"Oh tidak! Aah! Jangan lakukan itu! Aku tidak mau!" Date Masamune berteriak dan sontak langsung merapatkan kedua kakinya. Penetrasi Chosokabe Motochika pun berhenti ketika lawan mainnya tiba-tiba memberontak.
Belum ingin menghiraukan protesnya, Tokugawa Ieyasu mendorong semakin dalam jarinya dan berusaha melebarkan 'bagian belakang' Masamune supaya dia bisa ikut masuk ke sana. Naga Bermata Satu itu tiba-tiba mengisak dan memohon kepada Ieyasu, "Please, my Lord. Jangan lakukan itu! Aku sungguh tidak mau…"
"Tapi kau menikmatinya kan?" tanya Ieyasu seraya mendorong jari kedua masuk ke sana.
"Uwaah! Aaargh! Sakit, Tuanku! Jangan lakukan ini! Nnngh…aku tidak mau!"
"Hey, Ieyasu! Jangan lakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginannya!" tukas Motochika sambil mencengkeram tangan Ieyasu di bawah sana. "Keluarkan jarimu dari sana."
"Motochika—"
"Kau hanya akan menyakitinya. Lebih parah lagi, kau telah membuatnya takut. Jika kau sayang padanya, seharusnya kau tidak boleh menyakiti dan menakutinya," kata-kata Bajak Laut itu terdengar mengancam. Sorot matanya berubah menjadi dingin dan tajam.
Demi mengurangi ketegangan di antara mereka, Motochika terpaksa menarik keluar dirinya dari tubuh Masamune. Ieyasu pun akhirnya mengalah dan kembali ke tempat duduknya. 'Milik'nya yang setengah tegang itu dibersihkan sebelum dimasukkan kembali ke balik fundoshi dan hakamanya. Dia lalu mendekati Masamune dan membelai kepalanya dengan lembut. "Kau takut, Dokuganryu?"
Laki-laki berambut cokelat itu mengangguk dan tidak ada suara yang keluar dari mulutnya yang mengatup rapat. Tatapan memohonnya membuat Ieyasu tidak berdaya. Dia menghela nafas dan berkata, "Ya sudah, aku tidak akan memaksamu."
"Maafkan aku, Tuanku. Maafkan aku karena sudah mengecewakanmu. Aku sungguh tidak ingin membuatmu kecewa…" jawab Masamune lirih.
Ieyasu menggeleng dan berkata, "Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik."
"Kau tidak akan menghukumku, Tuanku?"
"Aku tidak akan menghukum orang yang tidak berbuat salah. Kau tidak mengecewakan siapa pun termasuk Motochika, Dokuganryu," Ieyasu lalu meraih kedua tangan Masamune dan diciumnya. Dia melanjutkan, "Kita terlalu terbawa suasana permainan peran ini. Dari awal, aku hanya memerintahkanmu untuk melayani Motochika. Apa pun yang terjadi di luar itu bukanlah sesuatu yang kita inginkan. Seperti Motochika bilang, aku tidak akan melakukan apa pun di luar keinginanmu."
"Shit…" gerutu Masamune seperti menyesali perbuatannya.
"Tidak ada yang perlu kau sesali. Aku yang harusnya minta maaf karena telah berbuat sesuatu di luar keinginanmu. Jika kau mau marah, silakan pukul kepalaku dengan kuat."
Masamune memegang satu sisi wajah Ieyasu dan berkata, "Setelah kau keluar dari sini, permainan peran kita sudah berakhir."
"Oh, tentu saja belum, Masamune," sekali lagi Ieyasu tertawa. "Karena kau harus menyelesaikan tugasmu. Menurutmu, untuk apa aku mendandanimu demikian elok kalau bukan untuk melayani Motochika sampai dia merasa puas? Kau tentunya tidak ingin mengecewakan tamu istimewaku kan?"
"Ieyasu…"
"Selesaikan tugasmu dulu, Dokuganryu. Aku akan menunggumu kembali ke kamarku. Paling tidak, aku bisa membantumu membersihkan riasan di wajahmu."
"…Hai'…"
"Kembalilah pada Motochika. Aku sendiri akan kembali ke kamarku."
Ieyasu berdiri dan siap beranjak dari kamar Motochika. Sebelum dia keluar, dia berkata, "Motochika, aku serahkan Dokuganryu padamu. Karena kau sudah memperingatkanku untuk tidak menyakiti dan menakutinya, aku harap kau pun akan memperlakukannya dengan baik. Aku tidak akan senang jika dia kembali dalam keadaan tidak utuh."
