Cost Catch Love
[Shion]
Vocaloid © Yamaha Corporation
CN Scarlet
[Friendship, Humor, Romance]
.
.
.
.
.
Hatsune Miku Point of View
.
.
.
"Masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah.."
Sekali lagi aku tanyakan pada kalian, indahnya sebelah mana?
Hari pertama, pulang sekolah sore dengan keadaan letih dan aku harus berkeliling mencari alamat rumah sewa yang akan kutinggali selama tiga tahun ke depan. Beruntung seorang anak remaja perempuan bernama Rin, menemukanku. Setidaknya pengalaman pertamaku di Tokyo tidak harus menjadi gelandangan semalam.
Gakkupou House. Begitu orang-orang sekitar menyebut rumah yang salah satu kamarnya kusewa. Kamui Gakupo pemilik rumah itu, seorang laki-laki dengan usia sekitar tiga puluh tahun berambut ungu panjang (kadang diikat) yang mempunyai sifat buruk suka memelototi perempuan muda dengan penuh hasrat, hentai.
Rin dan Len, penghuni kamar lama yang ternyata kembar, dan merupakan anggota paling muda. Aku belum bertemu Shion dan Lily, yang kamarnya berdempetan dengan kamarku. Tapi aku betemu Luka. Pertemuan yang tidak ingin kuingat-ingat.
Luka Megurine adalah gadis yang manis dengan rambut pink sepinggang, sayangnya, pertemuan pertama kami yang membuatku cukup frustasi. Bukan sepenuhnya salah dia. Meiko Sakine yang paling berpengaruh, gadis berambut cokelat pendek dan lebih tua dariku itu yang – astaga, aku tidak sanggup menceritakan detailnya – pokoknya kejadian itu cukup membuatku mempunyai alasan meninggalkan rumah itu sesegera mungkin.
Oh atau tidak.
"Mau kemana? ini sudah hampir malam loh..."
Ah, Kaito... pria yang bersekolah di Tokyo Art High School (sekolah yang sama denganku) itu tampan sekali. Rambut biru dan mata azure yang indah, juga senyuman itu, ya ampun...
Aku nyaris meleleh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
::...;;...::
Gakkupou House at 06.00 am..
::...;;...::
Piiiipp... pipip... piiiipp...
Hm... sudah pagi ya?
Ah, ya ampun, sepertinya aku bermimpi buruk semalam. Tentang petang yang panjang, dua anak kembar, dua cewek di lorong, bapak-bapak mesum, cowok manis di pintu keluar, makan malam lezat, dan kamar baru. Semuanya semerawut dalam pikiranku.
Kubuka mataku yang berat perlahan, hal pertama yang kulihat adalah sebuah kamar bercat putih tulang lengkap dengan segala perabotan tertata pada tempatnya. Rak buku merangkap lemari pakaian dua pintu menghadap ke arahku. Meja kecil di sebelahnya, dengan lampu tidur yang masih menyala dan tumpukan majalah musik di bawahnya, serta poster AKB48 terpajang indah di dinding diatasnya. Jelas. Aku yakin ini kamarku, di Kyoto.
"Semalam jelas aku bermimpi," batinku.
Peregangan dengan berbaring terlentang sambil merentangkan tangan maksimal diatas futon adalah awal dari setiap pagiku, seperti biasa. Dan biasanya ya, di sebelah kananku itu dinding. Jelas aku merasa jangal ketika tangan kananku ini bisa meregang bebas, sebebas-bebasnya, dan mentok di atas sesuatu.
Sesuatu yang halus agak sedikit bersekat seperti bulu, atau rambut, kemudian sensasi kenyal dan juga hangat. Eh, t-tunggu dulu!
"Hentikan itu Len, h... ini masih sangat pagi... krrr..."
Ya ampun, oh ya ampun, ya ampuuuuunnn!
Itu bukan sesuatu, tapi seseorang! Sekali lagi, SE-SE-O-RANG!
"Kyaaaaa..."
Seseorang di kamarku, terlebih lagi, dia laki-laki!
Oh, aku langsung bersedekap. Badanku ikut bergetar. Rasanya panik setengah mati! Sedangkan pria berambut biru – Kaito, hanya duduk terus menguap lebar. Matanya memicing kearahku, masih mengumpulkan kesadarannya. "Oh, ohayou..."
Detik-detik berikutnya,
Krikk...krikk...
"Hwaaa..."
Seperti reaksiku tadi, dia melompat dan terjengkang ke belakang sana. Jari telunjuknya (entah kiri entah kanan) menunjuk-nunjuk gemetar ke arahku, kedua mata sipitnya membulat lucu. "S-s-sedang ap-apa k-k-kau di kamarku?"
"Kau yang kenapa bisa tidur di kamarku, Kaito!" sengitku tak terima. Memang benar ini kamarku, kalau yang kemarin itu nyata, jelas aku ingat Rin dan Luka menunjukan kamar ukuran 4x4 dan memberikan padaku serta kuncinya. Di dalamnya sudah ditata, kerjaan Kamui-jii, dan aku langsung menggelar futon dan tidur di sebelah tralis pembatas yang terbuat dari tirai tebal gambar bangau. Jelas aku sudah mengunci pintunya!
