Sorry update lama. Author harus menemukan mood dari lirik lagu I like it dulu supaya bisa nulis lagi.
have a nice read guys!
.
.
I like it aka pretty woman
.
Living like this day without you
.
.
.
Mata Yoongi menangkap wanita berpakaian biru yang mendatangi mejanya kembali. Gadis itu datang dengan sebuah senyuman penuh sinar yang Yoongi sukai. Jimin terlihat lebih cute, lebih cantik dari sebelumnya. Yoongi yakin Jimin baru saja ke toilet untuk memperbaiki make-upnya. Yoongi penasaran bagaimana gadis itu bisa hidup dengan baik setelah tak lagi dengannya. Ketika semua orang menertawakan cerita Hoseok, Yoongi melihat tawa Jimin yang sangat cerah itu membuatnya kesal. Yoongi yang kesal bahkan tak bisa tersenyum, membuatnya menjadi satu-satunya orang yang tak terlihat menyenangkan disana. Yoongi bahkan mendecih ketika tangan kekasih Jimin itu kembali melingkar di pinggang ramping Jimin. Ia terus memperhatikan Jimin dalam diam. Meski mata mereka sesekali bertemu, tetapi Jimin seolah mengabaikan intimidasinya. Jimin tetap tersenyum dan tertawa menanggapi candaan seniornya. Yoongi kini merasa tak yakin bisa berlama-lama berhadapan dengan gadis manis di depannya itu.
"Jungkook-ah! Kau tak boleh mabuk!"
"Weo?!"
"Kau lupa kau akan menyetir untuk mengantarku pulang?!"
"Ah! Aku lupa. Mianhae!" Jungkook menggigit lidahnya dan melihat Jimin cemberut yang merasa tak diperhatikan. Bukan hanya Jungkook yang terpanah melihat Jimin memajukan satu bibir bawahnya begitu imut, tetapi hampir seluruh orang dimeja itu. termasuk Yoongi.
"Omo! kyeopta Jimin-ah~!" teriak Jin gemas. "Apa dia selalu imut seperti itu ketika marah?!"
"Ne!" Jungkook mencubit pipi Jimin gemas "Jimin selalu begini."
"Waah! Aku iri padamu Jungkook-ah!" kali ini Hoseok angkat bicara. "Seandainya Jungkook tak lebih dulu menyatakan cinta akau yakin Jimin denganku sekarang."
"Hyung~!" Jungkook menatap Hoseok sedih dan khawatir tentang kemungkinan seniornya itu ternyata diam-diam menyukai kekasihnya.
"Ha ha ha Aku hanya bercanda! Aku bercanda!"
Yoongi tau Hoseok tak bercanda. Yoongi tau Hoseok menyukai gadis yang dulu pernah menjadi kekasihnya itu. Bagaimana Hoseok memandang gadis itu, bagaimana hoseok dulu sangat terkejut melihat foto Jimin dengan lelaki itu, dan Yoongi yakin dulu Hoseok juga kalah telak. 'Mengapa dia selalu diperebutka?' Batin Yoongi tak terima. Yoongi lebih suka Jimin yang tak populer, karena dengan begitu ia lebih mudah mendekati gadis itu tanpa pesaing. Tapi Yoongi juga harus menerima kenyataan bahwa ia dan Jimin sudah berakhir, dan Jimin sudah memiliki penggantinya sekarang. Pengganti yang mungkin lebih baik dari dirinya. Yoongi menunduk menertawakan keadaannya sekarang.
.
I like it
.
"Waaah! Dimana aku bisa mendapatkan gadis seimut Jimin?!"
Tanya Hoseok pada Yoongi begitu sampai tempat tinggal mereka. Yoongi tak menghiraukan Hoseok, ia hanya ingin minum karena kepanasan dengan RapMon Partty yang membuat hatinya terbakar. Ia butuh air untuk memadamkan api, tapi sepertinya dimana-mana ada minyak yang terus menyiram bara api dalam dirinya. Hoseok bahkan terus mengoceh tentang betapa manisnya seorang Park Jimin.
"Berhenti bicara tentang Jimin!"
"Weo?!"
Yoongi meletakan gelasnya kasar hingga menimbulkan suara keras yang membuat Hoseok terlonjak.
