"Jadi, kau tidak akan rela berbagi keindahannya? Meski itu denganku, Motochika?"

Tokugawa Ieyasu tiba-tiba masuk ke kamar Chosokabe Motochika tanpa pemberitahuan lebih dulu. Aktifitas yang sedang berlangsung di dalam kamar mendadak berhenti. Motochika duduk tegak menatap galak Ieyasu, sedangkan Date Masamune hanya mampu berbaring lemah di antara kedua kaki Motochika. Dia mendekap erat tubuhnya sendiri karena malu, satu lapisan kimononya ditarik dan dipakai untuk menutup sebagian tubuhnya. Dia seperti ingin menghilang saja dari muka bumi karena tidak hanya Motochika yang melihatnya telanjang, tetapi kini ada Ieyasu yang juga melihatnya.

"Mau apa kau, Ieyasu?" tanya Motochika dingin.

"Aku hanya ingin memeriksa…" Ieyasu lalu berjalan menghampiri keduanya. Dia berlutut satu kaki dan mengarahkan pandangannya kepada Masamune. "Apa yang kau lakukan kepada boneka kesayanganku, Motochika? Kau tidak bermaksud ingin merusaknya kan?"

"Aku sedang bermain dengannya. Jadi sebaiknya kau tinggalkan kami, Ieyasu."

"Aku khawatir sebenarnya. Karena ini pertama kalinya dia kuajak keluar. Dia tidak pernah diajak bermain oleh siapa pun. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja."

Ketika Ieyasu mengulurkan tangan kepada Masamune, laki-laki itu langsung meraihnya. Dia bangkit dari tidurnya, Motochika sampai harus menyingkir darinya supaya dia bisa bergerak bebas. Dia beringsut mendekati Ieyasu dan mengizinkan tuannya itu mendekapnya. "Apakah tamuku berbuat kasar padamu?" tanya Ieyasu.

Masamune menggeleng dan menjawab, "Aku baik-baik saja, Tuanku. Izinkan aku bermain lagi dengannya."

"Apa kalian masih permulaan?"

"Ya, kami baru akan memulainya. So, please…"

Ieyasu melepas dekapannya, kemudian dia memegang dagu Masamune dan menatap matanya dalam-dalam. Dia berkata, "Na, Dokuganryu. Apa asyiknya hanya bermain berdua? Bagaimana kalau aku bergabung denganmu juga?"

"What...?" mata kelabu Masamune terbelalak saking terkejutnya mendengar kata-kata Ieyasu barusan.

"Awalnya aku datang kemari hanya ingin melihat kalian bermain sampai selesai. Tapi tidak akan menyenangkan jika hanya menonton. Aku ingin ikut bergabung dengan kalian."

"Hey, kau hanya akan menakutinya, Ieyasu," potong Motochika membantahnya.

"Benarkah aku menakutimu, Dokuganryu?" tanya Ieyasu sambil menarik lebih dekat wajah Masamune. "Apa kau takut, hm? Kalau kau ketakutan, aku akan menarikmu keluar dari sini dan kembali ke kamarmu saja. Bagaimana?"

"Tidak…tidak mau!"

Ieyasu menyeringai kepada Motochika dan berkata, "Kau dengar kata-katanya kan?"

"Tapi jika kau ikut bergabung, khawatirnya malah nanti dia akan tersakiti."

"Aku tahu bagaimana cara bermain dengannya. Jadi kau tenang saja, Motochika. Aku sebagai tuannya, tidak akan melakukan apa pun yang menyakitinya."

Masamune lalu menoleh kepada Motochika, menatapnya penuh cemas dan harap. Dia masih ingin bermain, dan entah kenapa dia bertambah semangat ketika Ieyasu menyatakan ingin bergabung dengan mereka. "Please…" demikian katanya memohon kepada Motochika.

Motochika menghela nafas dan memilih untuk mengalah. Tatapan penuh harap dari Masamune berhasil meluluhkan hatinya. Dia mengulurkan tangannya dan langsung diraih oleh Masamune. Laki-laki bermata satu itu kembali merangkak mendekatinya. Di depan mata Ieyasu, dia menciumnya penuh nafsu hingga suara desahan pelan itu keluar dari bibir Masamune. Setelah puas menciumnya, dia lalu berkata kepada Ieyasu, "Di permainan ini, aku yang punya aturan. Jadi sebaiknya kau ikuti aturanku atau kau tidak boleh melakukan apa pun termasuk melihatnya, Ieyasu."

