Cost Catch Love

[Love is War]

Vocaloid © Yamaha Corporation

CN Scarlet

[Friendship, Humor, Romance]

.

.

.

.

.

Hatsune Miku Point of View

.

.

.

"Masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah.."

Oh tidak.

::

.

"Aku mencintaimu Kaito!"

Kaito Shion, pria berambut azure yang tampan cetar itu menyernyit mendengar pernyataan spontan blak-blakan pagi ini. Jika kau kira aku yang mengatakannya, kau salah paham nak, aku jelas-jelas diam saja berjalan disebelahnya menyebrangi lorong sekolah bersama.

Para siswi di lorong saling berbisik-bisik. Perjalanan di pagi hari menuju kelas, Kaito dicegat oleh seorang gadis berambut strauss yang cantik dari kelas sebelah dengan pernyataan cinta, sedangkan aku harus terjebak diantaranya. Kurang greget gimana juga Selasa pagi ini, hn?

"I-itu, um..." Kaito sialan, bukannya jawab dengan betul, dia malah melirikku. Bagaimana kalau gadis bername tag Utatane Zumi ini salah paham. Lihat, dia mendeathglare kemari. "... duh, gimana ya?.. ish."

Aku menyikut pinggangnya. Apa-apaan jawaban gantung itu, bisa-bisa gadis berambut strauss itu berharap lebih pada Kaito. Kuakui aku memang agak sedikit cemburu, tapi, bagaimanapun juga aku ini orang yang sangat peka. Aku kasihan pada gadis didepan kami ini kalau cintanya ditolak melihat bagaimana dia menembak Kaito di depan publik seperti itu.

Pasti malu sekali.

"Nee Zumi-san, terimakasih ya. Sebenarnya aku juga tidak keberatan_"

"Jadi kau juga menyukaiku, kalau begitu kau mau berkencan denganku akhir pekan nanti?" potong Zumi sebelum Kaito selesai dengan perkataannya sendiri. "Arigato!"

Aku sweadrop dengan peranku menjadi obat nyamuk diantara mereka berdua. Gadis ini sangat greget, dan jawaban dari Kaito juga nggak kalah greget. Zumi langsung berlari riang ke kelasnya setelah mengucapkan banyak terimakasih sambil menyalami Kaito, mengingatkanku pada tingkah Luka ketika mendapatkan baju keren dari Lily.

Oh, sepertinya aku akan kembali melakukan apa yang kata Yuma 'mencumbu' meja lagi di kelas nanti.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"SEBAAAAAAAALLL..."

Kamui Gakupo nampak sedang mengibas-ngibaskan rotan kearah kumpulan burung-burung nakal yang entah kenapa bisa berkumpul sangat banyak di atap jemuran. Oh ya, mungkin karena biji-bijian yang sedang dijemur pria itu mereka semua jadi berkumpul. "Sudah kubilang jangan dimakan, dasar merpati-merpati sialan!"

Aku mengambil cucianku yang sudah sangat kering dan handuk yang sudah seperti kerupuk. Pertengahan musim panas begini menjemur pakaian memang sangat menyenangkan, tapi lain halnya dengan makhluk hidup. Rasanya seperti terpanggang di siang hari.

"Aaah, hilang lagi!" gerutu Rin, sedang menghitung jumlah celana dalam dari jemurannya di sebelahku. Aku jadi langsung menghitung milikku sendiri. Untung jumlahnya masih sama seperti tadi pagi.

"Kamui-jii, kau tidak ambil celana dalam punyaku 'kan?"

"Kau ini Rin, aku ini lebih suka isinya daripada bungkusnya. Pergi tanya Kaito sana!"

Rin mendongkol, mungkin dia membatin dengan apa yang dikatakan secara frontal oleh pak tua hentai barusan. Aku hanya terkekeh sembari memboyong serta jemuran Kaito, mengingat, pemuda itu yang membersihkan seluruh kamar dua sisi tirai bangau sendirian.

