chapter 7 : yes, alpha

rated m for blowjob and dirty talk (?)


Entah sudah berapa lama ia duduk menanti seseorang mengeluarkannya dari lubang neraka ini. Mungkin, dua hari? Entahlah. Ia mulai merasa dehidrasi karena sejak terakhir kali Kris mengecek keadaannya sipir penjara tiba-tiba saja berhenti memberikannya asupan makanan ataupun minuman. Luhan bisa saja menahan lapar di perutnya. Ia sudah terbiasa menghindari makanan yang dibuatkan koki keluarga Denomme setiap ia sedang menjalani program diet pembentukan otot yang kata Chanyeol cukup ekstrem. (Ya, ia memang harus berusaha mati-matian untuk membentuk biceps di tangan serta abs di perutnya daripada Alpha atau Beta lainnya. Karena tubuh Omega tidak dirancang untuk memiliki abs, biceps atau berotot)

Kepala terayun ke belakang. Matanya memandang langit-langit sel penjara yang mengingatkannya akan masa lalu. Sebelum, Oh Inhwa menyelamatkannya di Osaka dari Omega trafficking dan mengadopsinya sebagai kakak serta guardian bagi Sehun. Luhan sudah terbiasa dengan situasi sel penjara yang dingin serta menyesakkan ini. Bedanya, mungkin ia tidak sendirian kala itu. Ada Omega di bawah umur lainnya yang berlindung pada Luhan dengan harapan bocah laki-laki yang berusia 16 tahun itu bisa mencarikan jalan keluar bagi mereka untuk bebas. Luhan tersenyum getir. Pada akhirnya, hanya sebagian dari mereka yang selamat. Sementara, yang sebagiannya lagi berakhir menjadi sex slave.

Pandangan Luhan semakin mengabur. Satu titik di langit-langit sel seolah bergoyang dan membelah diri menjadi tiga titik. Selain itu, bau busuk serta amisnya darah sama sekali tidak membantu Luhan untuk mempertahankan kesadarannya. Matanya mulai terpejam serta kepalanya tertunduk ke depan. Ia menyerah. Bukan karena dirinya lemah atau karena ia adalah seorang Omega.

Pintu sel terbuka lebar dan tiga orang pria Beta bertubuh kekar masuk ke dalamnya. Dari belakang ketiga pria itu, pemimpin mereka berjalan mendekat ke arah Luhan yang tidak sadarkan diri. Tubuh lemas Luhan nyaris terjatuh ke lantai yang seperti lautan darah. Namun, ia segera menangkapnya membuat kepala Luhan bersandar pada bahunya. Ia melirik ketiga anak buahnya lalu berkata, "Ledakkan penjara ini. Aku sendiri yang akan membawa Omega jalang ini keluar dari lubang neraka ini."

Ketiga pria Beta segera berpencar untuk menempelkan bom waktu di empat sisi sel penjara. Mereka sudah membunuh polisi yang bertugas di ruang monitor sebelumnya. Sehingga, mereka tidak ada lagi yang bisa menghalangi mereka sekarang. Kris menggendong tubuh Luhan yang ternyata lebih ringan daripada dugaannya. Ia membawa Omega itu keluar dari sana sebelum anak buahnya meledakkan setiap sisi penjara itu.

Ada sekitar dua puluh anak buahnya yang berpencar ke setiap sisi penjara itu menaruh bom waktu. Mereka sengaja menjalankan serangan mereka pada pukul 2 pagi. Karena sebagai seorang kepala dari divisi Omega, Kris yang setiap harinya bolak-balik memenjarakan atau menginterograsi para tahanan Alpha atau Beta di sini sudah mengenal betul jadwal jaga para polisi di sini. Biasanya, dari jam 1-2 pagi hanya 20 polisi yang berjaga di setiap bagian sel.

Kris keluar dari belakang penjara dan masuk ke dalam mobil BMW yang sudah menantinya di sana. Ia menaruh tubuh Luhan dengan hati-hati di kursi belakang. Sementara itu, ia memilih untuk duduk di kursi depan menemani sepupunya yang ambil bagian dalam penyerangan kali ini. Yixing meliriknya sekilas lalu tersenyum kecil. "Well, that bitch is cute," komentar Yixing atau Lay sambil menunjuk Luhan dengan jempolnya.

