Cost Catch Love

[Hand by Hand]

Vocaloid © Yamaha Corporation

CN Scarlet

[Friendship, Humor, Romance]

.

.

.

.

.

Hatsune Miku Point of View

.

.

.

"Masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah.."

Boleh aku berharap sesuatu?

Kuharap aku bisa tau makna kalimat yang selalu menjadi pembuka cerita ini.

::

Setelah Kaito Shion menghabiskan bentonya kemarin malam, dia lalu bercerita kalau selama kami semua keluar Meiko mengikutinya sampai masuk kamar lalu memuntahi tirai tebal gambar bangau yang menjadi batas kamar kami. Tak hanya itu, bahkan sampai futon lelaki biru itu juga kena muntahannya. Dan aku hanya diberi satu futon oleh ibu.

Jadi malam itu kami berdua berkeliling meminjam futon tambahan. Len menginap di kamar saudarinya, Rin, karena lampu kamarnya padam. Mereka juga bilang tidak punya futon cadangan. Bergeser sedikit, Megurine Luka sudah terlelap ke alam mimpi dengan masker mentimun di seluruh wajahnya. Tidak mungkin pinjam.

Lily punya dua futon, satu-satunya harapan kami, ternyata tertinggal satu di lokasi syuting. Gadis pirang itu juga mengajakku menginap, tapi aku urung melihat betapa berantakannya kamar itu oleh berbagai macam barang-barang perempuan. Kamar luasnya jadi sangat sempit untuk satu orang, apalagi ditambah aku.

Tinggal Kamui Gakupo. Di lantai dua.

"K-kau yakin kita akan memanjat ke sana untuk meminjam futon?"

Ya, tangga loteng menuju kamar Kamui di lantai dua, sekaligus jemuran bersama, sangat-sangat angker malam hari. Gelap, dingin, juga terdengar suara-suara aneh seperti burung hantu dan cicitan kelelawar vampire. Ditambah kami tidak membawa alat penerangan, hanya smartphone, dan itu sama sekali tidak membantu.

Finally, aku dan Kaito kembali ke kamar dengan sedikit mendongkol. Malam itu, dengan sangat terpaksa, untuk pertama kalinya kami berbagi satu futon bersama.

.

.

.

.

.

.

.

::...;;...::

Gakkupou House at 06.00 am..

::...;;...::

.

.

.

.

.

.

Khusus untuk pagi ini, aku sengaja tidak menghidupkan alarm. Sekolah libur. Para kakak kelas sedang mengadakan acara tour selama tiga hari ke Hokkaido, yang otomatis memotong tiga hari terakhir masa orientasi siswa baru. Yattaa!

Aku tidur lelap sekali tadi, membuat seluruh ototku kaku. Hendak melakukan kegiatan bagun tidur pagi seperti biasanya tapi sesuatu menahanku. Kubuka mataku perlahan, dan helaian biru mohawk bersandar di dadaku adalah pemandangan pertama yang kulihat pagi ini.

Asdfghjkl!

Aku hendak berteriak, tapi kemudian akal sehat dari otak jeniusku berperan lebih cepat pagi ini. Kalau Kamui Gakupo sampai tau, pagi ini, kami berdua akan tamat.

So, apa yang sebaiknya harus aku lakukan, nee Kaito?

Pemilik kepala biru yang tengah memelukku possesif ini menggeliat. Lama-lama pelukannya semakin erat saja, aku semakin merasa tidak nyaman. Aku mulai mencari cara membangunkannya. Dari mulai menepuk-nepuk pipi gembulnya, menarik-nariknya, mengacak-acak rambutnya, sampai memencet hidung bangirnya. Semua gagal.

Reaksi terbaiknya,mengibaskan lengan kekarnya ke udara sambil bilang "Len, hentikan! Sekolahku libur hari ini tau! Kau duluan saja ke kamar mandi...krrr..." lalu kembali membenamkan kepalanya. Kembali memelukku. Ghezzz...

Oh Kaito, tak tahukah engkau kalau kokoro ini tak tahan untuk tidak doki-doki suru?!

