chapter 4 : Wounds
.
Salah seorang anak buahnya datang menghampirinya dan berbisik di samping telinganya. Mata pria itu sengaja menghindari tangan Sehun serta Jongin yang masih menundukkan kepala sedang mengatur nafas. "Signore, mi dispiace per interrupt. ma, c'è qualche problema al piano superiore," (Sir, maaf telah mengganggu. Tapi, ada suatu masalah di atas)
Sehun melirik ke lantai atas klub, mendapati beberapa orang anak buahnya sedang menghadang beberapa orang yang tampak sengaja mencari masalah. "Quel bastardo russo," geram Sehun. (bajingan rusia itu)
Pria itu mendorong Jongin menjauh darinya, lantas mengikuti anak buahnya menuju lantai atas. Jongin, yang untungnya mengerti sedikit bahasa Italia, berpikir untuk menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri sejauh mungkin dari bajingan itu. Omega itu berlari menerobos kerumunan mencari pintu belakang klub.
Namun, sebelum ia bisa menemukannya. Suara tembakan terdengar dari atas klub membuat seluruh aktivitas di dalam klub terhenti. Suara musik yang semula berdetak di dalam klub perlahan lenyap. Suara tembakan kembali terdengar disambut oleh suara jeritan dari para pengunjung klub. Situasi klub yang awalnya terkendali menjadi kacau. Orang-orang tidak lagi menari dan mencoba mencumbu satu sama lain. Semua orang berlarian menuju pintu keluar, kecuali dirinya.
Jongin terjebak di dalam situasi yang benar-benar diluar dugaannya. Ia bisa saja kabur sekarang. Lalu, ketika polisi datang untuk mengamankan klub ini. Ia bisa memohon perlindungan dari mereka. Namun, ada sesuatu yang membuat Jongin berjalan menjauh dari pintu keluar. Di tengah kerumunan yang berlawan arah dengannya, Jongin mengambil langkah menghampiri seseorang yang tampaknya bukan anak buah Sehun. Ia menarik kerah leher pria itu lalu meninju belakang kepalanya sebelum pria itu sempat melawan.
Kris pernah memberitahunya kalau belakang kepala seseorang adalah salah satu titik yang dapat mematikan saraf manusia dalam waktu beberapa jam. Asal ia bisa mengenai titik yang pas, maka ia bisa melumpuhkan lawannya dengan cukup mudah. Dan terima kasih untuk Kris, ternyata informasi tidak penting bajingan itu akhirnya dapat berguna.
Jongin segera mengambil pistol di saku celana pria itu lalu mengarahkannya dalam mode waspada. Ia dapat melihat Isabelle dan Krystal yang diamankan keluar dari klub. Ia dapat melihat Chanyeol yang berada di lantai atas. Sepertinya, pria itu mencoba untuk mengamankan Sehun yang tampaknya menjadi target utama dari penyerangan ini.
Situasi di lantai bawah tidak sekacau di lantai atas. Walaupun, sebagian besar botol bir serta wine yang diatur berderet pada rak klub sudah hancur berkeping-keping akibat terkena peluru atau semacamnya. Jongin berlari menuju lantai atas. Ia menembakkan pistolnya ke arah beberapa orang yang mengincar dirinya. Ketika, pelurunya habis. Jongin terpaksa menggunakan tangan serta kakinya dan metode krav maga yang Zitao ajarkan padanya.
Ia tidak tahu berapa orang yang dirinya tinju serta tendang selama perjalanannya menaiki tangga. Ia tidak begitu memperhatikan para korbannya itu dan dengan mudahnya menginjak tubuh mereka seolah mereka adalah alas kakinya. "Apa yang kau lakukan?!" bentak Chanyeol tepat saat dirinya berada di anak tangga paling atas.
"Aku mencoba untuk membantu!" Jongin balik membentaknya. Lalu, meninju seorang bajingan yang mencoba menikam Chanyeol dari belakang. "Kau harus berterima kasih padaku," Chanyeol hanya memutar mata sebagai balasan.
"Aku akan membawamu keluar dari sini," Chanyeol memberikan pistolnya pada Jongin dan entah mengapa, Jongin merasa sangat tersinggung. Ia menembak tiga orang sekaligus yang berada di lantai bawah membuat Chanyeol menatapnya dengan aneh. "Apa yang kau berusaha sampaikan padaku? Aku tidak mengerti,"
Jongin memberikan pistol itu kembali pada Chanyeol lalu berkata dengan nada mengejek, "Aku bisa menjaga diriku sendiri, Alpha."
