.

.

.

I like it pt.2 - At that place

.

I try calling you

.

.

.

Tidak banyak orang yang menghiraukan sebuah space terbuka di dekat ruang properti. Ruang itu berada di antara jendela dan panggung yang dibatasi dengan didnding kayu. Itu ruang yang cukup luas tapi orang-orang jarang menggunakannya untuk ruang tunggu artis. Mereka bilang disana pernah ada mahasiswa yang meninggal karena serangan jantung saat akan tampil. Setiap gedung seni di Institut memiliki cerita horror sendiri dan Yoongi yakin di setiap sekolah manapun ada. Yoongi tak pernah percaya tahayul, baginya hal tak bisa ia lihat bukanlah hal yang nyata. Yoongi suka ditempat itu, tempat yang sepi untuk mind control sebelum naik panggung. Meskipun Yoongi sudah memiliki jam terbang cukup banyak dibanding mahasiswa piano yang lain, bukan berarti kecemasan sebelum naik ke panggung itu tak ada. Bahkan penyanyi duniapun pasti masih merasakan kecemasan meskipun itu hanya latihan, tapi itu kembali pada pengendalian setiap orang masing-masing.

Ding!

Suara bunyi pesan dari ponsel Yoongi berbunyi. Yoongi tau itu dari Hoseok yang memperingatkannya untuk segera bersiap-siap. Yoongi tau apa isinya, tapi tetap membuka ponselnya untuk membaca isi pesan tersebut meski ia tak membalasnya. Latihan perdana sudah pada part Cello, itu artinya ia akan segera naik untuk maju gilirannya. Langkahnya terhenti ketika ia ingat park Jimin mungkin ada di belakang panggung, Yoongi mencoba tenang dan kembali melangkah.

'Hanya jangan pedulikan apapun.'

Benar saja, Jimin disana. Tertawa bersama mahasiswa lain. Dia seperti malaikat dengan gaun putih dan rambutnya yang terurai. Jimin terlihat lebih bersinar jika dilihat langsung dibandingkan yang ada di foto. Yoongi berfikir Jimin memang hidup lebih baik darinya.

"Kau dari balik panggung lagi?!"

Tanya Jin membuat pandangan semua orang kini tertuju pada Yoongi, termasuk Jimin. Yoongi melirik Jimin sebentar sebelum memalingkan wajahnya kesal. Ia tak suka jadi pusat perhatian selain dipanggung dan sekarang Jin telah membuat semua orang di ruang tunggu artis menatapnya semua.

"Kau tau kemarin ada panitia yang pingsan setelah keluar dari sana!"

Yoongi duduk tanpa peduli, mengabaikan perkataan Jin dan mahasiswa lain yang menatapnya.

"Tak ada apapun disana!" tegas Yoongi penuh penekanan.

"Itu karena kau menakutkan Min Yooongi. Bahkan hantupun takut padamu."

Semua orang menaahan tawa Yoongi, ia bisa merasakannya meski tak melihat. Ia melirik Jimin yang ternyata jadi orang satu-satunya yang tersenyum kecut. Yoongi kembali memikirkan pesan dari lagu yang Jimin nyanyikan saat opening. Apakah itu lagu yang Jimin pilih sendiri? Jika iya, ia ingin tau kenapa Jimin menyanyikan lagu itu dan untuk siapa pesan lagu itu? . Seni memiliki esensi seperti pesan dibaliknya, dan Yoongi yakin Jimin bukan orang awam yang hanya menyanyi untuk sekedar menyanyi. Jika Yoongi boleh percaya diri, ia ingin bertanya apa lagu itu untuknya? Karena jika iya, Yoongi akan maju kali ini. Ia akan melupakan masalalu dan memulainya kembali meski faktanya belum berubah. Yoongi masih disana, ditempat yang dingin, dimana ia masih mengharapkan Park Jimin.

Tiba giliran untuk Yoongi naik ke panggung dan ia mendengar riuh tepuk tangan. Ia menunduk memberi salam pada penonton kemudian duduk di kursinya. Semuanya hening membuat Yoongi memiliki kesempatan konsentrasi untuk menyerap seluruh energi dari panggung. Yoongi memulainya dengan legato dan staccato andalannya, membuat penonton terkesima di awal penampilannya. Menyedot perhatian diawal untuk menikmati permainan inti dan menghancurkan hati penonton di akhir. Teori estetika dasar dalam berkesenian itu yang jarang mahasiswanya perhatikan. Mereka memakainya tapi terkadang lupa esensi dari masing-masing point sehingga membuat apa yang mereka lakukan hanya sekedarnya. Tapi tidak dengan Yoongi, ia tau persis bagaimana menerapkan tiga basik itu dalam setiap penampilannya.

