Chapter 3 : Prisioneer
.
.
"Aku ingin bicara dengan detektif Omega itu. Dia pasti tidak akan menyerah padaku seperti kalian semua. Dasar Alpha bodoh!" Luhan kemudian tertawa sinis sama sekali tidak terpengaruh oleh delikan tajam yang Kris berikan padanya.
Begitu, mereka memasuki bagian sel para Alpha. Kris menunggu Luhan menarik setiap perkataannya dan memohon untuk dimasukkan ke dalam sel khusus Omega saja. Namun, diluar dugaannya tawa Luhan malah semakin mengeras. Pria Omega itu tidak menunjukkan tanda-tanda kalau ia takut. Kris semakin mempertanyakan kewarasan Omega itu.
"Jika, kalian, para Alpha bodoh, berpikir kalau memasukkanku ke dalam sel Alpha akan mematahkan atau menghancurkanku. Kalian semua salah besar," dan Luhan tersenyum. Omega jalang itu benar-benar tersenyum. "I am unbreakable, Sir,"
Terdapat delapan deretan sel tertutup di area tersebut. Setiap sel dihuni oleh tiga sampai lima Alpha. Masing-masing dari sel tersebut, terisolasi dari jangkauan orang luar. Pintu yang biasanya berjeruji diganti menjadi pintu besi dan hanya ada celah kecil berbentuk persegi panjang yang digunakan para sipir untuk mengecek keadaan di dalam sel. Intinya, apapun yang terjadi di dalam sel kecil kemungkinannya dapat diketahui oleh orang luar.
Kris berhenti di depan pintu salah satu sel. Aroma Omega yang begitu kuat membuat para Alpha di dalam sel berteriak layaknya kerasukan. Mereka mulai memukuli pintu besi sebagai wujud rasa frustasi mereka. Kris menyeringai dan Luhan sama sekali tidak takut padanya atau pada para Alpha yang akan langsung memerkosanya begitu ia berada di dalam sel. "They will fuck you hard," bisik Kris di samping telinganya.
"Well, I can't wait," balas Luhan sambil kembali mengulum senyum di bibirnya. Kris yang sudah tidak tahan dengan tingkah arogannya, menggeram kesal lalu membuka gembok sel. "Cepat masuk!" perintah Kris.
"Dengan senang hati," kali ini, senyuman di bibir Luhan berganti menjadi seringai. Sampai detik ini pun, tidak ada ketakutan yang terpancar dari matanya. Begitu, Luhan masuk ke dalam sel dan pintu tertutup rapat. Kris terpaku di tempat mendengarkan teriakan para Alpha yang entah sedang melakukan apa pada Omega itu.
Beberapa menit berlalu, Kris masih berada di sana. Dan tidak sekalipun ia mendengar jeritan memohon atau tangisan dari Luhan.
.
.
Jongin menghela nafas panjang. Ia tidak tahu mengapa ia masih berada di sini. Ia mulai memikirkan beberapa kemungkinan yang membuat kepalanya terasa pening kemudian. Jika, Sehun menjadikan tahanan di sini. Mengapa ia mendapat kamar super mewah dan dua bodyguard yang berada di depan pintu kamarnya memperlakukan dirinya sebagai bos mereka dan bukannya sebagai tahanan yang harus mereka jaga agar tidak kabur. Sebenarnya, apa yang Sehun inginkan darinya? Ia tidak memiliki harta atau kekuasaan yang bisa pria itu ambil alih. Atau jangan-jangan.. Sehun menginginkan tubuhnya?! Alpha bajingan itu menjadikannya sex slave di sini? Fuck no!
"Kau terlalu banyak berpikir," seorang wanita yang daritadi mengobrak-abrik lemari pakaian di kamar barunya, menoleh sebentar ke arahnya memasang wajah menilai yang cukup menyebalkan, lalu berceloteh dengan aksen Korea-nya yang aneh. "Jika, Xavier menjadikanmu sex slave-nya. Itu adalah suatu pencapaian yang... bagus? Ya, sangat bagus malah!"
Jongin menghiraukan perkataan Isabelle karena wanita Beta berdarah Itali yang mengaku sebagai sepupu Sehun itu sama sekali tidak mengerti akan posisinya. Jongin memiliki kehidupan yang mungkin dicemburui oleh para Omega diluar sana. Ia tidak akan membuang kehidupannya yang nyaris sempurna hanya untuk menjadi sex slave pribadi Oh Sehun. "Pakai ini!" Isabelle melemparkan kaos berwarna hitam dan celana skinny jeans super ketat.