Sekali lagi, Chanyeol hanya memutar mata seraya menarik lengan Jongin. Pria itu menyeret Jongin menuruni tangga dan menembak siapa saja yang berusaha menghalanginya. "Ini perintah dari Sehun. Kita harus segera keluar dari sini,"
Dan barulah, Jongin teringat akan bajingan bernama Sehun. Ia melepaskan lengannya dari cengkraman Chanyeol, kemudian menoleh ke belakang. Ia melihat Sehun sedang menembakkan pistolnya lalu berbalik menendang perut seorang pria yang berusaha menyerangnya dari depan. Dan tanpa sengaja, mata mereka bertumbukan. Sehun mengedipkan satu mata padanya lalu menancapkan pisau dari saku celananya ke mata seorang pria.
That fucking Alpha beast.
"Lalu, bagaimana dengan bajingan itu?" Jongin berjalan mengekori Chanyeol. Lima orang anak buah keluarga Denommée membuat satu formasi untuk mengantarkan mereka menuju pintu belakang. Jongin perlu menundukkan kepala agar tidak terkena peluru yang entah mengapa sangat tertarik pada dirinya. Persetan, ia bahkan bukan anggota keluarga. Namun, nyawanya tetap terancam.
"Dia bisa mengurus dirinya sendiri. Lagipula, sudah lama Sehun tidak bersenang-senang seperti ini," jawab Chanyeol dengan santainya. Jongin perlu mengorek salah satu kupingnya karena yang benar saja.. ini cara seorang Oh Sehun bersenang-senang? Huh, sangat mengejutkan.
Begitu, mereka berada di luar hotel. Kelima anak buah Denommée kembali masuk ke dalam. Sementara, ada beberapa orang anak buah lainnya yang mengantar mereka menuju mobil Jeep yang telah disiapkan khusus untuk mereka. Jongin dan Chanyeol duduk di kursi belakang. Sementara, seorang pria berkacamata hitam duduk dikursi kemudi. Jongin dapat mencium aroma Beta dari pria itu. "Apa Sehun masih ada di dalam?" tanya pria itu.
"Ya? Mungkin? Entahlah, aku tidak tahu!" jawab Chanyeol. Dan tiba-tiba saja, pria itu tampak sangat cemas. Well, ini adalah pertanda buruk. "Cepat jalan, Jongdae!"
Pria bernama Jongdae itu menghela nafas lalu menginjak gas. Jongin menoleh keluar jendela mobil, melihat ada beberapa mobil polisi yang berderet mengepung area hotel. Para polisi berlarian serta mengamankan para pengunjung hotel serta warga sekitar area tersebut, mengevakuasi merea ke tempat yang lebih aman. Garis kuning menjadi batas yang tidak boleh dilewati, kecuali oleh polisi. Hotel yang awalnya ramai oleh pengunjung. Kini, menjadi seperti hotel berhantu yang hanya diisi oleh petugas kepolisian serta para tamu hotel yang berusaha menyelamatkan diri mereka.
Tiba-tiba saja, suara ledakan terdengar. Bukan hanya sekali, melainkan tiga kali. Jongin dan Chanyeol otomatis menoleh ke belakang, mendapati hotel tersebut sudah tertutup oleh lautan api serta asap yang menggumpal pekat di langit. Jongin bahkan tidak bisa melihat deretan mobil polisi lagi. Dan kalau tidak salah, ia mendengar jeritan yang begitu keras. Bukan hanya dari satu orang saja, melainkan banyak orang.
Jongdae nyaris menabrak seekor kucing saking kagetnya. "Apa ini salah satu dari rencana gila Sehun?" teriak Jongdae. Pria itu tampak terguncang.
"Mungkin saja!" dan entah mengapa, Chanyeol juga ikut berteriak. Pria itu terlihat sama terguncangnya.
Sementara itu, Jongin benar-benar menyesal telah membuang kesempatan untuk melarikan diri dari jeratan keluarga yang dipenuhi oleh orang-orang idiot seperti ini. Namun, sulit untuk dirinya akui, sebagian dirinya cukup mencemaskan Sehun.