Kecepatan, itu adalah teknik dasar yang Yoongi ingin tonjolkan dalam tugas akhirnya. Improvisasinya membuat semua orang bahkan berhenti bernafas sejenak. Yoongi belajar tempo untuk merangsang detak jantung, dan Yoongi tau bagaimana menguasai detak jantung orang yang mendengar permainannya. Yoongi sempat mendengar riuh penonton di permainan intinya dan di akhir Yoongi tak memainkannya seperti permainan penutup lainnya yang membawa detak jantung kembali normal, ia justru membuat Jantung penonton semakin naik dan mengakhirinya begitu saja. Ini permainan drama bagi yoongi, seperti Alur sebuah cerita yang berakhir tragis, dan ia berhasil. Ia mendapat tepuk tangn dan sorakan meriah dari wajah frustasi penonton. Mata Yoongi kembali menatap sosok malaikat yang bertepuk tangan dengan senyuman. Yoongi melihat Jimin memberinya tepuk tangan dengan wajah penuh rasa bangga. Seketika senyum Yoongi hilang. Senyum Jimin yang seperti itu mengingatkannya kembali pada wajah manisnya empat tahun silam.

...

Yoongi memainkan Mozart - The marriage of figaro overture untuk Uji Kompetensi akhir di sekolahnya. Ujian itu langsung di atas panggung gedung pertunjukan sekolahya dan tentu dilihat hampir seluruh siswa SHS.

Jimin melihatnya dengan penampilan yang berantakan, ia teriak diakhir permainan, sangat bersinar membuat Yoongi tersenyum memalingkan wajahnya karena malu. Ada orang tua Yoongi juga dan ia ingin memperkenalkannya.

"Oppa kau keren!"

"Kau habis latihan?" Yoongi merapihkan poni Park Jimin dan mengelap keringat gadis itu dengan sapu tangannya.

"Aku juga ada Ujian hari ini, mankannya aku latihan keras. Tapi aku juga tau oppa Ujian Akhir jadi aku kemari untuk melihatmu dan oppa benar-benar keren!"

"Aigoo! Manisnya. Jika tak di depan umum aku akan mencium pacarku saat ini juga!"

"Oppa mesum!" Jimin mendorong halus dada Yoongi yang terus menatapnya.

"Ada orang tuaku hari ini. Ayo aku kenalkan padanya."

"Oppa jangan gila! Aku belum berani bertemu orang tuamu oppa!"

"Kenapa? Aku yakin mereka akan senang."

"Dengan penampilan seperti ini? Tidak mau oppa!"

Yoongi tak memperdulikan penolakan Jimin, ia terus menyeret Jimin untuk mendekati orang tuanya. Yoongi yakin Jimin malu, tapi Yoongi tak peduli. Ia hanya ingin orang tuanya tau kalau ia pacaran dengan Park Jimin. Yoongi serius dengan gadis itu, meski belum satu tahun pacaran.

"Yoongi-ah! Kau melakukannya dengan baik!" ucap Mrs. Min antusias begitu melihat puteranya. Tapi senyum mrs. Min hilang ketika ia melihat gadis yang tangannya digenggam oleh puteranya itu, ia penasaran. "Nugu?!"

"Eoma, Appa. Ini Park Jimin. Kekasihku!"

"Yojachingu?!" Mrs. Min menatap suaminya lalu menatap Jimin lagi.

Jimin menunduk memberi salam pada orang tua Yoongi "Park Jimin imnida!" baru Jimin memberi salam ia mendapat panggilan telfon untuk segera masuk kelas. "Aku harus segera masuk kelas. Bagaimana ini?!"

"Kembalilah! Kau bisa dapat nilai buruk Jika terlambat."

"Anjungma! Ajungssi! Aku masing ingin mengobrol dengan kalian tapi sepertinya Ujianku akan segera dimulai. Maka, Aku permisi!"

"Ne! Semoga berhasil dengan Ujianmu!"

"Terimaksih!" Jimin menunduk memberi salam sebelum lari sangat kencang, seperti tupai yang melewati kerumunan dengan lincah, itu lucu dimata Yoongi. Mrs. Min ikut tersenyum melihat wajah puteranya yang penuh cinta, memandang park Jimin sampai gadis itu keluar gedung.

"Dia benar-benar jatuh cinta pada gadis itu!" Bisik Mrs. Min pada suaminya.