Kaos dan celena itu mengenai wajah Jongin. Dengan geraman kesal, Jongin menunjukkan celana yang seenaknya Isabelle lemparkan padanya. "Bagaimana penisku bisa bernafas dengan celana seketat ini?"
Isabelle memutar matanya lalu berkacak pinggang. "Vaffanculo, Jongin,"
"Aku akan berpura-pura tidak mendengarnya,"
Jongin melepas kaos yang dipakainya dan menggantinya dengan kaos hitam tersebut. Mata Isabelle otomatis tertuju pada garis abs-nya yang tidak kalah seksi dari pria Alpha lainnya. Begitu tangan Jongin berada dipinggang hendak menurunkan celananya. Isabelle berbalik badan dengan wajah bersemu merah. Jongin menahan senyum begitu melihat reaksi Isabelle. "Brengsek. Kau bisa memberikan sedikit peringatan padaku," seru Isabelle dengan suara meninggi.
Jongin sibuk memasukkan kakinya ke dalam celena yang ternyata benar-benar menyesakkan itu. Penisnya seperti ditekan dan sungguh ini membuatnya tidak nyaman sama sekali. "Kau boleh berbalik sekarang," ujar Jongin. Isabelle langsung berbalik menghadapnya. Matanya terbelalak serta tanpa dirinya sadari, gadis itu menjilat bibir begitu melihat penampilan Jongin yang seksi.
"Kalau kau bosan dengan penis Sehun, kau bisa datang padaku," kata Isabelle seduktif. Gadis itu mengedipkan satu matanya pada Jongin. Jongin hanya mendengus keras dalam hati menuduh kalau semua orang di dalam "kastil" ini adalah maniak seks, kecualli Chanyeol... mungkin.
"Akan kuingat tawaranmu itu," balas Jongin. Meskipun, dirinya Omega dan memiliki label sebagai lubang yang dicari para Alpha untuk kenikmatan seksual. Itu bukan berarti kalau Jongin tidak tertarik pada wanita, apapun status mereka. Menurut Jongin, wanita adalah seseorang yang harus dilindunginya. Apapun status mereka, Alpha, Beta, atau Omega, mereka tetap mahluk ciptaan Tuhan yang seharusnya dilindungi oleh para pria.
Well, pemikirannya itu terdengar sok puitis dan sedikit menggelikan. Ia bersumpah kalau ia tidak akan pernah menyuarakan pendapatnya itu seumur hidupnya.
"Hei, apa kalian sudah siap?" Chanyeol berdiri di ambang pintu bersama Krystal yang sedang sibuk dengan ponselnya. "Jangan membuat Sehun menunggu,"
"Ya, ya, aku tahu kalau Xavier bukan seorang yang penyabar," gumam Isabelle seraya melangkah keluar kamar. Jongin mengikuti Isabelle yang menyambar ponsel Krystal. "Stop texting your ex, Krys,"
Chanyeol langsung menghela nafas begitu Isabelle dan Krystal mulai beradu mulut saling memaki satu sama lain. "Apa mereka selalu seperti itu?" bisik Jongin berusaha membuka obrolan dengan Chanyeol. Pria itu tahu kalau ia bisa menjadikan Chanyeol sebagai patnernya jika ia akan terus-menerus berada di sini. Sepertinya, Chanyeol bisa dipercaya dan tidak seberbahaya penghuni mansion lainnya.
"Percaya atau tidak, mereka pernah berkencan," bisik Chanyeol lalu terkekeh geli. Jongin refleks melirik ke arah Isabelle dan Krystal. Meskipun, mereka masih beradu mulut dan saling melemparkan tatapan menusuk. Tangan Isabelle melingkar pada pinggang Krystal dan tampaknya Krystal sama sekali tidak keberatan.
"Mereka aneh," komentar Jongin.
Chanyeol tersenyum kecil padanya lalu berkata, "Mungkin, itulah yang membuat kami berbeda dari yang lain."
Jongin tidak ingin menanggapi perkataan Chanyeol dan memilih untuk diam saja. Tentu saja, mereka berbeda dari keluarga lainnya. Tanpa perlu Chanyeol memberitahunya, ia sendiri pun sudah mengetahuinya. "Tapi, setidaknya kau masih memiliki keluarga," gumam Jongin lirih. Senyuman getir mengembang dibibirnya serta sorot matanya berubah sayu.