.
.
"Dimana Sehun?" tanya Krystal begitu mereka tiba.
Jongdae berbelok di persimpangan sengaja menghindari gadis itu. Sedangkan, Chanyeol melotot ke arah bajingan itu lalu mengibaskan tangannya dengan senyuman aneh. "Sehun akan baik-baik saja," namun, suaranya tidak bisa berbohong. Chanyeol sendiri pun merasa sedikit cemas.
Krystal menyipitkan matanya lalu mendorong bahu Chanyeol. "Jangan bohong! Serangan ini sudah didengar oleh Jasper. Dia meminta untuk segera bicara dengan Sehun karena, damn, kerugian dari penyerangan para bajingan Rusia itu lumayan besar. Mereka tahu kalau hotel itu adalah salah satu aset keluarga kita di Korea yang bernilai cukup besar,"
Jongin yakin Chanyeol bahkan tidak mendengarkan celotehan gadis itu. Pria itu sibuk dengan ponselnya entah informasi macam apa yang ia temukan. Sementara itu, Jongin mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya. Dan ada satu pertanyaan yang cukup mengganjal di dalam dirinya; "Siapa Jasper?"
Krystal beralih menatapnya dan ekspresi gadis itu berubah sedikit terkejut seolah ia melihat seorang anak buah mafia Rusia berdiri di hadapannya. "Wow, Jongin, kau masih di sini? Apa yang kau lakukan di sini? Dan untuk menjawab pertanyaanmu, Jasper LeRedoff Denommée adalah ayah Sehun. Dia juga yang memimpin keluarga Denommée. Bisa dibilang, itu menjadikan dirinya seperti raja bagi mafia Itali atau semacamnya. Intinya, Jasper bukan orang yang ingin kau temui. Dan, oh, kenapa kau masih di sini?"
Jongin tidak tahu apa yang membuat Krystal berubah menjadi sangat menyebalkan serta sangat ingin menyingkirkannya. Namun, sebenarnya apa yang gadis itu tanyakan ada benarnya juga. Apa yang ia lakukan di sini? Ia bukan anggota keluarga. Ia juga bukan seseorang yang memiliki hubungan cukup dekat dengan Sehun. Pada dasarnya, ia hanya seorang Omega yang "diculik" oleh Sehun untuk dijadikan mainan bagi bajingan itu.
Wow, ia jadi semakin mempertanyakan apa yang dirinya lakukan di sini.
"Sebaiknya, aku pergi sekarang," sahut Jongin dengan kepala tertunduk.
Chanyeol mengangkat kepala dari ponselnya. Pria itu hendak mengejar Jongin untuk memintanya agar tetap tinggal. Namun, lengannya ditahan oleh Krystal yang sebagai seorang Alpha memiliki kekuatan yang seimbang dengannya. Chanyeol mendelik tajam ke arah gadis itu dan sebelum ia mengeluarkan kata makian padanya. Krystal sudah terlebih dahulu bicara membungkamnya. "Kehidupan ini terlalu berbahaya bagi pria malang itu. Aku tidak merendahkannya karena ia seorang Omega. Karena mau dia Omega, Beta atau Alpha, kehidupan semacam ini tidak pantas baginya. Dia orang baik. Sementara, kita orang jahat. Aku yakin Sehun juga akan melakukan hal yang sama,"
Penjelasan Krystal membuat Chanyeol sadar kalau Jongin berbeda dari mereka. Pria itu memiliki pilihan untuk menjadi orang baik atau orang jahat. Sementara, dirinya, Krystal, Isabelle dan Sehun yang sudah terlahir dengan darah Denomme tidak memiliki pilihan selain menerima nasib menjadi bagian dari sesuatu yang jahat. "Kalau begitu, aku hanya ingin mengantarnya sampai flat dengan selamat," kata Chanyeol sambil menggunakan ekspresi memohon yang membuat Krystal segera melepaskannya dengan wajah jijik. Terkadang, Chanyeol bisa menjadi sangat menjijikkan.
"Cepat pergi sana!" Krystal mendorong bahu pria itu seraya menyunggingkan senyum kecil. Chanyeol memutar mata, lantas berlari menuju keluar rumah.
