.

.

I like it pt2

.

At that place

.

Your single status I

.

.

.

09:20 pm KST

Yoongi baru selesa latihan piano. Ia mengecek ponselnya dan mendapat pesan dari Hoseok. sahabatnya itu mengatakan Jika dia tidak masak karena malas. Hoseok mengatakan dia sudah beli pizza dan itu membuat kepala Yoongi memanas. Yoongi tak suka masakan cepat saji dan Hoseok tau betul itu. Yoongi sangat ingin Hoseok disini agar Yoongi bisa memukul kepala bodoh temannya itu.

Yoongi yang memegang ponsel ia berfikir untuk meliat akun sosial Jimin. Yoongi membaca update status Jimin yang mengatakan ia selesai latihan dan ingin makan. Otak cerdas Yoongi langsung bekerja. Tanpa fikir panjang Yoongi keluar ruangan dan berlari kecil menuju auditorium. Yoongi mendekati Jimin yang kenbetulan baru keluar, dan gadis itu terlihat terkejut melihat Yoongi.

Jimin menunduk memberi hormat. "Anyeong oppa!"

"Kau baru pulang? Mana teman-temanmu?"

"Ne. Aku tadi masih ingin latihan."

"Kau tidak disuruh seniormu untuk memberesihkan ruangan latihan sendiri atau semacamnyakan?"

Jimin mengangkat alisnya, ia menatap Yoongi terkejut. Pria itu seperti bisa membaca pikirannya.

"Kau sudah makan?"

"Aku baru akan pergi mencari makanan."

"kalau begitu ayo makan malam bersama!"

Jimin kembali terlihat terkejut. 'Makan malam bersama? Dengan Yoongi oppa? Bagaimana bisa mantan makan bersama?'

"Emm,,, Hanya makan malam biasa. Tidak lebih!" ucap Yoongi meyakinkan.

"Baiklah kalau begitu!"

Keringat masih terlihat di kening Jimin. Yoongi mengambil tissue dan memberikannya pada Jimin.

"Gunakan ini! Kau berkeringat banyak."

Jimin menerima dengan kedua tangannya "Terimakasih oppa!"

"Apa mereka selalu memperlakukanmu dengan buruk?"

"Tidak! Mereka tadi ada acara, aku sempat membereskannya dengan beberapa orang tapi mereka harus pulang lebih dulu."

"Mereka sedang mempermainkanmu!"

"Aku tau!"

"Lalu kenapa kau terima saja?"

"Karena aku tak suka berdebat."

Brak

"A!"

Suara meja terjatuh terdengar dari ruangan gelap dilorong gedung. Jimin berteriak dan memeluk lengan Yoongi.

"Oppa Kau mendengarnya?!"

Brak

"A oppa ada hantu!"

Suara itu berbunyi lagi dan pelukan Jimin semakin kencang. Jimin mematung dan memejamkan mata. Melihat bagaimana imutnya wajah ketakutan Jimin, Yoongi menahan tawa.

"Soo Man Ajungssi?" Yoongi tau betul siapa merapikan lantai bawah setiap malam. dia adalah petugas yang bertanggung jawab dengan perawatan gedung.

"Ne?"

"Ani! Hanya mengecek!"

Jimin menghel nafas dan memegang dadanya "oh aku kira hantu!"

"Tidak ada hantu di sini!"

"Benarkah?!"

Yoongi mengusap kepala Jimin. Membuat jantung Jimin justru berdetak lebih kencang.

"Aku bertahun-tahun disini, bahkan pernah terkunci di gedung ini dan tak pernah ada apapun."

Yoongi memegang pinggang Jimin untuk menuntun gadis itu berjalan. Jimin yang diperlakukan seperi itu hanya bisa diam.

'Oppa jika kau memperlakukan aku seperti ini aku tak akan pernah bisa berhenti menyukaimu'

Jimin yang sedang melamun, melupakan tangga kecil di luar gedung. Jimin salah injak dan jatuh. Yoongi menyadari itu tapi tangannya kalah gesit, ia hanya bisa memegang tangan Jimin dan akhirnya mereka malah jatuh bersama.

