-Terlalu Manis-

Disclaimer : Saint Seiya © Masami Kurumada.

Saint Seiya LC © Shiori Teshirogi.

The OC belongs to me, so, don't like don't read.

.

.

.

.

Rate : T

.

.

.

.


XXX


Sejujurnya Surt pernah berpikir..

Tidak.. bukan satu kali.

Tapi berkali-kali..

Berkali-kali bisa berarti beberapa kali dalam sehari. Bisa jadi sebelum makan, setelah mandi, atau 30 menit sebelum makan siang.

Oke, hiraukan yang tadi.

Pria itu menatapi sekelilingnya. Dia menghela nafas berat.

["Kamu sahabat Camus ya?"

"Ah masa? Bohong!"

"Camus itu Cuma milik Milo seorang!"

"Nggak mungkin dia mau sama cowok liar dan norak kayak kamu."

"Mana yang katanya perusak kapal? Enak saja bilang kalau dia sahabat terbaik Camus."

"Kamu pemaksa Surt.. terima saja kalau semua orang jauh lebih suka Milo bersama Camus."]

BRAAAAAKKK!

Suara patahan menghantam lantai. Dengan bunyi pecahan kaca terdengar keras. Liquid merah merembes di keramik putih itu. Surt baru saja menendang lemari penyimpanan sirup sampai patah.

Pria itu terduduk. Masa bodoh kalau kaki dan celana jeans nya lengket akibat sirup. Dirinya sedang kacau. Dan merasa bodoh.

Semua orang lebih suka Camus bersama Milo.

Lebih suka seperti itu.

Itu adalah kasus lama. Yang sebenarnya sudah Surt rasakan sejak pertama kali menginjak bangku SMA. Dan bertemu Camus lagi. Bertemu sahabat lamanya. Setelah 6 tahun berpisah, tak saling memberi kabar (selebihnya karena si rambut hijau merasa bersalah telah menjadi faktor meninggalnya Sinmore). Tapi ayolah, itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Mereka sama-sama sudah dewasa.

Apa yang salah hanya karena dirinya tidak pernah terlihat bersama Camus?

Ya! Memang dia akui itu!

Dia sama sekali tidak pernah terlihat bersama Camus.

Karena apa? Karena Surt sekolah di Sanctuary pun bukan sepenuhnya kemauannya sendiri.

Harapannya sempat hancur setelah tahu tidak diterima di SMP yang sama dengan Camus. Tapi akhirnya berhasil masuk SMA lewat jalur beasiswa. Itu karena Asgard memang butuh lebih banyak siswa berprestasi. Dirinya tidak boleh lengah. Rangking tinggi terbangkalai, selamat tinggal Sanctuary. Begitu kata salah satu pelatih sepakbolanya.

Makanya Surt selalu berlatih keras setelah pulang sekolah. Di lapangan. Di halaman depan. Di stadion. Bahkan di dalam apartemennya sekalipun.

Milo beruntung. Bisa satu kelas dengan Camus sejak SMP sampai sekarang.. kelas 3 SMA. Sementara dirinya? Diijinkan bermain saja harus diintrogasi pihak sekolah. Mana bisa Surt membangkang semudah itu?

Lebih baik bertahan sebentar daripada tidak bisa melihat Camus selamanya.

Dan saat ini, waktunya. Kelas 3 SMA untuk bisa lebih leluasa di dekat Camus. Karena pelatihnya memberi keringanan untuk tidak ikut lagi sepakbola. Lagipula Surt terbukti unggul, dirinya salah satu pemain terbaik kancah nasional.

Makanya jangan heran kalau lemari pun tidak tahan dengan tendangannya.

Dan saat semuanya terasa begitu sempurna. Apalagi adik kelas satu atapnya (Rose) mendukung Surt sepenuh jiwa raga. Kenapa harus ada orang yang berkomentar kalau dirinya norak sekali ada di dekat Camus? Apa yang salah dengan membuka diri? Dirinya selama ini memang tutup mulut.

Sekarang pria itu tahu betul kalau kesan publik memang sangat berharga.

Camus sendiri juga tidak terlalu menunjukkan kalau dirinya teman Surt. Karena apa? Aquarius itu merasa bersalah.

Dan dia jaim.

Tidak. Surt tidak bodoh.

Dia tahu kalau seorang Aquarius Camus sangat jaim. Dirinya teman masa kecilnya.

Teman masa kecilnya.

Camkan itu.

Dirinya tahu tentang Camus. Dirinya sama sekali bukan orang sok tahu dan pemaksa yang berani berkoar, "Hei! Aku loh sahabat terbaik Camus!"

Surt cerdas. Kalau tidak, mana mungkin dirinya ada di Sanctuary?

Pria itu memeluk lututnya. Mulai tidak tahan saat seluruh kenangan dan masalah masa lampau berputar di kepalanya secara brengsek.

Memangnya mereka tahu apa soal Surt? Tahu apa soal beasiswa itu? Tahu apa mereka soal Pak Pelatih brengsek yang merampas waktunya? Tahu apa mereka soal kematian Sinmore? Tahu apa mereka soal masalah Camus yang jaim? Tahu apa mereka kalau dirinya yang tidak mau jadi orang sok tahu?

Mereka tidak tahu apa-apa.

Memikirkan kenyataan itu. Mendadak hati Surt terasa perih. Ada satu goresan di dalam hatinya.

Kecil. Tapi tidak berdarah.

Milo (sangat) beruntung memiliki sahabat seperti Camus. Semua orang tahu itu.

Dan harusnya mereka juga tahu kalau Surt -sama sekali- tidak beruntung.

.

.

.

Pria bersurai hijau lebat itu mengurut rambutnya yang baru saja dikeramasi. Alunan lagu klasik yang merdu memenuhi ruangan itu. Ini masih jam 4 sore. Benar-benar sore yang melegakan.

Camus melirik ke kanan kiri. Lagu yang diputarnya sengaja dikeraskan di bagian yang paling ribut. Nyaris memekakkan malah, tapi entah gendang telinganya yang dilapisi es atau bagaimana. Dirinya sama sekali tidak peduli.

Beberapa tumpuk buku tertata di atas kasur –terlalu penuh jika ditaruh di atas meja-. Pria itu memakai kaos hitam tipis, lalu beranjak ke meja belajarnya. Melihat apa-apa yang akan di lakukannya nanti. Pertama, belajar untuk ujian kelulusan. Kedua, menyalin buku UKS untuk Pak Degel. Ketiga, mengerjakan PR. Lalu mengatur waktu untuk kerja kelompok. Main sama Milo. Mengabari teman-teman satu kliniknya dulu –tempatnya bekerja paruh waktu-. Lalu menulis surat untuk orangtuanya yang ada di Prancis;secara keseluruhan Camus memang sendirian.

"Nanti sisakan waktu sedikit ya buatku?"

DEG.

Pria itu terdiam. Menaikkan alisnya yang bercabang dua. Teh hangat pendamping kerjanya hari ini juga bergeming.

Hei..

Menyisakan waktu?

"Saya sesibuk itu ya?" tanya Camus pada dirinya sendiri. Dia menoleh ke arah cermin kecil yang menyatu dengan lemari. Semuanya baik-baik saja. Dirinya tidak terlihat tertekan, atau depresi, atau barangkali panik. Menyesali masa lalunya.

Camus memang punya terlalu banyak masalah untuk disesali di masa lalu. Tapi tidak begitu parah, hanya konflik normal anak kutu buku yang dingin dan pendiam. Termasuk sikapnya yang jaim. Dirinya tidak sepusing Saga dalam memikirkan tanggung jawab OSIS, atau barangkali separah Rose yang dikejar-kejar Hyoga.

Surt adalah teman masa kecilnya bagaimanapun. Dirinya juga merasa tidak terlalu enak dengan pria itu. Melihat kalau si rambut merah bisa menerimanya tanpa hambatan berarti. Justru semua masalah yang ada berasal dari dirinya.

Selalu dari Camus.

Ah. Ternyata dirinya tetap teman yang buruk.

