Tittle : The Chronicle of Trio Uzumaki.
Disclaimer : Saya tidak pernah mengakui kepemilikan atas Naruto dan ataupun unsur dari Anime/Manga lain yang muncul dalam Fic ini.
Genre : Adventure, Friendship, Family, Etc.
Rate : M
Pairing : Naruto U. x Kushina U. – Karin U. x ?
Warning : Typo's, Miss-Typo's, Bahasa Gado-Gado, Mainstream, OOC, OC, Adult-Scene, Overpower!Naru, Rinnegan!Naru, NaruKarin!Sibling, MoreFriendly!Kurama, DLL.
Author Note :Saya hanya meminjam karakter ataupun unsur dari Naruto atau beberapa dari Manga/Anime lain untuk membuat Fic ini . . . . Jadi, maklum saja jika tidak ada kesamaan dari karakter atau unsur lain yang ane ambil. Baik sedikit maupun banyak.
.
.
.
.
.
Arc IX : Dua Uchiha!
Chapter 38 : Kekacauan di markas Orochimaru!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Suram dan menakutkan. Itulah gambaran sebuah gua yang letaknya tidak diketahui secara jelas. Di dalamnya terdapat sebuah patung berukuran sangat besar, berpose seperti tengah memanjatkan doa dengan jari-jari yang tidak merapat. Memiliki 9 kelopak mata yang 5 kelopak sudah terbuka secara sempurna. Di 6 diantara 10 jari patung besar itu, berdiri hologram manusia berbagai macam bentuk.
Beberapa menit dilanda suasana suram yang menakutkan. Salah satu hologram manusia di sana pun memecah kesuraman dengan tertawa garing membuat 4 hologram lain langsung mengalihkan pendangan ke arahnya. Hologram itu terlihat seperti pria tinggi yang pada bagian punggung terdapat sebuah pedang besar.
"Dua anggota kita kembali Wassalam ternyata . . . ." kata hologram itu setelah mengakhiri tawa garingnya selama beberapa detik, nada yang digunakan pun terkesan mencibir dua anggota dari organisasi rank-SS itu, "Semoga arwah mereka tenang di alam sana, hahahahah..." kata hologram pria berpedang itu menyambung perkataannya yang sempat diberi jeda agar anggota lain dapat memperhatikannya, lalu diakhiri dengan kembali tertawa garing seperti di awal-awal ketika memecah kesuraman tempat itu.
"Itu mustahil . . . . Sangat mustahil malahan, Kisame!" horogram berambut gonrong dan memiliki poni yang menutup mata sebelah kirinya langsung berucap menyanggah doa yang dipanjatkan oleh hologram yang diketahui bernama Hoshigaki Kisame.
"Haa... Apa maksudmu, Deidara?" kata Kisame melayangkan sebuah pertanyaan sembari, mengalihkan pandangan menuju hologram dari orang bernama Deidara.
Hologram bernama Deidara itu mengibas-ngibaskan tangan kanan di udara, lalu mulai menjelaskan."Apa kau lupa kalau si bodoh Hidan dan Kakuzu brengsek itu, sama-sama tidak ada yang normal. Hidan yang selalu menyembah dewa sesatnya dan Kakuzu yang selalu menganggap kertas hijau bodohnya adalah dewa. Jadi mustahil kalau arwah mereka bisa tenang di alam baka!"
"Hmnn..." Hologram Kisame memasang pose berpikir, mengusap dagu dengan tangan kiri. Selang beberapa detik, "Benar juga. Tumben otak bom-mu bekerja, Deidara!" katanya membenarkan omongan Deidara lalu mencibir hologram pria bom itu diikuti kekehan pelan.
"Hoiy, kau memuji apa menyindir, muka hiu?!" emosi Deidara sedikit naik, penyebabnya sudah pasti karena cibiran dari Kisame barusan. Ah, dasar hiu sialan! Tidak tau arti dari seni Deidara.
"Entahlah!" kata Kisama acuh tak acuh menjawab pertanyaan si manusia bom.
"Brengsek, sini kau muka hiu! Akan keledakkan tubuhmu dengan seni milikku!"
Kisame mengidahkan ancama dari Deidara lalu mengalihkan pandangan ke satu-satunya hologram bergender perempuan di tempat itu. "Ngomong-ngomong , kemana si leader bokep? Tumben dia tidak hadir, apa karena sibuk membaca novel nista miliknya Konan-san?" tanya Kisama yang sedikit penasaran kenapa leader bokep mereka tidak hadir dalam pertemuan kali ini.
Hologram perempuan yang ditanya oleh Kisame menggelengkan kepala. "Aku kurang tau, mungkin dia sudah dalam perjalanan pulang membawa Rokubi." jawab gadis itu dengan nada santai, membuat Kisame mendesah yang maksudnya tidak diketahui.
"Huaaaa~~" Hologram lain tiba-tiba berteriak dengan nada melengking bak speaker sony setelah mendengar penjelasan dari gadis tadi, membuat semua hologram disana mendapat gangguan akibat frekuensi suara dari teriakannya yang cetar membahana pada gua itu.
"Ero-Taichou benar-benar hebat! Melawan monster berekor enam seorang diri."
"Cih, uruse yo Tobi!" Deidara sedikit jengkel mendengar pujian dari hologram bernama Tobi, pujian tidak berguna yang tidak seharusnya diucapkan, untuk apa si leader bokep menjadi ketua mereka jika tidak mampu melakukan tugas seorang diri.
"Baru ditinggal beberapa jam, kalian sudah membuat gaduh. Dasar anggota tidak tau diatur!"
Suara datar tiba-tiba terdengar dari mulut gua tempar organisasi Rank-SS ini tengah berkumpul, seketika membuat beberapa anggota organisasi itu bungkam di tempat. Secara serentak, mereka semua mengalihkan pandangan ke mulut gua dimana seseorang berambut orange model jabrik tengah berdiri sambil meneteng pria yang tidak sadarkan diri di punggung.
Mengedarkan pandangan sejenak, pria berambut orange itu menatap satu per satu anggota organisasi yang dipimpin olehnya. "Sepertinya semua hadir." katanya agak datar setelah itu mulai melangkahkan kaki menuju patung besar yang berjarak sekitar 10 meter darinya.
"Mari kita mulai penyegelan Rokubi!" kata pria itu sambil melempar tubuh yang dibawa ke permukaan tanah layaknya sebuah sampah tidak berguna.
Tubuh yang dibawa olehnya merupakan kontener dari monster berekor enam, memiliki penampilan pemuda tampan berambut hitam dengan poni yang menutupi setengah wajah dan mengenakan kimono biru muda.
Menghela nafas sejenak, pria berambut orange itu mendongak ke atas menuju salah satu jari patung besar Gedou Mazou yang merupakan cangkang dari mahluk pembawa malapetaka ratusan tahun silang. Dan kini ia bermaksud membangkitkan mahluk itu untuk kedua kalinya demi mencapai tujuan dari Akatsuki, Organisasi yang dipimpin olehnya.
"Apalagi yang ditunggu, Taichou-san?" Ucap Kisame melayangkan pertanyaan dengan nada bercanda, mencoba mengurangi aura suram di gua tempat mereka. Tapi yang didapat malah tatapan datar dari orang yang dipanggil Taichou-san. Mendapatkan tatapan yang tidak kalah datar dari partnernya, Uchiha Itachi. Kisame mendesah pelan.
