Cost Catch Love

[Go go Summer!]

Vocaloid © Yamaha Corporation

CN Scarlet

[Friendship, Humor, Romance]

.

.

.

.

.

Hatsune Miku Point of View

.

.

.

"Masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah.."

Dan semua akan indah pada waktunya!

-Megurine Luka-

::

.

Musim panas tahun ini adalah musim panas pertamaku di Tokyo, sekaligus musim panas paling merepotkan yang pernah kualami seumur hidup. Siang yang meletup-letup memaksaku berfikir keras untuk meretas database milik kepolisian yang sistem keamanannya ketat bukan main, tanpa boleh terdeteksi jaringan mereka. Awalnya aku menggunakan akses warga sipil, tapi sialnya, informasi yang aku dapatkan tidak sedetail yang diharapkan.

Meiko Sakine bernyanyi di teater restoran Vocaloid untuk menarik perhatian para pengunjung yang banyak itu selama aku belum selesai memakai akses. Rin dan Len Kagamine berjaga di sekitarku. Untunglah aku berhasil melakukan semuanya dengan rapi setelah Meiko menghabiskan lagu ketiga.

Sorenya masih panas namun tidak sepanas siang. Ini adalah rencana yang dihasilkan setelah perdebatan panjang para penghuni Gakkupou House, Kamui sampai menelpon Lily untuk meminjam beberapa kostum seksi, dan di sinilah kami semua.

Lorong paling sepi stasiun kereta bawah tanah, sebelum jam pulang kerja, seorang wanita berambut ungu panjang berbando pink dengan riasan manis dan memakai pakaian seksi dengan bahu tertutup, rok pink berlipit-lipit tujuh belas centimeter diatas lutut dengan heels dan stocking babydoll berjalan sambil menelpon. Dia terus berjalan, lalu duduk pada salah satu kursi panjang.

"Hallo sayang, aku sudah sampai di stasiun. Iya sayang, iya, aku sudah duduk di sini, kapan kamu datang, ohh?" wanita itu melihat cermin, masih menelpon, dia memastikan riasannya masih bagus. Dadanya yang sebesar milik Meiko, berguncang setiap dia melakukan pergerakan. "Ah baguslah, aku menunggumu! Bye, muah!"

Aku, Rin dan Meiko nyaris muntah melihat tingkah 'wanita' cantik itu dari CCTV. Paman-paman penjaga di stasiun sedang istirahat sekarang, makan mie udon buatan Gakkupou House aka sogokan, sedangkan kami bertiga berjaga di sini.

Seorang mencurigakan terlihat! Mengendap-endap lalu duduk di sebelah 'gadis' bersurai ungu. Gadis itu menyadarinya, hendak menerkam si pria aneh kemudian ...

"Tahan dulu!" kataku melalui microphone, langsung tersambung pada earphone yang terselip di telinganya. 'Gadis' kami menahan diri.

Rin Kagamine, seperti itulah rupanya dengan rambut kuning sebahu dan pita pink senada dengan tanktop hello kitty dibalut oleh cardigan rajutan Harazuku dan celana denim seperempat kaki yang menampakkan kaki jenjangnya yang hanya mengenakan sepatu kets pink dan kaos kaki pendek. Masuk dengan ceria, mendengarkan 'lagu' dari earphone putih. Pria aneh di sebelah si 'gadis' ungu langsung pindah haluan.

"Wow," Rin Kagamine yang sesungguhnya, berkomentar di sebelahku. Yeps, yang disana adalah saudaranya, Len Kagamine dengan rambut tanpa kuncir kuda. Sedangkan gadis berambut ungu itu Kamui Gakupo, yang di-make over Meiko.

"Tetap bertahan, Len. Bergerak mendekat ke arah Kamui-jii. Aku yakin sembilan puluh persen kalau si brengsek ini tidak sendiri." gumamku. Dan benar saja, seorang lagi pria aneh keluar dari tempat gelap.

"Oke, sekarang Kaito Shion, bergabunglah!"

Kaito masuk dengan setelan cool a la anak-anak punk jalanan Harazuku. Kemeja kotak-kotak yang dua kancing teratasnya terbuka, celana denim dengan rantai besar di samping kiri, dan topi yang menyembunyikan earphone wirelles di salah satu telinganya. Aku sempat menahan nafas ketika melihatnya yang sekeren itu saat dia menampakkan diri di pintu Gakkupou House.

Aku tidak berbohong, dia sangat seksi!

"Miku, kau mimisan!" aku kaget dan langsung menyentuh lubang hidung, dan tidak mendapati adanya darah di sana. Sialan! Meiko mengerjaiku.

"Lihat, orang aneh lain datang!" Rin mengintrupsi, benar saja dua orang kurus pirang keluar dari celah sempit. Kaito, Len, dan Kamui menunggu komando dariku.