Pria itu menghela napas. Menggeleng-gelengkan kepalanya. Tugas dan PR menumpuk, efek mengorbankan waktu kemarin malam bersama teman-teman sekelasnya. Mereka banyak berfoto.

Meski Camus lebih sering jadi juru kamera.

PLETAK.

Camus terdiam. Dia menaikkan alis. Ada seseorang yang melempari jendelanya.

PLETAK.

Lagi? Camus sebenarnya tidak terlalu heran. Kau tahu? Jendela pria itu bersandingan dengan pohon mangga. Kadang-kadang jika angin kencang. Mangganya bisa 'mengetuk-ngetuk' jendela Camus.

DOK. DOK.

Tuh kan.

Ya sudah. Pria itu fokus menyalin buku UKS lagi. Besok Pak Degel pasti senang.

DOK. DOK. DOK.

"Eh?"

DOK. DOK. DOK.

DOK. DOK. DOK.

DOK. DOK. DOK. DOK. DOK. DOK.

"CAMUUUUUSSS! BUKA JENDELANYAAAAAAAA! NANTI AKU DIKIRA MALIIIIING!"

Suaranya Surt. Camus terkesiap. Dia langsung berdiri dari kursinya dan melangkah ke jendela. Pria itu membukanya.

Dilihatnya pria itu sedang memanjat pohon mangga di samping rumah Camus dan duduk di dahannya. Tepat bersandingan dengan jendela rumah si Aquarius.

Mengabari seseorang lewat jendela.

Romantis sekali ya?

"Kamu kenapa kesini? Kenapa tidak dari pintu. Kan bisa?" tanya Camus. Dia menghela nafas. Membantu Surt masuk ke dalam kamarnya. Pria berambut merah terang itu berkacak pinggang.

"Kurang greget kalau Cuma bertamu."

Langsung dilamar aja –eh, apa-.

Camus menghela napas. Dia melirik Surt yang tampaknya sudah berpakaian rapi. "Kamu mau pergi ke suatu tempat?"

Dan pria itu seenak jidatnya duduk di kasur Camus seakan itu rumahnya sendiri. Tak apalah, dulu dia juga sering tidur di kamar sahabatnya waktu kecil. Menginap saat malam minggu. Matanya melirik setumpukan buku yang bahkan berserakan di kasur Camus.

"Kamu mengerjakan PR?"

"Ya.."

Camus duduk di kursinya. Dia melanjutkan lagi buku catatan UKS yang sempat menganggur. Dan Surt memerhatikannya sambil tiduran –jangan ditiru-.

"Kamu selalu sibuk ya?"

"Kurasa juga begitu.."

"Tidak ada waktu senggang?"

Camus menurunkan kelopak matanya. Dia memijat bagian itu dengan jari.

Sepertinya dirinya juga akan butuh kacamata seperti Pak Degel.

"Benar-benar tidak ada waktu senggang?" ulang Surt makin keras. Pria berambut toska itu masih diam. Dia melirik sahabat masa kecilnya yang ada di belakang.

Memang, kalaupun ada waktu aku akan bekerja, dan jika tidak bekerja aku akan mencari pekerjaan. Dan saat itulah stress datang. Kerja, stress dan kerja.

Waktuku hanya untuk itu saja.

"Kamu ketularan workholicnya Pak Degel.."

Dan Surt menyipitkan matanya. Ada sesuatu di bawah bulu mata Camus. Bagian hitam?

"Kamu punya mata panda?!"

"Ssttt!"

Camus meletakkan telunjuknya di bibir sambil menatap tajam. Suara pria berambut merah itu kelewat keras. Keramaian di kamar pribadi sang Aquarius adalah hal tabu. Tidak ada toleransi. Kalau pun ada, maka siap-siap dikurung di dalam kulkas.

-ngomong-ngomong di lantai satu rumah Camus ada kulkas raksasa untuk menyimpan daging, loh.-

Tapi Surt acuh saja. Dia berdiri. Menatap nyalang pria itu. "Ini tidak bisa dibiarkan! Kamu harus keluar!"

-Dan sepertinya Camus akan punya simpanan daging rusa baru.-

Aquarius muda itu diam saja. Dirinya menggeleng. "Aku baik-baik saja. Ini harus selesai. Nanggung kalau dibiarkan begitu saja."

"Kamu harus keluar!"

Surt langsung menggeret Camus ke pintu. Membawanya keluar kamar itu. Sementara yang digeret setengah berontak, setengah pasrah. Sepertinya matanya terlalu lemah untuk sekedar menatap tajam Surt lagi. Untung jaketnya masih di bawah. Lagipula dirinya juga butuh udara segar.

.

.

.

-Dan ngomong-ngomong sepertinya keluarga Camus tidak doyan daging rusa-.


XXX


Beberapa jam yang lalu..

"Kalau sudah tahu stress. Kenapa masih mau stress lagi?" tanya Andreas dengan raut muka tidak mengerti.

Surt menatapnya dengan pandangan dongkol. Pertanyaan macam apa ini?

"Iya Pak, memang. Saya stress pake banget. Uang kos belum dibayar. Tugas numpuk, nendang bola di kamar dimarahin tetangga, sahabat ditikung orang lain, IYA SAYA STRESS. Tapi memangnya saya sendiri PENGEN DIRI SAYA STRESS?"

Surt ngomong gak pake titik koma. Tanpa spasi.

Andreas pasrah saja kena hujan lokal.

"Stress itu gak akan jadi stress kalau kita pengen stress," lanjutnya dengan gerutuan tidak jelas.

Memang. Itu ceritanya lain lagi. Itu masuk ke dalam kategori masokistik yang beda dari emosi wajar manusia. Kalau stress, setiap orang pasti akan mengalaminya. Dan itu 'wajar'.

Setelah membersihkan wajah dengan sapu tangan. Dan mengembalikan kembali kewibawaan dokter cantik kita yang sempat hilang setelah disembur api biru dari mulut rusa berkepala merah bata. Andreas berucap dengan intonasi penuh perasaan.

"Kamu punya masalah sendiri.. yang melawan arus.."

BENER.

TAHU AJA INI ORANG.

"Pak. Psikolog itu memangnya bisa baca pikiran dan masalah orang ya? kok dari tadi Pak Andreas ngomongnya bener terus.." kata Surt dengan nada menggerutu lagi. Tapi lebih menggemaskan.

Andreas tersenyum tipis. "Tidak juga. Toh buktinya tadi saya salah dan kalah mendebat kamu soal pengertian stress."

Lalu Surt manggut-manggut. Kemudian tersenyum sendiri.

"Fight your way..*" ucap dokter cantik kita ini. Nada suaranya berbeda dari yang lalu-lalu. Seakan memasuki mode konselor. Berhubung Andreas juga punya sarjana psikologi. Sebenarnya nasihat itu memang benar adanya. Apalagi kalau seseorang dipojokkan karena dirinya berbeda oleh masyarakat.

Tapi masalahnya..

[Will I fight my own way...?]

Itu yang Surt pikirkan. Setelah sekian banyak gencetan dan cobaan yang meresahkan otaknya soal masalah yang kita bahas di atas. Yang membuatnya merasa sah-sah saja kalau membenturkan kepalanya ke salah satu kulkas keluarga Camus.

-Kalau ditanya sedang apa, dia bisa jawab harus mendinginkan kepala. Dari dunia yang gila ini-.

"Jangan mikirin omongan orang..." kata Andreas seakan bisa membaca pikiran Surt. Ah tidak, sama sekali tidak tepat dikatakan membaca. Sejak awal dia tahu setengahnya cerita AADS (Ada Apa Dengan Surt).

Sekolah tempat dia singgah sementara kali ini kalau menggosip terlalu ember.

"Orang-orang saja nggak mikir kalo ngomongin kamu."

DEG.

