Bored

Jaehyun x Taeyong

.


"Hyung, apa yang kau lakukan?" Tanya Jaehyun. Ia sedang menonton film, mengisi waktu luangnya yang memang sangat langka akhir-akhir ini. Dan filmnya sudah mencapai klimaks.

(Ah, sepertinya kata klimaks sedikit ambigu. Tapi tenang. Jaehyun sedang tak menonton film seperti itu. Setidaknya tidak di pagi hari yang cerah begini.)

Taeyong tidak menjawab, hanya mempererat pelukannya di sekitar leher Jaehyun dari belakang. Iseng memainkan kaos bagian depannya dan terus turun hingga bagian perut―menepuk-nepuknya entah dengan maksud dan tujuan apa. Seluruh beban tubuhnya―yang sebetulnya memang tak terlalu berat―kini sudah berpindah ke Jaehyun. Taeyong memeluknya dari belakang, mirip bayi koala.

"Hyung, apa yang kau lakukan?" Tanya Jaehyun lagi, matanya masih pada layar, tapi sesekali berpindah fokus ke tangan Taeyong yang bermain dengan perutnya―membuatnya merasa geli-geli nikmat. (Satu kata ambigu lainnya di pagi ini)

"Tidak adaaaaa." Taeyong menjawab dengan suara yang sengaja dimainkan. Dan itu tepat terdengar di samping telinga Jaehyun.

Hyungnya ini sedang mencoba menggodanya atau apa?

Jaehyun memutar matanya dan akhirnya menyerah untuk melanjutkan menonton. Toh, adegan yang ia lihat di film itu bisa-bisa berubah menjadi adegan nista di pikirannya jika Taeyong terus mengganggunya seperti tadi. (Pikirannya memang sedikit bejat, dan Jaehyun menyayangkan yang satu ini)

"Apa maumu, hyung?" Tanya Jaehyun sambil memutar kursinya, memaksa Taeyong untuk melepaskan pelukannya dan mundur menjauh.

Taeyong membuat ekspresi bingung. Dengan tambahan bibir yang sedikit maju (Mungkin yang bersangkutan tidak berniat beraegyo tapi itulah yang Jaehyun lihat). "Aku hanya sedang ingin memeluk dongsaeng kesayanganku."

Harusnya Jaehyun tersentuh dengan sebutan dongsaeng kesayang dari Taeyong. Tapi, tidak. Wajah yang berusaha dibuat polos oleh hyungnya itu takkan mampu menipunya.

Lagipula Jaehyun tak mau hanya jadi dongsaeng, ia ingin status yang lebih dari itu. Pasangan hidup terdengar sempurna, tapi untuk sekarang ia akan bersabar dengan yang satu itu.

"Hyung, apa maumu?" Tanya Jaehyun, lagi. Dia tahu ada sesuatu di balik kelakuan aneh Taeyong.

"Sudah kubilang aku hanya sedang ingin memeluk dongsaeng kesayanganku. Apa tidak boleh?" Taeyong semakin cemberut. Memilih untuk berbalik arah dan duduk salah satu ranjang di ruangan itu.

Jaehyun menatap dalam diam.

"Apa?"

Jaehyun masih menatapnya.

"Oke, oke…"

Dan kemudian Taeyong menyerah. Menghela nafasnya pelan.

"Aku hanya sedang bosan," akunya kemudian. Membaringkan tubuhnya di kasur dan berguling-guling di sana sambil menggumamkan kata 'bosan' berulang-ulang.

Tak sadar jika kegiatannya itu membuat kaosnya sesekali tersingkap dan memberikan Jaehyun pandangan menggoda di pagi hari. Hyungnya itu terlihat seperti sudah siap digulati di atas kasur. (Pikiran bejat Jaehyun akan semakin parah jika begini ceritanya)

"Biasanya di pagi begini hyung kan sibuk di dapur."