"Haaaa... Jika sembilan orang saja memakan waktu lama, apalagi tujuh orang. Jadi bisa kita mulai ritualnya?" kata Kisame sekali lagi dan kali ini tidak ada lagi nada bercanda, melainkan serius menanyakan kapan dimulainya ritual yang dimaksud.
"Kisame benar, sebaiknya kita mulai saja." Timpal partner dari orang bernama Kisame dengan nada tenang. Partner Kisame itu adalah seorang pemuda muda yang sudah memiliki keriput pada wajahnya. Uchiha Itachi namanya, pelaku dari pembantaian besar-besaran klannya sendiri yang hanya menyisahkan adik tercinta-nya, Sasuke.
Entah apa yang tengah dipikirkan oleh Itachi sehingga membuatnya sedikit nimbrung dalam permasalahan ritual dari Akatsuki. Biasanya ia hanya diam tanpa melontarkan sepatah kata pun. Tapi kali ini berbeda, firasatnya mengatakan bahwa adiknya akan segera melakukan pencarian. Itulah kenapa Itachi ingin segera pergi dari tempat suram nan menakutkan ini.
.
"Baiklah . . . ." Pemimpin dari Akatsuki akhirnya merespon pertanyaan dari Kisame. pemuda ini memberi sedikit jeda lalu melompat menuju jari tangan patung besar tempatnya untuk ikut serta dalam penyegelan monster berekor enam, [Rokubi]. "Mari kita mulai!" Sambung si pria berambut orange itu, mulai merangkai segel tangan yang cukup rumit.
[Fuinjutsu: Genryu Kyu Fyujin]
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di kawasan yang lokasinya berada di perbatasan desa Kusagakure. Seorang pemuda berambut raven model menyerupai bokong ayam, mengenakan kimono putih perpaduan biru. Di kedua lengan pemuda itu, terpasang sebuah wristband sepanjang 20 sentimeter berwarna hitam pekat. Pada bagian pinggul si pemuda, tersampir sebuah sarung katana.
Uchiha Sasuke, nama pemuda itu. Hendak melakukan latihan ringan melawan seratus lebih anak buah Orochimaru di sebuah padang rumput yang sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan rerumputan hijau.
Suasana di padang rumput itu begitu mengcekam dan semakin diperperah dengan cahaya jingga dari matahari terbenam di ufuk barat, memberikan gambaran yang akan terjadi beberapa menit kedepannya. Jika saja bukan seorang shinobi sekaliber Uchiha Sasuke yang berdiri di depan seratus lebih shinobi Otogakure itu. Mungkin kabur kalang kabut adalah pilihan paling bijak apabila tidak ingin mati sia-sia.
"Apa kau yakin ingin melakukannya, Sasuke-san?" Tanya salah satu dari shinobi desa bunyi yang berdiri di barisan paling depan, hanya berjarak 20 meter dari Sasuke. Nada bicara shinobi bergender pria itu terdengar begitu meremehkan. Bagaimana tidak, ratusan shinobi tingkat Chunin dan Jounin melawan satu Nuke-nin dari Konohagakure?
"Hn." Sasuke merespon ambigu, si penanya pun dibuat bingung mengenai arti gumaman Sasuke.
Tapi tak berselang lama, gerakan tubuh Sasuke menjawab keraguan darinya. Pemuda bermuka datar bak tembok markas Orochimaru itu perlahan menggerakkan tangan kiri menuju gagang katana yang tersampir di pinggul.
"Oh, tidak bercanda rupanya." ucap si shinobi barusan, ia pun segera memasang kuda-kuda bertarung diikuti oleh seratus shinobi lain dibelakangnya.
Keheningan pun terjadi di padang rumput tersebut. Beberapa dari shinobi desa bunyi menenguk ludah mereka secara kasar melihat ekspresi datar Uchiha Sasuke yang terlihat begitu mengerikan jika dipandang terus-menerus. Hembusan angin senja sedikit memecah keheningan disana. Membuat helaian rambut raven Sasuke bergerak pelan mengikuti arah hembusan angin.
Tepat setelah hembusan angin berlalu, iris hitam kelam Sasuke berganti menjadi merah darah berhias tiga simbol menyerupai tanda koma.
Suara yang sama ketika hembusan angin tadi berlalu kembali terdengar untuk kedua kalinya, namun kali ini penyebabnya adalah Sasauk yang tiba-tiba melesat menuju sekumpulan lawan latih tandingnya.
"Dia data_" Shinobi yang berada di posisi paling depan seketika melebarkan mata terkejut, hanya dalam hitungan detik saja Sasuke sudah berada tepat di hadapannya dengan katana yang siap dihunuskan.
Dan akhirnya, latihan Sasuke pun dimulai . . . . .
.
.
Beberapa menit kemudian,
"Apa ini?!" Seorang wanita berambut ungu, diam-diam mengintip latihan Sasuke dari kejauhan, terlihat dari sorot mata wanita itu, ia kagum melihat kemampuan si Uchiha bungsu mengalahkan seratus lebih shinobi Otogakure hanya dalam waktu singkat.
"D-dia.. Kuat sekali!" dan tanpa wanita itu sadari, ia memuji Sasuke yang notabene tidak disukai olehnya karena lebih diperhatikan oleh Orochimaru.
.
.
"Seperti biasa, kau tidak membunuh mereka semua. Sasuke-kun." ucap seseorang yang tiba-tiba muncul menggunakan Shunshin di tengah-tengah sekumpulan korban dari hasil latihan seorang Uchiha Sasuke.
"Kabuto, 'kah?" Sasuke berucap datar dalam posisi duduk di atas salah satu korbannya membelakangi orang bernama Kabuto itu.
Sebelum Kabuto mengucapkan kenapa berada di tempat itu, Sasuke mencabut ujung katana yang tertancap pada permukaan tanah, berdiri dengan gerakan pelan dari tempat duduk manusia yang diduduki.
Sasuke kemudian melirik sejenak Kabuto yang berada di belakang. "Sudah kubilang, mau dia mati atau tidak. Aku sama sekali tidak peduli!" Katanya sangat datar, tau maksud kedatangan dari Kabuto yang ingin menanyakan apa dirinya mau menggantikan posisi Orochimaru sebagai pemimpin desa Otogakure.
Ya, kabar kematian Orochimaru sudah tersebar di pelosok desa Otogakure dan beberapa lokasi tempat penelitian si Sannin ular itu. Membuat beberapa bawahan setia Orochimaru ingin membalaskan dendam kepada si pembunuh yang mereka ketahui bernama Uzumaki Naruto, Nuke-nin rank-SS dari Konohagakure.
"Lagipula, dari dulu aku memang tidak berniat datang ke tempat busuk ini. Tujuanku meninggalkan Konoha dan menetap bersama kalian hanya untuk berlatih."
"Ta-tapi . . . ."
Belum sempat Kabuto membalas perkataan Sasuke, pemuda itu sudah menghilang dengan Shunshin, meninggalkan dirinya yang hanya bisa menghela nafas kesal dengan tingkah laku si Uchiha bungsu.
"Guren . . . ." Kabuto berbalik ke belakang dan memanggil wanita yang tadi mengawasi latihan Sasuke dari kejauhan dengan suara lumayan keras agar bisa didengar.
Hanya berselang 1 menit saja, wanita bernama Guren itu pun muncul di samping Kabuto. Ekspresi wajah Guren terlihat begitu penasaran dengan hasil percakapan dari Kabuto dan Sasuke beberapa saat yang lalu.