Kris menggeram keras sebagai tanda kalau Yixing tidak boleh menyentuh Omega itu sama sekali. "Заткнись," perintah Kris dalam bahasa Rusia. ("shut up!")

Yixing hanya terkekeh geli lalu menyalakan mesin mobil. Selang sepuluh menit dari kepergian mereka, suara ledakan terdengar keras memecah kesunyian malam. Salah satu bangunan yang didesain sebagai bagunan paling kokoh di Korea Selatan itu roboh dan seperti terperosok jatuh ke dalam tanah. Kris tidak perlu menoleh ke belakang untuk mengetahui apakah rencananya berhasil atau tidak. Karena ia tahu kalau rencananya tidak pernah gagal.

.

.

Isabelle, Krystal serta Chanyeol duduk terdiam menonton liputan berita pagi mengenai salah satu penjara terbesar yang menahan para tahanan Omega serta Alpha yang sekitar jam 2 dini hari diledakkan oleh komplotan teroris atau mafia. Jongin yang memilih untuk menyantap sarapannya di meja makan beberapa kali mengecek ponselnya menunggu kabar dari Baekhyun, Kris atau Zitao. Ia sempat mengetik sebuah pesan kepada Baekhyun menanyakan keadaan pria itu. Namun, ia segera menghapus pesan itu karena ia merasa.. seharusnya ia ada di sana saat semua ini terjadi. Bagaimanapun juga, ia masih bagian dari mereka.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Sehun yang entah sejak kapan duduk di depannya.

Jongin menggigit bibir. Ia tidak bisa berbohong kepada Sehun yang menatapnya dengan tatapan seperti itu. "Apa ini semua perbuatan mafia Rusia?" Jongin menjawab pertanyaan Sehun dengan pertanyaan.

Sehun tertegun sejenak. Lalu, ia tertawa keras membuat Chanyeol, Isabelle serta Krystal melirik ke arah mereka. "Kau terdengar seperti polisi yang sedang menginterograsiku," jawab Sehun. Entah ia sedang mencoba mencibirnya atau hanya ingin mengalihkan pembicaraan.

Jongin memicingkan matanya. Ia tahu seperti apa permainan Sehun dan ia tidak akan dibodohi olehnya. "Aku memang polisi dan aku tidak sedang menginterograsimu. Aku hanya bertanya," balas Jongin.

"Bagaimana menurutmu? Apa ini perbuatan mafia Rusia atau perbuatan anak buahku sendiri?"

"Aku tidak bermaksud untuk menuduhmu kalau itu yang membuatmu begitu marah sekarang,"

"Aku tidak marah!" tukas Sehun.

Jongin memutar mata lalu menjejalkan potongan roti bakar ke dalam mulutnya. Ia tidak ingin berdebat dengan Sehun. Itu hanya akan membuang waktu serta tenaganya. Sehun pun yang kemudian menyadari kalau ia bertindak seperti bajingan sekarang, bangkit berdiri dan memilih untuk pergi entah kemana. Mungkin, ia akan menyibukkan diri dengan samsak di ruang latihan atau mengecek lembaran kertas laporan dari bisnis gelapnya. (Kata Chanyeol, sistem bisnis mafia pun sebenarnya tidak berbeda jauh dengan perusahaan-perusahaan pada umumnya. Bedanya, mereka menjual narkoba serta senjata ilegal.)

"Hei, jangan dengarkan dia. Sehun terkadang bisa menjadi sangat bajingan jika ia sedang depresi," ujar Chanyeol. Pria itu duduk di seberangnya sekarang menggantikan posisi Sehun.

Jongin hanya mengangkat bahunya. Sesungguhnya, ia tidak begitu mempedulikan Sehun dan tuduhan pria itu padanya. Karena menurutnya ada hal lain yang jauh lebih penting daripada mengurusi Alpha bajingan itu. "Sepertinya, aku harus kembali bekerja sekarang," kata Jongin tiba-tiba.

Chanyeol mengerutkan keningnya sedikit terkejut dengan keputusan Jongin. Ia menatap Jongin seolah meminta pria itu melanjutkan perkataannya. Jongin menarik nafas panjang. Untung saja, ia sedang berhadapan dengan Chanyeol sekarang. Meskipun, pria itu memiliki aura Alpha yang cukup mengintimidasinya. Jongin merasa ia dapat mengutarakan segala macam pendepat atau opininya pada pria itu. Lain halnya, dengan Sehun yang lebih mengarah pada tipe Alpha yang tidak akan mau mendengarkan pendapat orang lain, terutama pendapat seorang Omega sepertinya.