Bret

Jimin dan Yoongi sama-sama membeku mendengar suara robekan kain lalu mereka sama-sama melirik rok Jimin yang sobek. Robekan rok Jimin cukup panjang hingga hampir memperlihatkan selangkangannya. Jimin menutupi pahanya dengan kedua tangannya, sementara Yoongi membuang muka.

"Ha? Bagaimana ini?"

Yoongi Berdiri tanpa melihat Jimin kemudian melepas jaketnya untuk ia berikan pada Jimin "Pakai ini untuk menutupinya."

Jimin dengan canggung menerima dan melingkarkan jaket Yoongi ke pinggangnya untuk meutupi rok Jimin. Beruntung jaket Yoongi cukup besar hingga menutupi seluruh rok Jimin.

"Aku sudah selesai. Apa oppa baik-baik saja? Apa ada yang terluka?."

"Tidak! Kau?"

"Tidak!"

Jimin berdiri dengan bantuan Yoongi dan mereka berjalan keluar kampus dalam canggung. Tanpa mereka sadari seseorang sedang tersenyum licik di balik semak-semak. Orang itu tidak lain adalah Jung Hoseok.

"Yes!. Maafkan aku Jungkook! Tapi aku lebih menyayangi Yoongi daripada kau."

Hoseok adalah orang yang merencanakan semuanya. Dari meminta teman-temannya menyuruh Jimin membereskan ruang latihan agar Jimin bisa pulang terlambat lalu berbohong bahwa Hoseok memesan pizza untuk Yoongi, itu semua adalah rencananya untuk menyatukan sahabatnya dengan Jimin. Hoseok memang tak seharusnya menyatukan mereka karena masih ada Jungkook tetapi Hoseok hanya tak bisa membiarkan sahabatnya semakin pendiam. Mengetahui perasaan Yoongi dan Jimin yang masih saling suka, Hoseok tak bisa membiarkan mereka terus berjaga jarak. Hoseok tau Yoongi maju tapi Jimin memiliki Jungkook yang membatasinya, dan Hoseok berfikir bahwa salah seorang harus membantu mereka.

.

Jimin dan Yoongi makan daging bersama, karena hanya itu satu-satunya kedai yang masih buka sampai malam, dan terletak dipinggir jalan arah mereka pulang. Jimin memotong daging sedangkan Yoongi memanggangnya.

"Ini terlihat enak!"

"Ne!"

Yoongi makan duluan karena sudah lapar. Sedangkan Jimin masih malu-malu dengan sesekali mencuri pandang pada Yoongi. Jimin mengalihkan perhatiannya untuk memotong daging.

"Berhenti memasak dagingnya itu sudah banya di pemanggang. Makanlah!"

"Ne!"

"Kau ingin soju atau beer?"

"Aku tak bisa minum banyak alkohol sebelum konser."

"Baiklah! Ajungma satu botol soju! "

"Baik! Tunggu sebentar ya!"

"Satu dua gelas masih bisakan?"

"Ne!"

Yoongi melihat Jimin yang tak begitu banyak daging. "Makanmu tak banyak!"

"Konser sebentar lagi dan aku tak ingin perutku terlihat buncit saat memakai dress nanti."

Yoongi tersenyum. "kau masih pekerja keras seperti dulu."

"Ne?"

"Aku sempat berfikir bahwa kau berubah.,, Maksudku penampilanmu! Kau tampak lebih baik setelah kita putus."

Jimin tak menjawab, ia bingung harus bagaimana. Masalah ini akan membahas pada masa lalunya dan Jimin belum siap untuk membahasnya. Sampai soju datang dan Jimin langsung mengalihkan perhatian. Ia tak bisa bicara lagi karena ia sadar kemana topik itu akan pergi. Mereka akhirnya makan dengan diam dan tiba-tiba saja hujan turun cukup deras.

