Percayakah kau, setiap orang mempunyai kelebihan juga kekurangan. Begitu juga aku.

Selama ini aku memang merahasiakannya, juga dari keluargaku di Kyoto. Sebenarnya, selama masa-masa menyakitkan dalam hidupku, selama musim panas itu, aku memang bisa menurunkan banyak berat badan. Juga lemak. Dan semua proses itu mempunyai efek samping.

Anemia.

Yah, aku kini mempunyai penyakit kekurangan darah juga gampang sekali kelelahan. Terutama saat beberapa hari dalam sebulan, aku akan merasa sangat lemah. Tentu tidak ada seorang pun yang tahu. Kecuali aku dan Tuhan.

Sampai hari ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

Cost Catch Love

[Romeo and Cinderella]

Vocaloid © Yamaha Corporation

CN Scarlet

[Friendship, Humor, Romance]

.

.

.

.

.

Hatsune Miku Point of View

.

.

.

"Masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah.."

Ah...

Aku membuka kedua mataku perlahan dan mendapati sebuah pemandangan langit-langit putih dengan bau sterrill menusuk hidung. Dugaanku mungkin aku pingsan lalu dibawa ke ruang kesehatan sekolah. Kepalaku masih sedikit kesemutan tapi sudah agak mendingan daripada tadi.

Seseorang kini sedang menggenggami tanganku dan saat aku memastikan, manik biru itu langsung berbinar menatapku. Lengkap dengan senyuman senang dan raut wajah luar biasa lega dari seorang Kaito Shion, aku nyaris tidak bernafas sesaat. Dan aku menyadarinya saat dia berlari meninggalkanku ke luar ruangan dengan lincahnya sambil bilang "sensei, Luka-senpai, Miku sudah siuman!" dengan suara keras.

Aku menghela nafas tanpa sadar. Masih memijit pelipisku dan berusaha menghilangkan rasa peningnya, tiga orang masuk ke dalam ruangan. Luka dan Kaito menunggu di sebelah lemari usang bercat putih. Sensei lalu memberiku segelas ocha panas dengan madu sebelum keluar karena kepentingan mendesak yang keluar dari smartphone-nya.

"Miku... huwhaaaa..." Luka-senpai menerjang tubuhku tanpa aba-aba, untung saja Kaito berhasil mengamankan setengah gelas panas ocha yang belum kuminum. Kalau tidak, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya.

"S-senpai_"

"Gomenne, aku tidak tahu kamu sedang sakit!" sesalnya, liquid bening tampak keluar dari sudut-sudut mata Luka yang indah. Dalam hati aku menggerutu, siapa suruh membiarkanku kepanasan lalu menyuruh bernyanyi sembari berjoged ria setelahnya. Akh! Aku tak mau mengingat hal itu lagi.

"Luka-senpai, Miku, kalau sudah ayo kita pulang!"

"Loh, bukannya masih ada kegiatan?" tanyaku, Luka menyernyit dan Kaito berusaha menahan tawa.

"Kau pingsan lama sekali loh, Miku. Sekolah sudah bubar sejak kau sadar!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Begitu membuka pintu masuk Gakkupou House, kami bertiga dikejutkan oleh Len dan Rin yang berlarian panik menghampiri. Mereka berdua bersahutan saling mendahului bercerita, kalimat perkalimat dengan sangat harmonis. Mungkin efek mereka sering berduet setiap pagi, entah, yang pasti...

"Meiko-san sedang menggarap sake Kamui-jii di depan kulkas!"

Kami langsung berlari menuju dapur.

"Hiks..."

Lalu menemukan Meiko Sakine duduk mengenaskan dengan segelas sake di tangannya.

Rambut cokelat kemerahannya berantakan seperti singa. Pakaian kantornya, baju berenda tanpa lengan yang dibalut dengan jas kantor dan rok pendek, sudah acak-acakan. Nyaris terlihat seperti korban pelecehan dari pada orang frustasi.

"Kaito, kami mengandalkanmu!" bisik Luka, yang ada di sebelahku, pada Kaito yang berdiri paling dekat dengan wanita mabuk itu.

