Cost Catch Love

[History of Gakkupou House]

Vocaloid © Yamaha Corporation

CN Scarlet

[Friendship, Humor, Romance]

.

.

.

.

.

Hatsune Miku Point of View

.

.

.

"Masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah.."

No comment!

-Meiko Sakine-

::

Kita semua adalah keluarga. Itu adalah prinsip hidup Kamui Gakupo yang dia terapkan sebagai slogan rumah Gakkupou House. Seperti halnya keluarga pada umumnya, setiap anggota keluarga haruslah tidak menyimpan rahasia agar terciptanya keharmonisan di dalam rumah. Aku agaknya kurang setuju, tapi kalau dengan mereka semua memang rasanya seperti di rumahku sendiri, keluarga Hatsune di Kyoto.

Jadi malam ini, usai makan malam berakhir di ruang keluarga Meiko Sakine menceritakan masa lalunya. Bagaimana pertemuanya dengan Kamui, sampai tinggal di Gakkupou House, hingga sekarang. Dia seorang yang bekerja di perusahaan percetakan, jadi ceritanya tentu dikemas dalam bahasa menarik yang bisa membuat kami sesekali tertawa.

Kamui akan menyela sekali-dua kali ditengah cerita jika Meiko menceritakan hal lucu tentangnya. Dia mendapatkan jitakkan pedas dari wanita berambut cokelat pendek itu setelah menyela di bagian paling seru dalam cerita. Kami tertawa dan menghabiskan waktu bersama sampai larut malam.

Aku bisa mendapatkan gambaran seperti film layar lebar nan dramatis dari keseluruhan kisah Meiko. Dan seperti yang diceritakan oleh Kaito, dia memang bertemu dengan Kamui-jii sejak kecil. Tapi aku baru tahu darinya sendiri kalau Meiko sebenarnya adalah salah satu keturunan bangsawan Jepang.

Meiko lahir dan menjalani kehidupan kecilnya dalam didikan para bangsawan. Tokyo waktu itu masih belum semaju sekarang, meskipun sudah menjadi kota besar, tapi tidak sesempit jaman sekarang. Saat itu usianya baru lima tahun jalan ketika bertemu seorang bocah gembul berambut ungu pendek tersesat di kebun rumahnya.

"Aku lapar dan tersesat, bisa tolong bantu aku?" Meiko menirukan suara Kamui kecil sembari menggembungkan pipinya, kami tidak bisa untuk tidak tertawa. Kemudian giliran Kamui menjawab menirukan suara Meiko waktu itu.

"Onii-chan siapa? Sedang apa nii-chan di sini?"

"Namaku Kamui, Kamui Gakkupo." Kamui kecil kesusahan menyebutkan nama akhirnya sendiri, reka ulang dari Meiko menuai protes dari Kamui dewasa yang wajahnya merah-merah.

Mereka berteman setelah itu. Menghabiskan waktu bersama, bermain bersama, dan saling berbagi cerita. Kamui Gakupo mulai memanjangkan rambutnya sejak Meiko berusia tujuh tahun dan saat itu dia sendiri berusia sepuluh tahun. Itu adalah dimana dia pertama kali melihat gadis bersurai cokelat itu bersedih karena gagal memiliki adik perempuan, sedangkan mimpi Meiko kecil adalah menghias rambut adiknya dan bermain masak-masakkan. Dia bisa merealisasikan mimpi itu dan kembali tertawa dengan menghias-hias kepala Kamui.

"Kalian tahu, Kamui kecil sangat imut dengan bandana dan pita di seluruh kepalanya. Oh iya, dia juga memakai baju berenda dan meminum teh seperti seorang putri!" tambah Meiko, kami semua tertawa membayangkan bebentukan Kamui Gakupo dalam pakaian penuh renda dan pita. Kamui tidak protes.

Kemudian ayah dan ibu Meiko berbaik hati menyekolahkan serta Kamui bersama putri mereka. Sekolah khusus para bangsawan Jepang tidak melarang murid-muridnya berambut panjang, karena itu Kamui tetap tidak memotong rambut ungunya. Dia memiliki rambut sepinggul sama seperti Meiko ketika lulus sekolah dasar.