"Bagaimana?" Tanya Guren tanpa menoleh sedikit pun ke pemuda bermata empat di sampingnya.
"Sama saja, Sasuke-kun tetap menolaknya."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Guren lagi dan kali ini ia menoleh ke samping kiri dengan raut wajah serius. Menunggu jawaban dari Kabuto, dia berpikir sejenak. Sekuat apa orang yang telah membunuh Orochimaru-sama -nya hingga tidak menyisahkan apapun kecuali nama dan kabar kematian.
"Awasi terus pergerakan Sasuke-kun!" ucap Kabuto, menjawab pertanyaan Guren. Setelah itu mendekatkan mulutnya pada telinga wanita itu dan membisikkan sesuatu yang jelas membuat Guren begitu terkejut dengan rencananya yang lain.
Dan tak berselang lama setelah mendengar bisikan dari Kabuto, Guren menyungging seringai misterius. Rencana Kabuto sepertinya akan mewujudkan impiannya selama ikut bersama Orochimaru. Tapi terdapat perasaan ragu-ragu mengenai rencana si mata empat yang menghantaui Guren. Tentu saja mengenai Kabuto yang mungkin saja akan menghianati dia sewaktu rencana mereka sudah berjalan sesuai yang diharapkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan paginya.
Di sebuah rungan pada lokasi persembunyian Orochimaru, Sasuke terlihat duduk dan menyandarkan punggung kekarnya pada sandaran tempat tidur yang diduduki. Tangan kanannya terlihat memainkan sebuah kunai yang berbeda dari kunai pada umumnya. Memiliki tiga mata yang begitu tajam dan pada bagian gagang terdapat sebuah tulisan kanji.
"Kau lama sekali, Naruto!" Kata Sasuke datar lalu mendongak ke atas, menatap langit-langit dimana seorang pemuda berambut pirang jabrik tengah berdiri dengan posisi terbalik disana.
Pemuda bernama Naruto itu mengenakan baju jaring-jaring pada bagian dalam dan dilapisi rompi standar Jounin desa Uzushiogakure. Celana standar Chunin hitam dan sepatu ninja yang warnanya yang sama yaitu hitam. Pada lengan kirinya, terdapat sebuah wristband biru tua sepanjang 10 sentimeter.
"Gomen!" Naruto melompat turun dan mendarat beberapa meter dari tempat tidur yang diduduki oleh Sasuke. "Tadi aku tersesat di dimensi kehidupan saat menggunakan Hiraishin." Kata Naruto dengan santai, mengutaralan alasan bodoh kenapa bisa terlambat padahal Sasuke sudah memanggilnya beberapa menit yang lalu.
"Cih, dasar dobe!" cibir Sasuke datar lalu beranjak turun dari tempat tidur.
Naruto mengidahkan cibiran Sasuke, sekarang ekspresi wajahnya tidak lagi santai. Namun terlihat begitu serius. "Jadi, kapan dimulainya?"
"Secepatnya." ucap Sasuke singkat, datar dan jelas. Menjawab pertanyaan dari Naruto barusan.
Mendengar jawaban singkat Sasuke, Naruto pun menyungging seringai bak dewa kematian. Tidak sabar membuat kekacauan di markas orang yang telah dibunuh dengan sadis hingga tak menyisahkan apapun. Dan memang itulah tujuannya, membunuh Orochimaru hingga ke akar-akarnya, bahkan sesuatu yang ditinggalkan oleh salah satu dari 'Densetsu no Sannin' itu pun Naruto ingin musnahkan.
"Tapi dengan satu syarat . . . ."
"Apa itu?"
"Tidak ada yang boleh dibunuh!"
Kening Naruto tiba-tiba mengkerut. Sekejam apakah pemuda ini dimata Sasuke sampai-sampai memperingatkan agar tidak ada yang dibunuh? Memang sih lumayan sadis, tapi itu hanya terjadi apabila orang terdekatnya disakiti oleh seseorang. Mendesah sejenak, Naruto pun membalas ucapan Sasuke perihal tidak ada yang boleh dibunuh tadi.
"Tenang saja, aku tidak akan membunuh siapapun . ." kalimat yang diucapkan oleh pemuda ini terdengar menggantung, setelah itu Naruto kembali menyungging seringai. Sasuke yang tau jika masih ada lanjutan dari ucapannya barusan sedikit penasaran. "Tapi, akan kubuat mereka yang masih setia dengan ular keparat itu menyesali apa yang telah mereka perbuat!" Sambung Naruto, sedikit memberi kesan misterius pada ucapannya.
Sasuke mendesah pelan, jadi hanya itu yang ingin diucapkan oleh si Uzukage pirang di depannya. Ia pun mengidahkan ucapan Naruto, tidak membalasnya melainkan mendongakkan kepala ke atas sambil berucap dalam hati.
'Suigetsu, inilah saatnya untuk kau bebas dari tempat itu!'.
.
.
Sementara itu, di rungan lain pada lokasi persembunyian Orochimaru. Dipenuhi tabung-tabung yang berisi berbagai macam mahluk hidup untuk data penelitian dan sebagainya. Di sudut lain ruangan itu, terdapat sebuah meja yang diatasnya dipenuhi dengan obat-obatan, beberapa gulungan aneh dan berbagai macam benda lain yang berhubungan dengan penelitian.
Suara gagang pintu yang diputar terdengar begitu pelan tiba-tiba terdengar, tak berselang lama dua sosok berbeda gender berjalan memasuki ruangan itu. Sosok pertama adalah seorang pemuda berambut silver dan mengenakan kacamata. Sosok kedua adalah wanita muda berparas cantik, berambut ungu terang dan mengenakan pakaian yang terdapat sebuah simbol bunga pada bagian punggung.
"Apa kau yakin ingin melakukan ini, Kabuto?" Ucap wanita muda itu, membuka topik perbincangan dengan melayangkan pertanyaan kepada pemuda bernama Kabuto itu. Tentu saja menanyakan tentang rencana yang telah mereka susun bersama.
Kabuto yang sudah sibuk dengan urusannya mencari sebuah gulungan berhenti sejenak dan menatap wanita tadi dengan mata menyipit tajam.
"Kau sudah tau jawabanku, 'kan?" Wanita itu menganggukkan kepala menjawab pertanyaan dari Kabuto. "Makanya tidak usah bertanya lagi dan lebih baik kau bantu aku mencari gulungan yang kumaksud." Tambah Kabuto sekaligus memerintah wanita itu dengan nada datar.
"Cih, awas saja jika nantinya kau menghianatiku, Akan kebekukan kau dengan Shoton milikku."
Kabuto hanya tertawa ringan mendengar ancaman dari si wanita muda yang sekarang menjadi rekan untuk menjalankan rencananya. "Tenang saja, selama rencana ini berjalan mulus, aku tidak melanggar apa yang telah kujanjikan untukmu."
"Ya... ya... terserah kau saja, empat mata." Tepat setelah membalas ucapan Kabuto, wanita itu pun ikut mencari gulungan yang dimaksud.
.
.
Kembali ke Naruto dan Sasuke. Saat ini, kedua mantan Genin Konohagakure ini sudah berada di suatu tempat yang lumayan gelap. Hanya ada satu sumber cahaya yang menerangi tempat itu. Cahaya yang berasal dari sebuah tabung besar berisi air, pada bagian atas dan belakang tabung itu, terpasang puluhan kabel berbagai macam ukuran yang sebagiab besar memenuhi ruangan ini.
