Cost Catch Love

[Ievan Polkka]

Vocaloid © Yamaha Corporation

CN Scarlet

[Friendship, Humor, Romance]

.

.

.

.

.

Hatsune Miku Point of View

.

.

.

"Masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah.."

What The...

Bell tanda berkumpul berdering nyaring tepat saat aku berhasil mengambil langkah sejajar dengan Kaito di pintu masuk. Masa orientasi hari kedua, oh aku baru ingat kalau hari ini harus berangkat pagi. Kaito mungkin sama, dia juga sama bergegasnya sepertiku, dan dua anak lain yang lari terbirit-birit berkumpul di lapang. Untung tidak terlalu terlambat.

"Miku Hatsune, Kaito Shion, maju ke depan!"

Shit!

Pemeriksaan perlengkapan. Dan sungguh sangat sialnya, aku lupa membawa 'si panjang putih tegak yang bawahnya berbulu halus'. Kemoceng dan dorayaki untung aku bawa hari ini, namun itu sama sekali tidak membantu. Lagipula apa pula itu, riddle-nya saja aku tidak dapat clue. Sama. Sekali.

"Miku, kau bawa pekerjaan rumahmu kemarin?"

Aku tidak berani mengangkat kepala, bahkan menjawab, hanya mengangguk pelan. Setan! Galak sekali senpai satu ini. Dilihat dari ciri-ciri kaki jenjang berkaus kaki panjang, sepatu ber-heels, juga rok mini berumpaknya jelas sudah dia perempuan. Suaranya juga, walau terdengar tegas dan dewasa, mirip-mirip lah dengan punya Meiko tapi sedikit lebih ke nada halus dan manis.

Rasanya kok familliar ya?

"Kenapa masih menunduk, angkat kepalamu bocah!"

Eit dah ni senpai, sengak banget sih. Takut-takut juga kuangkat kepalaku, bisa gawat 'kan kalau sampai beliau murka gara-gara dikira dikacangin. Begitu kulihat dia... eh BUSYET!

Bu-bukan, dia nggak jelek kok. Tampilannya manis malah, rambutnya pink sepinggul dengan mata biru aquamarine dan juga pipi tirus, hidung mancung, bibir seksi, juga body berlekuk. Nggak salah lagi. Dia...

MEGURINE LUKA!

Aku berteriak dalam hati.

Dihadapanku sekarang berdiri sembari berkacak pinggang, Megurine Luka yang kemarin nyaris oleh Meiko –ah sudah – iya, Megurine Luka yang tinggal di sebelah kamarnya Rin Kagamine di Gakkupou House. Iya, Megurine Luka yang itu.

Cuma yang ini dalam mode PMS. Preshman Musti Salah. Sumvah tingkahnya sengak banget! Aku tertipu dengan sikap manisnya kemarin, euh.

"Miku. Kau bawa kan, si putih panjang tegak yang ada bulunya?" tanya- ah bukan, tepatnya, sembur Luka tepat di depan wajahku. Aku kembali meneguk ludah susah-susah.

"Kaito-kun, bisa tolong kau periksa tas Miku?" ini nih yang paling kubenci dengan masa orientasi, giliran sama cowok cakep aja baek. Senpai modus. Ieww..

Dan lagi, ya. Haram bagi freshman aka anak baru peserta masa orientasi buat lalai dari perintah senior, apalagi sampai senpai sengak-sengak itu mengulang ucapannya. Bisa-bisa dibully.

Tanpa menunggu persetujuanku, Kaito langsung menggeledah tas biru bermotif sakura yang masih kugendong. Kujamin 100% dia takkann pernah menemukan benda yang dimaksud Luka-senpai, sampai kadal berbulu sekalipun, karena aku memang tidak membawanya. Di dalam tasku hanya ada buku tulis, pena, sebotol air minum, bento, kemoceng kecil, sebungkus dorayaki, dan... What the...

Wajahku langsung memerah semerah-merahnya mengingat aku lupa memasukan benda laknat bernama pembalut itu ke dalam ruang rahasia yang ada di dinding tasku. Mungkin saja saat ini Kaito menemukan benda pribadi milik perempuan itu. Atau mungkin, lebih parahnya, sudah memegangnya! Membuatku sangat-sangat malu.

"Kau menemukannya?" tanya Luka masih dengan nada datar, Kaito sudah kembali ke sampingku seperti semula. Dia menggeleng.

"Miku, kenapa kau tidak membawakan apa yang kami minta?" see? Giliran bertanya padaku saja senpai ini langsung kembali garang. Agrrr...

"Minna-san," interupsi seorang senpai laki-laki yang berdiri di dekat tiang bendera. Dari setelan almamater berbeda yang nyetrik itu, aku langsung bisa menebak kalau dia ketua osis di sini "... keluarkan si panjang putih tegak sedikit berbulu kalian!"

Penasaran juga dengan apa yang mereka sebut-sebut 'si putih panjang tegak sedikit berbulu' yang mereka bicarakan sedari kemarin, akupun menoleh ke belakang. Melihat apa yang dikeluarkan seluruh teman-teman seangkatanku dari dalam tas mereka membuatku meruntuk dalam hati. Kenapaaaa tidak sejak kemarin terpikirkan dalam benakku, kalau jawaban riddle-nya itu...

BONGGOL BAWANG DAUN!

