Notes : paragraf yang memiliki tanda '**' bisa dilewati/atau tidak dibaca.
-Terlalu Manis-
Disclaimer : Saint Seiya © Masami Kurumada.
Saint Seiya LC © Shiori Teshirogi.
The OC belongs to me, so, don't like don't read.
.
.
.
.
Rate : T
.
.
.
.
XXX
Camus menatap Degel, lalu beralih lagi ke kertas di hadapannya. Kembali lagi ke pria itu. Kemudian beralih ke pemandangan kedua.
Universitas Sorbonne Paris, Prancis.
"Bukankah itu bagus? Almamater suci Prancis ada di genggamanmu sekarang," kata pria berkacamata itu. Menyinggung senyum simpul.
Camus hanya menghela nafas. "Ini terlalu berlebihan."
"Kau tidak ingin kesana?"
"Bukan.."
"Jadi?"
"Milo.. Shaka.. Saga.. dan Aiolos.. atau Aiolia.. mereka takkan bisa kesana.." gumam Camus. Dia menatap ke depan. Melihat mentor pribadinya. Degel hanya menyilangkan tangan. Dia paham maksud pria itu seperti apa. Tapi dirinya tidak pernah menyangka kalau kesendirian menjadi masalah bagi pemuda Prancis itu.
"Oh.."
"Apa itu mengganggumu?" tanya Camus. Degel hanya menaikkan alis. Kemudian menatap lembaran disana. Bibirnya sama sekali tidak tertekuk kemanapun. "Aku hanya menyarankan.." ucap pria itu.
Camus menurunkan kelopak matanya sedikit. Menatap Degel dalam keheningan, membaca apakah ada mimik kekecewaan dalam setiap lekuk wajahnya. Tapi sepertinya tidak, dan guru biologi mereka memang sulit ditebak. Dia sepuh setelah Krest dalam hal menjadi es balok.
Degel memasang senyum tipis. Seperti rambut yang dibagi tujuh, dan harus teliti saat melihatnya. "Kalau begitu aku pergi dulu, belajar yang rajin."
Pria itu melangkahkan kakinya keluar ruangan. Meninggalkan Camus seorang diri di UKS. Manik ungu milik Aquarius muda kembali pada kertas di tangannya. Lalu terbayang sosok Milo, Shura, dan teman-temannya selama ini. Dan, oh ya.
Entah kenapa dirinya jadi ingat pada seseorang. Di suatu tempat.
"Mus?"
Pria itu menoleh. Kepala megar Scorpio Milo muncul di balik pintu. Tampak bergerak-gerak naik turun seakan berusaha mengintip ke dalam –atau barangkali meminta masuk-. Camus mendelikkan matanya, dia membukakan pintu.
Pria itu masuk. Berkacak pinggang. "Kenapa sih tiap kali Pak Dokter ngomong sama kamu pintunya selalu dikunci? Jadi ceritanya aku nggak boleh masuk dan mendengarkan begitu?" tanya Milo. Dia berjalan ke dalam, diiringi ucapan bernada tidak terima dan wajah ngambek yang dibuat-buat.
Camus hanya mengedikkan bahu. Itu sudah kebiasaan Degel, dan siapapun tidak boleh membantah titah sang kepala mint berkacamata kecuali Krest. Guru mereka menakutkan saat marah. Sungguh.
Mata hijau Scorpio mengamati setiap sudut UKS. Dia mengangguk-angguk pelan. Lalu menoleh. "Itu apa?" tanya pecinta kalajengking itu kemudian saat menangkap kertas di tangan Camus dari sudut matanya. Tidak ada angin apa-apa. Hanya saja Milo merasa benda itu patut dicurigai –dengan bisikan yang entah datang darimana-.
Alis bercabang pemuda Prancis itu tergerak sedikit. Dia memindahkan lembaran dari telapak tangannya ke atas meja. Mulutnya tertutup rapat. Tidak mengatakan apapun.
Sekarang dahi Milo berkedut. Dia menyambar kertas itu dengan kecepatan cahaya. Tanpa sahabatnya sempat bereaksi. "Aku lihat!" ucapnya cukup keras sambil mengamati apa yang dia dapat. Sementara Camus ternyata tidak melawan. Dirinya pasrah saja.
