Cost Catch Love

[Shion's Familly]

Vocaloid © Yamaha Corporation

CN Scarlet

[Friendship, Humor, Romance]

.

.

.

.

.

Hatsune Miku Point of View

.

.

.

"Masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah.."

Bagiku, masa-masa ini semakin aneh saja.

::

.

"Check math!"

Ini adalah kemenangan telakku yang ke-5 kalinya dalam permainan shogi melawan sang ketua kepolisian Osaka, ayahnya Kaito. Angin malam di musim panas terasa sejuk disini, tidak seperti Tokyo.

Memang pertama kalinya aku ke daerah sini, tapi aku merasa seperti pulang ke Kyoto. Di Osaka, para penduduknya yang tidak terlalu padat masih memegang tradisi Jepang kuno sekalipun tidak sedikit bangunan modern di sepanjang jalan. Para penghuninya, terutama wanita, masih banyak yang mengenakan yukata.

"Kau hebat nak, mari kita bermain sekali lagi!" kata paman berambut biru itu sambil menyusun kembali bidak dalam papan. Paman berkumis yang tidak mau kalah. Ghezzz, tahu begini mending tadi aku mengalah saja. "Oh ya, jadi Miku-chan sudah berapa lama menjalin hubungan dengan Kaito?"

Kaito Shion yang sudah berganti pakaian dengan yukata biru tua (aku berfantasi tentang bagaimana bentuknya saat mengenakan hakama), datang membawa ocha panas dan tempura rumput laut. Paman itu sudah memajukan bidak kecil dan aku juga demikian, langkah keduanya beliau memajukan kuda. Pria biru yang lebih muda dan setahun lebih tua dariku itu memutuskan untuk duduk menonton diantara aku dan ayahnya.

"Sumimasen?" whut? S-siapa yang bilang padanya kalau kami punya hubungan spesial?

"Taito, Akaito, Nigaito, Kikaito, dan Kaiko yang cerita. Katanya Miku-chan juga merawat anak ini seharian sewaktu sakit, benarkah itu?"

Wajahku langsung memerah. Terbayang bagaimana hebohnya kelima anak-anak Shion itu bercerita juga 'rempah-rempah' yang mereka masukan.

Aku memblokir raja di pojok kanan dan beliau harus kembali membuat rencana. Beruntung lampu di rumah tradisional ini temaram, jadi siapapun takkan sadar aku gugup. Paman itu mengangkat kuda satunya lagi ke pojok kiri. Aku masih belum menjawab dan masih fokus pada permainanku.

"Chek math!" batinku bersorak melihat peluang dalam lima langkah kedepan jika kumulai dengan memajukan ratu, tapi aku lebih memilih memakan bidak kecil paman. Mengalah sedikit Miku, atau permainan shogi ini takkan selesai sampai pagi. Batinku menyemangati.

"Hati-hati ayah, dia itu otaknya lebih mengerikan dari Albert Einstein. Kau akan kalah dengan cepat!" komentar Kaito, aku langsung menggerutu dalam hati. Itu pujian atau sindiran sih? Batinku.

"Aku sudah kalah lima kali tau, jadi lihat dan diamlah. Kami sedang konsentrasi sekarang!"

Giliran Kaito yang mengerucut. Oh lihat itu, imut sekali!

"Maaf paman, bisa kau pindahkan patih hitammu di depan bidakku?" paman itu dan Kaito langsung melirikku, seperti mereka bertanya mengapa aku memberi clue. Tapi kotak itu akhirnya berpindah juga, aku langsung memajukan bidak di depan raja. "Sekarang anda bisa memindahkan ratu anda lima langkah ke depan..." beliau menurut lagi.

"Chek math, paman, anda menang. Aku menyerah sekarang!"

Paman itu tertawa terbahak-bahak sekarang. Aku dan Kaito hanya bisa melongo melihatnya sembari memakan cemilan dan meminum ocha. "Maafkan aku, tapi kau mengingatkanku pada anak kecil menggemaskan sewaktu aku magang di Kyoto dulu. Dia sama jeniusnya sepertimu!"

"Ayah sudah sangat sering menceritakannya, tolong jangan lagi.." Kaito mundur ke sebelahku, jadi mudah untuk berbisik padaku "dia selalu menceritakan anak Kyoto yang jenius itu setiap aku nakal atau mendapatkan nilai dibawah seratus sejak hari itu. Aku sudah sangat bosan mendengarnya!"

Aku tertegun mendengar penuturan kedua lelaki di depanku. Ingatanku langsung berputar pada masa lalu, kemudian menemukan sejarah pertama kalinya aku berurusan dengan kepolisian dan berhasil mengelak. Itu sudah sangat lama. Delapan tahun ke belakang. Jangan-jangan...