"O?! Kenapa hujan?"

"Ramalan cuaca mengatakan malam ini akan hujan. Kau tidak membawa payung?"

"Tidak! Bagaimana ini?"

"Aku bisa mengantarmu pulang!"

Jimin terdiam sejenak. "Ne. Terimakasih." Jimin melirik supitnya, Haruskah ia dekat lagi dengan Yoongi? "Tapi aku tak ingin merepotkan oppa. Lagipula nanti hujannya juga reda."

"lalu bagaimana jika hujannya berhenti lewat tengah malam? Kau akan pulang pada jam itu?! dan,,, dengan rok seperti itu?! Andwe! Biar aku mengantarmu!"

Jimin bisa mendengar nada khawatir di setiap kata-kata Yoongi. Meskipun nada bicaranya seperti marah tapi Jimin tau itu adalah bagian dari rasa khawatir Yoongi. Jimin terus membiarkan Yoongi melakukan, pria itu memperlakukannya dengan baik. Bahkan makanpun Yoongi yang membayarnya. Jimin sempat menolak tapi ia kalah dengan Yoongi. Jimin sudah merasa hatinya sakit karena menahan perasaan sukanya. Ia tak ingin jatuh ke dalam cinta Min Yoongi lagi karena Jimin memiliki Jungkook sekarang.

"Kau sering pulang larut sendirian seperti ini?"

Jimin menggeleng "Biasanya Jungkook akan menjemput. Tapi jurusan tari sedang ada acara dan Jungkook menjadi panitia disana. Jadi dia tak bisa mengantarku."

"Dia pria yang baik. Kau pasti sangat menyukainya."

"Ne!"

Jantung Yoongi serasa ditusuk ribuan panah. Betapa bodohnya ia bertanya perasaan Jimin pada pacarnya. Yoongi membuang muka sebentar untuk menutupi rasa sakitnya agar tak bisa dilihat Jimin.

"Oppa juga sekarang terlihat lebih baik. Kau sangat terkenal."

"Baik apanya!" Yoongi mengumpat.

"Maaf!"

"Lupakan! Kau terlihat lebih baik sekarang dan terlihat bahagia. Aku ikut senang melihatnya."

Jimin menatap Yoongi terkejut. Ia tak pernah berfikir Yoongi akan mengatakan demikian, perhatian Yoongi semakin melukai hatinya. Jimin tak pernah bahagia, seandainya Yoongi tau. Semua yang Jimin lakukan adalah karena ia ingin menutupi lukanya dan Yoongi tak tau jika luka itu belum sembuh. Jimin dan Yoongi masih berjalan dalam kecanggungan masing-masing.

"Oppa!"

"Hm?"

"Kenapa oppa masih sendiri?"

'Apa maksudmu? Tentu saja karena aku masih menyukaimu!' Jawabnya dalam hati. "Ingin Jawaban jujur atau bohong?!"

"em,,, Jujur!"

"Kalau jujur aku rasa kau mengetahui jawabannya. Bukankah itu terlihat jelas."

"Oppa!" Jimin menghentikan langkahnya membuat Yoongi ikut berhenti. Yoongi menghela nafas. "Kita,,,"

Yoongi memotong kata-kata Jimin "Aku tau! Kau ingin mengatakan kalau kita tak bisa bersama lagi?,, Aku bukan kekasih yang baik untukmu karena aku terlalu banyak mengabaikanmu. Aku minta maaf dengan apa yang terjadi!" Yoongi memberi kode untuk jalan dengan kepalanya dan Jimin berjalan lagi.

"Oppa aku mohon berbahagialah untukku!"

Yoongi hanya diam. "Aku bahagia!"

"Kalu begitu tersenyumlah seperti dulu!"

Yoongi mendengus. Ia tiba-tiba teringat lagu itu. "Boleh aku bertanya sesuatu dan jawaban jujur darimu?"