Ketika, ia menemukan Jongin sedang melawan tiga orang bodyguard yang berusaha untuk menariknya masuk ke dalam rumah. Chanyeol sempat melihat sisi keluarga Denommée di dalam diri pria itu. Namun, ia segera membuang pemikiran konyolnya itu jauh-jauh lalu menghampiri mereka berempat yang sibuk menyerang satu sama lain.
"Aku akan mengantar Jongin pulang," kata Chanyeol dengan suara lantang. Membuat perkelahian antara empat orang itu terhenti. Ketiga bodyguard itu langsung menjauh dari Jongin, menundukkan badan mereka sebagai tanda hormat bagi Chanyeol, lantas berjalan masuk kembali ke dalam mansion.
"Kau harusnya datang daritadi," gumam Jongin dengan nafas terengah. Omega itu menyeringai padanya menunjukkan kalau ia baik-baik saja.
"Kalau aku datang lebih awal, aku tidak akan melihat aksi kungfumu," gurau Chanyeol.
Jongin mengenyitkan dahinya dan bergumam, "Sebenarnya, itu krav maga."
Chanyeol berjalan di depan Jongin, mengabaikan perkataan pria itu. Jongin hanya mengekor di belakangnya seperti bocah yang tersesat. Begitu mereka sampai di belakang mansion, tepatnya di dalam garasi yang dipenuhi oleh mobil serta motor sport yang harganya jauh lebih mahal daripada gedung flatnya, membuat Jongin termangu kagum. Ia mulai memikirkan seberapa kaya dan berkuasanya keluarga Denommée. Apa mereka mampu membeli menara Eiffel? Atau jangan-jangan mereka sudah membeli menara Eiffel. Hell no!
Chanyeol memilih untuk menggunakan Jeep yang sebelumnya mereka tumpangi. Jongin duduk di bangku depan menemani Chanyeol yang sudah duduk dibangku kemudi. Lagu Justin Bieber terdengar dari tape mobil membuat Jongin melirik ke arah Chanyeol siap untuk menggodanya. "Persetan denganmu! Aku yakin Jongdae mengganti sesuatu saat kita turun," Chanyeol membantah asumsi yang bahkan belum Jongin tuduhkan padanya.
"Aku hanya melirik ke arahmu, oke? Kenapa kau sensitif sekali?"
Setelah itu, Jongin terbahak keras. Omega itu tidak menahan dirinya sama sekali untuk menertawai Alpha di sampingnya. Dan jujur saja, sekalipun tingkahnya cukup menyebalkan. Chanyeol akui kalau Jongin bukan Omega seperti pada umumnya. Pria itu kuat, tahu bagaimana caranya bertarung, dan memiliki selera humor yang buruk. Intinya, Chanyeol cukup menyukai Jongin sebagai seorang Omega.
"Aku mendengar dari Sehun kalau orangtuamu dibunuh oleh mafia Rusia?" tanya Chanyeol tiba-tiba. Pertanyaan itu berhasil mengubah senyuman di bibir Jongin menjadi senyum getir.
"Ya," jawabnya dengan tenang. Jongin menarik nafas panjang mencoba untuk tidak terpengaruh oleh pertanyaan Chanyeol. Ia masih mengingat jelas apa yang terjadi malam itu. Ia masih berusia delapan tahun dan berbaring di atas ranjangnya dengan mata terpejam. Ia dapat merasakan bibir ibunya menyentuh keningnya lalu berbisik mimpi indah. Lalu, suara tembakan terdengar dari luar kamar. Ibunya kembali berbisik padanya mengatakan kalau apapun yang terjadi ia harus menjadi Omega yang kuat dan dapat menjaga dirinya sendiri.
"Dunia ini kejam, sayang,"
"Jongin!" Chanyeol berteriak memanggil namanya. Jongin yang akhirnya tersadar dari lamunannya beralih menatap Chanyeol dengan setetes air mata mengalir jatuh. "Maafkan aku," ujar Chanyeol kemudian. Pria itu bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Sebagian dari dirinya dapat mengerti akan perasaan kehilangan yang Jongin rasakan.
"Lupakan saja," gumam Jongin seraya membuang muka.
Chanyeol menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia mengerti. Dan itulah obrolan terakhir mereka sampai akhirnya Chanyeol menurunkan Jongin di depan gedung flat pria itu. Jongin meloncat turun dari Jeep. Omega itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, bahkan ucapan selamat tinggal. Chanyeol menunggu sampai Jongin menghilang masuk ke dalam gedung flat. Di dalam hati pria itu, ada rasa penyesalan yang cukup mengganggunya dan ia tidak tahu mengapa.
