Tujuh hari yang lalu, aku mengamankan nama baik Kamui Gakupo dengan mengatakan kalau dia bukanlah orang yang mencuri pakaian dalam para penghuni Gakkupou House. Kecurigaanku yang mempunyai peluang 75% tepat sasaran pada tetangga baru yang tukang panjat tebing itu juga tidak terbukti.

Tapi, saat Kaito Shion kembali kehilangan seluruh celana dalamnya di lemari pakaian kemarin, barulah aku menyadari sebuah kejanggalan. Tentang sebuah kenyataan nyeleneh yang membuat dagu kalian semua jatuh sampai tanah...

::

Cost Catch Love

[Date]

Vocaloid © Yamaha Corporation

CN Scarlet

[Friendship, Humor, Romance]

.

.

.

.

.

Hatsune Miku Point of View

.

.

.

"Masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah.."

Oh tidak.

::

.

"Pakaian dalamku, hei kembalikan monyet sialan!"

Selesai menjalani hari melelahkan dari restoran Vocaloid di malam minggu, para penghuni Gakkupou House menangkap basah seekor kera berbulu putih sedang menggondol seluruh pakaian dalam berbentuk aneh dari lantai dua.

Kamui Gakupo dibantu oleh Len dan Rin Kagamine berlarian mengejar makhluk itu mengelilingi sepengisi rumah. Guci-guci antik yang berjajar di sebelah akuarium nyaris berjatuhan kalau saja Kaito tidak segera menahan dan membetulkannya dengan refleks cepat. Para perempuan pun membantu menutup semua jalan keluar yang ada agar si monyet tidak sampai lepas.

BRAAAANGG!

"Dapat!" Meiko Sakine menendang tubuh kera aneh itu membentur pintu toilet. Aku langsung mengikatnya dengan celana aneh Kamui yang bercecer di lorong. Sedangkan Kaito, Len, dan Rin memegangi Kamui yang protes keras tentang celana dalamnya.

"Monyet sialan, kemanakan semua pakaian dalamku, heh?" Len Kagamine mengguncang-guncang keras kera malang yang tengah menggeleng-geleng. Kamui menelpon pihak kebun binatang untuk segera mengurusnya. Tak perlu waktu lama, beberapa orang datang membawa monyet itu, bersama serta celana dalam Kamui yang dipakai untuk mengikat tubuhnya.

Akhir musim panas tahun ini, permasalahan daleman terselesaikan sudah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

SREEEKK... SREEKK... SREEEKKK...

Hari Minggu di awal bulan Mei adalah awal musim gugur yang melelahkan. Gakkupou House memanen apel fuji yang tumbuh dekat sepanjang pagar. Panen perdana katanya, Kamui membuat pie manis di dapur sedangkan kami semua membersihkan seluruh halaman rumah yang luasnya naudzubillah.

"Len, berhenti menabraki pohon dan kumpulkan dedaunan ke dalam plastik sana!" Rin meneriaki saudaranya yang sedang menendangi bola temuan dari gudang bawah tanah ke pohon-pohon apel. Membuat daun-daun yang mulai menguning itu menjadi berguguran. Sekaligus menambah pekerjaan yang lainnya.

"Bantu kami dan berhenti merepotkan!" Meiko yang kesal, merampas bola kumal itu dan mengembalikannya asal ke gudang bawah tanah. Tak lupa mengunci pintunya kembali.

Len membantu bersih-bersih sembari terus menggerutu. Untungnya, kepala Kamui melongo dari jendela ruang makan. "Minna-san, ayo kita beristirahat sebentar. Cepatlah, pie-nya sudah matang!" teriaknya, kami langsung berhamburan masuk kedalam melalui pintu depan setelah membereskan pekakas di gudang.

Pie-pie yang masih mengepulkan asap menggoda untuk disantap tersaji di atas meja bersama tujuh gelas minuman dingin berwarna kuning menggiurkan. Hanya tujuh, Lily sedang sibuk-sibuknya shooting di luar negeri sepanjang bulan ini.

"Kudengar kau memenangkan lomba cerdas cermat, apa itu benar?" tanya Kamui, aku menggeser kursi sedikit merapat kearah Luka, menghindari pak hentai itu juga tatapan mesumnya.

"Kau ketinggalan berita!" ejek Luka, Kamui menggerutu dan yang lainnya tertawa.

"Yappari, Miku Onee-chan memang jenius!" puji Rin, tapi ucapan Len Kagamine yang mengiringinya mengandung unsur modus.

"Lain kali bantu aku mengerjakan pr ya, hehe... wadaw!"

Kaito yang selesai menjitak Len Kagamine mendesis, "belajarlah sendiri!"

