Cost Catch Love
[Kisshu]
Vocaloid © Yamaha Corporation
CN Scarlet
[Friendship, Humor, Romance]
.
.
.
.
.
Hatsune Miku Point of View
.
.
.
"Masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah.."
Nikmati saja!
-Kamui Gakupo-
::
Hari-hari berikutnya melelahkan di Gakupou House. Tiga hari Kamui tidak masak, yang artinya, dia lembur di restoran Vocaloid. Sama dengan kita semua harus mengisi acara di tempat itu, atau hal lainnya, untuk bisa makan gratis. Restoran besar nan mewah di kota Tokyo, aku akan memelukmu jika kau bisa menemukan makanan atau minuman dibawah dua puluh yen di menu. Tentu saja selain semangkuk nasi dan air putih yang memang gratis.
Siangnya, kehidupan sekolah Tokyo Art High School dimulai di hari Senin. Tentu saja. Tak ada yang bisa kuharapkan di hari pertama, kedua, dan ketiga di sekolah selain berkerumun untuk berkenalan dan membentuk sebuah koloni pertemanan. Hal yang umum terjadi.
Dan hebatnya, aku menemukan sudah mendapatkan julukan 'gadis daun bawang' dari hari pertama. Itu membuatku cepat mendapat banyak teman di kelas dan menarik perhatian banyak kaum laki-laki, itu sisi positifnya. Negatifnya julukan itu membuat Kaito terus mengusiliku selama ada dalam Gakkupou House dalam kurun waktu tiga hari terakhir.
Kalau ada Kamui, mungkin dia hanya akan meledekku dalam jarak yang tidak terdeteksi pak tua itu. Dan sekali lagi, kalau beliau ada, nyatanya lelaki dewasa yang kadang sering mesum itu memang sangaaaat jarang di rumah. Luka, Rin, dan Len hanya akan memihak Kaito. Meiko yang akan menjadi satu-satunya orang paling dewasa di Gakkupou House, sama sekali tidak membantu.
"Urrusai ne!.."
Kami main kejar-kejaran pagi-pagi sekali ketika kebagian piket membuat karena pria berambut azure itu lagi-lagi meledekku untuk menyanyikan lagu Ievan Polka, sambil mencukur (lagi) daun bawang di tanganku dengan gunting. Meiko Sakine meneguk ocha hangatnya dari meja makan, tumpang kaki, dengan pandangan lurus ke dapur.
"Kenapa tidak sekalian saja kalian melakukan hal yang lebih menyenangkan daripada sekedar main kucing-kucingan, heh?" wajah wanita itu mengerucut, "berciuman mungkin?... ah, menyebalkan!"
DUKK...
Kubenturkan kepalaku di meja, untuk yang ketiga kalinya, berharap dengan begitu aku langsung amnesia sekalian. Sebal rasanya. Godaan yang dilontarkan tadi pagi oleh seorang Meiko Sakine seolah-olah sudah melubangi isi kepalaku. Astaga.
PUK!
Eh? Seseorang menepuk pundakku.
Aku menoleh dan menemukan seorang pria manis setinggi Kaito Shion, namun dengan rambut merah muda seperti Megurine Luka versi pendek, tengah tersenyum ke arahku. Bola matanya berwarna emas seperti milik kucing. "Hi," ucapnya, yang juga kubalas dengan balasan serupa.
"Kenapa kamu mencumbu meja dengan keningmu?" kosakata aneh keluar dari mulutnya, membuatku terkekeh pelan. Dia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi jel, menuangkan di jarinya lalu menempelkannya di jidatku yang memerah. "Namaku Yuma, kamu?"
"Hatsune Miku," jawabku. Meringis tertahan saat merasakan sensasi dingin dari jel itu meresap di keningku.
"Ah, aku melihat konsermu di Vocaloid cafe kemarin. Kau keren sekali!"
"Arigato.."Aku tersenyum, lagi.
Yuma menarik sebuah kursi mendekat lalu duduk di sana untuk mengobrol. "Kau cantik!" katanya dan aku langsung merona. Sedikit, sampai siluet pria berambut azure yang selalu mengusiliku itu masuk kelas, mengambil manga di mejanya, lalu kembali keluar kelas. Oh, jangan lupakan delikan tajamnya ke arah sini. Idih, apa-apaan pula Kaito itu!
Aku menghela nafas. Lalu menghembuskannya serentak.