"K-Kaito-kun, bisa kau bangun sekarang?" keajaiban! Ini kali pertama untukku menambahkan suffix-kun dibelakang namanya. Hebat, sebuah kemajuan yang layak dirayakan dengan semangkuk miso di ruang keluarga! (menyebut ruangan itu ruang tengah bisa mengingatkanku pada kejadian nista kemarin sore)

Lebih hebatnya lagi, manusia berjenis laki-laki ini langsung mengerjap. Melepaskan pelukannya dariku, bangkit duduk, menguap lebar, lalu bilang "ohayou.." sembari memicingkan mata.

Me-loading apa yang terjadi semalam...

"Hw..." dia hendak berteriak seperti anak perempuan sebelum kubekap bibir seksinya, duh!

"Shhh!..."

Aku melirik-lirik dua pintu geser, – milikku sebelah kiri tanganku jauh di belakang sana, dan Kaito sebelah kanannya jauh juga di sebelah sana – siapa tau ada kuping-kuping 'cecak' hinggap di situ. "Kalau Kamui-jii tahu kita berbagi futon, kau tahu sendiri apa yang akan terjadi. wakkatta?" duh, aku mengutuki dalam hati tentang apa yang telah kuucapkan.

Aku seperti mafia yang mengancam sandera di film-film laga Hollywood, sekarang. Kaito Shion mengangguk paham seperti gadis baik, walau aslinya dia bukan perempuan, tapi aku sangat menikmati wajah malu-malunya yang merah.

Jarang loh melihat pipi laki-laki bersemu begitu, dulu, ketika di Kyoto sana aku harus meracuni Mikuo dulu dengan washabi demi membuktikan betapa imutnya wajah laki-laki yang sedang memerah. Tapi lain Mikuo lain juga dengan Kaito. Yang satu ini benar-benar imut, duh.

"M-Miku, itu..." telunjuk itu menunjuk kearahku. Aku langsung menunduk mengikuti isyarat Kaito, dan wajahku langsung memerah. Semerah-merahnya. Bazenx! S-sejak k-kapan kancing kemeja tidurku t-terbuka d-dua?

"Jangan lihat!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

::

"musekaeru miwaku no caramel

hajirai no suashi wo karameru

konya wa doko made ikeru no?"

Terdengar seorang dengan suara menggema bernyanyi dari dalam kamar mandi laki-laki. Tak ada yang mengantri di sana, tapi ada seorang perempuan berambut pirang berdiri malas di depan pintu kamar mandi perempuan yang juga tertutup. Mengantri.

Aku berdiri di belakangnya dengan handuk dan juga pekakas mandi dalam gayung, setelah saling menyapa. Tak perlu bertanya pada gadis yang juga seorang aktris satu ini tentang siapa di dalam sana, terutama ketika terdengar suara shota seorang gadis mengahut nyanyian kamar mandi sebelah ;

"kamitsukanaide, yasashiku shite

nigai mono wa mada kirai na no

Mama no tsukuru okashi bakari tabeta sei ne"

Kaito Shion, memarkir langkah pertamanya pagi ini di depan kamar mandi laki-laki disebelahku. Rambutnya sama kusutnya sejak beberapa menit yang lalu. Perbedaannya, ada handuk kecil warna putih dan juga ember kecil gambar kodok berisi pekakas mandi di tangan kirinya. Dia mengetuk pelan pintu kamar mandi, namun yang didapat hanya respon berupa nyanyian ;

"shirainai koto ga aru no naraba

shiritai to omou futsuu desho?

zenbu misete yo

anata ni naraba misete ageru no watashi no..."

Lalu terdengar suara gemuruh air, beberapa perempatan siku-siku tercetak di jidat pria berambut azure itu gara-gara merasa terabaikan. Kedua orang pemakai kamar mandi di dalam sana mengeluarkan suara ;

"zutto koishikute cinderella

seifuku dakede kakete ikuwa

mahou yo jikan wo tometeyo

warui hito ni jamasarechauwa

nigedashitai no juliet

demo sono namae de yobanai de

sou yo ne musubarenakucha ne

sou janai to tanoshikunai wa

nee watashi to ikite kureru?"

BRAG... BRAG... BRAG...

