Sudah seminggu, sejak ia keluar dari mansion keluarga Denommée–atau juga keluar dari kehidupan mereka.
Selama seminggu ini, Jongin menyibukkan dirinya dengan kertas kerja yang menumpuk di mejanya. Baekhyun bilang selama dirinya pergi mengunjungi kerabatnya di Busan untuk melewati masa in heat-nya (yang tentu saja adalah sebuah kebohongan besar) cukup banyak kasus besar yang terjadi. Salah satunya yang menjadi topik utama sampai beberapa bulan ke depan nanti adalah pengeboman penjara Alpha&Omega seminggu yang lalu. FBI serta NIS yang bekerjasama untuk menangkap dalang dari insiden tersebut masih belum menemukan apapun yang dapat membawa mereka lebih dekat pada pelaku pengeboman–yang artinya kasus ini berada dalam jalan buntu.
Jongin sengaja tidak melibatkan dirinya ke dalam kasus itu karena NIS mulai mencurigai kasus ini ada hubungannya dengan para gembong mafia yang mengendalikan sebagian dari kota. Selain itu, alasan lainnya ia menghindari Kris adalah tahanan Omega yang sebulan lalu ia interograsi.
"Jongin, kau dipanggil ke divisi Omega," ujar Baekhyun setelah menutup telpon.
Shit. Ia tidak tahu apa yang Kris inginkan darinya, tapi apapun itu yang Alpha itu inginkan darinya ia tidak akan memberikannya dengan mudah. Karena untuk beberapa alasan yang tidak ingin dirinya akui–ia tidak akan membiarkan mereka menjadikan keluarga Denommée kambing hitam dalam masalah ini. Jongin yakin kalau pengeboman ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan mereka. Mengingat, Sehun sendiri tampak terguncang setelah melihat berita ini di televisi.
Ia berjalan melewati para Alpha yang bekerja di divisi Omega dengan dagu terangkat serta tatapan lurus ke depan. Ia tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang mengikutinya atau secara terang-terangan mencium aroma Omeganya. Persetan dengan mereka yang tidak pernah bisa memperlakukan Omega dengan respect. Jongin tidak ingin mempermasalahkan tindakan tidak sopan mereka itu sekarang. Masih ada banyak waktu yang dapat digunakannya untuk menendang selangkangan salah satu dari mereka.
"Jadi, apa yang kau inginkan dariku?" Jongin berdiri di ambang pintu, menatap bosan ketiga Alpha yang semula sedang sibuk berdiskusi. Kris adalah orang pertama yang menoleh padanya dan tampak puas begitu melihatnya setelah beberapa hari mencarinya di divisi Beta.
"Welcome back," ujar Kris saat dirinya melangkah masuk lalu duduk di samping perempuan Alpha berwajah asing dengan hidung mancung serta jawline setajam pisau.
Jongin berbalik pada perempuan itu seraya menawarkan jabatan tangannya. "Kau pasti dari FBI. My name is Kim Jongin, a humble Omega from-"
"Aku tahu siapa kau, Kim Jongin. Kris serta Seung Hyun sudah menceritakan betapa briliannya dirimu dalam menghadapi kasus-kasus Omega selama ini, yang tentu saja membuatku bertanya-tanya mengapa kau masih berada di divisi Beta dengan talenta sehebat itu," perempuan itu menjabat tangan Jongin lalu menarik senyum simpul di bibir merahnya. "and my name is Agent Hadid from FBI."
Jongin membalas senyum perempuan itu dengan canggung. Sekilas, ia melirik ke arah Kris yang duduk persis di seberangnya. Pria itu masih memasang senyum menyebalkan di bibirnya yang membuat Jongin berpikir kalau Alpha itu sedang memperangkapnya dalam situasi ini. "Well, saya berharap bahwa mereka juga memberitahu anda tentang kebiasaan buruk saya yang selalu menyulitkan mereka semua," Jongin dapat melihat senyum geli di bibir Kris serta kerutan di kening Seung Hyun.
Agen Hadid mengamati dirinya untuk beberapa saat lalu menganggukkan kepala. "Kau memang tidak terlihat seperti Omega pada umumnya dan itu adalah hal yang bagus. But, please, you can drop the formality. Kau bisa bicara Banmal padaku," perempuan itu terdengar tulus dengan setiap perkataannya. Selain itu, tidak seperti Alpha lainnya yang menuntut Jongin tunduk dengan aroma mengintimidasi mereka atau cara mereka bicara padanya. Agen Hadid memiliki aroma yang menenangkan serta mengingatkannya pada bunga Lavender–ia tidak tercium seperti Alpha.
