chapter 5 : getting closer
a chapter dedicated for mega yang dari kemarin minta update lol
.
Tidak biasanya ia menginjaki lorong sel dengan situasi sehening ini. Langkahnya terhenti di depan sel yang menyimpan seorang Omega di antara penjahat Alpha lainnya. Ia membuka gembok sel dengan kunci dan mendorong pintu besi itu. Tubuhnya membeku begitu melihat keadaan di dalam sel yang diluar ekspektasinya.
Luhan duduk di bangku besi, menghadap ke arahnya tanpa sehelai pakaian pun membalut tubuhnya. Pria itu menjilat bercak darah di sudut bibirnya membuat bulu kuduk Kris berdiri. Di belakang Luhan, ada enam tubuh Alpha berbaring di lantai sel yang dingin dalam kondisi tak bernyawa. Darah menghias tembok beton serta lantai. Luhan menyeringai padanya menunjukkan kalau ini semua adalah karya masterpiece-nya.
"Apa aku masih belum layak menjadi salah satu dari antara kalian?"
Pertanyaan Luhan itu berhasil menyadarkan Kris kalau cepat atau lambat pasti bajingan Omega ini mengenali siapa dirinya. Raut muka Kris berubah menjadi lebih dingin serta bengis. Bibirnya mengatup rapat membentuk garis kaku. Ia menutup pintu sel dengan rapat. "Kau tahu siapa aku,"
Itu bukan sebuah pertanyaan, melainkan pernyataan. Luhan membuka kaki memberikan satu undangan yang sulit untuk Kris tolak. "Tentu saja, aku tahu siapa kau, Alpha. Kau adalah penerus generasi mafia Rusia yang ditakuti itu,"
Kris menyeringai. Pria itu mendekatkan wajahnya pada Luhan lalu berbisik, "Dan kau adalah anak angkat dari keluarga Denommée."
Luhan balas menatapnya. Ia tidak menunjukkan rasa takut atau tunduk sama sekali yang memberikan suatu kesan bahwa meski dirinya seorang Omega, ia tidak akan merendahkan dirinya pada orang lain. Kris menyukai sikap Luhan yang tidak menunjukkan kalau bajingan itu adalah seorang Omega. "Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Kris terus terang.
Luhan kembali mengangkat satu kakinya dan mengarahkannya pada selangkangan Kris. Omega itu menggunakan satu kakinya untuk menggoda penis yang Kris yang mulai menegang. "I want to be yours," bisik Luhan setengah mendesah.
Kris mengepalkan tangan berusaha menahan dirinya. Ia tidak akan dipermainkan oleh bajingan dari keluarga Denomme yang telah membunuh seluruh keluarganya. Ia tahu permainan macam apa yang sedang Luhan lakukan padanya. Dan ia bersumpah atas kuburan kedua orang tuanya, ia tidak akan pernah tergoda.
Kris memilih untuk menyerah kali ini. Ia memundurkan langkahnya. Matanya beradu pada Luhan yang merasa puas telah membuat Alpha terakhir musuh keluarganya itu tidak bisa berkutik. Kris keluar dari sel dan kembali menggembok pintunya. Langkahnya menuju kantor semakin memberat begitu ia menyadari kalau penisnya masih menegang. Fuck that whore! Kris menggeram pelan berusaha untuk tidak membayangkan Luhan menunggingkan badan untuknya.
.
.
"Kenapa kau masih menahanku di sini?"
"Siapa yang menahanmu? Kau saja yang tampaknya tidak mau pergi. Lagipula, tidak ada juga yang mencarimu, kan?"
Pertanyaan Sehun itu berhasil membungkam dan menusuk hati Jongin. Meski, sulit untuk dirinya akui. Memang selama nyaris seminggu menjadi "tahanan" Oh Sehun, tidak ada satu pun tanda orang yang mencarinya. Ia tidak memiliki keluarga dan juga teman yang akan mencemaskannya. Apa sebaiknya ia harus mulai merelakan kehidupannya ditangan Oh Sehun? Jongin menggelengkan kepala. Tidak, sampai kapanpun ia tidak sudi menjadi bagian dari keluarga sakit jiwa ini. Ia tidak ingin berhubungan sama sekali dengan yang namanya mafia, mengingat orangtuanya dibunuh oleh sekelompok mafia yang juga menghancurkan hidupnya.
"Lihat, kau malah diam. Artinya apa yang aku bicarakan tadi memang benar," Sehun menyeringai puas. Jongin mendelik tajam padanya, tidak menyukai kebenaran yang dikatakan pria itu.