Taeyong berhenti dengan kegiatan kurang kerjaannya dan kembali menatap Jaehyun. "Aku sudah selesai dengan pekerjaan di dapur sejak tadi. Aku sudah mencuci pakaian, menjemurnya, membereskan kamarku, menyapu, mengepel. Aku bahkan sudah mencuci ulang peralatan makan sebanyak dua kali."

Hyungnya itu benar-benar bosan rupanya…

"Kalo begitu istirahat―"

"Tidak mau." Taeyong memotong cepat, "Aku bosan."

Dan Taeyong kembali berguling-guling tidak jelas di atas kasur. Menggumamkan 'bosan' sampai Jaehyun yang mendengarnya saja bosan.

Di jam-jam begini mini rookies memang pergi ke sekolah. Hansol, Doyoung, Ten, Winwin, Kun, seingatnya tadi mereka pamit untuk pergi ke gedung SM sekaligus jalan-jalan setelah sarapan―mereka mengajaknya tapi ia sedang malas kemana-mana jadi ia menolak. Johnny, Jaehyun yakin hyungnya itu masih tidur sekarang, karena ia bahkan tak muncul saat sarapan. Taeil, hyung tertuanya itu kemarin memilih untuk pulang ke rumah dan belum kembali.

Dan pikiran itu membuat Jaehyun tersenyum. Jenis senyum yang membuat Taeyong yang kebetulan melihatnya langsung merinding. Menatapnya curiga, "Apa yang kau pikirkan?"

dia dan Taeyong hanya berdua di dorm sekarang.

"Tidak ada," ujarnya pendek. Tapi senyumnya semakin lebar saja.

"Senyummu seperti psychopath." Taeyong berkomentar sambil mendudukkan diri, bersila. Mengambil bantal terdekat, lalu menaruhnya di pangkuan. Menyangga dagunya dengan sebelah tangan. "Atau jangan-jangan memang psychopath?"

Jaehyun memutar matanya mendengar candaan Taeyong yang tidak lucu. Untung sayang. Karena jika tidak Taeyong pasti sudah habis sekarang. "Jika aku psychopath, hyung sudah kuperkosa lalu aku kuliti untuk dijadikan manekin."

Taeyong membuat wajah terganggu mendengar yang satu itu. "Kau terlalu banyak nonton film. Pikiranmu sudah ternoda. Kau bisa masuk penjara jika begitu ceritanya, Jaehyun."

Jaehyun tertawa. "Aku tidak keberatan masuk penjara sebagai ganti aku bisa memperkosamu, hyung."

Puk!

Sebuah bantal melayang tepat di wajahnya dan tawa Jaehyun malah semakin keras. Ekspresi hyungnya itu sungguh sangat lucu sekarang.

"Aku serius, hyung."

Jaehyun masih belum puas menggoda. Jadi ia sengaja membawa tubuhnya mendekat pada Taeyong. Membungkuk dan membisikkan kata selanjutnya dengan nada rendah. "Kecuali hyung mau melakukannya secara sukarela denganku―" Jaehyun menepuk kasur yang sedang di duduki Taeyong. "Di sini."

"…"

Membawa tubuhnya semakin mendekat pada sisi kepala Taeyong, berbisik di telinganya, "Sekarang."

"YA!" Taeyong mendorongnya menjauh dan berusaha memukul Jaehyun dengan bantal lain, tapi Jaehyun lebih cepat untuk menghindari pukulannya. "Ini masih pagi, Jung Jaehyun! Jangan bicara yang tidak-tidak!"

"Ah, aku mengerti. Jadi hyung lebih ingin melakukannya di malam hari?"

"BUKAN BEGITU!"

Tawa lagi.

"Lalu kenapa wajah hyung memerah sekarang?"

"A-apa? Aku―TIDAK! SIAPA YANG MEMERAH?!"

"Kiyowo. Hyung benar-benar minta kugagahi sekarang juga, ya?"

"YA! JUNG JAEHYUN!"