"Tempat apa ini?" Tanya Naruto yang tengah berjalan di samping Sasuke sembari memandang seisi ruangan tempat mereka yang dipenuhi dengan tabung-tabung berisi air.
Setelah berada di ujung ruangan yang terdapat sebuah tabung besar yang isinya hampir sama dengan tabung-tabung lain, Sasuke berhenti tepat di depan tabung itu diikuti oleh Naruto.
Si Kage muda menautkan alis, bingung kenapa mereka berhenti di depan sebuah tabung yang isinya hanya sebuah air. Tapi samar-samar Naruto bisa merasakan aliran chakra pada air di dalam tabung tersebut, dan ia pun berpendapat kalau ada seseorang di dalam sana dan sudah pasti adalah salah satu hasil penelitian dari Orochimaru.
"Yoo~~ Lama tidak bertemu, Sasuke!" suara seorang pemuda seumuran dengan mereka berdua terdengar dari dalam tabung.
"Suigetsu . ." pemuda bernama Sasuke bergumam ambigu menanggami sapaan mahluk di dalam tabung tersebut yang bernama Suigetsu, satu dari sekian banyak shinobi penelitian dari Orochimaru, "Sudah saatnya aku menepati janjiku," Sasuke meraih gagang katana miliknya dan menariknya secara pelan keluar dari sarung.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Naruto.
Sasuke tidak menggubris pertanyaan dari Naruto, dalam gerakan cepat dia mengayunkan katana-nya mengerah ke tabung tempat orang bernama Suigetsu bernaung, suara kaca tertebas pun terdengar dan tak berselang lama setelah itu air bening pun mengalir keluar melalui bekas tebasan Sasuke.
Genangan air pada lantai termpat berpijak Naruto dan Sasuke mulai bergerak seolah ada seseorang yang mengendalikannya, bergerak menuju satu titik dan mulai membentuk tubuh manusia, "Haaaaa, akhirnya aku bebas juga dari tempat sesak itu," kata pemuda berambut putih, gigi tajam macam hiu dan tidak mengenakan pakaian sedikit pun -telanjang bulat yang muncul dari air yang membentuk tubuh manusia tadi.
"Tidak tau malu!" cibir Naruto datar melihat penampilan dari Suigetsu yang tidak mengenakan pakaian sehelai pun -telanjang bulat.
"Haaa, siapa kau pirang?" kata Suigetsu dengan nada meremehkan menanyakan identitas dari Naruto yang baru saja mengejek dirinya, "Apa kau teman dari Sasuke?" Suigetsu bergerak menuju Naruto, berdiri tepat di belakang pemuda itu dan menempelkan jari telunjuknya yang dibentuk menyerupai pistol pada surai pirang Naruto.
"Suigetsu hentikan!" perintah Sasuke datar melihat tingkah dari mahluk cair itu, takut apabila bertindak terlalu jauh ke Naruto.
"Kau mengancamku, penari bugil?" tanya Naruto datar melirik ke belakang melalui ekor matanya dan melihat dengan jelas seringai dari Suigetsu, pemuda ini pun menaikkan tekanan chakranya.
'D-dia?!' Suigetsu meneguk kasar ludahnya sendiri, 'Bukan orang sembarangan!' rasa takut mulai menjalar di sekitar tubuh Suigetsu, pemuda zat cair ini pun menjauhkan jari telunjuknya dari kepala pirang Naruto dan mengambil beberapa langkah mundur.
"Kenapa zat cair?" Naruto menyeringai ketika mendengar ucapan dalam hati Suigetsu, "Kau takut aku buat menguap jadi gas?" tanyanya lalu memperlebar seringai yang disungging membuat Suigetsu kembali meneguk ludah secara kasar untuk kedua kalinya.
"Hn." Sasuke segera bergumam datar untuk melerai dua pemuda yang tengah bertikai kecil-kecilan itu, "Naruto, berhenti mengancamnya!" ucapnya membuat Suigetsu mendengus pelan sedangkan pemuda yang diperingatkan malah terkekeh pelan.
Setelah selesai dengan Naruto, Sasuke beralih ke Suigetsu dan menatap jijik orang yang baru dikeluarkan dari dalam tabung. "Dan kau Suigetsu, cepat cari pakaian!" perintahnya sudah seperti pemimpin saja karena tidak tahan melihat kondisi tanpa busana pemuda zat cair itu.
"Are, memangnya ada apa Sasuke? Kenapa terburu-buru?" tanya Suigetsu.
"Lakukan saja, kalau tidak... aku benar-benar akan membuatmu menguap jadi gas!" ancam Naruto yang seketika membuat Suigetsu tidak berkutit dihadap pemuda ini. "Sasuke, aku tunggu kau di depan pintu masuk ruangan ini!" katanya menoleh ke Uchiha bungsu itu. Melihat Sasuke menganggukkan kepala, Naruto pun beranjak meninggalkan ruangan itu. Mungkin Naruto sudah tidak tahan melihat keadaan Suigetsu yang bisa-bisa membuatnya memuntahkan ramen buatan Kushina-nya tadi pagi sebelum ke sini.
"Oi... Sasuke! Kenapa kau menurut sekali dengan orang itu?" tanya Suigetsu setelah Naruto tidak terlihat lagi.
"Kau tidak perlu mengetahuinya." jawab Sasuke datar yang membuat Suigetsu hanya bisa menghela nafas berat karena tidak mendapat jawaban yang diinginkan. Namun, pemuda ini belum sepenuhnya selesai karena wajahnya kini dialihkan ke pintu tempat Naruto keluar. "Tapi, satu hal yang perlu kau ketahui tentang Naruto . . . ."
"Apa itu?"
"Dia itu, kata 'kuat' tidak saja akan cukup untuk menggambarkannya." kata Sasuke membuat Suigetsu merinding sendiri mendengarnya karena baru kali ini mendengar pemuda itu memuji seseorang. "Orochimaru saja bisa ia kalahkan dengan mudahnya." tambah Sasuke semakin membuat pemuda keturunan Hōzuki itu merinding membayangkan seberapa kuat Naruto.
"Kalau ingin segera mengetahuinya, cepat sana pakai pakaianmu." perintahnya kepada Suigetsu yang hanya dibalas dengan anggukan pelan.
Semantara di sisi Naruto. Sembari menunggu Sasuke dan Mangetsu, pemuda ini menciptakan lima Kage Bunshin dan langsung dikirim ke segala penjuru markas Orochimaru. Nampaknya Naruto berniat memberi elemen kejutan beberapa menit lagi untuk para bawahan Orochimaru, terutama Kabuto dan Guren yang tengah melakukan sesuatu di salah satu ruangan.
Beberapa menit kemudian.
"Kalian sudah siap?" tanya Naruto ketika dua orang yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul dari balik pintu tempat pemuda keturunan Hōzuki tadi terkurung.
"Siap untuk apa?" tanya balik Suigetsu setelah menghisap air mineral melalui sedotan botol minuman yang dipegang tangan kanannya dan tentu saja sudah mengenakan pakaian. Pemuda ini bingung, baru datang langsung ditanya sudah siap atau belum untuk melakukan sesuatu.
"Membuat keributan." jawab Sasuke datar.
Suigetsu yang mendengarnya cukup terkejut. "Disini?" tanyanya dibalas anggukan oleh pemuda berambut pantat ayam di samping kirinya.