"Kenapa harus aku?" bukannya bertindak, Kaito malah balik bertanya, dan langsung dapat jitakkan keras dari Luka. Ano bakka! Kalau kami para perempuan yang menanganinya bisa saja 'kan Meiko melakukan hal-hal yang tidak-tidak. Len Kagamine terlalu kasihan membawa wanita itu sendirian. Dia masih anak smp.

"Lakukan saja, apa susahnya sih!" aku, Luka, Rin, dan Len nyaris berteriak. Lama-lama gemas juga sama nih bujang seksi satu. Euh, sudah di begitukan dia baru membopong Meiko pindah ke ruang keluarga. Setidaknya di situ ada sofa besar dan karpet bulu yang tebal, juga bantal.

Kaito Shion hendak meletakkan tubuh sintal Meiko di atas sofa, ketika kedua lengan wanita itu memeluk erat tubuhnya. "H-hei, Meiko-chan!"

Kaito kehilangan keseimbangan. Mereka berdua bergulingan ke atas karpet. Len dan Rin yang hendak membantu melepaskan jeratan itu malah tertendang. Kasian Luka, yang, tadinya telat menghindar malah tertindih pantat Kaito. Aku yang dalam posisi aman sentosa, segera membantunya.

"Piko.."

"Eh?"

Aku berhasil menarik tubuh Luka, tapi keadaan Kaito masih sama sejak lima detik yang lalu. Masih dipeluk Meiko. Malahan sekarang semakin erat. Ghezz...

"Hiks, Piko..."Inginnya kutendang saja pantat Meiko Sakine itu supaya cepat lepas. Tapi, melihatnya menangis begitu, aku jadi setengah-setengah. Kalau tidak segera dipisah, kasian Kaito yang kaku berusaha menahan jarak tapi kalau dipisah? Len dan Rin segera menahan langkahku. Ketika kulirik, mereka berdua menggeleng pelan.

Dan akhirnya aku hanya bisa menghela nafas...

("Mou! tak tahukah kalian kalau aku tak tahan dengan pemandangan ini?!")

"Kamui-saaaaan!..."

Lily, gadis juga aktris yang selalu terlihat muda dan manis itu datang dengan membawa banyak belanjaan. Dari buntelannya, kantong-kantong itu berisi makanan "loh, Kamui-san tidak ada?"

"Ah, Lily!"Rin mengalihkan banyak perhatian dengan suara imutnya, jelas sekali dibuat-buat ceria agar aktris pirang bermata biru itu tidak melihat kemari. "Kamui-jii biasanya meninggalkan pesan di mading kalau tidak pulang sebelum jam tiga!"

"Oke!"

Oh, aku baru tahu kalau Gakkupou House punya mading. Sudah nyaris tiga hari dua malam di sini, dan aku belum pernah lihat. Sungguh penasaran. "Eh, Lily.. chotto matte..." ucapku, Lily yang baik hati langsung menoleh.

"Aku ikut ya!"

Selamatt... selamaaatt...

Aku sukses kabur dari adegan telenovela luar binasa di sana. Gomenne Kamui-san, mungkin untuk sekarang ini aku ingin menyebut ruangan itu ruang tengah.

"Ara..." Lily mengangguk sembari tersenyum. Sangat manis.

.

.

.

.

.

.

.

"Akhirnya kita makan diluar juga!..."

Rin Kagamine, terlihat sangat antusias melebihi biasanya. Sedangkan Len sedang tenang-tenang saja, meski sekilas, aku bisa melihat jelas wajahnya dipenuhi semburat merah jambu. Setidaknya aku setuju dengan penuturan Lily, kalau Luka Megurine berjalan ogah-ogahan sejak keluar dari pagar Gakkupou House.

Tadi, aku membantu Lily membenahi belanjaan ke dalam kulkas. Ada satu kulkas dengan dua pintu di dapur ternyata, yang kiri sebelah pojok untuk sake (yang sebagian besar telah ditelan Meiko Sakine) dan yang kanan untuk makanan. Lengkap dengan freezer. Aku sangat terpesona dengan keahlian Kamui Gakupo mengelola rumah, juga dapur, karena semuanya tertata sangat rapi dan terstruktur.