"Oke," Jongin menurutinya bukan karena ia Alpha, melainkan karena ia memintanya. "jadi, apa yang kalian inginkan dariku?"
Kris mendengus setelah mendengar pertanyaannya, membuat mereka semua menoleh padanya dengan ekspresi yang berbeda-beda. "Straight-forward as always," gumam Kris cukup jelas untuk Jongin dengar.
Jongin menatapnya dengan tidak sabar karena, sungguh, ia tidak memerlukan basa-basi ini untuk lebih lama lagi. Sebelum, ia sempat membuka mulutnya untuk menyerang Kris dengan berbagai macam kata yang seharusnya Omega tidak katakan pada Alpha. Seung Hyun sudah terlebih dahulu membuka mulut mendahuluinya.
"Setelah menginvestigasi seluruh tahanan yang selamat maupun tidak selamat. Kami menemukan kejanggalan dari satu sel yang cukup kontroversial. Kau masih ingat Omega bernama Luhan atau ternyata bernama Edward Estee Denommée?"
Denommée? Omega yang sebulan lalu dia introgasi itu adalah seorang Denommée? "Ya, ya, aku masih ingat dia," jawab Jongin. Ia berusaha untuk tenang dan menekan segala macam rasa gugup serta panik yang mulai menggerogoti dirinya.
"Omega itu seharusnya ada di sel Alpha bersama empat atau enam Alpha lainnya. Tapi, saat kami mencari mayatnya serta berusaha mengidentifikasi mayat-mayat lainnya yang sudah hangus terbakar tapi masih sedikit tersisa untuk dibawa ke lab. Kami tidak bisa menemukan Luhan sama sekali. Pria itu seperti lenyap dari TKP dan tentu saja, itu tidak mungkin karena mayat para Alpha lainnya yang berada di sekitar selnya ada," jelas Seung Hyun.
"Pengeboman ini adalah tindakan tidak manusiawi yang menarik perhatian seluruh dunia. Bukan hanya para keluarga korban yang merasa tersakiti mendengar berita ini, melainkan kami semua. Entah apa status, ras serta-"
"-Please, ada yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di sini?" Jongin memotong perkataan Agen Hadid dan melemparkan tatapan bersalah padanya.
"Bukannya ini sangat jelas? Keluarga Denommée yang kita kenal sebagai penguasa para mafia berusaha membebaskan Luhan dengan mengebom penjara itu," jawab Kris dengan seringai di bibirnya. Mungkin, Agen Hadid serta Seung Hyun tidak melihatnya. Namun, Jongin dapat melihat satu kemenangan yang tersembunyi di balik seringai itu.
"Dan Kim Jongin, FBI serta NIS meminta dirimu secara resmi untuk menjadi bagian dari tim kami dalam kasus kali ini. FBI, NIS serta divisi Omega akan bekerjasama untuk menangkap Luhan serta memenjarakan seluruh keluarga Denommée yang terlibat ke dalam pengeboman ini," Agen Hadid menyerahkan sebuah map berisi kertas-kertas persetujuan yang harus ditandatanganinya. Jongin membuka map itu dan menatap kosong ke arah halaman pertamanya.
Kepalanya terangkat naik dan matanya tanpa sengaja bersitatap dengan Kris. Alpha itu tersenyum manis padanya seolah ia menikmati setiap detiknya melihat Jongin berada dalam situasi seperti ini. Padahal, Jongin yakin kalau Kris sama sekali tidak tahu soal waktu sebulannya hidup bersama keluarga Denommée. Jongin mengerutkan keningnya saat ia mencium samar aroma Omega dari arah Kris serta Seung Hyun. Ia mengenali aroma ini tapi ia tidak bisa memastikan dimana ia menciumnya. Kris menaikkan salah satu alisnya seperti menanyakan apa yang sebenarnya ia lakukan.
"Jadi?" Jongin segera berbalik pada Agen Hadid yang mulai terlihat tidak sabar.
Omega itu menarik nafas panjang lalu menutup map itu. "Boleh aku mempertimbangkannya terlebih dahulu? Ini adalah pekerjaan dengan tanggungjawab yang cukup besar," jawabnya setengah berbohong dan setengah jujur.
