang marah." Jawab Naruto.

"Kau bohong!" Celutuk Kushina cepat. "Lalu kenapa kau tidak mau berbicara denganku, Karin-chan dan yang lain?"

Naruto melepaskan kedua lengan Kushina yang melingkar dan memutar tubuhnya menghadap ke sang Kekasih. "Dengar ya..." Naruto menepuk pundak Kushina. "... Aku hanya perlu menenangkan diriku atas kematian Asuma."

Gadis bersurai merah memicingkan mata menatap Naruto. "Kalau begitu kenapa kau tidak berkumpul dan berbicara dengan kita... Kami juga merasakan hal yang sama... Jadi kita bisa saling menenengkan satu sama lain."

Naruto mendesah pelan dan dalam satu kedipan mata langsung menghilang bersama Kushina diikuti seberkah kilatan kuning. Sedetik kemudian mereka sudah berada di dalam kamar Naruto di tempat tinggal mereka yang jauh dari pusat desa Uzushiogakure.

"Kenapa kau memindahkan kita kesini Naruto-kun?" Tanya Kushina bingung kenapa Naruto tiba-tiba memindahkan mereka menggunakan [Hiraishin]

"Aku tidak mau orang lain mendengarkan hal ini." Naruto merapal Handseal sederhana dan menciptakan [Kekkai] kedap suara pada kamarnya. "Ini soal Kurenai... Dia mengandung anak Asuma dan anak itu dipercayakan kepadaku dan Shikamaru... Dan semenjak Asuma meninggal, Kurenai seolah-olah menutup diri dan tidak mau bertemu seseorang dan aku takut hal itu akan mengganggu perkembangan janin yang dikandungnya."

"K-Kau tidak bercandakan?" Kushina membulatkan mata mendengar berita yang begitu mengejutkan ini dan jawaban yang diterima Kushina adalah sebuah anggukan pelan. "Kasihan sekali Kurenai-sensei."

Setelah itu, Kushina kemudian menundukkan kepala. "A-Aku minta maaf." Ucapnya sambil mengggit bibir bawahnya.

"Aree... Minta maaf untuk apa?" Naruto tiba-tiba heran kenapa Kushian menundukan kepala sambil meminta maaf. Dan Naruto akhirnya melihat jelas jejak air mata di pipi Kushina. "Kenapa kau menangis Kushi-chan?"

"Karena aku... kau terkena tombak petir... Asuma-sensei meninggal dan Kurenai-sensei menjadi depresi... Kalau saja waktu itu aku mendengarkan perintahmu untuk pergi... Maka semua itu tidak... Mmphhh~~"

Kushina tiba-tiba terkejut ketika Naruto memegang dagunya dan mengakat kepalanya. Dan tepat setelah itu bibirnya langsung dikunci oleh bibir Naruto. Itu hanya ciuman singkat namun membuat Kushina benar-benar terkejut.

"Sudahlah... Semuanya sudah terjadi dan lukaku juga sudah sembuh." Akhirnya setelah 5 hari tidak melihat senyum Naruto. Hati Kushina pun merasa bahagia ketika melihat Naruto tersenyum kembali ke dirinya. "Lagian aku 'kan sudah berjanji untuk selalu melindungimu... Jadi sudah menjadi tugasku untuk menjadi tameng waktu itu."

Kushina mengangguk paham. Suasana hening pun tercipta di ruangan itu beberapa saat. Naruto mendesah lega dan hendak berjalan keluar namun Kushina tiba-tiba menghentikannya.

"Ada apa lagi sih?... Aku mau ke kedai ramen Kushi-chan." Keluh Naruto agak kesal.

"A-Arigatou untuk semuanya Naru-kun."

"Hadeh... Sudah kubilang jangan berterima kasih kepadaku Kushi-chan... Aku merasa aneh mendengarnya." Beberapa detik kemudian mata Naruto membulat sempurna ketika melihat rona merah besar di wajah Kushina. "Jangan-jangan Kuso-Jiji itu memberitahumu tentang pernikahan?" Tanya Naruto.