Pintu yang terbuat mayoritas dari seng itu diketok keras-keras oleh Kaito Shion yang pasang wajah sebal. Bad mood.

"Len Kagamine, cepatlah kau jangan berduet terus!" teriaknya lalu melompat ke belakang, sebuah cipratan besar air keluar dari lubang ventilasi.

"Mengantrilah dengan tenang, Shion-san!" kata Len tak kalah sebal sembari keluar hanya memakai handuk di pinggang. Kedua tangannya membawa ember berisi cucian bersih dan alat mandi. "Ohayou Lily, Miku, kemarin malam yang indah ya!"

Lily hanya tersenyum manis sementara aku menyernyit. Untung saja Kaito sudah masuk ke dalam sana. Bisa panjang urusannya kalau sampai si biru tahu apa yang dikatakan anak berambut kuning yang tengah ber-nana-nana ria ke kamarnya. Tak lama kemudian, Rin keluar dengan handuk sampai leher. "Ohayou!" sapanya.

"Ah, ohayou mo Rin!" jawabku bersemangat. Lily masuk ke dalam sedangkan Rin berjalan ria sembari ber-nana-nana menuju kamarnya. Benar-benar kembar identik, batinku. Aku pasrah menunggu satu giliran lagi.

Tiba-tiba saja alam memanggilku, sangat mendesak. Menunggu Lily selesai lebih cepat bukan pilihan utama mengingat gadis itu baru masuk dan memulai ritual mandinya. Aku mulai memegangi perut, tepat ketika Megurine Luka datang membawa tas besar dari lorong belakangku. "Ohayou Miku, kau kenapa?"

"Ohayou Luka-senpai. Aku hanya kebelet, haha..."jawabku sembari tertawa canggung. Halis pinkish itu terangkat satu.

"Di dapur ada ruang cuci dan toilet, kau bisa menggunakannya kalau sangat mendesak. Oh ya, di rumah tolong panggil 'Luka' saja ya!" sarannya lalu menghilang di balik pintu.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung melesat menuju dapur dan mendapati Kamui bercelemek renda pink sedang berkutat dengan terong dan tepung. Mungkin sedang membuat tempura untuk sarapan, lupakan itu, abaikan saja. Aku sedang butuh tempat buang hajat sekarang!

"Ohayou Miku-chan, eh, kamu kebelet?" aku hanya mengangguk dan segera melesat menyebrangi dapur.

Lalu kemudian menemukan gulungan futon dan gorden dengan bau muntah menyengat hidung di dalam bathub.

Sudah jelas aku tidak bisa memakai kamar mandi ini sekalipun luas dan mempunyai ventilasi besar, yang, mempunyai peluang paling besar Kamui Gakupo akan mengintip lewat sana. Terlebih di sini tidak ada closet. Aku memutuskan kembali secepat mungkin ke kamar mandi biasa.

Beruntung, Kaito baru selesai menggunakan kamar mandi laki-laki dan dia hanya bisa melongo ketika aku menerobos masuk dan segera mengunci pintu. Iya, dia hanya pakai handuk melilit pantat. Iya, aku tahu kok dia itu pemandangan perusak iman. Iya, aku juga tahu kalau penghuni perempuan tidak boleh memakai toilet sebelah kiri. Pokoknya WHAT THE HELL PERATURAN, SEKARANG TUNTASKAN DULU PANGGILAN ALAM!

(Baru setelah itu aku bebas berkhayal pemandangan lima detik tadi, hehe)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tempura panas, telur gulung, dan sushi tuna tersaji di meja makan. Masih mengepulkan asap. Satu persatu dari penghuni Gakkupou House berdatangan menduduki tempat masing-masing. Kamui duduk manis dekat penanak nasi masih dengan celemek berendanya, persis duda beranak banyak, tengah menghitung jiwa di ruang makan.

Aku datang paling telat, dengan kaos pink longgar berlogo bunga-bunga hadiah deterjen dan celana pendek seperempat kaki, baru selesai mandi dan masih menggulung rambut tosca-ku dengan handuk. Kebagian duduk berhadapan dengan Rin, dan Len di sebelahku yang sudah rapi dalam balutan seifuku. Di depan Len ada Luka, dalam training abu-abu Tokyo Art High School, dan Meiko dalam pakaian kantornya. Lily tak ada disini. Manajernya menelpon dan dia buru-buru pamit setelah keluar dari kamarnya.