Agen Hadid menganggukkan kepala serta tersenyum padanya. "Kau memiliki waktu dua hari untuk memikirkan tawaran ini,"
"Terima kasih banyak," ujar Jongin padanya lalu melirik ke arah Kris serta Seung Hyun. Ia bangkit berdiri dan berpamitan karena banyak kertas kerja berisi kasus-kasus yang harus ditanganinya. Ketiga Alpha itu mempersilahkannya untuk keluar dan tidak terlihat curiga dengan tingkah gugupnya.
Jongin melangkah keluar divisi Omega dengan kepala tertunduk serta sebuah map menghimpit dadanya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Setiap langkah yang diambilnya dalam situasi ini memiliki resiko yang bukan hanya menyulikan dirinya tapi juga dapat merugikannya. Jika ia menolak tawaran ini, mereka pasti tidak akan melepaskannya semudah itu. Mengingat, Kris tahu kalau ia memiliki ambisi untuk keluar dari divisi Beta dan terlibat dalam kasus besar seperti ini. Mereka semua pasti akan mempertanyakan penolakannya dan mulai mencurigainya. Tapi, kalau ia menerima tawaran ini... ia merasa kalau dirinya adalah pengkhianat bagi teman-teman serta mate-nya.
Jongin memutuskan untuk membeli hot dog di ujung jalan untuk menjernihkan pikirannya. Ia sengaja memesan dua hot dog ukuran besar karena makanan selalu menjadi pengalihan terbaik dari setiap masalah yang dihadapinya. Jongin duduk di bangku panjang dengan satu hot dog digenggamannya dan yang satunya lagi di pangkuannya. Ia sama sekali tidak tahu kalau ada beberapa pasang mata yang memperhatikannya dari seberang jalan.
.
.
"Kau mengirim lima orang bodyguard untuk memantau setiap pergerakannya dan kau bilang itu tidak aneh?!" jerit Krystal.
Sehun memijat batang hidungnya dengan mata terpejam. Krystal ataupun Isabelle tidak seharusnya tahu soal lima bodyguard yang seminggu ini mengikuti Jongin dan selalu melaporkan keadaan Omega itu padanya. Ia sudah mengira kalau kedua gadis itu akan menganggap tindakannya aneh serta pengecut. Chanyeol sudah mengatakan itu padanya, jadi ia tidak butuh sindiran yang sama dari Krystal ataupun Isabelle. "Aku hanya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja," belanya.
"Kalau begitu, mengapa kau membiarkannya keluar dari rumah ini, stupido!" tukas Isabelle. Gadis itu menahan dirinya untuk tidak membenturkan kepala Sehun ke tembok.
"Dia yang memutuskan untuk keluar dari sini!" Sehun kembali mengeluarkan argumennya yang kedua gadis itu anggap konyol serta menggelikan.
Krystal menepuk bahu Sehun membuat pria itu mendongak menatapnya. "Jika, kau benar-benar memiliki perasaan dengannya. Kau tidak akan membiarkannya pergi semudah itu," suara Krystal terdengar lebih lembut dari biasanya. Mengingatkan, Sehun akan ibunya yang entah ada dimana sekarang.
Pria itu mengerutkan keningnya lalu membalas, "Darimana kau tahu kalau aku memiliki perasaan pada Jongin?"
Isabelle menjawab pertanyaan Sehun dengan tawa palsu, sementara Krystal meremas bahunya sempat berpikir untuk mematahkan lengan saudaranya itu karena kebodohannya. "Apa aku harus menjawab pertanyaan bodohmu itu, mio fratello? Karena aku yakin kau sendiri sudah tahu jawabannya," Krystal menyeringai padanya, lantas menepuk bahu Sehun untuk terakhir kalinya.
Sehun mengamati Krystal serta Isabelle yang keluar dari ruang kerjanya. Ia bertaruh kalau sebentar lagi mereka akan pergi shopping dan tidak berhenti membicarakan kebodohannya selama mereka menguras habis kartu kredit Sehun. Diam-diam, Sehun tertawa kecil untuk pertama kalinya dalam seminggu ini. Ia berbaring di atas sofa panjang yang berada di tengah ruangannya. Selang beberapa menit, telepon di atas mejanya berdering menandakan kalau waktu santainya telah berakhir. Sehun mengangkat gagang telepon dengan malas dan sebelum dirinya sempat membuka mulut, orang di seberang sana sudah mendahuluinya.
