"Spesial Chapter, Request Romancepair dari Kuramichan (Icha) semoga kamu suka!"

Cost Catch Love

[VY2 Yuma]

Vocaloid © Yamaha Corporation

CN Scarlet

[Friendship, Humor, Romance]

.

.

.

.

.

Hatsune Miku Point of View

.

.

.

"Masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah.."

Percayalah

-Lily-

::

Nekomura Iroha sempat menemuiku dan berterimakasih atas kucing kesayangannya yang berhasil kulacak melalui gps yang ada dalam kalungnya saat ada mafia gila, yang menculik kucing manis itu dan meminta tebusan. Dan dia sangat berterimakasih sampai sekarang. Jadi jangan aneh kalau liburan ke Odaiba dan hotel suite itu memang legal adanya, aku sempat curhat melalui jejaring sosial di perjalanan menggunakan laptop Luka dan dia langsung setuju menyediakanku hotel.

Itu terjadi sekitar delapan tahun silam. Saat aku masih sekolah dasar. Ketika itu sekolah mengenalkanku pada paman analyst di suatu perusahaan besar ketika study tour. Beliau sedang hacking, pikirnya tidak akan ada yang tahu jadi dia tidak menutup script code dalam jendela dekstop komputernya. Tapi dia salah.

Aku mengingat sebagian besar kode-kode di layar hitam itu, lalu aku mulai mencari referensinya di perpustakaan pusat Kyoto. Kakek disana sangat baik pada anak kecil, jadi aku sering belajar di sana. Saat Mikuo dibelikan laptop, aku langsung mempraktekan semua itu, dan berhasil membantu nona Iroha. Dimana para orang dewasa sudah angkat tangan.

Polisi menanyaiku panjang-lebar dengan bahasa anak-anak, juga sogokkan camilan, tentang kasus itu. Kemudian keluargaku kebanyakan menertawakan ketidak mungkinan. Dimana seorang anak kecil bau kencur sepertiku melakukan semua yang tidak mereka mengerti. Mikuo menjadi sasaran sekumpulan manusia berseragam biru itu, ketika mereka menemukan banyak bukti dari koneksi dan juga script code yang tertinggal di laptopnya.

"Paman-paman, apakah kalian tidak merasa ini mungkin. Kakak bahkan mengambil jurusan memasak, cita-citanya menjadi koki, sedangkan sekolahku baru mengajarkan cara menulis hiragana. Apa hal itu mungkin?" tanyaku, pura-pura polos. "kalau betul, aku dan kakak mungkin seorang power rangers!" kemudian memperagakan tingkah bodoh yang kutiru dari teman-teman sekolah dasar.

Hal itu sukses membuat para polisi itu tertawa, lalu pulang setelah berterimakasih dan meninggalkan beberapa permen. "Kau anak yang manis, nanti besar kau harus menjadi gadis yang cantik dan juga pintar. Paman juga punya anak laki-laki seumuranmu," kata paman polisi berambut biru, dia yang paling banyak berbicara diantara yang lainnya jadi aku paling ingat dia.

"Dan hari itu adalah hari pertamaku mengkode, berurusan dengan petugas hukum, dan juga meloloskan diri dari kasus.." tandasku, seluruh penghuni Gakkupou House yang mendengarkan terbengong-bengong. Sedetik kemudian ruang keluarga ramai oleh suara tepuk tangan yang meriah.

Dua minggu sudah berlalu sejak liburan ke Odaiba, dan juga kejadian penculikan itu. Jepang sudah memasuki hari pertama musim panas besok. Aku sudah membereskan dua orang kurang ajar itu dengan menjeratnya memakai pasal berlapis. Kujamin mereka akan menginap sangat lama dalam sel. Sore tadi adalah sidang terakhir.

Aku menang telak. Kamui dan yang lainnya merayakan dengan makan malam mewah di ruang tengah, lalu, aku duduk di sebelah Kaito Shion. Setelah makan, mereka semua langsung meminta penjelasan terperinci soal kejadian-kejadian 'ajaib' selama liburan waktu itu, dan aku sudah menceritakannya tadi.

"Tapi, bagiku semua itu hanya kutukan..." aku kembali bercerita. " Sekolah menegah pertamaku tidaklah menyenangkan. Teman-teman yang tahu aku jenius memanfaatkanku, mengancamku, mem-bully-ku, dan sebagainya agar aku membantu mereka mengerjakan semua pekerjaan sekolah dan hal-hal yang merepotkan lainnya...