"Rin-chan, apa pakaian dalammu sering hilang begitu?" tanyaku, kami sedang menuruni tangga.

"Terakhir kali tertukar punya Len, jadi kami memutuskan untuk tidak lagi mengurusi pakaian bersama-sama. Tapi itu sudah sekitar dua tahun yang lalu. Kali ini baru terjadi lagi.." jelasnya, "oh ya, katanya punya Luka-nee dan Meiko-nee juga hilang kemarin. Makannya aku curiga Kamui-jii yang ambil!"

"Aku juga setuju," kataku, "tapi kalau memang begitu bukannya seharusnya semua memang wajar terjadi mengingat letak kamar Kamui yang dekat jemuran." Rin mengangguk paham.

Di lorong menuju kamar, kami berpapasan dengan Kaito Shion. Memakai celana denim selutut dan kaos tipis gambar kelinci berpita biru, sembari menenteng sebuah alat penyedot debu dan beberapa buku yang hendak dikembalikan ke perpustakaan di samping ruang makan.

Pertanyaan serupa ditanyakan Rin padanya, dijawab dengan jawaban serupa juga dengan yang Kamui katakan. "Hal seperti itu, tanyakan saja pada Jii-chan! dia yang paling hentai di rumah ini." katanya.

"Ya sudahlah, ikhlaskan saja."Rin semakin dongkol, memasuki kamarnya dengan wajah kusut. Saat itu Len keluar kamarnya sembari membawa botol kosong. Halisnya terangkat satu.

"Dia kenapa Miku-chan?" tanyanya, aku menjawab seadanya. Len hanya mengangguk. "Oh begitu. Memang, akhir-akhir ini ada pula yang berbuat begitu. Punyaku dan Kaito bahkan ada yang hilang, ck, Kamui-jii menyebalkan!"

Len dan botol minumannya berjalan berlawanan arah denganku yang berbelok ke sebelah kanan. Melewati Luka dan Lily yang sedang saling mengecat kuku di dekat jendela, beberapa ekor merpati tampak melintasi pagar menuju lantai dua saat aku mengucapkan "permisi," pada kedua gadis cantik itu.

"Oh ya Miku-chan, apa tadi ada dalemanmu yang hilang?" tanya gadis bersurai pink, aku menggeleng.

Lily menjawab pada Luka dengan bisikkan, "sudah kubilang 'kan Kamui pelakunya!"

"Milik Rin yang hilang," jawabku kemudian, "kami sudah tanya Kamui dan dia malah menjawab dengan kalimat vulgar." lanjutku.

"Aku kira dia yang patut dicurigai sebagai tersangka utama. Milikku yang ada di kamar bahkan sudah tinggal yang kupakai sekarang, haha..." aku dan Luka melotot mendengar pengakuan aktris top Jepang itu, ya ampun, bahkan tak ada yang berani masuk ke kamarnya dan Lily juga jarang pulang ke Gakkupou House. "Yosh, selesai!"

"Kalau begitu memang hanya Kamui orang pertama yang patut dicurigai," pikirku, mengingat dia yang punya kunci cadangan setiap ruang Gakkupou House. Tapi kalau hanya dia, seharusnya pakaian dalam Len dan Kaito juga tidak usah ikut-ikutan hilang.

"Nah Miku-chan, kau tahu sesuatu?" tanya si gadis Megurine.

"Akan kucoba selidiki, senpai!" ucapku, lalu masuk ke kamar melalui pintu milik Kaito. Dari luar terdengar Luka memprotes caraku memanggilnya barusan.

Seperempat jam lamanya aku melipat semua pakaian ini. Punya Kaito kutumpuk saja dibalik tirai bangau, sedangkan milikku langsung dirapikan ke dalam lemari. Saat hendak memasukkan daleman, entah kenapa firasatku langsung tidak enak. Teringat bencana yang dialami para penghuni Gakkupou House belakangan.

Pertama-tama aku menata pakaian luar, kemudian pakaian dalam. Semuanya terasa normal-normal saja sebelum aku melihat pada laci yang menyimpan semua persediaan bra. Astaga, ya ampun, ya Tuhan!