Bel berbunyi nyaring disusul dengan masuknya guru bahasa inggris berambut pirang dengan kaca mata. Diva-sensei, mengenalkan diri lalu memerintahkan sepengisi kelas satu melakukan salam perkenalan menggunakan bahasa Inggris. Pelajaran bab satu selama dua jam dilalui tanpa minat sampai bel pulang.
Mayoritas anak-anak Tokyo Art High School pulang dengan kereta Shinken Express, jadi mereka mengambil jalur kanan. Berlawanan arah dengan beberapa minoritas yang memilih jalur kiri, termasuk aku, dengan tujuan pulang Gakkupou House. Kukira kami akan keluar paling awal, tapi ternyata malah sebaliknya.
Tanpa disangka-sangka aku menyaksikan adegan lovey-dovey a la a la anime Shojou favorit Len dan Rin Kagamine di gerbang sekolah. Tepat di pintu gerbang dengan latar guguran bunga sakura. Pink dan raven.
Megurine Luka dan...
(aku mengucek mata dua kali, siapa tahu salah lihat, tapi benar permirsa!)
TAITO SHION!
Yups. Salah satu Shion bersaudara yang Sabtu malam kemarin datang mengacau di Gakkupou House, dengan dalih menjenguk sepupu Kaito. Halah. Dia memang konyol waktu itu, tanpa kaca mata kotak, tapi tampilannya di sekolah sangat berkharisma. Sangat menarik perhatian bagi cewek-cewek pintar yang kerjanya berkencan dengan buku. Kecuali aku ya, tipeku itu sejenis si ganteng bermata onyx yang keep calm, selalu optimis, kuat, juga humoris. If you know who I mean.
"Kau selalu sibuk dengan segala urusanmu. Olimpiade ini, lomba itu, dan segala event-event lainnya. Taito, kau bahkan tidak ingat hari jadi kita?" sang gadis berambut pink mundur ke sebelah kiri, mereka berhadapan. Aku bisa melihat raut sedih dan kecewa di sana.
"Luka-chan, kau itu wakil ketua osis Tokyo Art High School! Kukira kau juga mengerti kapan aku senggang, yah," dia menghela nafas, wow aku baru tahu kalau Luka-senpai itu waketos, "... kau tahu sebarapa besar cintaku. Sejak dulu, aku bahkan menunggu sampai hari ini karena kau memimpikan pacar seorang ketua organisasi. Kukira kau senang."
"Taito Shion!"
Megurine Luka maju dan menarik kerah pemuda itu ke arahnya. Untung area ini sudah lumayan sepi, jadi tak banyak yang melihat. Toh hanya aku yang menonton, yang lain cuek saja, jadi tidak masalah bukan kalau gadis pink itu berteriak-teriak tiga perempat oktaf?
"Aku bangga padamu, sangat bangga. Dan, aku tahu kau menyukaiku sejak dulu, kau tahu kita sudah lama sekali saling mengenal. Jadi apa salah kalau aku mempermasalahkan pada kekasihku sendiri kalau aku dan kekasihku belum pernah berkencan sejak jadian?"
Oh jadi itu masalahnya, halah!
"Luka-chan, gomenasai nee... hmfh..."
Taito hendak meminta maaf, tapi Luka tiba-tiba saja menarik wajahnya dan.. oh god damn it! Seseorang menutup mataku disaat-saat menggentingkan. Aku yakin mereka berciuman di depan sana. Lalu mungkin, berpelukan? Bergandengan? Apa yang terjadi selanjutnya? Astaga!
Begitu si usil itu membuka kedua telapak tangan besarnya dari kedua mataku, kedua pasangan ketos dan waketos itu sudah hilang! Aku segera berbalik badan, mencari tahu si usil yang tadi menutup mataku. Dan menemukan Kaito Shion mengangkat kedua lengannya sebatas bahu.
"Aaaah, kau mengacaukan tontonan gratisku!" gerutuku dibalas cengirannya. Beberapa gadis yang paling terakhir pulang tampak melirik ke arah kami, tepatnya pada Kaito. Ish, dasar tidak peka. Tidak pernah bercermin. Sampai tidak sadar kalau wajah tampannya itu sudah menarik perhatian banyak perempuan sejak hari pertama di sekolah.
"Anak kecil tidak boleh menonton adegan dewasa," padahal umurmu sendiri hanya beda setahun denganku, tambahku dalam hati. Kaito terkekeh sembari menepuk daerah atas diantara kuncir dua turqoise-ku. Kami berjalan beriringan seperti sepasang kekasih.