"Tsk! Kau bicara begitu seakan kaulah penguasanya. Kalian hanya sedang bermain peran. Yang berhak memiliki Date Masamune hanyalah aku seorang. Iblis Penguasa Lautan, Chosokabe Motochika. Aku harap kau tidak lupa dengan hal itu, Ieyasu," kata Motochika dingin.
Tidak ingin berdebat lebih lanjut, Ieyasu pun keluar dan kembali ke kamarnya. Sementara itu, Motochika dan Masamune masih terdiam demi menata hati mereka masing-masing. Masamune masih duduk bersimpuh dan mendekap tubuhnya sendiri. Kepalanya tertunduk malu, dia tidak berani memandang pria berambut perak yang duduk tidak jauh darinya. Dia masih memprotes pada dirinya sendiri karena telah mengacaukan permainan ini. Andai saja dia tidak terbawa suasana, dia mungkin bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Dia tidak menyalahkan kedatangan Ieyasu di tengah-tengah mereka. Malah sebenarnya akan menambah menarik permainan ini. Namun dia tidak menyangka kalau dia sendiri yang akan mengacaukannya. Mengatakan bahwa dia takut, dia malu, dia tersakiti, itu sudah merusak suasananya.
Urusannya dengan Ieyasu sudah selesai. Lalu bagaimana dengan Motochika?
"Hey, kemarilah," tegur Motochika kemudian membuyarkan lamunannya.
Naga Bermata Satu itu lalu beringsut mendekati Motochika. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba dia mendapati dirinya berbaring telentang di lantai dengan Motochika berada di atasnya. Kedua tangan kekar pria itu berada di kedua sisi kepalanya. Mata birunya menatap tajam mata kelabunya. "Apa yang—"
PLAK!
Belum selesai dia berbicara, Motochika menampar wajahnya keras hingga menimbulkan warna merah di pipinya. Pria itu mencengkeram dagunya dan memaksanya menatap kepadanya. "Apa yang barusan kau lakukan dengan Ieyasu itu benar-benar gila!" bentaknya. "Aku tidak peduli jika ini hanya permainan, tapi kalian sudah terlalu serius sehingga kau terbawa suasana. Apa kau tidak takut jika suatu hari nanti Ieyasu menjeratmu dalam jaring-jaringnya?"
"Dia tidak akan melakukan itu!" balas Masamune membentaknya.
"Kau punya jaminan dia tidak akan tertarik padamu, hah? Apalagi sekarang kalian berada dalam satu barisan. Perang Sekigahara hanya tinggal menunggu waktu. Kau yakin bisa menjaga baik-baik diriku selagi aku menyelesaikan urusanku di Osaka?"
"Are you jealous?!"
"Tentu saja aku cemburu, bodoh! Aku tidak rela jika harus membagimu dengan Ieyasu!" Motochika mendekatkan wajahnya kepada Masamune dan meneruskan, "Persetan dengan peran yang kau mainkan dengan Ieyasu. Mendengarmu memanggilnya Tuan sudah membuatku terbakar api cemburu. Kau seakan mengizinkannya menguasaimu. Apakah kau lupa bahwa yang pertama bercinta denganmu itu adalah aku, Dokuganryu?! Siapa yang menanam benih di dalam tubuhmu pertama kali, hah?!"
"Shut up!"
Masamune mulai memberontak, namun seketika dia tidak lagi bisa bergerak karena Motochika menyergapnya cukup kuat. Bajak Laut itu berkata, "Urusan kita belum selesai. Kau ingat perintah tuanmu barusan kan? Kau harus melayani aku sampai puas. Setelahnya, permainan sialan ini akan selesai!"
Secepat mungkin Motochika membalik badan Masamune hingga berbaling telungkup. Belum sempat melawan, Masamune dibuat tak berkutik ketika Motochika kembali mendorong 'milik'nya masuk ke tubuhnya. Tidak menghiraukan protesnya, pria itu langsung menghentaknya kuat berkali-kali. Dia bergerak keluar dan masuk mengikuti irama detak jantungnya.
"Aah! Aaah! Nnngh! Motochika…!" desah Masamune tak tertahankan. Penetrasi Motochika membuatnya lemah. Namun dia merasakan sesuatu yang lain. Setiap hentakannya terasa kasar penuh kemarahan. Dia tahu, Motochika memang suka bermain kasar. Tetapi kali ini rasanya berbeda dari biasanya.
"Motochika…nngh…pelan-pelan…" dia berusaha mengatakan sesuatu di antara desahan dan rintihannya. Dia takut kalau nanti tubuhnya terkoyak karena Motochika memperlakukannya dengan kasar. "Aku mohon, jangan kasar seperti ini!" ucapnya sambil mengisak.