"Aku tidak bisa diam saja di sini. Aku merasa aku harus melakukan sesuatu untuk membantu mereka. Maksudku, aku masih seorang polisi. Jadi, apa yang aku lakukan di sini sebenarnya? Seharusnya, aku ada di sana!"

Jongin sadar kalau dirinya terdengar sangat frustasi sekarang. Ia benar-benar harus melakukan sesuatu. Ia tidak mungkin diam di sini dan berpura-pura dirinya bukan lagi bagian dari Division of Investigation & Forensic Beta, yang merupakan divisi paling payah serta diremehkan dari kedua divisi lainnya. Chanyeol menganggukkan kepala karena, thank God, dia mengerti kalau Jongin tidak bisa diam saja di sini. "Tapi," Chanyeol menunjuk salah satu dari empat jendela yang dibiarkan terbuka pagi ini. "ini adalah hari pertama salju turun. Aku pernah membaca kalau daya tahan tubuh Omega tidak sekuat Beta atau Alpha. Jadi, sebaiknya kau diam di sini saja dulu. Besok pagi, kau baru boleh pulang ke flatmu."

Jongin nyaris meloncat kegirangan dari kursinya karena, fuck, ia baru sadar kalau salju sudah turun sejak subuh tadi. Musim dingin adalah musim favorit Jongin. Selain itu, libur natal adalah liburan favoritnya. Biasanya, setiap hari pertama salju turun ia akan mengurung diri di dalam flat kecilnya dengan selimut tebal bercorak natal serta secangkir coklat panas. Lalu, hari kedua ia akan keluar untuk membeli kado natal spesial untuk bibi, paman serta dua keponakannya.

"Ada yang mau coklat panas?" tawar Krystal memecah keheningan.

Jongin langsung mengangkat tangannya yang kemudian disusul oleh Chanyeol serta Isabelle.

"Sepertinya, aku tahu apa yang membuat Sehun marah tadi," celetuk Isabelle.

Mereka sedang berada di ruang tengah sekarang, menunggu Krystal yang bersikeras untuk membuat coklat panas dengan tangannya sendiri tanpa bantuan siapapun. Jongin dan Chanyeol yang duduk di lantai sedang memilih film apa yang akan mereka tonton. Sementara, Isabelle duduk di atas sofa tampak bosan.

"What?" Chanyeol mengangkat kepalanya menatap Isabelle ingin tahu. Jongin memanfaatkan kesempatan itu untuk merampas remote TV di tangan Chanyeol. "Hei!" Chanyeol memekik putus asa begitu menyadari kalau remote itu tidak berada di tangannya lagi. Jongin menjulurkan lidahnya pada Chanyeol lalu mengganti saluran.

Isabelle memutar mata karena ini bukan pertama kalinya Chanyeol kalah dari Beta atau Omega. Melihat Jongin yang berhasil membuat Chanyeol memekik seperti Omega itu, mengingatkan dirinya akan Luhan yang entah ada dimana sekarang. "Jasper menelpon sejam yang lalu. Mungkin, ia sudah mendengar berita ini terlebih dahulu dan menganggap ini adalah ulah Sehun," jelas Isabelle terdengar masuk akal.

Jongin berusaha fokus menonton wajah tampan Captain America di TV. Ia tidak ingin ikut campur dengan masalah keluarga Denomme. Jadi, lebihbaik ia pura-pura tuli dan berharap dirinya invisible di mata Chanyeol atau Isabelle sekarang. Sebelum, Chanyeol sempat membuka mulutnya. Krystal datang membawa nampan berisi empat cangkir coklat panas yang aromanya berhasil menarik perhatian Jongin. Ia nyaris menyerang Krystal untuk mendapatkan secangkir coklat panasnya itu.

"Ini buatanmu?" tanya Chanyeol setelah menyesap coklat panas itu.

Krystal mengangkat dagunya tinggi-tinggi membuat Chanyeol menyesal telah bertanya padanya. "Enak, kan?" tanya Krystal dan Chanyeol enggan menjawabnya. Ego Alpha-nya terlalu besar untuk memuji Alpha lain.