Tidak ada apapun di sana!

"Tidak mungkin!"

Itu bukan aku loh yang bilang, tapi pria berambut azure di sisi kamar yang tertutup tirai bangau. Yup, Kaito Shion. Sudah kembali dengan urusannya dari perpustakaan. Sepertinya ada yang terjadi sampai dia memekik begitu. Aku memberanikan bertanya "ada apa?"

"Miku, ini serius!" ucapnya, dengan kepala yang melongo pada sisi kamarku. "Celana dalamku, lagi-lagi hilang!"

Aku menoleh (sok) tenang, "masa sih, bahkan jelas tadi aku menghitungnya saat mengambil jemuran?" dia malah berdecak.

"K-kalau yang kau tumpuk, itu memang betul adanya. Ini yang ada di lemari loh, dari mulai stok yang belum dipakai sampai yang sudah longgar-longgar."

"Hahaha..." aku sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak tertawa, "aku tidak percaya ada yang suka dengan celana dalam bekas ompolmu!" Kaito Shion menyibakkan tirai bangau setengahnya.

"Kau minta dijambak ya?"

"Hmfh.." aku menghela nafas panjang, "baiklah, kali ini aku serius."

Berdiri sembari berkacak pinggang setelah menyibakkan kedua kuncir panjang rambutku ke belakang, Kaito ikutan membetulkan rambutnya yang sudah melewati hidung. Wajahnya jadi mirip Kaiko dengan rambut agak panjang begitu. "Dengar..." aku mulai dramatis.

"Sebenarnya... dalemanku yang di dalam lemari juga hilang. Semuanya!"

(Hell, aku tidak mungkin bilang apa yang hilang. Kaito itu walau bagaimanapun bentuknya, tetap laki-laki.)

"Ya Tuhan!" dia memijit pelipisnya, "orang hentai ini sungguh merepotkan!" kemudian menyibakkan kembali poninya yang sudah kelewat panjang itu. Pasti Kamui yang terlintas di otaknya.

Aku jadi risih sendiri melihatnya, "hei Kaito, rambutmu sudah sepanjang milik si kembar Kagamine, kenapa tidak dipotong?"

"Kemarin aku hendak memotongnya di salon pertigaan, tapi berhubung celanaku yang hanya lima itu dicuri orang, aku jadi ikut beli daleman bareng Len. Menyetok agak banyak untuk perjagaan dan sekarang semuanya lenyap. Aku harus menunggu kiriman bulan depan untuk membeli perlengkapan, dan yang lainnya, kau juga tahu sendiri jasa pangkas rambut di Jepang berapa."

Aku mengangguk paham. Intinya, uang bulanan Kaito bulan ini sudah dia habiskan akhir bulan ini untuk mengganti celana dalamnya yang hilang. Dia sama sekali tidak punya uang sekarang. Aku berbalik sebentar mengambil gunting dan sisir dari salah satu laci rahasia di lemariku. Juga sehelai kain putih bermotif lotus yang sudah usang dari tumpukan pakaian paling bawah.

"Miku, untuk apa itu semua?" tanya Kaito saat aku membawa ketiga benda itu menghampirinya, langsung memegangi surai biru agak panjangnya, "kau tidak akan memotong rambutku, kan?"

"Yup," aku tersenyum. Menarik Kaito duduk kembali sebelum dia berfikir lagi untuk kabur, lalu melilitkan kain putih usang itu pada seluruh tubuhnya. Dia jadi terlihat seperti boneka teru-teru bozu*.

"T-tapi_"

"Shhh..." desisku sembari menyentuh bibir seksi Kaito dengan ujung jari telunjuk. Perlahan, kugerakkan sedikit sampai pipinya memunculkan rona merah yang lucu. Aku menyeringai. Kuakui diriku jadi nekat begini, tapi, aku sungguh-sungguh menikmati wajah terkejut pria berambut azure itu.