Aku baru hendak memakan gigitan ketiga dari pie-ku tepat ketika lelaki berambut biru di seberang meja bangkit berdiri lalu menarikku, "ayo Miku, sudah waktunya!" katanya.

"Hei, kalian berdua mau kemana?" tanya Kamui, yang lain juga menoleh kemari.

"Kencan." Iya, kami punya acara kencan ganda dengan Yuma dan Zumi hari ini.

Krikkk.. krikk.. krikkk...

Semua orang terdiam mendengar kata yang aku dan Kaito ucapkan bersamaan barusan. Baru sampai di belokan tepat jam bergambar Lily akris kamar sebelah dipajang, mereka mendapatkan kesadaran masing-masing. "EEEEEHHH?!..."

Tidak aneh kalau Gakkupou House selalu ramai.

.

.

.

.

.

Aku mengenakan tangtop putih yang disembunyikan oleh kemeja merah muda yang kancingnya terbuka tiga, diserasikan dengan celana denim sepertiga kaki, dan kaos kaki pendek yang nantinya dipakai dengan sepatu di rak (yang biasa kupakai ke sekolah). Rambut kuikat dua tinggi seperti biasa, sekarang sudah mencapai lutut, terlihat berkibas ketika kucoba memutar badan. Oh ya, aku juga menyemprotkan sedikit minyak wangi.

SREEEKK...

Tirai bangau di belakang tersibak. Menampakkan Kaito Shion dalam jaket putih yang membalut kaos biru sewarna rambutnya, juga celana denim sampai mata kaki yang mengerucut bawahnya (seperti pensil, dan aku bertanya-tanya bagaimana cara memakainya) terlihat sangat fashionable dengan tambahan syal kain biru muda.

"Bagaimana kalau aku belum selesai memakai baju?" sindirku, dia membalikkan tubuhku dan mengambil alih kuas dan blush on.

"Kau 'kan selalu memakai kamar mandi untuk ganti baju, itu sudah menjadi kebiasaan," ucapnya sembari mengulaskan tipis-tipis rona-rona pink itu. Selesai blush on, dilanjutkan dengan eye shadow natural, lalu mascara dan eye liner. Semuanya terasa dè jàvu bagiku.

Aku menahan tangan besar itu ketika dia hendak mengoleskan lipstik sheer pink padaku, kami saling bertatapan selama beberapa detik dan dadaku sudah seperti orkes dadakan di restoran Vocaloid. "Tolong, berhenti mengacaukan kencanku dengan melakukan semua ini!" desisku.

"Kenapa?" oh Kaito yang (sok) polos dengan wajah imutnya yang menggemaskan. Aku tidak mungkin bilang, kan, kalau nanti aku akan mengingatnya terus selama kencan? Aku berusaha mencari alasan lain.

"Nanti kau akan menyebut bibirku seperti pantat kukang.."

"Hmfh... ahahaha..."

Sialan, dia malah tertawa!

Mengganti lipstik pink itu dengan lipgloss natural tanpa warna dan mengoleskannya tipis-tipis di bibirku. Kaito melarangku bercermin, lagi-lagi, dan segera menarikku cepat-cepat keluar melalui pintu kamarku. Len, Rin, Kamui-jii, Luka, dan Meiko ditemukan mengintip dari celah pintu kamar Kaito.

"Uuuuh... co cwiiitt..."

"Aciyee ciyee..."

Wajahku merah padam mendengar segala suara yang terdengar dari belakang sana. Kami berhasil melewati mereka yang mengekor sampai pertigaan lorong di depan pintu geser ruang keluarga.

Jam di ponsel menunjukan pukul sepuluh tepat ketika kami berdua sampai di depan kereta shinken express yang akan membawa aku dan Kaito ke disneyland. Yuma dan Zumi sebagai pasangan kencan ganda kami, menunggu disana. Aku mulai gugup.

Ini memang hari libur, kereta penuh sesak. Aku dan Kaito terpojok berhimpitan dekat kursi nenek yang tertidur. Kereta ini terlalu penuh menurutku, dan posisi berpelukan seperti ini sangat tidak baik bagi jantungku.

"Akhirnya sampai!"

Kaito merentangkan tangan sebebasnya diluar stasiun sedangkan aku masih jetlag di sampingnya. Kami harus berjalan cukup lama untuk sampai di tempat janjian, lelaki malang di sebelahku tidak menemukan tempat penarikan uang tunai di sekitar sini untuk mengambil transferan dari Osaka.

Tapi untungnya, ada sepeda sewaan gratis dekat stasiun kereta. Kami balapan sampai pintu masuk disneyland. Kaito kadang di depan, jauh di depan sana, lalu berhenti menungguku yang kepayahan. Aku bahkan ragu ini bisa disebut balapan.