"Paman, apa kau dulu polisi yang banyak bertanya pada anak kecil itu?" tanyaku, memastikan kalau firasatku salah. Beliau menerawang.

"Um, ya... tapi dia menjawab semua pertanyaanku dengan bahasa anak-anaknya yang lucu, logis, dan juga terlalu betul untuk anak seusianya."

Aku meneguk ludah susah-susah, "a-apa paman juga memberinya permen, dan apa anak itu punya kakak laki-laki?"

"Ya, ayah memberinya permen dan camilan. Katanya dia juga punya kakak laki-laki yang sudah seumur Len dan Rin waktu itu, dan, anak kecil itu gemuk menggemaskan. Ayah punya satu fotonya di laci. Kau mau lihat?" cerocos Kaito dengan tampang bete.

"Kau marah Kaito-kun? Padahal aku hanya memastikan saja. Dan ternyata firasatku benar..." aku menghela nafas sebelum melanjutkan, badanku membungkuk hormat pada pria paruh baya itu.

"Paman, senang bertemu denganmu lagi."

Kaito langsung mundur kearah ayahnya, mereka berdua menunjuk bersamaan. Sambil berteriak "j-jadi kau anak itu?" dan aku hanya tersenyum. Suara teriakan lain muncul dari pintu masuk, Kaito langsung beranjak pergi kesana. Ibunya datang.

Dari cerita yang pernah kudengar dari Kamui, katanya, Kaito itu sepupu jauh Meiko. Ayahnya Kaito menikah dengan salah satu putri dari keluarga bangsawan Sakine. Aku sempat membayangkan bagaimana rupanya, dan betul saja, beliau agak mirip Meiko.

"Loh, itu bukankah Miku-chan?"

Aku langsung memberi hormat padanya. "Astaga, tak perlu sungkan pada mama nak! Kami sudah menonton aksi lagamu dalam berita sore tadi. Menangkap buronan pelecehan. Kau sangat hebat!"

"Tapi bibi_"

"Mama, panggil saja mama. Ya ampun, ternyata benar yang dikatakan lima orang sepupumu itu Kaito-chan, dia sangat manis!" beliau mengoper barang-barang belanjaannya pada tangan para pria, lalu merangkulku. Aku berusaha menahan tawa mendengar bagaimana ibunya memanggil Kaito tadi.

"Ayo Miku-chan, kau harus ikut denganku. Astaga, para pria memang tidak mengerti gaya!" gerutunya, lalu menyeretku masuk ke dalam kamar utama. Aku tahu karena ukurannya sama seperti ukuran ruang keluarga di Gakkupou House. Luas dan komplit.

Aku menurut saja didudukkan dikasur oleh wanita berambut cokelat yang kini membongkar isi lemari. Sebuah kimono sutera indah berwarna peach dengan motif lily biru keluar, diukurkan kearahku lalu dia kembalikan ke tempatnya. Terus begitu sampai pada kimono biru navi dengan motif kupu-kupu dan juga huruf kaligrafi kanji 'Shion' dibelakangnya.

"Nah, sekarang coba kau ganti yukata itu dengan kimono ini. Ayo-ayo, aku akan membantumu memakai obi-nya!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Woooooww..."

Akaito, Kikaito dan Kaiko langsung datang bergerombol kemari begitu aku selesai didandani mama (beliau sendiri yang tidak mau dipanggil bibi, katanya aku bukan kekasih salah satu dari sepupu Kaito). Ayahnya Kaito sedang berada di toilet karena panggilan alam. Sedangkan Kaito sendiri sedang 'didandani' oleh ibunya di dalam.

Kimono warna navi dengan motif kupu-kupu emas dan lambang keluarga Shion yang kukenakan ini sangat nyaman dan sejuk. Mama menata rambutku dengan menyanggulnya dan menambahkan konde giok berbentuk kepala naga, sebuah kanzashi, juga anting-anting. Beliau juga memoleskan sedikit make up dan melarangku untuk bercermin atau menghapusnya. Entah mengapa aku jadi membayangkan wajah Kamui-jii ketika beliau memoleskan lipstik merah, serupa dengan yang dipakaikan Meiko pada sang pemilik Gakkupou House.

"Kau tampak terlihat cantik Miku-nee!" Kaiko sangat antusias dalam gendongan Kikaito, aku hanya tersenyum.

"Kaito sungguh harus diperiksa ke psikiater kalau sampai tidak tertarik padamu, Miku-chan!" goda Kikaito, aku terkekeh.

"Kalau anak itu tak mau denganmu, menikah saja denganku Miku-chan!" ucap Akaito tiba-tiba. Dia seumuran dengan Kaito, juga agak mirip, hanya rambutnya saja berwarna merah seperti apel putri salju.

"Tidak, dia menantuku. Menyingkirlah kalian semua!" gerutu mamanya Kaito, keluar dari kamar Kaito. Anak-anak itu mengeluh panjang.

