Comfortable
Jaehyun X Taeyong
.
Jaehyun menjatuhkan diri di sofa dan meletakkan kepalanya di pangkuan Taeyong, yang duduk sendirian menonton televisi. Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit. Member lain sepertinya sudah berada di kasur masing-masing, istirahat. Karena dorm yang biasanya berisik kini sepi.
"Pahaku bukan bantal," keluh Taeyong.
Tapi Jaehyun pura-pura tak dengar.
Taeyong menghela nafas, membiarkan. Jaehyun sepertinya sedang tak bisa tidur dan ingin bermanja padanya, ia tak pernah ada masalah dengan hal itu. Dan ia memilih untuk melanjutkan menonton televisi. Memang tak banyak acara menarik pada jam-jam seperti ini. Tapi berhubung Taeyong sedang tak bisa tidur. Jadi ia hanya akan menonton apapun yang ada di depannya. Dan kini ia punya tambahan pekerjaan, mengelus kepala Jaehyun.
Lima menit adalah waktu tenang yang dihabiskan Jaehyun. Karena setelahnya ia mulai bergerak-gerak gelisah. Ia merubah posisinya tiap lima detik sekali. Dari berbaring terlentang, kemudian menghadap ke kanan, terlentang lagi, menghadap kiri dan mengubur wajahnya pada perut Taeyong, terlentang.
Terus berulang seperti itu.
Taeyong yang sedang menonton mau tak mau terganggu. Ia menunduk, melihat bandmate yang dua tahun lebih muda darinya itu dengan kesal. "Jaehyun-ah―" panggilnya. Berharap gerakan-gerakan mengganggu itu berhenti.
"Hyung!" Jaehyun mendudukkan diri dengan bibir cemberut, setelah menyerah mencari posisi untuk tidur. "Pahamu tidak nyaman!" protesnya. "Aku jadi tidak bisa tiduuuuur~"
Taeyong menatap tak percaya. "Kau yang tidak mau diam yang membuatku tak nyaman, Jung!" balas Taeyong, cukup tersinggung dengan komentar Jaehyun mengenai pahanya. Ia sendiri yang tiba-tiba datang dan menjadikan pahanya sebagai bantal, dan kini ia menyalahkannya. Tapi Taeyong yang sudah lelah, sedang enggan berdebat. Jadi ia hanya menghela nafasnya lalu berujar, "Kalau mau tidur, pergi ambil bantal saja sana."
"Tidak mau," balasnya cepat. Cemberutnya semakin menjadi, tapi Jaehyun malah kembali menjadikan paha tak nyaman hyungnya itu sebagai bantal.
Taeyong merasa sedang berhadapan dengan anak berusia tiga tahun. Big baby ini terkadang bisa sangat menyebalkan. "Terserah deh," ujar Taeyong kemudian.
Jaehyun berhenti bicara setelah itu, tapi Taeyong yang berpura-pura fokus pada televisi bisa melihat jika mata sang saeng masih terbuka lebar, dan cemberut itu belum juga hilang. "Hyung, kau harus makan lebih banyak. Badanmu benar-benar terlalu kurus sampai-sampai aku mengira jika itu hanya tulang yang di bungkus kulit―"
"YA!"
Taeyong yang tak terima diejek langsung berusaha memukul bahu Jaehyun, tapi anak itu secepat kilat menghindar ke ujung sofa.
"Paha Dotokki-hyung bahkan terasa lebih nyaman daripada pahamu, hyung."
Kenapa jadi membahas masalah paha, sih? Taeyong tak merasa ada yang salah dengan pahanya. Dan apa-apan maksud Jaehyun membandingkan pahanya dengan paha Doyoung? Mendengar itu membuat Taeyong merasa berkali-kali lipat lebih kesal. "Yasudah, pergi sana pada dottoki-hyungmu dan tidur di pahanya," ketusnya, "Jangan ganggu aku."
Jaehyun yang melihat itu malah tersenyum. Hyungnya yang sedang cemburu terlihat lucu. "Tidak mau." Jaehyun tak mengindahkan usiran yang ia dapat kini malah kembali pada posisinya semula, berbaring dan menjadikan paha Taeyong sebagai bantal. Dan kini bahkan sambil menenggelamkan wajah sambil memeluk perut hyungnya itu. "Karena aku lebih suka aroma tubuh Taeyong-hyung," suaranya teredam tapi masih bisa terdengar.
Taeyong yang mendapatkan perlakuan seperti itu tentu terkejut. Alisnya terangkat tinggi saat mendengar perkataan Jaehyun mengenai aroma tubuhnya. Kenapa bahasan mereka aneh sekali. Tadi paha, sekarang aroma. "Maksudmu kau lebih suka wangi softergent yang aku gunakan pada pakaianku?"
Jaehyun menarik diri, menatap hyungnya sebentar, yang juga menatapnya. Ia mengerjap dua kali.
"Pft―Hahahaha." Kemudian tertawa.
Tentu saja bukan itu maksudnya.
Taeyong yang sadar jika yang sedang Jaehyun tertawakan adalah dirinya. Langsung protes, "Ya! Berhenti tertawa!"
EntahIa hyungnya itu benar-benar tidak mengerti atau justru hanya pura-pura. Jaehyun mendapati itu lucu. Dan ia tak bisa menahan diri untuk menarik tubuh hyungnya kesamping dan memeluknya. Hangat dan benar-benar nyaman. Jaehyun menyandarkan dirinya dan beringsut lebih dekat dengan sang hyung, menenggelamkan hidungnya pada lekukan leher. Menghirup aroma hyungnya itu dalam-dalam. "Ini aroma yang kumaksud ,hyung…"
"Ya!" Taeyong yang merasakan nafas panas di lehernya langsung bergerak tak nyaman. "Geli!"
Jaehyun terseyum, diam-diam.
Mata Taeyong melotot. "Jaehyun―"
Tubuhnya tiba-tiba saja terangkat. Membuatnya secara refleks mencari pegangan dan berakhir mengalungi leher Jaehyun. "Jaehyun! Turunkan aku!"
Jaehyun menggeleng, sudah pasti menolak. "Sudah malam, hyung. Ayo tidur." Jaehyun membawa langkahnya cepat-cepat ke arah kamar mereka, menghiraukan semua protesan dari hyung yang kini ada dalam gendonganya. Jaehyun tersenyum nakal, "Karena paha hyung tidak enak dijadikan bantal, maka sebagai gantinya hyung akan jadi gulingku malam ini."
Taeyong yang mendengar itu membeku.
Jaehyun merasa akan bisa tidur nyenyak malam ini.
"YA! JUNG JAEHYUN!"
.
…Omong-omong, sepertinya mereka lupa belum mematikan televisinya.
FIN
Terimakasih yang sudah review ch sebelumnya =)
