Chapter 2 : Bite
"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyaku. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Dan jujur saja, aku mulai kedinginan karena bajingan itu masih enggan memakaikan diriku pakaian yang layak.
Sehun yang daritadi sibuk menonton saluran Natgeo Wild melirik ke arahku sekilas dengan senyuman bengis yang membuatku menyesal telah bertanya padanya. "Aku bisa memperkosamu sekarang. Tapi, waktu kita tidak cukup," ia melirik ke arah jam tangan Rolex-nya. Aku tidak mengerti apa maksud dari peryataan terakhirnya. Namun, meski begitu aku tetap merasa bersyukur karena bajingan itu tidak memiliki waktu untuk menyentuh tubuhku.
Ngomong-ngomong, aku sudah tidak horny lagi. Yeay.
"Oke, sudah waktunya," gumam Sehun, tapi aku dapat mendengarnya dengan jelas.
"Apa maksudmu?" ia menghiraukan pertanyaanku dan berjalan pergi menuju kamarku. "Hei! Apa yang kau lakukan? Kau tidak boleh mengusik privasiku seperti itu! Aku bisa-" selang beberapa menit, ia keluar dari kamar dengan sarung bantal berwarna putih di tangannya. Ia tersenyum mengerikan layaknya iblis lalu melangkah mendekatiku. Jika, aku bisa lari sekarang. Mungkin, aku sudah lari dan menghindari bajingan ini untuk selamanya. SELAMANYA.
"Tenang saja, aku tidak mengambil salah satu dari koleksi dildomu," godanya mendapat dengusan keras dariku.
Aku tidak punya koleksi dildo. But, well, jujur saja aku punya satu dan itu juga merupakan hadiah dari teman. Jadi, itutidak bisa dibilang sebagai koleksi. Tapi, aku juga tidak akan menjelaskan hal ini padanya for fuck's sake. "Aku tebak kau sedang membayangkan dildomu itu.Well, baby, mulai sekarang kau bisa menggunakan penisku kalau kau mau. Kau hanya tinggal memintanya saja. Maka, aku akan memberikannya padamu,"
Fuck no! cairan persetan itu mulai membasahi underwear-ku lagi. Goddamnit, ini benar-benar memalukan. Aku yakin ia bisa mencium aromaku lagi sekarang. Seperti dugaanku, seringai menyebalkan serta gesture tubuhnya yang arogan itu menunjukkan kalau ia dapat menciumnya. Dan aku yakin ia tidak akan berhenti memperolokku karena caingan keparat ini.
"You love it when I talk dirty to you," kata Sehun. Pria itu semakin mendekat ke arahku memancarkan daya tarik Alpha dominant-nya yang membuatku merasa pusing karena berusaha mati-matian menolaknya. Salah satu dari sekian banyak hal yang kubenci dari bajingan ini adalah.. dia super hot! "Kau harus mendengarku bicara vulgar seperti ini dengan bahasa Itali, mon petit ours. Aku yakin hole-mu akan berkedut menjerit memintaku masuki," katanya lagi. Kali ini, jarak di antara wajah kami begitu dekat. Mataku tanpa sengaja terarah pada bibirnya yang begitu menggoda. Fuck, double fuck, tripple fuck..
"Tapi, kita masih memiliki banyak waktu untuk itu. Jadi, tidur yang nyenyak, baby!" Sehun berseru dengan riang membuat dahiku mengernyit. But, wait, tidur yang nyenyak? Apa maksudnya? Sayangnya, sebelum aku memecahkan arti dari perkataan bajingan itu. Sehun sudah terlebih dahulu memasukkan kepalaku ke dalam sarung bantal. Membuatku kesulitan bernafas dan sama sekali tidak bisa memberontak karena tangan serta kakiku terikat. Tidak sampai dua menit, tubuhku berhenti bergerak dan kesadaranku hilang.
Seingatku kata terakhir yang kuucapkan sebelum aku pingsan adalah dasar keparat kau Oh Sehun.
.
.