Milo terdiam melihat kertas itu. Dia membuka matanya lebar-lebar.
Sedetik.
Dua detik..
Lima detik..
Tidak ada reaksi.
Camus menaikkan alis. Aneh. Dia menerawang kepala sahabatnya, menganalisis apakah ada kerusakan syaraf sampai otaknya lemot mencerna informasi. Menurutnya tulisan di kertas itu cukup jelas. Bahkan langsung ke tujuan.
Milo masih memasang wajah biasa. Bulu matanya berkedip. Dan tanpa diduga dia meletakkan lembaran itu ke tempat semula. Tanpa perubahan ekspresi berarti, atau reaksi heboh mawas diri dan lebay karena kaget bukan kepalang. Pria itu masih setia pada ekspresinya.
"Milo...?" tanya Camus. Oke. Dia merasa takut sekarang.
Jangan-jangan saat pulang nanti Milo kena serangan jantungnya Pak Kardia, guru Fisika mereka –atau apapun itu percayalah, apapun yang akan terjadi yang pasti itu tidak bagus-.
"Mus-" Milo meliriknya sedikit. Dia tersenyum, dibalik helaian megar ungu yang sulit dilihat.
"Nanti jalan keluar yuk?"
.
.
.
Surt menepuk lalat yang hinggap di telinganya. Sayap serangga itu berdengung. Yang diganggu mendesis. Dia mengibaskan apa saja yang menginterupsi jam damainya dengan buku catatan sejarah Jepang. Pria itu menguap pelan.
"Aku dapat ramalan tidak bagus.." ucap Baldr yang duduk di sampingnya.
Semua orang menoleh.
Surt cengo.
Sigmund berhenti chatting dengan adiknya.
Hercules mendadak kurus.
Utgardar tiba-tiba ngelamar Veer.
Frodi jadi penghulu mereka.
Dan dua orang itu hidup bahagia selama-lamanya.
YA ENGGAKLAH...
"Anu.. kamu ngomong apa Baldr? Nggak kedengaran.. bisa diulang. Ehe.." gumam Surt dengan nada agak horror. Semua orang takut kalau Baldr mulai ngelantur sendiri. Selalu.
Pria manis berambut putih itu menatapnya sekilas. Lalu menurunkan kelopak matanya. "Surt.. kamu baik-baik saja?"
"Heh?"
Pria Asgard itu terdiam. Dia hendak menggeleng. Tapi engsel lehernya seakan tercekat dengan tatapan mata tidak santai seluruh murid yang mengarah padanya. Surt memasang wajah tak berdosa dengan garis-garis sedikit risih.
"Apa?" tanyanya lirih.
"Kau terlihat seperti seorang penulis yang dikejar deadline, Surt.." jujur Utgardar dari balik maskernya. Tangan pria itu mencorat-coret kertas poster dengan tinta hitam. Membuat sebuah kaligrafi. Sementara Sigmund memperhatikan cara kerjanya dengan seksama.
"Bahkan tidak memperhatikan pelajaran Pak Thanatos tadi juga mengherankan. Ada masalah, bro?" tanya Frodi sambil merangkul pundak kepala merah itu.
"Cih. SKSD..."
Korban friendzone pula- lanjut Surt di dalam hati.
"Kau tahu apa yang lebih nyesek dari kuota abis?" tanya Baldr kembali membuka suara. Rasa-rasanya Surt ingin minta di-ruqyah sekarang. Kerasukan apa coba teman sekelasnya, sampai cowok biarawati jarang ngomong juga peduli. Surt biang rusuh, jika kelas sebelah punya Kanon-Milo-Aiolia, maka kelas mereka punya Frodi-Sigmund-Surt. Nggak jauh-jauh amatlah. Cuma posisi Siegfried diambil alih sama abangnya /heh/.
"Kau punya masalah dengan Camus heh?" tebak Frodi.
"Milo!"
"Eh, sorry, woles bang woles. Aduh muncrat kena hujan lokal.." ucap pria berambut menstrim biru itu sambil meraih sapu tangan.