Kushina menggeleng pelan. "Tidak... S-Selama ini Naru-kun sudah banyak melakukan sesuatu untukku... Mulai mengembalikan kecerianku dari masa laluku, menerimaku tinggal di apartemenmu, menyelematkanku dari Anbu-ne, melatihku menjadi kuat, selalu melindungi dan masih banyak lagi... S-Selama ini aku memikirkan bagaimana cara membalas itu."

"Dan sekarang aku tau bagaimana caraku membalas semua itu."

"Berada di sampingku saja sudah membalas semua itu Kushi-chan... Jangan berpikir... Mmpph~~" Kini giliran Naruto yang terkejut ketika Kushina tiba-tiba mencium tepat di bibirnya hingga membuatnya membulatkan mata.

Naruto mendorong tubuh Kushina sehingga bibir kedua berpisah. "Jangan bilang kau memintaku melakukan itu?" Tanya Naruto memastikan.

Dengan rona merah di wajahnya Kushina mengangguk. "Hanya itu yang bisa kulakukan untuk membalas semuanya Naru-kun... Yaitu membahagiakanmu dengan cara seperti ini."

"Tunggu dulu... Kau tidak perlu melalukan sejauh itu Kushi-chan."

'Hadeh... Berhentilah mengelak Baka! Kau sudah lama ingin melakukan itu bersama Miniature Ayuki 'kan... Kalau tidak salah saat waktu kau tidak sengaja membaca Icha-Icha Paradise milik Kakek-mu itu.' Suara Kurama tiba-tiba terlintas di kepala Naruto.

'Onore-Kurama... Jangan memperburuk keadaan.'

'Apa kau lupa kalau [Link] kita sudah sempurna... Jadi secara tidak langsung apa yang kau rasakan, aku juga merasakannya... Termasuk kau berusaha menahan nafsumu ketika melihat tubuh Miniature Ayuki... Terutama ketika kau tidak sengaja masuk kamarnya dan melihatnya telanjang bulat.'

'Arrrrrgghhh... jangan mengingatkan aku kejadian itu Kurama-Teme.' Naruto berteriak frustasi mengingat kejadian itu dimana ia langsung dilempar sebuah meja yang membuatnya pingsan selama 2 jam. Namun sedetik kemudian Naruto kembali tenang dan melanjutkan ucapannya. 'Kau benar... Aku memang selalu menahannya... Tapi bukan berarti aku tidak mau... Aku hanya berpikir belum waktunya.'

'Cih... Bagaimana kalau besok Iwa secara tiba-tiba menyerang dan membunuhmu atau Kushina... Atau tiba-tiba sebuah petir mengenai tubuhmu dan tewas.'

'Gambaranmu kelewat amat tidak masuk akal Kurama.'

'Jadi ini Naruto yang kukenal pria sejati yang rela menjadi tameng bagi gadisnya... Tapi sangat pengecut mengambil keperawanan gadis tercintanya... Sungguh pria yang tidak masuk akal.'

'Kau sendiri apa sudah mengambil keperawanan?... Haa jangankan keperawanan, Betina saja kau tidak punya... Dasar Rubah Jomblo.'

'Konoyaro... Janganka-'

'Baiklah akan kulakukan!' Potong Naruto agak pelan.

'Baguslah... Dan selamat menikmati gadis tercintamu Hentai-Gaki... Aku akan memutus Link kita sementara agar tidurku tidak terganggu desahan erotis kalian berdua.' Ucap Kurama dan langsung memutus telepati dan Link mereka.

Kini wajah Naruto memerah mendengar ucapan terakhir Kurama. Kushina yang melihat hal itu pun sedikit heran.

'Sebenarnya ini salah... Disaat Baa-chan, Ero-sennin dan yang lain tengah berduka... Aku malah akan melakukan hal bejat.' Naruto mendesah pelan. 'Sialan kau Kurama... Icha-Icha Paradise beserta penciptanya.'

"Kurasa kau memang ada benarnya Shika... Wanita itu merepotkan." Gumam Naruto sangat pelan yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.

"Kau mengatakan sesuatu Naru-kun?" Tanya Kushina.