"Ne"

"Lagu yang kau nyanyikan untuk opening apa itu untukku?!"

Jimin cukup lama terdiam sampai ia memberi jawaban.

"Ne!"

"weo?!"

"Oppa aku,,, Lagu itu,,, aku menyanyikannya karena aku ingin melihat oppa tersenyum seperti dulu lagi. Aku tau harusnya aku tak seperti ini tapi,,, oppa kau terlihat sangat dingin dan aku,,, aku tak bisa melihat itu."

"kenapa? Kenapa kau tak bisa melihat itu?"

"Tolong jangan tanya mengapa!"

"Apa boleh aku berharap? Kau dengan pria itu, aku sempat berfikir untuk menyerah dan apa yang kau lakukan saat ini? kau fikir aku bisa bahagia mendengar nyanyianmu?" Jimin mulai meneteskan air matanya. "Berhentilah menangis! karena itu terlihat seperti kau mengakui perasaanmu."

"Kenapa oppa melakukan ini padaku?! Kau membuat ini semakin rumit oppa"

"Aku tak bermaksud mempersulitmu! Aku tau kau mungkin ingin bangun dariku. Tapi jika aku tau perasaanmu, bagaimana bisa aku terima?"

Jimin terdiam. Ia kini merasa hubungannya dengan Jungkook salah seketika. Ia hanya berharap Jungkook bisa menyembuhkan lukannya tapi kata-kata Yoongi menyadarkannya. Ia merasa membohongi perasaan Jungkook, dan kini ia sadar bahwa itu salah.

"Aku sudah sampai! Terimaksih oppa sudah mengantarku!"

"Ne! Selamat malam."

Jimin masuk ke dalam rumahnya tanpa membalas ucapan Yoongi. Taehyung yang mendengar Jimin pulang ia langsung ke kamarnya. Taehyung langsung mendekati Jimin di kasurnya begitu melihat Jimin yang menangis.

"Jimin, ada apa? Kenapa kau menangis?"

"Yoongi oppa!"

Taehyung melihat jaket dan rok Jimin "Apa dia yang melakukan ini padamu? Aku tak bisa percaya ini."

Jimin menghela nafas. "Ania! Oppa bukan orang seperti itu Tae-ah!"

"Lalu kenapa kau menangis?"

"Ah molla" Jimin menyembunyikan wajahnya pada lengannya "Ini benar-benar rumit."

"Hubungan kalian memang rumit."

"Oppa tau kalau aku masih mencintainya, dan aku juga baru tau kalau oppa juga belum bisa melupakanku!" Jimin menatap sahabatnya dengan airmatanya "Bagaimana ini Tae-ah? Aku punya Jungkook dan aku membohonginya. Aku menjadi pacarnya tapi aku malah menyukai oppa."

"em..."

"Aku fikir oppa tak mencintaiku lagi! Aku fikir oppa sudah melupakanku. Dengan begitu aku bisa sakit hati dan melupakannya. Lalu aku akan mencoba menerima Jungkook di hatiku tapi kini. Semuanya kacau Tae-ah!. Oppa belum memiliki kekasih karena selama ini masih berharap padaku." Jimin menarik kasar bajunya "Aku berubah dengan pakaian bodoh ini untuk membelasnya. Untuk membuatnya menyesal. Tapi kenapa sekarang malah aku yang menyesal putus dengan oppa? Tae-ah! Aku benar-benar seperti orang bodoh sekarang."

"Hey... Berhentilah menangis!"

"Aku barusaja menyadari bahwa aku masih sangat mencintainya Tae-ah! Bagaimana ini?"

Tae memeluk jimin. "Kau tak pernah bisa membohongi perasaanmu Jimin-ah! Aku tau selama ini kau tak menyukai Jungkook."

"Lalu aku harus bagaimana?"

"Aku tau ini kejam. Tapi menurutku kau tak bisa membohongi Jungkook dengan perasaanmu saat ini."

