Cost Catch Love

[Kaai Yuki vs Gumi]

Vocaloid © Yamaha Corporation

CN Scarlet

[Friendship, Humor, Romance]

.

.

.

.

.

Hatsune Miku Point of View

.

.

.

"Masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah.."

Tentu saja ada, pasti ada!

-Len Kagamine-

::

Jam bergambar aktris idola kamar sebelah, Lily, menunjukan pukul 12 tepat ketika Kamui Gakupo merebahkan tubuhnya di ruang keluarga. Beliau tidak protes, hanya menggerutu sendiri dalam ruang cuci di belakang, ketika membersihkan ulang futon-nya Kaito. Salah sendiri, lagipula, tidak ada yang menyuruhnya mengotori kembali hasil jerih payahku dan sang pemilik futon, kok.

"Haaaaaai, silahkan dinikmati!" ucapku riang sembari menghidangkan segelas besar ice camomille tea, dua gelas lemon tea dingin, dan semangkuk besar keripik singkong rasa keju.

Kamui langsung mengambil gelas besar dan menandaskan isinya dalam beberapa tegukan. Saking cepatnya sampai terdengar mengerikan, seperti seorang hantu kanibal yang tengah meminum darah mangsanya, kentara sekali kalau lelaki itu tengah kehausan. "Syuuup... ah! Segarnyaaaa..."

"Hati-hati nanti tersedak!" pria berambut biru mencomot segenggam keripik singkong dan mengunyahnya sehelai-sehelai. Televisi besar yang sedang menayangkan kumpulan berang-berang panjat tebing berganti menjadi hamparan pantai penuh cewek berbikini.

Jangan tanya siapa, sudah pasti pak tua berambut ungu di ujung kiri sana pelakunya. Kaito Shion melotot garang, menatap barang bukti yang ada dalam genggaman si hentai yang sedang fokus-fokusnya menatap layar kaca. "Kamui-jii, berikan remotnya!"

"Dame yo, kau juga laki-laki kenapa protes?"

Kamui Gakupo mempertahankan benda persegi panjang tipis itu dari jangkauan Kaito. Kedua bola mata hitam keunguannya masih berkilat mesum ke arah televisi. "Sini berikan!"

"Ck, diamlah Kaito!"

"Kalau begitu ganti chanel-nya!" ujar Kaito keukeuh, berusaha merebut benda itu dari Kamui yang berusaha menjauhkannya. Sesekali pria biru itu melirikku yang tengah bersedekap canggung.

Mereka berdua berebut remote sedangkan aku hanya bisa menepuk jidat. Terpaksa menonton acara tidak bermutu kesukaan Kamui, yang menayangkan cewek-cewek berbikini di pantai, tentu bukan kesenangan bagiku yang juga seorang cewek. Apalagi 'ukuran-ukuran' para perempuan di sana seperti memakai efek kamera khusus, ya ampun, besar sekali!

Dan tanpa disadari aku melirik ke arah tubuhku sendiri. Tepatnya, ke arah dada yang dari tadi aku bersedekap. Hell yeah, aku tak seberuntung gadis-gadis dalam acara pantai di televisi. Bahkan milik Megurine Luka dan Meiko Sakine lebih big, akan sangat bagus memakai pakaian seperti bikini. Aku jadi iri.

Tiba-tiba saja tampilan televisi tadi berpindah kembali, pada tayangan berang-berang yang kini sudah berubah menjadi kumpulan katak beracun. Rupanya remote sudah aman tergeletak di tengah. Kedua pria itu sekarang malah menatap iba padaku.

"A-apa?" tanyaku garang, tiba-tiba Kamui menyatukan kedua telapak tangannya. Memohon.

"Gomenasai Miku-chan!" ucapnya, Kaito kembali mengambil sejumput keripik dalam mangkuk dan memakannya sehelai-sehelai (lagi) sedangkan aku menyernyit heran. Menyeruput lemon tea sambil menunggu alasan pria ungu itu meminta maaf, yang, sayangnya, aku dan pria berambut biru di sebelahku langsung tersedak begitu mendengar ...