Mendengarnya. Surt jadi aneh sendiri. Ada satu bagian dari dirinya yang bersorak setuju, sangat sepakat dengan perkataan dokter cantik itu. Tapi ada satu hal di yang seolah menyumbat pembuluh darahnya. Yang seakan menjadi sebuah paradoks. Ada yang tidak setuju dan menyalahkan dirinya sendiri.

Menyalahkan kalau Surt adalah pelakunya.

Pria berambut merah itu bingung. Dia mendongakkan wajahnya. Menyelidiki setiap inci wajah Andreas seolah mencari petunjuk atas kebingungan tersebut–dan yang mengerikan justru dokter cantik kita ini tampak 'senang' diperlakukan demikian-.

PIK.

Surt tersentak. Dia tahu sesuatu.

Ah ya.

Itu dia.

Ini sama seperti Surt membicarakan Andreas yang aneh. Yang citranya tidak ada baik-baiknya dari sisi manapun. Yang begitu kurang ajar dia katakan bahkan tanpa memedulikan Andreas barangkali akan mendengarnya.

Benar juga.

Surt kan waktu itu 'tidak berpikir'.

"AAAAAAAAAAAAAAHHH!"

"Apa?" tanya Andreas tersentak setengah keheranan.

Remaja bermata cerah itu menunduk penuh penyesalan. Kenapa yang menyelesaikan masalah terberatnya malah orang seperti itu. Seperti Andreas? Yang bahkan dalam perkataannya sendiri posisi dokter tersebutmenjadi korban? Surt malu. Sungguh.

Masalah internalnya membuat pria itu buta sampai tidak memikirkan orang lain. –dalam hati pengarang mengatakan masalah seperti ini klasik sekali terjadi-.

"Maaf! Maafkan aku!"

"Kamu kenapa sih?"

"Pak Andreas mau makan tidak setelah ini? Nanti bakalan saya traktir kok!"

"Surt? Kamu sehat?"

"Sekalian juga makan yang banyak! Nggak usah sungkan Pak! Saya lagi dapat kiriman dari sekolah dua hari lalu!"


XXX


"Itu siapa?" tanya Surt saat melihat Camus membaca sebuah novel.

Pria itu menoleh. Dia tahu kalau yang dimaksud sahabat merah menyalanya ini adalah ilustrasi yang tampak memukau di sampul buku. Sampulnya digambar dengan style semi-realis. Menggambarkan seorang pemuda tampan berambut hitam dengan baju angkatan darat formal ber-background suram. Terkaan Surt adalah orang ini pasti orang Prancis.

"Pierre Tendean," ucap Camus.

Surt menaikkan alis. "Siapa itu?"

"Orang blasteran Indonesia-Prancis. Nama lengkapnya Pierre Andreas Tendean."

[hayo bagi para pembaca. Menurut kalian Pierre Tendean ini benar ada atau tidak? Atau sekedar karangan saya belaka? Jika sudah tahu jawabannya, silahkan komen di review. Sayangnya saya gak bisa ngasih apa-apa #plak]

"Dia orang terkenal?"

"Bisa dikatakan seperti itu."

"Oh..."

Ya. Setidaknya Surt memang berharap ada satu-dua orang pahlawan seperti Pierre Andreas Tendean untuk memberi pencerahan. Tapi ternyata sudah ada Lise Andreas Tendean, penyelamat masalahnya.

"Jadi Pak Andreas itu orang Prancis juga?" tanya kepala merah menyala itu iseng. Camus menatapnya dongkol. "Tidak."

Itu sudah jelas.

"Ih, Camus dingin," kata rusa merah kita pura-pura merajuk. Tapi kemudian dia tertegun. Melihat sahabat kutu bukunya kini begitu fokus membaca novel. "Camus.. mata kamu sudah positif minus setengah loh.." ucap Surt. Dia menatap pria itu sambil menyilangkan tangan.

Camus diam saja. Itu memang benar. Tadi sebelum mereka ke toko buku, Surt menyeretnya paksa ke toko optik. Memeriksakan kesehatan mata sahabatnya. Dan yang pria itu takutkan terjadi.

Mata Camus minus setengah.

Cuma setengah, tapi Surt panik minta ampun. Dia pun memborong 3 kilo wortel buat Camus untuk dimakan setiap hari. Aquarius kita serasa seperti kelinci.

"Ah, Lupakan!" kata Surt saat melihat ekspresi pemuda perancis di hadapannya berubah. Lalu dia cepat-cepat melanjutkan. "Ke tempat lain yuk?" tanyanya. Berharap kalau Camus teralihkan perasaannya.

Mata biru pria es itu melirik keluar. Entah kenapa dia tiba-tiba ingin sesuatu yang manis. Yang menggigit, dan sama seperti dirinya. Dingin.

"Kamu mau ke pattisier tidak.. Surt..?" ujar Camus tiba-tiba. Surt menoleh.

"Eh?"

Sekarang kepala hijau itu menatapnya dongkol.

"Mau tidak?"

"Er.. ya.. boleh-boleh!" kata Surt cepat-cepat. Seakan tidak ingin mengecewakan Camus dengan otaknya yang lemot. Surai panjang Aquarius itu mengangguk-angguk paham. Dia berjalan duluan. Membayar novel yang daritadi dibacanya sambil berdiri –segelnya sudah dilepas. Lagipula membaca sambil berdiri di toko buku itu wajar dilakukan di negera lain-.

"Kamu sudah pernah mengajak saya ke tempat yang bagus.." ucap Camus saat mereka ada di ambang pintu. Pria itu meliriknya. "Sekarang saya ingin mengajak kamu ke tempat yang bagus juga."

.

.

.

Saat mendengar kata 'tempat yang bagus' keluar dari mulut Camus. Pikiran Surt tidak lepas dari deretan rak dan buku seperti yang tadi mereka lihat di toko sebelumnya. Tapi ternyata tidak.

Yang ada sekarang adalah kue penuh di etalase bagus. Warna pastel. Pelayan yang imut-imut, makanan-makanan mahal, dan aksen seksi yang mereka katakan sebagai 'bahasa prancis'. Surt nyaris melongo. Apalagi saat melihat harga-harga kue yang terpajang disana.

Itu sama dengan uang sakunya satu minggu!

"Dua mangkuk, sama beberapa kue keju dan stroberi kalau bisa. Oh ya, dua kotak sekalian buat nanti dibawa pulang," ucap Camus dengan entengnya. Dengan wajah lempengnya. Begitu tak berdosanya.

Sungguh, pria itu baru sadar kalau ternyata orang Prancis tajir-tajir.

"Er... Camus... makasih tapi.."

Camus meliriknya. Mencomot sebuah keju yang langsung lumer di mulutnya. Oh ya Prancis juga terkenal dengan kuliner kejunya. Dia berkedip.

"Kenapa? Gak suka?"

"Aku suka.."

BANGET MALAH.

Surt duduk di kursi. Mengamati sekeliling. Malam itu ramai. Rasanya sempurna begitu dia menikmati hidangan cantik penuh rasa manis yang menghiasi pastry itu bagai aksesoris. Apalagi ditemani sahabat tersayang. Siapa sih yang bisa menolak kudapan Prancis yang terkenal mahal dengan cita rasa seni tinggi dan memabu-

"Surt, kenapa kamu duduk?"

Surt mengangkat kepalanya. Terlihat Camus berdiri, tidak menunjukkan tanda-tanda akan duduk di kursi.

"Loh? Bukannya kita makan disini?"

"Tidak, kita makan sambil jalan."

Surt tersentak. "Loh? Terus 'Dua mangkuk, sama beberapa kue keju dan stroberi kalau bisa' itu apa dong?"

"Ya kita makan di jalan."

"Bedanya apa sama yang dibawa pulang!?"

"Kalau yang dibawa pulang dibungkus rapi di kotak. Kalau yang tadi Cuma diletakkan di kantong plastik."

Ah ya, orang Prancis juga tidak pernah kompromi soal keindahan.

-dan sejak tadi kita selalu membahas orang Prancis-.

Surt pasrah saja. Dia mengangguk, berdiri mengikuti Camus sambil berjalan setengah-setengah.