"JMP! Jika kau masih ingat!"
Yoongi pergi masuk, menutup pintunya keras. Meninggalkan Hoseok yang membeku ditempatnya. Hoseok mencoba mencerna apa yang baru saja Yoongi katakan. Ia mengingat kembali apa yang Yoongi maksud tentang Judul album lagu milik sahabatnya itu.
...
Tahun pertama Hoseok di Institut Seni.
Hoseok dan Yoongi bertemu saat sama-sama memiliki tujuan memiliki studio sendiri dan akhirnya mereka menemukan tempat yang sempurna untuk mereka huni bersama. Sebuah rumah cukup besar untuk Hoseok latihan dance, dan tempat untuk mereka mengkomposisi musik.
"Apa ini?!" Tanya Hoseok pada Yoongi saat melihat buku dengan tulisan JMP dicovernya. Hoseok yakin tiga huruf itu ditulis oleh tulisan tangan Yoongi sendiri. Hoseok membukanya, dan Yoongi hanya melirik apa yang sedang temannya lakukan. "Itu cicilan untuk Concert tunggalku nanti."
"Waah! Daebak! Kau sudah akan debut Hyung? "
"Ya!" Jawab Yoongi yang masih sibuk dengan komputernya.
Hoseok membacanya dan ia langsung memegang dadanya. "Waaah! Aku tak tau kau orang yang semelow ini. Ha ha." Hoseok menahan tawa lalu berfikir "Akan lebih bagus jika ada part Rapnya disini."
Yoongi melepaskan earphonenya dan melihat isi bukunya. Yoongi memikirkan ide Hoseok yang patut dipertimbangkan. "Kalau begitu,,, apa kau bisa nyanyikan bagian Rapnya?."
"Kau serius?! Aku boleh membawakan lagu ini?!"
"Tentu saja!"
"Dari liriknya, Kau habis putus dengan siapa Hyung?!" Hoseok melihat sampulnya dan tersenyum "JMP! Itu inisial gadis itu bukan?! Iyakan?!"
"Tutup mulutmu Jika kau masih ingin mendapatkan part itu!"
"Ok!"
Hoseok menahan tawa, ia tak pernah menyangka seorang yang gila kerja dan terlihat kuat seperti Yoongi bisa patah hati dan yang lebih menggelikan bagi Hoseok adalah fakta Yoongi yang belum move-on.
...
Lagu yang berjudul 'Hug me' Karya Yoongi, Lagu yang pernah ia nyanyikan bersama Jin saat konser tunggal Yoongi yang disiarkan di salah satu Stasiun Tv korea. Sebuah lagu yang berhasil membuat penonton meneteskan air mata. Hoseok meminum air dari gelas yang tadi sahabatnya letakan dimeja. Ia menelan salvianya, masih shock memikirkan perkataan Yoongi.
"JMP! Jimin Park ?"
Seperti ada puluhan ton beban memukul kepalanya, Hoseok ia reflek memegang tengkuknya. Perasaan sukanya terhadap Jimin hilang seketika. Semua ingatan tentang perasaan yang bisa Hoseok rasakan dari lagu-lagu yang Yoongi ciptakan kini memenuhi isi otaknya. Semua lagu menyedihkan yang Yoongi ciptakan adalah tentang seorang gadis. Tentang perasaan Yoongi mengenai betapa berharganya gadis itu, perasaan menyesal Yoongi yang ingin kembali dengan gadisnya, dan perasaan tentang keterpurukan Yoongi tentang gadis itu. Hoseok selalu penasaran dan ia tak menyangka kalau gadis itu adalah Park Jimin. Gadis yang selalu hang-out bersamanya akhir-akhir ini. Hoseok mengingat lagi wajah Yoongi saat di RapMon Partty tadi, wajah sahabatnya masam. Ia fikir Yoongi hanya jenuh. Ia tak berfikir bahwa Yoongi memandang gadis itu karena teringat masalalunya.
Profesor Do mendecih lalu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengarkan Piano Sonata 14 Op.27 yang Yoongi mainkan.
"Kau memang pemberontak persis seperti apa yang Prof. Min katakan. Kau bisa membuat Beethoven menjadi orang gila begitu mendengar improvisasimu."