"Padahal Dokuganryu ini adalah boneka milikku. Fufufu…" kata Ieyasu terkekeh. "Baiklah, aku ikuti aturanmu. Sebutkan, Motochika."

"Kau hanya akan membantuku mempersiapkannya selagi dia bermain denganku."

"Aku sudah pasti akan mengikuti aturanmu. Tetapi bagaimana jika Dokuganryu yang keluar dari aturanmu? Perintah siapa yang akan didengarnya nanti?"

Kini giliran Motochika yang terkekeh, "Kau sombong sekali, Ieyasu. Kita lihat kepada siapa dia akan menurut nanti. Tetaplah pada batasan yang kutentukan, atau aku tidak akan mengizinkanmu berbuat seenaknya," lalu dia beralih kepada Masamune dan berkata, "Kali ini aku akan melibatkan Ieyasu dalam permainan kita. Apa kau takut?"

"Aku tidak takut, Saikai no Oni."

"Aku tidak akan menyuruhmu melakukan apa pun yang bertentangan dengan hatimu. Jika kau takut, kau bisa mengatakannya dari sekarang."

Masamune menggeleng dan menjawab, "Kau tidak usah khawatir. Aku akan baik-baik saja."

"Uuukh…aku sungguh tidak rela harus membagi keindahanmu dengan orang lain, termasuk Ieyasu. Namun apa boleh buat? Justru dialah yang menciptakan keindahan padamu. Mau tidak mau, aku harus membaginya karena dia adalah tuanmu."

"Motochika…"

"Sekarang, tunjukan padaku dan Ieyasu, seberapa ingin kau meneruskan permainan ini, Dokuganryu…"

Masamune yang memulai permainan ini dari awal, maka dia yang harus mengakhirinya. Dia tidak boleh mendadak berhenti dari peran yang dimainkannya. Sekarang, tidak hanya Motochika yang harus dia layani. Tuannya pun menanti gilirannya untuk dilayani olehnya.

Membuang segala keraguan dan ketakutannya, yang pertama dia lakukan adalah memuaskan Motochika lebih dulu. Dia bergerak turun hingga berbaring telungkup di depannya. Dia menarik 'milik' Bajak Laut itu dan menjilatnya dari pangkal sampai ujungnya. "Mmh…mmmh…" desahannya terdengar di antara decak lidahnya. Setelah dirasa cukup basah, dia memasukkannya ke mulut dan dihisapnya beberapa kali. Kepalanya bergerak naik dan turun, lidah dan bibirnya memijat lembut setiap inci kulitnya. Sesekali dia menatap Motochika, melempar pandangan penuh harap kepada pria yang kini sedang membelai kepalanya.

Sementara itu Ieyasu yang berada di belakang Masamune, juga memulai tugasnya. Sesuai aturan yang disebutkan tadi, dia akan mempersiapkan Masamune untuk Motochika. Dia meraba kaki daimyo Oshuu itu dari pergelangan sampai ke pinggulnya, merasakan kelembutan kulit putih langsatnya. Dia menarik lengan yukatanya dan diikat supaya tidak mengganggu pekerjaannya. Yang pertama dia lakukan adalah meremas-remas 'milik' Masamune dan mulai merangsangnya.

"Ngh!" Naga Bermata Satu itu terkejut mengetahui Ieyasu menyentuhnya. Dia mendadak berhenti dari tugasnya dan mendesah ketika Ieyasu mulai menggerakkan tangannya dengan cepat. "Tidak…ngh! Hnngh…Tuanku…"

"Ssshh…jangan berhenti, Dokuganryu. Lanjutkan saja tugasmu…" perintah Ieyasu tidak menghiraukannya.

Masamune berusaha sebisa mungkin berkonsentrasi penuh dengan tugasnya. 'Milik' Motochika digenggamnya erat, dijilat dan dihisapnya sampai benar-benar tegang. Ujungnya sudah mulai mengeluarkan cairan bening. Dijilatnya cairan itu dan ditelannya. Tiba-tiba dia memekik dan berhenti bergerak karena Ieyasu melakukan hal yang mengejutkannya. Jari laki-laki berbadan kekar itu masuk ke 'bagian belakang'nya dan melebarkan dindingnya.

"Aah! Aaah!" desah Masamune di antara deru nafasnya. Dia gelisah bukan main ketika jari Ieyasu bergerak semakin dalam. Titik-titik peka di dalam sana disentuh semua. Dia sampai tidak bisa melanjutkan urusannya, kekuatannya seperti dikuras habis tak bersisa. "Demi Tuhan, nnngh…tidak…sakit…hnnngh! Motochika, aku tidak bisa..."