"Kau tidak asik bibi!"

"Biarkan saja, dasar bodoh! Jangan berharap kalian akan merebutnya dariku, terutama kau Akaito-kun, kutendang bokongmu kalau kau berani mengambil Miku-chan dari sepupumu sendiri." beliau marah, pura-pura marah. Akaito memprotes ucapan mama dengan cerocosan beruntun, kemudian kami tertawa bersama.

"Kaito-chan, sedang apa kau disana terus? Cepat kemari!"

"Mama!"

Kaito Shion menampakkan diri dengan hakama navi dan obi yang sangat keren. Rambutnya dibiarkan acak-acakan seperti beberapa jam yang lalu, hanya saja ada sedikit perubahan pada warna wajah tirus semulus porselennya. "Aku sudah besar, jangan panggil aku dengan suffix menjijikan itu!" gerutuan pemuda berambut azure itu sungguh merusak penampilan kerennya.

"Kau..." aku ingin berkomentar, memuji penampilannya, tapi aku malah bilang "terlihat seperti Kamui-jiichan. Hmf.."lalu harus menahan tawa. Kaito berhakama itu melirikku sekilat, membuang muka lalu membalas tak kalah menyebalkan.

"Kau sendiri Miku, apa-apaan dandananmu itu? hapus sana! Bibirmu seperti pantat kukang, hahaha..."

"Mou, katakan itu sekali lagi? kucakar kau!" batinku, kalau ini bukan di rumah keluarga Kaito, habislah dia. Aku hanya menatap sebal kearahnya. Tapi kalau diperhatikan ya, ucapannya itu penuh dengan kebohongan. Lihat saja pipinya bersemu lucu begitu.

"Kaito benar-benar harus kita kirim ke psikiater!"

"Iya, Miku-nee cantik begitu masa disamakan sama pantat apa tadi? Ah ya itulah pokoknya, apa Kaito-niichan homo?"

"Sudahlah Miku-chan, menikah saja denganku!"

"SUDAH KALIAN PERGI SANA!"

Komentar-komentar dari para sepupu membuat beberapa sudut siku-siku mucul di jidat Kaito Shion. Kikaito, Akaito dan Kaiko saling berbisik namun masih bisa kami dengar dengan sangat jelas. Mereka berempat lalu main kejar-kejaran mengelilingi koridor. Aku tak bisa untuk tidak bisa tersenyum melihat tingkah konyol mereka semua. Ngomong-ngomong, orang tua Kaito menghilang kemana ya?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam ini kebetulan ada festival musim panas desa tak jauh dari rumah keluarga Shion. Kaiko yang pertama ribut minta ke sana, kemudian Akaito dan Kikaito antusias menyeretku dan Kaito ikut serta. Aku menemukan tuan dan nyonya Shion tengah memakan dango tusuk dalam salah satu kedai.

"Nih, belikan makanan untukmu dan Miku-chan. bersenang-senanglah sana!" kata mama pada Kaito, sembari memberinya beberapa uang recehan. Pria berambut biru dengan pakaian couple-an bersamaku, langsung menarikku berkeliling.

Kalau ini Tokyo, segitu bisa beli seporsi sup miso, dan harus cuci piring sampai kedai tutup. Tapi di Osaka lain lagi. Kami berdua jajan dari satu kedai ke kedai lainnya sampai kenyang dan uang itu baru habis setengahnya. Mikuo Hatsune pasti betah di sini. Pikirku.

"Maaf Shion-san, sudah habis.." kata paman penjual itu dan Kaito mengeluh. Kau tahu, aku diajak berkeliling untuk menemukan satu-satunya penjual eskrim di festival ini. Sudah begitu bentuk eskrimnya tidak lazim lagi. Untung sudah habis. Nice paman!

"Kenapa harus habis sih, padahal aku penasaran rasanya!" gerutu Kaito sembari menghempaskan pantatnya di rerumputan. Aku ikut duduk di sebelahnya. Memandang pantulan cahaya dari sungai yang beriak indah.

"Ih, kau tidak geli dengan bentuk eskrimnya?" tanyaku sembari memakan takoyaki yang tadi dibelikan Kaito. Rasanya berbeda dengan yang biasa aku beli di Kyoto.

"Memang kenapa? Bentuknya 'kan seperti menara Tokyo."

Dasar tidak peka, bodoh lagi, memangnya menara Tokyo ujungnya bundar? Sudah jelas bentuknya 'mengerikan' begitu. Aku menyernyit saat melihat beberapa anak polos menjilati eskrim tak lazim yang diinginkan Kaito melintas. "Setidaknya, aku benar-benar bersyukur kau tidak jadi beli... hei!"