Yoongi menoleh pada ibunya, ia masih bisa mendengar perkataan ibunya. Yoongi memiliki telinga yang baik, yang merupakan DNA dari ayahnya.

"Aku tak percaya kau menyukai gadis macam itu."

Yoongi terdiam. Gadis macam itu?. Yoongi mengerti apa yang ayahnya maksud. Jimin memang berpenampilan biasa saja, kelasnya juga jauh dibanding level gadis dari keluarga para musisi. Yoongi hanya mencintai gadis itu, ia tak memikirkan bagaimana ayahnya akan melihat kekasihnya nanti. Sekilas perhitungan logika otaknya muncul mengenai masalah status sosial keluarga mereka. Orang tua Jimin hanyalah pemilik kedai Dokbokki dan ayahnya pasti tak akan suka.

"Dia terlihat seperti gadis yang baik! Yoongi sudah cukup dewasa untuk tak kau campuri urusan pribadinya." Mrs. Min sedikit menekan kata-katanya pada suaminya.

"Aku tak masalah kau pacaran dengan siapapun Min Yoongi, selama itu tak mengganggu konsentrasimu masuk Institut."

Yoongi tersenyum lebar dan memberi hormat pada ayahnya "Aku akan berusaha lebih giat. Terimakasih Appa."

...

Sekarang semuanya berubah, Jimin kini berada satu level bahkan beberapa level lebih tinggi darinya. Yoongi berjalan ke ruang tunggu dan orang orang dibelakang Park Jimin memujinya. Hanya Jimin yang terdiam. Yoongi menghentikan langkahnya dan menatap Jimin dan teman-teman vocalnya.

"Opening kalian juga sangat baik, aku yakin kalian sangat bekerja keras."

"Kami bekerja keras karena berada satu panggung dengan sunbae." Salah satu gadis dibelakang Jimin menggoda Yoongi.

"Kami sangat bangga bisa satu panggung dengan oppa."

Yoongi melihat Jimin menoleh pada gadis yang memanggilnya oppa tadi. Yoongi bisa menangkap ekspresi tak suka Jimin pada gadis itu. Yoongi merasa percaya diri bahwa Jimin cemburu padanya. Jika Yoongi boleh berharap.

"Aku juga bangga bisa satu panggung dengan kalian. Siapa yang memilih lagu tadi? Itu pilihan cerdas." Kata 'kalian' hanya alibi untuk menyembunyikan kata yang sebenarnya bermakna tunggal, 'Kau' adalah kata yang sebenarnya ingin Yoongi katakan pada seorang gadis di depannya.

"Itu Park Jimin!"

"Apa kau menyanyikan lagu itu untuk mantanmu?! Karena kau terdengar bersungguh-sungguh dalam menyanyikannya."

Jimin terdiam, ia terlihat bingung untuk menjawab. "ne!"

Yoongi menahan senyumnya. Lagu tadi benar untuknya dan Yoongi berada di atas awan sekarang. "Pertahankan kesungguhan kalian seperti tadi."

"Ne sunbae!"

Yoongi pulang dengan rasa yang masih tak puas meski ia berhasil membuat latihan tadi gempar oleh permainannya. Ia memikirkan Jimin. Yoongi bahkan sulit untuk tidur mengingat setiap lirik nyanyian yang Jimin nyanyikan. Ia terus berharap lagu itu untuknya dan berfikir begitukah perasaan Jimin selama ini.


Hari sabtu bukanlah hari libur untuk mahasiswa tugas akhir sepertinya. Begitu alarm berbunyi, Yoongi kembali merefisi laporan Tugas Akhirnya. Sampai rasa lapar muncul, Yoongi keluar kamarnya untuk pergi ke dapur. Yoongi menyimpan kimchi dan daging di lemari pendingin yang ia masak beberapa hari yang lalu untuk bisa ia makan sewaktu-waktu. Naas, semuanya hilang. Yoongi tau mahluk mana yang selalu menghabiskan persediaan makanannya dan orang yang paling malas belanja keperluan bulanan. Dia adalah Jung Hoseok, Siapa lagi kalau bukan mahluk satu itu?. Yoongi membanting pintu lemari es.

"Brengsek!"

Yoongi dengan kesal dan terpaksa memesan chinesse food langganannya.

"Jung Hoseok! Kau akan mati begitu pulang nanti."

Menunggu pesanan Yoongi browsing untuk menghilangkan jenuh. Ia membuka akun sosialnya dan melihat beranda akunnya. Detik itu juga, sebuah kenangan muncul melewati kabel LAN. Kenangan menarik Yoongi kembali pada masa lalu, rambut Jimin dari belakang. Rambut bun yang sudah lama tak ia lihat.