Hari ini ramai, taman indah digenangi lautan manusia. Surt berulang kali merasa kaget lagi. Memikirkan kalau Camus tidak suka keramaian. Tidak biasanya, seperti dia sudah terlalu kenyang punya teman serusuh Milo –dan juga dirinya sendiri btw-.

Kemudian lagu-lagu asmara berdendang –deskripsi macam apa ini!-, membuat Surt makin kaku.

Hari ini sempurna.

Terlalu malah.

"Camus.." kata Surt. Dia lalu kepikiran sesuatu, kemudian segera menyabet sebuah sapu tangan panjang dan membungkam mata sahabatnya. Camus terlonjak, kaget karena tidak siap. Dia menatap Surt aneh –meski tidak bisa melihat-, tapi pria itu bisa didengar, dikira-kira dan dirasakan. Dia tahu itu.

"Apaan sih?"

"Ayo ikut aku~~.."

Surt lalu menggeret bahu Camus ke depan. Menjaga agar sahabatnya tidak menabrak orang lain selain dirinya. Aquarius itu tidak terima. Dia berusaha melawan, tapi pada akhirnya diam saja. Kain merah yang menutupi kedua matanya terlalu kuat.

Ternyata Camus memang bukan tipe orang yang bisa memberikan hadiah..

.

.

.

Atau kejutan?


XXX


Bohong kok, Surt selalu terkejut pada Camus. Setiap hari. Entah perasaannya saja atau narasi dalam cerita ini berubah begitu... belok.. –salahkan authornya yang kebanyakan nonton sinetron 'Secret Admirer' di channel Periculum in Mora-. Jujur saja dia ingin bersama Camus lebih lama lagi. Selalu.

Tidak. Bukan karena perasaannya yang belok seperti deskripsi author –lalu author Shakazaki dilempar ke mercusuar-. Dirinya hanya sayang. Terlalu sayang pada Camus.

Sayang sebagai teman. Sayang yang takkan bisa padam, lain dari pacaran. Yang namanya sahabat sejati takkan jadi mantan.

Penelitian mengatakan kalau suka akan membara selama 4 bulan, lebih dari itu. Artinya cinta.

Cinta..

Cinta ya..?

Dan Surt harus menegaskan sekali lagi kalau dirinya tidak belok –kemudian author Shakazaki dijatuhkan ke Tartarus-. Apa salahnya kalau mengatakan dia 'cinta' pada sahabatnya? Bukankah dalam bahasa inggris pun kata 'sayang' dan 'cinta' tidak punya perbedaan berarti? Semuanya dideskripsikan dalam kata 'love'. I love you.

Tapi sayang Camus akan menamparnya jika Surt mengatakan hal seperti itu.

Surt menatap ke depan. Sedikit lagi hampir sampai. Tangannya mendorong Camus semakin jauh. Ah. Dia ingat sekali perasaan ini. Rasa memberikan yang terbaik kepada sahabatmu sebelum pergi jauh. Rasa kau ingin berfoto, mengabadikan momen sebelum pergi ke tempat semestinya. Rasa kau ingin melepaskan segalanya. Memeluk erat dalam artian kasih sayang karena keakraban. Dia ingat 10 tahun yang lalu.

Surt punya banyak foto tentang orang lain, Frodi, Hercules, Baldr, Sinmore, bahkan Kanon. Tapi ada satu orang.. yang ironisnya tidak tercantum sedikitpun dalam album kenangannya.

Dan itu adalah Camus.

Lu peka gak sih rambut ijo daun?

Camus menatap sekelilingnya dengan bingung. "Surt, kita kemana sih?"

Pria itu menyeringai. Dia mengerem mendadak laju kakinya. Membuat Camus tersentak karena diberhentikan seketika. Pria itu ngos-ngosan. Dia butuh sesuatu yang pasti, dan Surt sama sekali tidak memberinya kepastian –kemudian author Shakazaki dibuang ke kandang Cerberus-.

Lelaki berambut merah itu menarik sapu tangannya. Melepas ikatannya dari kepala Camus. Dia membentangkan kedua tangannya.

"Sampai!"

Lalu Camus mengerjap. Mengenali setiap cahaya yang ada. Membiasakan matanya sejenak.

DUAR.

Eh?

DUAR. DUAR. DUAR.

Camus terdiam. Dia tidak bermimpi kan?

Kenapa cahaya yang semakin masuk beraneka warna dan... indah..?

DUAR. DUAR. DUAR. DUAR.

Itu kembang api. Mekar keroyokan di terangnya malam. Orang-orang di sekitar bertepuk tangan. Suka dan terkagum, tidak ada kembang api ini seindah ini di kota beberapa tahun lalu. Camus terdiam. Dia tercekat. Lebih kaget lagi saat dimana dirinya sekarang.

Di barisan yang paling depan!

Sumpah, apa yang dilakukan Surt sampai bisa mengantar tubuh kecil mereka berdua diantara lautan manusia sampai bisa sejauh ini?

Sementara yang disinggung menyeringai puas. Dia tersenyum. Agak kelelahan memang. Entah dirinya yang kelewat senang atau gila atau bagaimana sampai bisa mendapatkan sudut pandang yang paling indah untuk Camus.

Tidak.

Ini yang terindah untuk Camus.

"Suka kan? Makanya jangan sampai pake kacamata..." kata Surt. Dia melirik sahabat masa kecilnya. Tangannya memagari atas kepala sejenak karena kembang api itu begitu silau. Begitu juga Camus. Mereka memang terlalu dekat dengan hal menakjubkan di depan sana.

Kembang api itu indah. Cantik luar biasa. Berjuta warnanya. Mahal harganya.

Kalau dinyalakan sendirian begitu menawan. Jika dipertontonkan beramai-ramai malah semakin gagah perkasa.

Sayang kadang tidak ada yang menyadarai kalau mereka Cuma sebentar.

"Sayang kalau matamu minus hanya karena kebanyakan baca buku yang sama sekali tidak punya warna.." kata Surt dengan senyum paling GR dan manisnya.

.

.

.

"Enak saja bilang buku tidak punya warna.."

"Ih, Camus gak manis."

"Oh ya, terimakasih karena sudah membawaku kemari."

"Sama-sama. Lain kali kita kesini lagi ya?"

"Ah.. aku jadi ingat seseorang yang membawaku kemari. Jauh sebelum kamu, dan dia juga manis."

"Siapa dia? Pasti ibumu."

"Bukan. Milo."

Dan rasanya Surt ingin membantai seluruh populasi kalajengking di seluruh dunia.


XXX


"Pagi~~!"

Pria berjalan disertai angin semilir yang masih begitu dingin. Surt melangkah sambil tersenyum cerah. Istilah kerennya good mood. Ya, mood-nya terlalu bagus datang ke sekolah terlalu awal.

Frodi yang sedang piket OSIS keheranan melihat teman sekelasnya. Dia melongo, rahangnya yang direndahkan nyaris jatuh ke meja. Di tangannya ada kertas yang mencatat waktu kedatangan siswa sekolah mereka dalam satu hari. Surt melangkah ke arahnya. Lalu menandatangani kertas itu.

"Kerja yang baik ya Frodi? Kamu bisa jadi anggota BEM saat masuk kuliah. Semangat~~.. oh ya, ini pukul 06.07 kalau kau tanya jam berapa aku datang. Soal PR bahasa inggris sudah kukerjakan. Kau bisa nyontek nanti istirahat. Selamat pagi~~.."

Dan Frodi makin melongo dibuatnya. Rahangnya jatuh ke lantai. Dia melirik kanan kiri dan Surt sudah berjalan saja ke kelas mereka.

Wajar pria itu kaget. Surt paling malas mengisi data seperti ini yang menurutnya 'merepotkan' (baca : mengganggu jalannya saat ingin cepat-cepat mencontek PR orang lain), dan kali ini dia baik hati sekali sampai mau memberitahu jam berapa sekarang. Sumpah. Rasanya pria itu ingin memeriksakan indranya ke dokter THT.