Kaito duduk tepat di samping kanan Len Kagamine, dan paling dekat dengan Kamui dan penanak nasi, mendapat mandat membagikan semangkuk-semangkuk untuk kami semua. Tanpa ada birefring, kami pun makan dengan nikmat dan khidmat di meja itu.

Sesekali terjadi perang sumpit antara Len dan Rin di atas piring telur gulung yang masih banyak, lalu Luka dan Meiko berebut Sushi tuna, sampai Kamui Gakupo berdeham keras menarik banyak perhatian. Hanya aku yang makan dengan damai, bersama semangkuk tempura lezat di hadapanku. Tidak ada yang mau mengambilnya di sekitar sini, sekalipun Kaito dan pak tua berambut ungu itu terkadang berebut di sebelah sana.

Usai makan bersama, Len dan Rin berangkat ke sekolah bersama Meiko yang berangkat kerja ke kantor percetakan. Kaito membantu Luka membawakan tas besar yang berat itu sampai perempatan, lalu kembali ke Gakkupou House cepat-cepat.

"Loh, Kaito dan Miku libur ya?" tanya Kamui-jii begitu kami berdua hendak menuntaskan misi. Mencuci gorden dan futon sampai benar-benar bersih.

"Begitulah," kataku sembari memeriksa perlengkapan dalam ember, Kamui pergi keluar membawa sekop setelah melepas celemek berendanya. Dapur sebersih ruang operasi sekarang. Benar-benar tripikal duda beranak, ck!

"Err, Kaito, apa kau punya pewangi kain?"

Kepala berambut biru keluar dari balik pintu geser kamar mandi, hanya kepalanya saja. "Kamui-jii punya persediaan, lemari dibawah kompor. Pintu ketiga!"

Aku segera memeriksa tempat yang telah disebutkan Kaito barusan. Ada banyak sekali persediaan disana, dari mulai sabun cuci, sabun mandi, odol, pewangi pakaian, pemutih, penghilang noda, obat kumur, berbagai macam sikat, shampoo, sampai berbotol-botol luluran. Semuanya berjubelan keluar begitu aku membuka penghadang pintunya.

"Ambil saja pewanginya, tak usah dibereskan dulu!" suara barithone seksi itu menggema dari dalam ruang cuci. Daripada bingung memilih, aku segera mengambil produk pewangi pakaian warna hijau, yang sobekannya ditahan oleh penjepit jemuran, lalu memasukannya ke dalam ember. Persediaannya beragam dan banyak sekali.

"Astaga, ini menjijikan!" gerutu Kaito sembari membuka gulungan futon yang penuh noda muntahan dimana-mana. Aku langsung membantunya melebarkan kasur lantai kotor itu.

"Aku tidak yakin noda-noda ini hilang semua. Apalagi yang merah ini!" kataku sembari mengalirkan air panas untuk membasuh futon itu dan meredam sedikit bau amisnya. Kaito yang sedang mengisi bathub dengan air sabun menyahut.

"Untuk itu kita pakai ini!"

"Apa itu?"tanyaku penasaran pada botol aneh yang dikeluarkan pria itu dari kantong celana dongkernya.

"Soda kue, aku mengambilnya dari kulkas tadi. Psst... jangan beritahu Kamui-jii!" dia mengatakan itu dengan nada ceria sambil memelankan suaranya di bagian akhir. Aku tertawa mendengarnya.

Kami berdua pun melakukan acara sikat-menyikat selama satu setengah jam lamanya. Melakukan pembilasan dengan cara menginjak-injak cucian di dalam bathub, sampai memberi pewangi di bilasan terakhir. Melelahkan sih, tapi, seru juga.

Jam dinding gambar Lily si aktris kamar sebelah di cekungan lorong menuju kamar menunjukan pukul 9.30. sedangkan aku dan Kaito sedang menggotong cucian menuju jemuran bersama di lantai dua. Sampai di tikungan lorong ruang makan saja rasanya sudah uyuhan, apalagi, masih ada lorong lain sebelum mencapai tangga. Terkadang aku mengutuki arsitek yang sudah merancang Gakkupou House dengan lorong berbelit dan juga luas.