"Xavier, questo sono io. Ho una grande notizia per voi,"
Sehun mengenali suara ini. Ia langsung duduk di kursi kerjanya yang terasa jauh lebih besar daripada sebelumnya. Luhan selalu berhasil membuatnya merasa kecil–seolah dirinya bukan apa-apa dibandingkan Omega itu. Terkadang, Sehun suka berpikir kalau saja status Luhan adalah seorang Alpha. Mungkin, pria itulah yang duduk di kursi ini dan memimpin keluarga Denommée serta keluarga mafia lainnya menuju kejayaan. Sayangnya, Luhan seorang Omega dan posisi pemimpin itu jatuh ke tangan kotornya yang hanya akan membawa keluarga ini jatuh ke dalam keruntuhan.
"Kau ada dimana sekarang? How are you?"
"Non ho abbastanza tempo, fratello. ma, c'è qualcosa che dovete sapere si tratta di quel bastardo. Ha nome figlio Kris o Wu Yifan. Lo potete trovare a Seoul,"
"Oke, aku akan mencari Kris atau Wu Yifan. But, are okay, fratello?"
"I am okay, fratello. Soon, we are going to rule the town togather, brother,"
Sebelum, Sehun sempat menanyakan apa maksudnya. Luhan sudah terlebih dahulu mematikan sambungan telepon. Sehun bangkit berdiri dari kursinya untuk mencari Jongdae atau Chanyeol untuk menyampaikan informasi tersebut. Luhan berhasil menemukan anak mafia Rusia itu yang selama ini mereka cari dari Eropa sampai Asia. Jika, mereka bisa membunuh Kris sebelum pria itu menyadari kalau keluarga Denommée sudah menemukannya. Maka, seluruh kekuasaan, kekayaan serta apapun yang dimiliki mafia Rusia akan berpindah tangan pada keluarga Denommée.
"Alfred, dove è maxime?"
"Sir Maxime è andato alla città,"
Sehun menganggukkan kepala sebagai tanda kalau ia sudah puas dengan jawaban Alfred. Pria paruh baya yang sudah mengabdikan setengah hidupnya pada keluarga Denommée dapat melihat kalau ada sesuatu yang mengganggu tuannya. "Sebentar lagi, Tuan Maxime juga akan pulang dari kota. Katanya ada gembong narkoba yang berutang yang harus dia urus di Gangnam," –dalam artian harus Chanyeol bunuh kalau gembong itu masih tidak mau membayar.
Sehun kembali menganggukkan kepalanya. Mungkin, ia bisa pergi ke kota untuk mencari Chanyeol atau Jongdae karena hanya mereka berdua orang yang ia percaya untuk melaksanakan tugas ini. Atau mungkin, ia bisa mampir sebentar ke flatnya untuk bersantai sebentar serta bernostalgia. Ya, ia yakin Jongin juga tidak akan ada di sana karena Omega itu sedang bekerja sekarang.
"Alfred, aku akan pergi ke kota sebentar. Katakan pada Chanyeol untuk mencariku saat ia sampai di rumah," pesan Sehun pada pria itu. Alfred menyunggingkan senyum serta mengangguk. "dan tolong siapkan mobilku," ujar Sehun lagi.
Alfred kembali mengangguk lalu menyuruh dua orang pria itu untuk menyiapkan mobil bagi pemimpin mereka. "Apa tuan membutuhkan supir atau-"
"Saya akan berkendara sendiri," ujar Sehun menekankan setiap katanya sebagai tanda kalau ia tidak memerlukan satu pun bodyguard untuk mengikutinya. Salah satu dari tiga bodyguard itu mengangguk paham.
Sehun berjalan keluar dari mansion keluarganya dan berhenti saat salah seorang pesuruhnya keluar dari dalam mobil antik milik ayahnya lalu memberikan kunci mobil tersebut padanya dengan kepala tertunduk. Sehun menggumamkan thank you lalu mengambil kunci tersebut. Ia berjalan masuk ke dalam mobil yang mesinnya sudah dipanaskan. Entah sudah berapa lama ia tidak memakai mobil ini, mungkin sekitar tiga tahun yang lalu. Sehun menginjak gas mobil, mengendarai mobil kesayangan ayahnya itu keluar dari kemewahan serta simbol dari kekayaan keluarganya.
Ia melintasi jalanan kota Seoul seolah ayahnya berada di sampingnya. Beberapa kali, ia melirik ke arah bangku kosong di sampingnya membayangkan apa jadinya kalau ayahnya benar-benar duduk di sana, mengamati dirinya berkendara dan tidak berhenti melontarkan komentar pedas mengenai cara berkendaranya yang payah. Well, sayangnya itu tidak akan pernah terjadi.
