Chapter 1 : that bastard
.
Dari antara dua pilihan itu, tentunya aku tidak akan memilih keduanya. Tapi, jika aku harus berpikir dengan penis serta cairan yang semakin menggangu diriku di bawah sana. Mungkin, aku sudah memohon padanya untuk mendesakkan penisnya ke dalam hole-ku. Dan kalau begitu, tindakannya tidak bisa disebut sebagai rape lagi. Karena aku menginginkannya. Persetan, apa sih yang sebenarnya kupikirkan?
"Mon petit ours, aku bukan pria yang penyabar. Aku ingin mendengar jawabanmu sekarang," suaranya terdengar sangat menuntut dan mendesak. Jelas sekali kalau Oh sehun adalah seorang Alpha yang dapat mengintimidasi siapapun, termasuk kaumnya sendiri. Aku mulai bertanya-tanya seberapa besar kekuasaannya sebagai Alpha. Aku yakin dia bukan tipe Alpha yang bekerja di belakang meja kantor seharian. Jika dilihat dari seringai serta perangai buruknya, Sehun adalah tipe Alpha pemimpin yang terlibat dalam bisnis kotor serta ilegal.
Intinya, dia berbahaya. Dan sebaiknya aku tidak meremehkannya. Sebab ancaman Sehun tidak seperti ancaman kosong belaka.
Aku menggigit bibir membuat pria itu mengernyitkan dahinya. Dan saat itulah, aku menggunakan kesempatan untuk menendang selangkangannya sekeras mungkin. Membuat Sehun merintih dan melepaskanku. Dia segera mengaduh kesakitan sambil menutup bagian privasinya dengan satu tangan. Wajahnya memerah bukan karena malu, melainkan karena marah. Fuck, dia sangat marah. Aku bahkan dapat mendengar geramannya yang menyerupai geraman werewolf.
Jantungku berdetak sangat cepat seolah aku baru saja lari bermil-mil jauhnya. Nafasku terengah menimbulkan suara yang bahkan dapat didengar oleh bajingan itu. Aku jelas sangat ketakutan, tapi aku berusaha menutupinya dengan ekspresi kaku. Telapak tanganku terasa basah oleh keringat begitu aku mengarahkan pistol padanya. Bukannya, terlihat terancam oleh pistol yang kuarahkan padanya. Sehun malah menyeringai. Dia tampak bengis. Dan ini bukan pertanda yang bagus.
"Sudah kuduga, kau memang Omega yang berbeda dari lainnya. Dan jujur saja, itu yang membuatmu lebih seksi daripada Omega-omega jalang itu," Sehun mengambil langkah mendekat padaku. Ia dengan sengaja menempelkan ujung pistolku pada keningnya. Membuat mataku terbelalak, kaget. "ayo, tembak aku. Bunuh aku, mon petit ours. Aku tidak keberatan karena kematian bukanlah hal yang kutakuti. Tapi, asal kau tahu saja setelah mereka menemukan tubuhku tak bernyawa. Mereka akan melacakmu dan membunuh semua orang yang ada di sekitarmu. Mereka akan membuatmu melihat apa yang akan mereka lakukan pada keluargamu. Dan kemudian, setelah merasa puas melihatmu menderita. Mereka akan memperkosamu, merusakmu dan barulah memotong tubuhmu. So, go ahead. Shoot me,"
Tubuhku terasa lemas tak berdaya setelah mendengar perkataannya. Aku tidak tahu siapa 'mereka' yang Sehun maksud. Namun, kusimpulkan kalau Sehun adalah orang yang cukup penting sampai kematiannya pun dapat berimbas besar terhadap diriku dan orang-orang itu. Tanpa kusadari, tubuhku bergetar hebat. Nafasku bukan lagi terengah, melainkan menyesak. Tanganku terjatuh lunglai tak lagi terarah padanya. Aku masih menggenggam pistol itu, tapi keberanian untuk menekan pelatuknya dan membunuh Alpha bajingan itu tidak lagi ada di dalam diriku. Kepalaku tertunduk tidak mau melihat seringai penuh kemenangan di wajah Sehun.
Fuck, fuck, mengapa aku bisa selemah ini? Seharusnya, aku menembaknya sebelum ia mempengaruhiku dengan kata-katanya.
"Oh, baby, itu adalah pilihan yang bagus. Kau tidak tahu betapa menyesalnya dirimu setelah membunuhku. Untungnya, aku masih mau berbaik hati memperingatkanmu," Sehun tersenyum padaku. Sejenak, aku berpikir kalau mungkin dia tidak seburuk yang kupikirkan.