Pengecualian yah, untuk isi kulkasnya.

Ya ampun, kami terpaksa harus berbenah dahulu karena begitu kulkas dibuka... KABOOM!... isinya tumpah berjubelan keluar. Persis seperti para penghuni Gakkupou House, kecuali Kamui, yang masuk serentak ke dalam kamar Kaito, tepat ketika pagi pertamaku di tempat ini. Aish, aku hanya ingin mengingatnya untuk diriku sendiri sebenarnya, hehe.

Majalah dinding tepat di dinding sebelah kiri ketika kau menghadap kulkas. Ada macam-macam pula yang tertera di sana. Berbagai resep makanan lengkap dengan cara memasaknya, mendetail sekali, denah rumah yang sama seperti yang ada di lorong menuju kamar (yang, astaga, sudah kubilang gambarnya jelek sekali!) juga data diri penghuni rumah lengkap dengan foto dan biodata singkat.

Aku nyaris saja menghafal makanan favorit Kaito Shion, kau tahu, kalau saja Lily tidak segera menemukan memo peninggalan Kamui dan segera mengajakku meninggalkan dapur. Dan disinilah kami semua sekarang. Sebuah restoran besar dengan pelanggan yang lumayan padat, terlihat sederhana dari luar namun sangat mewah di dalam. Kamui Gakupo terlihat melambai-lambai dari balik meja bartender.

Bahkan restoran ini memiliki sebuah panggung teater musik sendiri di pojok. Para pelanggan segera memutar kursi mereka dan bersorak ramai ke arah sana. Seorang gadis remaja berambut hijau pendek, dengan setelan seifuku hijau berbet Vocaloid, terlihat menaiki panggung. Dia mengambil dulu sebuah headset wirelles bermikrofon dari meja di bagian sound, yang gelap, kemudian menyapa penonton.

"Konbawa minna-san, o genki desu ka?"

Restoran ini semakin semarak. Kami berempat terombang-ambing lautan manusia, yang, entah sejak kapan sudah penuh sesak. Dibandingkan restoran kurasa ini lebih tepat disebut konser. Ah, bahkan aku sudah berpisah dengan Lily, Luka, dan Rin. Len sudah tidak terdeteksi sejak gadis berambut hijau limau itu di atas sana.

"Hai, Gumi di sini. Minna-san, welcome to Vocaloid resort and caffe..."gadis di panggung sana masih melakukan pembukaan, tapi para penonton sudah bersorak-sorak. Beberapa di antara mereka bahkan ada pula yang mengeluarkan joystick. Tongkat warna warni yang biasa menyala. "...untuk malam ini kita punya..."

Yeah, dari sini aku bisa mendeteksi kepala pirang kuning dari para penonton di barisan paling depan. Entah itu Rin atau Len, aku perlu memastikannya dengan menerobos ke depan. Kata Luka tadi di jalan, kalau tidak bisa masuk sampai meja bartender tempat Kamui berada, kita tidak akan dapat makan gratis. Payahnya aku lupa bawa banyak uang dan untuk restoran sebesar ini tentu tidak ada makanan murah.

Sial! Kenapa mereka tidak mau minggir sih?!

"Ah, Len dan Rin Kagamine!" semua orang bertepuk tangan bersemangat, disusul dengan teriakan heboh untuk si kembar yang naik ke atas teater dengan ditarik oleh Gumi. "So, lagu apa yang akan kalian bawakan malam ini?"

"Karena ini malam yang spesial untuk Len, aku ingin dia yang putuskan!" jawab Rin ketika Gumi menyodorkan microfon. Gantian benda hitam itu disodorkan pada Len. Pria tanggung itu berdeham sebelum menjawab. Ck, so cool!

Aku berani menjamin ada apa-apanya Len dengan Gumi di balik layar.

