Cost Catch Love
[Weekend Fluffy]
Vocaloid © Yamaha Corporation
CN Scarlet
[Friendship, Humor, Romance]
.
.
.
.
.
Hatsune Miku Point of View
.
.
.
"Masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah.."
Jangan khawatir Miku-nee, semua akan baik-baik saja!
-Rin Kagamine-
::
Hari Sabtu.
Butuh perjuangan penuh rintangan dan tantangan tiada henti untuk mencapai satu hari di akhir pekan ini. Termasuk berbagai ceramahan panjang semalam. Damn you Len Kagamine, gara-gara dia aku dan Kaito terjebak berjam-jam di ruang keluarga bersama Kamui dan segudang kata-kata nasihatnya yang tidak pernah habis.
Sudah dua hari dihitung sejak waktu itu Lily belum juga pulang ke Gakkupou House, Kamui sudah mulai gelisah pagi tadi. Hari ini memang kantor libur, Meiko Sakine bersantai dengan pakaian mini di dapur. Kamui Gakupo sudah mengamankan koleksi sake dalam kulkasnya dengan menyuruhku mengunci lemari es itu pagi-pagi sekali, dan sialnya, aku baru tidur selama tiga jam tadi malam!
Dikepalaku berdengung ucapan Len Kagamine yang seenaknya membongkar rahasiaku dengan Kaito malam itu. Astaga.
Meski kantor libur, sekolah tetap berjalan di hari sabtu. Kegiatan klub dan ekstrakulikuler sampai jam sepuluh, Len dan Rin sangat bersemangat di meja makan. Hell yeah, untuk menggodaku. Bahkan Meiko dan Kamui juga. Aku tidak percaya ini, bahkan Kaito juga tidak ada sampai sarapan habis semua. Kemana dia?
SREEEEEKK...
Begitu tirai bangau yang membatasi kamar kami kusibak, seorang Kaito Shion nampak di atas futon milik Luka sembari menggulung seluruh tubuhnya dengan selimut. Kepalanya saja yang tengah terpejam di atas bantal membuatku yakin ada yang tidak beres dengannya. Penasaran, kuletakkan tangan kiriku ragu-ragu menyentuh keningnya yang tertutup surai biru, dan benar saja!
Panas.
Kaito demam. Mungkin gara-gara kemarin mandi terlalu malam dengan air dingin, kata Len, pemanas air kamar mandi laki-laki perlu diperbaiki. Ditambah lagi, kami kurang tidur. Diam-diam aku mengutuk Kamui yang berceloteh sampai nyaris pagi kemarin.
"Miku-chan, hari ini Luka pulang dari perjalanannya 'kan? Bisa kau jemput dia di halte, oh, kau juga bisa mengajak Kaito!" suruh Kamui ketika aku menampakkan diri di dapur, dia sedang mencuci piring dibantu oleh Meiko.
"Meiko-san, bisa tidak kalau kau dan Kamui-jii saja yang kesana?" usulku. Meiko mematikan keran dan Kamui berhenti mengelap piring basah.
"Memang kalian berdua mau kemana? kencan?" tanya, lebih tepatnya goda Meiko dengan seringai genitnya. Berusaha tidak peduli aku mengambil baskom kecil lalu kuisi dengan es dan air dingin dari kulkas.
"Kaito sedang demam. Terimakasih untuk nasihatmu tadi malam jii-chan, karena itu, dia jadi mandi lebih malam juga!" perkataanku memang sadis, tapi aku mengatakannya sambil tersenyum dengan nada ceria sambil meninggalkan tempat itu.
Samar, tapi aku bisa dengar Kamui berbicara pada Meiko.
"Miku-chan mengerikan kalau marah ya, hiiyy!"
.
.
.
.
.
.
.
Entah sudah berapa jam aku di sini merawat pria berambut biru yang kini terbaring lemah di atas futon. Meiko mengantarkan semangkuk bubur dan pil penurun panas ke kamar Kaito sebelum berangkat bersama Kamui menjemput Luka. Buburnya terlalu kental seperti nasi, jadi aku memasaknya lagi dengan tambahan air.