Hal pertama yang kulihat saat aku membuka mata adalah seorang gadis berwajah dingin yang duduk di sampingku. Dia mengamatiku tanpa ekspresi dan menatapku seolah aku adalah pendatang dari sirkus yang dianggap unik dan aneh olehnya. Hal kedua yang kulihat adalah lampu chandalier mewah serta ornamen Eropa zaman Baroque yang menghias langit-langit kamar. Untuk beberapa saat, aku hanya bisa termangu kagum dengan kemewahan serta kemegahan kamar ini. Aku pikir aku telah ber-reinkarnasi dan hidup menjadi bangsawan Eropa. Namun, begitu gadis itu membuka mulutnya lalu berbicara dengan bahasa Itali dan ia menyebutkan nama Sehun. Rasanya aku ingin mati saja ketimbang hidup dan harus menghadapi bajingan itu lagi.
"Voglio sapere perché Sehun così interessati con voi," (aku ingin tahu mengapa Sehun sangat tertarik padamu). Gadis itu menatapku rendah dan jika kuamati dari gesture tubuh serta aromanya –dia adalah salah satu Alpha bajingan seperti Sehun.
Alpha perempuan sama langkanya dengan omega laki-laki. Meskipun status mereka alpha, mereka tetap dianggap sebelah mata dalam sistem kasta sama halnya dengan omega laki-laki. Namun, jika dibandingkan mana yang lebih menderita dan selalu ditindas. Tentu saja, omega laki-laki jauh lebih menderta dan direndahkan daripada mereka. Dan, oh, fyi, meski alpha perempuan adalah perempuan yang memiliki rahim. Mereka tidak bisa hamil. Mungkin, karena itu juga mereka sangat membenci omega laki-laki yang mendapat kesialan berupa kesempatan untuk mengandung anak mereka sendiri. Ya, aku bisa hamil. Dan sungguh, aku sama sekali tidak merasa bahagia karena itu.
"Sei sordo?" tanya gadis itu membuyarkan lamunanku.
"Huh?" dan bukannya terlihat simpati, gadis itu malah semakin menekan diriku dengan tatapan sombongnya. Bitch. "Tidak, aku tidak tuli, oke?"
Lalu, wajahnya yang semula super congkak itu berubah menjadi sedikit melembut dan jika aku tidak salah lihat ada seutas senyum samar yang tersungging di bibirnya. "Kau mengerti bahasa Itali, hm?" aku hanya menganggukkan kepala. "Well, then, berarti pilihan Sehun tidak terlalu buruk. Anyways, namaku Jung Soojung tapi panggil saja aku Krystal,"
"Oke, aku Kim , aku yakin kau sudah mengenalku. Ngomong-ngomong, kapan aku bisa keluar dari tempat ini?" tanyaku dengan nada sarkastis. Sejenak, Krystal hanya menatapku dengan satu tatapan yang sulit untuk kuartikan. Namun, tiba-tiba saja gadis itu mendorong tengkuk leherku dan menciumku dengan penuh nafsu. Ia melumat bibirku seolah akan memakannya dan, sungguh, aku tidak bisa menolak ciumannya karena Krystal adalah gadis yang cantik.
"Ehem!"
Bibir kami berhenti bergerak. Krystal segera menoleh ke arah pintu dan kemudian berbalik padaku. Ia berbisik, "That was hot. Aku tidak pernah merasa terangsang oleh Omega sebelumnya. Lain kali, please fuck me on my bed." Lalu, gadis itu bangkit berdiri sebelum aku bisa merespon perkataannya. Persetan, jika seluruh anggota keluarga Sehun seperti ini. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
"Kau tahu, jika Sehun melihat kau menyentuhnya seperti itu. Ia akan memenggal kepalamu," ujar pemuda jangkung yang pernah kulihat sebelumnya. Telinganya yang tidak normal itu mengingatkanku dengan teman Sehun yang kemarin kulihat di depan pintu apartemennya. Krystal hanya tertawa lalu berbalik menghadap ke arahku dan mengedipkan satu matanya. "Whatever, Chanyeol. Aku tidak pernah takut padanya,"
Krystal melangkah keluar dari kamar. Sementara, Chanyeol hanya menghela nafas lantas mendekat ke arahku. "Selamat datang di kediaman Denommée," seru Chanyeol menyambutku dengan penuh semangat. Aku hanya menatapnya dengan aneh. Apa dia benar-benar berpikir kalau aku adalah salah satu dari mereka sekarang?