"Very good, bae!" puji Isabelle sambil mengacungkan dua jempolnya yang kemudian diikuti oleh Jongin.

Krystal duduk di sebelah Isabelle dan menaruh cangkir terakhir di atas meja. Jongin yang sudah menandaskan cangkir miliknya, melirik ke arah cangkir itu dengan lapar. "Itu untuk siapa?" tanyanya basa-basi. Ia berharap kalau Krystal akan menjawab; "itu bukan untuk siapa-siapa. kau mau? kau bisa meminumnya,"

Sayangnya, jawaban Krystal jauh diluar ekspektasi Jongin. "Itu untuk Sehun. Kau ingin mengantarkannya? Kata Alfred, dia sedang berada di kamarnya sekarang. Merenung atau tidur,"

Jongin melirik ke arah Chanyeol, menunggu pria itu untuk menawarkan diri. Namun, sialnya pria itu sedang tidak berada di timnya. Chanyeol menjulurkan lidahnya lalu berbalik menonton Captain America di TV. Kalau sudah begini, ia tidak memiliki pilihan lain. Jongin beralih menatap Krystal yang menyeringai padanya dan menyerahkan nampan berisi cangkir terakhir itu padanya. Jongin mengambil nampan itu dengan hati-hati serta perasaan kacau.

Ia benar-benar tidak ingin melihat muka bajingan Sehun sekarang. Namun, takdir (atau tiga orang brengsek itu) seolah mendesak dirinya untuk bersama dengan Oh Sehun.

Kamar Sehun berletak tidak jauh dari kamarnya. Jongin tidak tahu apa yang membuat keringatnya bercucuran jatuh serta suhu tubuhnya menaik. Hingga, saat ia berdiri di depan kamar Sehun dan mencium aroma Alpha terangsang yang begitu pekat. Barulah ia tahu mengapa tubuhnya bereaksi seperti ini. Jongin mengangkat satu tangannya untuk mengetuk pintu kamar. Namun, tangannya membeku karena sebagian dari dirinya berpikir kalau ini bukanlah saat yang tepat untuk bertemu dengan Sehun. Ia yakin Alpha itu juga memikirkan hal yang sama.

Jongin akhirnya memutuskan untuk kembali ke ruang tengah dengan alasan Sehun sudah tidur atau pria itu tidak membukakannya pintu. Namun, sebelum ia sempat melangkahkan kakinya. Pintu terbuka dan seseorang dari dalam kamar menariknya masuk. Untungnya, Jongin memiliki reflek yang bagus. Sehingga, ia bisa menjaga keseimbangannya dan cangkir coklat yang amat berharga itu tidak jatuh terbuang ke lantai.

"Fuck," gumam Jongin. Entah ia sedang mengutuk Sehun atau dirinya sendiri.

Aroma Sehun yang semakin pekat serta memabukkan membuat diri Jongin lemah. Matanya yang terbelalak melihat Sehun yang shirtless dan hanya memakai boxer hitam ketat yang menunjukkan lekuk penis pria itu dengan jelas, membuat dirinya nyaris mendesah. Persetan, Sehun bahkan belum menyentuhnya sama sekali. Namun, ia sudah sangat basah di bawah sana.

Sehun memicingkan matanya. Jongin yakin pria itu juga dapat mencium aromanya, seperti Jongin dapat mencium aroma Sehun. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sehun. Suaranya terdengar lebih serak serta seksi.

"Aa-aku," sial, ia bahkan tidak bisa bicara dengan benar sekarang. "ingin mengantarkan ini,"

Sehun melirik ke arah secangkir coklat panas yang sekarang sudah dingin. Ia menghela nafas, mungkin mencoba untuk mengendalikan sisi dominannya yang sangat ingin menerkam Jongin sekarang. Aroma Omega itu membuat dirinya.. nyaris menggila. "Taruh di sana," perintah Sehun sambil menunjuk meja nakas di samping kasurnya.

Jongin segera menaruh nampan di atas meja nakas. Ia membungkukkan tubuhnya dan secara tidak sengaja menunggingkan bokongnya. Fuck, Sehun mengutuk dirinya berulang kali karena penisnya semakin mengeras di bawah sana serta suhu tubuhnya menaik dan ia nyaris seperti akan terbakar. Jongin dapat merasakan aroma terangsang serta frustasi dari satu-satunya Alpha di ruangan ini. Ia menghela nafas panjang berusaha menjernihkan pikirannya. Namun, jujur saja dengan aroma sepekat ini dan seorang Alpha shirtless tidak jauh darinya. Jongin tidak yakin ia dapat berpikir jernih.