"Demo ne... ukuran Miku-chan juga terlihat cukup seksi, mudah digenggam, dan juga ..."

BLETAK!...

Alasan tak senonoh yang diucapkan oleh pria mesum dengan nada mesum dan juga mimik wajah tak kalah mesum itu memang pantas mendapatkan dua jitakan pedas. Satu dariku, dan satu dari Kaito. Jadilah dua benjol macam tanduk di pucuk kepala ungunya, yang semakin ungu. Rasakan itu! lagipula apa-apaan tuh maksudnya gerakan dua tangan di depan dada itu? dasar Kamui no hentai!

Tingtong ...

Tidak biasanya suara bell Gakkupou House berbunyi. Terutama di jam segini, kata Kaito, rumah ini jarang pengunjung. Kamui langsung bergegas keluar ruang keluarga hendak menyambut tamu. Aku dan Kaito mengekor kepo.

Begitu pintu masuk digeser, seorang gadis kecil nan manis bersurai sehitam langit malam nampak berdiri dalam balutan pakaian gambar lemon tanpa lengan dan celana pendek diatas lutut, sambil membawa ikan mas koki warna merah yang mengibaskan ekornya genit dalam stoples plastik berisi air. "Ojii-chan, Onii-chan! hisashiburi ne..."

"Aih, hisashiburi Yuki-chan, ayo masuk, masuk!"

Hanya aku yang kebingungan di sini. Kamui dan Kaito langsung menyambut gadis kecil itu masuk dan duduk manis di ruang tamu. Sedangkan aku menyediakan segelas ocha dingin dan permen, lalu meletakkannya di meja. Tepat di samping ikan mas koki yang berbelok-belok memamerkan ekor merahnya.

"Hai, douzo..." ucapku sambil tersenyum, lalu aku kembali ke dapur untuk mengembalikan nampan ke atas rak piring.

Saat hendak berbalik, aku kaget. Ternyata gadis kecil itu mengekoriku. Sembari tersenyum, lalu menatapku dengan wajah polosnya yang benar-benar imut, dia tiba-tiba bertanya "nee-chan, apa Onee-chan pacarnya Kaito Onii-chan?"

"Heee?" aku langsung berjongkok, mengambil posisi sejajar dengan gadis ini. "K-kenapa kamu berpikir begitu, etoo, siapa namamu?"

"Kaai Yuki, Yuki desu yo..." gadis itu menggembung lucu. Dari tingkah dan tingginya, kira-kira usianya 9 tahun jalan.

"Ah iya, Yuki-chan..." aku tersenyum lalu kucubit pipinya pelan, "kau sangat menggemaskan!" dan mengabaikan total pertanyaan konyol anak ini.

"Aduduh... onee-chan, shakiiiitt..."

"ah, gomenne.."

Aku menarik kedua tanganku dan dia mengelus pipinya yang memerah lucu. Bibirnya yang mengerucut, perlahan menarik senyuman lima jari. Mengandung unsur modus. Firasatku buruk soal ini. Apalagi ketika satu-satunya pria berambut biru di Gakkupou House masuk ke dapur. Mengambil sebungkus cheese ball dari lemari cemilan Kamui, lalu kembali ke ruang keluarga.

"Kaito-nii!" anak itu mengekori Kaito yang menuangkan cheese ball ke dalam mangkuk keripik yang tinggal sedikit. "Nee-chan ini pacarmu 'kan?"

Cheese ball yang berpindah santai ke dalam mangkuk besar tiba-tiba saja berhamburan. Kaito Shion yang tanpa sadar menambah sudut bungkusnya, cepat-cepat membuatnya tegak. Suara katak dari televisi memenuhi keheningan ruang keluarga. "Hah?"

Aku mengambil alih remote dan memindahkan saluran televisi pada acara anime. Yuki segera mengambil tempat duduk ternyaman antara aku dan Kaito, fokus menonton Pokemon. Berhasiiiiilll, dengan begini dia tidak akan menanyakan pertanyaan macam-macam! Batinku bersorak girang.