Naruto menggeleng pelan sambil membuka telapak tangan di depan dada. "Tidak kok... Tidak mengatakan apa-apa." Ucapnya sambil menggeleng pelan lalu memandang serius kekasihnya. "Kutanya sekali lagi Kushi-chan... Apa kau yakin ingin melakukan itu? Dan yang kita lakukan ini sebenarnya salah... Baa-chan, Ero-sennin... Kurenai-san tengah berduka dan kita malah melakukan ini."

Kushina hanya mengangguk dengan rona merah kembali merembes di wajahnya. "A-Aku sangat yakin... Lagipula sebentar lagi desa akan mengalami perang... aku takut tidak ada kesempatan lagi untuk membahagiakanmu sebelum... Mmmphhh~~"

Bibir Kushina kembali di kunci oleh Naruto. Ciuman yang awalnya hanya dilandasi rasa cinta mulai berubah menjadi nafsu. Naruto mulai menginvasi mulut Kushina dengan lidahnya dan mengabsen satu per satu gigi Kushina. Seteleh beberapa menit, Naruto melepaskan bibirnya karena kebutuhan udara.

"Jangan katakan itu... Aku akan berusaha agar tidak satu pun keluarga kita mati di medan perang nanti!"

.

.

.

.

.

Warning : Lemon

Naruto menghembuskan nafas pelan sambil mendekatkan kembali wajahnya ke Kushina. Gadis bersurai merah itupun menutup mata dan menunggu bibir Naruto menyentuh bibirnya.

"Mmmpphh..."

Kushina mengerang lembut ketika Naruto memberikan tekanan kecil ke ciuman mereka, tangannya mulai mencari jalan ke leher belakang Naruto dan ikut memberikan tekanan ke ciuman mereka. Baik Naruto maupun Kushina sama-sama menikmati ciuman mereka. Tangan Naruto pun mulai bergerak ke punggung bawah Kushina lalu mengankat tubuh kekasihnya ke ranjang masih dalam keadaan berciuman.

"Mmmpphh..."

Kushina dan Naruto sama-sama mengerang lembut ketika tubuh keduanya terjatuh di atas ranjang dengan posisi Naruto berada di bawah. Surai merah Kushina menutup wajah keduanya yang tengah berciuman dari samping.

"Mmpuuahh..."

Naruto mendorong lembut Kushina di bagian pipi ketika keduanya sama-sama membutuhkan pasokan udara. Beberapa tetes saliva terlihat di sudut bibir keduanya.

"Ada apa Naru-kun?"

"Haa... Haaa... Apa kau mau aku mati kehabisan udara... Jangan terlalu agresif dong, ini pertama kalinya untuk kita... Jadi lakukan dengan santai saja... Kau mengerti maksudku 'kan?" Kushina mengangguk dengan wajah sedikit cemberut namun rona merah masih tetap hinggap di kedua pipinya.

Naruto kemudian mengubah posisi menjadi duduk dan Kushina berada di pangkuaanya. Dan tanpa pikir panjang Naruto kembali mencium Kushina dengan nafsu sedikit meningkat. Tangan nakalnya mulai bergerak ke pinggul Kushina dan menarik perlahan T-Shirt yang digunakan gadis bersurai merah itu.

Kushina menarik kepalanya dari wajah Naruto sambil mengankat tangan sehingga memudahkan Naruto membuka baju yang ia kenakan. Kini di depan Naruto terpampang jelas dua gundukan daging yang masih tertutup BH merah. Tangan Kushina segera membuka kaitan BH di punggungnya dan langsung membuka BH-nya sehingga Payudara berukuran normal dengan puting merah muda terpampang jelas di depan Naruto.

"Indah!" Gumam Naruto secara tidak sengaja membuat Kushina semakin merona. Tanpa menunggu lama, Naruto langsung melancarkan serangan pertamannya dengan meremas pelan payudara kiri di depannya sedangkan wajahnya mulai ia dekatkan hingga akhirnya mulai menjilat, mengisap dan melakukan segala macam permainan mulut di payudara kanan Kushina.

"Aahhhhh..." Kushina mendesah pelan dan mulai menjambak pelan surai pirang Naruto yang berada tepat di depan dadanya. "Akhhh... N-Naru-kun... Ahkk.." Kushina memekik pelan ketika Naruto menggigit puting merah muda kirinya dan tidak tangan pemuda pirang itu semakin memperbaiki permainan tangan pada payudara kirinya.