"Waktunya untuk berdansa!" kata Naruto cukup lantang mengabaikan Suigetsu yang sudah celingak-celinguk mencari tempat sembunyi karena dua orang yang menurutnya tidak punya akal ingin berbuat kekacauan di markas besar Orochimaru. Segel tangan tunggal pun dibentuk Naruto, dan dengan nada santai pemuda ini bergumam mengucapkan nama Ninjutsu yang akan dikeluarkan.
[Bunshin Daibakuha]
Hanya dalam hitungan detik, lima klon yang dikirim Naruto ke segala penjuru markas Orochimaru meledak dan menciptakan ledakan besar. Seketika, puluhan anak buah Orochimaru ditambah ratusan subjek penelitian dari berbagai kalangan ninja di area bawah tanah itu dibuat terkejut.
.
.
Di tempat Kabuto dan Guren.
"Apa itu?!" Kabuto yang sudah menemukan gulungan milik atasannya ikut terkejut. Instingnya langsung bertindak dengan memasang pose melindungi diri serta gulungan yang sedari tadi dicari-cari bersama wanita berambut ungu partnernya dalam menjalan sebuah rencana licik. "Guren!" panggilnya.
Wanita yang dipanggil mengangguk paham, "Kau urus saja urusanmu, biar aku yang memeriksa apa yang terjadi." Guren merapikan apa yang baru saja dilakukan olehnya dengan cepat. Setelah selesai, wanita berambut ungu ini segera berlari menuju pintu keluar.
"Dan ingat!" Guren berhenti tepat di ambang pintu dan menolehkan wajahnya ke Kabuto yang setia memasang wajah tenang seolah-olah tidak ada yang ditakuti wanita itu. "Jika sampai kau berhianat, tau sendiri akibatnya empat mata!" ancam Guren disertai sebuah sorot mata begitu tajam.
"Aku mengerti. Cepat pergilah!" Kabuto menganggukan kepala dengan pelan lalu memberi sebuah perintah kepada Guren yang membuat wanita itu mendecih tidak suka karena diperintah olehnya.
Sebelum benar-benar meninggalkan Kabuto, Guren merangkai segel tangan lalu bergumam pelan.
[Shōton : Suisho Kyo]
Setelah merangkai segel tangan, wanita ini menyatukan kedua telapak tangan kedua permukaan lantai. Udara di depannya tiba-tiba terjadi efek peng-kristalan membentuk sebuah lima cermin kristal.
[Suishō Bunshin No Jutsu]
Dan dan dari kelima cermin itu, keluar lima tiruan sempurna dari Guren
"Tiga lainnya pergi lokasi ledakan dan sisanya berjaga disini." lima klon yang tercipta dari Kekkai Genkai Shōton menganggukan kepala paham atas mendengar perintah Guren.
"Aku akan ke timur, kalian berempat ke lokasi lainnya." kata Guren sebelum berlari menuju arah timur sedangkan 4 klonnya berlari ke lain arah dan satu sisanya tinggal untuk mengawasi Kabuto.
.
.
Kembali ke lokasi Naruto, Sasuke dan Suigetsu.
"Baka!" bentak Suigetsu kepada Naruto karena tindakan pemuda pirang itu. Tidak peduli jika Naruto lebih kuat darinya karena menurut Suigetsu, seberapa kuat pun Naruto tidak akan mampu menghadapi puluhan anak buah Orochimaru ditambah ratusan subjek penelitian yang belum diketahui seperti apa kemampuannya. "Sadar tidak? Kau baru saja menggali kuburanmu sendiri! Dan parahnya aku juga ikut-ikutan." tutur Suigetsu tidak jelas karena pertama melayangkan sebuah pertanyaan lalu merutuki kesialannya yang sudah pasti akan terlibat dalam kegiatan Naruto dan Sasuke.
"Damare Suigetsu!" bentak Sasuke datar yang seketika membuat Suigetsu diam ditempat layaknya dibentak atasannya. "Diam dan ikuti saja apa yang sudah kami rencanakan." kata Uchiha bungsu ini sembari melirik pemuda pirang di samping kanannya.
"Naruto, jelaskan rencananya."
'Kami? Dasar Uchiha sialan!' batin Naruto agak kesal sekaligus sweatdrop melihat tingkah Sasuke yang mengaku-ngaku bahwa ini adalah bagian dari rencana mereka, padahal hanya Naruto seorang yang merencanakannya. Nampaknya Naruto harus mencatat satu hal penting tentang Sasuke yaitu tidak mau kalah atau diperintah seenaknya.
"Baiklah," menghela nafas sejenak, Naruto kemudian menatap secara bergantian dua pemuda berbeda gaya rambut di dekatnya, "Kelima ledakan tadi sudah menutup jalan keluar dari tempat ini. Jadi, kemungkinan besar tidak akan ada yang keluar dengan mudah kecuali menghancurkan langit-langit atau menggunakan tehnik teleportasi . . . ."
"Itu berarti kita juga terperangkap?" tanya Suigetsu heran kenapa Naruto malah menutup jalan keluar.
"Diam dan dengarkan dulu penari bugil!" bentak Naruto yang lagi-lagi dibuat kesal. Namun kali ini giliran Suigetsu yang membuatnya kesal. "Masalah itu biar aku yang urus!" katanya dengan nada sedikit ditinggikan agar Suigetsu mau diam dan tidak menyela penjelasannya lagi.
"Iya... iya... aku diam!" kata Suigetsu dengan wajah malasnya.
"Pertama-tama kita singkirkan dulu semua anak buah Orochimaru, setelah itu bebaskan semua tahanan dan subjek penelitian. Ingat, saat membebaskan jangan sembarang membebaskan." jelas Naruto, Sasuke yang paham maksud dari peringatan terakhir tadi hanya menganggukan kepala. Sedangkan Suigetsu yang berotak standar memilih diam karena belum paham, "Maksudku itu . . . ." Naruto menggantungkan kalimatnya lalu melirik Suigetsu dengan sorot mata tajam.
"Yang boleh dibebaskan hanya mereka yang masih memiliki akal sehat. Sedangkan yang sudah tidak punya, lumpuhkan saja terus kita kurung di tempat ini agar tidak mengganggu penduduk yang tinggal di sekitar sini . . . . Paham?" jelas si Naruto sejelas mungkin agar otak standar nasional Elemental Nation Suigetsu paham.
Dan benar saja, butuh sekitar 3 menit bagi Suigetsu untuk memahami apa yang dijelaskan oleh Naruto. "Aku mengerti, Err... Naruto-san?" katanya paham diikuti sebuah pertanyaan yang mengarah ke Naruto untuk memastikan panggilan apa yang cocok untuk pemuda pirang itu.
"Terserah kau saja, asal jangan yang aneh-aneh." jawab Naruto yang paham nada bicara Suigetsu yang terdengar seperti pertanyaan.
"Baiklah, mari kita mulai dengan melumpuhkan 20 keroco dari arah sana." Naruto memutar tubuh beberapa derajat ke kiri menghadap lorong gelap yang samar-samar terdengar banyak suara langkah kaki dan teriakan. "Dan ingat, jangan ada yang dibunuh. Cukup dilumpuhkan saja!"
"Ikuze!"
Naruto mulai berlari, diikuti Sasuke dan Suigetsu yang tampaknya tidak rela ikut-ikutan masalah duo Uzumaki-Uchiha di depannya. Tapi apa boleh buat! Dia sudah dibebaskan oleh mereka dan apabila tidak membantu, pemuda ini pasti dijadikan zat gas oleh Naruto. Membayangkannya saja membuat Suigetsu merasa ngeri sampai ke tulang-tulang apalagi benar-benar terjadi.