"Hey, Ieyasu. Kau menyakitinya. Bisa lebih lembut tidak?" protes Motochika kepada Ieyasu.

"Hmm? Aku sudah berusaha selembut mungkin supaya tidak menyakitinya," alih-alih menariknya keluar, Ieyasu malah mendorong jarinya semakin dalam. Masamune dibuatnya semakin tidak tenang. Desahannya tidak lagi bisa ditahan. "Tenangkan dirimu, Dokuganryu. Jika tidak, aku malah semakin menyakitimu."

"Oh! Tidak bersamaan! Tidak…hnnngh!" tidak hanya 'bagian belakang'nya, Ieyasu masih berurusan dengan 'milik'nya yang sekarang sudah mulai berdenyut menegang. Dia melakukannya bersamaan, menyebabkan Masamune nyaris kehilangan kendali. Naga Bermata Satu itu mengulurkan tangan dan berusaha menggapai Motochika. Dia melempar pandangan memohon kepada pria berambut perak itu dan berkata, "Motochika…please…"

"Apa yang kau inginkan, Sayang?" tanya Motochika sambil mengangkat dagunya.

"Aku tidak kuat…mmmngh…please…"

"Ieyasu sedang berusaha mempersiapkanmu. Jika kau tidak dipersiapkan dengan baik, aku bisa melukaimu."

"Enough…I can't…nnnngh!"

"Tahan sedikit lagi. Ieyasu tidak akan lama…"

Masamune dibuat terkejut bukan main ketika Ieyasu menggerakkan jarinya keluar masuk begitu cepat di dalam tubuhnya. 'Milik'nya pun juga dirangsang demikian kuat sehingga dia mencapai klimaks tanpa penetrasi sungguhan. Dia menjerit dan mengisak, suaranya tertahan oleh satu kepalan tangannya. Berjuta perasaan bergejolak di dalam tubuhnya, dadanya serasa mau pecah. Cairan putih kentalnya terlontar mengenai perutnya, lantai kamar, dan kimononya.

Ieyasu menarik jarinya keluar, 'milik' Masamune masih digenggamnya erat. Cairan putih kentalnya meleleh memenuhi tangannya. "Uwah, luar biasa. Kau klimaks hanya dengan jariku. Banyak juga keluarnya," gumamnya sambil melihat telapak tangannya yang terkena cairan Masamune. Dia lalu mengolesi jari-jari di tangan satunya dengan cairan itu untuk kemudian dimasukkan kembali ke 'bagian belakang' Masamune. Tepat saat dia hendak melakukannya, Motochika mencegahnya, "Cukup, Ieyasu. Dia sudah klimaks."

"Kau yakin, Motochika? Apa ini sudah cukup untuk mempersiapkannya?"

"Sisanya biar aku yang melakukan. Kini giliranmu untuk dilayani olehnya."

Ieyasu mengangkat bahu dan menuruti kata-kata Motochika. Keduanya kini berganti posisi. Motochika berada di belakang Masamune, sedangkan Ieyasu berada di depannya. Masamune masih mencoba mengatur nafasnya yang tersengal. Badannya terasa berat, tenaganya habis, padahal belum banyak yang dilakukannya. Dia mengangkat kepalanya dan mendapati Ieyau sudah bersiap di depannya. Kemudian dia menoleh dan melihat Motochika memposisikan dirinya untuk masuk ke tubuhnya.

"Angkat pinggulmu, Dokuganryu. Bertumpulah pada tangan dan lututmu," perintah Motochika di belakangnya. Belum sempat Masamune berkata, dia dibuat bungkam dengan merasakan 2 jari Motochika masuk ke tubuhnya. Pria itu sedang memeriksanya, "Hmm…kerja bagus, Ieyasu. Kau sudah mempersiapkannya dengan baik. 'Milik'ku lumayan besar, jadi dia harus benar-benar dipersiapkan supaya tidak kesakitan."

"Apakah dia bisa memuaskanmu, Motochika?" tanya Ieyasu sambil menyeringai. Dia sedang membuka hakamanya supaya mempermudah Masamune melakukan tugas berikutnya.

"Ini bukan kali pertamanya dia memuaskanku. Tapi ini akan menjadi pengalaman pertamanya untuk memuaskan 2 pria sekaligus."

"Kita tidak boleh memberikan pengalaman buruk kepadanya, supaya dia tidak trauma ke depannya."

"Hoo…kau berharap ini akan terjadi lagi suatu hari nanti? Setelah perang, mungkin?"

Ieyasu tertawa sinis, "Itu pun jika kau mengizinkannya, Motochika."