"Meiko-san, terus awasi dari sini lalu hubungi polisi setelah lima menit dari sekarang. Ayo Rin, kita cari bantuan paman-paman penjaga!" kataku sembari bergegas ke ruang sebelah bersama gadis Kagamine itu, "Kamui-jii, Kaito, Len, terus goda mereka sampai lengah!"

Aku bersembunyi di sebelah mesin penjual minuman dekat dengan pintu staff only tempatku keluar tadi. Kuakui akting mereka bertiga sangat bagus. Masih waspada, aku menghitung setiap momentum dan kesempatan. Setiap satu langkah yang diambil keempat penjahat itu, aku menghitung mundur satu. "Luka-chan, bersiaplah!"

"Roger!"

Ini semakin persis saja dengan film laga kesukaan ayah dan Mikuo, aku mengeluarkan pistol tiup dari bambu berisi jarum mading yang telah dilumuri racun tarantula. Masih menghitung mundur, tiga..

Bajingan pertama menyentuh pakaian Len Kagamine.

Dua..

Bajingan lainnya menyentuh dagu Kamui,

Satu..

"Huh!" kutiup cepat senjataku, dan peluru jarum itu sukses menancap bajingan kurus yang hendak menyentuh bokong Kaito. Orang itu langsung tumbang. Tiga bajingan lain langsung mencari keberadaanku, si sniper.

"Tembak Luka!" kataku, satu orang tambun dekat Kamui tumbang. Sisa dua lagi, sial! Mereka melihatku dan langsung menuju kemari. "Kamui, Kaito, pukul syaraf belakang orang dua orang yang mendekat kearahku!"

BRAAAKK...

Keduanya langsung tumbang, Kamui menotok punggung kedua bajingan itu secara cepat. Satu meter ke arahku. Nyaris saja. Tapi kini mereka semua sudah terkapar tidak berdaya, sekarang. Kamui dan Kaito segera menggusur dan mengikat mereka semua di pojok. Aku masih waspada.

"Tetap pasang earphone kalian. Nanti aku akan meminta bantuan!"

Ada siluet jingga berkeliaran di sekitar kereta, aku segera berlari mengejar. Dari data yang aku telusuri, orang terakhir ini adalah seorang gay sejati, jadi aku tidak perlu khawatir dia akan macam-macam padaku.

"Miku, kau dimana?" suara Kaito terdengar panik, sial! Kalau dia ikutan mengejar aku yang kesulitan. "Bodoh! Jangan bergerak sendirian! Kau..." sambungan terputus.

"Kaito..." aku berusaha kembali memanggilnya, berharap hipotensaku meleset kali ini. Kumohon Tuhan...

"Kaito, jawab aku! Kaito, apapun yang terjadi jangan bergerak dari tempatmu!"

Aku berlari melewati dua gerbong kereta tanpa penumpang ini. Lima menit lagi, lima menit lagi kereta ini akan bergerak menuju Osaka. Aku harus bisa menemukan penjahat ini sebelum lima menit. Atau aku harus membuat kereta ini terlambat.

"Hai Miku-chan," aku menoleh cepat. Kedua mataku terbelalak tidak percaya, sial, lagi-lagi perkiraanku tepat! Kaito berada dalam keadaan terkunci. Dalam pelukan seorang gay, mo, aku tidak terima ini. "Mencari pria tampan nan menggoda ini, sayang?"

"Lepaskan dia!"

"Siapa namamu babe, Kaito ya?" singkirkan tangan kotormu dari tubuhnya, brengsek! Batinku berteriak tidak terima saat tangan pria berambut mangkok dengan pakaian ketat serba hijau itu menggerayang kedalam pakaian Kaito Shion. Aku. Tidak. Terima.

"Miku..." setetes air mata dan peluh menetes di pipi Kaito yang memerah. Gay brengsek, dia sudah membuat Kaito terangsang dengan menyentuh titik-titik sensitif yang hanya diketahui pria. Sial, dia maho berpengalaman!

"Brengsek, kubilang lepaskan dia!" aku berteriak lepas kendali. Rencana yang beberapa detik yang lalu kususun berantakkan sudah. Kini aku bertindak nekat dengan melangkah cepat mendekati mereka.

"Stop it girl! Atau akan kubuka celana si tampan ini dan membuatnya tegang dihadapanmu, heh?" tantangnya, langkahku kian bergetar tapi aku harus tetap bisa mendekat. Dilihat dari manapun orang ini tidak membawa senjata apapun (bajunya hijau dan ketat sekali), jika aku berhasil mendekat dan menembaknya dengan satu peluru jarum tersisa maka semuanya selesai.

"Coba saja," tantangku, jarak kami sudah tiga meter. Aku masih melangkah sedangkan Kaito menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Percayalah padaku Kaito-kun, ini adalah taruhan terbesarku seumur hidup dan aku bersumpah tidak akan kalah dari sampah masyarakat seperti dia!

"Nee Kaito-kun, kita sudah sering tidur bersama jadi aku sudah biasa. Tak apa kan?"