Kaito sedikit sadar saat kusuapi bubur dan kupaksa meminum obat , lalu tidur lagi. Panasnya belum normal ketika terakhir aku mengganti kain kompres. Aku tidak ingat pastinya, tapi sepertinya aku ketiduran disampingnya. Karena begitu aku bangun, ada Rin Kagamine yang menggantikan kompresan di dahi si rambut biru.
"Sudah jam berapa?" tanyaku, Rin tersenyum.
"Jam setengah sembilan, aku pulang lebih awal karena guru kelas musik kami cuti melahirkan." jelasnya, aku mengangguk paham. Nafas Kaito lebih teratur dan membaik. Aku mencoba meraba keningnya, mengira-ngira suhu tubuhnya, lagi. Lalu membasahi ulang kain kompresnya.
"Apa dia selalu mudah sakit?" tanyaku, Rin menggeleng.
"Biasanya dia sehat, mungkin tubuhnya melemah karena kemarin bekerja terlalu keras membantu Kamui-jii."
"Ah, iya..." aku hendak menanyakan lagi, mengorek banyak informasi tentang Kaito pada Rin, yang sama-sama menghuni Gakkupou House lebih lama dariku, tapi tiba-tiba saja seseorang membuka pintu kamar sebelah sana dengan gesit.
SREEEKK... BRAKK!...
"KAITOOOOO..."
Empat orang pemuda dan seorang gadis remaja berhambur masuk dengan tidak sopannya, mereka juga yang tadi berseriosa menggebrak pintu. Kaito sedang sakit, kemana otak mereka semua tertinggal? Aku dan Rin mengingatkan dengan menaruh satu jari di telunjuk sambil berdesis. "SSSsttt!..."
Barulah lima tamu tak diundang itu diam. Duduk berjejer sesuai ukuran badan dan usia, membentuk pola kepala seperti not balok dari do sampai so. Mereka semua menatap nanar Kaito Shion yang terbaring lemah dengan mata yang dipaksakan melek, untuk melihat para pembuat onar barusan. "K-kalian?"
"Ah, syukurlah sudah siuman..." kata pria berambut kuning, yang duduk di nada ketiga.
"Nii-chan membuat kami khawatir!" sambung gadis berambut biru, yang duduk di nada pertama, yang paling dekat dengan kepala Kaito.
"Kami langsung bergerombol datang ke sini begitu diberitahu oleh Taito no baka, kau sakit. Hah, merepotkan!" gerutu pria berambut merah yang duduk di nada keempat, langsung diberi jitakan pedas oleh pria berambut hitam di sebelahnya.
"Untunglah ada spring onion girl-san yang bersedia merawat saudara kami semua. Kami sangat berterimakasih!"ucap si rambut hitam lalu membungkuk padaku, diikuti yang lainnya seperti efek domino. Agaknya familliar dengan yang satu ini, aku pernah bertemu dengannya, dimana ya...
Nona daun bawang...
Julukan itu, aku mendapatkannya saat menyanyikan Ievan Polkka di tengah lapang sambil mengibas-kibaskan bongol daun bawang. Astaga, aku ingat sekarang! D-dia 'kan ketua OSIS Tokyo Art High School, yang selalu berdiri dekat tiang bendera dengan almamater berbeda ketika masa orientasi! Y-ya ampun... kenapa dunia begitu sempit, ya?
"Ah iya, maafkan kami semua. Kami belum memperkenalkan diri..." kata si rambut hitam, "aku Taito, dia Akaito, Kikaito, Nigaito, dan Kaiko," mereka semua lalu mengangkat tangan masing-masing sesuai nama yang disebut cepat oleh Taito.
"Dan kami semua bermarga Shion." sambung si rambut merah, yang bernama Akaito, disetujui oleh cengiran lima jari semuanya. Aku hanya tersenyum masam.
Diantara keempat pemuda itu, seorang pemuda berambut hijau yang lebih muda dariku, kira-kira seumuran si kembar Kagamine, menarik atensiku. Bukan berarti aku suka daun muda, tapi memang dari tadi dia masuk, manik hijau emerald-nya terus terpaku pada gadis manis di sebelahku. Rin Kagamine.