"Nee Kaito-nii, kau belum menjawab pertanyaanku barusan!" ucapnya tanpa mengidahkan diri dari depan tv.

Siaaaaall!

"K-kata siapa?" kaito mengucapkan itu sambil memberi deathglare padaku, kejam! Aku pun menggeleng kuat-kuat sambil angkat tangan.

"Oh ayolaaah..."

"Yuki-chan, lihat apa yang kupunya?"

Kamui datang membawa buku-buku dongeng. Yuki langsung bangkit menghampiri si rambut ungu dengan penuh semangat. Mereka pergi ke ruang tamu. Meninggalkan aku dan Kaito yang berlomba menggarap cheese ball. Anime di layar kaca kembali pada acara yang menayangkan katak, tapi sekarang sudah berubah menampilkan bangau-bangau merah muda yang berbaris di teluk.

"Nee, aku tidak mengatakan hal-hal aneh pada Yuki-chan, tahu. Kau percaya tidak?"

"Iya aku tau."

Lalu hening.

Televisi besar itu selesai dengan acaranya, untaian nama orang-orang dibalik layar mengalir dengan latar orang utan yang bergelantungan. Cheese ball di mangkuk sisa seperempat. Aku mulai bosan.

"Tadaimaaaaaaaa!..."

Keributan dari pintu masuk berasal dari sikembar Kagamine yang baru pulang sekolah. Mereka melepas sepatu dan kaos kaki asal serta langsung memakai sandal rumah, namun harus kembali ke sana karena Kamui-jii melotot dari pintu ruang tamu.

"Len-niichan!"

Gadis berambut hijau itu menengok dari belakang pak tua berambut ungu panjang.

"Yuki-chaaan!"

Disambut antusias oleh Len Kagamine, mereka berpelukan riang seperti sepasang kekasih yang saling melepas rindu. Aku berpindah ke belakang punggung tegap Kaito. Merasa tak sanggup untuk kembali melihat keanehan lain yang mungkin terjadi dalam Gakkuppou House. Di Kyoto tempatku tinggal, anak-anak seperti mereka tidak wajar begitu.

"Minna-san, sebenarnya Gumi berkunjung hari ini. Untuk mengerjakan tugas kelompok." kata Len, Kaai Yuki masih memeluknya manja. Rin nampak membungkuk-bungkuk di pintu masuk yang masih terbuka itu. Lalu seorang gadis berambut hijau limau dengan seifuku serupa Kagamine bersaudara melongok malu-malu.

"Konichiwa minna-san," sapanya anggun, aku tidak percaya kalau itu Gumi yang sama dengan Gumi super ceria dari teater musik kecil lestoran Vocaloid. Jelas dia orang yang sama. Hanya saja... aduh gimana menjelaskannya ya?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Psst... Kaito," bisikku, si rambut biru bergumam saja sekenanya. Dia sudah larut dalam majalah manga yang tengah dibacanya. Kami berada di kamar, dan aku tengah mengintip Len, Rin, Gumi, dan Yuki di lorong dari pintu geser milik Kaito. Mereka sedang membuat rumah-rumahan dari botol bekas minuman, sedangkan Yuki menonton dari sebelah Len. "Apa... apa kau tau kalau Gumi dan Len itu punya hubungan spesial?"

Kaito mendongkak, "maksudmu?"

"Yah, kau mengerti 'kan, sejenis... sejenis p-pacaran atau saling m-menyukai mungkin?" entah kenapa aku jadi paranoid dengan kata berdasar 'pacar' sejak direcoki gadis sekolah dasar beberapa jam yang lalu.

"Kau sangat peka, Miku. Aku bahkan baru sadar saat kau ingatkan barusan!" jawab Kaito sambil berpindah ke sebelahku, ikut mengintip. Astaga ternyata kau sangat parah, batinku.