Aku sweadroped.

"Baiklah, sekarang buat lingkaran besar!"

Sekumpulan orang-orang itu langung menyebar memutari lapang, membuat pagar bundar hidup, seperti posisi ketika sedang menonton pertandingan sumo. Tiba-tiba aku merasakan firasat buruk.

"Nah, berhubung hanya kalian yang tidak membawa benda-benda yang kami minta, kalian harus menari sambil menyanyi di tengah!" kata Luka.

Mengeluh sebentar dalam hati, kulangkahkan kedua kakiku ke dalam sangkar manusia itu. Eh, tunggu sebentar! Aku menoleh, dan mendapati Kaito mengikutiku dari belakang. Tadi jelas aku melihat dia membawa sebuah daun bawang beserta bongolnya. Lantas, kenapa pula dia ikut-ikutan?

Seakan mengerti apa yang ada di pikiranku, dia berbisik "aku tidak membawa dorayaki, hehe..."sambil nyengir.

What ever lah!...

Belum setengah menit kami berdua, aku dan Kaito, berada di tengah lapangan. Hanya berdua, yang lain menonton di pinggir sana sembari bersorak-sorak gembira. Meneriaki nama Miku dan Kaito dengan penuh semangat. Seakan aku dan dia hendak gulat sumo saja.

Aih, ingat sumo jadi ingat wujud mengerikanku beberapa tahun lalu. Agaknya tersindir aku.

"Hei Kaito," dia mengangkat sebelah halisnya saat kupanggil, aku lanjut bertanya "kita akan menyanyikan lagu apa?"

"Hm..." gumamnya, aku nyaris meremas bonggol bawang daun yang diberi pinjam oleh panitia sebagai properti, mendengar kata "aku tidak punya ide," dari mulut seorang Kaito di saat-saat begini membuatku ingin – ah, biarkan hanya aku yang tau – padanya.

Tiba-tiba aku teringat lagu yang dinyanyikan riang gembira si kembar, Len dan Rin Kagamine, tadi pagi. Kuusulkan itu dan Kaito malah sweadroped, sambil bilang "kau yakin akan menyanyikannya?"dengan nada tak yakin.

Aku mengangguk mantap. Dari dulu, aku bisa menyanyikan sebuah lagu baru hanya dengan sekali mendengarnya. Terlebih, Len dan Rin menyanyikan lagu itu berkali-kali sepanjang perjalanan.

"Baiklah.."

Aku langsung memulai nada pertama.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Na... na... na... na.. na...

Hratsatsa ia ripidapi barit taddillan dehlando,

(aku membuat gerakkan ringan mengayun-ayunkan tangan)

Abarippadta parip parii ba ribiribi ribiriz denteahlando,

(kemudian menaruh tangan di pinggang sambil sesekali melompat, lalu berputar)

Labarillaz dillandeiallou ara va reve reve revydyv dyvjavuo,

(masih menaruh tangan di pinggang, aku mulai menggerakan kepalaku ke kiri ke kanan)

Barizdah l'llavz deilando dabaokedagae dagae duedue deiaiado

(lalu menggerakan kaki kiri dan kanan bergantian)

.

.

.

.

.

Semua orang di lapangan tidak ada yang tidak tertawa, senpai-senpai itu, terutama Luka-senpai, sengaja mempermalukanku – dan Kaito – hari ini rupanya. What the hell, aku akan ikut permainan mereka kalau begitu. Lagipula masa orientasi takkan ada setiap hari bukan?

Di jeda bait, kukibas-kibaskan bongol daun bawang yang mereka berikan sembari sesekali berputar. Lalu kembali menyanyikan bait yang sama sekali lagi, namun dengan tarian yang agak berbeda. Kemudian menyambung lanjutan lagu itu, sampai selesai.

Itu memang lagu yang lumayan sulit untuk lidah orang jepang, tariannya juga tidak jingkrak-jingkrak amat. Namun, setelah selesai aku bernyanyi tiba-tiba aku kehilangan seluruh tenagaku. Pusing rasanya, semua riuh rendah orang-orang yang bertepuk tangan itu seperti dengungan lebah di telingaku. Lalu...

Gelap!

Yang terakhir bisa kudengar, samar...

Seseorang meneriakkan namaku.

"MIKU!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

A/N: Ini memalukan!

"Ada kesalahan menulis nama panjangnya mbak Meiko, dan hebatnya, nggak ada yang ngingetin. Sampai aku diberitahu simbah gugel ketika aku lagi nyari ehem – cowok – ehem –cakep – ehem di fandom ini. " jadi aku merevisi dua chapter terdahulu. Yang udah baca tendaaaaaaaang, ceritanya nggak berubah kok. Sama sekali nggak berubah. Aku melakukan perbaikan di tata penulisan, dan, nama mbak itu aja.

Sedih banget, aku keliru kalau nama Meiko Haigo itu Vocal Modelnya Meiko Sakine, dan aku ngirain YANG SEBALIKNYA. Makasih ya, nggak ada yang ingetin. (serasa banget joneshnya, hiksss)

Hontou nii gomen!

Aku udah bilang dari awal, kalau aku ini benar-benar newbie di fandom Vocaloid. Aku sangat mengharapkan bimbingan dari para readers yang sudah lama menyatroni fandom ini. Minimal review lah, hehe...

.

.

.

.

CN Scarlet