"Alasan macam apa pula itu? sangat tidak logis tau!"
Hening sesaat. Kami berjalan di atas jalan melengkung lalu melewati jajaran warung ikan dan manisan.
"Kau tahu Miku?"
Dia menghela nafas, wajahnya memerah kalau aku tak salah lihat. Kedua mata biru berliannya melirik bayangan kami di kaca toko buku. Menghembuskan nafas, lalu menjawab pertanyaannya sendiri "... sejak kau melihat Len berciuman dengan Gumi, kau selalu mengigau malam-malam."
Heh, seingatku aku hanya mengigau kalau aku tidur ketika suasana hatiku terganggu. Ini tidak logis, bahkan aku tidak merasa terganggu dengan kejadian Len dan Gumi melebihi waktu melihat Meiko dan Luka waktu – shit, aku mengingat kejadian nista itu lagi! – tapi itu mungkin saja, sih. Aku ingat kalau Kaito tidak lihat kejadian Rin dan Nigaito, ya, pasti itu!
Hm...
Tapi kalau dipikir-pikir, aku juga sama tidak terganggu dengan kedua remaja sekolah menengah pertama itu. Beda dari kedua kejadian itu hanya aku tidak menceritakan pada siapapun, saat diciumnya Rin di depan Gakkupou House, sedangkan aku dan Kaito saling berbagi cerita tentang Len dan Gumi sampai larut.
"Ini aneh!" gumamku. Kami sudah berbelok di jalan Usagi, hampir sangat dekat dengan Gakkupou House. Kaito berhenti melangkah.
"Maksudmu?"
"Kau tidak akan mau tahu kekuranganku Kaito, tapi aku memang tidak pernah mengigau kecuali ada yang mengganggu pikiranku."halisku mengkerut, menganalisa sesuatu. "Tunggu dulu..."
Pintu pagar Gakkupou House mengkeret mengerikan ketika aku menutupnya, aku dan Kaito sudah ada di halaman depan rumah bernuansa Jepang kuno semi modern itu sekarang. "A-apa kau ingat apa yang aku ucapkan saat mengigau?"
Dia melihat ke arah poninya yang diacak ke belakang, menerawang. "Seperti... 'Kaito nee, kisshu!' atau 'chuu de ii yo nee, Kaito-kun?' dan 'hayaku mo, Kaito-kun, kisshu! Kisshu!' begitu, eh, Miku? " kata-kata Kaito seolah menirukan bagaimana intonasi dan juga mimik wajahku ketika itu semua terjadi.
Aku membatu mendengar ucapan tanpa unsur kebohongan dari mulut Kaito. Astaga, ya ampun, ya Tuhan! Itu pasti memalukan, Hatsune Miku, apa yang kau pikirkan sampai kau mengigau begitu erotisnya? Ini memalukan, sangat memalukaaan! Jeritku dalam hati.
"Hatsunee Miku!"
Kaito mengguncang-guncang pundakku. Aku langsung kembali mendapatkan alam bawah sadarku kembali dengan wajah memerah seperti ebi rebus, mendapati posisi kami yang sangat berdekatan. Setetes keringat dingin dari pelipisku mengalir dan berhenti di ujung telunjuknya, dia menatapku lembut. "Daijoubu ne, lagipula aku juga tidak menuruti igauanmu itu, daijoubu!"
Yang artinya, dia tidak menciumku waktu tidur. Selamat. Ciuman pertamaku masih aman, aku menghembuskan nafas lega. Namun gerakan tiba-tiba Kaito yang mengangkat daguku perlahan kini lain ceritanya!
Aku menatap laser tepat kearah kedua maniknya yang sendu, seolah menyedotku untuk ikut terhanyut. Kulirik bibir kissable miliknya yang berwarna merah muda nude, sedikit terbuka, (damn it sexy!) lalu kembali pada kedua matanya yang nyaris tertutup seiring wajahnya kian mendekat. Dia memiringkan sedikit wajahnya agar hidung kami tidak bertumbukan. Kami menutup mata erat-erat. Menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sedikit lagi, ya Tuhan, sedikit lagi...
"AHEM!"
Gara-gara deheman Kamui Gakupo, yang entah sejak kapan sudah ada di pintu gerbang, jidatku dan jidat Kaito 'lah yang 'berciuman' sangat keras. Kami langsung mengambil jarak kaget, dan juga wajah super merah. Sedangkan pak tua berambut ungu panjang itu menyeringai sembari melipat dan mematikan kembali kamera tangannya. Lalu memasukannya ke kantung belanjaan.