Sehun membelokkan mobilnya masuk ke dalam lingkungan kumuh di pusat Seoul yang tersembunyi di balik gemerlap Gangnam serta Apgujeong. Ia memarkirkan mobilnya di depan gedung flatnya yang terlihat semakin menyedihkan tiap harinya. Beberapa orang anak kecil yang semula sedang bermain bola, kini mulai mengamati mobil Sehun. Mungkin, sebentar lagi mereka akan memanggil orangtua mereka untuk mencuri mobilnya.
Sehun menaiki tangga menuju lantai dua. Ia memperhatikan lorong menuju flatnya yang sama sekali tidak berubah. Sampah serta jemuran yang entah milik siapa masih menjadi penghias utama di sana. Mata Sehun tidak berhenti mengamati setiap detail yang dulu terlewat dari pengamatannya. Jujur saja, dibandingkan hidup dengan puluhan pelayan, pesuruh, bodyguard ataupun Alfred yang sangat hebat dalam pekerjaannya. Ia lebih memilih tinggal di sini menjadi warga biasa yang tidak perlu mencemaskan apapun, selain makanan serta membayar sewa flat menyedihkan ini.
"Sehun, apa yang kau lakukan di sini?"
Ia terpaku di tempatnya dengan tubuh seolah membeku serta nafas tertahan. Ikatan yang terjalin di antara mereka mulai bekerja membuat Sehun merasa kalau dunianya berhenti berputar untuk sesaat. Alpha itu memutar tubuhnya, hingga mereka berhadapan sekarang. Jongin menatap lurus hanya pada dirinya, menanti langkah yang akan diambilnya setelah seminggu ini mereka berpisah.
Mine. My mate.
Satu suara berbisik padanya menyadarkan Sehun akan apa yang dilewatkannya selama ini. Alpha itu mengambil langkah mendekat pada Omeganya. Jongin membuang muka karena dorongan yang dirasakannya untuk bersama dengan Sehun amat besar. Melihat Sehun berada semakin dekat dengannya seolah mereka berada di dunia yang berbeda–tanpa mafia ataupun FBI yang mengejar mereka–Jongin semakin menginginkan dirinya, sekalipun ia tahu kalau Sehun tidak akan pernah menerimanya.
Sehun menangkup kedua pipinya membuat mata mereka kembali bertemu. "My mate, I want you, ti voglio così tanto, il mio amore," bisik Sehun lalu mengecup lembut keningnya.
Jongin memejamkan matanya dapat merasakan ikatan di antara mereka yang semakin mengerat. Ketika, ia membuka matanya ia dapat melihat Sehun yang tersenyum padanya seolah dunia ini tidak sedang mencoba membunuh mereka. Kali ini, Jongin lah yang mengelus lembut pipi Sehun membuat Alpha itu menggesekkan pipinya pada telapak tangan Jongin. Mata Sehun tidak pernah berpindah darinya menunjukkan kalau hanya Jongin lah yang terpenting bagi dirinya sekarang ini.
"Sehun," my Alpha.
"Ya?"
"they want to kill you and your family,"
.
.
Rin's note :
I love this chapter altough there's only one hunkai's moment in the end..
anyways, i hope all of you can understand.. kalau rated M itu nggak bisa setiap chapter.. i meant ini fanfic tentang mafia and a/b/o not about sex and sex.. so, yeah, i hope you can understand..
* mio fratello : my brother
* Xavier, questo sono io. Ho una grande notizia per voi : xavier, ini aku. aku punya berita bagus untukmu
* Non ho abbastanza tempo, fratello. ma, c'è qualcosa che dovete sapere si tratta di quel bastardo. Ha nome figlio Kris o Wu Yifan. Lo potete trovare a Seoul : aku tidak memiliki banyak waktu, bro. tapi, ada sesuatu yang harus kau ketahui mengenai bajingan itu. dia memiliki anak bernama Kris atau Wu Yifan. Kau bisa menemukannya di Seoul
* Alfred, dove è maxime? : Alfred, dimana Maxime?
* Sir Maxime è andato alla città : Tuan Maxime pergi ke kota
* ti voglio così tanto, il mio amore : aku sangat menginginkanmu, my love
p.s aku sampai nonton The Godfather for a little research about mafia's life lol