...

To : ChimChim

Semoga berhasil untuk ujianmu. Hubungi aku jika ujiannya selesai

Hari sudah sore dan orang tuanya sudah pulang. Yoongi duduk sendiri di ruang piano, menunggu Park Jimin selesai ujian. Bunga-bunga sudah banyak diatas piano, itu bukan bunnga untuk Jimin tapi bunga pemberian adik-adik kelasnya sebagai ucapan selamat. Bosan menunggu Yoongi bermain piano. Sampai ruangan piano di penuhi cahaya berwarna orange dari matahari ponsel Yoongi berbunyi.

Massage From ChimChim

Aku di atap oppa

Yoongi memasukan bunga-bunga itu ke dalam tas lalu segera menuju atap. Sebuah tempat dimana ia dan Jimin selalu menghabiskan waktu bersama, itu adalah atap gedung tari. Jimin disana, bersandar di pembatas gedung sambil bernyanyi. Yoongi tersenyum mendengar suara Jimin yang bisa dibilang bagus, Yoongi mengendap-endap mendekati Jimin. Yoongi yakin Jimin masih belum sadar bahwa Yoongi ada di belakangnya.

Cup!

Sebuah kecupan dipipi membuat Jimin terlonjak karena terkejut.

"ah! Oppa kau membuatku terkejut" Jimin memegang dadanya, tersenyum sambil mencoba menenagkan jantungnya. "oppa apa kau sudah makan?"

"Tadi siang sudah!"

"Aku belum!"

"Kalau begitu, mau makan di luar?"

"Ani! Eoma membawakanku bekal. Ayo kita makan."

Jimin membuka tasnya dan mengeluarkan kotak boks yang cukup besar. "Tada!" Jimin dengan terampil membuka setiap box, dan Jimin kebingungan karena ada satu sumpit.

Yoongi menatap Jimin intens dengan senyuman diwajahnya, ia mengingat perlakuan manis gadis itu seharian. Menyempatkan melihat uji kompetensi akhir ditengah ujiannya, sekarang ia menyiapkan bekal untuk berbagi dengan dirinya. Ia sangat bersyukur memiliki Jimin karena gadis itu selalu memberinya perhatian yang belum pernah Yoongi rasakan sebelumnya. Tidak seperti orang lain yang mendekatinya karena Yoongi putera seorang maestro atau semacamnya, tetapi Jimin mendekatinya dengan ketulusan hati. Memberikan Yoongi sebuah cinta yang membuat hatinya merasa hangat. Yoongi mencium pipi Jimin lagi karena gemas.

"Kau bisa menyuapiku!"

Ciuman adalah bentuk ekspresi Yoongi terhadap rasa bahagianya, dan Jimin sudah terbiasa dengan kecupan pipi yang selalu Yoongi beri ketika ia merasa gemas pada gadis itu. Jimin tersenyum menatap Yoongi.

"Terdengar romantis!" Jimin mengambil kimbap dengan sumpitnya dan menyuapi Yoongi "kalau begitu, A~!"

Yoongi melahap kimbap yang Jimin berikan. Yoongi tak lapar, tapi ia ingin makan jika diperlakukan manis oleh Park Jimin. Yoongi disamping gadis itu, begitu dekat agar ia bisa melihat jelas wajah kekasihnya ketika sedang makan. Sore itu dibawah langit orange, Jimin dan Yoongi menikmati moment manis mereka berdua.

...

Yoongi menekan tombol like pada foto Jimin. Ia sedang mencoba memberi sinyal pada Jimin mengenai perasaannya. Sebelum Yoongi maju, eksistensinya di kehidupan Jimin harus ada lebih dulu. Setiap kali Yoongi mengklik tombol "like" ia mencoba memanggil Jimin bahwa Yoongi ada untuk Jimin.

"Haishhh,,, Lihat aku seperti ayam sekarang."

Yoongi mengacak rambutnya, memikirkan cara untuk kembali dengan Jimin. Namun posisinya membuat ia sadar, Yoongi sedang Tugas Akhir dan bisa-bisanya ia memikirkan cara mendapatkan Park Jimin. Prioritasnya adalah Tugas Akhir, bukan Park Jimin.


"Woohooo Yeah!" Teriak Hoseok sambil menari penuh kemenangan.