Yoongi tersenyum bangga memperhatikan giginya. Yoongi senang dengan pujian Prof. Do yang berikan padanya. Alasan mengapa ia mengajukan Prof. Do sebagai pembimbingnya adalah karena Profesornya itu memiliki selera yang sama dengan Yoongi. Mereka sama-sama suka kecepatan dalam bermain piano. Gila, adalah permainan yang sangat Yoongi sukai.
Mr. Do memberi kode untuk membisikan sesuatu. "Melihat rencana konsermu, tak ada pilihan lain bagi Institut selain memberimu nilai A." Profesor Do mengedipkan mata lalu keluar. Membuat Yoongi berada di atas awan. Yoongi melihat Prof. Do kembali berakting menyeramkan, membuat mahasiswa yang melihatnya menunduk hormat. Yoongi hanya menahan tawa melihat tingkah dosennya itu.
Hoseok menunduk 90 derajat saat melihat Profesor Do yang berpapasan dengannya. Setelah memastikan profesor Killer itu pergi, Hoseok langsung masuk ke studio piano, membuat Yoongi berhenti menekan tuts pianonya.
"Aku belum menemukan female Vocal untuk opening!"
"Dari sekian banyak anak Vocal?!"
"Sebenarnya ada, tapi aku tak yakin kau akan suka pilihanku."
"Jangan katakan itu Park Jimin." Yoongi membuang muka melihat senyum Hoseok.
"Itu Jin Noona yang menyarankan. Dia bilang kemampuan vocal Jimin bagus."
Yoongi menghela nafas. Kenapa semuanya menjadi berkaitan dengan gadis itu?! Ia sebenarnya senang, yang ia tak suka adalah fakta tentang mereka berdua yang berstatus mantan. Jika Yoongi terus di dekat gadis itu, Yoongi akan semakin memikirkan gadis itu, dan fakta itu akan mengganggu konsentrasinya selama Tugas Akhir. Tapi, Yoongi tak punya pilihan. Konser Tugas akhir tak bisa ia samakan dengan konser solo yang bisa Yoongi atur seenaknya, ini adalah konser bersama yang berarti ia juga harus memikirkan pendapat yang lainnya.
"Baiklah! Kita ambil dia saja!"
Latihan perdana Konser Tugas Akhir penciptaan Jurusan Musik.
Hari ini adalah latihan perdana untuk konser Tugas Akhir. Semua orang sudah bersiap dari Sore, termasuk Yoongi. Sudah sebulan ini Yoongi terus membuat laporan dan latihan sehingga ia melupakan bayang-bayang Park Jimin dalam ingatannya. Yoongi bahkan tak bertemu Jimin beberapa bulan ini, dan itu baik untuknya bekerja keras untuk konser. Kerja keras adalah cara terbaik untuk melupakan Jimin. Begitulah cara dia selama ini hidup setelah putus dengan gadis itu.
...
Mr. Min sedang membaca katalog majalah musik yang belum sempat ia lihat kemarin. Katalog itu berisi beberapa atrtikel mengenai konser dua negara korea-Jepang yang melibatkan dirinya. Mr. Min tersenyum bangga melihat fotonya yang tercetak hampir memenuhi halaman dengan biografi dirinya memenuhi dua lembar halaman. Ia terus membaca tanpa menghiraukan lantunan piano yang dimainkan puteranya. Mrs. Min mendekati suaminya dengan secangkir teh dan snack untuk afternoon tea. Suaminya memang suka minum teh di sore hari ketika sedang libur. Mrs. Min memandang suaminya yang tersenyum membaca katalog, ia tau apa isinya, dan ia juga tau persis apa yang membuat suaminya tersenyum menyebalkan seperti itu. Mrs. Min menghela nafas mendengar lantunan piano yang puteranya mainkan.
"Dia hanya minum jus tadi siang. Apa yang terjadi dengan Yoongi?! Apa dia baik-baik saja?!"
"Dia hanya sedang berlatih untuk debutnya enam bulan lagi. Jangan ganggu dia!"
"Laki-laki memang tidak peka! Tidakkah kau merasa permainan Yoongi sedikit berbeda?!"