Kami terdiam. Menonton Rin yang sedang sibuk mengguntingi bahan, Gumi yang sibuk mengelem sesuai pola di sketsa, dibantu oleh Len yang terus ditemploki Yuki. Anak sekolah dasar itu sepertinya tak mau lepas dari cowok Kagamine yang lima-enam tahun lebih tua darinya itu.

"Kaai-san, bisakah kau menyingkir sebentar?"gumam Gumi, namun masih bisa kami berdua dengar dengan jelas untuk sebuah gumaman.

Psst, ada nada cemburu nih yang terdeteksi dalam ucapan itu!

"Idiih, nggak ah! Lagipula Len-niichan tidak mempermasalahkannya, apa urusanmu?"

Walau Yuki masih terlalu dini menurutku untuk urusan 'cinta', tapi harus kuakui kalau dia cukup cerdas. Tangan Gumi mengepal. "Kau itu mengganggu pekerjaan kami tau! Sana pergi, main masak-masakan diluar!"usirnya.

"Onii-chan..."

Len Kagamine hanya tersenyum dan mengelus-elus sayang anak kecil yang nyaris menangis itu. Membuat kedua pipi Gumi mengembung dan bibirnya mengerucut lucu. Yuki tersenyum penuh kemenangan pada si rambut hijau limau. Rin, tersenyum penuh arti pada kembarannya yang mulai populer di kalangan gadis. Terlihat dari kepalanya yang sedikit condong ke kiri tadi.

"Oh ya ampun!"

"Kenapa Rin?"tanya Len, menarik atensi kedua gadis kecil pada gadis berambut kuning pendek berpita putih yang duduk membelakangi tempatku dan Kaito berada sekarang.

"Bahannya habis. Tunggu, aku akan mengambilnya!" lalu dia berdiri dan pergi ke kamarnya. Gumi dan Len yang sekarang tengah membiarkan Kaai Yuki duduk dipangkuannya sekarang bisa terlihat jelas dari sini. Gadis kecil itu terlihat mencubit-cubit kecil pipi menggemaskan Len, membuat gadis yang satunya lagi menggerutu sepertinya.

"Kaito, oh, hai Len-kun!" Kamui-jii nongol dari jendela sebelah kiri Len, tepat di belakang Gumi. Kepala ungunya tertutup bandana hijau lumut yang agak kotor, "kalian lihat Kaito Shion tidak?" tanyanya. Kaito sedikit mempersempit celah, agar Kamui tidak melihat walaupun bayangannya.

Ketiga anak di sebelah sana menggeleng pelan. Lalu Rin kembali dengan satu buah botol plastik bekas susu kedelai kemasan yang sudah dicuci. "Kamui-jii, apa kau masih menyimpan botol-botol bekas?"

"Tidak Rin, kemarin sudah habis dirampok Len!" guraunya. Rin menghela nafas.

"Souka, kalau begitu aku tanya Kaito. Sankyuu!"

Gawat!

SREEEEEKK...

Aku hendak mundur, tapi kepalaku mentok di dada Kaito yang condong ke depan, dan lagi, pintu keburu digeser Rin Kagamine sebelum kami berdua berubah posisi. Jadilah Kaito tersungkur ke depan, yang juga, menimpaku dari belakang. Semua orang yang ada, apalagi Kamui di jendela, menatap kaget kami berdua.

Habis... posisinya bikin sport jantung sih!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah selesai diceramahi selama tujuh menit oleh pak ustadz Kamui, kami semua disuruh untuk bergotong royong membantunya di kebun belakang. Panen sayuran. Dan aku baru tahu kalau Gakkupou House juga punya kebun yang disulap menjadi ladang di sekitar rumah. Kata Kaito, mereka juga punya lapangan tenis terbuka juga. Aku jadi penasaran seberapa luas keseluruhan rumah beserta halamannya ini.

Menyenangkan rasanya memetik-metik tomat, kol, terong, juga cabai dan labu sore-sore begini. Kasihan Kaito yang harus mencangkul bersama bapak berambut ungu untuk membuat gundukan baru, tapi dia juga tidak mengeluh. Mungkin sudah biasa.