Surt mencibir, dia melirik ke kertas matematika tempat dia mencorat-coret. Matanya malas, agak ada kantung mata. Bukti kalau kemarin emang nggak bisa tidur saking bahagianya –halah lebay-. Kalau saja pria itu punya semacam alat komunikasi rahasia yang bisa ditempel ke telinga. Dia akan mengabari Rose dan bertanya apa rencana selanjutnya.
Tapi percayalah.
Rose.
Anti.
Ponsel.
(sekaligus anti-sosial)
"Ngomong-ngomong soal Camus. Dulu pas UTS aku dapat jawaban Fisika gratis dari dia. Emang temenmu baik, pantas untuk dikhawatirin.." kata Frodi dengan wajah berbunga-bunga. Baldr enek.
"Aku juga pernah diajari dia rumus fungsi yang tidak kumengerti, hampir setengah jam sebelum ulangan berlangsung, aku berhutang terimakasih..." kata Hercules dengan wajah bangga. Menutup mata sambil mengingat jasa sang Aquarius yang berarti bagi hidup juga nilai remidinya.
"Kan? Kan? Makanya nggak usah ngurusin urusan orang kalau merasa berterimakasih. Aku harus memikirkan strategi baru agar si kepala ungu itu tidak menempel pada dia lagi," ucap Surt sambil mengibaskan tangannya. Gaya mengusir.
"Huh.. merepotkan saja. Membuang waktu orang dan tidak berguna.." gumam Sigmund tiba-tiba.
Hercules menoleh.
Frodi kicep.
Surt melek.
Dan suara lantang mereka bertiga terdengar.
"Yang bilang Camus Aquarius merepotkan, TENGGELAMKAN!"
XXX
Manik ungu bocah itu mendelik, terselip di sesemakan. Lalu berakhir ke tanah lapang pasir kosong. Surai toskanya menyatu dengan dedaunan. Sesekali tersenyum jenaka dan hangat.
"Kakak! Sudah beluuum!"
Suara cempreng seorang gadis kecil terdengar. Camus cekikikan perlahan. Dia merapatkan dirinya diantara sesemakan dan pohon perdu tinggi yang melindungi punggungnya. "Sudaaaah!" balasnya tak kalah nyaring.
Tapi Camus takkan membiarkan nada dari mulutnya menjadi petunjuk dari letaknya bersembunyi. Dia melirik ke luar. Surt sedang menemani orangtuanya belanja sampai malam. Jadi dia yang harus menjaga Sinmore, karena bosan. Diajaknya gadis itu main petak umpet.
Camus memeluk lutut. Menunggu bocah manis itu menemukan batang hidungnya. Langkah kaki ramping Sinmore terdengar riang dan bersemangat, seperti kakaknya. Persis. Camus tersenyum tipis.
Pokoknya nanti saat Surt sudah pulang, dia juga harus ikut main.
.
.
.
Camus diam. Oke. Dia benar-benar bungkam. Untuk memastikan apakah keheningan antara mereka ini sungguhan. Apakah ini berakibat macam-macam. Atau sesuatu memang tidak beres. Bocah itu mulai tidak yakin. Matanya yang setia menilisik mencari-cari jejak Sinmore yang barangkali terlihat.
Suara langkahnya sudah tidak ada. Tidak ada kecemprengan lagi. Derap kaki penuh semangat, atau rengsekan debu dan tanaman bergoyang karena dilewati sang gadis kecil. Tidak ada.
Semuanya sunyi. Seperti hanya ada Camus seorang.
"Sin... more..."
Dirinya mulai panik. Camus akhirnya nekat menyembulkan kepalanya. Melihat sekeliling, menyingkirkan daun yang menghalangi. Mengedarkan pandangan ke segala arah. Sinmore tidak ada. Benar-benar tidak ada.
Terbayang bagaimana perkataan Surt yang berujar kalau dia memercayai Camus selamanya. Termasuk dengan adiknya, mereka mengikat janji di bawah pohon beringin depan rumah bocah periang itu. Bulu kuduknya bergidik, dia langsung berlari.
Sesekali memanggil nama si adik sahabat. Bocah itu menyisiri rerumputan tanah dengan teliti, menanyai awan-awan, dan bersandar pada bangku. Tidak juga ketemu. Matanya menilik sekali lagi ke ekor.