"Mengapa baru sekarang kau memintaku begitu, hah?" tanya Motochika sambil terus menghentaknya dengan kuat. Tidak peduli kasar atau tidak, dia ingin menunjukkan kepada Masamune siapa yang berkuasa di sini. "Aku biasa menghentakmu dengan kuat seperti ini dan kau tidak pernah protes. Apa karena Ieyasu memperlakukanmu dengan lembut jadi kau ingin aku memperlakukanmu sama sepertinya? Hah? Jawab pertanyaanku, Dokuganryu!"
"Uwah! Jangan—ah! Hentikan, Motochika!"
"Kau suka diperlakukan kasar seperti ini kan? Bukankah dengan begini kau bisa lebih menikmatinya?"
"Ngh…please…be gentle…"
"Kau masih ingat apa yang kukatakan di awal, hm? Aku yang punya aturan bermain di sini. Jadi, kau tidak akan melakukan apa pun kecuali mengikuti aturanku!"
Motochika menarik keluar dirinya sebentar. Dia ingin berganti posisi supaya penetrasinya lebih mantap. Satu kaki Masamune diangkat dan diletakkan di bahunya. Dengan posisi ini, dia bisa melihat Masamune lebih terbuka untuknya. Satu kali dorongan kuat, dia kembali masuk dan menghentaknya berkali-kali. Daimyo Oshuu itu merintih dan mendesah hebat. Tenaganya sudah terkuras habis tak bersisa. Dia hanya bisa pasrah, tidak ada gunanya melawan karena khawatir Motochika akan semakin kasar kepadanya.
"Aaaah! Motochika! Aku hampir…nngh…aku hampir…!"
"Tidak sekarang, Masamune. Kau akan klimaks bersaman denganku!" tukas Motochika tanpa memperlambat geraknya.
"I can't…aku sudah tidak kuat lagi…ngh! Shit!" desah Masamune sambil menatapnya memelas.
"Sialan, jangan berikan pandangan itu padaku!"
"Uwah! Pelan-pelan! Aku tidak bisa, Motochika! Fuck! Aaah!"
Motochika mempercepat geraknya. Di hentakan terakhir, dia mencapai klimaks dan mengeluarkan cairannya di dalam tubuh Masamune. Naga Bermata Satu itu juga akhirnya klimaks dan melontarkan cairannya ke perut dan dada Motochika. Masih terus bergerak, Motochika ingin Masamune klimaks sekali lagi. Cairan yang dikeluarkan semakin banyak, seakan tidak bisa berhenti begitu saja. Desahan laki-laki itu membuatnya gila, dia bahkan bisa meneruskannya sampai fajar menjelang. Biarlah malam ini berakhir demikian cepat, yang penting ini tetap membuatnya sadar bahwa dia tidak sedang bermimpi.
Date Masamune, daimyo Oshuu, ksatria tangguh yang paling disegani di medan perang, telah 'membuka kaki'nya dan berserah diri seutuhnya kepadanya. Tak ada lagi yang ditutupi, tak ada lagi yang disembunyikan, semuanya terbuka hanya untuknya. Dialah satu-satunya yang bisa mencicipi setiap inci kulitnya. Dialah yang bisa menanam benih di dalam tubuhnya. Hanya dialah yang bisa membuat Masamune tak berdaya seperti ini.
Bukan siapa pun, termasuk Ieyasu…
Keduanya berbaring berpelukan, mengatur nafas masing-masing yang tersengal. Keringat dan cairan putih memenuhi tubuh mereka. Motochika mendekap tubuh Masamune erat, seakan tidak ingin melepaskannya. Diciumnya leher laki-laki itu dengan lembut demi menenangkannya. "Dokuganryu…" bisiknya. "Aku mencintaimu…"
Masamune terkejut mendengar kata-kata Motochika barusan. Sekian lama mereka terhubung demikian kuatnya, dia tidak pernah mendengar Motochika mengatakan itu. Mereka sadar kalau hubungan mereka ini karena ada cinta yang tumbuh dalam hati masing-masing. Tapi untuk mengungkapkan perasaan dengan sepenggal kata, rasanya tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.
"Kau bilang apa barusan?" tanya Masamune masih tidak mengerti.
"Haruskah aku mengulangnya?" Motochika balik bertanya.
"Tapi kau tidak pernah bilang itu sebelumnya kan?"
Motochika memegang kedua sisi wajah Masamune dan dia berkata, "Aku mencintaimu, Date Masamune."