"Kau pasti sudah mengenalku. Namaku Park Chanyeol, tapi kau bisa memanggilku Maxime La-"
"Dimana Sehun? Aku ingin bicara dengannya," potongku. Membuat Chanyeol mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil. Oke, aku jadi merasa sedikit bersalah padanya.
"Dia sedang membaca di perpustakaan pribadinya. Biasanya, kalau ia sedang banyak pikiran atau merasa sedikit stress karena bisnisnya. Ia akan mengurung diri di sana," jelas Chanyeol.
What the fuck?! Itu tidak terdengar seperti seorang Oh Sehun. Siapa yang menyangka kalau pria dingin yang menyiksaku secara mental serta seksual dan, oh, jangan lupakan fakta bahwa kalau ia menculikku sekarang, ternyata suka membaca buku and hell, he even has his own library?!
"Apa kau bisa membawaku padanya?" aku menyerah bersikap kasar dan tidak ramah pada Chanyeol. Pria itu lebih mirip seperti anjing peliharaan yang selalu haus akan perhatian daripada pembunuh berdarah dingin. Jadi, aku yakin kalau pekerjaan Chanyeol di rumah ini mungkin hanya untuk menghibur Sehun. Well, that came out wrong. Chanyeol tidak terlihat seperti laki-laki penghibur juga. Ia tampak terlalu polos untuk menjadi seperti itu.
Aku berjalan mengikuti Chanyeol menyusuri lorong rumah yang lebih mirip kastil ini. Aku bertanya-tanya seberapa kaya keluarga Sehun dan apa pekerjaan pria itu sebenarnya. Aku ingin menanyakan hal itu pada Chanyeol. Namun, jika kupikir-pikir lagi sebaiknya aku tutup mulut saja. Sempat terpikir olehku untuk kabur, tapi begitu melihat setiap sisi rumah dijaga oleh para bodyguard bertubuh kekar yang masing-masing dari mereka memiliki senjata di dalam kantong setelan mahal mereka. Aku segera mengurungkan niatku dan menyiapkan rencana lain.
"Kau tidak terlihat seperti Omega," kata Chanyeol. Aku dapat menangkap matanya yang melirik biceps-ku.
"Thanks? Ini bukan pertama kalinya aku mendapat pujian seperti itu," jawabku sarkastis.
Chanyeol hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Sekarang, aku tahu mengapa Sehun membawamu ke sini," dan sebelum aku sempat menanyakan apa maksudnya, kami sudah tiba di depan pintu ruang perpustakaan yang mengingatkanku pada perpustakaan di film Harry Potter. "See you, Jongin. Semoga kau berhasil,"
Lagi-lagi, aku dibuat bingung oleh perkataannya. Dengan seenaknya, dia meninggalkanku sendirian di depan ruangan yang semakin membuatku merasa ada di Hogwarts. Aku terdiam sejenak untuk mengumpulkan keberanianku. Jujur saja, Oh Sehun adalah orang paling mengintimidasi yang pernah kutemui. Bertahun-tahun, aku bekerja di lembaga kepolisian. Aku sudah terbiasa menemui orang-orang serumit dirinya dan mencoba memecahkan mereka untuk menemukan suatu jawaban. Namun, untuk pertama kalinya, aku tidak bisa memahami dan memecahkan jalan pikiran seseorang.
Oh Sehun dengan segala tingkah bipolarnya membuatku bertanya-tanya. Sebenarnya, apa yang tersembunyi di balik seringai pemuda itu?
Aku melangkah masuk ke dalam perpustakaan dan seperti dugaanku tempat ini benar-benar seperti perpustakaan di Hogwarts. Ada puluhan rak buku yang disusun rapi berderet serta meja panjang beserta sepuluh bangku yang berada di sisi kanan dan kiri meja. Aku dapat melihat postur belakang punggung Sehun yang tegap membelakangiku. Aku mengambil langkah mendekatinya. "Sudah kubilang, Park Chanyeol. Jangan ganggu aku,"
"Aku bukan Chanyeol," teriakku lantang. Aku tidak takut padanya. Walaupun, suaranya terdengar seperti geraman sebelumnya. Namun, anehnya, aku tidak takut.