"Kaito-kun..." bisikku, wajahnya langsung merah sampai telinga. Jakunnya naik-turun karena menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. "Kalau kau merasa takut, pejamkan saja kedua matamu. Ini hanya sebentar kok!"

Hah, kau memang nakal Miku Hatsune!

KRESH...

.

Luka, Lily, Rin, Len, dan Kamui di lapangan bulu tangkis sebelah Gakkupou House hanya bisa melongo dengan penampakkan Kaito Shion yang rambutnya telah kupangkas. Bahkan pria berambut ungu panjang itu sampai nyaris menelan peluit di mulutnya. Kubilang juga apa, hasil karyaku menakjubkan untuk ukuran gadis Kyoto yang jenius. Haha.

"Wowowow..."Len dan Rin langsung memutar-mutari tubuh Kaito, aku menonton saja sembari membuang helai-helai biru yang menempel di kain putih dan bajuku. Tak jauh dari sana.

"Potongan yang bagus, Miku!" Luka dan Lily langsung merangkul pundakku, aku hanya terkekeh.

"Yups, padahal kudengar dari Mikuo kalau kau hanya bisa mengguntingi rumput dan ilalang."

Mikuo sialan, awas saja dia! Lihat, Kaito langsung menatap horor kearahku begitu mendengar ucapan Lily, yang sedang mencubiti pipiku. Aku langsung mencari alibi, "ah, tapi Lily, sebenarnya aniki juga selalu kupotongkan rambutnya, kok! hehe..."

Ah, itu tidak sepenuhnya bohong kok. Waktu itu Mikuo-nii kena razia di sekolahnya karena telat cukuran, terus uangnya dipalak preman kampung, jadi dengan sangat terpaksa (disertai paksaan dariku) rambutnya kupangkas. Psst, rahasiakan ini dari Kaito, ok?

"Tapi ini benar-benar rapi loh!" bela Meiko, Kamui mengelus-elus rambut biru Kaito yang langsung ditepis sang pemilik kepala. Pria berambut ungu itu tertawa.

"Miku-nee, bisa kau rapikan rambutku juga?" tanya Rin, Len Kagamine juga ikut-ikutan.

"Punyaku juga Miku!" kata Lily, aku tidak percaya akan memangkas kepala seorang selebritis.

"Pendekan dulu poniku!"

"Aku juga dong!"

"Pendekan juga rambutku ya, Miku!"

Luka ikut menarik tanganku lalu Kamui dengan tanganku yang satunya lagi. Kaito menonton saja ketika Meiko memelukku dari belakang, sumpah, aku langsung merinding disko!

"Baiklah, aku akan memangkas rambut kalian semua!" asal jauhkan Meiko Sakine dari tubuhku sekarang juga!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kyaaaa..."

Kedatangan Kaito Shion dengan gaya rambut yang lebih pendek menarik terlalu banyak perhatian kaum hawa di Tokyo Art High School. Ada yang menyapa biasa, centil, berteriak a la fans girl boyband, sampai jepret-jepret. Ya ampun, kalau bukan telapak tangan besarnya yang memegangi erat-erat tanganku, aku memilih jalan memutar yang lebih jauh.

"Ohayou!"

Seorang pria berperawakan seperti Kaito, namun dengan rambut pink dan segala sesuatu yang pink-pink di jaketnya, menyapa riang dari pintu kelas. Kaito baru melepas tanganku. Itu sudah sangat merah. "Ohayou mo, Yuma-san!"

"Kenapa tanganmu?" tanyanya, kami masuk kedalam dengan Kaito yang masuk lebih dulu.

Dia mulai cemburu, ohoho...

Yuma mengeluarkan jel dingin itu dari kantung celananya lalu mengoleskannya di tanganku. Sensasinya sama seperti ketika dia mengoleskannya di keningku, aku meringis tertahan. "Kalian bertengkar?" tanyanya.

Aku menerawang sebentar lalu menggeleng. Masa iya bertengkar, memangnya aku dan Kaito mempermasalahkan apa? Paling tadi pagi kami perang sumpit diatas sepiring onigiri dan tempura, itu sudah biasa di Gakkupou House. Tidak bisa disebut bertengkar.