Oh tidak. Ada beberapa orang yang mengerubungi pinggir jalan. Camus terdiam.
Seberapa jauh dia bersembunyi sampai tidak tahu apapun?
Kaki kecilnya langsung melangkah, penuh dengan kepanikan. Dan ketakutan akan apa yang menimpa Surt, tidak. Dia tidak bisa menjahati sahabatnya. Tidak akan.
Begitu sampai. Camus langsung mengerem lajunya. Tenggorokannya panas, patah-patah. Nafasnya tercekat, bocah itu membelalak. alveolusnya serasa mengecil.
Ada darah berceceran di jalan. Dengan sebuah mobil van berhenti dikerubungi banyak orang, bahkan polisi pun sudah ada disana. Sebuah kain putih menutupi satu titik di tengah jalan. Rambut merah terselip dari balik sana. Dengan ikat rambut kecil yang tergeletak.
Ikat rambut yang jadi hadiah Camus buat anak itu.
"Sin... more..."
.
.
.
Bulu matanya bergerak, iris ungunya nampak lagi. Camus bergumam pelan. Dia menatap sekeliling.
Eh? Ketiduran?
"Sudah bangun?" tanya suara lembut seorang guru sejarah di hadapannya. Pak Hypnos tersenyum. Penuh keramahan. Aquarius itu mengucek matanya. "Maaf.. Pak.." gumamnya lirih. Dia merasa keluar dari kewajarannya. Memang. Hanya Camus yang matanya tetap melek meski dongeng si pria berkacamata pirang itu mendayu-dayu. Merayu kantuk agar beringsut keluar.
Mungkin karena dapat jam tambahan sendirian, hawa Pak Hypnos makin menjadi-jadi.
Tidak hanya gampang ketiduran, tapi juga gampang membuat orang lain tertidur. Standing applause saudara-saudara.
"Dapat mimpi sesuatu? Kulihat kau mengigau tadi.." kata Pak Hypnos dengan suara pelan. Dan itu benar-benar membuat telinga Camus terbelai. Sepertinya pria ini punya guna-guna atau sesuatu. Kepala toska itu bahkan curiga kalau guru mereka adalah dewa yang menyamar.
Hypnos.
Itu nama dewa tidur kan?
"Ya.. kurang lebih," balas Camus sekedarnya. Hypnos mengangguk maklum. Dia mengelus kepala anak didiknya seperti membelai burung merpati. "Kalau mau cerita, katakan saja.. aku juga guru BK."
Pria itu ingin menguap lagi, dan dilepaskan begitu saja. Kelopak matanya benar-benar terasa berat. Seperti digantungi kantuk, kepalanya bahkan tidak pusing meski terlelap di sore hari. Membuatnya ingin tidur lagi disini barang satu jam atau bagaimana.
Atau harus segera kabur dari tempat seperti ini.
"Maaf Pak.. saya harus segera pulang.. ada janji dengan teman.." ucapnya. Dia langsung meraih tasnya dan menata buku-buku sambil berjalan. Hypnos tenang saja. Anteng seperti pendeta gereja yang baru saja memberkati. Tersenyum lembut sambil menancapkan matanya pada Camus.
"Kamu murid cerdas, Aquarius.. saya harap ada seseorang seperti kamu lagi.." kata Hypnos saat tangan muridnya membuka pintu kelas. Sukses menghentikan kakinya untuk melanjut lagi. Mata Camus menatap guru sejarahnya sesaat kemudian. Lalu mengangguk pelan dan berjalan keluar. Irama langkahnya terdengar teratur sampai jauh.
Pria berambut toska itu menghela nafas. Setelah membasuh muka di wastafel –konon katanya Pak Hypnos nggak bisa berenang, jadi bisa saja guna-gunanya lemah terhadap air-. Dia baru sadar kalau ada seseorang selain dirinya dengan mata merah mengamati dari belakang. Oke. Bulu kuduk Camus rasanya berdiri.
"Mus.."
Pria itu menggelengkan kepalanya.
"Camus.."
Dia hanya menatap ke cermin.
"Ini aku CAMUS!"