Sehun berbalik menghadapku. Wajahnya yang semula tampak tegang mulai melembut. Ia menghela nafas lalu kembali membaca buku berjudul Pride & Prejudice. Well, siapa yang menyangka kalau seorang Oh Sehun menyukai genre buku seperti itu? "Pergi," meskipun, ia hanya bicara dengan nada monoton. Aku tetap dapat menangkap suatu perintah yang harus segera kulakukan. Insting Omega-ku bekerja di luar kendaliku. Tanpa kusadari, aku segera menuruti perkataannya dan berbalik melangkah menuju pintu perpustakaan.
Hingga, akhirnya aku sadar kalau Oh Sehun bukanlah Alpha-ku. Tidak seharusnya aku menuruti perintahnya hanya karena dia adalah seorang Alpha. Langkahku terhenti dan untuk sejenak aku hanya mematung. Jantungku berdetak begitu cepat tanpa sebab yang jelas. Dengan tangan terkepal erat, aku berteriak menentang perintah, "Aku ingin pulang ke apartemenku."
Mataku terpejam erat serta tubuhku masih memunggunginya tidak berani untuk menatapnya langsung. Sudah merupakan satu hukum bagI Omega untuk menuruti perintah Alpha dan tidak menuntut pada mereka, sekalipun apa yang Omega tuntut itu merupakan hak pribadinya. Ini memang bukan pertama kalinya aku melanggar dua hukum yang seharusnya kutaati sebagai seorang Omega. Namun, untuk pertama kalinya, aku merasa salah melanggar dua hukum itu dan lama-kelamaan rasa penyesalan mulai mengusik pendirianku.
"Mood-ku sedang tidak enak sekarang. Aku tidak ingin bermain-main denganmu, Jongin," entah sejak kapan, Sehun sudah berdiri di belakangku. Ia berbisik tepat di samping telingaku nyaris membuat tubuhku menggelinjang kaget. Ia mencengkram kedua pergelangan tanganku membuatku sulit untuk berontak. "Karena aku tahu jika aku bermain-main denganmu sekarang, aku bisa lepas kendali dan kau tidak akan menginginkan hal itu terjadi,"
Sehun menjilat lengkungan leherku lalu menggigitnya dengan kasar. Aku dapat merasakan giginya yang berusaha merobek kulit leherku. Aku meringis kesakitan. Namun, aku tidak meminta ampun padanya. Seperti apa yang kukatakan sebelumnya, aku tidak takut pada Oh Sehun. Bahkan, jika ingin membunuhku sekarang. Aku sama sekali tidak takut. Dan jujur saja, aku tidak tahu mengapa.
Satu tangan Sehun melepaskan cengkramannya padaku. Sebelum, aku memiliki kesempatan untuk melawannya. Sehun tiba-tiba saja menurunkan celanaku. Fuck, aku baru sadar kalau aku tidak memakai underwear daritadi. "Already wet again, hm?" satu jari Sehun mencolek cairan yang berada di antara selangkanganku. Inilah salah satu alasan mengapa aku sangat mengutuk Omega. Bahkan, saat kami berada dalam posisi terancam seperti ini. Cairan pelumas itu tetap keluar seolah memberikan isyarat bahwa kami menginginkan semua Alpha–dan membuat kami terlihat seperti pelacur murahan.
Sehun menghimpit tubuhku hingga penisku bergesekan pada pintu perpustakaan. Bajingan itu mulai menggesekkan penisnya yang masih tertutup oleh celana pada bokongku yang semakin basah. Sebagian otak Omega yang sudah terangsang olehnya, memohon padaku untuk kali ini saja pasrah dan membiarkan Sehun melakukan apa yang selama ini kuinginkan–sentuhan seorang Alpha. Namun, sebagian otakku yang lebih kupercayai berteriak memerintah diriku untuk memberontak.
Sehun membungkukkan tubuhku hingga posisiku menungging sekarang. Bokong terangkat naik seolah disuguhkan khusus untuknya. "Aku salah, Jongin. Kupikir kau berbeda dari Omega lainnya. Namun, begitu melihat kau seperti ini. Ternyata, kau sama saja. Fucking whore and cum slut," kemudian, Sehun meludahi punggungku. Ia menginjak-injak harga diriku dan saat itu juga aku tahu apa yang harus kulakukan.