Aku langsung mengambil kelas akselarasi di tahun kedua, tanpa pikir panjang, lalu lulus dengan cepat. Sekolah-sekolah ellite, baik swasta maupun negeri, berlomba-lomba mengirimiku undangan khusus. Semata-mata untuk mendongkrak kepopuleran mereka. Bahkan tidak sedikit perusahaan besar yang mencoba menyewa jasaku, dan aku hanya bilang "paman, aku baru lulus sekolah menengah pertama, apa paman tidak merasa mustahil aku bisa melakukan hal-hal yang paman sebutkan itu?" dan satu-persatu dari mereka berhenti mengganggu."

"Aniki selalu membicarakan masa-masa indah saat sekolah menengah kejuruan jurusan tataboga yang ditempuhnya, secara normal, aku bersumpah sangat iri padanya." aku meraup segenggam cheese ball di mangkuk lalu memakannya satu persatu, "karena itulah aku memilih Tokyo Art High School, dan berakhir terdampar di tempat ini gara-gara aniki dan ibu."

TINGTONG...

Tidak biasanya bell Gakkupou House berbunyi, terlebih lagi di jam segini. Kamui langsung memeriksa ke depan, lalu berteriak tak lama kemudian, "Miku, ada yang mencarimu nih!"

"Ha'i!"

Aku langsung pergi ke pintu depan, T-shirt longgar tipis berwarna navi dan celana denim seperempat kaki tidak menyalahi aturan dipakai di rumah diawal musim panas begini. Rambut kucepol tinggi seperti Kamui, mempertontonkan leher jenjangku yang sekarang dihiasi kalung berbandul kerang oleh-oleh dari pantai Odaiba. Pria berambut pink dengan pin-up berbentuk hati di dadanya itu berdiri mematung begitu melihatku.

"Ah, Yuma-san, ayo masuk!"

"Maaf, aku hanya sebentar kok, Miku-chan. hehe.."

Aku menoleh kebelakang, lalu mendapati kepala Kamui, Kaito, Luka, Meiko, Lily, Len dan Rin berjejer seperti tumpukan eskrim khas pantai Odaiba di tikungan pintu ruang tamu. Kemudian mereka tersenyum sebelum membenamkan kepala ke dalam ruangan itu, aku menghela nafas.

"Maafkan penghuni rumah ini, haha. Mereka sangat antusias pada tamu keren yang mencariku," gurauku dan semburat muncul di wajah tirus itu.

Suasana langsung canggung.

"A-ah iya, ini Miku-chan!" Yuma memberikan beberapa tumpuk buku dan aku langsung menerimanya, "itu adalah buku-buku catatan yang kau tidak ikut belakangan. Sudah hampir dua minggu kau tidak masuk kelas, aku benar-benar khawatir.." ucapnya gugup.

Aku tersenyum, ayolah lagipula ada Kaito Shion tepat di sebelah kamarku. Tapi dia sudah sangat baik membawakanku buku catatan miliknya malam-malam begini. Aku tidak tega menolak. "Terimakasih Yuma-san, kau sangat baik!"

"Ie, Miku-chan, kalau begitu aku permisi!"

"Baiklah," aku mengantarnya sampai di pintu gerbang. Ternyata dia memakai motor sport besar kemari, warnanya pink. Yuma memakai jaket tebal dan juga helm, aku melambai saat dia menstarted motornya, "hati-hati di jalan ya, sampai bertemu di sekolah besok!"

Lalu masuk ke rumah dan mendapati para penghuni Gakkupou House berjejer di sekitar rak sepatu. Senyuman penuh selidik terpancar dari wajah mereka minus Kaito, yang bersender di lorong sembari membuang muka dan pasang wajah masam. Sangat masam.

"Miku-nee, yang tadi itu pacarmu?" tanya Rin Kagamine.

"Benar-benar pacarmu?" sambung Luka, Kamui, Lily dan Meiko. Aku cengo.

"Wah..."Len Kagamine melirik ke belakang, "Kaito, kau keduluan Nii-chan berambut pinkish itu!"

"Urrusai!" si rambut biru langsung melenggang masuk ke dalam.

Aku menutup mulutku sendiri, astaga, apa aku tidak salah lihat? Ya Tuhan, mungkinkah dia..

Dia, Kaito Shion cemburu? Padaku?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tokyo Art High School sedang sibuk-sibuknya menggosipkan acara festival musim panas. Dari mulai awal pintu gerbang, kelas, mading, lapangan, sampai ke pojokan kantin sekolah. Aku berkeliaran sendiri sambil sesekali menyapa dan membalas sapaan orang-orang yang kutemui sepanjang jalan. Ini sekolah, dan, aku masih bisa merasakan Kaito Shion mengikutiku dalam radius tiga meter ke belakang.