Sementara, dirinya... Jongin sudah lupa bagaimana rasanya memiliki keluarga atau merasakan hangatnya kehadiran mereka di dalam hidupnya. Keluarga Jongin hanyalah ayah dan ibunya. Mereka adalah dua orang yang paling Jongin cinta melebihi hidupnya. Ia masih mengingat lima tahun bersama mereka yang ia lewati dengan senyuman serta tawa yang mengisi setiap harinya. Semuanya terasa sempurna bagi Jongin. Meskipun, keluarganya tidak memiliki mansion sebesar ini dan tinggal di lingkungan kumuh serta jauh dari keelitan kota. Namun, mereka bahagia. Jongin tidak pernah sekalipun merasa bersedih di dalam dekapan ayah dan ibunya.
"Hei, Jongin, apa kau baik-baik saja?" Chanyeol menepuk bahunya dengan cemas.
Jongin segera menoleh ke arahnya dan menyunggingkan seutas senyum, mencoba untuk tidak terlihat sedih di hadapan orang yang bahkan baru dikendalnya kurang dari sehari. "Aku baik-baik saja. Mengapa aku tidak baik-baik saja?"
Chanyeol memilih untuk diam, tidak memperpanjang obrolan ini. Tanpa perlu dirinya bertanya, ia menyadari kalau keluarga adalah topik yang cukup sensitif bagi Jongin. Beberapa anak buah Sehun yang berjaga diluar mansion mengarahkan mereka pada mobil limousine yang telah disiapkan khusus bagi mereka berempat. Chanyeol beralih pada salah satu bodyguard keluarga Denommée yang berdiri di sampingnya. "Dimana Xavier?"
"Signore Xavier sudah pergi setangah jam yang lalu katanya ada sesuatu yang mesti diurusnya terlebih dahulu," jawab bodyguard tersebut.
Chanyeol mengangguk padanya lalu melangkah masuk ke dalam mobil diikuti oleh Jongin, Krystal dan Isabelle. Jongin tidak pernah menyangka kalau anak yatim piatu miskin seperti dirinya berada dalam mobil limousine yang biasanya dipakai oleh orang-orang penting, yang tentu saja tidak mewakilkan identitas dirinya. Untuk sesaat, Jongin mengesampingkan fakta bahwa semua orang di dalam mobil ini adalah mafia Itali yang cukup berbahaya bagi dirinya.
Krystal dan Isabelle kembali sibuk dengan ponsel mereka. Jongin melemparkan pandangannya keluar mobil mengamati jalan kota Seoul di malam hari yang selalu padat dan penuh kerlipan lampu jalan. Chanyeol yang duduk di sampingnya diam-diam memperhatikan Jongin. "Ada yang ingin kau tanyakan padaku?" tanyanya tiba-tiba.
Jongin berbalik menatapnya dan terpaku padanya selama beberapa saat. Sebelum, ia menoleh ke belakang pada Krystal dan Isabelle yang duduk cukup jauh dari mereka lalu kembali menatap Chanyeol yang masih menunggu pertanyaannya dengan senyuman. Jongin menarik nafas dan akhirnya bertanya, "Apa yang kalian lakukan?"
Pertanyaan itu terdengar simpel. Kebanyakan orang dapat menjawabnya tanpa perlu berpikir. Namun, bagi Chanyeol, ini adalah pertanyaan yang dapat mengancam keamanan keluarganya. Menjawab pertanyaan Jongin sama saja dengan membeberkan bisnis keluarga pada polisi yang sedang menginterogasinya. Walaupun, Jongin tampaknya akan sulit melarikan diri dari pengawasan Sehun. Tetap saja, Chanyeol perlu melewati pertimbangan serta pro dan kontra di dalam otaknya sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Jongin.
"Penjualan senjata ilegal, narkoba dan sejenisnya, prostitusi Omega. Kami melakukan apa yang kriminal biasanya lakukan," kami jelas bukan orang baik. We are the bad guys here.
Sorot mata Chanyeol berubah. Senyum tidak lagi tersungging di bibirnya. Chanyeol yang semula Jongin pikir dapat dipercaya olehnya kini berubah menjadi orang lain yang ditakutinya begitu mulai membicarakan kebusukan keluarganya. "Kalian tidak akan menjualku, kan?" tanya Jongin setengah bergumam.