"Sehun," Jongin berbalik menghadapnya. Ia memanggil nama Sehun dengan suara yang berbeda dan itu membuat Sehun semakin sulit untuk menahan dirinya. "can you sit, please?"

Jongin memohon padanya dengan tatapan polos, sehingga Sehun menurutinya secara otomatis. Meskipun, dirinya memang termasuk ke dalam kategori Alpha bajingan. Ia tidak sebajingan itu sampai-sampai ia tidak mau menuruti permohonan seorang Omega. Sehun duduk di salah satu bangku yang berada di pojok ruang. Jongin berjalan menghampirinya masih menatapnya dengan tatapan yang sama. Sehun mulai berpikir kalau wajah polos Omega itu hanyalah akting.

"Aku tahu apa yang kau lakukan sebelumnya," Jongin menyeringai membuat Sehun ingin menarik omega itu ke atas pangkuannya. "jerking off or masturbation, right?"

Sehun hanya terdiam menatapnya. Karena tanpa perlu ia menjawabnya pun, ia yakin Jongin sudah tahu jawabannya. Jongin mendekatkan diri padanya lalu berbisik di telinganya, "Apa kau sudah mencapai orgasme?"

Sehun tidak bisa menahan dirinya lagi. Tubuhnya menginginkan Jongin dan ia yakin Jongin pun menginginkan hal yang sama. Sehun menggeram pelan, sebelum ia menjambak rambut Jongin hingga leher jenjang Omega itu terekspos di hadapannya. "Kau benar-benar tidak sopan, putain. Apa aku harus membuatmu tersedak dengan penisku dahulu dan barulah kau tahu apa yang namanya sopan santun itu? rispondetemi, la bella puttana!"

"Yes, Alpha! Yes, yes," Jongin menjerit begitu tangan Sehun mulai meremas bokongnya.

"Kalau begitu, berikan aku blowjob terbaikmu," peritah Sehun lagi.

Jongin tahu kalau setelah ini ia akan menyesali setiap perbuatannya dan mungkin akan membenci dirinya sendiri. Tapi, dilain sisi ia sangat membutuhkan semua ini. Ia memang terlihat seperti Omega yang lebih menyerupai Beta atau bahkan Alpha dalam hal fisik ataupun karakter. Namun, jauh di dalam sana ia tidak bisa membohongi siapapun kalau ia tetaplah seorang Omega yang membutuhkan seorang Alpha untuk mengendalikannya. Selama bertahun-tahun ini, Jongin selalu berpikir kalau ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk menunjukkan kalau dirinya adalah Omega yang baik-Omega yang pantas untuk dimiliki oleh seorang Alpha. Seperti Omega lainnya, Jongin juga ingin mendengar berbagai macam pujian dari Alpha-nya. Ia ingin dicintai lewat pujian-pujian yang keluar dari mulut seorang Alpha.

Dan mungkin, inilah saatnya bagi Jongin untuk menunjukkan kalau ia bisa menjadi Omega yang baik. Ia bisa memuaskan Alpha-nya dan menuruti setiap perintahnya.

"Answer me, whore!"

"Yes, Alpha! I will give you the best blowjob ever!"

Sehun mengelus lembut surai rambut Jongin membuat Omega itu mengangkat kepala, menatap ke arah Alpha-nya. "Good. You are a good Omega, Jongin,"

You are a good Omega, Jongin.

Kata-kata itu menggema di dalam telinga Jongin. Omega itu tersenyum lebar membuat Sehun sulit untuk tidak membalas senyumnya. "Thanks, Alpha," katanya dan kemudian menurunkan boxer Sehun hingga berada di pergelangan kaki Alpha itu.

Jongin memegang batang penis Sehun lalu mulai mengocoknya secara perlahan. Sehun mengatur nafasnya dan menatap lurus ke arah Jongin. "Lihat aku," perintahnya dan Jongin kembali menurutinya. Mereka saling bersitatap, sementara Jongin memijat penis Sehun yang semakin memerah serta menegang menunjukkan urat-urat pada batangnya. Jujur saja, ini adalah pertama kalinya ia melihat penis sepanjang serta sebesar Sehun. Fuck, ia mulai memikirkan bagaimana rasanya jika penis Sehun berada di dalamnya.