Surt berjalan riang ke dalam kelas. Baldr tiba-tiba mengadakan tahlilan, entah merasa tidak nyaman atau memang mau mengusir setan di kelas mereka. Sigmund tidur lagi di meja, Hercules menepuk-nepuk lalat. Mereka bukannya tidak tahu, mereka Cuma mau masa bodoh.

Teman berambut merah mereka itu sudah cukup membuat masalah semenjak beberapa minggu terakhir.

"Sigmund jangan kacangin akuuuuu!" kata Surt dengan tumben-tumbennya mau membangunkan si rambut nyentrik. Tapi pria itu cuek saja, dia menoleh sebentar. Kemudian kembali terlelap.

"Hercules~.. udah bikin PR bahasa inggris belum?" tanya pria itu kali ini ke titan hijau. Seakan miskin perhatian. Hercules menatapnya. Dia memasang wajah dongkol. "Tidak, lagipula kamu kan paling tahu kalau aku itu tidak bisa bahasa inggris."

"Kalau begitu pinjam punyaku saja!" kata Surt sambil meletakkan buku bahasa inggrisnya. Membuat Hercules mengalami kasus yang sama seperti Frodi. Rahangnya jatuh ke bawah. Hanya sampai meja.

Baldr masih terus mengucapkan doa-doa.

"Nggak papa, aku lagi rajin kok hari ini. Udah sana cepat kerjain, kamu dapat nilai jelek nanti kita juga yang repot," kata Surt sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Kemudian berjalan santai ke mejanya sendiri dengan kedua tangan terlipat, di simpan di belakang kepala.

Kali ini Baldr membuka alkitab.

Melihat kelakuan pria biarawati itu. Surt jadi aneh sendiri. Awalnya dia pikir Baldr hanya melakukan doa pagi. Tapi semakin lama semakin aneh. Tangannya sesekali membentuk tanda salib di dada. Kemudian melanjutkan berdoa.

Kepala merah itu duduk di hadapannya. Menopangkan kepalanya di atas meja. "Kamu kenapa?"

Baldr membuka mata setelah sekian lama. Dia menatap Surt. Lalu menggeleng. "Cuma dapat firasat buruk.." katanya pelan. Lalu kembali berdoa lagi.

Mungkin firasat buruknya Baldr itu seperti kelas mereka akan diserang siluman harimau atau wanita laba-laba putih –oke, tidak lucu-. Tapi Surt tertegun. Kemudian jatuh ke dalam diam yang begitu lama.

Semuanya berjalan seperti biasa. Kali ini pelajaran Pak Kardia. Fisika. Tapi mereka hanya diharuskan membuka silabus sambil berdiskusi untuk menambah pengetahuan dan menembel-nembel apa yang masih kurang jelas –meski Fisika adalah ilmu pasti dan tidak ada remang-remangnya sama sekali-.

Surt diam saja saat membaca kembali rumus-rumus dan membalik lembar demi lembar LKS. Frodi yang duduk di sampingnya menatapnya. Kemudian berkata dengan nada biasa. "Aku tahu kamu kemarin keluar malam.."

Dan Surt menoleh ke arahnya. Tidak perlu efek 'DEG'. Dirinya sama sekali tidak kaget, bahkan jika itu memang sesuatu yang mengejutkan untuk ukuran Frodi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Teman sebangkunya bukan tipe ember. Dan dia tahu itu.

"Kenapa enggak sekalian setiap malam saja?"

"Kau mau membuatku kena akupuntur dari Pak Fisika di depan kita ini?"

Kemudian Surt menampar mulutnya sendiri. Sadar kalau orang yang mereka bicarakan ada di kelas. Dirinya dan Frodi langsung menatap ke meja guru. Was-was.

Kardia tertidur.

Lebih dari bagus.

Kepala biru dan merah kita menghela nafas lega.

"Aku tahu itu beresiko. Tapi bukannya tidak masalah kalau kau sedikit lebih.. 'memaksa'..? Kita kan nggak akan tahu apa yang terjadi. Mungkin nanti pas pulang sekolah kamu ketabrak motor? Atau besoknya ada musibah? Kamu meninggal dalam tidurmu, atau kena serangan jantung, atau ke-"

"Oh, kau mendoakanku seperti itu? Oh ya, terimakasih. Aku senang sekali. Sangat membantu -_-"

"Maaf.."

Dan Frodi mengambil nafas lagi, melanjutkan ucapannya.

"Bukannya waktumu dengan Camus itu.. Cuma sedikit...?" tanyanya dengan nada hati-hati. Sungguh hati-hati.

Surt menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Dia menatao ke atas. "Ya. itu benar."

"Dan Camus adalah orang yang dingin, Surt. Kamu butuh lebih dari sekedar 'perhatian'. Banyak memori kan bagus.."

"Tidak.."

Surt menggeleng. Dia tersenyum. Lalu menutup matanya.

Camus? Dingin?

Tidak. Camus itu terlalu manis.

Manis sekali untuk ukuran es balok.

Tapi masalahnya kalau dia bukan es balok. Terus Camus itu apa? mungkin bisa diinterpretasikan sebagai es krim? Atau bittersweet? Atau bagaimana? Ah tidak. Masa bodoh.

Surt merekam semuanya kok di otaknya. Reaksinya. Gaya bicaranya. Wajahnya. Perkataannya. Bahkan tawanya.

Ya.

Kemarin Camus tertawa saat di taman. Bukankah rasanya menyenangkan? Langka sekali loh si kepala cendol itu tertawa. Itu lebih dari cukup untuk Surt saat ini. Dia bahagia. Selalu.

Meski tidak akan ada yang tahu.

"Nggak penting kok kita sering keluar atau tidak. Tapi yang namanya sahabat sejati itu kayak pacar, selalu ada di momen-momen penting. Bedanya, pacar akan jadi mantan. Sahabat tetap ada selamanya."

"Cie sok bijak~." Frodi terkekeh.

Surt menghiraukannya. Kemudian suara langkah berat terdengar. Lalu secuil rambut pirang mencuat dari balik pintu. Ada Pak Hypnos.

Oh.

Pantas saja Pak Kardia ketiduran.

Surt menaikkan alis. Apalagi saat menyadari pria itu tidak sendirian. Ada satu lagi kepala yang nyelonong dari sana. Rambut merah, pria cantik yang belakangan mengisi harinya di sore lalu. Andreas.

Kali ini Baldr menggenggam erat kalung salibnya.

Frodi terheran. Sejenak semuanya hening. Suasana kelas berubah. Ada apa ini?

"Surt.." kata Pak Hypnos. Langsung ke poin penting.

"Temui saya di ruang kepala sekolah. Sekarang."


XXX


Ternyata itu dari keluarga Surt. Ibunya mengirim surat. Kalau dirinya sedang sakit dan butuh perawatan lebih lanjut, dia merindukan anak semata wayangnya. Karena Sinmore sudah hidup bahagia di alam sana.

Surt menatap surat itu. terdiam. Peluk cium dari ibunya yang sedang diruwat di rumah sakit membuatnya bungkam.

-Kamu sekalian juga pindah ke Asgard lebih cepat. Ayahmu sudah mengurus administrasi antara Asgard dan Sanctuary. Kau akan mendapatkan bimbingan langsung dari dosen Asgard (entah kenapa ini terdengar sedikit mengerikan). Setelahnya langsung masuk ke universitas tanpa hambatan dan syarat. Prestasimu lebih dari cukup. Sekarang pulanglah. Ibu menunggumu, Sayang.

Peluk Cium.

Dari ibumu yang sedang sakit-

Entah kenapa ada perasaan aneh. Surt kecewa. Bahkan ini belum genap satu semester, dan dirinya sudah disuruh pulang. Pria itu menelan semua emosinya. Pahit dan bulat-bulat. Mencekik di tenggorokan. Matanya panas.

Hypnos mengamatinya dari sudut ruangan. "Ayahmu sendiri yang mengantarkannya kesini. Sudah ada pesawat ke Asgard nanti malam. Itu tiketnya ada di belakang surat. Kemari barang-barangmu."