Bisa kuketahui dengan mudah karena tidak sedikit anak perempuan melambaikan tangan dan menyapa "Kaito-kun," atau "Kaito-san," dan "Kaito," dengan suffix lainnya. Oh Tuhan, kupingku panas! Untungnya bell tanda masuk berdering nyaring, menyamarkan seluruh suara para perempuan kurang kerjaan itu.

"Morning class?" miss Diva-sensei masuk ke kelas beberapa detik setelah terdengar suara heels dari koridor. Pelajaran bahasa inggris dimulai, kelas menjadi hening melebihi kelas matematika. Entah mereka mengerti atau tidak, guru berambut pirang itu terus nyerocos pakai bahasa Inggris, aku sih enjoy aja.

Jam berlalu cepat, empat jam di pagi hari dengan bahasa Inggris membuat mayoritas anak kelas satu Tokyo Art High School seakan bangkit dari kubur saat bel istirahat terdengar. Radio sekolah mulai memutar musik Slide Love yang dinyanyikan Lily, aktris papan atas yang tinggal di sebelah lain kamarku di Gakkupou House.

Kaito Shion sudah menghilang di balik pintu kelas ketika aku mencegat Yuma dari bangkuku dan mengembalikan buku-bukunya, yang dia antar kemarin. "Thank's ya, aku langsung mencatatnya semalam. Semua itu sangat membantu, kau sangat baik Yuma-san!"

"Sama-sama Miku-chan," pipi pria itu memerah, sepertinya dia sangat pemalu. Yuma menggaruk kepala tak gatal. Suasana langsung hening sesaat. Dia seperti sedang berfikir keras, mungkin mencari topik pembicaraan.

Banyak yang ingin aku diskusikan dengan pria ganteng berambut pink ini sebenarnya, tapi aku sungguh menghargai usaha Yuma mencari topik pembicaraan. Mikuo selalu bilang padaku dalam setiap petuah-petuahnya kalau laki-laki banyak yang tidak suka gadis cerewet, (meski itu tidak berlaku bagi pria yang tinggal di sebelah tirai bangau kamarku) dan dilihat dari perangainya selama sekelas dengan Yuma dapat kusimpulkan kalau dia termasuk pria yang disebut-sebut aniki.

"Oi Hatsune, mau ke kantin tidak? Mereka membuat es serut pelangi hari ini!" seru Kaito dari depan pintu membuatku dan Yuma tersentak kaget. Tidak biasanya dia memanggil nama keluargaku, biasanya juga panggil Miku. Ck, dasar aneh.

"Tentu, sisakan saja dua kursi untuk kami nanti kami menyusulmu, Sion-kun!" ups, aku menutup mulutku dengan tangan. Memang sudah niat saling memanggil nama keluarga, tapi aku tidak mengira akan memakai suffix keramat!

"Bakka, bakka, bakka..." aku menggerutu sambil mengetuk-ngetuk jidatku dengan tangan.

"Miku-chan," Yuma menghentikan aksi konyolku dengan menggenggam lenganku erat, aku cukup terkejut, "lagi-lagi kau mencumbu jidatmu, kau kesal pada pria itu?"

Aku menggeleng.

"Tidak, aku hanya..."mencoba mencari alasan dan gagal, akhirnya aku bilang "... ingin eskrim."

Dan Yuma langsung mengajakku ke kantin.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kantin sangat ramai. Antrian panjang di kedai makanan, namun tidak sepanjang counry minuman dimana penjual es serut pelangi yang dikatakan Kaito berada. Pria berambut azure itu terlihat sedang mengantri juga. Barisan ketiga dari belakang, dan masih ada sekitar dua puluh orang lagi di depan. Kakek penjual es serut itu nampak kelelahan.

Aku mendengus malas lalu duduk di kursi dekat jendela setelah membeli air pocari dari mesin penjual minuman sedangkan Yuma mengantri lima orang di belakang Kaito. Antrian es serut itu panjang dan merayap seperti siput. Kalau tidak disuruh menunggu oleh mereka berdua, aku lebih memilih duduk tiduran di kelas saat ini.

"Miku, Short Message Servise from your big brother.."

Itu suara sms handphone-ku, khusus Mikuo Hatsune. Tidak biasanya aniki mengirimi pesan singkat jam-jam segini, aku langsung membuka pesan, tanpa mempedulikan orang sekitar yang penasaran dengan nada dering aneh tadi.