Selama dua hari ini, Sehun bersikeras untuk melatih ketahanan fisik serta skill Jongin. Entah apa maksud serta tujuannya, Jongin yang berpikir untuk menggunakan keahlian barunya ini untuk berbalik menyerang Sehun serta puluhan bodyguard Beta sialannya hanya menurut saja. Ia mengikuti berbagai macam trainning yang mustahil untuk dilakukan Omega selama dua hari ini. Terkadang, di tengah jalannya latihan ia suka mendapati beberapa orang penonton yang menyaksikan betapa keras trainning-nya dengan sorot mata kagum serta decakan tak percaya. Tak jarang Jongin mendengar keraguan mereka terhadap statusnya sebagai Omega.
Jongin melemparkan pisau di tangannya, lurus hingga tertancap pada titik target sasaran. Dengan seringai yang cukup menguji kesabaran Sehun, pria itu memainkan pisau terakhir ditangannya sambil melemparkan tatapan merendahkan pada Sehun. "Bagaimana kalau kau berdiri di sana dengan sebuah apel di atas kepalamu dan mari kita uji keberuntunganmu, Mr. Alpha?" tanya Jongin sengaja memancingnya.
Sehun tidak sebodoh yang Jongin harapkan. Ia tahu permainan macam apa yang Jongin berusaha lakukan sekarang. Pria itu sedang mencoba untuk merendahkan dirinya. Memancing amarah serta egonya sampai ia kehilangan rasional dan berakhir menggantikan tembok itu menjadi sasaran utama pisau seorang Omega. Sehun menarik seringai licik. Ia adalah seorang Alpha dengan kekuasaan serta harga diri yang tinggi. Ia tidak akan pernah merendahkan dirinya di hadapan siapapun, terutama seorang Omega.
Sehun merampas pisau terakhir itu dari tangan Jongin. Bibirnya mengatup rapat, matanya mengilat tajam hanya tertuju pada Jongin seorang dan tanpa melihat titik target di seberang sana, ia melemparkan pisau itu dengan begitu ringan. Nafas Jongin langsung terasa sesak begitu ia melihat pisau lemparan Sehun itu tertancap pada titik target berdampingan dengan pisaunya. Ketika, Jongin menoleh ke arah Sehun lagi. Wajah Alpha bajingan itu begitu dekat padanya.
Tidak ada seringai di bibirnya, yang ada hanya kilatan tajam yang membuat mata hitam kelamnya bersinar. Jongin seolah hanyut di dalam mata Sehun yang begitu dalam. Tiba-tiba saja, lututnya terasa lemas saat Sehun dengan terang-terangan mencium aroma khas Omega-nya. Kepalanya kemudian terasa pusing saat Sehun mendekatkan bibir pria itu pada telinganya. "Sepertinya, aku lebih beruntung daripadamu," bisik Sehun lalu bibir itu berpindah mengecup pipinya dengan lembut.
Jongin mematung di tempat. Ia membiarkan Sehun berlalu pergi meninggalkannya di dalam ruangan trainning. Begitu pintu ruangan tertutup rapat, Jongin langsung menyentuh dadanya. Merasakan detak jantungnya yang menggila serta dadanya yang bergerak naik-turun mengatur nafas yang sempat menyesek. Tanpa dirinya sadari, wajahnya mulai bersemu merah. Gairah yang berhasil terkubur dalam di dalam dirinya kembali naik ke permukaan.
Tiba-tiba saja, permukaan kulit Jongin terasa panas. Ia langsung jatuh berjongkok di lantai berusaha menahan berbagai macam reaksi tidak biasa akibat sentuhan Sehun barusan.
Fuck, ini tidak pernah terjadi sebelumnya!
Apa jangan-jangan ini karena... Lutut Jongin terasa lemas, begitupun dengan tubuhnya. Ia nyaris saja ambruk kalau ia tidak menahan dirinya dengan berpegangan dengan ujung meja. Hanya ada satu jawaban yang dapat menjelaskan situasinya ini.
Salah satu hal yang dibencinya sebagai seorang Omega adalah masa in heat yang berlangsung sekitar seminggu atau paling lama sebulan. Masa ini bisa dibilang adalah masa yang diberikan bagi Omega untuk mencari pasangan mereka kalau dilihat secara pandangan positifnya. Namun, bagi Jongin sendiri, masa in heat adalah malapetaka. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia pasti akan melewati batasan-batasan terlarang yang akan disesalinya kemudian. Dan tentu saja, melewati masa in heat di luar isolasi apartemennya semakin memperburuk situasi ini.
