Loneliness
Jaehyun X Taeyong
NCT-U © SM Entertaiment
.
Semuanya warna terasa kabur dan cahaya lampu dari berbagai tempat bagai menjadi kilasan warna-warni, begitu cepat bergerak. Taeyong menyerah untuk melihat jalanan malam Seoul lewat jendela van yang melaju kencang. Karena itu malah menambah lelahnya. Kelelahan mentalnya yang bahkan jauh lebih buruk daripada kelelahan fisik setelah aktifitasnya seharian.
Belum genap satu bulan NCT U memulai debut. Dan kehidupannya sudah sama sekali berbeda. Kini kemanapun dia pergi akan selalu ada kerumunan orang yang mengenali, bahkan jika ia memakai topi, masker, dan kacamata hitam. Setiap gerak-geriknya diawasi.
Wajahnya muncul di televisi, foto dan videonya berserakan di internet. Dan… komentar-komentar itu.
Taeyong baru tersadar jika dunia memang keras, apalagi bagi seorang entertainer. Membuatnya ingin sekali meringkuk dan menghilang saat orang-orang mulai menunjukkan taring mereka dan menggigitnya. Tapi itu akan sangat tidak bertanggung jawab. Karena ini adalah akibat yang mesti ia terima akan kesalahannya dulu. Kesalahan yang selalu ia sesali.
Pikiran Taeyong hanya terlalu lelah. Dan menatapi hujan lewat jendela kamar terbukti tak ampuh untuk membuatnya lebih baik.
"Sudah selesai melamunnya, Hyung?"
Taeyong hampir saja melupakan sosok lain yang eksis di ruangan itu, bersamanya. Di belakangnya, Jung Jaehyun berada di tempat tidur, duduk setengah berbaring dengan tangan memainkan ponsel, berbalut selimut hangat hingga perut.
Taeyong berbalik, mendesah pelan. "Aku tidak melamun."
Jaeyun tidak menjawab dan hanya menatapnya.
Taeyong berharap bahwa yang ada di depannya kini adalah Yuta atau Johnny, dan bukannya Jaehyun. Kedua orang itu selalu bisa membuatnya melupakan kemuramdurjaannya dengan tingkah konyol mereka. Tapi bukan berarti ia tak menyukai Jaehyun, ia hanya tidak mau terlihat semenyedihkan itu di mata pemuda yang lebih muda dua tahun darinya itu.
Taeyong tersenyum lemah. "Sebenarnya, aku memang sedikit melamun tadi," akunya kemudian.
"Jangan terlalu dipikirkan, Hyung."
Alis Taeyong tertaut. "Aku tidak mengerti maksudmu."
Bohong.
Jelas-jelas ia sangat mengerti maksud ucapannya. Hanya saja saat ini ia tidak mau membahas itu. Ia sudah cukup lelah. Taeyong berjalan ke ranjangnya sendiri dan menenggelamkan wajahnya pada bantal. Perasaan tak enak mengisi perutnya saat sadar jika ia sudah menolak kebaikan Jaehyun dengan cara kasar. Tapi itu seketika menghilang saat ia merasa seseorang menduduki ranjangnya dan mulai mengusap kepala bermahkota putih miliknya.
"Ada aku, Hyung. Ada kami."
Ada satu menit keheningan di mana Taeyong mendapati perasaan hangat menjalari hatinya. Dirinya merasa begitu beruntung karena ia tak harus merasakan sendirian. Dan itu membuatnya lebih baik. Jaehyun memang terlalu dewasa bahkan untuk usianya, dan terlalu peka.
Taeyong bangkit dan mendudukkan diri, tersenyum. "Jung Jaehyun dan mulut manisnya," pujinya setengah meledek.
Jaehyun tertawa.
Taeyong meraih bantal yang paling dekat dan memeluknya. "Sudah. Cepat tidur sana. Ini sudah malam." Secara tak langsung mengusir Jaehyun untuk menyingkir dari singgasananya malam ini, kasur. Tapi pemuda itu malah sengaja berbaring.
"Aku lelah, tapi tak bisa tidur, hyung."
Taeyong memainkan ponselnya."Tutup mata, Jaehyun. Nanti juga mengantuk."
"Tapi kalau aku tidur nanti hyung kesepian."
Taeyong menatap saengnya itu dengan tatapan aneh. "Jangan menggombaliku, Jaehyun-ah."
"Aku tidak sedang menggombal." Jaehyun menjawab. Bangkit dari tidurannya dan menempatkan tangannya melingkari perut sang hyung dari belakang. Menempatkan dagunya di bahu Taeyong. Kemudian berbisik, "Hyung selalu tampak kesepian, makanya aku selalu ingin memeluk hyung seperti ini."
"Mm." Taeyong tak perlu menyangkal. Karena Jaehyun mengenalnya lebih baik dan penyangkalan takkan membawanya kemana-kemana. Lagipula ia menyukainya, menyukai cara Jaehyun memeluknya seperti ini. Ada keheningan yang nyaman kala itu, saat Taeyong menyandarkan tubuhnya pada pelukan Jaehyun. Merasakan kehangatan yang tersalur dari sentuhan fisik mereka, yang juga mengisi hatinya.
"Apa hyung masih merasa kesepian?"
"Sedikit…"
"Kalau begitu haruskah aku menciummu sekarang, hyung?"
Taeyong tertawa.
Tapi mengangguk kecil sebagai jawaban. Ia menolehkan kepalanya ke samping dan Jaehyun tak menunggu lama menyentuhkan bibirnya dengan bibir sang hyung. Yang terasa hangat dan lembut saat bersentuhan dengan miliknya. Bibirnya bergerak pelan, mengikuti gerakan bibir Taeyong yang malu-malu.
Taeyong menjauhkan wajahnya sedikit, mengembuskan napas dengan gugup sambil menyembunyikan wajahnya yang terasa panas di balik poni.
Jaehyun tersenyum melihat itu. Memeluk hyungnya semakin erat. Dalam hati berharap jika ciuman mereka akan berubah menjadi lebih liar suatu saat nanti.
Yah, Jaehyun tak keberatan menunggu.
FIN~
Terimakasih kepada yang sudah mereview ch kemarin =))