"Akhhh... Ahhh... Na-Naru jangan berhenti... Ahhh... Ahhh~" Desah Kushina.

Naruto berhenti sejenak lalu kembali melakukan ritual erotisnya.

"Ahhhhhhhh..." Kushina mendesah panjang ketika Naruto menghisap payudaranya.

10 menit memainkan payudara kekasihnya. Naruto mengankat gadis merahnya dan membaringkannya di ranjang tepat di sampingnya. Naruto hendak berdiri akan tetapi Kushina sudah terlebih dahulu menarik posisi Naruto langsung terlentang di samping Kushina.

"Sekarang giliranku Naru-kun." Ucap Kushina dengan nada sensual yang nafsunya mulai keluar. Ia segera bangkit dan duduk atas paha Naruto. Secara perlahan ia menarik celan hitam 3/4 Naruto beserta celana dalam sehingga penis Naruto akhirnya muncul dengan keadaan tegap senjata.

Pipi Kushina kembali dipenuhi rona merah melihat penis Naruto yang ukurannya normal-normal saja. Dengan pelan dan agak malu-malu karena baru pertama kalinya dia melakukan hal ini, Kushina menggerakkan tangan kanannya ke penih Naruto.

"Ahhhh..." Naruto mendesah pelan ketika pangkal penisnya dipegang oleh Kushina.

"Aha... Ahh... Ahhh..." Desahan Naruto pun berlanjut ketika Kushina mulai menggerakkan tangan ke atas dan bawah secara pelan.

Desahan Naruto terus berlanjut selama 5 menit karena Kushina terus bermain tangan di penisnya. Kushina perlahan mendekatkan wajahnya yang kembali merona ke penis kekasihnya.

"Akhhh..." Desahan kembali keluar dari mulut Naruto ketika bibir basah Kushina menyentuh kepala penisnya. Hingga akhirnya Kushina memasukkan kepala penis Naruto ke mulutnya dan membuat Naruto kembali mendesah panjang.

"Ahhhhhhhh... Ahhhhhhhhh..."

Kushina menghiraukan desahan Naruto dan mulai mengulum penis Naruto hingga membuat pemuda pirang itu kembali mendesah merasakan kenikmatan di penis.

"Ahhhhhh... Ahhh... Ahhh..."

Naruto mengankat tubuh bagian atasnya dan membelai lembut surai merah Kushina yang masih sibut memainkan penisnya.

"Ahhh... Terus Kushi-chan... Ahhh... Terus..."

Kushina menaikkan tempo gerakan kepalanya sehingga Naruto menjadi sedikit liar dan mengeluarkan desahannya.

"Ahhh... Ahhhh... Ahhhh... Ahhhhhhhhhhhhhhh~~"

Desahan panjang Naruto akhirnya keluar dan perlahan batang penisnya sedikit berkendut.

"Ahhhhh... A-A-Aku kelu... Ahhhhhhhhhhhh~~" Cairan kental tiba-tiba menyembur dari penis Naruto yang berada di dalam mulut Kushina yang wajahnya memerah merasakan untuk pertama kalinya sebuah sperma di dalam mulutnya.

Plup!

Kushina mengeluarkan penis kekasihnya dari dalam mulut sehingga cairan putih kental menetes dari mulutnya. Semakin memerahlah wajah Kushina yang mata kirinya terpejam ketika Naruto menatapnya dengan senyum tipis misterius.

"Sekarang giliranku... Benihime-chan!" Ungkap Naruto dan direspon anggukan oleh Kushina masih dengan ekspresi wajah memerah dan mata kiri tertutup serta sedikit cairan kental di sudut bibirnya.

Naruto menurunkan secara paksa celana panjang yang dikenakan Kushina lengkap dengan celana dalamnya. Setelah itu langsung memutar balikkan posisi mereka.

"Akkkhhh...!" Kushina memekit secara tiba-tiba ketika sebuah serangan mendadak jatuh ke bibir vagina-nya yang mulai basah.