"Berbeda?! Apa yang kau maksud berbeda isteriku?!"
"Yoongi biasanya dia memainkan Piano sonata 14 dengan tempo yang membuatmu sering mengomel. Tapi sekarang,,, Permainannya membuatku merinding."
"Itu karena dia memainkan The phantom of the opera Overture!"
Tidak, bukan masalah apa yang dibawakan Yoongi dalam permainannya tapi perasaan Yoongi yang ada di dalamnya. Mrs. Min merasakan itu, Rasa frustasi, kesedihan, kesepian, dan ia bisa merasakan perasaan puteranya dengan jelas. "Apa Yoongi baru saja putus dengan kekasihnya?!"
Mr. Min terseyum "Jika iya. Itu bagus."
Mrs. Min menatap suaminya tak percaya. Demi tuhan anaknya sedang bersedih dan dia sebagai ayahnya malah tersenyum. "Dia tak pernah seperti ini!"
"Sebuah pukulan akan baik untuknya bekerja menjadi lebih keras. Aku tau hasilnya akan begini."
"Jangan katakan kau yang memaksa mereka putus?!"
"Apa aku pengangguran?! Aku tak punya waktu untuk mengurus hal seperti itu. Walaupun aku senang Yoongi tak lagi berhubungan dengan dancer itu."
Mrs. Min menggeleng tak terima. Ia memukul lengan suaminya. "Kau benar-benar tak memiliki perasaan!" Mrs. Min mendekati Yoongi dan belum sampai satu meter lebih dekat pada Yoongi, puteranya sudah menghentikan permainannya.
"Jangan ganggu aku, karena aku sedang tak ingin membahas apapun!"
Mrs. Min membeku ditempat. "Ne~!"
Hanya satu kata itu sebagai jawaban dan Puteranya kembali bermain lebih keras, membuatnya semakin khawatir. Mrs. Min kembali duduk disebelah suaminya. "Fiuh... Tidak suamiku, Tidak anakku, semuanya sama-sama dingin. Bagaimana bisa rumah sebesar ini diisi oleh sifat dingin ayah dan puteranya?. Aku berharap Isterinya nanti bisa membantuku mencairkan es yang ada di hati suami dan anakku. Amin!"
"Cih! Doa macam apa itu?!" ucap Mr. Min mencibir doa isterinya yang terdengar konyol baginya.
'Aku juga berharap Jimin jadi menantumu! Tetapi semuanya berakhir!'
Yoongi menjawab ibunya dalam batin. Ia sedang kesal dengan hidupnya, atau mungkin lebih tepatnya meratapi hidupnya. Jimin adalah gadis sempurna. Yoongi menyadari itu ketika gadis itu dulu bersorak menyebut namanya, saat ia dulu membuat skor tambahan untuk sekolahnya. Jimin memiliki kepribadian yang ceria tentu akan bisa mengimbanginya yang dingin. Perasaan itu menjadi benar ketika ia akhirnya berpacaran dengan Jimin. Hari-hari Yoongi bersama Jimin terasa seperti mentari pagi yang menghangatkan hutan yang dingin di hatinya. Namun perasaan itu hanya sementara, sepertinya Tuhan hanya mengizinkan Yoongi untuk mencicipi apa itu rasa hangat. Rasa itu, Tuhan berikan bukan untuk ia miliki, dan kini Hutan pinus itu kembali dingin dan berkabut. Yoongi terpuruk di dalam sana, merindukan rasa hangat yang pernah mentari berikan padanya.
...
Suara gemercik air terdengar dengan diikuti suara latar vocal dan musik acapella. Membangunkan Yoongi dari lamunan masa lalunya.
...Every time I must say goodbye to you
I feel so down and sigh
Every night all I do is think of you
You stole my heart away
Didn't know how true love means to me until now
Didn't know why lovers cry
Couldn't wait to see your smiling face anymore...