Tubuhnya semakin menghangat. Ia harus segera kembali ke kamarnya dan mengurung diri di dalam sana. Setelah itu, mungkin ia bisa meminta bantuan seseorang untuk membelikannya obat yang dapat menekan hormon serta aroma in heat-nya ini. Ia tidak ingin ada satu pun Alpha yang mencium aroma mengundangnya, terutama Sehun.
Ya, tentu saja, terutama Alpa bajingan seperti Oh Sehun.
.
.
Sialnya, begitu Jongin sampai di kamarnya yang lagi-lagi diacak-acak oleh Isabelle atau Krystal. Omega itu tersadar kalau tidak ada orang yang bisa dipercayainya di rumah ini. Ia harus membeli obat itu sendiri tanpa sepengetahuan siapapun. Namun, yang jadi masalahnya adalah bagaimana caranya ia keluar dari mansion yang lebih mirip penjara Pentagon ini?
"Jongin-ah," panggil seorang gadis dari ambang pintu. Kepala Krystal menyembul ke dalam kamarnya dan dari pengamatannya, ia yakin ada sesuatu yang gadis itu inginkan darinya. "Ayo, kita shopping bersama,"
Brengsek. Jongin langsung menggeram rendah dan bukannya ketakutan, Krystal malah menganggap Omega itu sangat hot. "Aku memang Omega. Tapi, bukan berarti aku ini bisa disamakan dengan kalian," Ya, kalian, para mahluk hawa yang suka membuang waktunya di salon atau mal.
Krystal tidak pernah merajuk pada pria mana pun, terutama pada Omega. Namun, ia melakukannya pada Jongin. Bibir gadis itu mengerucut maju serta sorot matanya sengaja menunjukkan suatu kekecewaan. "Tapi, tapi, aku perlu membeli jumpsuit baru! Selain itu, hari ini ada diskon besar-besaran! Kau harus menemaniku, Omega!"
Untung saja, gender Krystal masih perempuan. Jika saja, Alpha itu adalah seorang laki-laki dengan tingkah culas serta sok memerintahnya itu (yang jujur saja agak menyerupai Sehun). Mungkin, ia sudah menghantamkan kepalanya ke tembok. "Memangnya, patner in crime-mu kemana?" tanya Jongin yang sebenarnya tidak peduli.
Wajah aegyo Krystal berubah menjadi berang. Raut wajahnya jelas menyiratkan kalau ia tidak ingin menjawab apapun pertanyaan mengenai Isabelle yang Jongin duga sedang pergi kencan dengan kekasih barunya. Oke, Isabelle memang gadis yang sangat cantik dengan wajah khas Eropa-nya. Tapi, siapa sih laki-laki atau perempuan waras yang bisa tahan dengan tingkahnya yang seperti kloningan Krystal dan Sehun? Jongin yakin kalau pada akhirnya Krystal lah pilihan terakhir gadis itu.
Tepat sebelum Krystal mengamuk padanya atau mulai mengutuki Isabelle serta kekasih barunya, Chanyeol melintas di depan kamar Jongin dan berhenti saat menyadari adanya aura-aura membunuh dari Krystal dan Jongin benar-benar ingin melarikan diri dari gadis itu. "Hei, ada apa ini?"
Krystal maupun Jongin beralih menatap Chanyeol. Menurut Jongin, dari semua anggota keluarga sakit jiwa ini hanyalah Chanyeol yang tampaknya masih bisa disembuhkan (dan, tentu saja, dari mereka semua Oh Sehun lah yang paling kronis). Krystal tiba-tiba saja memeluk lengan Chanyeol (yang selalu membuat Jongin tidak fokus) lalu mulai merajuk padanya. "Yeol, antar aku dan Jongin ke mal, ya!"
Chanyeol menatapnya dengan datar lalu melirik ke arah Jongin yang hanya mematung di tempat. Pria itu kemudian beralih kembali pada Krystal, menatap lurus pada gadis yang kini menatapnya dengan mata berbinar-binar, dan dengan seutas senyum kecil ia mengangguk. Krystal nyaris menjerit histeris, tapi langsung membungkam dirinya sendiri dengan mencium pipi Chanyeol. "Thanks, brother!"