T-tunggu dulu!
Ka-kamera?
Sial, sejak kapan dia merekam kejadian tadi?!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Tadaimaaa..."
Kamui masuk lebih dulu sedangkan aku dan Kaito menyusul lemas setelahnya. Bayangan kejadian barusan masih terbayang sepertinya, tapi tidak lagi. Meiko Sakine tiba-tiba saja berlari dari lorong dalam dan menerjang memeluk Kamui Gakupo. Belanjaannya nyaris berhamburan kalau saja aku dan Kaito tidak langsung tanggap menangkapnya.
Sementara wanita berambut cokelat pendek dengan setelan kantornya itu menangis dalam pelukan Kamui yang terduduk di lantai, aku segera mengamankan kamera tangan dalam kantung berisi berbagai camilan. Utamakan sita memory-nya!
"Miku-chan, Kaito-kun, tolong simpan belanjaannya ke dapur!" perintah Kamui, sementara dia memapah Meiko dan berbelok di ruang keluarga.
Seorang pemuda berambut silver pendek yang tidak lebih muda penampilannya dari pada Mikuo, kakakku, berpapasan dengan kami berdua di tikungan lorong ruang makan. Wajahnya terlihat manis dengan hidung bangir dan mata lavender senada rambut. Perpaduan T-shirt dan jeans denim abu-abu longgar membuat perawakan kurang berototnya terlihat lebih berisi.
Kami berhenti sebentar menyaksikan pria itu berbelok di pintu geser ruang keluarga, lalu kembali melanjutkan perjalanan ke dapur melewati lorong dan ruang makan. "Siapa dia? Aku belum pernah lihat tapi sepertinya kau kenal," tanyaku penasaran.
Memang seperti itu, Kaito tidak menunjukan reaksi yang mengatakan 'penyusup, siapa kau?' dan pria itu cuek saja, malah menyernyit sesaat melihatku. Aku pikir mereka saling kenal.
"Utatane Piko," ucap Kaito sembari meletakkan tas karton berisi bumbu dapur dan rempah-rempah di tangannya pada meja tembok. Lalu menata botol-botol di rak-rak bumbu. "Salah satu penghuni lama yang baru pindah lima bulan yang lalu, juga, mantan kekasih Meiko Sakine. Dia juga kabarnya, anak dari pemilik perusahaan percetakan tempat Meiko bekerja, mengejutkan!"
Aku yang sedang membongkar tas karton berisi camilan terhenti sebentar, "maksudmu, Piko-san yang dulunya tinggal di kamar yang sekarang ditempati Meiko, yang di sebelah Len Kagamine itu?"
"Tunggu dulu, darimana kau tahu letak kamar Piko?" kini giliran Kaito yang berhenti menata bumbu. Dia kaget sampai menumpahkan micin, sedikit, dan aku terkikik.
"Rin mengatakannya padaku saat pertama kali ke rumah ini, sebelum...ah sudah!" shit! Aku jadi langsung mengingat lagi adegan nista setelahnya. Lupakan itu Miku! Lupakan! Lupakan!
"Aduh..." aku meringis, tanpa sadar aku memukul pelipisku yang belum sembuh benar dari dua tragedi. Meja sekolah dan jidat orang di hadapanku. Astaga, aku tidak sanggup mengingat kejadian nyaris penyebab 'tragedi' kedua. Itu memalukan!
Kaito bergerak cepat mengambil kotak p3k dari atas kulkas. Menuangkan sedikit alkohol pada buntalan kapas kecil selebar tiga jari, lalu menyimpannya di keningku. Rasa sakitnya teralih oleh sensasi dingin, aku memejamkan mata sebentar menikmatinya, sebelum bilang "arigato..." yang langsung memunculkan semburat tipis di pipi pria azure itu.
"A-aa, gomenne... ini salahku, kau jadi seperti ikan lohan begini," ucapnya tanpa rasa sungkan kemudian tertawa kecil. Aku jadi menyesal berterimakasih tadi. Gheezz...
"Kau juga bengkak, seperti ada bisul raksasa di jidat lebarmu!" gurauku sembari menekan jidatnya yang agak merah. Tidak terlalu keras tapi Kaito pura-pura meringis sambil menutupnya dengan poni yang sudah agak panjang mencapai bulu mata.