Namun, dugaanku segera lenyap begitu dia membenturkan kepalaku ke pintu dengan keras. Karena tindakannya yang tiba-tiba, aku tidak bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menghindar. Tubuhku langsung jatuh merosot ke lantai dengan posisi duduk bersandar pintu. Aku dapat merasakan rasa sakit serta pening yang menyerang kepalaku. Aku yakin kalau kulit di sekitar pelipis mataku sobek sebab aku dapat merasakan darah mengalir turun. Penglihatanku mulai samar serta kesadaranku berada diambang-ambang. Namun, aku dapat mendengar bisikan terakhir Sehun sebelum akhirnya aku menutup mata, tidak sadarkan.
"Dan itu adalah peringatan kedua untukmu agar kau tahu kalau tidak seharusnya kau bermain-main dengan seseorang sepertiku, mon petit ours,"
.
.
Aku terbangun begitu mendengar suara bantingan panci dari arah dapur. Mataku mengerjap menyadari kalau aku masih berada di dalam apartemenku. Seperti kilas balik, aku diingatkan oleh memoriku atas apa yang sebelumnya terjadi. Apa aku bermimpi? Sehun tidak benar-benar membunuh seseorang di dalam apartemennya lalu datang ke apartemenku dan berakhir membenturkan kepalaku pada daun pintu.
Namun, begitu menyadariku kalau tangan serta kakiku terikat pada bangku. Dan entah bagaimana caranya, aku sudah tidak berpakaian dan hanya mengenakan celana dalam berbahan ketat yang menghimpit penisku. Aku berusaha melepaskan diriku, tapi ikatannya begitu kuat.
Seolah tidak ada yang terjadi, Sehun datang dari arah dapur menuju ke arahku yang berada persis di tengah apartemen. Dia membawa semangkok ramyeon yang baru matang. Lalu, menempatkannya di atas meja nakas yang berada di samping sofa. Ia duduk di atas sofaku seakan dia memilikinya. Matanya sekilas melirik ke arahku dengan wajah bosan, lantas beralih pada layar televisi yang menunjukkan acara musim kawin beruang. What the actual fuck?!
"Lepaskan aku, Sehun. Aku janji tidak akan melaporkanmu pada polisi. Hell, aku bahkan melupakan kejadian ini." lalu, mencari apartemen baru dan meminta perlindungan pada FBI atau divisi Omega.
Sehun menoleh ke arahnya. Ia tampak tidak tertarik dengan penawaranku dan itu berhasil membuatku semakin cemas. "Kau pikir aku akan percaya padamu? Aku sudah mengecek latarbelakangmu dari pekerjaan, keluarga dan semuanya. Aku tahu kalau kau adalah tipe Omega pembangkang, tapi sangat taat pada hukum," balas Sehun lalu berbalik mengamati dua beruang yang sedang berguling-guling.
Aku nyaris kehilangan akal. Kuputar otakku berusaha mencari cara agar aku bisa keluar dari apartemen dan mencari pertolongan. Ada satu ide yang terlintas di otakku. Ide yang mungkin dapat mengalihkan fokus Sehun dan memberikannya celah untuk memberontak. Tapi, sungguh, ide ini bisa saja berbalik menjadi bumerang untukku. Mengingat, aku sangatlah depresi terhadap sentuhan Alpha beberapa jam yang lalu.
"Sehun," bajingan itu tidak menjawab atau bahkan menoleh padanya. "fuck me," dan barulah, aku mendapatkan perhatian Sehun. Pria itu menatap lurus ke arahku dengan pandangan yang menyiratkan banyak hal. Ia terlihat tidak terkejut sama sekali. Bahkan, ia masih terlihat bosan dan tak beremosi.
"Aku bukan seorang idiot, Kim Jongin. Aku tahu kalau kau bukan tipe Omega seperti itu. Tapi, kalau itu yang kau mau. Aku bisa melakukan sesuatu," Sehun menyeringai lebar. Menandakan kalau ide ini benar-benar buruk dan seharusnya tidak ku lakukan.
Sehun berjalan mendekat ke arahku. Pria itu berlutut di depanku dan kemudian mulai membuka ikatan kakiku. Sebelum aku sempat menggerakkan kakiku, ia sudah menahannya seolah ia dapat membaca pikiranku. Matanya mengerling nakal ketika ia memaksa diriku untuk melebarkan kaki. Aku membuang muka tidak mau menatap dirinya. Pandanganku tertuju pada jam di dinding yang menunjukkan pukul setengah tiga. Aku yakin seluruh tetangga apartemenku masih tertidur lelap, sementara aku harus memghadapi Oh Sehun yang kini sedang menciumi daerah sekitar pahaku.