Gadis berambut ombre hitam serta ungu violet itu berlari menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Meninggalkan Jongin sendirian bersama Chanyeol yang tengah tersenyum lebar padanya. "Kau benar-benar memanjakannya," gumam Jongin, cukup keras bagi Chanyeol untuk mendengarnya.
Chanyeol mengangkat bahu. "Mau bagaimana lagi, aku terbiasa memanjakan Krystal dan Sehun,"
Jongin nyaris tersedak air liurnya sendiri. Telinganya terasa seperti akan berdarah. Ia tidak salah dengar, kan? Seorang Oh Sehun bisa ber-aegyo dan merengek seperti Krystal saat keinginannya tidak bisa terpenuhi? Huh, sangat mengejutkan. Tanpa dirinya sadari, Jongin terkekeh geli membayangkan apa jadinya kalau Sehun lah yang tadi merajuk pada dirinya dan Chanyeol.
"Memang sulit untuk dibayangkan, tapi saat Sehun kecil dia sangat.. bagaimana menjelaskannya, hmm, sangat membutuhkan perhatian dari orang lain. Dan sedikit bocoran saja, bajingan itu memiliki banyak aegyo saat umurnya masih belasan tahun," ujar Chanyeol lagi. Dan seperti dirinya, pria itu tidak bisa menahan senyum geli yang merekah di bibirnya.
"Aku tidak bisa membayangkannya. Pasti, mengerikan sekali,"
"Sampai sekarang, Sehun tidak pernah tahan jika harus mendengar soal cerita tentang masa kecilnya. Ia sendiri pun sadar kalau masa-masa aegyo-nya itu sangat memalukan,"
Hmm, mungkin ia bisa menggunakan informasi yang baru diketahuinya untuk menyiksa Oh Sehun. Jongin diam-diam menarik seringai dan mulai membayangkan Sehun yang meminta ampun padanya saat ia mulai membeberkan masa kelam bajingan arogan itu.
Sementara, Jongin sedang membuat skenario penyiksaan Oh Sehun dalam otaknya. Chanyeol mulai merasa gusar saat ia menyadari kalau cepat atau lambat ia harus menanyakan hal ini pada Jongin. Mungkin, Sehun, Krystal, Isabelle atau keluarga mereka lainnya bisa saja berpura-pura tidak peduli. Namun, ia bukan mereka dan ia juga lelah untuk menahan dirinya lebih lama lagi.
Ia harus mencari Luhan dan membawanya kembali ke rumah ini.
"Jongin, apa kau pernah mendengar seorang tahanan Omega bernama Luhan?" tanya Chanyeol tiba-tiba.
Jongin langsung menatap lurus ke arahnya dan menyadari perubahan dari raut muka Alpha itu. Nama Luhan itu terdengar familiar baginya. Ia bersumpah kalau ia pernah mendengar nama itu di suatu tempat. Namun, sebelum ia bisa mengingat dimana ia pernah mendengar nama itu. Krystal sudah kembali ke kamarnya dengan senyum merekah lebar. Sangat lebar, malah. Dan tebak siapa orang yang dibawanya kali ini? Ya, tentu saja, Oh Sehun dengan wajah bosannya.
"Tumben, kau tidak memberontak kali ini?" goda Chanyeol yang segera mendapat delikan tajam dari Sehun. Delikan tajam itu bermakna sama dengan ancaman 'diam saja kalau kau masih ingin hidup'.
Layaknya juru bicara Sehun, Krystal mewakili pria itu menjawab pertanyaan Chanyeol. "Aku yakin bajingan ini juga butuh refreshing, Yeol. Kau tahu, saat menemukannya di ruang kerja dengan dua tumpukan kertas yang entah apa isinya. Aku tahu kalau aku harus membuatnya berhenti sebelum ia depresi dan menyiksa Alferd,"
Alferd adalah tangan kanan keluarga Denommée yang bisa dibilang mengurus seluruh kebutuhan mansion dan penghuninya ini. Seperti Alferd di film Batman, pria paruh baya itu juga memiliki karakter yang sama. Jongin baru tiga kali bertemu Alferd yang akhir-akhir ini sibuk. Namun, meski begitu ia sudah menyukai Alferd yang selalu memperlakukan dirinya dengan respect. Berbeda sekali dengan para guard mansion yang terkadang masih menatap rendah dirinya hanya karena ia seorang Omega.
"Alferd yang malang," Chanyeol mendecak sambil menggeleng-geleng kepalanya.