"Tapi nilai saya Pak-?"

"Rapor sisipanmu akan kami serahkan ke bagian beasiswa Universitas Hilda-sama. Posisimu sudah jelas. Kau dapat kursi jadi mahasiswa unggul beberapa bulan yang akan datang. Semuanya beres. Jangan khawatir, kau hanya tinggal menjalaninya saja."

Beres?

Semua ini disebut beres?

Surt tidak terima. Tapi dia hanya mengepalkan tangan. Lalu melangkah berat-berat keluar ruangan. Surat dispensasi pulang –sekaligus surat dispen terakhirnya- diselipkan Hypnos di tangan pria itu. Andreas diam saja di sofa dengan anteng. Dirinya disana untuk menjawab pertanyaan bagaimana bagian Asgard akan mengurusi masalah kepindahannya. Tapi murid berkepala merah kita tidak menanyakan apapun. Jadi semuanya selesai.

Sampai di kelas. Surt langsung membereskan tasnya asal-asalan. Apapun dimasukkan begitu saja. Saat Frodi bertanya, dia hanya menunjukkan surat dispen dari BK dengan tampang datar. Kemudian berjalan pergi. Tanpa mengatakan apapun.

Baldr menghadang Surt di pintu. Memberikan kalung salibnya kepada pria itu. "Aku ikut sedih atas apa yang menimpamu."

Oh ya.

Jadi ini yang membuat Baldr mengadakan doa pagi seheboh pengusiran setan?

Surt hanya tersenyum. Kemudian menerima kalung Baldr. Dia terkekeh. "Tidak apa-apa. Terimakasih karena sudah berdoa untukku."

Pria manis berambut putih itu menatapnya. Mata merah delimanya berkedip. "Ibumu akan baik-baik saja.. aku janji."

"Dan aku akan percaya padamu."

Surt mencium salib di tangannya. Kemudian tersenyum. "Sampai jumpa di Asgard. Kita akan bertemu lagi."

Baldr mengangguk. Lalu menyingkir. Memberikan Surt ruang untuk berjalan pergi.

Beberapa detik berlalu.

Frodi angkat tangan. Masih tidak paham. "Surt kenapa? Tim sepakbola kita kecelakaan terus Pak Dohko memintanya menjadi Pengganti Cadangan Gawat Darurat?"

Semuanya hening. Agaknya setuju dengan sikap Surt yang tidak dia mengerti. Baldr menatap mereka semua. Satu persatu. Secara lekat-lekat."Surt pindah ke Asgard. Ibunya sakit, karena ini sudah semester dua. Dia sekalian pulang ke rumahnya. Sekolah disana, sampai universitas saat dia bertemu kita nanti."

"Oh.." Frodi mengangguk-angguk paham.

Dan beberapa detik berlalu lagi.

"eh.. jadi begitu-EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEHH!"

.

.

.

Camus makan salad wortel di kelas. Milo menatapnya dengan tangan ditopang di atas meja. Suasana kelas kondusif seperti biasa. Saga belajar dengan Kanon –tumben-. Shaka diam saja di mejanya. Aphrodite-Shura-Deathmask membentuk gerombolan ngerumpi seperti biasa.

BRAK!

"YANG NAMANYA AQUARIUS CAMUS KELUAR SEKARANG JUGA!" teriak Frodi setelah men-sparta pintu kelas mereka tanpa peri kepintuan. Saga langsung berdiri, dia menatap tajam siapa yang datang. "Ini kelas. Diharap kondusif."

"Kami sedang tidak dalam suasana kondusif, mantan Pak Ketua," kata Frodi ganti menyipitkan mata. Gerombolan anak di kelasnya ikut serta, bahkan Fafner –sebenarnya pria jangkung kelewat tua itu Cuma ikut-ikutan sih-.

"Saya Cuma ingin memanggil Camus. Kami ada urusan dengannya."

"Buat apa lo ngerusuh terus teriak-teriak manggil sahabat gue?" tanya Milo dengan wajah gahar. Dia kesal waktu istirahatnya diganggu. Apalagi jika teman terdekatnya kena masalah seperti ini. "Lo mau apa? Kalo mau nyeret Camus. Berantem sama gue duluan sini."

"Nggak. Kita dalam cara damai," sahut Hercules dari luar.

"Menendang pintu kelas seperti itu disebut cara damai? Oh. Aku baru tahu," kata Saga dengan nada sarkasme. Dia menyilangkan tangan.

"Pokoknya kami pengen Camus ikut kami sekarang juga."

"ORA ISO (TIDAK BISA)! Apa sih masalah lo semua sampe sahabat gue ketilapan!"

"Itu masalah yang sebaiknya nggak lo tahu.." sahut Sigmund kali ini. Memang, Milo akan merusak semua rencana mereka kalau sampai tahu.

"Nggak bisa! Masalah Camus, masalah gue juga!" kata Milo. Dia menghantam meja. Sangat keras. Sekelas hening. Kanon nyengir –udah niat mau jadi kompor-.

"Teman-teman. Kurasa kita bisa selesaikan dengan bicara.." ujar Baldr yang tumben-tumbennya menginterupsi.

"Oh, jadi masalah Surt itu masalahmu juga?" Frodi terpancing. Dia benci sekali urusannya tidak segera selesai. Saga menatapnya makin tidak suka.

"Sejak kapan anggota OSIS jadi mementingkan masalah tidak jelas seperti ini. Kalau kalian mau meminta secara baik-baik. Katakan duduk perkaranya. Baru kita bisa tahu."

"Kau tidak percaya padaku Saga?"

"Kacang goreng~ kacang goreng~~"

"Saya percaya sama kamu. Tapi cara kamu masuk kesini tidak bisa saya terima. Memangnya siapa juga yang suka pintu kelasnya ditendang seperti itu?"

"Micin~ micin~ 5 rebu. 5 rebu. Dijual terpisah. Menjadi bumbu penyedap rasa."

"Tetek benget lain-lain akan kita bahas nanti. Ini masalah darurat Saga! Ini menyangkut kesenjangan sosial, dan kesejahteraan kelas.. dan micin.. ah hiraukan."

"Es cendol. CENDOOOOL~ CENDOOOL~~.."

"Itu hanya demi es cendol-ARGH. Itu hanya demi kesejahteraan kelasmu. Kesejahteraan kelas saya saya kompromi disini."

"Pensil faber castle~, sarung gajah mungkur, es degan, es teller-"

"DIAM KANON!"

Frodi dan Saga ngos-ngosan. Memelototi seseorang yang jualan –sekaligus mengompori- mereka dengan cara yang tidak biasa. Semua orang menoleh ke Kanon, sementara yang dilihat hanya memasang wajah inosen. "Apa? gue kan Cuma pengen menanamkan jiwa kewirausahaan?"

"Daripada itu.." Shaka mulai kesal. Dia menatap Saga dan Frodi. Kemudian Camus. "Kunci masalah kalian malah anteng-anteng saja. Apa ini tidak salah?"

Oh ya. Camus.

Frodi pun langsung melesat dan membawa Camus. Kemudian berlari pergi ke bersama teman-temannya secepat Hercules dikejar Zeus. Semua orang tersentak. Saga benar-benar murka. Urat lehernya mencuat. Dia menatap ke pintu kelas mereka yang kosong. Tersangka mereka kabur.

"Pak Ketua.. anda baik-baik saja..?" tanya Aiolos. Menepuk bahu Saga. Dan pria itu langsung mendongak gahar. Menunjuk keluar kelas.

"KEJAR JAHANAM YANG LARI!"

Seluruh anggota kelas langsung berdiri. Lalu hormat.

"SIAP PAK!"


XXX


Ini sinting. Sungguh.

Ini fanfic atau apa?

-perlu diketahui kalau pengarang juga mengatakan hal yang sama saat mengerjakan chapter ini, hanya saja dengan bahasa yang lebih kasar-.