"Kau sudah basah Benihime-chan." Goda Naruto membuat Kushina kembali merona untuk kesekian kalinya.

"Ahhhhh... Ahhhhh ... Ahhkkhhhhh... Akhhhhhh..." Kushina mendesah tidak karuan ketika Naruto mulai memainkan jari telunjuk di bibir vagina-nya yang mulai basah.

"Ahhh... Naru-kun... Ahhhhh... Ahhhhh... Pe-pelan... Pelan... Ahhhhh~~" Desah Kushina dengan nada terdengar sedikit sensual.

Setelah puas memainkan bibir vagina Kushina, jari telunjuk nakal Naruto mulai menginvasi lubang sempit vagina Kushina secara perlahan.

"Ughhh..." Erangan pelan Kushina terdengar pelan di telingan Naruto sehingga pemuda pirang itu menghentikan pekerjaan jari telunjuknya sejenak. Setelah nafas Kushina mulai terdengar normal, Naruto pun memainkan dengan menggoyang-goyangkan jari telunjuknya dengan gerakan lembut.

"Aahhhh... Ahhhhh~" Desah Kushina menikmati permainan jari nakal Naruto di liangnya.

Jari Naruto mulai merasakan dinding Vagina Kushina berkendut-kendut dan sebuah desahan panjang dari Kushina pun terdengar. "Ahhhhh... A-Aku ke-keluar... Ahhhhhhhhhhhhh~" Cairan cinta Kushina tiba-tiba merembes keluar melewati jari Naruto.

"Haa... Haa... Haaa..." Nafas Kushina terdengar ternggal-senggal setelah mengalami Klimaks untuk pertama kalinya.

Naruto menunggu beberapa menit hingga nafas Kushina terdengar normal. Ia pun tersenyum menadang sang kekasih. "Apa kau sudah siap Benihime-chan?... Ronde utama sudah menunggu... Hehehe!"

"Tch..." Kushina mendecih pelan dengan wajah memerah. "Tadi tidak mau melakukannya... Eh sekarang malah bersemangat."

Naruto tersenyum kukik dan berkata. "Itu 'kan tadi... Sekarang beda."

"Jadi bisa kita mulai?" Tanya Naruto sedikit menyeringai.

Kushina mengangguk dengan wajah merona. Naruto memandang sejenak vagina bersih tanpa bulu milik kekasihnya itu dengan wajah sedikit memerah. 'Indah dan bersih terawat.' Hanya itu yang bisa Naruto ungkapkan melihat pemandangan indah di depannya matanya. memajukan tubuhnya dan memposisikan kedua lengannya sebagai tumpuan pada ranjang di samping payudara Kushina dan mengurung gadis bersurai merah.

"Naru-kun..."

Naruto menatap wajah Kushina yang berada di bawahnya. "Tenang saja... Kuusahakan selembut mungkin." Ucap Naruto lalu tersenyum tipis dan perlahan tangannya mulai ia gunakan untuk menuntun kemaluannya ke pintu surge dunia kaum lelaki.

"Akkkhhhhh..." Kushina mengerang dalam kenikmatan dan sedikit rasa sakit ketika kepala penis Naruto memasuki lubang sempit vagina miliknya.

"S-Sempit...!" Naruto terus mendorong kemaluannya di dalam vagina Kushina hingga mencapai sebuah selaput tipis. Dan dalam satu kali hendakan pinggul pecahlah selaput tipis tersebut.

"Ukkkkhhhhh... Itee... Mmphh~" Kushina mengerang kesakitan selaput dara-nya ditembus oleh Naruto sebelum bibirnya dikunci bibir Naruto untuk membantunya menghilangkan rasa saklit secara perlahan. Cairan bening terlihat dari pelupuk mata Kushina tanda bahwa apa yang baru saja terjadi benar-benar sakit bukan main.

Naruto menarik wajahnya dan memisahkan bibirnya dari Kushina dan menatap khawatir kekasihnya yang masih memasang ekspresi kesakitan. "Gomen... Aku tak menyangka akan sesakit itu Kushi-chan." Ucap Naruto sedikit pelan dan sedikit menyesal membuat Kushina kesakitan karena perbuatannya.