.
.
Meskipun, kasurnya terasa tidak seempuk kasur di rumah (atau kastil) keluarga Denomme. Ia lebih memilih kasurnya ini karena bagaimanapun juga ini adalah miliknya dan bukan milik Sehun atau keluarga mafia bajingan itu. Di sini, semuanya adalah milik Jongin sendiri. Sehingga, ia tidak perlu merasa berutang pada siapapun. Jongin memejamkan matanya. Apa yang dialaminya selama dua atau tiga hari ini masih terasa tidak nyata baginya. Mungkin saja, ia sedang bermimpi sekarang dan ketika waktunya tiba untuk terbangun, ia akan mengingat semua ini sebagai satu pengalaman yang tidak akan pernah dilupakannya.
Jongin mengecek ponselnya mendapati lima belas panggilan tak terjawab dari Jongdae dan Kris. Ada dua pesan yang kebanyakan dari Jongdae dan satu pesan dari Kris.
From : Kris (asshole #1)
tahanan omega itu dimasukkan ke dalam sel alpha. im sorry.
Jongin bangkit bangun. Ia tidak percaya akan apa yang dibacanya. Mereka tidak mungkin melakukan hal sekejam itu. Walaupun, bajingan Omega itu sangat menyebalkan dan telah memanipulasi semua orang. Mereka tetap tidak bisa memasukkan Omega ke dalam sel Alpha. Itu sama saja membunuhnya secara perlahan dan jauh lebih sadis dari siksaan yang sebenarnya. Jongin tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Ia bersumpah akan mengeluarkan Omega itu.
Namun, sebelum ia memutuskan apa yang harus ia lakukan untuk membebaskan omega itu. Suara bantingan pintu serta benda terjatuh terdengar dari samping flatnya. Jongin bangkit berdiri, berjalan keluar kamar menuju pintu keluar flatnya. Ia memiliki firasat kalau Sehun bersembunyi di dalam sana. Tanpa mengetuk pintu, Jongin melangkah masuk ke dalam flat Sehun. Ia melihat jejak darah yang berada di lantai serta tembok. Begitu, ia berada di tengah ruangan. Ia melihat Sehun berbaring lemah shirtless di atas sofa sedang menekan luka akibat tusukan pisau pada bahunya.
"Dasar bodoh," gumam Jongin cukup keras sampai Sehun berbalik menatap ke arahnya. Sehun tidak bicara. Bibirnya mengatup rapat serta wajahnya tidak menunjukkan rasa sakit sama sekali. Alpha itu hanya berbaring di sana seperti robot yang mengeluarkan darah.
Jongin memutar mata, lantas berjalan menuju dapur. Ia mencari baskom lalu mengisinya dengan air panas. Ia juga masuk ke dalam kamar Sehun (membuat bajingan itu meringis) dan mengacak-acak lemarinya mencari handuk kecil. Jongin bersumpah kalau ia tidak menyentuh boxer Calvin Klein Sehun dan membayangkan pria itu memakainya. Ia bersumpah atas nama Byun Baekhyun. Ketika, semua yang Jongin butuhkan sudah lengkap. Ia menaruh baskom di atas meja yang berada di samping sofa. "Kau bisa duduk?"
Sesaat, Jongin berpikir kalau Sehun tidak akan mendengarkannya atau malah akan membentaknya. Namun, saat pria itu bangkit bangun dan duduk bersandar pada sofa. Jujur saja, Jongin cukup terkejut. Ia duduk di samping Sehun dengan handuk basah ditangannya. Sehun berhenti menekan luka dibahunya. Alpha itu membiarkan Jongin, yang tampak sedikit ragu serta beberapa kali meliriknya, menyentuh lukanya.
Entah bagaimana, Jongin merasa kalau Sehun seperti memercayakan sesuatu padanya. Dan itu membuat Jongin nyaris menahan nafas serta diam-diam menyunggingkan senyum samar.