Ketika kulirik Rin, dia hanya tersenyum simpul padaku sambil menutupi kedua pipinya dengan tangan. Hm, ini akan jadi menarik!
"Kalian akan membuat Kaito tambah sakit tahu!"
Megurine Luka dengan setelan jeans pendek, kaos biru muda dan jaket hitam serta topi coat, juga ransel di punggungnya, berkacak pinggang di depan pintu. Kedua matanya menatap tajam, dan bibirnya mengerucut sangar. Wajah yang sama dengan senpai yang memarahiku perihal daun bawang saat masa orientasi beberapa hari ke belakang.
Kami semua menelan ludah, kecuali Taito Shion yang dengan kalem menjawab "tenanglah Luka-chan, aku dan sepupu-sepupuku hanya ingin mengunjungi sepupuku ini saja kok!"
"Dakara..."
"Minna-san, sekarang sudah waktunya liga dunia tayang! Siapa yang mau ikut denganku menonton bola?" Kamui Gakupo muncul di sebelah Luka dan langsung mengintrupsi perkataan gadis berambut salmon itu. Para sepupu Kaito langsung berhamburan dari ruangan ini, mengikuti pak tua itu ke ruang tengah. (mereka bukan penghuni Gakkupou House, jadi aku tidak menyebutnya ruang keluarga)
"Dasar laki-laki!" gerutu Meiko Sakine, membawa nampan berisi tiga gelas camomille tea panas dan semangkuk kue jahe. Rin langsung memakannya satu sedangkan aku masih bertanya-tanya apakah kue berbentuk aneh itu layak dimakan atau tidak. "Makanlah Miku-chan, kamu sudah lama menunggui anak ini. Ayolah, ini hanya kue yang diberi parutan jahe." Bujuknya.
Aku mencobanya satu, tepat saat Megurine Luka masuk ke sini membawa dua kaleng susu khas Hokkaido. "Miku-chan, ini oleh-oleh dariku dan untuk Kaito juga. Milik Meiko, Rin, dan Len sudah kuantar sampai kamar masing-masing. Untuk Kamui bagaimana ya? aku hanya beli sedikit, tidak mungkin cukup untuk Taito sekeluarga.." ucapnya. Aku dan Rin berusaha untuk tidak terkikik geli.
"Nee-chan, kau taruh saja di kulkas. Ada ruang kosong di bawah tempat telur ayam, kalau tidak salah. Ohya, jangan lupa kasih nama!"
Aku kembali membasahi kompresan di dahi Kaito, es dalam baskom sudah cair seluruhnya tapi masih lumayan dingin untuk menurunkan suhu tubuhnya yang tinggal sedikit lagi mencapai suhu normal. Meiko dan Luka sudah kembali keluar. Tinggal aku, Rin, dan Kaito yang tertidur pulas. "Nee, Rin-chan.."
Rin menoleh, aku kembali berucap "bagaimana menurutmu tentang Nigaito-san?"
"E-eh, yhaa..." wajahnya memerah! "D-dia sekelas denganku, hanya Nigaito-kun setahun lebih tua dariku dan Len."
"Kau... menyukainya?" selidikku hati-hati, dia mengangguk pelan. Aku tersenyum simpul. Dasar kembar! Sama-sama menyukai yang berambut hijau rupanya, hoho... ucapku dalam hati.
"Tapi dia tidak menyukaiku sepertinya.." eh?
"Dia selalu cuek padaku kalau di kelas, bahkan dia tak pernah mau melihatku. Padahal aku cinta dia!" Rin meneteskan air mata, tapi segera dihapusnya.
Sekilas, aku melihat bayangan surai hijau di sebelah pintu geser kamar Kaito. Tak yakin sih, tapi pasti itu doi! Kesempatan... aku akan terus memancing Rin bercerita, "lalu, apa Rin-chan pernah bilang 'sangat suka' pada Nigaito-san?"