"Imouto, aku ada di Gakkupo House hari ini. Cepat pulang dan berhenti berkencan dengan si rambut biru itu sebelum dia kuseret ke depan orang tua kita!" begitu isi pesannya, apa-apaan sih dia?

"Aniki, aku masih sekolah dan ini masih jam istirahat. Aku selalu pulang kerumah kok, dan berhenti mengaturku! Atau kuseret Lily kehadapan kedua orang tua kita sebelum kau menyeret Kaito duluan."

Tak sampai lima detik, sebuah balasan langsung masuk dengan cepat. "Kau ini, aku hanya bercanda tau! Oh ya, aku menemukan hal menarik di bawah karpet ruang keluarga. Apa mungkin ini punya pacar berambut birumu itu?" aku langsung bisa menebak benda apa yang ditemukan aniki. Yo, majalah porno Kamui Gakupo.

"Taruh itu kembali di sana, itu punya Kamui-jii, jangan sampai kau menghilangkannya aniki. Oh tidak, kau bahkan tidak boleh menyentuh benda laknat itu!" aku mengetik dan mengirimnya secepat kilat.

"Chatting dengan siapa?"

Kaito dan semangkuk besar es serut warna-warninya, duduk tepat di depanku. Yuma langsung duduk di sebelahnya bersama es serut dengan porsi yang lebih sedikit. Terlihat di sini yang mana yang rakus dan pencinta es sejati.

"Aniki, dia menemukan 'barang' Kamui-jii dibawah karpet." dan dia bilang itu punyamu, tambahku dalam hati.

"Dasar jii-chan ceroboh, bagaimana kalau Len atau Rin sampai menemukannya? Ck, pulang sekolah kubakar habis seluruh koleksinya!"

"Mungkin dia akan mengunci freezer selama musim panas, kau tahu, seperti dia mengunci kulkas sake karena Meiko tempo hari." imbuhku sambil tertawa, Kaito cemberut lucu, sepertinya dia membayangkan nasib seluruh eskrim-eskrimnya yang dia beli kemarin waktu diskonan supermarket di dalam sana, jika itu semua benar terjadi.

Hanya Yuma di sini yang tidak nyambung dengan topik pembicaraan seputar Gakkupou House, dia diam saja dari tadi menonton. Matanya bergantian melirikku dan Kaito. Benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang kami bicarakan.

"Kamui-jii, pemilik Gakkupou House. Dia punya kebiasaan 'unik' yang harus kami sembunyikan dari penghuni termuda di rumah," ucapku menjelaskan. Yuma mengangguk mengerti, lalu menyedok masuk es serutnya.

"Oh iya, kalian tinggal bersama ya?" entah mengapa pertanyaan Yuma yang ini terdengar vulgar di telingaku, "kemarin malam aku melihatmu di Gakkupou House, Shion-san!"

"Iya betul, bahkan kami pernah me... uhmph!" aku langsung menyumpal mulut Kaito dengan sesendok makan penuh es serut. Meski kecil kemungkinan dia mengatakan hal itu, bukan tidak mungkin pria berambut biru ini mengatakan semua hal. Lihat saja gelagat cemburu yang menguar darinya sejak kemarin.

"A-ah, jangan dengarkan dia Yuma-san!" aku tertawa canggung.

"Miku, Kaito," Luka dan Taito menghampiri meja kami bertiga bersama makanan mereka, "boleh kami bergabung? Semua tempat sudah penuh!"

"Tentu saja senpai!"

Setidaknya dengan kedatangan mereka berdua, Yuma semakin canggung untuk bertanya lebih jauh tentang Gakkupou House. Bukannya ge-er sih, tapi dilihat dari gelagatnya dia seperti menyukaiku.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ini musim panas loh! Dan siang ini Mikuo Hatsune pergi begitu saja bersama Lily, setelah terus menerorku dengan rentetan sms yang isinya menyuruhku cepat-cepat pulang. Jangan bercanda!

Kipas bekas yang baru dikeluarkan Kamui dari gudang berguna sekali di ruang keluarga. Aku, Kaito, Len, Rin, Luka, Kamui, dan Meiko (perusahaan percetakan tempatnya bekerja sedang berulang tahun hari ini, jadi wanita itu pulang cepat) berjejer menikmati angin sepoi-sepoi dari kipas yang menggeleng-geleng.

Semua menikmatinya sampai pak tua hentai di jajaran kedua sebelah sana membuka kedua ketiak jabrignya dan aroma semerbak yang menusuk langsung meracuni kami semua. Wanita berambut pendek yang paling ujung menjitaknya keras-keras. Dan saat itulah, bell Gakkupou House kembali berbunyi.