Jongin membersihkan luka Sehun serta jejak darah yang berada di sekitar bahunya. Ia terlalu fokus sampai ia tidak menyadari kalau ia sedang menyentuh dada serta perut Sehun dengan handuk. Sehun hanya memperhatikannya dengan tatapan terhibur. "Kau punya perban atau sesuatu?" Sehun hanya menggelengkan kepala membuat Jongin menghela nafas. "Kalau begitu, aku akan membalut lukamu untuk sementara dengan handuk ini,"
Lagi-lagi, Sehun hanya menjawab dengan gesture tubuhnya. Pria itu menganggukkan kepala. Jongin berpindah menyentuh luka pada bahunya dan menekan luka tersebut dengan perlahan. Tanpa dirinya sadari lagi, Jongin mendekatkan wajahnya pada Sehun saat ia membalut bahu pria itu dengan handuk. Sehun masih terdiam mengamatinya.
"Jongin," panggil Sehun. Jongin mengangkat kepala untuk menjawabnya. Namun, sebelum ia bisa membuka mulutnya. Sehun langsung mencium bibirnya membuat mata Jongin terbelalak nyaris keluar dari rongganya.
Sehun menciumnya dengan perlahan-lahan seolah pria itu tidak ingin melewatkan setiap detiknya. Ciuman Sehun jelas memabukkan. Semua orang yang pernah merasakan bibir pria itu pasti akan mengakui kalau Sehun adalah good kisser. Jongin mulai memejamkan mata, bahkan tanpa dirinya sadari. Mereka mulai saling melumat bibir satu sama lain. Memperdalam ciuman mereka dan tidak berniat untuk melepaskannya dalam kurun waktu yang lama.
Sehun mendorong tubuh Jongin hingga berbaring di atas sofa. Tangan Jongin yang sialnya terlalu panjang terentang ke atas membuat baskom yang persis berada di pinggiran meja terjatuh dan mengenai wajahnya. Sehun yang semulanya ingin kembali mencium Jongin, termangu kagum melihat kondisi Jongin yang basah sekarang. Untungnya, air itu tidak panas lagi. Jongin membeku di atas sofa. Baskom menutup mukanya yang sudah memerah.
Sejenak, mereka hanya terdiam di tempat mereka masing-masing. Hingga, akhirnya Sehun memecah keheningan dengan tawa keras pria itu.
"What the fuck, Jongin?! Apa kau bisa mengulanginya lagi?" lalu, ia kembali terbahak keras sambil memegangi perutnya. Luka yang berada dibahunya benar-benar terlupakan.
Jongin melemparkan baskom itu ke muka Sehun seraya berteriak, "FUCK YOU!"
.
.
Rin's note :
aku sengaja bikin chapter ini lebih ringan dan begitu dark. karena aku finally sadar kalau fanfic aku dark semua lol so, aku selipin a bit humour di sini.. dan aku juga sengaja nggak bikin smutt di chapter ini heheehe
So, BAMF!Jongin everyone.. i just fucking i love with his chara here! Chara dia di sini nyaris mirip sama Jongin di Accidentally married yang lol banget. dan tbh aku nggak maksud buat bikin a bit chankai di sini. but, dunno deh.. liat aja perkembangan ke depannya. tapi, untuk sekarang moment mereka di ff ini cuma bromance aja
Anyways, thank you so much for you support guys! Kadang kalau baca komen dari kalian suka bikin aku terharu gimana gitu haha so, buat membalas kebaikan kalian yang udah review, fav or follow fanfic-fanfic aku. aku berpikir buat ngerekomen ff kalian di ff aku. jadi, setiap aku update aku bakal bikin part khusus buat rekomen ff kalian. So, please shout out your fic in the review, okay?
karena aku mikir begini setiap karya itu butuh diapresiasi. aku nggak bakal ngejudge silent reader atau ngeluh soal mereka. because i just dont care (aku tipe yang nggak begitu mikirin tanggapan orang lol). tapi, diluar sana (eak) banyak author yang rela buang waktu mereka ngetik panjang-panjang atau bersusah payah untuk update. tapi, setiap mereka update apresiasi yang mereka dapatkan itu nggak sebanding dengan usaha mereka. that sounds kind of sad, right?
jujur, aku nyaris udah nggak pernah baca ff hunkai di ffn. karena kegiatanku setiap harinya tidur. jadi, untuk membantu para author dan melestarikan ff pairing fav ku di ffn. aku pikir kenapa nggak bikin section kayak gini aja kkkk