"Eh..."
Camus berkedip. Dia menoleh ke belakang. "Surt..?"
"Halo."
"Kenapa disini?" tanyanya heran. Surt berjalan mendekati pria itu. Dia melirik keluar. "Habis nenggelamin Sigmund bareng Frodi dan Hercules di kolam renang sekolah.." jawabnya enteng. Lalu suara kecipak air heboh di luar sana terdengar. Kamar mandi tempat mereka berada memang berdekatan dengan kolam renang sekolah.
Sigmund bener-bener dilelepin.
Surt menguap pelan. Dia melirik Camus. "Ada acara nanti?"
"Ya, Milo mengajak saya keluar nanti."
[Sialan].
"Kemana?"
"Keliling kota sama teman-teman sekelas. Biasanya sampai tengah malam."
[Kurang ajar].
"Mulainya jam berapa?"
"Nanti setelah pulang sekolah langsung ganti baju dan dijemput."
[Demi Dewa, ini pasti ulah Tapasha].
Oke. Surt ingin bersikeras. Tapi akhirnya dia tersenyum iseng. "Oh.. pasti akan menyenangkan dong.. titip foto selama kalian keliling gih.." ucapnya sambil berjalan keluar kamar mandi. Camus hanya mengangguk. Dia mengikuti sahabat masa kecilnya.
"Maaf tidak bisa mengajakmu. Lain kali saja ya," kata pria itu sambil menyamakan langkah kakinya dengan Surt. Si surai merah menoleh, menatap Camus heran. Aquarius itu mengikutinya? Dia terdiam. Lalu tersenyum kecil.
Oh.. kena dia..
"Mungkin nanti malam tidak bisa. Tapi sekarang masih bisa.." kata Surt santai. Dia menyimpan kedua tangannya menyilang di belakang kepala. Camus menaikkan alis.
"Eh?"
"Masih jam 3 kan?" tanya pria itu. Dia melirik ke jam dinding yang terpasang di atas sana. "Er.. iya.." kata Camus. Nggak ada jam pelajaran Pak Degel di UKS. Jadi dia bisa pulang agak awal, dan oh ya. Sebenarnya sekolah mereka dipulangkan jam 1 siang mulai 2 minggu sebelum ujian kelulusan.
Surt tersenyum tipis. Dia menjegal kaki Camus sedetik kemudian. Sementara pria itu tidak sempat bereaksi. Hei, sejak kapan kakinya jadi terasa licin? Mata Camus merambati sekelilingnya.
Gawat. Kolam renang? Mereka sekarang ada di tepi kolam renang? Aquarius itu benar-benar baru sadar. Ada apa selama ini? Dirinya kehilangan keseimbangan dan tidak sempat bereaksi apa-apa.
"SUUUURTT!" teriak Camus selagi bisa. Penuh kemarahan dan mata nyalang.
BYUUUUUUUUUR!
Suara tawa oknum bersalah itu langsung terdengar menggelegar. Kepala toska sahabatnya tercebur ke kolam renang. Cipratan air yang dihasilkan Camus menghantam kemana-mana. Membuat Frodi dan Hercules yang ada di tepian lain melongo. Suaranya sangat keras seperti sofa yang dilemparkan ke sungai.
Camus memunculkan kepalanya lagi di atas air. Tidak butuh waktu lama. Dirinya dijuluki Aquarius karena bisa menahan nafas paling lama di dalam air –rekor pertama jatuh pada Aphrodite yang dikatai Ikan Sarden/Tuna dalam prestasi renangnya-. Pria itu mengatur nafas, nyaris megap-megap. Rambutnya yang basah menutupi penglihatan.
Surt tertawa renyah. Camus menyipitkan mata. Baju seragamnya basah semua. Oke sip, dirinya pakai apa besok?
Pria itu muntab. Refleks langsung menarik kaki Surt. "Kamu juga harus turun!"
"E-EH!"
BYUUUUUUUUUR!
"FUAH!" Surt berpegangan ke tepian. Matanya membelalak. Dia menatap Camus kesal. Rambutnya berantakan. "Camus apaan sih! Kau paling tahu kan kalau aku tidak terlalu jago berenang?!" tanya pria itu saking sebalnya. Dia memasang wajah ngambek, manyun lima senti.
