.
.
-First Impression-
.
.
.
Yoongi duduk tepat didepan Jimin membuat mereka diam dalam kebekuan. Jimin memberikan senyuman dan menyapa Yoongi begitu Hoseok memperkenalkannya.
"Yoongi dari sekolah yang sama denganmu. Tapi kau mungkin tak mengenalnya karena dia lulus sebelum kau masuk."
Jimin menatap Yoongi yang terlihat diam tak tertarik. Yoongi memakan kentang yang ada dimeja dan menyanggah perkataan Hoseok. "Dia kelas satu saat aku kelas tiga!" Yoongi mengawasi Jimin yang kini merasa tempat duduk tak nyaman. Apa dia takut aku akan mengatakan masalalunya bersamaku? Yoongi melirik Jungkook yang menatap wajah orang yang dulu pernah jadi miliknya.
"Kalau begitu kalian sudah saling kenal?!" Hoseok terkejut tak percaya. Sama halnya orang-orang yang duduk di meja itu yang menatap Yoongi dan Jimin bergantian.
"ne! Kami cukup dekat dulu." Yoongi mengatakan sebuah fakta sambil masih santai meminum beernya. Ia melirik Jimin yang masih dengan senyuman yang palsu dimata Yoongi.
"Benarkah? Kalau begitu, apakah dulu Yoongi sedingin ini?!" Kali ini Jin yang bertanya pada Jimin.
Orang-orang kini menatap Jimin penuh tanya. Mereka semua sangat penasaran dengan masa lalu sang Genius Min Suga yang tak pernah mereka dengar. Jimin tersenyum menatap Seokjin dan memandang Yoongi merasa canggung untuk mengatakannya. Sedangkan Yoongi yang sudah terbiasa dengan kata-kata orang tentang sifat dinginnya, acuh. Membuang muka, tak ingin peduli dengan apa yang akan Jimin katakan.
"Yoongi Oppa, dia dulu orang yang sangat disegani di sekolah!"
Semua orang tertawa kecuali Jimin yang merasa bersalah karena tak sadar kalau itu bisa jadi bahan tertawaan. Sedangkan Yoongi melirik Jimin lagi, dalam hati ia tersenyum karena Jimin memanggilnya oppa. Seperti saat mereka masih pacaran dulu. Sejenak Yoongi kembali merindukan masa-masa itu. ia rindu saat Jimin memanggilnya oppa dengan nada yang sangat manis dan imut.
"Ha ha ha Dia memang begitu sejak lahir! Katakan bagaimana yoongi dulu, Jimin!. ha ha ha Min Yoongi kehidupan masalalumu akan terkuak hari ini!" Kali ini Namjoon sangat antusias, ingin mendengar cerita Yoongi saat SHS (Senior High School) dulu.
"Tak usah takut pada Yoongi! Katakan pada kami!" Bujuk Hoseok pada Jimin. "Aku jadi temannya selama tiga tahun tapi belum pernah sekalipun mendengar dia bercerita masalalunya di SHS"
"Itu karena tak ada yang menarik untuk diceritakan!" Yoongi meninggikan nada bicaranya. ia sedang melihat masalalunya sekarang, tepat didepannnya, dan ia sangat tak ingin membicarakan bagaimana gadis yang ada didepannya ini menjadi bagian hidupnya, menjadi satu-satunya cahaya lilin yang pernah hidup menerangi hatinya.
Jimin menunduk, 'Tak ada yang menarik?'. mendengar kata-kata itu, jantungnya serasa cengkram sesuatu yang keras. ia menahan nafas sebentar, merasakan bagaimana sakit jantungnya itu. Bagaimanapun Jimin adalah bagian dari masalalu Yoongi, dan ketika Yoongi berkata demikian maka ia juga menjadi bagian yang tak menarik bagi Yoongi. Jimin ingin sekali menangis saat itu Juga. Ia menyadari bahwa selama ini ia tak berharga dimata Yoongi. 'Bukan karena konsentrasi oppa terhadap musik tapi karena oppa tak menganggapku menarik. lalu untuk apa aku menjadi seperti sekarang ini jika aku tak pernah berharga dimatanya?!' Sekilas ia mengingat kembali bagaimana ia bertemu Yoongi yang selalu muncul seperti pangeran yang dingin dengan hati yang hangat.
.
.
-I Like It-
.
.
"MIN YOONGI! MIN YOONGI! MIN YOONGI!"