Susah payah kami menaiki tangga menuju lantai dua, disambut oleh Kamui yang sedang menutrisi pot-pot bonsainya dengan kotoran. Butuh usaha keras meletakan ember besar ini dalam radius tiga setengah meter dengan tangan yang kebas.

Pertama-tama aku dan Kaito menjemur cucian baju-baju, di kanan tali tempat baju-baju dan daleman Len Kagamine berkibar tertiup angin. Lalu memanfaatkan jajaran terhalang selimut gambar ikan pink milik Luka, untuk menjemur pakaian dalam. Baru setelah menjemur seifuku, kami kembali gotong-royong mengurusi futon dan tirai tebal basah.

"Heh, tumben kalian mencuci tirai. Biasanya tunggu tahun baru aku cucikan?"sindir Kamui sembari memindahkan bonsai yang sudah diberi kotoran ayam ke kursi tanaman bertingkat lima di pojok timur lantai dua. Lalu menyianginya dengan air keran.

"Meringankan beban pak tua yang semakin tua, kami rasa.." balas Kaito, perempatan tercetak di kepala Kamui. Dia paling sensitif dibilang tua. "Oke, naikan sekarang Miku!"

Ichi, nii, san...

Futon basah itu secara kompak berpindah ke tali paling besar dan kuat yang ada. Mengabaikan Kamui yang masih asyik menata bonsai di belakang, aku menatap puas hasil misi kami berdua. Benda itu bersih berkilau seperti baru!

Terimakasih soda kue, kau ide terbaik untuk noda bandel.

"Hah, kenapa kalian juga mencuci futon?" Kamui baru nyadar.

"Kalian... kalian melakukan apa semalam di rumah suciku, hah?! Kenapa kalian lakukan hal-hal menyenangkan..." dan bla... blaa... bla...

Kamui Gakupo berkacak menuduhku dan Kaito yang bukan-bukan. Padahal, dari tadi kami sudah mengap-mengap seperti ikan mas koi hendak menjelaskan ; kalau semalam Meiko Sakine sudah memuntahinya setelah meneguk habis sake milik pria itu di kulkas, (Tentu saja tanpa menyebutkan kami berbagi futon tadi malam gara-gara itu semua) tapi Kamui terus meracau tanpa jeda.

Matahari begitu terik. Panas menyengat membakar bumi, menguapkan air dari kain-kain basah, juga membantu metamorfosis para bonsai. Kamui menyudahi kultum yang tak dianggapnya dengan menyeka keringat sebesar biji jagung di keningnya dengan punggung tangan, yang mana, tengah menggenggam erat-erat sekop kecil.

Sekop itu adalah benda yang dipakai pak tua hentai memindahkan kotoran ke pot, yang, ternyata masih ada sisa sejumput kotoran ayam disana. Dalam adegan slow motion, terlihat dengan begitu dramatis, dimana ehem-kotoran-ehem itu terciprat ...

dan...

melayang bebas di udara...

lalu mendarat diatas futon bersih Kaito Shion.

"KAMUI-JII!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

A/N: gomenne aku keasyikan melanjutkan fic ini sampai-sampai lupa mengupdatenya. Hahaha, aku memang ceyoboh. Demo nee, makasih banget banget banget sama yang udah follfollow sama yang favfav fic ini. aku sangat sangat senaaaaaanggg... #berievanfolkkadisawah

Makachiii bangeeet sama yang udah ngasih banyakk bantuan saran di setiap chapter, menjadikan banyak perubahan untuk bangsa. Betewey, aku minta mangaff buat bacotan nggak mutu di chap kemarin. Maaaaaaaaf banget yaaaa...

Aku nggak tau apa yang terjadi di ffn, sampai review-review baru nggak bisa terbaca, dan aku berusaha cari di e-maill, biasanya masuk. Gomenne demo, minna-san daisuki!..

.

.

.

.

.

.

.

.

RnR yaa

CN Scarlet.