"Souka, kalau begitu aku dan Rin akan mempersembahkan lagu pertama malam ini untuk teman baru kami di Vocaloid resort and caffe. Miku Hatsune!" ucapnya. Para penonton bertepuk tangan dan membuka jalan untukku secara otomatis. Yah mereka tahu yang mana itu Miku, karena, lampu panggung langsung menyenter ke arahku. Uh, silau sekali!

Aku masuk ke dalam teater musik itu menggunakan tangga di belakang, tempat Gumi tadi masuk. Memperkenalkan diri sejenak, dengan ceria, lalu kembali turun dari jalan yang sama setelah membungkuk memberi salam. Mereka semua kembali bersorak.

Luka Megurine, yang sudah memakai pakaian sejenis dengan yang dipakai gadis bernama Gumi, langsung menarikku ke belakang pintu bertuliskan "Staff Only!" untuk memberikanku pakaian serupa. Aku juga disuruh ganti pakaian cepat-cepat. Sebelum keluar, gadis bersurai pink itu menjelaskan sekilas bagaimana aturan main 'makanan gratis' yang dijanjikan Kamui Gakupo untuk kami semua hari ini, disini. Dibalas anggukan singkat.

Saat memperbaiki penampilan di cermin besar yang ada di ruangan ini, aku bisa mendengar samar tapi jelas suara dari luar sana. Suara kawaii milik Rin yang berceloteh "... seharusnya lagu ini dinyanyikan oleh Kaito-san hari ini, spesial untuk Miku, tapi sayangnya dia sedang menjaga rumah kami dan Meiko-nee yang sedang sakit..." lalu suara keluhan penonton yang bercampur keluhanku juga.

"So, let's play music DJ!" kata Gumi, disambung kompak oleh dua Kagamine kembar "Cantarella!"

Aku keluar dari ruang ganti, lalu duduk menonton di sebelah Luka. Gumi turun dari panggung dan langsung menghampiri kami ketika terdengar suara biola mengalun lembut. Setiap nadanya menggema meredam riuh rendah penonton. Gelap beberapa detik, begitu lampu menyala terang Len langsung menyanyi ;

Mitsumeau sono shinsen

Tojita sekai no naka

Kizukanai furi wo shite mo

Yoi wo satoraresou...

Rin mengambil bagian mengiringi. Mereka bernyanyi sangat harmonis dan terkadang diselingi dengan berdansa.

... Yaketsuku kono kokoro

Kakushite chikazuite

Toiki kanjireba

Shibireru hodo...

Lagu ini didominasi oleh suata shota Len Kagamine, namun Rin mengimbanginya di beberapa bagian. Lagunya jadi terdengar hidup dan mereka benar-benar berhasil menjiwainya. Aku heran, mereka berdua akan sangat terkenal bila menjadi bintang lalu kenapa tidak ada stasiun televisi yang mau menyiarkan? Apa para pencari bakat sudah malas mencari bintang baru? Dasar payah!

Len dan Rin sampai tiba di lirik akhir lagu Cantarella. Lagu yang terinspirasi dari nama racun yang ada dalam kisah Romeo dan Juliet itu, aku baru tahu itu ketika Megurine Luka dengan baik hatinya bercerita padaku, akan lebih terdengar sadis ketika dinyanyikan oleh Kaito. Tapi apa maksudnya coba, lagu itu terlebih dipersembahkan untukku, apa... jangan-jangan Kaito... tidak, tidak Miku! Jangan sampai kau berfikir macam-macam.

Tepuk tangan dan siulan menjadi backsound tempat ini saat Len dan Rin mengucapkan terimakasih dan turun dari atas sana. Megurine Luka naik ke atas teater dan keadaan kembali ricuh. Gadis berambut pink itu lalu menyanyikan beberapa lagu sebelum kembali turun. Aku tak banyak menonton sebenarnya, Len menyumpali kedua telingaku dengan headset yang mengalirkan lagu World is Mine. Diputar sampai tiga kali.

Mou, padahal aku sangat ingin mendengarkan Luka-senpai menyanyi juga!

.

.

.

.

.

.

.

.

..

.