Jimin berteriak memberikan semangat bagi Yoongi yang berhasil menambah angka bagi sekolahnya. Mereka sedang bertanding dalam final bola basket seluruh sekolah di kawasan Seoul. Sekolah Yoongi berada enam point lebih unggul dari team lain. Jimin yang teriak paling kencang membuat sisiwi lain menertawakannya. Jimin bukan sedang memberi semangat pada Yoongi sungguhan, tapi ia sedang dikerjai seniornya di team cheerleaders untuk meneriakan nama Yoongi sekeras mungkin ketika Yoongi memasukan bola. Jimin yang tak mengerti apa-apa hanya melakukan perintah seniornya, sampai ia sadar bahwa ia jadi bahan bisikan orang-orang. Memang tak ada yang salah dengan memberikan semangat dengan bersorak pada anggota team, tetapi yang salah disini adalah nama orang yang Jimin sebut. Jimin melihat Yoongi mengerutkan keningnya terlihat kesal mencari-cari sumber suara yang bersorak menyebut namannya.
Min Yoongi adalah senior yang paling disegani disekolahnya karena bakat dan talenta luar biasa yang dia miliki. Seperti kebanyakan jenius, Yoongi memiliki sifat yang sangat dingin, pendiam, benci dengan hal-hal bising. Itulah mengapa Jimin menjadi salah, ia baru saja meneriakan nama Yoongi dan menciptakan ketidak nyamanan bagi Yoongi. Semua siswa tau Yoongi paling tak suka ada yang meneriakan namanya sangat kencang karena itu akan mengganggunya. Yoongi mengelap keringatnya dengan handuk ketika memasuki ruang ganti setelah berhasil membawa mendali emas.
"Siapa gadis yang meneriakiku tadi?" Tanya Yoongi pada Jin Woon.
"Park Jimin, anggota baru team cheer. Kenapa ?"
"Tidak!" ucap Yoongi singkat. Sebenarnya ia hanya penasaran dengan gadis bodoh yang membuatnya malu karena meneriakan namanya tadi.
. . . . .
Anggota baru dalam cheers memang selalu dibully seperti Jimin. Hal memalukan tadi bukanlah yang pertama, ia dulu bahkan pernah dimintai seniornya untuk menyerahkan bunga dan sepucuk surat yang isinya surat cinta atas namanya sendiri, yang ia sendiri tak tau. kejadian itu sontak membuat kekasih seniornya menamparnya. mendapat banyak perlakuan buruk tetu Jimin juga kesal, sangat kesal. Tapi ia tak bisa apa-apa. Jimin menerima beasiswa disekolahnya dan ia tak bisa membuat masalah dengan berkelahi dengan senior atau semacamnya. Seniornya memang tak akan pernah puas mengerjainya selama ia masih kelas satu, dan seperti sekarang, Jimin memesan makanan dan minuman di cafe sementara senior2nya sedang mengobrol dengan team basket di stadion.
Gadis-gadis berseragam cheers itu sedang tertawa keras, menertawakan kebodohan adik kelasnya. Mereka senang melihat Jimin menjadi bahan olok-olokan yang lainnya. Semua anggota team memang tak suka dengan Jimin sejak awal. Jimin adalah anggota yang tak mengikuti test masuk kelompok mereka. Jimin direkomendasikan kepala sekolah dan masuk begitu saja sehingga menimbulkan kecemburuan bagi anggota lain. kecemburuan itu membuat anggota team menginginkan Jimin untuk keluar dari cheers, itulah kenapa mereka tak henti-hentinya mempermalukan Jimin. Karena dengan begitu, mereka bisa mengeluarkan Jimin karena telah memepermalukan nama team.
Yoongi adalah tipe orang yang lambat dalam segala hal kecuali piano dan basket. Ia seperti punya tombol yang akan berubah sesuai kebutuhannya. Yoongi Juga anggota team basket yang paling lama mandi, sehingga ia keluar paling telat. Saat keluar ruangan Yoongi bisa mendengar tawa teman-temannya menertawakan gadis bernama Jimin, Yoongi hanya mendengarkan dengan malas dan berjalan malas. ia tak ada minat untuk sekedar duduk bersama orang-orang yang menertawakan hal tak berguna baginya. Yoongi hanya saling sapa, beberapa gadis mengatakan kalau Jimin menyukainya. Yoongi tau itu provokasi, ia hanya tak ingin peduli meski ia tak suka. Ia berjalan mengabaikan kata-kata wanita chic itu dan BANG!
Yoongi merasakan dingin dan lengket dari cairan kental berwarna pink yang membasahi kaosnya. Yoongi menatap kesal gadis yang kini terduduk dengan noda cairan berwarna-warni di baju dan roknya. Belasan gelas plastik itu berserakan disekitar Jimin yang Yoongi yakini itu milik orang-orang yang sedang membicarakan gadis didepannya. Ia kini ingat siapa gadis di depannya, dia juga gadis yang menghebohkan sekolah karena tamparan keras Jinhyung kekasih Jaebum terhadapnya. Yoongi tau Jimin saat itu dikerjai oleh Anggota teamnya, ia tau karena sekumpulan gadis-gadis itu menertawakan Jimin tepat dihadapannya. Gadis itu berdiri dengan cepat dan meminta maaf pada Yoongi. Yoongi ingin mengabaikannya tapi ia merasa kasihan.