Camus seumur hidupnya tidak pernah digeret langsung keluar kelas di tengah jam pelajaran. Tanpa dispensasi. Tanpa persetujuan guru yang mengajar, atau surat pernyataan ke pihak sekolah.

"Jadi kalian ini menyeret saya karena apa?"

"Kamu," Frodi memojokkan Camus seperti disidang. Dia menunjuk wajah balok es pria itu dengan mata menyala-nyala.

"Nanti siang makan apa?"

"Salad dan kentang goreng."

"Nanti malam ada acara atau tidak?"

"Tidak ada."

"Bagus!"

Frodi melirik teman sekelasnya. Mereka lalu memasang wajah seringai. Camus mulai merasa tidak enak. Tapi wajahnya tetap stoic.

"Ada apa sih?"

"Surt akan pindah ke Asgard malam ini."

KRIK.

Lalat terbang dari sarangnya.

"TUNGGU!" kata Aquarius kita. Dia membelalak tidak percaya. Tidak mungkin! Ini semua salah!

Termasuk pernyataan author tentang lalat yang terbang dari sarangnya #doublekrik #galucu.

"Bagaimana bisa?" tanya Camus kemudian. Frodi menarik senyuman miring. "Makanya kamu harus ikut sama kami!"

Baldr tersenyum. Dia menyerahkan kalung salib pada pria berambut hijau itu. "Kami semua ada untuknya. Kau juga harus ada. Kami mohon kerjasamamu. Ya?"

.

.

.

Surt menatap sekelilingnya. Dia mendapati suasana orang-orang mau mudik. Bandara bersih. Tas-tas dan koper. Ruangan ber-AC. Speaker. Area penitipan mobil. Orang-orang jualan. Dan lain-lain. Dan lain-lain.

Dirinya gak suka.

Ini selalu bikin dia inget pas mau pindah dari kota Camus. Sebenarnya bisa dikatakan mudik sih, tapi nggak balik-balik –yaelah-. Ayahnya menepuk pundak pria itu. "Ayo, bentar lagi kita mau berangkat loh."

Surt mengangguk-angguk. Pegangan tasnya makin memberat. Dia berjalan mengikuti pria yang lebih tua itu. Tiket di tangannya seperti sah-sah aja dibanting ke selokan. Dirinya gak pengen pindah. Please. Pake mata bling-bling waktu mau bilangnya.

Tapi setelah melihat keadaan ibunya yang terpasang selang di hidungnya itu. Surt tidak tega. Durhaka sekali dirinya kalau sampai tidak berada di sisi orangtuanya disaat seperti ini. Pria itu menggenggam erat ponselnya.

Seenggaknya dia pengen ketemu Camus.

Tapi nggak tahu gimana caranya ngasih kabar.

Lewat e-mail? Mendadak sekali.

"DEMI KEBAHAGIAAN MAHASISWA!"

Dan demi apa. Surt mendengar suara Frodi.

"Mahasiswa apaan. Lu SMA aja belum lulus. Nggak usah sok-sokan pake kata mahasiswa -_-"

Dan dia mendengar suara Hercules menggeplak Frodi.

"GILA LU! BARUSAN KITA DIAMUK MASSA! MASA MANTAN KETUA OSIS NGUMPULIN ANTEK-ANTEKNYA BUAT NGEHAJAR KITA! UDAH GUE BILANG KALO SAGA ITU NGGAK BOLEH DILAWAN! KUMAT TAHU RASA LO!"

"Bodo amat! Semangat 45! Jangan kalah kayak Bung Tomo di peristiwa 10 November Surabaya! Ayo kita kejar! SUUUUUURRRRTTT!"

Ini masih hari pahlawan btw. Oh ya, Surt jadi ingat Kapitan Pattimura.

PLEK!

Surt dibekep. Matanya disikap kain hitam. Dia melotot. Berontak. Kayak orang kesurupan. Seluruh bandara diem aja. Antara mau nolongin sama takut yang ditolong orang gila.

"APAAN SIH ELU! INI KITA!"

Dan Surt baru sadar. Kalau tangan bau petai yang menyingkapnya tadi adalah milik Fafner.

"APAAN SIH LU! GILA LU! LU MAU NYULIK GUE? GUE BISA DIMARAHIN SAMA BOKAP! BELUM PERNAH NGERASAIN DIBACOK PAKE GOLOK MADURA YA!?"

"Surt.."

Dan mata Surt pun dibuka. Dia tadi nggak kerasa apa-apa. Sungguh. Tapi yang dia Cuma tahu adalah... di depannya ada Camus. Dirinya sekarang di pinggir balkon. Dengan udara yang bersih. Bukan udara AC. Nggak ada tas dan koper-koper. Nggak ada suara speaker. Entah dirinya tadi dibius atau gimana tapi..

Di depannya ada Camus.

"Ca-Camus..?"

"Hei."

Cowok itu lagi makan salad wortelnya. Duduk dengan santainya di kursi balkon. Nggak ada tanda-tanda baru pulang sekolah. Cuma baju kasual dan kotak makan salad wortel. Surt makin ngerasa aneh. Dia pun ikutan duduk.

"Anu.."

"Kenapa kamu nggak bilang ke saya kalau mau pindah ke Asgard?" tanya Camus langsung. To the point.

Surt diem. Dia bisa jelasin. Tapi nggak tahu gimana caranya.

"Ibuku sakit.." ucapnya kemudian.

"Nah. Itu baru jelas.."

Aquarius kita meminum minumannya. Dia menatap Surt. "Jangan sampai seperti waktu itu.."

Matanya biru, masih seperti dulu. Tapi ada sesuatu yang lain.

Perasaan tidak mau ditinggal. Tidak rela Surt pergi.

"Saya tidak mau kamu tiba-tiba menghilang seperti saat saya 6 tahun. Saya makin merasa bersalah."

Ah ya. Waktu itu Surt tidak mengatakan apapun pada Camus soal kepergiannya. Dirinya hanya tidak tahu bagaimana caranya. Bahkan sekarang pun. Kalimat 'ibuku sakit' tidak bisa menjelaskan segalanya. Sahabatnya juga pasti tahu itu.

Ya.

Dia memang tahu.

"Tapi nanti aku akan mengunjungimu," kata Surt cepat. Tidak mau Camus lebih kecewa lagi. Pria di hadapannya menghela napas. "Bagaimana kalau mengirim e-mail setiap hari?"

"Itu bagus."

"Aku akan mengirimkan foto-fotoku!"

"Itu juga bagus."

"Ah.. tidak biasanya kau selalu setuju denganku," kata Surt dengan nada menggoda. Lalu Camus tertegun. Ah, ekspresi itu.

Balok es dihadapannya memang manis.

"SUUUUUUURRRRT!"

Pria itu tersentak saat hendak mengambil minuman. Kalau saja dirinya benar-benar jadi minum. Pasti akan disemburkan saat itu juga. Surt kaget. Lalu langsung menoleh ke bawah tempat suara dari toa itu berasal.

Di bawahnya ada teman-teman sekelasnya. Membawa spanduk bertuliskan 'GOOD BYE SURT! KEEP SMILE!'

"ELU SEMUA UDAH GILAAAAA!" teriak Surt dengan kepala menjorok ke bawah. Demi bisa melihat ekspresi teman-teman seperjuangannya dari atas. Dirinya senang. Terharu. Kesal. Bahagia. Di waktu yang bersamaan. Frodi bawah toa, Baldr menebarkan bunga, Sigmund, Hercules, dan Fafner membawa spanduk.

"JANGAN LUPAIN KITA-KITA YA!"

"ELU HARUS KASIH KABAR KE KITA SETIAP HARI!"

"GUE GAK BAKALAN KANGEN SAMA LU KAMPRET!"

"KALO DIAJAR PAK ANDREAS HATI-HATI YA!"

"OLEH-OLEH JANGAN LUPA! KIRIM SEKALI DALAM SEBULAN!"

"MOGA IBUMU CEPETAN SEMBUUUUUHHH!"

"GOODBYE SURT! KEEP SMILE!"