Lagu yang aku nyanyikan adalah lagu penutup untuk konser kecil-kecilan di restoran Vocaloid. Kamui memberikan makanan gratis yang mewah-mewah juga lezat sebagai imbalan 'pekerjaan' kami semua setelah semua pelanggan bubar. Restoran tutup setelahnya, dan kami akhirnya, pulang jalan kaki bersama. Oh ya, mereka juga menyuruhku membungkus makan malam untuk Kaito.

"Tadaima..."

Kami sampai di Gakkupou House tepat pukul sembilan. Kamui sangat cerewet mengingatkan semua orang untuk menata alas kaki di rak, padahal dia sendiri yang memajang poster bertuliskan "SIMPAN KEMBALI DENGAN RAPI!" di atas rak. Terkadang lelaki berambut ungu panjang itu seperti seorang duda beranak banyak.

Len dan Rin berlarian riang di lorong menuju kamar masing-masing. Luka masuk toilet perempuan untuk memenuhi panggilan alam, sedangkan Lily pergi ke dapur mengisi air minum. Kamui masih berbenah di ruang keluarga, setelah sebelumnya melotot kaget dengan keadaan bantal dan karpet yang acak-acakan.

Aku langsung menuju kamar, dimana bisa kubayangkan sosok Kaito Shion terlelap dibalik tirai bangau. Kamarku sebenarnya kamar luas dengan sebuah lampu bundar anti nyamuk di tengah-tengahnya yang disekat tirai tebal. Yah, meskipun sudah tau penghuni dibalik tirai itu laki-laki tapi tidur di sebelah tirai lebih menyenangkan daripada di pojok.

Begitu pintu dibuka, aku kaget bukan main!

Tidak ada tirai pembatas. Hanya ada Kaito Shion yang tengah rebahan sambil membaca komik. Semua barang-barangku tertata di sebelah kiri, dan aku bisa melihat barang-barang lelaki itu di sebelah kanan. Kamar jadi terlihat sangat besar dari ukuran semula. "Ada apa ini?" entah kenapa hanya kalimat itu saja yang terucap. Rasanya ragu sekali mengatakan kemana perginya tirai bangau besar itu.

"Okaeri Miku!"

"Eh, t-tadaima.."

Menghilangkan rasa canggung yang tiba-tiba menyerang, aku masuk ke kamarku. Berusaha mengabaikan keberadaan Kaito Shion yang sedang mengembalikan komiknya ke meja buku namun gagal. Akhirnya aku memilih duduk bersila sembari memangku bingkisan yang sedari tadi kubawa. Menunggu laki-laki bersurai azure itu selesai dengan urusannya.

"Hei, apa yang kau bawa itu?" tanya Kaito penasaran saat netranya melirik sesuatu di pangkuanku.

"Ini makan malammu, mereka memaksaku membawanya.." tidak sepenuhnya sih, hanya saja aku agak sebal dengan lagu Cantarella itu.

"Wah masih hangat! Arigato nee,"kata Kaito begitu menerima kotak makan yang dibuntel kain biru dariku. Tak lupa senyuman manis darinya, membuat pipiku sehangat kotak itu.

Begitu dibuka, aroma lezat dari chikken katsu dan ebi katsu menyeruak. Ada salmon bakar juga, sosis gurita, sekaligus sebuntel nasi dengan taburan nori. Isi bento yang lumayan bervariasi dengan dilengkapi salad dan washabi. "Mau?" tawarnya, aku menggeleng pelan.

Sepertinya telat makan malam membuatnya kelaparan. Kaito melahap isi bento itu setelah berdo'a, aku hanya tersenyum melihatnya makan seperti Mikuo. Sangat lahap. Agaknya aku juga merasa bersalah tidak pulang cepat tadi.

::

"Miesuita kotoba da to kimi wa yudan shiteru

yoku shitta genkiyaku nara nomihoseru kigashita

sabitsuku kusari kara nogareru atemonai

hibiku byoushin ni aragau hodo"

::

"UHUKH..."

Tiba-tiba Kaito tersedak. Aku panik dan langsung memberinya segelas air dari wadah persediaan minum lelaki itu, "ya ampun, maafkan aku! Seharusnya aku tidak bernyanyi tadi." sesalku. Dia menggeleng.