"Mana berani aku!" Rin mengerucut, wajahnya merah seperti tomat di kebun Kamui. "Nigaito-kun sangat populer di kalangan anak perempuan, mustahil mengatakannya. Dekat saja tidak mungkin."
"Tapi menurutku dia memang menyukaimu, Rin-chan!"
Rin berpikir sebentar, memproses ucapanku barusan.
"Kalau begitu, aku hanya berharap bisa dekat dengan Nigaito-kun, seperti Miku-nee dengan Kaito!"
Aku menyeringai, "kau dengar itu Nigaito-san? (Rin tersentak) kau bisa masuk sekarang!" lalu seorang anak laki-laki berambut hijau limau masuk ke dalam. Rin Kagamine menatap laser ke arahku, yang, kubalas dengan cengiran tanpa dosa. Meniru gaya Len Kagamine yang seenak udel kemarin.
Balas dendam, tak ada Len, Rin pun jadi! Mwuahahaha... aku tertawa nista dalam hati.
"G-gomen, aku tidak bermaksud..."
"A-a, Nigaito-kun, b-bukannya kau dan para laki-laki sedang menonton bola?" Rin mencoba bersikap biasa saja, walau kenyataannya pipi kedua anak sekolah menengah pertama itu sudah merah-merah. Aku pun menyingkir ke sebelah Kaito, mengganti kompres di dahinya.
"Time out, sedang iklan komersial."
"Ooh,"
Hening.
"Hei, bisakah kalian berbicara diluar?" suara Kaito tiba-tiba memecah kesunyian. Dia memaksakan matanya yang sayu terbuka, "aku ingin berduaan di sini dengan Miku-chan, tahu!" usirnya. Aku blushing berat.
Tapi kata-kata itu cukup ampuh untuk membuat Rin Kagamine dan Nigaito Shion menyingkir. Dirasa keberadaan kedua anak itu sudah tidak terdeteksi, kusentil ujung hidung Kaito agak keras. "Aw..."
"Apa-apaan kau ini?" dengusku, memberi deathglare pada pucuk biru Kaito. Matanya sayu menatapku, ya Tuhan... itu kelemahanku.
"Hei Miku," ucapnya sembari mengelapkan kain kompresan ke seluruh wajah, dia bangkit duduk, "apa lima orang berisik bermarga Shion itu masih ada di sini?"
"Mereka di ruang keluarga. Kau diam dan pulihkan saja tubuhmu yang lemah itu, mendokuse!"
Kudorong jidatnya sampai kembali terbaring seperti tadi. Suhunya sudah agak lumayan walau masih sedikit panas, jadi aku memakaikan lagi kain kompresnya. Memastikan selimut kembali menutup tubuh atletis berbalut kemeja tidur bergambar ice cream itu dengan benar, sebelum bangkit menuju dapur mengambil bubur tambahan.
Hari cepat sekali menjadi sore. Bodohnya aku baru sadar ini sudah sore ketika melihat cahaya senja menerobos masuk dari jendela depan kamar.
Oke, aku merawat Kaito seharian ini dan terhitung berapa kali keluar. Saat mandi, mengambil bubur dan pil, mengembalikan mangkuk kosong dan kembali mengambil bubur, mengisi ulang pengompresan, lalu mengambil bubur dan pil lagi. Aku bisa merasakan kelima Shion bersaudara, juga Len dan Kamui-jii, menatapku dari ruang tengah ketika aku kembali melintas di lorong dua kali, selama suara pembawa acara liga Jepang cup berkoar penuh semangat dari layar kaca.
Meiko Sakine dan sebotol sake, Megurine Luka dan salad buahnya di ruang makan, juga Rin Kagamine yang sedang memanaskan pancake dari kulkas mendadak menonton kegiatanku mengatur semangkuk bubur, segelas air hangat, dan sebutir pil vitamin dalam wadah plastik di atas baki. Susah sekali di sini bersikap apartis. Tidak disaat mereka berbicara tepat dalam radius beberapa meter di sebelah telingaku.
"Uh... cho cwiiiit~~"
"Nee, apa selama aku sekolah apa nee-chan sempat keluar?"
"Entahlah... kau tahu aku bersama Kamui menjemput Luka, tapi..."