Kushina menggeleng pelan dan membelai halus pipi Naruto yang berada di atasnya. "Tidak apa... Itu tidak terlalu sakit dan dengan ini aku akhirnya bisa membalas semuanya Naru-kun." Jelas Kushina namun ekspresi wajahnya masih terlihat sedikit kesakitan.

Naruto tersenyum kembali dan mematuk bibir Kushina untuk kesakian kalinya. Dan perlahan pinggulnya mulai bergerak pelan dan hasilnya Kushina mendesah dalam keadaan berciuman dengan Naruto.

"Mmmph... Ahh... Mphhh... Aahhh..."

Sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya secara pelan, Naruto mulai menurunkan ciumannya ke leher dan akhirnya berhenti di payudara kiri Kushina. Dengan mulut dan hidung, Naruto mulai mendaki gunung itu dengan lembut.

"Ahhh... Ahhhh... Terus Naru... Ahhh... Terus..."

'Ughh... Dinding vagina Kushi-chan benar-benar sempit... Benda kramatku dipijit.' Naruto membatin sambil menaikkan tempo gerakan pinggulnya sehingga desahan Kushina semakin menjadi-jadi karena kemaluannya Naruto sudah mencapai rahimnya.

"Ahhh... Ahhhhhhhh~~"

Naruto terus menggoyangkan pinggulnya ke depan belakang penuh kasih sayang selama hampir 10 menit... Nafsu? Persetan dengan itu, Naruto tidak mau terlalu larut dalam hal itu yang malah akan membuat Kushina kesakitan. Gadis... Ralat, Wanita bersurai merah itu harus bersyukur karena Naruto tidak terlalu termakan nafsu. Karena jika sampai hal itu terjadi. Tidak dapat terbayangkan seorang Monster yang ketika bertarung melampiaskan nafsu bejatnya secara keseluruhan dalam pertarungan di ranjang.

Kushina kembali mendesah dan kali ini terdengar agak keras karena merasakan vagina-nya berkendut.

"Ahhhh... A-Aku hampir k-keluar Naru... Ahhhh... Ahhhh..."

"A-Aku ju-juga Kushi-chan... Ahhhhhh~~"

"Ke-Keluarkan didalam... Ahhh... Naru...~~"

"Ba-Bagai... Aaaakhhhhhhhhh~~"

"Aaaakhhhhhhhhhhhhhhhh...~~"

Belum sempat mengatakan sesuatu. Naruto dan Kushina secara bersamaan mencapai batas mereka. Cairan cinta Kushina melumuri hampir seluruh bagian penis Naruto yang terkubur dalam pada vaginanya sedangkan rahimnya sudah merasakan cairan kental yang berasal dari penis Naruto.

"Akhhh..." Pekik Kushina ketika Naruto mengeluarkan kemaluannya dari lubang vaginanya.

Dua cairan kental terlihat di penis Naruto begipula dari lubang vagina Kushina. Dengan nafas terengah-engah, Naruto menjatuhkan tubuhnya di samping kiri Kushina dan membungkus kekasihnya itu dalam pelukan.

"Gomen... Aku mengeluarkannya di dalam Kushi-chan." Kata Naruto lembut. "Dan kau beruntung aku masih menahan nafsuku."

Kushina menggelang pelan. "Tidak apa Naru-kun." Ia lalu mendongak dan menatap wajah kekasih pirangnya. "Kenapa kau menahannya?"

"Aku takut kau trauma karena rasa sakitnya dan ini juga pertama kalinya untuk kita... Aku pernah membaca di novel Kuso-Jiji kalau nafsu seseorang lepas kendali... Mereka akan bertingkah seperti hewan saat melakukan itu."

Kushina mengkerutkan kening. "Jadi... kau sudah membaca novel itu Na-ru-kun?"

"J-Jangan salah paham... Aku membacanya secara tidak sengaja tau." Sanggah Naruto. "Sudahlah... lebih baik kita beristirahat, aku lelah!" Naruto menggunakan kaki kirinya untuk menarik selimut dan menutupi tubuh bagian bawahnya karena ia masih mengenakan T-Shirt dan tubuh telanjang bulat Kushina.