Len, Rin, Gumi, dan Yuki tampaknya juga begitu menikmatinya. Mereka bermain kejar-kejaran dari gadis Kagamine yang membawa-bawa kotoran ayam yang bercambur cacing dengan sekop. Ck, dasar anak-anak.

Mengabaikan kebisingan mereka, aku menaruh kumpulan terong matang yang berhasil kupetik di ladang ke dalam keranjang yang lebih besar. Sudah sangat penuh, dan aku sudah memetik semua terong ungu yang ada, hanya tersisa sekitar sepuluh buah dalam keranjang kecil. Sudah tidak muat. Aku pun menghela nafas.

Keranjang terong, tomat, cabai, kol, dan juga labu sudah tidak sanggup menampung mereka semua. Musim semi memang singkat. Kamui Gakupo sepertinya tidak mau menyia-nyiakan waktu dengan menanam semaksimal mungkin di ladang, sampai hasil panennya membuat tangan dan pinggangku kebas.

"Miku-chan, kau sudah selesai?" tanya Kamui yang sedang mengistirahatkan dirinya sendiri di atas rerumputan. Aku mengangguk, tapi mataku terfokus pada pria berambut biru di sebelahnya yang tengah meminum rakus sebotol air mineral. Tenggorokanku pun ikut kebas.

"Yokatta... kau bisa melanjutkannya dengan memanen bawang daun dan seledri di kebun depan, tak perlu semua, sisakan dua rumpun dari setiap jenis agar aku bisa menanamnya kembali. Kau tinggal lurus saja dari sini, belok ke lapang terus jalan lurus. Aku menanamnya dekat jendela ruang tamu dan ruang keluarga. Yoroshiku ne!"

Yoroshiku ndas lu!

Inginku berteriak frustasi di depan Kamui yang seenaknya itu, ah, pantas saja bayar kostnya murah meriah eh ternyata penghuninya harus kerja bakti begini. Tahu begitu sudah minggat dari awal aku. Tapi mungkin tidak lagi. Seolah tahu isi pikiranku yang mulai malas, Kamui-jii yang terkadang baik itu, mengutus serta Kaito Shion bersamaku.

Kali ini mungkin aku bersyukur dengan perjalanan panjang kebun belakang dan kebun depan. Juga rimbunan daun bawah berbonggol besar-besar yang tumbuh subur di sudut luar ruang tamu dan ruang keluarga, ataupun rimbunan seledri montok di sudut pagar kayu yang memanjang sampai pintu depan. Dengan begitu kebersamaan yang 'romantis' ini akan jadi lebih lama dari yang direncanakan. Yattaaa!

Pertama-tama, kami memanen seledri terlebih dahulu. Kaito yang mengangkat sayuran beraroma sedap khas itu dari tanah satu-persatu. Aku tinggal menerimanya dan memasukan ke keranjang kami. Tak tega membiarkannya bekerja sendiri, aku pun ikut berjongkok. Pekerjaan akan jauh lebih mudah jika dikerjakan berdua, nee Kaito-kun?

Kini giliran daun bawang. Cara mudahnya tinggal siram tanahnya dengan air sampai benar-benar basah, lalu cabut satu persatu. Sesuai wasiat Kamui Gakupo di kebun belakang, aku tidak perlu memanen semuanya. Sisakan dua rumpun saja.

Aku menghela nafas, lalu meregangkan pinggang. Yosh, sudah semuanya! Aku berbalik dan menemukan Kaito sedang tersenyum sambil memegangi sekeranjang penuh daun seledri. Tunggu dulu, aku kenal dengan senyuman aneh itu, sangat ingat!

"Hei Miku, kau bisa menyanyikan Ievan Polkka sepuasnya sekarang!" katanya sambil tertawa dan berjalan pelan meninggalkanku.

Aku langsung mencerna maksud dari ucapannya, lalu melirik sebonggol daun bawang di tangan kananku. Tinggal bongolnya. Kaito sudah mencukurnya barusan, sebuah gunting berwarna kuning yang menyembul dari balik kantung celana belakangnya melambai menjadi barang bukti.