Kamui Gakupo mulai ikut magang sambil melanjutkan sekolah menengah pertama di sekolah orang-orang biasa, karena Meiko Sakine bersih keras ingin bersekolah di sana, sekaligus menjadi pengawal dan sahabat nona muda Sakine. Keluarga gadis itu tak keberatan memberinya pelatihan seni bela diri padanya, karena selain putri mereka tunggal, keberadaan Kamui juga seperti mendapatkan putra laki-laki yang tiba-tiba besar. Intinya, Kamui terlanjur disayang keduanya.

Sesekali dia pulang kepada keluarganya ketika ikut keluarga Sakine menemukan keberadaan orang tua Kamui yang ternyata sudah bercerai. Meiko memeluknya dan menangis sangat lama mengetahui kejadian itu, dan ternyata, dia baru tahu kalau hari pertama mereka bertemu adalah hari dimana keluarga Kamui bertengkar dan memutuskan untuk bercerai.

Keberadaannya sebagai bangsawan muda yang kaya, sering menempatkan Meiko dalam masalah. Pem-bully-an anak-anak berandal, pemalakan, sampai nyaris penculikan dan pemerkosaan. Dan setiap kejadian itu, Kamui Gakupo selalu ada membelanya.

Selama berada dalam lingkungan di luar wilayah para bangsawan, mereka tinggal dalam rumah lumayan luas yang dibelikan keluarga Sakine atas nama Kamui Gakupo. Meiko sendiri yang menamai rumah itu Gakkupou House, yang artinya rumah keluarga Gakupo. Keluarga Sakine membelikan rumah itu semata-mata untuk rasa terimakasihnya karena telah menjaga putri tercinta mereka selama ini.

Sekali lagi Kamui dan Meiko sekolah di tempat yang sama, sekolah menengah atas Tokyo, yang sekarang menjadi Tokyo Art High School. Sekolah seni menengah atas Tokyo, sekolah seni terbaik yang menghasilkan banyak artis dan komposer berbakat di Tokyo. Aku bahkan baru tahu kalau Lily itu adik kelas mereka berdua.

Dollar merangkak naik, begitu juga nilai tukar Yen. Kebutuhan Meiko Sakine yang semakin besar membuat lelaki itu bekerja keras. Mulai dari menyulap seluruh pekarangan rumahnya menjadi kebun sayuran, magang di restoran, sampai menjadi pengantar koran dan susu sebelum berangkat sekolah. Belum lagi dia harus mengurus sepengisi rumah dan melayani nona mudanya sendirian. Dan semua itu dilakukannya saat masih menjadi murid sekolah menengah atas.

"Kasihan, dia sering sakit-sakitan," sambung Meiko, "jadi aku memutuskan untuk meringankan bebannya dengan menyewakan kamar-kamar di rumah ini."

Penyewa pertama mereka adalah seorang pria bernama Ruko dan Piko. Ruko itu sepupu sesusuan Luka, sedangkan Piko itu Utatane Piko yang siang lalu berkunjung dan membuat Meiko menangis. Kamui mengambil alih cerita.

"Mikuo Hatsune, kakak tertua Miku juga pernah tinggal di sini selama masa prakerinnya di restoran Vocaloid. Aku banyak belajar memasak darinya," kata pria berambut ungu itu. Oh aku baru tahu sekarang siapa dalang kerusuhan yang menghasut ibu untuk memasukanku ke tempat ini.

Kemudian Lily masuk ke Gakkupou House pada saat Meiko dan Kamui menjalani hari-hari kelas tiga. Ekstrakulikuler seni mulai dibentuk dan sukses besar di tahun pertama, beberapa lulusan menjadi bintang Jepang dan sangat sukses membuat sekolah itu bertransformasi menjadi Tokyo Art High School. Pamour sekolah itu benar-benar bagus setelah Lily menjadi penyanyi sekaligus actris setahun setelah dia lulus dari sana.

Setelah Lily, Kaito Shion menjadi pendatang baru meramaikan Gakkupou House. Saat itu Kamui berulang tahun ke-27, dan lelaki bersurai azure yang tinggal di sebelah kamarku itu baru kelas satu smester pertama di sekolah menengah pertama Tokyo. Sekolah yang sama dengan si kembar Kagamine saat ini.

Meiko menjalin hubungan spesial dengan Utatane Piko setelahnya, lalu kemudian saling jatuh cinta dan menjalani hari-hari yang indah bersama. Kamui tentu tidak begitu saja mempercayakan wanita itu pada Piko, dia selalu menguntit untuk memastikan semuanya aman, sampai kemudian Meiko sendiri yang marah padanya.