SREEEEEKK...
Kaito membuka pintu geser, yang katanya adalah miliknya, membuat lima orang yang sedang berjejer di sana terpaksa berjubelan masuk. Rin, Len, Luka, Meiko, dan Lily (aku melihatnya kemarin di televisi, sering, dan aku yakin itu memang dia) terjungkal secara bertumpuk-tumpuk. Mereka semua, hanya nyengir wartados ketika Kaito menatap mereka semua dengan pandangan membunuh.
"Ini pasti ulah kalian..." geramnya, aku berusaha mengabaikan mereka semua dengan rutinitasku sendiri. Melipat futon dan menyimpannya di pojok, terus mengambil peralatan mandi serta handuk.
Samar kudengar Len terkekeh, "K-Kamui-jii bilang ini akan menyenangkan..."
"BODOH MANA MUNGKIN DIA BILANG BEGITU!" teriak Kaito, tentu dia takkan bilang, tapi berpikir begitu mungkin saja, batinku meralat ucapannya.
Tak lupa membuka kunci pintu keluar dari kamarku sendiri, berjalan cool melintasi ruangan disekat papan bernama kamar yang mulai ribut. Segala gradak-gluduk yang entah bagaimana keadaan di dalam sana, terdengar mengerikan jika didengar dari lorong.
Cahaya mentari pagi menerobos masuk dari jendela kayu sepanjang lorong. Ketika hendak berbelok ke kamar mandi, Kamui berlari tergesa dengan celemek kumal di tubuhnya, dan centong nasi (aku ingin tertawa sebenarnya, tapi itu tidak sopan), muncul dengan raut wajah panik dari lorong sebelah kanan. Yang menghubungkan kamar dan ruang keluarga (ingat, Kamui sendiri yang melarangku menyebutnya ruang tengah).
"Ohayou Miku-chan," sapanya sekilas, lalu kembali bergegas ke arah jajaran kamar perempuan "astaga, apa yang terjadi di sini?!"
Yah, setidaknya, karena kejadian tadi aku tidak perlu antri untuk mandi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Baiklah..."
Kami semua, kecuali Luka Megurine yang berangkat sekolah duluan, sekarang berada di ruang makan. Kamui memasakkan mie udon dengan serpihan rumput laut yang terlihat lezat sekali, baunya juga sangat menggoda. Tapi yang lain juga tidak ada satu pun yang menyentuhnya, semuanya. Kami semua hanya duduk menunduk dengan Kamui Gakupo yang berkacak pinggang di tempat duduknya. "Ceritakan padaku, bagaimana bisa ini semua terjadi pagi ini!"
Semua orang diam. Tidak ada satu pun yang membuka suara.
"Miku, coba ceritakan apa yang terjadi tadi pagi!" titahnya, aku meneguk ludah. Antara gugup dan lapar, rasanya seperti ada batu besar yang menghalangi tenggorokanku.
Kaito yang duduk di samping kananku menyikut, sambil berbisik "cepat jawab saja.." aku menghela nafas dulu sebelum bilang.
"Tadi malam aku tidur, pintunya juga dikunci. Tapi entah mengapa begitu bangun, ada Kaito di sampingku."jelasku.
"Kaito?"
"Aku tak pernah mengunci pintu, yah karena biasanya Len akan datang malam-malam untuk sekedar minta diantar ke kamar mandi atau mengajak makan mie instan. Seperti biasa,"Kaito membela diri, dengan tambahan "entah kenapa bisa ada Miku di sebelahku, aku juga baru sadar setelah dia teriak tadi. Aku yakin kami dikerjai tadi malam!"
"Len?"
"Kenapa aku jii-chan?"
"Kau yang paling bisa masuk ke kamar Kaito selainku dan para perempuan!"
"Aku hendak pergi mandi ketika mendengar Kaito berteriak," belanya, " lagipula sudah ada Meiko, Luka, Rin dan Lily di sana."
"Bohong, dia yang ajak kami menjahili Kaito dan Miku!"
Meiko, Rin, dan Lily membela diri kompak menunjuk Len. "Ah baiklah, baiklah, aku yang salah. Kamui yang bilang kemarin malam, jadi aku penasaran. Kalian juga 'kan penasaran, makannya ikut."kini yang lain setuju pada ucapan Len. Kecuali aku, Kaito, dan Kamui.
PLAKKK...
Sehelai koran yang dilipit seperti kipas origami mendarat di atas helaian kuning Len Kagamine, "bakka, kubilang kemarin 'jika' bukan 'harus'!" Kamui Gakupo menghela nafas pasrah dengan segala kekonyolan pagi hari yang terjadi di bawah atap rumahnya (meski kurasa dia sendiri dalangnya). "Baiklah, ayo makan!"