"Kaitooo!..."

Aku mengejar Kaito yang kini berlari cepat menuju kebun belakang sambil mengibas-kibaskan daun, eh, bongol daun bawang. Berharap bisa memukul kepala bersurai birunya dengan benda itu.

Samar aku mendengar Kaai Yuki berkata "aku bilang juga apa Jii-chan! mereka memang pacaran, tahu!"

.

.

.

.

.

"Haaaah, belum kering juga..."

Kaito menghembuskan nafas panjang, surai birunya tampak menghitam seiring langit jingga yang mulai menggelap. Yuki sudah pulang dengan jemputan, yang juga membawa serta seluruh hasil panen Kamui dan menukarnya dengan segepok uang. Lumayan lah, untuk membiayai kehidupan pak tua itu (kalau dipakai untuk hal-hal aneh, seluruh anak-anak Gakkupou House siap beramai-ramai menjewer telinganya).

Len mengantarkan Gumi sampai di kediamannya, yang ternyata hanya dua blok dari gang usagi. Kamui menyuruhku dan Kaito membeli camilan tambahan bersama di supermarket yang letaknya agak jauhan, dan ketika kembali, menyaksikan gadis bersurai hijau limau itu tengah memagut mesra anak lelaki berambut kuning jeruk itu tepat di depan rumahnya. Dan pemandangan itu menohokku (juga Kaito).

Jadilah kami berdua pulang kerumah bersama Len Kagamine, yang tumben-tumbenan, tidak bernyanyi sepanjang jalan. Dia terus memegangi bibirnya sambil berjalan agak sempoyongan. Aku bisa menjamin kalau wajahnya panas dan merah.

Sampai sekarang, Len belum mendapatkan kesadarannya, mengambil jemurannya sembari ber-nana-nana irama lagu Out of Graffity. Dia bahkan lupa handuknya masih di atap, menyuruhku segala untuk kembali mengambilnya. Yah, sekalian mengambil serta cucianku sendiri alih-alih mendapati Kaito menggerutu di hadapan futonnya.

"Bagaimana ini Miku?"

"Yah, mumpung masih di sini kenapa tidak pinjam Kamui-jii? Nih bawakan, biar aku yang minta pinjam futonnya!"

Kaito memangku seluruh cucianku yang tidak terlalu banyak itu diatas baju-baju bersihnya di dada. Tidak beranjak turun dan malah menemaniku ke tempat Kamui yang menyala terang. Dari bayangannya di kaca buram bertirai, beliau sedang berbenah. Aku mulai mengetuk pintu gesernya "Kamui-san!"

"Miku, ada apa?" tanyanya tanpa keluar.

"Futon milik Kaito masih belum kering, kami datang pinjam, apa kau masih punya futon cadangan?"

"Iya ada, masuklah!"

"Miku, sebaiknya kau tidak..." Kaito seperti hendak memberi tahuku sesuatu, tapi aku sudah terlanjur menggeser pintu itu. Hampir masuk, jika saja mataku tidak melotot melihat puluhan gambar-gambar tak senonoh berjejer di dinding kamar. Tepat ketika mulut Kaito berbisik "... nekat masuk ke dalam kamar orang hentai!"

BLAMM!

Pintu itu segera kubanting. Wajahku merah padam.

"Loh, tidak jadi pinjam?"

Kamui Gakupo dengan wajah tanpa dosanya, melongo keluar dari kamar. Aku bersedekap dada dan mengambil langkah mundur ke belakang Kaito. Mengintip takut dari balik lengannya.

"Tidak Jii-chan, aku jadi pinjam punya Luka saja. T-tadi Rin bilang boleh kok!" ucap Kaito, itu jelas bohong! Begitu pulang dari supermarket dan meletakkan kantung belanjaan di dapur lalu memanjat ke lantai dua, kami berdua sama sekali belum bertemu Rin Kagamine.