"Terus kenapa dia menyeret gadis secantik dirimu begitu?"

Ah, Yuma yang ganteng dengan segudang kata-kata anehnya. Aku terkekeh menanggapi pertanyaan bernada polos itu, "mungkin dia menggunakanku untuk melampiaskan kekesalannya karena tidak bertemu Zumi. Itu loh, gadis berambut strauss dari kelas sepuluh B!"

"Oh Zumi-chan, iya aku kenal. Kami bertetangga."

"Eeeh?"

"Dia itu keponakan paman pemilik perusahaan percetakan. Kami teman bermain saat kecil, kau tahu, teman dekat sepertimu dan Kaito-san.."

Yuma menjelaskan gadis strauss bernama Utatane Zumi, yang menyatakan cinta pada Kaito beberapa hari yang lalu itu, dengan lengkap dan jelas. Dari cerita itu aku bisa langsung tahu kalau mereka memang sangat dekat. seperti katanya, hubungan mereka sepertiku dan Kaito sekarang.

Wait!

Kalau begitu mungkin saja Zumi pernah punya perasaan khusus pada Yuma? Dari penampilannya memang oke, gadis modis dan sedikit pemalu, tapi mengingat gadis itu berada dalam posisi kedua setelahku saat ikut ujian seleksi dulu jelas Zumi itu anak yang pintar. Ada kemungkinan dia mengatakan itu pada Kaito adalah siasat.

"Miku-chan, kau mendengarku?"

"Ah Yuma, maaf, aku tadi sedang berfikir kemana gerangan Zumi akhir-akhir ini." ucapku beralasan.

"Kau tidak tau ya, dia 'kan terpilih mewakili sekolah ini untuk lomba cerdas cermat."

"Oh ya?" aku benar-benar tertarik dengan pembahasan ini, menarik kursiku semakin mendekati Yuma. Dia mengangguk.

"Zumi dari kelas satu, Haku, dan Teto dari kelas dua. Kudengar tadinya akan diwakili Luka dan Taito juga, tapi katanya osis dilarang ikut..."

"Pantas juga sih, Luka-senpai selalu pulang sore. Mungkinkah mereka ikut latihan?"

Yuma mengangguk, bell masuk berbunyi nyaring sebelum kami melanjutkan obrolan. Pelajaran matematika oleh Hiyama-sensei kuikuti sekenanya saja. Tak ada alasan lain, aku sudah menguasai materi ini sejak smp. Psst, jangan bilang sensei, atau aku...

SREEEEKK...

"Maaf sensei," tiba-tiba saja Megurine Luka mengintrupsi di tengah-tengah pelajaran, "aku datang untuk membawa Hatsune Miku, kami sangat membutuhkannya!" lanjutnya sembari menyerahkan smartphone warna biru muda milik gadis pink itu. Wah, firasatku benar-benar buruk. Jangan-jangan..

"Oh baiklah Megurine-san, kau boleh membawa Hatsune-san untuk mengisi kekosongan Haku."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Yah, lomba cerdas cermat. Aku paling anti dengan lomba-lomba yang menguji kecerdasan, karena dengan ikutnya aku, maka kemenangan sekolah sudah terjamin. Itu seperti sudah menjadi hukum alam saja bagiku, karena itu selama ini aku berusaha menjaga nilai-nilai sekolahku stabil sedikit diatas nilai kriteria minimal. Tak mau riwayat smp terulang.

Dan gara-gara Haku-senpai cedera karena jatuh, aku harus mengisi kekosongannya. Beberapa pertanyaan mudah dijawab Zumi dan Teto bergantian. Awalnya aku diam saja sebenarnya, tapi berhubung nilai tim selisih banyak dan harus mencuri nilai dengan pertanyaan menjebak yang tidak mungkin dijawab anak sekolah menengah atas, aku dengan sangat terpaksa langsung memonopoli perlombaan. Kami menang telak.