Giliran Motochika membalasnya sambil tertawa sinis, "Hanya sekali ini. Selanjutnya, Masamune hanya boleh memuaskan aku seorang."

Motochika langsung masuk dengan sekali hentak. "Ah!" pekik Masamune terkejut karena pria itu melakukannya tiba-tiba. Satu kali hentakan itu langsung tepat mengenai sasaran. "Jangan tegang, Dokuganryu. Lemaskan otot-ototmu supaya tidak sakit," perintah Motochika sebelum dia mulai bergerak.

"It's huge…so deep…nngh!" desah Masamune.

"Hehe…jika kau bilang begitu lagi, aku tidak akan bisa mengendalikan diriku."

Sementara itu Ieyasu mengangkat wajah Masamune dan menekan ibu jarinya ke bibir merah jambunya. Seringai di wajahnya semakin tajam dan dia berkata, "Tunjukan padaku apa yang bisa dilakukan oleh bibir merah jambu ini kepadaku, Dokuganryu."

"Ieyasu…"

"Ada apa, hm? Kau khawatir tidak bisa memuaskan tuanmu sebagaimana yang kau lakukan kepada Motochika?"

Masamune sebenarnya ragu ingin melakukannya. Ketika dia menoleh kepada Motochika yang sedang bersiap bergerak di dalam tubuhnya, mata biru pria itu menatapnya seperti menyuruhnya melakukan sesuatu. Jika dia tidak melakukannya, Motochika juga akan diam saja. Situasi ini membingungkan ini sedikit menyiksanya. Tidak lagi peduli dengan apa yang diragukannya, dia menarik keluar 'milik' Ieyasu dan mulai menjilatnya dari pangkal hingga ujungnya. Bersamaan dengan itu, Motochika mulai bergerak.

Hubungan badan malam ini menjadi pengalaman yang berbeda untuk Masamune. Dia tidak hanya berhadapan dengan satu orang pria, melainkan 2 orang sekaligus. Ini akan menjadi pengalaman pertama baginya. Motochika menghentaknya terus menerus di belakang, sementara dia harus terus memuaskan Ieyasu di depannya. Dia kesulitan berpikir, bahkan konsentrasinya terpecah. Dia ingin menikmatinya, tapi dia tidak boleh lupa akan tugasnya.

"Mmh…Dokuganryu…" Ieyasu mendesis, pijatan lembut bibir dan lidah Masamune semakin merangsangnya. Dia ingin bergerak di dalam rongga mulutnya. Getar pita suara laki-laki itu menambah kuat sensasinya. Demi menuruti nafsunya, dia mencengkeram rambut Masamune dan menyuruhnya diam. Tanpa mengatakan apa pun, dia mulai bergerak keluar dan masuk berkali-kali di mulut Masamune.

"Hati-hati, Ieyasu. Kau tidak boleh menyakitinya," kata Motochika mengingatkannya. Selagi dia sibuk melakukan penetrasi, dia tidak bisa lengah dari apa yang dilakukan Ieyasu kepada Masamune. Jika terucap sekali saja keluhan dari mulutnya, dia akan menghentikan Ieyasu.

Masamune nyaris tersedak ketika 'milik' Ieyasu didorong tepat mengenai dinding kerongkongannya. Dia takut memuntahkan sesuatu selagi sedang berusaha memuaskannya. Dia berpegangan pada pinggang Ieyasu untuk menjaga keseimbangannya. "Mmh…mmmh!" dia merintih ketika sudah tidak kuat dengan gerak 'milik' Ieyasu di mulutnya. Ditambah lagi sensasi yang diberikan Motochika di belakang sana.

Ieyasu menarik diri dan membiarkan Masamune meremas-remas 'milik'nya yang sudah basah dan tegang. Mata kelabu laki-laki itu menatap mata cokelatnya dan dia berkata di antara desahannya, "Tuanku…bagaimana?"

"Sekali hisapan lagi, aku bisa mengeluarkannya."

"Ngh…tidak apa-apa. Keluarkan saja…"

"Bersiaplah…"

Masamune kini sepenuhnya menikmati penetrasi kuat dari Motochika. Hentakannya bertubi-tubi hingga dia tidak hampir kehilangan tenaga untuk menjaga keseimbangannya. Di depannya, satu tangan Ieyasu meremas-remas 'milik'nya sendiri dan bersiap untuk klimaks. Tangan lainnya memegang dagu Masamune dan dipaksa melihat kepadanya. Sebentar lagi dia akan klimaks dan ingin mengeluarkannya di wajah Naga Bermata Satu itu.