"Kau ini, aku sudah berjuang seharian menangkap bajingan-bajingan yang... lupakan!" Kaito kembali mencomot satu, lalu lanjut menggerutu "sampai tersesat ke rumahku sendiri, memang ini salah siapa?"

"Iya iya, aku mengaku salah. Aku tidak akan menyalahkanmu yang waktu itu menyusulku, lalu tertangkap oleh salah satu yang jelek, sampai rencanaku berantakkan, sungguh itu salahku. Kau puas?" jawabku, hendak mencomot takoyaki lain tapi yang terakhir baru dicomot Kaito. "Hei.. Kau amph.."

"Diam dan makan!" Kaito menyuapkan setengah takoyaki yang barusan dia gigit ke mulutku, wajahku langsung memerah. Ciuman tak langsung. Ugh, bikin greget saja.

Kaito sedang membuka bungkus karton kue ikan mas ketika handphone milikku berteriak hebat. Nama Mikuo Hatsune tertera pada layar, aku menyernyit heran. Tidak biasanya aniki menelpon. "Halo?"

"Hei imouto, aku dan Lily sedang ada di festival nih. Besok dia pulang ke Gakkupou House, kau mau pesan apa, biar sekalian kutitip."

"Aniki, kau mengganggu saja!" aku mencuri kue dari tangan Kaito, lalu memakannya sambil bilang "lagipula kemungkinan besok aku juga tidak ada di sana. Tak usah belikan apapun, Niisan, cukup satu boneka beruang saja kalau disana ada yang jual."

"Euh, dasar merepotkan!" hei, siapa tadi yang menawari dibelikan oleh-oleh? Dasar Mikuo. "Nee Miku, apa kau sedang bersama pria berambut biru itu sekarang?" tanyanya, aku menyernyit heran. Tumben dia menanyakan Kaito.

"Hn, memangnya ada apa Oniichan?"

"Katakan padanya, kalau aku sedang melihat kepala polisi Osaka bersama gadis berambut teal di pinggir sungai. Mungkin itu selingkuhannya. Kudengar dari Lily, ibunya Kaito itu dulunya bermarga Sakine, dan semua anggota keluarga Sakine berambut coklat." Mikuo-nii mengambil nafas, "tapi kok dia pakai yukata dengan lambang keluarga, apa paman itu menikah lagi ya?"

Deg.

"Ada apa Miku?" tanya Kaito, ditangannya masih ada seperempat kue ikan yang langsung dihabiskan.

"Apapun yang terjadi, jangan berani menoleh!" bisikku.

"Shion-san!"

JEDDERRR...

Dan benar dugaanku, Mikuo Hatsune berada di sini. Baru saja menyapa orang di sebelahku dengan nama marganya. Aku semakin sawan. Menoleh patah-patah kearah kakak dan aktris pirang kamar sebelah, mengikuti gerak kaku Kaito. Kedua mata turqoise itu terbelalak lebar. "M-Miku!"

"Halo Mikuo-nii, genki ka?"

Jika kemarin aku ingin menghilang karena tertangkap basah ayahnya Kaito, sekarang aku ingin mati saja. Sungguh, Mikuo Hatsune tidak akan habis bertanya malam ini untuk melampiaskan hasrat ingin tahunya.

Asal kalian tahu, kawan!

Dari dulu aniki selalu merasa tersaingi olehku dalam setiap hal. Satu-satunya yang bisa dia banggakan adalah wajah tampan dan kekasih-kekasihnya, sedangkan itu kekuranganku dulu. Tapi sekarang ada Kaito, mungkin dia merasa takut kembali terdahului olehku yang notabene adiknya sendiri.

Haha, dasar Mikuo!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

A/N ; "Terimakasih buat partisipan Cost Catch Love, baik itu sejak chapter satu maupun yang baca maraton. Hoho, aku senang banget liat fav, foll, review dari kalian minna! Arigato." Itu dariku, karena kalian aku jadi tambah bersemangat menulis chapter selanjutnya-selanjutnya, jangan pada bosen yaa. Aku sayang kalian para shipper KaiMi-MiKai, pokoknya Kaito x Miku.

Aku ini newbie di fandom ini, jadi, mohon bantuannya. Maafkan salah-salah kata dan lainnya. Eh, aku ada di facebook loh, hoho.. (aelah, siapa pula yang nanya? Abaikan,.)

Maaf kalau fic ini sering updet, kadang jarang, kadang ngareeeeet lama. Haraf maklum. Author kurang kerjaan. Ijasah maupun surat keterangan tamat belajar belum nongol dari sekolah, jadi, yah beginilah. Kadang aku ngenesh liat nakama udah pada kerja, lha aku? lamaran ditolak karena pakek surat kelulusan, jadi yaa...

Tuh kan jadi curhat.

Singkatnya, sampai bertemu chapter depan!

.

.

.

.

.

CN Scarlet