Bajingan itu harus kubunuh dengan kedua tanganku sendiri.
Kugunakan salah satu kakiku untuk menendang kaki Sehun hingga membuatnya goyah dan terjatuh ke lantai. Karena Sehun tidak menduga seranganku yang tiba-tiba, aku dapat melumpuhkannya dengan mudah. Aku segara duduk di atas perutnya dengan kedua tangan mencengkram lehernya. Ia menyeringai padaku masih menganggap kalau semua ini hanyalah permainan belaka. "Aku bisa membunuhmu kalau aku mau," bisikku.
"Boleh aku bicara jujur sekarang? Kau sangat sexy, mon petit ours," pujian dari Sehun membuat insting Omega-ku semakin menguat. Aku tidak bisa mengikuti naluriku sebagai Omega dan membiarkan Sehun kembali memegang kendali atas diriku. Aku bukan mainannya yang bisa pakai dan lecehkan demi kepuasannya. Meskipun, aku seorang Omega yang biasanya dianggap sebelah mata. Aku masih memiliki nilai serta harga diri yang aku lindungi dengan seluruh kekuatanku.
"Boleh aku bicara jujur sekarang? Kau membuatku jijik, Oh Sehun. Kau sangat menjijikkan," bisikku padanya. Sehun masih menyeringai padaku. Ia tampak tidak takut. Wajahnya begitu tenang seolah ia menantangku untuk membunuhnya. Dan meskipun, aku sangat menginginkannya. Melihat ia mati di bawah kendaliku. Jujur saja, aku tidak bisa melakukannya.
Aku ini bukan pembunuh. Aku tidak akan menjadi sama seperti orang-orang yang membunuh orangtuaku. Aku tidak ingin menodai tanganku dan menjadi sama hinanya dengan mereka.
Tiba-tiba saja, pintu perpustakaan terbuka. "Xavier-" mulut Chanyeol langsung terkatup rapat begitu melihat posisi kami yang ambigu dan tubuhku yang naked di bagian bawah. Aku segera melepaskan cengkramanku pada leher Sehun dan berusaha menutupi bagian pribadiku. "-apa yang kalian lakukan?! Kalian menodai mata polosku dan membuatku trauma,"
Sehun terbahak keras membuatku refleks menoleh menatapnya. Pria itu balas menatapku dan memberikanku satu senyuman yang nyaris kusebut senyuman tulus. Berbeda dari dugaanku, Sehun tidak terlihat dendam atau ingin melaporkan perbuatanku barusan pada Chanyeol. Ia malah terlihat terhibur oleh tindakanku barusan dan itu membuat kepalaku pening. "Je bentsoort van speciale," bisik Sehun padanya.
Aku hanya menatapnya dan tidak berkedip. Itu jelas bukan bahasa Itali atau Prancis. Mungkin, arti dari perkataannya itu adalah sebuah makian atau sesuatu yang hanya akan membuatku ingin membunuhnya lagi. Jadi, ada baiknya kalau aku tidak mengerti apa yang dikatakannya dan menghiraukan perkataan bajingan keparat itu.
"Fuck you," bisikku dan Sehun menyeringai lebar.
"Maybe next time,"
.
.
Rin's note:
Xavier Lareneev Denommée itu nama Itali Sehun. Jadi, daddy-nya Sehun itu kan orang Itali yang punya darah mafia jadi otomatis dia punya nama Itali. Dan Denommée itu nama fams Sehun dari Itali.
Anyways, aku benar-benar suka chapter ini karena menurutku Jongin bad-ass banget. Dengan melawan sisi Omega-nya yang harus tunduk dengan Alpha, dia bisa ngejaga harga diri dia dan melawan gitu OMFGG IM IN LOVE WITH JONGIN'S CHARA HERE!
Dan Oh Sehun as usually.. dia selalu hot! Dengan sisi bipolar and a bit psycho nya di sini. Menurut aku, dari semua karakter osh yang aku buat.. ini adalah karakter osh yang paling hot!
*je bent soort van speciale : you are kind of special (ini bahasa belanda lol)