"Tapi?"Luka dan Rin kompak menanti kelanjutan ucapan wanita dewasa berambut cokelat pendek yang berdada lumayan shugoi itu.
"Ini antara kita saja ya," aku masih bisa denger loh, mbak Meiko! "gadis teal kita ini sangat panik pagi tadi!"
Mereka semua diam saat aku melintas kembali. Kepo memang bukan gayaku, dan aku punya firasat buruk tentang ini, tapi... euh. Sekalipun aku berusaha cepat, ocehan mereka tetap terdengar seakan ketiganya menguntit sampai lorong ruang keluarga. Oh Tuhaaan, kupingku panas! kuharap sesuatu akan meredam ocehan mereka walau beberapa saat!
"... daaaaaan... ya, tendang bolanya dan... owh..."
"GOOOLLL!..."
Terimakasih liga lokal yang tayang sore ini, setidaknya, dengan begitu aku tidak harus mendengar suara ketiga penyihir itu sampai tikungan berikutnya. Oh, aku merasa jadi Cinderella yang didzalimi ibu dan dua saudari tirinya.
.
.
.
.
.
"Terimakasih atas makanannya!"
"Kamui-san, jangan lupa final liga dunia minggu depan!"
"Nanti kami akan datang lagi, loh!"
"Terimakasih sudah mau menjaga sepupu nakal kami, gadis daun bawang!"
Kelima manusia bermarga Shion berpamitan dengan menyalami kami semua di pintu gerbang Gakkupou House. Hari sudah nyaris malam, bahkan Kamui belum sempat masuk dapur untuk memasak karena meladeni makhluk-makhluk astral itu seharian. Meiko dan Luka menghabiskan bubur buatanku yang tersisa untuk makan malam Kaito, jadi mereka tidak terlalu merasa kelaparan sepertiku.
"Hati-hati di jalan!..."
Lupakan perut yang keroncongan! Ekspresi malu-malu kucing Rin dan Nigaito yang berjalan pelan-pelan sambil menoleh ke belakang sekali-kali lebih ingin aku perhatikan saat ini. Terutama Len Kagamine, anak itu temperamental sekali pada Shion berambut limau satu itu.
"Tak usah kembali, merepotkan!" teriaknya, yang langsung diganjar sebuah jitakan pedas nan menyakitkan dari Kamui-jii pada kepala kuningnya. Len meringis saja memegangi ubun-ubunnya yang tumbuh bakpao.
Para penghuni Gakkupou House minus Kaito Shion, berbalik masuk ke dalam dengan Rin Kagamine di urutan terakhir. Entah kenapa langkah gadis sekolah menengah pertama itu sepertinya berat sekali masuk ke dalam. Aku kembali ke luar saat mengganti sandal dengan sandal rumah.
"Rin-chan!" Itu suara laki-laki loh, aku hanya menonton dari sini.
Rin berpaling. Pintu gerbang berderit terbuka saat anak laki-laki berambut hijau limau itu menerobos masuk dan memeluknya. Membisikkan sesuatu, entah apa itu aku tidak mendengarnya karena jarak dan dia berbisik sangat pelan tepat di sebelah telinga Rin.
Kucatat dalam hati aku akan menanyai gadis itu nanti.
Pelukan itu berlangsung sangat cepat, bahkan sebelum Rin sempat membalas ataupun mendorong Nigaito menjauh. Aku yakin tadi melihat anak itu juga mencium pipi Rin Kagamine. Terlihat sekali dari wajah memerah gadis itu, semua terjadi begitu cepat setelahnya.
"Temeeeee!..."
Nigaito Shion langsung berlari keluar secepat kilat dengan wajah merona, yang, dikejar sekuat tenaga oleh Len Kagamine dari belakangku. Dia mengejarnya sampai jarak pandangku terputus di tikungan gang Usagi di depan sana, saudari Rin yang satu itu berteriak "bangsat! Beraninya kau lakukan itu pada Rin, langkahi dulu mayatku, oiii!" sambil loncat-loncat marah. Astaga, apa dia siscon? Hiyh!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