Ia menyentuhku dengan tangannya yang dingin. Aku tidak bisa berbohong jika aku tidak tertarik padanya. Sehun memang seorang Alpha yang tampan - sangat tampan, malah. Ditambah daya tarik serta aura berbahayanya. Sebagian diriku yang merindukan sentuhan seorang Alpha sangatlah menginginkannya. Ku ayunkan kepalaku ke belakang begitu bibir Sehun menyentuh gundukan yang menonjol dari balik underwear-ku. Underwear-ku sudah kembali basah akibat cairan yang tidak berhenti keluar dan aromanya begitu memikat sampai Sehun menggeram untuk menahan dirinya.
"Aku tahu kalau aku akan menyesali perbuatanku ini," ujar Sehun. Satu tangannya mengelus lembut pahaku. Sementara, wajahnya masih berada di antara selangkanganku. Ia menjulurkan lidahnya untuk menjilat cairan putih kental yang mulai mengalir keluar menuruni pahaku. "tapi, aku benar-benar lapar. Dan ramyeon-ku sudah menjadi dingin sekarang," lalu, dia mencumbu bibirku dengan seenaknya. Ia membuatku merasakan seperti apa rasa cairanku sendiri. Dan bukannya merasa jijik, aku malah merasa semakin horny. God, what's wrong with me? Aku bertingkah seperti Omega jalang sekarang.
Sehun adalah seorang good kisser. Dia tahu bagaimana caranya memainkan bibirku, melumatnya dengan lembut dan kemudian berubah menjadi lebih kasar dan semakin bergairah, menggigit bibirku hingga menciptakan rasa sakit yang sensual. Ia menelusuri mulutku seolah ini bukan pertama kalinya. Tanpa kusadari, aku membalas ciumannya. Bibir kami saling memagut serta menciptakan bunyi cipakan yang membuat diriku semakin terbakar.
Aku merasa bersyukur karena Sehun mengikat tanganku. Jika tidak, mungkin aku sudah mengalungkan tanganku pada lehernya. Ketika, Sehun melepaskan ciuman kami. Aku langsung mengambil nafas dan terengah. Mata cokelat gelap pria itu tertuju lurus padaku. Menatapku dengan intens tampak sedang mencari suatu jawaban di dalam diriku. Dan jujur saja, aku bahkan tidak tahu jawaban macam apa yang sedang dicarinya.
"Kapan kau akan membunuhku?" tanyaku dengan suara rendah. Aku mencoba terlihat tenang di hadapannya.
"Apa kau sangat menginginkan kematian, chérie?"
"Mungkin. Lagipula, aku tidak memiliki keluarga yang akan merindukanku. Dan, oh, berarti kau juga tidak perlu repot mencari keluargaku dan membunuh mereka,"
Salah satu alis Sehun terangkat naik. Ia masih berada dalam posisi yang sama. Ia bahkan tidak menjaga jarak denganku. "Karena mereka sudah mati. Keluargamu terlibat utang besar dengan mafia Rusia, right?"
Nada suara serta raut wajahnya berubah begitu ia menyebutkan mafia Rusia. Aku berusaha menghiraukannya dengan mengalihkan wajah. "Ya. Mereka membunuh keluargaku dan menjualku ke perdagangan Omega. Untungnya, aku berhasil kabur dan meminta perlindungan pada pemerintah. Waktu itu aku masih 17 tahun,"
Peristiwa itu terasa membekas seperti luka bakar di dalam ingatanku. Aku masih terbangun di malam hari dan menangis. Hanya karena aku memimpikan kedua orangtuaku dan para bajingan yang mencoba menyentuh tubuhku kala itu. Setelah mendapat perlindungan dari pemerintah, aku belajar dengan amat giat agar mendapatkan beasiswa di universitas impianku. Berbeda dengan Omega lainnya yang tidak ingin terlibat ke dalam dunia kriminalitas atau semacamnya, jurusan CI&F adalah impianku sejak kecil. Aku masih ingat saat ibuku bertanya apa cita-cita dan aku menjawab polisi dengan lantang. Namun, begitu aku menginjaki masa remaja dan pubertas mulai menunjukkan kalau diriku adalah seorang Omega. Cita-cita maupun impian yang awalnya masih berada digenggamanku itu terpaksa kulepaskan.