Surt hampir nangis. Dan hadiah-hadiah dari teman-temannya dilempar ke atas begitu saja. Pas dia tangkap. Dia pun balas teriak. "MAKASIH! GUE SAYANG ELU SEMUAAAAA!"

Camus hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menepuk kepala Surt. Membuatnya menoleh. Lalu memberinya sekotak marsmellow. Coklat beku. Ditusuk-tusuk seperti waktu.

"Aku akan merindukanmu."

PLOK!

Surt memeluknya. Sangat erat. Sampai kotak di tangan Camus hampir jatuh. Pria itu tersenyum pelan, seakan tidak bersalah. "Aku juga akan merindukanmu.."

Sekarang pesawat milik Surt bisa terbang dengan damai. Diiringi dengan tepukan tangan teman sekelasnya dan tebaran bunga milik Baldr. Semakin lama semakin menjauh. Sampai akhirnya tidak tersisa lagi. Frodi melambai-lambaikan tangan. Begitu juga dengan Camus. Dia melirik teman-teman sekelas sahabatanya itu.

"Saya tadi kurang manis ya?"

"Tidak. Kau benar-benar manis.." kata Sigmund sambil menepuk pundak Camus. "Sweater oversize itu sangat cocok untukmu."

"Ah.. kita kebanyakan teriak hari ini.." suara Frodi sudah habis. Dia pun minum air putih. Baldr menepuk-nepuk punggung pria itu. Membuatnya cepat pulih.

Camus menatap ke atas. Barangkali ini Cuma sebentar. Sebentar sekali. Tapi dia senang. Puas.

Mungkin yang tadi itu masih kurang. Tapi dalam ingatannya akan terus terpatri. Ah ya, persahabatan itu bukan soal banyaknya momen indah. Seperti pacaran. Sahabat itu kadang-kadang manis sekali.

Terlalu manis sampai tidak bisa dilupakan.

.

.

.

Sampai jumpa Surt. Semoga sukses di Asgard.


XXX


.

.

.

.

.

.

-FIN-

.

.

.

.

.

.


XXX


Written with love,

SR.

.

For : Periculum in Mora

Special Thanks : Hades'Ai

*Borders © Amber F(x), SM Entertaiment

All Readers.

Salam Kompor Gas,

Shakazaki-Rikou.

See you next stories.

.

.

.

.

"Dimana mereka!"

Saga menatap nyalang anak-anak buahnya. Aiolos melapor.

"Belum ketemu, Pak."

"Cari sampai ketemu! Tidak ada tapi! Nggak ada istirahat! Ngondek! Ngapel! Beli kosmetik! Pokoknya cari terus!"

"Siap pak!"


-Terlalu Manis-

Disclaimer : Saint Seiya © Masami Kurumada.

Saint Seiya LC © Shiori Teshirogi.

The OC belongs to me, so, don't like don't read.

.

.

.

.

Rate : T

.

.

.

.

XXX

BONUS CHAPTER : 'WHITE EPILOG'.

XXX

Saga menyibakkan rambutnya yang basah. Pria itu melangkah naik dari dalam kolam renang. Lalu mengibaskan surai ungunya perlahan.

Tenang saja. Takkan ada yang mimisan dan berteriak-teriak tidak jelas seperti saat dirinya masih SMA lalu. Ya, SMA lalu. Beberapa bulan yang lalu dirinya baru lulus.

Karena begitu banyak tawaran untuk masuk universitas ternama. Saga tidak perlu repot-repot berpikir harus memilih akan sekolah dimana. Dia sudah menemukan jurusan dan fakultas yang cocok, kemudian menghubungi universitas tempat dia akan masuk dan selesai sudah. Pria itu kini bisa liburan dengan tabungannya yang kelewat banyak.

Yang merepotkan adalah Kanon. Karena meskipun dirinya bisa diterima, memiliki predikat sebagai adik kembar siswa berprestasi takkan membantu bocah biru bandel itu untuk masuk universitas bagus. Tapi syukurlah dengan bantuan Aiolos, Kanon bisa masuk ke universitas yang berbeda dengannya. Bersama 'teman-teman'nya.

Aiolos masuk ke institut yang sama dengan dirinya, Milo, Aiolia, Mu, Shaka, dan yang lain juga demikian. Hanya saja berbeda jurusan. Entah ini takdir atau memang mereka akan selalu bersama bahkan di bangku kuliah sekalipun. Kecuali Camus, dia pergi ke Prancis untuk memenuhi undangan almamater suci Sorbonne. Susah menenangkan Milo belakangan ini. Berpisah dengan sahabat setianya.

Bagaimana dengan rusa api biru kita yang selalu memenuhi 4 chapter terakhir? Tentu saja dia ada di Asgard. Pulang kampung. Kabarnya pria itu bisa bersekolah dengan 'sangat' bahagia.

Saga menatap ke cermin saat dia ada di kamar mandi. Mengeringkan rambutnya dari air yang kelewat banyak.

Musim gugur sudah mulai. Dedaunan kering mulai muncul.

Ah ya, dan tentu saja 'tempat ini' punya banyak sirup maple yang manis.


XXX


"Lucu!"

Rose memeluk boneka kucing putih yang cukup besar itu. Begitu menggemaskan seperti yang memeluknya, -narsis dikit kan gak masalah. Lagipula sejak awal Rose gadis baik-baik. Lemah lembut dan tidak sombong kok.-

Dedaunan kering maple memenuhi taman itu. Tapi jalan setapaknya tetap bersih. Rose duduk di bangku taman. Dia tadi menerima undangan kalau akan bertemu di jam segini, tapi tidak tertera namanya.

Harusnya gadis itu waspada, barangkali dirinya akan diculik atau bagaimana. Apalagi dengan 'sogokan' berbagai macam hal yang disukainya terhidang di meja samping bangku yang ditandainya itu. Boneka kucing putih, macaroon, makanan manis, sirup maple, dan juga satu vas bunga kecil yang diisi bunga-bunga cantik. Ini seperti kencan buta.

Tidak. Ini terlalu banyak. Meskipun senang. Rose sendiri juga merasa takut. Yang menyajikan 'sogokan' ini pasti begitu mengenalnya. Sampai tahu kalau sebenarnya dia suka makanan manis. Boneka lucu. Sirup maple. Bahkan latar tamannya di tengah musim gugur. Semua ini yang disukai gadis itu.

Rose menatap boneka kucing itu. Menggerak-gerakkan tangan bonekanya seakan mereka sedang berbincang. Gadis itu menaikkan alis.

"Kau tahu siapa yang mengajakku kemari?"

Boneka itu digelengkannya.

"Apa dia mengenalku sampai sejauh ini?"

Boneka itu diangguk-anggukkannya.

"Apa aku harus bersikap buruk padanya?"

Boneka itu digelengkannya lagi.

"Menurutmu kenapa dia mengajakku kesini?"

"Untuk mengembalikan lagi jepit rambut yang secara ceroboh dia tinggalkan di tasnya yang terjatuh."

Lalu sebuah tangan besar menyampirkan rambut pirangnya ke samping. Menjepitkan sebuah aksesoris bunga mawar di samping telinga gadis itu.

Rose tersentak. Dia menoleh ke belakang. Surai ungu panjang yang baru ditangkap radar penglihatannya menarik mata. Rose benar-benar sadar sekarang.

Langkah kakinya terdengar tegas, membuat siapapun terjaga. Mata hijaunya bersinar tenang. "Punyamu 'kan?"

Sama seperti waktu itu. Bedanya kali ini Saga memakai pakaian kasual. Sweater turtleneck lengan panjang warna biru tua dengan celana jeans hitam. Tangannya dia simpan di saku celana.

Rose berkedip. Seperti waktu itu juga. Bedanya wajahnya sudah merah semua. Dia samarkan dengan boneka kucing pemberian pria itu. Jantung gadis itu berdegup kencang.

"Kak.. Saga..." gumamnya.

.

.


XXX


For : Hades'Ai

.

Dengan begini, semua urusan telah selesai.

.


XXX