"Dan mulailah kehidupan maso Kamui-jii, dia lalu berkenalan dengan majalah porno di tempat sampah tetangga..."cerita Kaito yang sangat miris itu diprotes Kamui, yang langsung dijitak keras-keras oleh Meiko Sakine.

Len dan Rin Kagamine adalah anak titipan dari saudara jauh Kamui Gakupo, sepupu jauh. Seluruh penghuni Gakkupou House termasuk Meiko, memulai panggilan 'jii-chan' untuk pria berambut ungu itu. Kaito sudah tinggal di sini selama dua tahun kala itu, dan rumah ini menjadi semakin ramai.

Megurine Ruko mendapatkan promosi kenaikan jabatan di kantor perusahaan wisata tempatnya bekerja, mengharuskan pria berambut pink itu pindah ke Hokkaido. Kamui bersedih hati karena tidak ada teman bermain shogi lagi setelahnya, dan Kaito mulai menjadi bulan-bulanan.

Megurine Luka masuk seolah menggantikan Ruko. Saat itu dia murid baru di Tokyo Art High School, sedangkan Kaito Shion sedang menjalani masa-masa kelas tiga sekolah menengah pertama. Len dan Rin masuk sekolah menengah pertama kelas satu. Meiko Sakine mendapat pekerjaan di perusahaan percetakkan, karena ternyata Piko anak bos.

Aku masuk setelahnya. Tepat lima bulan Utatane Piko pindah dari sini demi melanjutkan usaha keluarga, tak lupa, lima bulan dia putus dari Meiko Sakine. Cerita selesai sampai di sini. Aku terlalu ragu menceritakan kalau sebenarnya aku mengikuti kelas akselarasi sebelum ini, lalu lulus pada musim semi, saat teman-teman yang lainnya memasuki masa-masa semester ganjil yang baru.

Yups, aku berusaha keras menguruskan badan dan belajar merias diri selama tiga musim tersisa sampai semua teman-teman seusiaku lulus betulan dan memilih sekolah menengah akhir. Atas tuntutan Mikuo Hatsune, yang disetujui ayah dan ibu, tentu dengan dalih kebahagiaanku. Jujur aku juga lelah di-bully. Lagipula, sekarang ini aku mengikuti kelas normal. Enam smester dalam tiga tahun.

Yah, semoga aku bahagia. Nee Kaito-kun!

.

.

.

.

.

.

.

.

"Minna-saaaaaan!"

Keributan terjadi di lorong ruang keluarga Gakkupou House. Aku, Luka dan Kaito baru pulang sekolah dan masih menata sepatu di atas rak ketika Meiko Sakine ribut dari dalam. Terlihat Len dan Rin dalam balutan kaos santai kuning-kuning mereka, muncul dari lorong di sebelah tangga, sedangkan Kamui masih bekerja di restoran Vocaloid. Hari Sabtu. Hanya kantor-kantor saja yang libur.

"Kita akan berlibur ke pantai minggu ini, tadaa!" putusnya sambil mengibas-kibaskan selembar amplop cokelat dengan dua lembar tiket menyembul dari dalamnya.

"Wah, tiket couple ke pulau Odaiba!" pekik si kembar Kagamine, Meiko mengangguk.

"Kiriman Ruko, kantornya sedang berulang tahun dan membagi tiket pasangan gratis. Tapi dia hanya kirim dua. Untuk Len dan Rin, lalu aku dan Kamui."

"Jadi bagaimana dengan kami bertiga?" tanyaku. Meiko juga tampak berfikir, dia ingin mengajak semua orang tapi harga ke Odaiba normalnya mahal sekali.

SREEEEKK...

"Tadaimaaaa!..."

Aku, Kaito, Luka, Len, Rin dan Meiko langsung melirik ke arah pintu masuk. Lily masuk dengan riang gembira bersama seorang lelaki berambut tosca, yang, astaga aku kenal sangat siapa.

"A-aniki?!"

Mikuo Hatsune. Kakak kandungku yang (sok)ganteng itu, melambai-lambai sok kenal pada semua orang. "Yo, hisashiburi ne!"

"Ah, Mikuo-kun hisashiburi!" sambung Meiko Sakine, ah iya, walau sebentar saja dia numpang hidup di Gakkupou House dulu tentu tahu kakakku. Gadis berambut cokelat langsung membawanya ke ruang tamu dan menyuruh Luka menyiapkan pangan.

Tapi bukan itu masalahnya.