'Entah kenapa aku bingung, apa hari ini aku beruntung atau malah sial?' tanyanya dalam hati sambil berlari dengan tampang oga-ogahan tidak rela di belakang Naruto dan Sasuke.
"Berhenti mengeluh atau aku benar-benar menguapkanmu zat cair!"
"Ha'i... ha'i... Taichou-san!"
Hanya dalam waktu beberapa detik saja, ketiga pemuda berbeda warna rambut ini sudah berhadapan dengan 20 orang berpakaian armor shinobi Otogakure. Sasuke dan Naruto langsung merangsek dengan kecepatan tinggi masuk ke kerumunan shinobi Otogakure itu, membuat seperempat dari mereka pun terpental dan menabrak dinding hingga pingsan.
Saat Naruto berhadapan dengan salah satu shinobi Otogakure yang mengenakan katana biasa, dengan mudahnya pemuda ini melumpuhkan lawannya dengan Taijutsu. "Penari bugil, tangkap!" pemuda ini mengambil katana tadi dan dilempar ke Suigetsu yang tengah bertarung cukup sengit.
"Sankyu, Naruto-sama!" Suigetsu menangkap katana itu dan langsung menebas lawannya. Naruto sempat sweatdrop saat pemuda tadi mengubah panggilannya.
Sasuke mengidahkan interaksi keduanya dan lebih memilih menghabisi 5 musuh yang tersisih di depannya.
.
Hanya berselang 3 menit saja. Semua lawan tiga pemuda itu sudah terkapar tidak berdaya di sekitar mereka. Luka lebam, tebasan, dan luka fisik lain hampir memenuhi tubuh ke-20 Oto-nin lawan 2 shinobi berstatus Missing-nin dan 1 sisa-nya masih belum diketahui.
"Huh... dasar lemah!" ejek Suigetsu sambil menendang-nendang salah satu kepala Oto-nin di dekatnya.
"Seperti kau cocok menggunakan katana, penari bugil." kata Naruto setelah melihat Suigetsu berhasil mengalahkan 7 lawannya dengan mudah.
"Aku rasa begitu, Senpai." lagi-lagi, Suigetsu mengubah panggilannya ke Naruto. Membuat pemuda itu hanya bisa mendesah karena tadi mengatakan kalau terserah Suigetsu mau memanggilnya seperti apa asal jangan aneh-aneh.
"Selanjutnya bagaimana Naru-dobe?" tanya Sasuke yang seketika membuat Naruto mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Di depan sekitar 100 meter ada perempatan. Aku mengambil jalan lurus, Suigetsu kanan dan kau kiri karena kudengar-dengar ayam akan beruntung jika berbelok ke kiri." jelas Naruto dengan nada sarkastik di akhir kalimat yang tentu saja ditujukan untuk si pantat ayam, Uchiha Sasuke.
"Pfffffffttttttt... aku juga pernah mendengar hal itu Naruto-sama. Semoga kau benar-benar beruntung kepala ayam. Jaa-nee..." setelah melempar ejekan kepada Sasuke, Suigetsu langsung berlari dengan kecepatan tinggi pergi meninggalkan mereka karena takut kena Chidori Sasuke atau Rasengan Naruto yang mulai kesal panggilannya terus diubah-ubah.
"Itu hanya mitos!" sembur Sasuke kesal dengan ucapan Naruto barusan serta tambahan dari Suigetsu.
Naruto tidak perduli ucapannya hanya mitos atau bukan. Karena yang terpenting adalah rencana mereka selesai dan bisa melakukan sesuatu ke Suigetsu. "Oiy... Sasuke, ingatkan aku untuk menguapkan zat cair itu bila bertemu nanti." kata Naruto dengan dahi yang dipenuhi kendutan-kendutan dari uratnya yang mengemul keluar karena kesal.
"Hn." gumam Sasuke dengan dua kata Universal Uchiha, "Ikuze!" katanya lalu berlari menyusul Suigetsu yang sebenarnya sudah tidak terlihat lagi, dibelakang pemuda ini Naruto juga ikut berlari. Ketika sampai di perempatan yang dimaksud, mereka berdua pun berpisah.
.
.
Kurang lebih 30 menit. Itulah waktu yang dibutuhkan untuk Naruto, Sasuke dan Suigetsu melumpuhkan sebagian besar Oto-nin anak buah Orochimaru yang tersebar di lokasi bawah tanah itu.
Dan khusus untuk Sasuke, pemuda ini sempat bertemu dengan dua klon kristal Guren dan berhasil dikalahkan walau memakan waktu sekitar 10 menit. begitupula Naruto dan Suigetsu yang bertemu dengan dua klon lain dan juga dapat dikalahkan.
Pemilik ke-4 klon kristal itu pun menggeram penuh amarah saat melihat apa yang terjadi melalui sebuah bola kristal [Tomegane no Jutsu]. Setelah mengetahui ke-3 posisi lawannya, wanita berambut ungu ini segera menuju ke lokasi Naruto, orang yang menurutnya dalang dibalik kekacauan ini.
.
.
Di lokasi Naruto.
[Kessho: Kyodai Rokkaku Shuriken]
Saat tiba di lokasi Naruto, Guren menciptakan shuriken enam sudut berukuran sangat besar dan langsung dilemparkan ke Naruto.
"Hoo... jadi kau pemilik dari Bunshin elemen kristal tadi?" tanya Naruto saat Guren tiba-tiba muncul sambil menyerangnya. Untung saja pemuda ini menyadari serangan itu dan segera melompat menghindar. Alhasil shuriken besar itu pun menancap di dinding belakang Naruto.
"Siapa kau dan apa maksudmu melakukan semua kekacauan ini bersama Sasuke dan Suigetsu?" tanya Guren yang sosoknya masih belum kelihatan karena berdiri di lorong yang minim penerangan.
"Aku benar-benar kagum dengan ular keparat itu. Ternyata dia memiliki anak buah pengguna elemen langka. Kekkai Genkai 'kah?" tanya Naruto balik sedikit memiringkan kepala ke kiri dan samar-samar pemuda ini mendengar Guren menyumpahi dirinya dari kegelapan tidak jauh dari lokasi itu.
"Keparat!" setelah umpatan itu. Terdengar suara tangan yang merangkai segel tangan dengan cepat.
[Shōton: Hasho Karyuu]
Dinding di sebelah kanan Guren tiba-tiba retak dan mengkristal dalam kecepatan tinggi. Tak berselang lama, seekor naga terbuat dari kristal melesat menuju Naruto dengan kecepatan tinggi.
"Cih..." Naruto mengeluarkan sebuah decihan karena pertanyaannya malah dijawab dengan sebuah serangan Kekkai Genkai Shōton [Crystal Release]. Tidak mau menjadi bulan-bulanan naga kristal yang pasti sangat keras nan kuat itu, pemuda ini segera merangkai segel tangan dengan cepat untuk mengeluarkan sesuatu yang bisa menahan serangan besar itu.
[Mokuton: Mokuryū]
Permukaan lantai di depan Naruto ikut retak dan seketika mengeluarkan seekor naga kayu berukuran lebih besar dari naga kristal milik Guren. suara benturan yang lumayan keras pun terdengar ketika dua naga berbeda elemen itu saling bertabrakan. Saling menggigit, menyambuk dengan ekor dan menghantamkan tubuh satu sama lain dilakukan oleh dua naga itu.