Tanpa sadar Yoongi tersenyum, lagu itu seperti menggambarkan perasaanya. 'Couldn't wait to see your smiling face anymore', Salah satu lirik lagu itu membuatnya tersenyum meneratawakan dirinya dalam batin. Yoongi mengingat wajah tersenyum Seorang Park Jimin, dan ia mengakui merindukan wajah Jimin yang belum ia temui beberapa bulan terakhir. Sebuah senyuman. Yoongi juga mencoba mengingat kapan terakhir kali dirinya tersenyum. Tetapi ingatan itu kembali pada satu gadis, itu park Jimin. Gadis yang membuatnya tersenyum setiap kali teringat namanya saat ia masih pacaran dulu. Itu adalah terakhir kali Yoongi merasa ia tersenyum dari hatinya. Yoongi bersandar di kursi dan mendengarkan lantunan lagu dengan seksama.
...Every time you must face the restless world
Do you remember me
And whenever you need a gentle word
Why don't you
call me up
I'm the one for you when things get rough times are hard
Don't you know just what I mean
Couldn't wait to hear your endless dreams
come to me
Sing a love song for me
Sing for me a serenade
Make happiness happen
Sing a love song for me
Sing for me a serenade
And leave loneliness alone...
Musik acapella itu terdengar ceria, namun memiliki lirik yang cukup sedih. Senyuman Yoongi pudar ketika ia teringat sesuatu yang familiar dalam lagu itu. Ini adalah Opening Vocal untuk konser dan itu berarti lagu ini dinyanyikan oleh Park Jimin. Jantung Yoongi terasa berhenti mendengar setiap liriknya.
...Every time I will say good luck to you
I hope you'll hold me tight
Every night all I do is think of you
You set my heart on fire
Didn't know how true love works on me until now
Didn't know how high we fly
Couldn't wait to see you smiling face anymore
Sing a love song for me
Sing for me a serenade
Make happiness happen
Sing a love song for me
Sing for me a serenade
And leave loneliness alone...
kening Yoongi berkerut mengingat kembali setiap lirik lagu yang Jimin nyanyikan. Yoongi tak mengerti dengan apa yang baru saja ia dengar. Jutaan pertanyaan muncul dibenaknya mengenai perasaan Jimin. Yoongi sangat ingin tau mengapa Jimin menyanyikan lagu yang seolah menyinggung tentang dirinya. Lagu ini adalah lagu seseorang yang baru saja putus bukan?. Tak ingin percaya diri bahwa lagu ini dibawakan Jimin untuknya,Yoongi membuka ponselnya dan mengecek status hubungan Jimin dan Jungkook. Yoongi memikirkan kemungkinan bahwa lagu ini untuk Jungkook. 'Apakah mereka putus?' tanya Yoongi dalam hati yang penuh harap.
Yoongi melihat beranda akun sosial Jimin yang tak ia lihat beberapa bulan terakhir ini. Yoongi menghela nafas kecewa saat melihat status hunbungan Jimin yang masih berpacaran dengan Jungkook. Yoongi tetap ingin memastikan dan ia melihat foto dan status yang Jimin update beberapa bulan terakhir.
Yoongi membuka akun sosial Jimin yang lainnya. Yoongi menemukan foto selfie park Jimin yang tersenyum ditengah-tengah group vocal lain yang baru di Upload sejam yang lalu. 'Are you well this day?' Yoongi penasaran dengan kabar Jimin begitu melihat foto gadis itu yang terlihat bersinar dibandingkan orang-orang dikekitarnya.
"Mengapa aku selalu memikirkanmu?"
Yoongi kembali menundukan wajahnya dan menghela nafas lelah. Ia menyadari dirinya masih disana, di sebuah tempat yang terasa dingin, tempat yang dipenuhi kabut, yaitu hati Yoongi sendiri. Satu-satunya yang Yoongi fikirkan sekarang adalah mendapati Yoongi merasa kasihan dengan dirinya sendiri. Yoongi menatap wajah park Jimin diponselnya, ia menekan wajah Jimin yang memunculkan sebuah hati kecil berwarna merah yang hilang lagi dan berikutnya, Yoongi bisa melihat namanya di bawah foto park Jimin. Rasa dimana Yoongi mengasihani dirinya, rasa dimana ia sangat kesepian, dan Yoongi tetap saja hidup seperti hari ini tanpa Park Jimin.
.
.
.
Tbc
.
.
lagu diatas judulnya 'sing a love song for me' - Beach boys.
Mind to Review or Follow/Favorite maybe?
See you guys later.
.
^.~ V
.