"Aniki, kau menguntit Lily-san ya?" tanyaku penasaran, langsung duduk merapat dekat Mikuo. Lily yang duduk di seberang langsung terkekeh. Menonton percakapanku dan kakakku.

"Apanya yang menguntit? Kemana perginya otak jeniusmu itu, bakka imouto?"

Aku menggembungkan pipi, dia tau betul berapa nilai IQ milikku itu dan Mikuo-nii masih menyebutku bodoh? Oh Tuhan. Harusnya dia yang dulu keracunan vitamin otak itu, bukan aku!

"Jadi bagaimana bisa kau bersama bintang terkenal selain menguntit dan ketahuan, heh? Aku sangat tidak percaya kalau kau pacarnya Lily, mustahil!"

Dia tertawa, "hahaha... kau ini, padahal kakakmu ini sangat keren tau! Lebih keren dari si rambut biru tadi, yang katanya sedang kau incar itu Miku."

"Mou, cepat jawab saja jangan berbelit!" aku menutupi wajahku yang nyaris memerah dengan surai turqoise milikku, sebelum mendelik pada Lily yang mengacungkan kedua jari di sebelah pipinya. Pasti dia yang bilang macam-macam pada Nii-chan!

"Okay, okay..." Mikuo berhenti tertawa tapi masih tersenyum, "aku itu manajer Lily. Sejak setahun yang lalu, puas kau?" sindirnya.

Oh Tuhan aku tidak percaya ini, tapi benarkah? Aku meneliti setiap sudut wajah kakakku dan tidak menemukan ciri apapun yang menunjukan dia berbohong. Kesal memang tapi Mikuo Hatsune memang jujur mengenai hal itu.

Megurine Luka datang menghidangkan empat cangkir ocha panas, semangkuk manisan, dan setoples cookies cokelat kesukaan Mikuo. Lalu duduk bergabung. Aniki mengemil makanan yang terhidang setelah dipersilahkan, tanpa sungkan, sampai aku mencubit pinggangnya dan dia tersedak.

"Ah... oh ya Miku, ini." kata Miku sambil memberikan padaku sebuah amplop cokelat dari saku dalam jaketnya, setelah meminum habis ocha panas miliknya dalam sekali teguk. Aku membukanya lalu terbelalak, astaga. Dua tiket couple ke pulau Odaiba!

"Nii-chan, arigato!"

Sontak aku langsung memeluknya, aku senang sekali saat ini. Selalu. Dari dulu selalu Mikuo yang paling tahu apa yang aku butuhkan. Mikuo Hatsune itu selain satu-satunya kakak laki-laki yang kupunya, dia juga seperti sahabat. Seperti Kamui Gakupo bagi Meiko Sakine kurang lebih, tapi kami berdua lebih dekat. Ini hubungan antara adik dan kakak ya, bukan hubungan siscon-brocon seperti yang kalian pikirkan.

"Jadi siapa yang akan kau ajak untuk menemanimu, Miku? Jangan bilang kau jomblo?" goda Mikuo-nii begitu kulepas pelukannya.

"Tentu saja kau, siapa lagi memang yang bisa kuajak?"

"Gomen Miku-chan, tapi Mikuo-kun akan pergi denganku. Kau ajak Kaito-san saja, ya!"

"Kalau begitu aku pergi bareng Luka-san saja!" kataku, Megurine Luka tersedak manisan.

"Aku akan mengajak pergi Taito, kau tahu dia kan? Nah, dia yang akan menemaniku ke sana besok." putus gadis bersurai pink itu dengan wajah memerah. Tsundere. Aku terkekeh selesai memancingnya.

"Oke Kaito, aku akan pergi denganmu!" pekikku pada pintu ruang tamu yang terbuka, aku tahu dia sedang menguping dari tadi, makannya dia langsung nongol. Senyuman berusaha ditahan pria itu, tapi tidak lagi setelah kubilang "supaya kau tidak terlihat seperti jomblo yang tadi dibicarakan Mikuo-niichan, hehe..."

"Terserahmu lah," dia menyeruput habis ocha panas milikku, lalu pergi dari situ setelah bilang "tapi setelah kau bernyanyi Ievan Polkka di depanku lagi!"

"KAITOOOO..."

Dan kami kembali main kejar-kejaran mengelilingi lorong-lorong Gakkupou House.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

A/N: well, aku bingung mau nulis apa di sini. Intinya, makasih udah RnR, readers silent-silent juga, makasih banyak yaaa... aku sayang kalian...