Camus hanya menyinggung muka santai. "Siapa suruh nyeburin seseorang tanpa izin?" balasnya.
"Oi Surt!"
Frodi berjalan mendekati mereka. Memandang heran kericuhan yang sempat terjadi beberapa detik lalu. Diikuti Hercules di belakangnya.
"HEI KALIAN! GABUNG SINI!" panggil Surt. Dia melambaikan tangan. "Ini Camus! Kita sambut pembawa airnya di dalam air!" lanjutnya tak kalah lantang. Pria besar hijau dan mantan anggota OSIS itu saling pandang. Mereka tersenyum jahil.
Frodi langsung meluncur mulus ke dalam air. Memperlihatkan kalau dirinya nggak buruk soal olahraga dan bisa diandalkan. Mulutnya menyemburkan air ada di sana, berhasil mengambang dengan cemerlang. "Yo, Aquarius.. lama nggak bertemu semenjak UTS sekolah.." kata pria itu sambil tersenyum pepsoden. Camus hanya mengangguk.
"BOLAAAA AIRRRR!" ucap Hercules sambil menolakkan dirinya ke kolam renang. Seketika ketiga orang itu menelan ludah.
"HERCULESSS! JANGAN LOMPAT JUGAAAA!"
XXX
Tadi Rose hampir jantungan saat tahu kalau Camus diberi tawaran masuk salah satu universitas terbaik di dunia. Dia langsung berlari mengelilingi sekolah untuk melihat apakah kakak kelasnya bisa bertemu dengan Surt. Seperti kiamat sudah dekat.
Dan gadis itu bungkam saat tahu keributan super-duper-ultra-kecil di kolam renang sekolah. Hal itu menghentikkan langkahnya. Kepala pirangnya mematung, melihat kedua kakak kelas bisa sebahagia ini. Dia tersenyum tipis. Lalu berjalan menjauh.
Kini dia duduk di depan sekolah. Matanya kosong tak berisi. Menatap ke depan.
.
.
.
Rose anti ponsel. Siapapun tahu itu. Kalau misalkan dia punya, takkan ditunjukkan pada semua orang. Gadis itu berjalan masuk ke kamarnya berada setelah mengajari Seiya soal PR dari si guru killer.
Kamar itu rapi, tidak mewah mungkin. Tapi cukup efisien dan nyaman bagi pelajar rantauan. Rose duduk di pinggiran kasur, menguraikan kembali pikiran ruwet selama seharian penuh di peraduan tercinta. Room sweet room.
Satu alisnya naik. Dia merasakan getaran di kasurnya. Refleks punggung gadis itu kembali lurus. Menatap tajam ranjang dengan sprei biru itu. Rose menautkan alis, dia menyibak sebuah bantal dan menemukan benda segi empat berwarna putih dengan layar touch-screen di bawah sana. Berdering ada panggilan masuk. Rose tercekat.
Arterinya seperti diputus.
Itu ponselnya yang dia tinggalkan di Kanada.
Gadis itu langsung menatap nyalang seluruh sisi kamarnya. Menemukan kejanggalan yang barangkali bisa dijadikan petunjuk akan apa yang terjadi. Rose yakin benda itu tidak akan sengaja terbawa. Tidak bisa, tidak mungkin. Dia memutus hubungan apapun selama di tempat seperti ini.
Tidak ada tanda pintu didobrak masuk. Atau jendela yang dicongkel, bercak-bercak, jejak, bahkan debu yang berubah. Semuanya normal.
Hanya android putih itu saja yang tidak normal. Rose mendudukkan dirinya lagi di kasur. Mengambil ponselnya lagi dan menjawab panggilan masuknya dengan penuh hati-hati.
Beberapa saat kemudian, hanya keheningan yang merengkuhi kamar sunyi di lantai dua itu. Nafas Rose hampir-hampir tak terdengar. Putus-putus.
Kiamat memang sudah dekat..
.
.
.