Jika saja, Krystal tidak menjerit meminta mereka semua untuk segera pergi (dengan alasan "sebelum nanti kita kehabisan sale-nya!" seolah mereka bertiga akan ikut belanja dengan gadis itu). Mungkin, ia akan melihat Sehun mematahkan leher Chanyeol atau sebaliknya. Jongin tersenyum geli membayangkan perkelahian kedua Alpha itu. Namun, dalam sekejap senyumnya lenyap saat ia mendengar Sehun mencibirnya.
"Dasar aneh,"
Jongin tahu kalau cibiran tidak masuk akal (dan sangat bullshit itu) ditujukan padanya. Karena meskipun Sehun hanya bergumam, tatapan pria itu secara terang-terangan ditujukan padanya. Jongin hanya membalasnya dengan delikan tajam. Sedangkan, Sehun kembali menarik seringai yang entah mengapa membuat tubuhnya kembali memanas. Dan barulah Jongin menyadari sesuatu yang menghantam dirinya cukup keras.
Fuck, fuck, kenapa tubuhnya hanya bereaksi pada bajingan itu?!
.
.
Jongin menahan dirinya mati-matian yang semakin sensitif oleh sentuhan siapapun. Dan mengapa ia bisa menjadi seperti ini? Jawaban itu ada di hadapannya.
Chanyeol yang diam-diam adalah seorang shopaholic sudah mabuk dengan diskon gila-gilaan seperti Krystal yang terakhir kali Jongin lihat sedang rebutan heels dengan seorang ahjumma. Sehingga, dirinya dan Sehun berakhir terpisah oleh mereka berdua di antara ratusan manusia shopaholic yang haus akan diskon. Beberapa kali, lengannya bersentuhan dengan Sehun saat mereka berusaha keluar dari kerumunan toko itu. Jongin dapat merasakan sengatan yang langsung membuat tubuhnya melemah serta konsentrasinya terbagi.
Sehun yang merasa Jongin terlalu lamban akhirnya menggenggam tangan Omega itu dan menariknya keluar dari kerumunan. Membuat Jongin merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Detak jantung serta denyut nadinya seolah berlomba. Tubuhnya kembali memanas dan jika ia tidak bisa menahannya, mungkin penisnya sudah menegang di bawah sana. Fuck, fuck, fuck, kenapa ia jadi mudah terangsang seperti ini?!
Jongin yang kemudian menyadari betapa menyedihkannya situasi ini kemudian tertawa layaknya orang gila sampai rasanya ia ingin menangis setelah itu. Sehun serta pengunjung Starbucks lainnya menatap ke arah Omega itu dan diam-diam mempertanyakan kewarasannya.
"Alpha itu terlalu sempurna untuk memiliki pasangan Omega. Maksudku, sekarang kan hubungan Alpha dan Alpha tidak begitu aneh lagi. Walaupun, Alpha dan Alpha sulit sekali untuk menghasilkan keturunan. Setidaknya, generasi penerus Alpha itu tidak akan dirusak oleh Omega,"
"Ya, ya, aku setuju sekali. Omega itu sebaiknya dijadikan sebagai pabrik baby saja. Jadi, siapa yang membutuhkan anak bisa memakai jasa Omega itu,"
"Terdengar seperti pelacur saja,"
"Hei, bukannya mereka memang pelacur?"
Lalu, dua orang perempuan Beta yang duduk persis di samping mereka terbahak keras sambil sesekali melirik ke arah Jongin. Sesungguhnya, ia sudah terbiasa mendengar komentar-komentar pedas (dan kadang memang kurang ajar) tentang Omega dari para Alpha maupun Beta yang menganggap diri mereka jauh lebih bernilai daripada Omega. Namun, meski begitu, ia masih tidak bisa menahan rasa nyeri pada telinga serta hatinya. Ia juga tidak bisa menahan kepalanya untuk tetap terangkat dan akhirnya, ia kembali terkalahkan oleh orang-orang brengsek yang bahkan tidak tahu betapa sulitnya menjadi seorang Omega.
"Kalau kalian tidak segera pergi dari sini, aku tidak akan segan-segan menembak kepala kalian sekarang juga,"
Seisi Starbuck membeku begitu mendengar ancaman yang terlontar dari mulut Sehun. Tidak ada yang berani bergerak atau bahkan berpikir untuk membantu kedua Beta itu. Semua orang yang awalnya tidak peduli kini mendelik ke arah dua orang Beta seolah mengusir mereka untuk segera keluar. Dan tanpa bicara ataupun berani membantah, kedua perempuan Beta itu segera berlari keluar dari Starbucks.