Wajah Chanyeol kembali berubah. Kali ini, ia tampak terhibur dengan pertanyaan Jongin yang dianggapnya pertanyaan konyol. "Mungkin saja. Hanya Sehun yang bisa memutuskan semuanya, Jongin,"
Jongin hanya menatapnya. Bibirnya membentuk garis lurus menunjukkan kalau dirinya tidak memiliki pertanyaan lagi. Chanyeol tersenyum padanya dan tiba-tiba saja semuanya terasa palsu. Ia tidak bisa memercayai siapapun selain dirinya di sini. Jongin kembali mengarahkan pandangannya keluar mobil. Jalanan yang semula dipenuhi oleh deretan toko, kini berganti menjadi kawasan elit Gangnam. Mobil berbelok masuk ke dalam area hotel serta klub yang tampak mewah dengan gedung pencakar langit di dalamnya.
"Selamat datang, Jongin," Chanyeol berbisik di samping telinganya membuat Jongin otomatis menoleh padanya. "Welcome to our family,"
.
.
Ini adalah pertama kalinya Jongin clubbing.
Seperti dugaannya, ia seperti ikan nemo di tengah lobster-losbter eksotik yang saling bergesekan dengan satu sama lain.
Tanpa dirinya sadari, ia telah kehilangan Chanyeol, Krystal dan Isabelle yang dengan mudahnya dapat berbaur dengan kerumunan. Bagaimanapun juga, mereka adalah anggota keluarga Denommée yang memilki klub ini. Jongin yakin siapapun orang itu dan apapun jabatan mereka pasti akan langsung tunduk hormat dengan keluarga Denommée.
Meskipun, dirinya bukan seorang penggemar clubbing. Jongin cukup menggemari alkohol terutama wine. Ia memesan segelas wine pada bartender yang daritadi menyeringai padanya, begitupun dengan para Alpha yang berada di sekitarnya. Mereka semua sedang menatapnya dengan tatapan lapar seolah dirinya adalah santapan yang bisa mereka dapatkan dengan mudah. Jongin menyeringai. Ia meminum wine-nya sambil membuat kontak mata dengan seorang pria Alpha yang tampak amat menginginkannya. Tatapannya terhadap pria Alpha itu semakin seduktif mengirimkan sexual tension yang bahkan mempengaruhi orang-orang di sekitar mereka.
Akhirnya, pria itu berjalan menghampirinya dan duduk di sampingnya. "Untuk seorang Omega, kau cukup berani," ujar pria itu lalu mendekatkan bibirnya di samping telinga. "I can fucking rape you here,"
Jongin tidak tahu apa yang merasuki dirinya. Ia bersumpah kalau dirinya tidak mabuk. Ia lebih merasa horny daripada mabuk sekarang. Insting Omega-nya yang sudah lama ia pendam dan tahan kini menguasainya membuatnya menginginkan sentuhan Alpha, siapapun itu orangnya. Kecuali, Oh fucking Sehun.
"Rape me, then,"
"Kita bisa mengurusnya nanti. Sekarang, let's dance," pria itu memberikan satu tangannya pada Jongin dan dengan senang hati Jongin menggenggamnya. Untuk ukuran Alpha yang ditemuinya di klub, pria ini tidak sebrengsek yang dirinya semula duga.
Mereka berada di tengah klub sekarang. Jongin menempelkan punggungnya pada dada pria itu, sementara tangan pria itu berada pada pinggangnya. Mereka bergerak tidak mengikuti irama dan gerakan Jongin lebih mengarah pada godaan. Ia sengaja mengesekkan bokongnya dan mengenainya tepat pada penis pria itu yang mulai menegang. Bibir pria itu kini menyentuh permukaan kulit lehernya. Mencumbunya dengan panas membuat Jongin mengerang dan menjenjangkan lehernya. Ia menginginkan lebih, lebih dan lebih.
Hingga, tiba-tiba saja tangan pria itu tidak lagi berada pada pinggangnya. Bibir pria itu juga meninggalkan lehernya. Sejenak, Jongin merasa begitu tersesat di tengah kerumunan orang yang mulai menghimpit dirinya. Matanya menerawang ke seluruh penjuru klub. Otaknya mulai bekerja dan mulai menyesali apa yang telah diperbuatnya. Namun, sebelum ia dapat melarikan diri. Tangan itu kembali menyentuhnya. Kali ini, dengan berani meremas bokongnya hingga ia nyaris memekik.