"Aku hanya kaget kau tahu lagu itu, padahal hanya restoran Vocaloid saja yang menyiarkannya."

"Tadi Len dan Rin berduet lagu itu..." ceritaku, Kaito menyimak sembari melanjutkan memakan nasi dan chikken katsu "...mereka bilang itu untukku..."

Dari Kaito dan kupikir kau benar-benar sebal aku ada di sini, lanjutku dalam hati.

"Kau marah?" tanyanya, aku membuang pandangan karena tak sanggup menatap mata indahnya. Dia terkekeh pelan.

"Sebenarnya lagu itu menceritakan tentang perasaan Romeo yang cinta matinya terhalang untuk Juliet. Karena itulah mereka menciptakan Canterella, racun pemalsu kematian, tapi Juliet akhirnya mati betulan. Racun itu tidak sempurna."

"Kisah yang tragis," komentarku, kini pandanganku tertumbu pada lampu bundar yang dikerubuni nyamuk di atas sana "...aku tidak mau berakhir seperti tragedi Juliet, itu membosankan!"

"Mungkin kau lebih suka melarikan diri seperti Cinderella?"

"Gurauan yang bagus, cerita mereka sama tragisnya!" aku ikut tertawa. Lalu kemudian sepotong ebi katsu mengacung ke arah mulutku. Pipiku kembali menghangat.

"Dari Romeo untuk Cinderella?" gumam Kaito lalu memberi isyarat padaku untuk membuka mulut. Aku menurut. Sepasang sumpit itu memasukan potongan katsu dengan sangat hati-hati.

Aku mengunyahnya beberapa saat. Rasanya normal saja sebelum menyadari perasaan panas di lidahku. Kemudian semakin panas. Aku baru sadar salah mengartikan senyuman Kaito Shion kali ini.

"Huwaaa... Pedaaaaaaasss!"

Menyadari dia telah mengerjaiku dengan mencolekan sisa washabi dan memasukannya ke mulutku. Kaito segera memberiku segelas air, yang langsung kuhabiskan, sambil terus tertawa tiada henti.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

"Maaf jika fic ini agak 'memberontak' tapi fandom sebelah juga ada yang mengangkat fic dengan theme song Marvin Gaye, atau One Thousand Years ost film Saga, dan yang lainnya, aku bahkan nanya-nanya sampai sms author-author yang lain, yang aku punya kontak mereka, sampai kena jitak pedas dari my dear my khaboghoh gara-gara ketahuan smsin fanficcer cowok [yg gw kenal sebagian minim di RL], sebagian dari mereka bilang nggak apa selama itu cuplikan lirik bukan seluruh lirik."

Aku juga sebenarnya sempat menghapus sya'ir-sya'irnya, tapi setelah dibaca ulang ceritanya jadi kurang dafet feelnya, menurutku, tapi nggak tau deh kalau menurutmu. Betwe, makasih bangeeeeet bangeeet bangeeeet saran dan kritik serta masukannya, apalagi kalau sampai ada yang sogok pake pulsa haha... #plakkk

Intinya, ini bukan lirik loh ya, nggak bermaksud ngangkat dan menyalahi aturan tapi emang nggak akan kebawa suasana kalau sampai nggak ditulis. Tambahan ya,

FIC INI AKAN TERUS UPDET SAMPAI TAMAT SEBERAPA NGARETPUN AKU MENGUPDETNYA KARENA ALASAN QUOTE DAN LAINNYA DI RL

Soalnya aku terlanjur bikin fic ini sampai lagi seru-serunya, aku terlanjur hafal jalur ceritanya soalnya. Tapi nggak tau sih serunya yang menurut kalian itu seperti apa...

So, boleh aku kepo pendapat kalian? Tulis di Review yaaa... sebagai ganti sogokan pulsa, misalnya? #plakkk

.

.

.

Jaa nee, arigato for RnR

.

CN Scarlet

[oh ya, buat yang suka fandom sebelah, silahkan baca The Curse of Cinderella dan jangan lupa tinggalkan jejak!]