"Tahan dulu, Ieyasu!" tiba-tiba Motochika berseru mencegahnya. Yang dilakukannya kemudian adalah menarik dirinya keluar dari tubuh Masamune. Tidak menghiraukan protes dari Masamune, dia mengubah posisi penetrasinya. Dia duduk bersila, kemudian dia menarik tubuh lak-laki itu untuk duduk di pangkuannya.

"Oh, tidak mau! Aku tidak mau, Motochika!" mendadak Masamune memberontak.

"Hey, buka kakimu, Masamune!" bentaknya sambil terus memegang tubuh Masamune dan membuka paksa kedua kakinya.

"I don't wanna! Aku tidak suka posisi ini, Motochika! Aku tidak mau!"

"Kau akan membuat tuanmu kecewa jika kau melawan seperti ini. Ieyasu, bantu aku membuka kakinya!"

Karena tidak kuat menahan Masamune yang memberontak, Motochika meminta bantuan Ieyasu untuk menahan kakinya. Setelah posisinya sudah siap, Motochika mendorong masuk 'milik'nya dan langsung bergerak naik turun di dalam tubuh Masamune. "Aah! Haah!" laki-laki itu mendesah hebat karena penetrasi Motochika terasa lebih dalam. Sekali lagi titik-titik peka di dalam tubuhnya tersentuh semua hanya dengan sekali hentakan. Masamune tidak lagi bisa memberontak. Dia hanya bisa mendesah dan merintih. Rona merah di pipinya semakin pekat. Dia tidak suka jika dirinya harus terbuka seutuhnya seperti ini. Di depannya, Ieyasu memperhatikannya. Dia tidak bisa menutupi rasa malunya di depan Ieyasu.

"Aah…aaah…Tuanku…nnngh…"

"Kau menikmatinya, Dokuganryu?" tanya Ieyasu sambil menyeringai.

Masamune mengangguk dan menjawab, "Yes, it feels good…"

"Jangan melawan tamuku. Dia yang berhak menguasaimu malam ini. Jika kau tidak bisa memuaskannya, kau akan menerima hukuman dariku."

"Aku hanya…nnngh…Tuanku…aku hanya malu…"

"Malu kenapa, hm?" Ieyasu mendekatinya dan membelai kepalanya. "Aku suka melihatmu dengan tampilan seperti ini. Tanpa ada benang sehelai pun yang menutupi tubuhmu."

"Ieyasu, jangan mengalihkan konsentrasinya," sambung Motochika.

"Sebentar, Motochika. Aku ingin menikmati apa yang ada di depan mataku ini."

"Duduklah di tempatmu dan jangan mengganggunya."

"Uwah! Ah! Aaah! Motochika!" desah Masamune ketika Motochika mulai bergerak naik dan turun di dalam tubuhnya. Dia sudah pasrah sekarang. Sensasi luar biasa yang diberikan Motochika telah melumpuhkannya. Dia tidak lagi bisa melawan, memberontak, bahkan meronta di depan Ieyasu. Mata cokelat Jenderal Mikawa itu memperhatikannya dari atas sampai bawah. Dia terlihat menjilat bibirnya sendiri, menikmati pemandangan yang menggiurkan di depan matanya. Hasrat di dalam tubuhnya semakin menggelora. Melihat Masamune seperti ini membuatnya bertambah terangsang.

"Dokuganryu…" Ieyasu meremas-remas lagi 'milik'nya sendiri. Suara Masamune menggema di dalam kepalanya dan membuatnya gila. Motochika melakukan tugasnya dengan baik hingga membuat daimyo Oshuu itu tidak berdaya di dekapannya. Ketika dia hampir klimaks, dia mendekati Masamune dan berlutut di depannya. Dagunya dicengkeram erat dan dipaksa menengadah padanya. 'Milik'nya lalu klimaks dan mengeluarkan cairan putih kental yang terlontar ke wajah Masamune. "Sedikit lagi, ngh!" tidak hanya di wajah, Ieyasu juga mengeluarkannya ke dada dan perut Masamune.

Selagi mengatur nafasnya yang tersengal setelah klimaks, Ieyasu tiba-tiba melakukan hal yang mengejutkan. Entah dia sadar atau karena terbawa suasana, dia mengarahkan jarinya ke 'bagian belakang' Masamune yang sedang dipenetrasi oleh Motochika. Dia mendorong masuk jarinya, seperti hendak melebarkannya.

"Oh tidak! Aah! Jangan lakukan itu! Aku tidak mau!"

-to be continue-


Chapter 4 coming up next!