Yoongi membuka bajunya yang kotor, memperhatikan abs diperutnya. Yoongi mengelap tubuhnya yang lengket dengat kaos itu lalu ia mengambil kaos di dalam tasnya untuk ia pakai. Gadis itu masih menunduk, sementara teman setimnya membentaknya untuk membelikan jus yang tumpah itu lagi. Yoongi kini geram melihat perilaku mereka. Yoongi mengambil seragam olahraga dan handuk yang masih bersih di dalam tasnya, dan memberikan pakaian kotornya pada Jimin.
"Pakai ini, dan cuci juga ini! Apa kau bodoh membawa tumpukan gelas jus sendirian? Dan kalian!,,," ucapan Yoongi tak begitu keras, hanya saja nada dingin yang terdengar dari suara Yoongi mampu membuat semua orang menatap Yoongi. ",,,Kalian lebih bodoh lagi karena menyuruhnya membawa sampah-sampah ini kemari! Apa kaki kalian patah bersamaan?!"
Semua orang diam mendengar ucapan sarkasme Yoongi. Sampai Yoongi pergi dengan wajah dinginnya, salah satu dari mereka menyalahkan Jimin dan menyuruhnya membersihkan kekacauan.
"Jangan terlalu percaya diri! Yoongi tak sedang membelamu. Dia hanya sedang kesal dengan kita semua!"
Mereka semua pergi dari gedung itu, meninggalkan Jimin sendirian.
. . . . .
PAKKK!
Sebuah tongkat kecil itu menyentuh lengan Yoongi cukup keras. Itu adalah tongkat rotan milik ayahnya yang memang digunakan untuk menghukum mahasiswanya yang selalu melakukan kesalahan. Yoongi kini ada di dalam studio musik tempat ayahnya mengajar piano di Institut. Yoongi Akan kemari setelah pulang sekolah hanya untuk mendapat bentakan, hinaan dan pukulan setiap Yoongi melakukan kesalahan saat berlatih.
"Berhenti bermain-main dan perhatikan temponya! Kau selalu bermain dengan sesukamu!" Mr. Min berteriak, ia terlihat sangat marah sekarang.
Yoongi tak pernah bermain-main dengan pianonya, ia hanya memainkannya seperti perasaan yang ia rasakan dari komposisi musik yang ia mainkan. Yoongi ingin melawan, mengatakan bahwa ayahnya tak memiliki perasaan dalam bermusik, tetapi ia takut mendapat pukulan atau bentakan lagi. Ayah Yoongi adalah orang paling keras yang pernah Yoongi kenal.
"Jika kau bermain seperti ini kau tak bisa masuk kemari dengan peringkat terbaikmu! Apa kau ingin mempermalukan reputasi ayahmu dengan memiliki anak bodoh sepertimu?!"
Selalu, seperti itu. Ayahnya selalu membawa nama baiknya, terlalu takut jika Yoongi akan mempermalukan nama baik ayahnya. Ayah Yoongi adalah pianis ternama dan juga dekan di fakultas musik yang sangat disegani seluruh dosen dan mahasiswa. Seolah hidup dengan membawa nama baik ayahnya, Yoongi selalu didoktrin untuk terus melakukan hal lebih dan lebih dari semuanya, bahkan ketika kemampuanya menyamai mahasiswanya Mr. Min tak pernah puas sebelum Yoongi bisa menggeser nama Mr. Min dari dunia musik.
Yoongi terus latihan sampai malam, dimana ayahnya sudah pergipun Yoongi akan terus latihan sesuai jadwal yang ditentukan ayahnnya. Sampai pukul delapan dimana studio akan ditutup barulah Yoongi berhenti. Yoongi bisa saja berlatih dengan pianonya di rumah, namun ayahnya ingin Yoongi berlatih dibawah bimbingannya, dan ayahnya tak bisa melatihnya dirumah karena tanggung jawabnya di institut. Itulah kenapa Yoongi diminta latihan di Institut setiap pulang sekolah.
Yoongi kini berjalan melewati gedung-gedung seni, ia harus melewati gedung tari dan teater dahulu agar bisa keluar menuju jalan raya yang ada di depan kampus. Saat Yoongi melewati gedung tari, ada panggung terbuka yang penuh dengan orang-orang dan sebuah musik yang asing ditelinga Yoongi. Sama halnya gedung pertunjukan lain, Gedung tari juga akan menjadi ramai jika ada sebuah pentas seni. Yoongi mengabaikan keramaian yang tak begitu jauh dari tempat Yoongi berjalan. Sampai ia melihat seseorang yang ia kenal sedang dibantu berjalan oleh temannya.