Namun, setelah bertarung hampir 1 menit, naga milik Naruto yang unggul dalam segi ukuran berhasil menghancurkan naga Guren, sehingga membuat wanita pemiliknya hanya bisa menggeram dari balik kegelapan.
"Sudah cukup main sembunyi-sembunyinya Onna!" Naruto mengeluarkan satu kunai bercabang tiga sambil memainkannya beberapa detik sebelum dilempar menuju lokasi Guren yang dideteksi dengan sensor. Kunai itu pun melesat dengan kecepatan tinggi melewati naga kayu pemuda ini.
Di balik kegelapan lokasi Guren, wanita ini membulatkan mata melihat kilatan cahaya lilin yang memantul pada kunai Naruto yang melesat ke arahnya. Sesegera mungkin, Guren memiringkan kepala ke kanan menghindari serangan Naruto sehingga beberapa helai rambut ungunya terputus karena disabet oleh kunai itu.
"Sia-sia saja yang ka_" omongan dari Guren tidak akan pernah terselesaikan dikarenakan sebuah kilatan kuning tiba-tiba muncul di belakang wanita ini.
Naruto berpindah dengan cepat menggunakan [Hiraishin] dan menangkap kunainya sendiri lalu dikalungkan di leher Guren. "Semua yang kulakukan tidak pernah sia-sia!" pemuda ini segera menangkap lengan kiri Guren dengan tangan kiri ketika hendak melakukan sebuah pukulan.
"Tenang, aku hanya ingin membicarakan sesuatu denganmu." kata Naruto dibalas sebuah decihan oleh Guren karena nyawa wanita ini bisa dikatakan berada di tangan kanan Naruto yang mengalungkan kunai di lehernya. "Dan jika kau mencoba untuk bergerak sedikit pun, tempat kau memakai topi akan terpisah dari tubuhmu." tambah Naruto yang bisa diartikan pemuda ini kapan saja bisa memotong leher Guren.
"K-kau, siapa dan apa maumu melakukan semua ini?" tanya Guren.
"Kau tidak perlu tau siapa aku. Tapi yang jelas aku adalah orang yang akan menghilangkan semua hal tentang ular keparat itu. Termasuk kalian anak buahnya yang masih setia." jelas Naruto datar. Guren seketika merinding ketakutan saat merasakan tekanan Chakra pemuda di belakangnya tiba-tiba meningkat hingga melewati batas yang bisa dilakukan oleh Orochimaru, mantan atasan wanita ini.
"Ja... jangan-jangan kau orang yang membunuh . . . ."
"Ya, itu benar! Aku yang menghancurkan ular itu hingga ke sel-sel terkecilnya." potong Naruto, seketika Guren dibuat ketakutan untuk kedua kalinya karena pemuda yang dilawan adalah Missing-nin Rank-SS yang membunuh Orochimaru.
"U-Uzumaki Naruto?!"
"Ya... ya... itulah aku." kata Naruto tenang karena kabar tentang kematian Orochimaru serta pembunuhnya sudah menyebar luas, "Lupakan dulu hal itu. Sekarang bisa kau sebutkan semua lokasi persembunyian ular itu!" perintahnya kepada Guren dengan nada terdengar tidak menerima penolakan ataupun kebohongan.
Guran tiba-tiba tersentak, Naruto menggoreskan ujung kunai bermata tiga pada leher jenjangnya sehingga menciptakan sebuah goresan kecil yang mengeluarkan darah segar. "Sudah kubilang jangan bergerak!" kata Naruto setelah melakukan hal barusan. Ternyata pemuda ini menyadari kalau Guren hendak menggerakkan tangan yang bebas dari jangkauan Naruto.
"Tidak akan pernah!" kata Guren yang tidak takut apabila Naruto benar-benar menebas lehernya dengan kunai bermata tiga itu. Tampaknya kesetiaan Guren kepada Orochimaru patut diacungin jempol. Naruto sampai tidak habis pikir apa yang digunakan ular itu sehingga membuat beberapa anak buahnya begitu loyal termasuk wanita satu ini.
"Cepat_"
"Yare-yare, pantas saja Bunshin-mu menghilang. Ternyata tertangkap, Ehh... Guren?" Kabuto tiba-tiba muncul di belakang dua orang yang tengah dalam keadaan seperti berpelukan itu. Membuat Naruto langsung menoleh ke belakang.
"Baru saja dicari, ternyata satu telur emas sudah muncul." kata Naruto ketika pandangannya sudah tertuju ke pemuda berambut putih di belakangnya.
"Jadi penyebab keributan ini adalah kau, Uzumaki Naruto-kun?" pertanyaan retoris yang terkesan mencibir keluar dari mulut Kabuto sembari memperbaiki posisi kacamata yang dikenakan.
"Kabuto-teme! Jangan diam saja, cepat tolong aku!" teriak Guren.
Kabuto tertawa pelan membuat Guren merasakan firasat buruk dari tawa itu. "Gomen, Guren." kata Kabuto pelan, "Aku masih mempunyai banyak urusan penting ketimbang melawan Naruto-kun untuk menolongmu." Guren seketika syok ditempat, ternyata dugannya kalau Kabuto bukanlah tipe orang yang gampang diajak bekerja sama benar-benar terjadi. Secara terang-terangan Kabuto mengatakan hal yang bisa dianggap sebuah penghianatan atas kerja sama mereka.
"Hahahahaha... aku tidak menyangka sesuatu yang mengejutkan terjadi disini." kata Naruto setelah tertawa cukup keras melihat adegan penghianatan Kabuto terhadap Guren, "Ternyata kematian dari ular itu membuat semua orang yang berhubungan dengannya jadi seperti sekarang. Saling makan satu sama lain." cibir Naruto masih dalam keadaan yang sama, mengunci pergerakan dari Guren.
"Dan kau," Naruto tiba-tiba melakukan hal yang mengejutkan bagi Guren, pemuda ini melepaskan kunciannya dan mendorong secara halus tubuh Guren. "Mencoba kabur, akan kubunuh kau!" ancam Naruto sembari menaikkan tekanan Chakra dan Aura pembunuh pekat secara bersamaan.
Entah kenapa Guren mau-mau saja menuruti perkataan Naruto agar tidak mencoba untuk kabur. Mungkin karena ketakutan dengan aura pembunuh pekat yang belum pernah dirasakan sebelumnya dari pemuda itu, terlihat jelas bagaimana tubuhnya merinding ketakutan sembari menganggukan kepala. "B-baik." katanya tergagap.
"Bagus." Naruto tersenyum tipis dan memutar tubuhnya 180 derajat menghadap Kabuto. "Dan kau empat mata_ . . . . _ Cih, dia kabur." umpat Naruto kesal namun tidak bertahan lama karena Guren bisa dikatakan sudah tunduk di kepadanya.
"Huh..." Naruto mengela nafas sejenak sebelum berbalik ke Guren. "Siapa namamu?" tanyanya.
"Guren."
"Baiklah Guren. Aku akan memberimu dua pilihan, mati disini sebagai anak buah Orochimaru, atau ikut bersamaku?" tanya Naruto penuh selidik ke wanita pengguna Kekkei Genkai Shōton itu. "Jawabanmu akan menentukan masa depanmu."
"Apa untungnya jika aku ikut bersamamu?" tanya balik Guren dengan wajah sinisnya.