Wajah Masamune merona mendengar Motochika mengatakan itu kepadanya. Tidak ada yang disembunyikan, dia mengatakannya dengan jujur. Setelah apa yang mereka lakukan barusan, Motochika ingin mendamaikan hati mereka dengan menyatakan perasaannya. Pria berambut perak ini sempat marah karena dia terlalu terbawa suasana dalam permainan kecilnya dengan Ieyasu. Dia sadar sepenuhnya, apa yang dia lakukan ini telah membuatnya cemburu. Jika diteruskan, bisa jadi Motochika semakin menyakitinya.
"Kau tidak perlu membalas kata-kataku, kau hanya perlu tahu bahwa aku sangat mencintaimu, Dokuganryu," jelas Motochika sekali lagi.
Masamune mendengus tertawa dan berkat, "Shit, aku tidak heran mengapa pada akhirnya aku bisa takluk padamu. Kau tahu betul bagaimana membujukku untuk merujuk kembali padamu."
"Aku tidak ingin hubungan kita rusak hanya karena masalah sepele seperti ini. Berjarak denganmu sudah cukup menyakitkan. Jadi aku harap, kau tidak berbuat macam-macam yang menambah renggang jarak di antara kita."
"Tapi kau suka kan?"
"Hah?"
Mata kelabu Masamune mengedip menggoda kepada Motochika. Dia berkata, "Kau suka dengan permainan ini kan? Bagaimana peranku di matamu? Apakah aku sangat menjiwainya?"
"Uuukh…kau terlalu menjiwai sampai kau membiarkan Ieyasu berbuat sesukanya padamu! Aku sungguh tidak ingin kau disentuh orang lain, Masamune!" jawab Motochika sambil mendekap tubuhnya erat.
"Dia tidak masuk, kok! Apa yang kau khawatirkan, hah?"
"Bagaimana jika dia berniat memilikimu juga? Apalagi sampai perang selesai, kalian berada dalam satu barisan. Kemungkinan hal itu terjadi sangat besar. Apa aku perlu tergabung dengan pasukan timur hanya untuk mengawasi kalian?"
"Hey, kau sendiri juga berlebihan, Saikai no Oni! Ieyasu sudah bilang padamu kan? Kau tidak boleh tergabung dengan pasukan mana pun jika ingin ikut hadir di Perang Sekigahara. Forget it! Daripada mengkhawatirkan itu, bangunlah dan bantu aku memakai kembali kimononya."
"Kau serius akan kembali kepada Ieyasu?"
Masamune bangun dan duduk meregangkan otot-ototnya. Dia melirik kepada Motochika dan berkata, "Aku perlu mengakhiri permainan ini dengannya. Aku janji tidak akan tinggal di kamarnya. Setelah semuanya selesai, aku akan pulang ke kamarku."
"Aku harap kau pegang benar-benar janjimu itu, Masamune."
"Kalau tidak percaya, kau boleh ikut denganku menemui Ieyasu dan mengantarku kembali ke kamarku."
Motochika tidak punya pilihan lain kecuali menuruti kata-katanya. Sebelum dia memakaikan kimono itu, dia membersihkan badan Masamune dengan handuk basah. Setelah yakin bersih, lapis demi lapis kimono dia pakaikan ke tubuhnya. Rambut Masamune yang sudah berantakan dirapikan kembali. Riasan di wajahnya menipis karena keringat. Namun di mata Motochika, keelokan daimyo Oshuu ini tidak memudar sedikit pun. Selesai urusannya dengan Masamune, dia sendiri mengenakan kembali yukatanya dan bersiap mengantar Masamune.
"Sudah siap?" tanya Motochika sambil mengulurkan tangannya.
Masamune meraih tangannya dan menjawab sambil tersenyum, "Yes, my Love…"
-the end-
A/N : semoga yang baca cerita ini, udah baca duluan warning di chapter awal. Karena hampir di semua chapter isinya adegan intercourse yang sangat intense. Jadi kalo gak berkenan, sebaiknya gak baca. Saya pasang rating Mature-Rough 25 karena memang kontennya 'berbahaya'.
Oia, ada beberapa kata yang saya cetak miring termasuk bahasa inggrisnya Masamune. Selain itu, kata2 yang dicetak miring berkenaan dengan roleplay yang dimainkan Ieyasu dan Masamune. So, kalo si daimyo Oshuu keliatan OOC banget, ya karena dia emang lagi 'bermain' hehehe...Maap ya karakternya saya ancurin di sini
So, buat yang udah baca, saya ucapkan terima kasih banyak ya. Silakan mampir ke kolom review untuk komentar dan sarannya. Jya!