"Ah baiklah kalau begitu, aku akan menghangatkan makan malam."ucap Kamui, aku dan Kaito langsung turun dari tempat itu cepat-cepat.

Sampai di lorong menuju kamar, Rin Kagamine keluar dari kamar mandi perempuan dengan handuk yang melilit dadanya. Dari tubuhnya yang basah semua, dia sudah selesai mandi rupanya. "Kaito, Miku! Futon yang tadi itu belum kering 'kan?"

"Iya Rin..." jawabku, Kaito pamit sebentar ke kamar untuk menyimpan pakaian kering kami. "Karena itu dia mau pinjam punya Luka." tandasku. Rin menyuruhku masuk ke dalam kamarnya yang serba kuning, tanpa sungkan.

"Kau sudah coba pinjam Kamui-jii?"

"Rin-chan sendiri tahu bagaimana bentuk dalam kamarnya, menyeramkan!"

Rin tertawa sembari memakai baju tidur lucu seluturnya, lagi-lagi warnanya kuning. "Kukira hanya anak laki-laki yang boleh masuk ke tempat itu, haha, kau tahu Kaito sampai memakai jasa laundry seminggu pasca pertama kali dipaksa masuk ke kamar itu."ucap Rin sembari menambahkan "apa poster hentai jenis yuri masih ada di dindingnya?"

"Tidak sih, hanya gadis berbikini sempit saja. Tapi..."ucapanku terpotong oleh suara Len Kagamine di luar.

"Miku, Kaito, Rin, makan malam sudah siap!"

Rin mengerutkan dua halisnya, heran seratus persen dengan saudara kandungnya yang dia kenal sejak dalam kandungan. Seolah berkata "keselek apaan anak itu?" pada dirinya sendiri. Aku hanya terkekeh.

"Oh iya, futonnya! Astaga, aku lupa. Tuh ambil aja di kamar Luka!" kata Rin sambil menunjuk tirai merak sebelah kiri. Kusibakkan sedikit, dan gulungan futon tersandar di dinding. "Sudah disiapkan Luka-nee sejak tadi pagi, loh."

"Arigato.."

Aku langsung keluar dari kamar Rin, dengan futon Luka dipangkuanku. Kaito sedang memasang tirai bangau ketika aku masuk, dan langsung mengambil alih futon. "Kenapa lama sekali?"

"Rin mengajak mengobrol tadi. Eh ya, makan malam sudah siap!"

"Kalau begitu ayo cepat!"

Kaito selesai memasang kembali tirai itu seperti semula lalu menarikku cepat-cepat menuju ruang makan. Len Kagamine sudah duduk di sana sendirian, bersama tiga piring onigiri, dan dua piring penuh omelet gulung ekstra bawang di atas meja makan. Rin datang dan langsung mengambil tempat di sebelah kembarannya, setelah aku dan Kaito duduk bersebelahan. Terakhir, Kamui bersama teko besar beruap hangat yang langsung diletakan di sebelah penanak nasi. Tepat di sebelah jajaran gelas kayu yang ada di sebelah kiri.

Meiko sampai di rumah dalam keadaan layu dan menyedihkan tepat ketika nasi matang sempurna dalam mesin penanak nasi. Dan seperti biasa, Kaito yang duduk paling dekat dengan Kamui yang membagikan mangkuk nasi. Kami makan dalam keadaan damai, dimana, hanya ada suara para penghuni Gakkupou House berebut pangan dengan perang sumpit.

"Jadi, apa yang membuat saudara kembarku yang manis ini tidak menyentuh makanannya?" gadis manis di sebelah Len Kagamine membuka obrolan setelah semuanya selesai makan.

Rin sangat jeli! Aku bahkan baru sadar kalau semangkuk nasi milik Len masih utuh. Yang ditanya hanya diam, menahan senyuman dengan mengemut onigiri. Wajahnya jelas bersemu lucu. Dengan lengan kanan masih menggenggam sumpit yang terus menutupi bibirnya. Aish, menggemaskan!