"Ittadakimaaaaaasu!"
Sryuuuuuupp... nyam, nyam, nyam.. hm... mie udonnya enak sekali!
.
.
.
.
.
.
.
Kami semua keluar berjamaah dari Gakkupou House. Menginggalkan Kamui Gakupo yang melambai-lambai dari gerbang rumah, mengingatkanku pada kebiasaan ibu dan ayah saat aku dan Mikuo berangkat sekolah. Ah ya, Mikuo adalah kakak laki-lakiku satu-satunya. Kami seperti Len dan Rin, bedanya kami tidak kembar, Mikuo Hatsune lebih tua tiga tahun dariku.
Meiko Sakine berbelok di tikungan kedua, kantor media penerbitan tempatnya bekerja berada sedikit agak jauh dari sini, jadi dia harus naik bis. Lily kebetulan mengambil cuti beberapa hari, berbelok di toko buku yang kami lewati.
Tinggal Rin dan Len, yang terus menyanyi riang sepanjang jalan, dengan aku dan Kaito di belakangnya. Kami berempat menuju sekolah dan kebetulan searah. Aku bingung harus bersyukur, atau menyesal, kalau sekolah menengah pertama tujuan si kembar Kagamine itu letaknya agak jauh melewati Tokyo Art High School.
"Oh ya, Kaito, sejak tadi aku penasaran..." ucapku, hendak bertanya tapi ragu.
"Ya, tentang apa? Tanyakan saja, aku takkan keberatan kok!"
"Itu, soal kamar di sebelah kamarku itu, kalau tidak salah milik Shion-san. Kenapa kau bisa ada di sana?" tanyaku, "ngomong-ngomong aku juga tidak bertemu dengannya tadi pagi, aku jadi penasaran.. eh, Kaito?"
Kaito berhenti berjalan, Rin dan Len juga berhenti bersenandung secara tiba-tiba. Aku merasa tak enak. Terutama ketika mereka berdua (Rin dan Len) berbalik, sembari berseriosa "heeee..."
"Miku-nee, memang kau tidak tahu ya?" Tanya Rin.
"J-jadi kau benar-benar tidak tahu?" sambung Len.
"Tahu, tidak tahu, apa maksud kalian?" benar-benar ini kembar dua, batinku. Aku bertanya, sejak kemarin, jujur, aku benar-benar penasaran bagaimana rupanya gadis bernama Shion itu. Apa dia secantik Luka, atau tomboy seperti Meiko, atau bisa saja manis dan sumpel seperti Lily. Jangan-jangan, oh Tuhan!
Jangan-jangan Shion...
S-S-Shion itu a-anak smp seumuran si kembar Kagamine?
"Hei kalian, jangan diam saja dong!" aku jadi berdelusi, nih.
"Hmph... ahahahahaha!"
Sial!
Bukannya menjawab, kedua Kagamine bersaudara itu malah tertawa. Memang apa salahnya sih aku bertanya. Hei. Aku merasa dipermainkan di sini. "Sudahlah, berhenti tertawa!"
"Gomen, haha, gomen.." Len memegangi perutnya, dia yang paling parah tertawa sampai tubuhnya berputar-putar. Rin juga. Setidaknya, gadis manis itu tertawa sambil menunduk sampai hidungnya hampir menyentuh lutur. Gheezz, memangnya apa yang lucu sih?
"Miku Onee-san," Rin menyentuh pundakku, mata aquamarinenya melirik Kaito yang sudah kembali berjalan mendahului walau pelan, "sebenarnya, dari kemarin juga kau sudah bertemu dengannya. Ahaha... Len, aku tak percaya ini!"
Mereka berdua kini terkekeh.
"Hei!" aku mulai gemas.
"Ahaha, baiklah baiklah, sumimasen.."
"Miku-nee, sebenarnya Shion itu nama Kaito!" seru keduanya kompak.
"Nama aslinya Kaito Shion," tambah Len, lalu Rin menyela "aku tidak bilang kemarin, kalian kan satu sekolah, kukira kalian sudah saling kenal."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, sembari sesekali menari dan bernyanyi kecil. Sekolah menengah pertama masih beberapa puluh meter lagi, berbeda dengan sekolahku yang tinggal beberapa meter lagi.
Astaga...
"K-Kaito..."
Aku langsung berlari menyusul pria berambut biru yang sudah sampai gerbang itu. Ya Tuhan, aku harus segera meminta maaf. Dia pasti tersinggung sekali sempat kukira perempuan (apalagi sampai membayangkan rupanya seperti Megurine Luka ataupun Lily).
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
A/N:
Aku selesaikan ini selama jalan ceritanya masih ada malang melintas di kepalaku, terimakasih ada yang mau baca dan apalagi sampai mereview. Ini memang aku newbie banget di fandom ini. yoroshikune!
Urwell, thanks buat review di chapter 1. Mohon liat PM ya, makasiiih dan RnR lagi...
With love
.
CN Scarlet