"Arigatou Naru-kun..." Ucap Kushina.

"Hmnn..." Naruto bergumam pelan dan mencium pucuk kepala Kushina.

.

.

.

.

.


TBC !

[TrouBlesome Cut]


Fiuhhh... Setelah hampir 2 Bulan tidak Update Fic ini... Saya minta akan hal itu dan sebagai gantinya... Chapter ini berisi Word 12K Bersih dengan Tiga Adegan yang benar-benar Amburadul... Fight yang kagak Hot... Adegan kematian Asuma yang gak dapar Feel-nya sama sekali... Dan terakhir, Lemon yang benar-benar gak Asem dan Gaje sekaleee serta kependekan '-')

Dan Maaf karena Lemon-nya saya masukkan di Chapter ini dn mengganggu Feel kematian Asuma... Itu karena di Chapter depan tidak ada Scene yang tepat untuk menaruh Lemon... Apalagi saya sudah berjanji untuk menaruh lemon di Chapter ini.

Oh iya... Beberapa dari kalian mungkin bertanya-tanya kenapa Naruto tidak menggunakan [Gakido] untuk menyerap [Raiton] Kakuzu... Penjelasannya sudah ada sedikit... Yaitu Pikiran dan aliran chakranya terganggu karna gambaran Kushina mati jadi ia tidak sampai kepikiran untuk menggunakannya... Untuk penjelasan lebih yang lengkap, akan ada di Chapter depan.

Chapter ini juga sebagai penutup Arc VIII ini... Dan dengan itu, tinggal 3 Arc lagi sebelum PDS-4...

Arc selanjutnya adalah Acr IX [Dua Uchiha]... Di Arc ini lebih berfokus ke Sasuke dan Itachi, tapi Naruto dan Uzushiogakure tetap ambil bagian.

Untuk Balasan Review yang memiliki Akun... Akan saya balas bersamaan dengan Review Chapter ini.

.

.

Balasan Review non-Login

Mao-chan : Makasih Pujiannya dan Tebakan anda benar... yang terluka itu Naruto Hehehe...

Cah uzumaki : Pertarungan Tim hampir sama di beberapa bagian... Dan untuk kedua Immortal itu... Saya tidak memasukkan ke Uzushiogakure karena sifat mereka yang doyan membunuh tanpa rasa kasihan sedikit pun

Annas32 : Gak selamanya 'Sampah' itu buruk/Jelek... Ada yang namanya 'Daur Ulang' :v

aldhi : Saya sudah mencoba untuk mempersingkatnya tapi bagi saya itu lumayan sulit karena beberapa reader meminta Fight-nya sedikit dibuat Detail.

Shuichi : Haha... Itu cuman penggabaran vroh... Dan makasih telah mengingatkan tentang Typo.

uchiha sabai : Hadeh... Karena Akun anda PM-nya gak aktif saya akan balas disini saja... Kudet? Haha... Sebenarnya di Laptop saya hampir semua Jutsu Naruto ada... Mokuton buat rumah? Noh diatas udah ane keluarin beberapa... Rinnegan? Itu saya simpan... Dulu Naruto masih terlalu muda jadi ia menjadi marah dan mengeluarkannya... Dan masalah punya 5 elemen... Anda harus tau hal ini.

"Untuk apa menggunakan Jurus berdaya serang kuat, kalau bisa mengalahkan dengan kunai saja."

ShinigamiCROW : Makasih... Asuma tetap dibunuh ama Pengikut Aliran sesat itu vroh.

Untuk yang Me-Review... Lanjut... Next Dn sebagainya... Ini sudah saya lanjut walaupun kelamaan.

.

.

Oke... Mungkin itu saja yang perlu saya sampaikan... Saya mengucapkan Terima Kasih telah Menunggu... Fav... Follow... Me-Review... Ataupun sekedar membaca Fic ini.

Terakhir... Jangan lupa meninggalkanl komentar mengenai Chapter ini... Baik itu Saran, Tanggapan, Apresiasi atau... Flame?

Tulis semuanya pada Kotak Review dan akan saya tampung menjadi satu dan membalasnya bersama Review Chapter sebelumnya.

.

RootWood Out!