"Kau tidak akan menangis, kan?" tanya Sehun. Pria itu masih memasang ekspresi menyebalkan yang sama. Tangannya mulai mengelus-elus pahaku membuat gairahku kembali terpancing serta fokusku menjadi terbagi.
"Apa kau melihat jejak air mata dimataku? Tidak kan? Berarti aku tidak menangis. Dasar bajingan!" bentakku. Masa bodoh dengan posisiku yang berada di antara hidup, mati dan diperkosa sekarang. Aku tidak akan membiarkan pria control freak ini merasa dirinya memiliki kendali atas diriku.
Jangan karena dia adalah seorang Alpha. Ia bisa mengontrol siapapun yang diinginkannya, termasuk aku. Fuck no!
"Kalau kau bicara kasar lagi padaku. Aku bersumpah akan menampar bokongmu sampai memerah," mata Sehun mengerling tajam menunjukkan kalau dirinya serius. Dan anehnya, bukan merasa terganggu dengan ancaman vulgarnya itu. Aku malah merasa semakin.. terangsang. "Hm, aku dapat mencium aromamu, baby. Apa "kau tidak sabar merasakan jariku? Atau mungkin, penisku? Aku bertaruh kalau kau sangat sempit, baby. Aku bertaruh kalau kau dapat membuatku sesak ketika penisku menerobos masuk ke dalam-"
"Lalalalala, aku tidak bisa mendengarmu!"
"-holemu yang sempit dan hot itu,"
"Lalalala, baby love me right~" dan entah mengapa, aku malah menyanyikan lagu salah satu boyband yang selama ini kuhujat. Gosh, sebenarnya apa yang terjadi pada diriku?!
Sehun yang terlihat terhibur dengan tingkah idiotku, kemudian menyeringai. "Oh, I will fuck you right, mon petit ours,"
Sebelum aku sempat mengomentari kata-katanya menjijikkannya, ponsel bajingan itu berdering. Lagu Opera zaman Baroque terdengar membuatku merinding. Sehun bangkit dan berdiri membelakangiku. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya. Lalu, ia terdengar bercakap-cakap dengan seseorang menggunakan bahasa yang bahkan tidak kuketahui. Fuck, sebenarnya Sehun bisa berapa bahasa, huh?!
Setelah ia memutus sambungan, Sehun berbalik menghadapku. Wajahnya tampak sumringah serta seringai (seksi) kembali hadir di sudut bibirnya. "Kau harus ikut aku," perintahnya dengan intonasi menuntut. Ia terdengar seperti tidak ingin segala macam bantahan atupun penolakan dariku.
"Kenapa? Karena aku ini hostage-mu?"
Sehun menggelengkan kepala lalu berkata, "Bukan. Kau, Kim Jongin, adalah budak pribadiku mulai sekarang!"
Lalu, bajingan itu tertawa layaknya orang kerasukan. Jika saja ia benar-benar iblis, mungkin dua tanduk merahnya sudah mendesak keluar di puncak kepalanya. Aku tahu kalau membantah ucapannya itu sama saja dengan membuang tenaga sia-sia. Jadi, aku hanya diam memelototinya. Tidak mengiyakan ataupu menghujat ucapan bodohnya itu.
"Oiya, kau masih berdarah, mon petit ours. Aku tidak tahu bagaimana caranya membalut lukamu. Lagipula, aku juga tidak ingin mengotori tanganku," Sehun memasang wajah 'eww' sambil menatap lurus ke arah pelipis mataku. Aku dapat merasakan darah yang mengalir turun. Aku dapat mencium aroma amisnya yang untungnya dapat mengalihkanku dari aroma Alpha milik Sehun.
Dan kali ini, aku tidak bisa menahan diri lagi. "Dasar keparat! Bajingan! Aku membencimu!" jeritku lalu mencoba untuk melepaskan diriku. Alhasil, bukannya berhasil melepaskan ikatan ditanganku. Aku malah terjatuh ke belakang menimbulkan suara yang cukup kencang.
Sehun yang awalnya tampak geram, kemudian terbahak keras. Ia tampak sangat menikmati penderitaanku ini. Ughh, dasar bajingan!
.
.
a/n mereka bukan werewolf. Dan soal alpha/beta/omega itu dalam bidang profesi ya.. alpha jelas yg megang peran atau jabatan penting, beta itu yang mewakili gitu, klo omega itu karena kasta paling rendah jadi biasanya pekerjaan yang didapat pun nggak bisa selevel beta.. kcuali kalau omega itu memiliki prestasi kayak jongin. Baru deh dia bisa mendapatkan posisi yang cukup layak.
Anyways, if u want to ask anything to me. Just ask me, kay :).