Salahkan Kaito yang dengan seenaknya mengirim pesan singkat saat di perjalanan tadi.

"Miku, awas kalau kau membuat sekolah kita kalah, kau harus mencium pipiku didepan para penghuni Gakkupo House! -Kaito-" begitu isi pesannya. Mengerikan!

(kalau Kaito Shion tidak menambahkan kata ".. didepan para penghuni Gakkupo House," aku dengan senang hati mengalah pada tim lawan. Yeah, kau memang nakal Miku!)

"Haku, kami menang!" kata Teto ceria, kami sedang di rumah sakit sekarang. Memamerkan piala besar yang beratnya naudzubillah ini pada Haku penuh lilitan perban yang dijaga ketat oleh ketos Tokyo Art High School. Taito Shion.

"Arigato, aku sangat senang..."

Haku tampak menangis haru, sampai air matanya membasahi perban yang melilit lehernya. Dia benar-benar parah sampai terlihat seperti mumi Mesir kuno. Aku penasaran sebenarnya Haku-senpai ini jatuhnya bagaimana sampai seperti itu.

BRUMM... CKIIIITT...

Yuma membonceng Kaito sampai depan rumah sakit ketika aku dan Zumi keluar dari pintu depan rumah sakit. Piala segede gabang itu sedang dipelototi Haku-senpai dan Taito-senpai sudah berjanji akan mengurusnya, kami tak perlu khawatir.

"Kaito-kuuuun!"

Zumi berlari kecil dan melompati lelaki azure itu, memeluknya. Aku hanya bisa terkekeh menutupi rasa cemburu. Kaito Shion menampakkan wajah seperti Len Kagamine dipeluk Kamui saat memenangkan lomba menyanyi di festival musim panas smp. Akhirnya aku menghampiri Yuma.

"Aku kaget kalian datang!" kataku berbasa-basi.

"Anak itu mendapatkan posisimu dari saudaranya," Yuma menunjuk Kaito dengan dagunya, "kami berdua langsung kemari. Oh iya, bagaimana lombanya?"

"Zumi hebat! Kami memenangkan piala terbesar untuk Tokyo Art High School!"

"Tidak, tidak, tidak.." Zumi menginterupsi dengan menggandeng lengan Kaito, lelaki itu sudah dalam mode pasrah, "kami menang karena gadis daun bawang meng-handle permainan di akhir. Kami sangat beruntung!"

"Sudah kuduga_"

"Yah, pokoknya kita menang!" aku memelototi Kaito Shion yang menunjukkan tanda-tanda hendak membuka rahasia. Kalau sampai, habislah masa sekolah menengah akhirku, "dan lagi.." kurogoh saku rokku dan mengeluarkan sebuah amplop. Isinya dua lembar tiket couple ke disneyland. "Kita bisa double date awal musim gugur ini!"

"Yeaayyh!" Zumi dan Yuma nampak bersemangat dan bertos ria, sedangkan Kaito melotot tidak percaya.

"I-itu kan.."

"Yup, aku menukarnya dari pemenang ketiga dengan beberapa lembar foto bertanda tangan Lily. Hehe.."

Kaito menyentil pelan dahiku, "dasar!" desisnya. Untung kedua orang pasangan kami sedang sibuk menyusun rencana. Benar-benar tidak menyadari interaksi kami berdua. Aku dan Kaito langsung pura-pura manis ketika mereka berbalik.

"Miku-chan, gomenne. Kami akan pulang bersama, akan terjadi masalah jika aku memakai kereta jam segini, bye!" Zumi terlihat sangat bersalah ketika mengatakan hal itu sambil menggenggam kedua tanganku, " Kaito-kun, aku sangat menantikan double date kita!.." katanya sembari melambai dari atas motor besar Yuma.

"Ya, hati-hati di jalan Zumi-chaaaan, Yuma-saaaan!"

Sekarang aku bingung siapa yang pasangannya siapa.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

*boneka penahan hujan khas Jepang yang terbuat dari kain yang dijahit dan diikat menggantung pada jendela.