"Aku mengakui keprofesionalanmu! Tapi jika memang terkilir kau bisa memberitahu kami tadi!"
"Kalau aku berhenti! Aku bisa mengacaukan koreo eoni. lagipula aku hanya terkilir. Aku bisa ke rumah sakit setelah ini."
Jimin pergi setelah mendorong wanita yang lebih tua darinya itu untuk tidak hkawatir dengannya dan memintanya kembali melanjutkan pentasnya. Jimin berbalik dan tentu terkejut dengan Yoongi yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Jimin memberi salam pada seniornya itu dan Yoongi hanya mengangguk dan berjalan melewatinya. Jimin yang juga naik bus searah dengan Yoongi tentu mereka bersama, Mereka berdiri bersebelahan karena tak ada tempat duduk dan bus cukup penuh. Yoongi masih diam, membuat Jimin tak berani sekedar bertanya. Bagi Jimin Yoongi terlalu mengintimidasinya. Sampai Bus berhenti, membuat Jimin yang kakinya terluka terjatuh dan barulah Yoongi melepas handsfreenya untuk menolong Jimin. Melihat ada yang turun, Yoongi membantu Jimin duduk di kursi sementara ia masih berdiri.
"Terimakasih Sunbae!"
"Kau menari di Institut?!" Yoongi membuka pembicaraan, sekedar bertanya.
"Aku ikut suatu Club dance dan kami diundang sebagai bintang tamu di institut. Bagaimana dengan sunbae?!"
"Aku? Hanya latihan. Ayahku mengajar disana."
Hanya percakapan singkat, sampai Jimin turun di rumah sakit dan mereka mengucapkan selamat malam. Jimin tersenyum saat turun dari bus. Mengingat bagaimana Yoongi yang terlihat dingin namun selalu membantunya dengan caranya sendiri.
"Yoongi sunbae ternyata tak seburuk yang orang lain fikirkan."
.
.
I Like It
.
.
Bagaimana Yoongi menganggapnya tak menarik itu bukan pertanda bahwa Yoongi adalah pangerannya. 'Tidak! Yoongi Oppa sangatlah dingin sampai membuat orang lain merasakan sakit.'
"Tak ada yang menarik bagimu mungkin akan menarik bagi kami, untuk menjadi bahan tertawaan!" Ucap Hoseok dengan tawanya yang lebar, membuat semua orang dimeja ikut tertawa. Wajah Yoongi terlihat sangat masam sekarang.
"Berhenti bicara tentangku! Lebih baik kalian ungkap fakta bagaimana kehidupan SHS sang Monster" Saran Yoongi sukses mengalihkan perhatian semua orang pada Namjoon. Semua orang kini membanjiri pertanyaan seputar kehidupan SHS Namjoon, Membuat suasana dimeja itu menjadi lebih ramai.
"Jungkook-ah aku ingin ke toilet!" Jimin berbisik ditelinga Jungkook.
"Ingin aku temani?!" Jungkook menggoda, membuat Jimin menahan senyum dan memukul lengan Jungkook.
Yoongi mengawasi bagaimana adegan skinsip itu, rasanya Yoongi ingin naik ke meja dan memisahkan dua orang yang pamer kemesraan didepannya. Mata Yoongi diam-diam menatap kepergian Jimin. Bagian dari masalalunya yang tak ingin Yoongi ingat. Ia cukup malu untuk mengingat bagaimana Yoongi putus hubungan dengan Jimin dulu, ia ingat betapa pengecutnya ia dulu. Betapa bodoh ia melepaskan gadis itu.
...
Jimin berlari kecil dengan menjijing tasnya. Ia memasuki salah satu bilik toilet, menutupnya kencang, menguncinya dan bersandar lemas hingga badannya tak sanggup menahan berat dipundahnya. Jimin berjongkok menutup mulutnya untuk meredam rintihannya. Ya, ia sedang menangis sekarang.
ia tak bisa lebih lama lagi disana. Ia tak bisa menatap wajah pria yang ia cintai di depannya. Ia sangat tak bisa menahan rasa sedihnya mengingat perkataan Yoongi yang secara tidak langsung menganggap masalalunya dengan Jimin tak menarik untuk diingat. Seolah bahwa Jimin tak memiliki nilai dihati Yoongi. Seolah Jimin hanyalah serpihan debu tak berharga di memori Yoongi.
Apakah aku selama ini memang tak ada artinya bagimu oppa?!
Hati Jimin bertanya dalam tangisnya. Jimin sakit hati sekarang, lebih sakit daripada saat ia putus dengan Yoongi.
.
.
.
tbc
.
.
Baper aku pas nulis ini. Apa reader merasakannya? rasaya belum Move on? o.o knp aku jadi curhat? he he he sorry.
Jangan lupa Follow dan favorite I Like It.