Sehun yang dengan santainya menyesap hot chocolate milknya kini menatap lurus ke arah Jongin. Seperti yang lainnya, Jongin masih membeku di tempatnya masih tidak memercayai apa yang baru saja Sehun lakukan untuknya.
What the hell?! Pria Alpha itu baru saja membelanya.
"Aku yakin mereka akan melapor pada polisi. Atau seseorang di ruangan ini pasti akan melakukannya," gumam Jongin.
"Aku tidak peduli. Mereka hanya akan membuang tenaga mereka dengan berbagai macam argumentasi mereka padaku. Karena asal tahu saja, sebagi anggota keluarga Denommée, kami semua kebal akan hukum," jelas Sehun dengan senyuman bangga yang cenderung menyombongkan diri.
"Maksudnya?" Jongin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya lebih jauh. Sebagai seseorang yang bekerja dalam bidang hukum, hal ini sangat menarik perhatiannya.
"Keluarga Denommée mengendalikan sebagian dari pemerintah. Kami memberikan mereka fasilitas serta pinjaman dalam jumlah besar dan sebagai gantinya, mereka melindungi kami dari berbagai macam tuntutan maupun tuduhan yang bisa memanjarakan kami,"
Wah, jadi mitos itu benar-benar nyata? Jongin pernah mendengar soal keluarga mafia yang selama ini mendapat perlindungan dari hukum. Namun, ia tidak pernah memercayainya karena dirinya yang naif terlalu memercayai pemerintah.
Jongin menyesap greentea latte-nya dengan perasaan berkobar. Sebagai seseorang yang taat hukum dan pembela keadilan, ia tidak akan membiarkan pemerintah dikendalikan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab seperti Sehun. "Pemerintah tidak-" namun, sebelum ia sempat memulai argumentasinya. Tiba-tiba saja, Sehun mengangkat dagunya dan mencium bibirnya.
Pria itu menghisap bibirnya seolah ingin merasakan rasa greentea yang mungkin masih tersisa di permukaan bibirnya. Jongin hanya memejamkan matanya. Tubuhnya seperti terbakar dan jantungnya seperti akan meledak. Otaknya mati oleh gairah yang memancing seluruh saraf di dalam otaknya untuk membiarkan Sehun melakukan apa yang pria itu ingin lakukan padanya. Sehun menciumnya dengan lambat, tidak terburu-buru, dan benar-benar membuatnya mabuk sampai ia menginginkan lebih.
Ketika, Sehun mencium aroma menyengat dari selangkangan Jongin. Alpha itu tahu kalau dirinya harus berhenti. Ia melepaskan Jongin lalu menatapnya dengan seringai menggoda. Ia mengusap ujung bibirnya dengan satu jempolnya. Sehun masih dapat merasakan rasa bibir Jongin yang bercampur dengan rasa greentea.
"Kau terlalu banyak bicara," jadi aku menciummu.
Jongin baru saja akan membalasnya dengan berbagai macam kata makian serta kutukan. Namun, Sehun sudah menggenggam tangannya lagi dan menariknya untuk bangkit berdiri. "Ayo, kita pergi dari sini sebelum ada orang yang memerkosamu. Jika, kau tidak mendengarkanku kali ini saja. Aku bersumpah tidak akan menolongmu lagi, Jongin,"
Jongin mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Dan benar saja, beberapa orang Alpha dengan terang-terangan menatap ke arah dirinya seolah mereka akan menerkam dirinya. Daripada nyawanya terancam dan ia berakhir di gangbang oleh para bajingan itu. Ia menggenggam tangan Sehun erat dan mendekatkan diri padanya. Sehun diam-diam melirik ke arahnya lalu tersenyum dan bergumam pada dirinya sendiri, "mignon."
Jongin yang mendengar samar gumaman Sehun itu bertanya padanya setelah mereka berada di luar Starbucks. "Kau bilang apa?"
Sehun masih menggenggam tangannya lalu menjawab dengan wajah serius, "Aku bilang kalau lebihbaik kalau aku yang memperkosamu daripada mereka semua."
Wajah Jongin memerah antara karena malu, emosi atau keduanya. "Fuck off, Jerk!"
.
.
Rin's note :
*mignon : cute, lovely, etc
aku mager nulis note jadi kalau mau nanya something langsung me askfm aku aja (ferineee)