Lemparan bantal lain melayang. Sedikit meleset. Karena alih-alih mengenai Jaehyun, benda tak bersalah itu malah menumbuk dinding.

"Aku tahu banyak teknik yang bisa memuaskanmu, loh, hyung."

"DIAM!"

"Aku pastikan hyung akan meminta lagi setelah kita selesai melakukannya."

"JAEHYUN!"

Jaehyun tertawa semakin keras, saat Taeyong bangkit dari ranjang dan mulai mengejarnya karena sudah tak ada bantal yang bisa ia lempar. Ia berlari ke arah pintu untuk berlari ke luar. Dan hanya tinggal membuka pintunya. Tapi―

Wham!

Bersamaan dengan itu daun pintu terayun terbuka. Telak memukulnya tepat di wajah.

"Ups. Jaehyun! Maafkan aku."

Moon Taeil

"Hyung! Saaaaakit." Jaehyun merengek, mengusap dahinya yang kini sukses dihiasi warna kemerahan. Bagian itu juga berdenyut-denyut menyakitkan.

Taeil kembali menggumamkan kata maaf dengan panik, beralasan jika ia sudah memanggil-manggil mereka sejak tadi tapi tak ada yang menyahut. Lalu pergi ke dapur untuk mengambil es.

Taeyong yang sedari tadi mencoba menahan tawanya langsung mendekat. Mencoba melihat wajah Jaehyun. "Sini biar kulihat." Bagian dahi Jaehyun memang memerah, tapi Taeyong menyentil bagian itu dengan tak berperasaan.

"Aduh!" Jaehyun mengaduh, cemberutnya semakin menjadi. Dan kembali merengek, "Hyuuuuuuung!"

"Rasakan." Taeyong mengangkat bahunya. "Suruh siapa menggoda hyungmu."

"Aku kan menggoda agar hyung tidak bosan!"

Taeyong mengangkat alisnya.

"Tapi malah begini. Tahu begitu aku biarkan saja hyung kebosanan dan melanjutkan menonton film. Padahal filmku sedang ramai-ramainya tadi. Jadi wajahku tidak usah terbentur dengan pintu. Kalau wajahku tak tampan lagi bagaimana? Nanti aku―"

Cup

Tanpa berucap apapun Taeyong berjinjit dan menekankan bibirnya pada dahi Jaehyun. Memotong kalimat penuh keluhan dari saengnya itu yang terdengar berlebihan. Tersenyum kecil, lalu pergi begitu saja sambil terkekeh.

Meninggalkan Jaehyun yang masih melongo.

Bahkan sampai Taeil kembali muncul dengan es dan menawari untuk membantu mengompres dahinya.

"A-apa―"

Taeyong baru saja mencium dahinya?

Benar-benar mencium dahinya?

YANG BENAR?!

"Taeil-hyung!"

Taeil kebingungan. Apalagi saat melihat senyum lebar Jaehyun dan kalimat pemuda itu setelahnya yang nadanya riang sekali. Juga tingkahnya yang tiba-tiba memberinya pelukan erat. "Jaehyun-ah kau…. kenapa?"

"Kau harus sering-sering membenturkan wajahku dengan daun pintu jika begini ceritanya, hyung!"

Jung Jaehyun sudah tidak waras. Positif.

Jaehyun melepas pelukannya dan berlalu sambil meloncat-loncat girang. Memanggil-manggil nama Taeyong dengan senyum idiot. Kali ini meninggalkan Taeil yang masih terbengong dan mengerjapkan matanya dengan tak mengerti.

Apa tadi wajah Jaehyun terbentur terlalu keras? Pikir Taeil.


END

.


Apa ini? Mollaaa~

Btw, thanks untuk yang telah review ch sebelumnya (peluk)

aegiji; Flowyurin99; cumatemen; haechanoona; Sekar310; capungterbang; zitaofans; Shim Yeonhae; WhiTiwai; Yusi865; Dorkie Serenada; troalle; Katelunya Poop; Itsnainy; Byunki; jaeyong shipper