**Seperti melihat Shaka yang senam kebugaran jasmani pake lagu Uttaran, atau barangkali memergoki Deathmask lagi ganti baju. Pandangan Rose seperti orang yang ada diantara hidup dan mati. Dia menghela nafas. Ponselnya ada di dalam tas, tentu saja. Dan semua orang bertanya-tanya apakah dia berbohong.
BATS.
"Eh?"
Gadis itu berkedip. Sedetik terasa dan dia baru merasakan kalau ranselnya itu raib dibawa seseorang. Rose terperanjat. Matanya melek, benar-benar kaget kalau dirinya sebegitu mudahnya lengah.
"Hei!" gadis itu langsung berlari mengejar siapa yang mencuri tasnya. Di ransel itu ada benda-benda astralnya yang hanya boleh dirinya tahu. Bisa gawat kalau jatuh ke tangan pencuri. Apalagi ponselnya, percayalah. Benda itu sangat keramat.
Figur besar lebih tinggi menutupi penglihatan gadis itu beberapa saat dalam larinya. Rose mendecih, temannya yang lainkah? Kejam sekali dunia ini kalau dirinya harus berhadapan dengan dua orang pencuri. Lalu pemikiran gadis itu terhenti saat mendengar suara baku hantam tak kurang seratus meter darinya. Orang-orang menepi. Beberapa bahkan membantu.
Gadis itu masih kalut karena mungkin kadar oksigen yang mengalir di otaknya terganggu. Nafasnya putus-putus karena berlari, berat. Surai ungu panjang yang baru ditangkap radar penglihatannya menarik mata. Rose benar-benar sadar sekarang.
Begitu juga beberapa saat setelah pria itu kembali. Langkah kakinya terdengar tegas, membuat siapapun terjaga. Lalu menyerahkan tas gadis itu ke arahnya. Mata hijaunya bersinar tenang. "Punyamu 'kan?"
Rose berkedip. "Kak.. Saga..." gumamnya. Dia melihat Gemini kakak itu. Siapa yang tidak kenal Saga? Ketua OSIS tahun lalu, ketua klub kendo, duta sekolah, penerima beasiswa dari beberapa universitas terkenal dan masa depannya yang sudah pasti cerah. Pria itu bibit unggulan sekolah.
Saga menaikkan alisnya. Dia menatap Rose. "Kau melamun?" tanyanya.
"Eh?"
Rose langsung membuang muka. Bukan tanpa alasan. Tapi secara tidak sadar semburat merah keluar dari pipinya yang pucat. Gadis itu menghela nafas. Dia menatap tas putihnya yang sudah kembali. "Terimakasih.." ucap si rambut pirang. Masih tidak mau menatap Saga. Jantungnya berdegup aneh secara tiba-tiba.
Saga mengedikkan bahu. Lalu berjalan kembali. Kanon mendatanginya dari belakang. Merangkulnya seenak jidat.
"Ciee.. yang mau jadi pahlawan buat adik kelas.. tebar pesona, Bang?"
"Diam."
Saga menatap ke depan. Kanon melirik Rose di belakangnya. Dia menaikkan alis.
"Dia adik kelas kita? Siapa? Aku jarang melihatnya.." kata si kembar adik. Pria itu menoleh ke arah Saga.
"Ga? Kau mengenalnya?" tanya Kanon. Saga terdiam. Dia masih berjalan dengan tenang. Kelopak matanya sesekali turun ke bawah. "Beberapa kali saat ada konseling BK khusus.."
"Oh.." Kanon hanya mengangguk-angguk. Konseling BK khusus, dia tahu sekali maksudnya. Artinya gadis itu sama seperti Saga. Punya sedikit 'kelainan' mental.
Saga masih diam. Matanya tadi merasakan sesuatu yang aneh.
Gadis itu.
Sepertinya mereka punya kemiripan dalam beberapa hal.
Rose menatap tasnya kembali. Lalu menghela nafas lega. Yang tadi itu benar-benar jantungan. Gadis itu melirik si rambut ungu panjang yang sudah berjalan beberapa langkah. Dia memegangi dadanya. Aneh.
Kelopak matanya turun sedikit. Menatap rambutnya yang tidak sama panjang. Sesuatu yang mengkilap terselip di tasnya. Dia menoleh.