Sebelum, ia bisa menoleh ke belakang dan menghajar pria itu. Pria itu sudah terlebih dahulu menahan tangannya dan menutup matanya dengan telapak tangan bajingan Alpha itu. "Lepaskan aku, Brengsek!" Jongin berontak, tapi Alpha itu malah menertawainnya.
"Tidak akan, bitch. Apa kau senang telah membuat pria itu horny dan kemudian membuatnya terbunuh?"
Jantung Jongin berdetak lebih cepat. Tubuhnya membeku, keringat bercucuran jauh dari pelipisnya serta nafasnya tertahan begitu ia menyadari siapa orang yang berada di belakangnya sekarang. Orang itu bukan pria yang barusan digoda olehnya. Orang yang sekarang membuka celana jeans dan memasukkan tangan ke dalam celananya adalah Sehun.
Jongin nyaris menjerit, tapi langsung menggigit bibir saat tangan Sehun mencengkram penisnya. Cairan mulai merembes keluar dari hole-nya membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka. Namun, begitu mendapati kalau Oh Sehun-lah yang sedang menatap balik ke arah mereka dengan delikan tajam. Mereka semua segera kembali menari dan membiarkan Sehun memperkosa Omega malang itu.
Wajah Jongin berubah memerah akibat semua yang Sehun lakukan padanya sekarang. "Apa kau menyukainya? Aku bisa mempermalukanmu lebih parah dari ini," Sehun mulai mengocok penisnya dengan tempo pelan. Jongin tidak bisa menahan desahannya lebih lama lagi. Begitu Sehun mempercepat tempo kocokannya, Jongin nyaris menjerit. "Teriakan namaku, Jongin. Buatlah mereka semua tahu kalau kau adalah milikku,"
Tangan Sehun tidak lagi menahan tangannya. Jika ia ingin berontak, mungkin ia sudah bisa melarikan diri. Namun, otak serta tubuhnya tidak bisa menyangkal lebih lama lagi kalau ia sangat membutuhkan sentuhan ini. Satu tangan Sehun yang tidak menyentuh penis Jongin mulai menggoda bokong Omega itu. Sehun menekan tiga jari tepat pada hole Jongin yang masih tertutup jeans. Seperti dugaannya, Jongin sudah sangat basah di bawah sana.
"Kau tahu, Jongin, aku membawamu ke sini bukan untuk melihatmu dicumbu oleh orang lain. Aku membawamu ke sini untuk membicarakan soal sesuatu yang tentunya bisa tunda,"
Jongin dapat merasakan penis Sehun yang beberapa kali mengenai bokongnya. Ia dapat merasakan detak jantung pria itu yang seolah menyatu dengan punggungnya. Ia dapat merasakan nafas hangat pria itu yang membuat bulu kuduknya berdiri. Ia dapat merasakan Sehun dipermukaan kulitnya dan jujur saja ia menginginkan lebih dari ini. Ia menginginkan penis Sehun berada di dalamnya.
"You know why I do this to you ?"
Jongin hanya menggelengkan kepalanya. Sehun menyeringai di belakang Jongin lalu berbisik, "because you are my bitch."
.
.
Rin's note :
GOSH! NO COMMENT FOR THIS CHAP! I JUST FREAKING LOVE IT! THEYARE BOTH SOO FUCKING HOT
awalnya aku sempet nge-stuck dibagian ngebahas keluarga Jongin itu. Tapi, setelah nonton London Has Fallen yang keren banget hari ini. Aku langsung coba nulis setelah pulang nonton dan voila, jadilah begini hehehe
di chapter sebelumnya ada yang namanya Sehun itu keturunan Itali? terus nama Xavier itu nama Itali rl nya?
No, Sehun sama sekali nggak ada keturunan Itali. Dia asli suku aborigin. Sukunya Katara, Sakka sama Ang di Avatar. Semua yang berhubungan dengan keluarga Denommée di fanfic ini fiksi ya, guys! heeheheheh
p.s if you want to ask anything just ask me on my twitter (clarynets) or PM me!
-KAMUS & FYI CORNER- LOL
* Vaffanculo : fuck off or fuck you
* SIgnore : tuan
* Keluarga Denommée :
- Xavier Lareneev Denommée (Oh Sehun)
- Maxime LaSalle Denommée (Park Chanyeol)
- Krystal LaRamoff Denommée (Jung Soojung)
- Isabelle LeBellev Denommée
- Edward Estee Denommée (Luhan)