"Aku tau beberapa anak buah Orochimaru menginginkan sebuah pengakuan. Jika kau ikut denganku, bukan hanya aku saja, namun satu desa akan mengakuimu apalagi kau memiliki Kekkei Genkai yang termasuk langkah." Guren seketika tersentak, selama ini sebuah pengakuan'lah yang dinginkan olehnya selama menjadi anak buah Orochimaru. Wanita ini ingin diakui sebagai kunoichi yang kuat agar kelak bisa menjadi wadah untuk pria pengguna penelitian itu.
"H-hanya itu?" tanya Guren masih ragu untuk memilih dua pilihan yang diberikan Naruto.
Naruto menggeleng pelan. "Perlakuan yang setarah tidak seperti di tempat busuk ini, menganggap semua orang layaknya sampah. Dan yang terpenting, sebuah tempat dimana terdapat orang-orang yang akan selalu menunggumu untuk pulang... yaitu keluarga."
"Guren-san adalah satu-satunya tempatku untuk pulang." kalimat ini langsung tergiang di kepala Guren ketika mendengar ucapan Narutp barusan. Membuat wanita tersentak kemudian diam membeku ditempat mengingat sosok yang sering menggumamkan kalimat itu. Sosok itu iyalah seorang anak remaja dalam tim-nya. Anak lemah yang ingin dijadikan Orochimaru sebagai senjata perang di masa depan apabila sudah mendapatkan salah satu dari kesembilan Bijuu.
"Aku tau kau masih ragu untuk ikut karena status Missing-nin yang kusandang." kata Naruto membuat lamuan dari Guren buyar seketika. "Di tempatku rata-rata penghuninya hampir semuanya memiliki latar belakang yang sama... Missing-nin, orang yang dulunya dianggap monster oleh desa asalnya dan orang-orang yang memiliki masa lalu suram. Tapi kami tidak mempersalahkan hal itu karena kami adalah... Keluarga."
"Apa Sasuke dan Suigetsu juga termasuk?" tanya Guren dan sepertinya ini akan menjadi pertanyaan terakhirnya sebelum menentukan pilihan apa yang akan diambil.
"Penari bugil belum pasti. Namun, Sasuke sudah lama ikut bersamaku. Kau pasti tau alasannya 'kan?" Guren menganggukan kepala. "Sasuke adalah satu dari dua Uchiha yang tersisah . . . ."
'Ya, mungkin tiga sih, jika orang yang ingin kuhancurkan itu masih tetap berkeliaran bebas.' sambung Naruto dalam hati karena tidak ingin membocorkan informasi tentang pria bertopeng yang dulu dilawan saat perang saudara Kirigakure 3 tahun silam.
"Dan ketempatku membuatnya merasakan kembali apa itu sebuah keluarga." kata Naruto menutup penjelasan singkat mengenai Uchiha Sasuke. Menghela nafas sejenak, pemuda ini kemudian menatap Guren dengan wajah seriusnya,
"Aku tidak punya banyak waktu. Jadi segera putuskan nasibmu sekarang!" perintah mutlak yang tidak dapat dibantah pun dilontarkan Naruto kepada Guren.
". . . ."
.
.
.
.
.
"Cih, kau lama sekali Naruto." kata Sasuke menyarungkan katana miliknya yang secara bersamaan dengan kemunculan pemuda pirang itu.
"Tadi ada beberapa orang yang musti kulumpuhkan dulu." balas Naruto datar sembari berjalan menghampiri Sasuke dan Suigetsu. Saat ini mereka berada di bagian selatan markas Orochimaru. "Bagaimana?" kemudian, Naruto melayangkan pertanyaan singkat dan datar.
Sasuke yang paham maksud pertanyaan dari Naruto menganggukkan kepala, "Aku sudah melumpuhkan puluhan di lokasi bagianku." jawabnya sama-sama datarnya dengan Naruto.
"Aku sama seperti Sasuke." dengan santainya sambil memainkan katana di tangan kiri, Suigetsu ikut menjawab setelah mendengar Sasuke. "Berhasil membersihkan daerah bagianku." tambah Suigetsu memperjelas jawaban tadi.
"Baiklah, sebelum kita beralih ke tahap selanjutnya." Naruto mengalihkan pandangan dari Suigetsu kembali ke Sasuke, "Ada berapa tempat persembunyian Orochimaru yang kau ketahui?" tanyanya kepada pemuda berambut raven model pantat ayam itu.
"Tidak terlalu." jawab Sasuke singkat. "Tapi, tenang saja. Biar aku yang mengurus semuanya." kata Sasuke menyambung ucapan singkatnya tadi yang seketika membuat Naruto menautkan alis mendengarnya.
"Setelah ini aku tidak langsung kembali ke desa. Masih ada 1-2 orang yang ingin ketemui." Naruto akhirnya paham, terlihat bagaimana tautan alis pemuda itu menghilang kemudian menganggukan kepala, "Dan kau Suigetsu, bantu aku nanti." tambah Sasuke sedikit melirik pemuda keturunan Hōzuki itu.
"Ya... ya... akan kubantau kau Sasuke, selama hal yang kita lakukan tidak mengganggu tujuanku." kata Suigetsu.
"Memangnya apa tujuanmu, penari bugil?"
"Hanya ingin mengumpulkan ke-7 pedang legendaris Kirigakure yang saat ini terpisah-pisah di berbagai belahan Elemental Nation." jawab Suigetsu riang menjelaskan tujuannya yang membuat Naruto menghela nafas lega karena tujuan itu bukanlah menguasai dunia atau tujuan kebanyakan orang-orang tidak waras macam Uchiha yang pernah dilawan oleh pemuda pirang itu.
Tapi, tunggu! Jika tujuan Suigetsu adalah mengumpulkan ke-7 pedang Kirigakure, itu artinya kekasih pemuda ini juga menjadi target Suigetsu karena memegang salah satu pedang itu, Nuibari. 'Ahh... aku harus membicarakan hal ini ke Kushina-chan.' batin Naruto sembari memikirkan jalan keluar yang tepat bagi Suigetsu dan Kushina nantinya.
"Jadi kapan dimulainya Naruto? Aku sudah pengap di tempat bawah tanah ini." ujar Sasuke melempar sebuah pertanyaan yang membuat Naruto tersadar dari lamuannya memikirkan hal tadi.
Naruto pertama-tama menatap intens Sasuke dan Suigetsu secara bergantian, secara serentak mereka mengganggukan kepala. "Masih ingatkan perkataanku mengenai siapa yang dibebaskan dan siapa yang dilumpuhkan?" tanya Naruto kepada keduanya. Untuk kedua kalinya, Sasuke dan Suigetsu menganggukan kepala mereka tanda masih ingat.
"Dan kau Sasuke," sebelum memberi aba-aba untuk memulai, Naruto terlebih dahulu mengalihkan perhatiannya ke Sasuke. "Beritahukan Suigetsu cara Uzushiogakure menambah anggota keluarganya."
"Hn." balas Sasuke dengan wajah datarnya.
"Baiklah, . . . . Mari kita mulai!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC!
[TrouBlesome Cut]
Ane minta maaf sebesar-besarnya karena nge-lantarin Fic ini hampir 3 atau 4 bulan lebih[?] lamanya.
Itu aja yang pengen sampaikan krn Chapter ini baru pembuka Arc IX yang menceritakan Sasuke dan Itachi.
.
.
Root Loliwood out . . . . Ane mau tidur Cantik ama Dedek Wendy dulu. '-')/