"Oh, Gumi-chan, ada apa?" aku yang membuka pintu, langsung mengisyaratkan padanya untuk masuk. Len Kagamine sudah menahan senyum dari tadi.

"Tidak Nee-chan, aku hanya ingin memberikan selebaran ini. Dari ketua RT. Masih ada banyak yang harus kubagikan, aku permisi!"

"Baiklah, terimakasih.." kataku sambil tersenyum.

"Gumi-chan tunggu, aku akan mengantarmu!" Len langsung mengganti sandal rumah dengan sandal biasa, mengejar si gadis berambut limau keluar.

Aku membaca pamflet pemberian Gumi dengan seksama. Isinya pemberitahuan gawat darurat kepada seluruh warga Tokyo barat, bahwa seorang penjahat seksual gila baru saja lepas dari penjara. Astaga.

"Ini mengerikan!" komentar Luka, lembar pamflet itu sedang berkeliling dari tangan ke tangan di ruang keluarga.

"Semua warga harus berhati-hati, terutama wanita dan anak-anak," Rin membaca isi pengumuman itu, ".. dan juga pria berpenampilan menarik."

Semua orang langsung melirik Kaito. Dan kata "kenapa harus aku?" adalah respon terbaik dari laki-laki yang tidak pernah berkaca dan tidak pernah merasa kalau dirinya memang tampan dan menarik lawan jenis. Tidak menutup kemungkinan sih, kalau orang-orang 'menyimpang' juga tidak tertarik.

"Dasar tidak pernah peka," komentar Meiko, semua orang kecuali Kaito langsung mengiyakan. "Tapi orang aneh seperti apa yang menginginkan perempuan, anak-anak, dan juga laki-laki tampan?"

"Setahuku di Kyoto, pernah ada kejadian juga pelecehan pada perempuan dewasa saja. Tidak pernah ada yang mau memperkosa laki-laki," komentarku, "dan pak tua ini patut dicurigai."

"Enak saja! Aku hanya berminat pada wanita dewasa berdada besar," Kamui mengatakan itu dengan keras, tentu aku langsung bersedekap. "Er... gomenne Miku-chan, tapi sudah kubilang punyamu itu.. adaw!"

"Bisa tidak kau jaga ucapan jorokmu itu Jii-chan!" Luka, Meiko, Rin, dan Kaito meneriakinya selesai menjitaknya beramai-ramai.

"Ciri-cirinya, um," Luka mengalihkan pembicaraan kembali pada pamflet. "Berbadan gemuk, rambut kusut, pirang, jorok, bau... astaga, sampai mendetail segala!"

"Jelas sekali kalau orang yang membuat ini sangat benci si pelaku," komentar Meiko, Luka mengamini.

"Pokoknya kita semua harus berhati-hati selama musim panas ini!" putus Kamui.

Aku sih setuju saja tapi, "kalau saja orang hentai itu cepat ditangkap dan dikembalikan ke penjara, bukannya itu lebih baik?"

"Kau punya rencana, Miku?" aku menanggapi pertanyaan Kaito dengan mengangguk.

"Dari hasil analisa dan perhitunganku, juga data-data dari berita, dan gosip tetangga sepanjang hari ini, kemungkinan besar orang ini ada di stasiun kereta bawah tanah besok." Kataku, "terutama di jam-jam sepi, pagi dan sore hari."

"Meiko," Kamui langsung serius, dan wajahnya dua kali lebih menyeramkan saat ini, "mulai besok aku akan mengantarmu sampai kantor. Tidak ada penolakan!"

"Tapi sore ini juga, kalau perhitunganku ini tidak meleset, kita bisa langsung menangkapnya!"

"Hee, benarkah?!" Kaito, Kamui, Luka, Meiko, dan Rin kompak.

"Ya, aku hanya butuh laptop Luka-chan, termasuk baterai dan powerbank, dan juga.." aku menyeringai licik, "koneksi internet kuat dan gratis."

"Yosh, kalau begitu kita ke restoran Vocaloid sekarang!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

AN: Ini adalah chapter permulaan dari chapter special, nggak menutup kemungkinan akan ada banyak kisah percintaan pisitan di depan. Aku berusaha yang terbaik. Senang rasanya bikin Kaito cemburu, ahahaha...

Makasih banyak buat readers, reviewers, followers, favoriters, dan kalian semua pokoknya aku mengucapkan tengkiyu somaceh. Selamat mengerjakan ibadah puasa bagi yang menjalani, jangan lupa do'akan aku yaa! *kechuu*

Intinya, semoga suka chapter ini.

Jaa ne!

...

CN SCARLET

Tinggalkan review?