"Konichiwa!"

Yuma dan Zumi menghampiri menuju tempat parkir khusus sepeda sewaan. Aku langsung menghampiri Yuma seperti Zumi yang kini menggandeng lengan Kaito. "Yuma-san sudah lama menunggu?"

"Kami baru sampai," jawabnya, "ngomong-ngomong, kamu cantik hari ini." puji Yuma kemudian. Aku tersipu.

"A-ah, arigato.." ucapku tulus, padahal tadi sempat berdesakkan di kereta dan Kaito Shion mengancingkan semua kancing depan kemejaku diam-diam. Ghezzz...

Lihatlah ke arah Zumi, dia sangat manis dengan rambut yang dicepol dua dan pakaian berenda biru muda a la barbie. Heels tujuh centimeter yang dipakainya menyempurnakan penampilannya. Gadis itu sempurna bersanding dengan Kaito.

"Ayo kita juga ikut masuk ke sana, Miku-chan!"

"U-um," ajakan Yuma membuatku kembali ke dunia nyata. Kami menyusul langkah mereka berdua menuju pintu masuk taman bermain, dengan aku yang menggandeng tangan lelaki bersurai pink ini untuk pertama kalinya, seperti Zumi yang menggandeng tangan Kaito.

Seperti di taman ria Tokyo, wahana pertama yang kami semua naiki bersama adalah bianglala. Kaito Shion berhasil mendapatkan uang cash miliknya dari mesin pencair uang yang ada dibawah pohon ume, sekarang dia duduk di sebelah Zumi bersama semangkuk kecil eskrim. Aku dan Yuma ada di sisi lainnya.

Bianglala disneyland sedikit lebih besar dari milik taman ria Tokyo. Satu putarannya memakan waktu sampai setengah jam lamanya, aku puas melihat seluruh kawasan tempat ini dari atas, termasuk mengingat berbagai wahana yang patut dicoba beserta letak geografisnya.

"Hei minna, ayo kita naik roaller coaster!" ajak Kaito begitu kami keluar dari bianglala. Aku jelas bersemangat, tapi wajah Yuma dan Zumi berubah pucat. "Oh ayolah.."

"A-aku mau ke t-toilet dulu. Aduh, dimana toiletnya ya? hehe..." Zumi beralasan, kami pun ikut mengantar. Kaito agak paranoid meninggalkan seorang gadis ke toilet sendirian sejak kejadian di Odaiba, aku dipaksanya mengantar sampai ke dalam.

"Miku-chan!" seru Zumi sembari memegangi kedua lenganku. "Kumohon, apapun yang terjadi, kita tidak boleh menaiki wahana berbahaya seperti itu!"

Aku mendengus, "iya, aku tahu kok. Yuma-san takut ketinggian 'kan? Tenanglah, aku punya rencana." Zumi tersenyum penuh kelegaan mendengarnya.

Kami keluar dan hanya mendapati Yuma sendirian di dekat penjaga toilet. Aku tahu kok, dekat sini ada eskrim bluberry tiga tumpuk, Kaito pasti pergi membeli eskrim lagi. "Yuma-san, bisa kau pergi duluan bersama Zumi dan mengantri kereta boneka untukku? Aku akan mencari Kaito sebentar."

"Tapi.."

"Onegai nee.."

Memasang puppy eyes no jutsu terbaik, dan, voila! Yuma mengangguk setuju. Aku menunjukkan letak wahana itu dan dia mencuri satu ciuman di pipi sebelum mengajak Zumi pergi. Kaito datang dengan dua eskrim di tangannya tak lama kemudian, yang kuambil satu.

"Kemana mereka?" tanya Kaito, aku masih asik menikmati eskrim. Punyaku baru habis seperempat sedangkan miliknya sudah tandas setengah.

"Bermain di wahana anak sekolah dasar. Ayolah, aku ingin sekali naik roller coaster, bungle jumping, kapal bajak laut, rumah hantu, dan yang lainnya!"

Kaito menloading sejenak, lalu tertawa nista. Eskrimku benar-benar habis dipakai mengantri naik wahana menantang yang bentuknya seperti naga itu. kami berdua berteriak sekencang-kencangnya saat roller coaster meluncur, berputar, dan menukik.

Aku dan Kaito menaiki wahana itu tiga kali sebelum mencoba yang lebih seru. Yeah!

Ini baru kencan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hai minna, ogenki desuka?

Mulai hari ini aku resmi jadi crew radio, hiaaaah!...

Hahaha, okeee... terimakasih buat pembaca setia (kalau ada)