Ketika, Jongin memasukkan batang penis Sehun secara perlahan ke dalam mulutnya. Sehun mengepalkan tangannya karena kehangatan mulut Jongin. Jongin mencoba memasukkan seluruh penis Sehun ke dalam mulutnya sampai-sampai hidungnya menyentuh bulu pubis Sehun dan ia tersedak. Matanya mulai berair dan tidak berpindah sama sekali dari Sehun. Sehun mengatur nafasnya karena, persetan, ini adalah pemandangan paling hot dalam hidupnya. Coba saja, ia dapat memfoto Jongin sekarang. Ia pasti akan menggunakan foto itu sebagai bahan masturbasi seumur hidupnya.

Setelah, merasa terbiasa dengan penis panjang Sehun di dalam mulutnya. Jongin mulai menggerakkan kepalanya memberikan Sehun blowjob terbaik seperti yang dijanjikannya. Sehun mengelus surai rambut Jongin beberapa kali sebagai tanda kalau Jongin did a good job. Sehun benar-benar terpuaskan oleh mulutnya.

Sehun sempat berpikir untuk menggerakkan pinggangnya dan menyodok mulut Jongin. Namun, ia pikir lain kali saja. Hahaha, ya, lain kali. Seperti akan ada kesempatan lainnya saja untuk menggunakan mulut Jongin. Ia yakin setelah ini Jongin akan sangat membencinya karena mengambil keuntungan dari sisi Omega pria itu.

Setelah, sepuluh menit Jongin menggunakan mulut serta tangannya untuk memuaskan Sehun. Sehun dapat merasakan orgasmenya di depan mata. Ia menarik penisnya keluar dari mulut Jongin membuat Omega itu merengek padanya. Sehun terkekeh geli lalu menampar pipi Omega itu dengan batang penisnya. "Jangan protes,"

Jongin hanya terdiam menatapnya. Sementara, Sehun mulai memijat penisnya sendiri hingga pre-cum mulai keluar dari ujung penisnya. Jongin membuka mulutnya secara otomatis membuat Sehun tertawa kecil. "Hungry slut for my cum," gumam Sehun lalu menyemburkan cairan orgasmenya mengenai mulut, hidung serta pipi Jongin. Jongin segera memejamkan matanya sebelum cum Sehun itu mengenai matanya.

Ketika, Sehun berhenti menyemburkan cum-nya pada wajah Jongin. Pria itu bersandar pada bangkunya dan Jongin membuka mata. Pria itu menatapnya dengan tatapan kosong untuk beberapa saat. Sebelum, akhirnya ia menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Jongin mengepalkan tangannya. Ia dapat merasakan lengketnya cum Sehun di wajahnya. Namun, tentu saja itu tidak seberapa dengan rasa malu yang menggerogoti dirinya sekarang.

"Umm," Sehun menggaruk tengkuk lehernya sendiri.

"Just," Jongin menarik nafas. Ia tidak boleh pingsan sekarang. "shut up,"

"Okay," Sehun melirik ke bawah dan menyadari kalau penisnya masih menegang.

"Oiya, Sehun," Sehun berusaha menghiraukan penisnya dan beralih menatap Jongin.

"Ya?"

Jongin kembali menarik nafas. Ia tidak boleh pingsan. "Aku butuh tisiu,"

"Oke," Sehun berusaha menggapai sekotak tisiu yang berada tidak jauh darinya.

Dan sebelum Sehun sempat memberikan Jongin selembar tisiu, pria itu sudah jatuh pingsan dengan wajah penuh dengan cum.

.

.


Rin's note :

aku ngakak hard karena omgg smutt abis itu crack.. well, jarang banget kan aku buat chapter kayak gini

anyways, aku bingung mau nulis apa di notes kali ini karena jujur aku masih speechless dengan smutt gajeku.. i meant.. bagian "urat-urat" itu bikin aku ngakak dan geli sendiri pas ngetiknya pokoknya UGHH I NEED HOLY WATER

* puttain : whore

* rispondetemi, la bella puttanaputtana : answer me, my beautiful whore

p.s if u want to ask something just PM me or go ask on my askfm (ferineee)