"Oh iya, kamera tangan Kamui! Cepat amankan barang bukti, sebelum pak tua itu menyebarkannya pada anak-anak lain di..." perkataan Kaito yang panik terhenti begitu aku mengacungkan kepingan hitam dengan beberapa gadis keemasan pinggirnya tepat di depan hidung pria itu, sambil tersenyum.
memory card yang katanya tadi, berisi barang bukti. "... jenius!" pujinya.
"Ahem!"
Lagi-lagi Kamui muncul secara tiba-tiba di pintu dapur. Aku dan Kaito panik. Tadi dia tidak ada di sana, aku sangat yakin itu. Memory card itu bahkan sampai jatuh di lantai dan aku buru-buru menginjaknya agar lelaki berambut ungu panjang itu tidak melihatnya. Kemudian segera menendangnya ke kolong kulkas ketika ada kesempatan. Huh, selamat!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terjadi obrolan serius di ruang keluarga antara Kamui, Piko, dan Meiko. Sedangkan aku berdua dengan Kaito hanya menonton saja sambil mengemili keripik pedas dalam mangkuk besar. Luka sedang kencan, sedangkan kedua Kagamine kembar baru pulang beberapa menit yang lalu hanya membawa proyek rumah-rumahan dari botol plastik bekas mereka yang sudah jadi lalu kembali pergi.
Sebenarnya aku dan Kaito juga punya tugas essay bahasa Inggris, lima soal sepuluh baris, dari Diva-sensei, yang menunggu untuk segera digarap sebelum deathline hari Sabtu. Pr pertama kelas satu. Meskipun masih tiga hari lagi dan aku bisa saja mengerjakan semuanya dalam beberapa jam, bagiku, lebih cepat lebih baik.
Tapi alibi super logis itu tetap tidak berguna. Kamui-jii yang sedang dalam mode menyebalkan. Memutuskan secara sepihak agar aku dan Kaito juga ikut duduk di ruang keluarga. Baginya, alasan-alasan itu hanya dibuat-buat untuk bermesraan di rumah sucinya. Apa-apaan pula itu? aku tidak terima!
Pasalnya, Kamui bahkan senang berfantasi ria saat kami semua tidak ada di Gakkupou House. Aku memergokinya memelototi majalah hentai di ruang keluarga, yang dia sembunyikan tepat di bawah karpet tebal yang ditandai tumpukan bantal. Dan sekarang dia menuduhku dan Kaito Shion akan bermesum ria di rumahnya? Jangan bercanda! Kami tidak mungkin melakukan hal-hal yang sejenis itu.
"Sekali lagi, tolong maafkan aku Mei-chan!" lelaki berambut silver itu menunduk sekali lagi. kedua lengannya yang bertumpu pada lutut mulai bergetaran. Tanda kesungguhan dari setiap ucapannya. "Aku akan memotong gaji para pegawai yang sudah melecehkanmu, kumohon kau bersedia kembali ke kantor... a-aku..." dia mendongkak dan menatap lurus manik madu gadis Sakine itu "... sangat merindukanmu..."
Meiko menatap wajah pria itu dalam diam. Jelas terlihat dari maniknya yang melebar dan kedua pipinya yang merona tipis, dia masih mencintai Piko. Begitu pula Piko. Aku sangat yakin hal itu, dan berbalik curiga pada tatapan Kamui Gakupo.
"Nee Kaito, apa hubungan Kamui dan Meiko sebelum ini?" bisikku.
"Setahuku, dia dan Meiko itu teman dari sejak kecil. Sejak Meiko jatuh cinta pada Piko, Kamui-jii jadi berperilaku merepotkan. Aku punya firasat dia menyukai Meiko!"
Aku hanya mengangguk pelan dan dia kembali berbisik, "mereka sudah berpacaran sejak pertama aku tinggal di sini, waktu itu kelas satu sekolah menengah pertama, lalu putus tepat ketika aku lulus sekolah menengah atas.." berarti mereka menjalin hubungan spesial selama tiga tahun, batinku.
Kaito masih berbisik, "... kemudian Meiko sering bersedih, meminum sake, dan juga melakukan hal-hal aneh. Kamui-jii satu-satunya yang menemani sampai_"
"Ahem!"
Kamui berdeham, lagi. Aku sungguh-sungguh menyumpahinya dalam hati agar pria berambut ungu panjang itu tersedak ludahnya sendiri karena selalu mengejutkan di saat-saat yang tidak tepat. Mengganggu istilah tepatnya.