Yoongi yang sedang mengetik di ruang tamu hanya meliriknya sekilas. Yoongi merasa sedikit terganggu, tetapi itu tidak membuyarkan konsentrasinya. Yoongi tak perlu bertanya karena biasanya Hoseok akan bicara sendiri.

"Uhuuu~! Hyung! Kau tau Kim Taehyung yang diberitakan pacaran dengan Park Bo Gum?"

Yoongi menggeleng. Teman seangkatan Yoongi saja ia tak ingat semua apalagi orang yang Hoseok sebutkan. Ia memang kenal Park Bo Gum, tapi hanya sebatas kenal dan memberi salam saja, tidak lebih.

"Mereka Putus, dan dia akan pergi kencan buta. Aku disarankan oleh Jimin. oh god. Dia sempurna!"

Yoongi memutar bola matanya, lelah. Kemarin sebelum Hoseok tau Jimin mantan Yoongi, ia masih mengagungkan Jimin sempurna dan sekarang sepertinya Hoseok mulai melantur lagi.

"Hyung ikutlah kesana!"

"Kau tak lihat aku sedang apa?" jawab Yoongi dingin. Yoongi sedang tugas akhir, bagaimana bisa Hoseok berfikir untuk membawa Yoongi ke kencan buta? Bagi Yoongi Itu gila.

"Aku dengar Jimin ingin ikut dan merasakan kencan buta. Ia belum pernah merasakan apa itu kencan buta karena sudah punya pacar lebih dulu. Hyung ikutlah dan ajak Park Jimin!"

"Shireo!"


Sekarang Yoongi mondar-mandir di kamarnya sambil memegang ponselnya. Yoongi sedang bimbang untuk mengajak Jimin ke kencan buta atau tidak. Sebetulnya, itu kesempatan bagus bagi yoongi mendekati Jimin kembali. Tapi Yoongi bingung harus bagaimana. Ia duduk di ranjangnya dan menyalakan ponsel. Ia mencari kontak nama gadis itu, lalu mencoba untuk mengumpulkan keberanian. Yoongi menghela nafas lega begitu mendengar dering sambungan nomor Jimin yang masih aktif.

'Halo?'

"Halo Chim!" Sapa Yoongi berharap Jimin masih mengingat suaranya.

"Oppa?!" Jimin terdengar memastikan, seolah ia tak tau nomor Yoongi. Apa gadis itu menghapus nomornya? Yoongi bertanya-tanya.

"Ne oppaya! Kau masih ingat?!"

'Tentu saja!'

"Jimin-ah! Kau tau kencan buta minggu ini?!"

'ya! Kenapa oppa?'

"Em... Jika kau bisa mungkin... oppa ingin bertemu denganmu segera. Apa kau punya waktu?" Yoongi merasa lega telah mengatakan itu, ia kini merasa sangat optimis."...Jika kita bisa bertemu. Aku ingin merasakan kencan buta. Kau mau ikut?"

Jimin tak juga menjawab. Yoongi menanti Jawaban Jimin agak lama. Yoongi berharap Jimin bisa datang agar ia bisa

'Oppa! Aku punya pacar.'

kata-kata Jimin memecah keheningan. Membuat suasana menjadi beku di kamar Yoongi. Yoongi mencoba mengumpulkan kesadarannya.

"Ah! Benar! Kalau begitu selamat malam. maaf sudah mengganggumu!"

'Ani Gwenchana oppa. Selamat malam.'

Tut Tut Tut Tut

Yoongi hanya bisa pasrah mendengar suara sambungan telfon terputus itu. Jimin terdengar sangat dingin, dan gadis itu berubah tak seperti dulu lagi. Jimin sangat asing dan Yoongi bisa merasakannya. Yoongi mencoba berfikir dengan logikanya, mereka tak bertemu selam tiga tahun dan tentu saja dalam tiga tahun semua bisa berubah. Yoongi mengingat kembali bagaimana Jimin sekarang yang sangat menjaga imagenya.

"Bahkan ekspresinya berbeda."

Yoongi menginginkan Jimin tapi sepertinya tidak dengan Jimin. lalu bagaiman dengan lagu yang Jimin nyanyikan?. Yoongi mulai kesal. Semua yang berkaitan dengan gadis itu sangat mengganggunya. Rasa cinta Yoongi terhadap Jimin membuat hatinya mencair kembali. Ia menginginkan Park Jimin. Tetapi Hubungan mereka masih sangat jauh untuk bisa bersemi kembali. Meskipun salju telah mencair tetapi rasa dingin itu tetap ada, membuat Yoongi kembali merasa sendirian disana. Tempat yang Yoongi sebut cinta.