Shit! Memang bukan bohong kalau selama ini aku dan Kaito sering tidur bareng, tapi hanya sebatas tidur. Memejamkan mata dan pergi ke alam mimpi. Tak lebih. Aku melangkah, dua meter lagi dan si gay akan membuka betulan resleting celana pria berambut biru itu. Wajahku merona.

BRAG!

Aku segera memegang tiang, kereta ini bergoncang lalu melaju dengan cepat. Pintu antar gerbong langsung terkunci secara otomatis, ini menjadi keuntunganku, karena pria gay berambut mangkok itu tidak bisa pergi kemanapun. Kereta ini akan terus melaju sesuai jadwal sampai di Osaka.

"Hei, kenapa kau tidak jadi membuka celananya?"

Ini gila tapi aku memerankannya dengan baik, aku mengetik pesan singkat pada Kamui untuk segera menghubungi kepolisian Osaka sementara pria gay ini membelai-belai seluruh tubuh Kaito yang bisa digapainya sesuka hati. Peganganku pada pistol tiup berisi jarum dengan racun tarantula ini semakin menguat.

"Hiks... aah.. hiks.."

Isakkan itu memang membuatku goyah, namun aku berusaha keras untuk kuat. Maju selangkah lagi dan... BREEETT...

Kancing-kancing dari kemeja Kaito berjatuhan di lantai kereta, lelaki itu sedikit condong kearah lain sehingga aku bisa memanfaatkan sedikit celah untuk menembak ke arah leher si gay. Dan aku tidak akan membuang kesempatan itu.

"Huh!"

Cleb!

"Sial!" maho berambut mangkok dan berbaju hijau itu meraba lehernya yang sedikit berdarah, jarum itu menempel sangat dalam karena aku menembak dengan jarak dua meter. Tidak kena bagian nadi, dia tidak akan mati, tapi aku yakin racunnya mengalir menuju syaraf otak dengan cepat. Yup, si gay langsung tumbang!

Kaito Shion yang dalam keadaan terguncang itu meringkuk di lantai, aku langsung mengikat kedua tangan dan kaki si maho pada tiang kursi yang paling dekat dengannya. Tak lupa, kucabut kembali jarum itu dan kukembalikan pada pistol tiupku. Luka kecil di lehernya akan sembuh sendiri setelah kami tiba di Osaka.

Jika di Odaiba lelaki itu memelukku, sekarang giliran aku yang memeluk Kaito. Bisa aku dengar degup jantungnya dari sini, aku terus mengelus-elus punggungnya supaya dia cepat sadar dan rileks. "Gomen... gomen... gomen..."

Ini salahku, ini salahku, ini salahku.

Kalau aku tidak gegabah, kalau aku sedikit lebih kuat, kalau aku sedikit lebih cepat Kaito tidak harus mengalami ini semua. Aku sungguh menyesal. Kata maaf terus terucap dari mulutku diiringi air mata. Setetes awalnya, kemudian aku jadi menangis beneran.

"Miku..."

Lengan kekar itu membungkus tubuh rampingku. Kurasakan hembusan nafasnya yang teratur di tengkukku, dia menghela nafas lalu benar-benar membenamkan kepalanya di sana. Sebelah tangannya mengelus kepalaku dan menggeser tubuhnya hingga kepalaku menyandar di pundaknya yang lebar. "Aku tidak apa, jangan menangis.." bisiknya.

Kereta perlahan berhenti. Pintu-pintu gerbong terbuka secara otomatis, dan sekumpulan laki-laki dengan pakaian biru berbondong-bondong memasuki gerbong. Para penumpang yang menempel di kaca gerbong sebelah dibubarkan paksa, wajahku langsung memerah. Astaga, bodohnya aku, ternyata kami tidak sendiri.

"Oh ya, kita dimana sekarang?"

"Osaka. Keretanya maju tepat ketika kau_" seseorang menginterupsi jawabanku.

"Taichou, saya menemukan pasangan mesum di sini, apakah harus sekalian diborgol juga?"

Shit!

Aku segera mendorong tubuh Kaito tapi lelaki itu malah semakin erat memelukku.

"Hei kalia...hah, Kaito?" itu pasti suara kapten polisi Osaka, tidak aneh beliau ikut kemari karena penjahat yang tadi kuikat di tiang kursi itu termasuk 'berbahaya'. Namun dengan posisi kami sekarang aku lebih gugup lagi. Terlebih beliau mengenal pria yang memelukku ini.

"Tadaima," ucap Kaito, aku menggerutu dalam hati. Dia menambahkan...

"Papa.."

Oh Tuhan, kumohon, buat aku menghilang sekarang juga!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Makasih banyak buat readers, reviewers, followers, favoriters, dan kalian semua pokoknya aku mengucapkan tengkiyu somaceh. Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang menjalani, mohon maafkan segala kesalahan aku yaa! *kechuu*

Intinya, semoga suka chapter ini.

Jaa ne!

...

CN SCARLET

Tinggalkan review?