"Apa ada sesuatu yang aku lewatkan?" tanya Meiko, wajah lesu tadi hilang tanpa bekas. Aku dan Kaito menyeringai penuh maksud, tentu saja, kami berdua tahu apa yang membuat seorang Len Kagamine aneh begitu.

"T-tidak kok!" Len berkilah, tangan kirinya menggaruk tak gatal kepala kuningnya.

Kamui mengendus-endus, "kau bahkan tak biasanya pakai parfum?" godanya.

"K-kubilang juga, aku tidak k-kenapa-napa. Hehe. D-daijoubu!"

"Ahaaa~~" ucapku dan Kaito bersamaan, Len memberikan tatapan seolah bilang 'diam atau mati!' yang tidak kami hiraukan.

"Masa-masa sekolah menengah pertamamu sangat indah, ya 'kan Len-kun?"

"Tentu Miku, kau juga melihatnya tadi. Uh, kenyal... oh iya Len, seharusnya kau berterimakasih pada Gumi-chan untuk yang tadi!"

Candaan Kaito membuat sepengisi majelis tertawa lepas, dan Len Kagamine semakin memerah wajahnya. Meneguk air sebanyak-banyaknya. Dia mencoba untuk menetralkan rasa gugupnya. Ah, makan malam hari ini harusnya dilakukan di ruang keluarga untuk merayakan kebahagiaan Len.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tentu saja, asal kau tahu, semua akan berakhir menyenangkan kalau saja Len Kagamine tidak bilang. "Kaito-nii, Miku-nee, kurasa kalian membicarakan malam kalian kemarin, bukan?"

Membuat seluruh perhatian teralih padaku dan Kaito.

"Apa kalian tidak mau menceritakan secara terperinci soal kejadian indah di kamar kalian berdua malam kemarin?" tanya Len lagi, dia bahkan menambahkan "aku melihatnya sendiri, tengah malam, kalian tidur berpelukan dalam satu futon!"

"Kalian..." kedua mata Kamui mulai membulat, tangannya mengepal "...berhutang banyak penjelasan padaku malam ini!" tandasnya.

Dan itu sukses membalikkan senyuman diwajahku dan Kaito.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

A/N : thanks friends buat aplikasi vocaloid sanversion nya, aku udah instal dan bikin lagu ababil tadi siang. Mwahahaha...

Baydewey kalau ada yang punya softcopy voicebank Megurine Luka, Len and Rin Kagamine, sama Lily, hubungi aku yaa! Yeaaayyy... aku sayang kalian!

Oke, lupakan aplikasi baru dan lagu ababil itu. aku minta maaf sekali lagi kalau fic ini tidak akan pernah berhenti updet dan bikin kesel kalian karena keseringan updet (?) karena sudah kubilang dari awal kalau aku sayang banget sama fic yang satu ini. Duh, gimana jelasinnya ya, susah pokoknya, yang pasti aku suka banget akhir-akhir ini sama fic Cost Catch Love.

Aku paling suka saat ngetik adegan-adegan sweet KaiMiku di chapter kemarin sebenarnya, yang hand by hand, dimana Kamui Gakupo nggak sengaja lempar kotoran ayam ke futon Kaito. Haha, aku udah bilang ya kalau aku ngakak tiap baca bagian itu? yah, intinya ini fic tercipta buat bahagiain diriku sendiri yang lagi mudeng mikirin antara kuliah di negeri atau swasta, antara kuliah dan enggak. Oke, lupakan!

Aku mengupload dan terus mengupdate fic ini dengan harapan ada yang ikutan bahagia dengan membaca fic ini, sepertiku.

Ekhem.

Baydewey, menurut kalian nih, scene mana yang paling kalian sukai dari Cost Catch Love sejak chapter satu sampai chapter ini?

jawab di review ya, yang jawabannya paling ellite akan dapet pulsa gratis dari konter masing-masing dengan syarat dan ketentuan sesuai konter pulsa masing-masing. Haha...

jaa nee!

.

.

.

.

Endang CN Scarlet