"Kau sudah mendengar alasan Meiko, dan juga kau sudah tahu sendiri kalau aku tidak akan tinggal diam jika kau membuatnya menangis lagi!" hiyyhh... tatapan dan juga nada bicara Kamui pada Piko menyeramkan sekali! Seolah setelah ini pria itu akan mendepak keras-keras bokong lawan bicaranya itu ke Mars.
Tapi Utatane Piko menanggapi semua itu dengan sangat tenang. Terlihat sekali dia terbiasa dengan situasi menegangkan seperti ini, aku jadi ragu dia anak bos perusahaan percetakan. Jangan-jangan dia ini pembuat onar?
"Baiklah, kalau begitu aku permisi," menunduk sebentar lalu beranjak dari tempatnya, "daisuki yo Mei-chan!"
Setelah mengatakan itu di pintu ruang keluarga, Utatane Piko benar-benar pulang. Akhirnya aku bisa keluar ruang keluarga dan mengerjakan pr dari miss Diva-sensei secepatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sekitar beberapa jam yang lalu Luka pulang kencan, bersamaan dengan datangnya Len dan Rin Kagamine. Terimakasih pada kebaikan hati nona Megurine yang langsung meminjamkanku laptop miliknya, aku berhasil merentas satu-satunya kamera CCTV Gakkupou House yang diletakkan di atas kusen jendela ruang keluarga. Kamui pernah cerita, dia pernah kehilangan satu televisi kecil sebelumnya, jadi dia pasang kamera pengawas satu di sana bersamaan dengan tv besar itu.
Kameranya menggunakan sistem pengaktifan wirelles, ini menguntungkan karena bisa dikontrol dari jarak jauh, tapi butuh waktu untuk mengaktifkan dan meretasnya menggunakan jangkauan wifi laptop Luka. Keempat orang yang mengerubuniku bersorak kagum ketika tampilan ruang keluarga dengan fokus Meiko yang sedang dipeluk Kamui muncul di dekstop.
Kuperbesar kamera itu semi maksimal, hingga hanya tampilan Meiko dan Kamui-jii saja yang terlihat jelas, kemudian aku mengkoneksikan pada handphone yang sengaja kutinggalkan di bawah meja oshin. Handphone milikku sendiri, walau jadul tapi mempunyai fasilitas wifi yang bisa dikendalikan dari jarak jauh. Kami berlima jadi seperti menonton film bersama dalam kamar Rin.
(Kamar Rin Kagamine yang paling dekat dengan ruang keluarga, jadi koneksinya tidak akan putus)
"Aku tidak percaya anak itu melakukan semua ini padamu Mei," Kamui mengelus surai Meiko dengan penuh perasaan. Gadis itu menangis sesegrukan. "Shh... "
"Aku membencinya, Kamui! Aku butuh sake, lepaskan aku!" tapi pria itu malah mengeratkan pelukannya.
"Diamlah! Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh segelaspun sake sebelum kau makan,"
"Tahu dari mana..."
"Dasar tidak peka!" gerutu Kamui, Meiko meremas kaos lelaki itu sampai kusut.
"Asal kau tahu nona, sampai kapanpun, aku akan tetap menjagamu. Apapun yang terjadi!" ucap Kamui, lagi.
"Aku tahu," sahut Meiko, dia menghapus air matanya, "terimakasih Kamui-kun!"
Lelaki berambut ungu itu sempat memerah sesaat, kami bersorak girang dari sini, namun dia menutupi tingkah anehnya dengan mengeluarkan smartphone dari saku celana. Mengetikkan sesuatu, lalu ponsel Kaito berdering nyaring di sebelah sini.
Bisa tolong bantu hangatkan makanan di kulkas? Sekalian nyalakan penanak nasi di dapur, kita akan makan di ruang tengah malam ini. Oh ya, kau bisa mengajak Miku dan dia pasti ikut!
Begitu isi pesannya, Kamui sialan!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
A/N :Terimakasih banyak buat yang udah ngingetin aku pada kesalahan rambut Kaai Yuki di chapter belakang, aku langsung memperbaikinya dan maaf baru bisa re-publish hari ini. thanks banget buat Review, Fav, dan Follownya buat fic pertamaku di vocaloid. Aku jadi semangat.
Yo, RnR lagi ya!
.
.
CN Scarlet
(like fp CN Scarlet di pesbuk, atau Follow Twitter aku di at euis_ecn. Terimakasih.)