Sebuah gunting adamantium panjang.**
XXX
Gadis itu menatap sebuah dua lembar tiket di hadapannya. Angin kecil membuat rambut menampar-nampar wajahnya sendiri. Rose menghela nafas. Surai pirangnya takkan seheboh dulu.
Dia memotongnya. Menjadi sesama simetris. Pendek sebahu. Sedotan masuk ke bibirnya yang merah derah, kembali menyeruak di kulitnya yang pucat. Gunting adamantium itu bersinar dari balik tasnya. Rose bersandar di dinding sekolah. Hm. Ya. Dirinya sudah tidak menjadi 'Rose' lagi sekarang.
Gadis itu menaikkan alis. Matanya menggeser ke ekor. Melihat dua orang saudara yang tak sengaja berjalan di dekatnya dengan choco blend yang sama. Shun dan Ikki.
"Rose?" Lelaki berambut hijau itu tersadar.
"E-eh?" Gadis itu tersentak, lalu membuang mukanya. Pipinya kembali bersemu merah. Ada 'orang itu' disana. Dia berjalan mendekat.
"Kau memotong rambutmu?" tanya Shun. Dia menaikkan alis. Agak terkejut dengan perubahan penampilan gadis itu yang tiba-tiba. Memang tidak banyak yang berganti.. hanya saja.. lain. Sedikit lebih dingin. Rose hanya mengangguk, lalu tersenyum.
"Cantik.. cocok.." puji bocah manis itu. Dia tersenyum tulus. Tapi entah kenapa dia baru sadar. Rose yang ini lebih pemalu, menunjukkan ekspresi. Tidak kaku dan pokerface seperti biasanya.
Kepala pirangnya merasakan rambut sedadanya ditiup angin. Matanya menatap ke arah Ikki. Pemuda bersurai gelap itu menyedot coklatnya dengan tenang.
"Kak, ini temanku. Rosemarie.. kami satu angkatan.." ujar Shun memperkenalkan gadis itu. Rose tersenyum pada Ikki. Sementara yang mendengar mengangguk pelan. "Salam kenal," ujarnya.
Gadis itu mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah kain merah agak panjang yang berbau harum. Manis. Sama seperti aroma tubuh Rose yang merebak saat udara dingin menyerang. Dia menyerahkan ke kakak beradik itu.
"Aku ada sedikit masalah.. jadi bisa tolong.. jaga benda ini sebentar, ya?" tanyanya dengan senyuman. Shun terdiam, mencerna sejenak. Sementara Ikki langsung mengambilnya, meski sedikit bingung. "Baiklah.." ucap pemuda itu lirih. Entah kenapa dirinya tak bisa menolak.
Jika dilihat dari beberapa sisi Rose benar-benar berbeda dari biasanya. Kulitnya lebih dingin. Matanya menusuk, pipinya pucat, dan bibirnya semerah darah. Padahal seingat Shun tidak seperti itu, dan rambut pendek itu. Seakan menebar salju beku yang selama ini tertutup saat surainya masih panjang. Tapi senyumnya hangat, cerah. Tidak kaku seperti biasa. Bukan Rose yang biasanya. Ikki menatapnya dalam diam. Berkedip beberapa kali.
"Oh.. kalau begitu cepat kembali ya?" tanya Shun. Dia tersenyum. "Semoga masalahmu cepat selesai.." lanjutnya.
Gadis itu mengangguk. Dia tersenyum lagi. Lalu membungkuk sambil berjalan pergi. "Sampai jumpa."
Dan itu adalah terakhir kalinya Rose ada di sekolah.
-TBC-
XXX
Author Note :
Noh Om, requestmu udah terpenuhin. Kampret? Kurang puas? Sabodo :'v *dihajar*
Mungkin agak mengherankan gimana saya bisa apdet kilat. Tapi setelah ini bakalan agak lama. Segala bentuk repiu, kritik, saran, maupun membaca sangat dihargai. Gimana mbak? Masih bagus kah? *pasang mata bling-bling* *dibuang*
ONE OF MY GAJESTEST CHAPTER EVER. SUMPAH. *pasang jari suer* *sungkem*
Salam Kompor Gas,
Shakazaki-Rikou
See you next chapter!