"Lalu aku harus putuskan hubunganku dengan Jungkook?"

"Bukan itu maksudku! Kau hanya perlu memilih dengan hatimu. Siapa yang lebih kau cintai dan siapa yang lebih mencintaimu."

Jimin berhenti menangis dan berfikir. 'Siapa yang lebih ia cintai dan lebih mencintainya'

...

H - 10 konser Jimin semakin ekstra latihan ia semakin sering pulang malam dan kerepotan dengan tugas kuliahnya yang menumpuk. Jimin berusaha mengerjakannya, tetapi tugas datang hampir setiap hari sehingga dimana ia belum menyelesaikan satu ugas tugas lain memperpanjang daftar tugasnya.

Pulang malam kini sudah biasa bagi Jimin tapi Jungkook tetap khawatir dan terus menjemputnya pulang meskipun dengan wajah yang terlihat mengantuk. Jimin merasa kasihan dan ia merasa tak enak hati dengan pengorbanan yang kekasihnya lakukan untuknya. Sampai di tempat Jimin seperti biasa jungkook akan meminta sebuah ciuman. Jimin merasa ada yang salah dengan itu. Jungkook menarik Jimin mendekat.

'Apa Jungkook mengantarku pulang hanya untuk ini?!'

Fikiran Jimin membuat semuanya menjadi salah. Tiba-tiba ia ragu dengan perasaan Jungkook padanya. Jimin bertanya dalam batinnya lagi.

'Jika aku tidak memperbolehkan Jungkook menciumku apa dia akan marah?! Jika dalam hubungan ini tak ada ciuman apakah Jungkook akan tetap berkorban untukku?'

Jimin merasa ciuman Jungkook semakin menuntut dan tangan Jungkook yang berada di dadanya tiba-tiba turun kebawah dan menarik roknya ke atas. Jimin tekesiap, ia mendorong Jungkook menjauh. Jimin memang kekasih Jungkook dan ia memang selalu membiarkan jungkook menyentuhnya tapi tidak sampai sejauh itu. Jungkook menarik Jimin mendekat lagi.

"Jungkook tidak!"

"Kita sudah hampir enam bulan dan kita belum melangkah. Kalu begitu bagaimana dengan besok?"

Jungkook mencium Jimin lagi, menyentuh tubuh Jimin dari luar dressnya. Jimin hanya diam membalas ciuman Jungkook sebisa mungkin meskipun ia ragu. Entah bagaimana tiba-tiba ia memikirkan Min Yoongi. Jimin menjadi memiliki keberanian untuk mendorong Jungkook menjauh lagi.

"Jungkook berhenti!"

"Kenapa?"

"Ini terlalu jauh!"

"Tapi kita kekasih."

"Ini di depan umum"

"Tapi tak ada orang disini."

Jimin terdiam. Ia tak mengerti apa yang jungkook fikirkan. Mengapa Jungkook tak mengerti dirinya?. Berciuman di tempat umum bukanlah hal yang pantas dimata Jimin.

"Aku tak suka melakukannya di depan umum. Kau tau itu! ini terlalu melewati batas."

"Kau diam. Aku fikir kau menikmatinya."

"Tidak Jungkook! Aku tak pernah menyukainya."

"Mwo?!"

"Ini sudah malam. pulanglah!"

"Kau bilang apa tadi?"

"Aku hanya salah bicara."

"Kau mengatakan tak pernah menyukainya! Aku mendengarnya dengan jelas Jimin."

"Kenapa itu jadi masalah. Aku hanya kelepasan bicara!"

"Kau yakin? Tadi terdengar seperti dari hatimu."

"Itu bukan masalah. Aku minta maaf ok!"

Jungkook menangkup wajah Jimin lalu mengarahkan pada wajahnya, begitu dekat hingga Jungkook bisa melihat mata Jimin. "Katakan kau mencintaiku!"

Deg!

Tidak! Tidak disaat seperti ini. Jimin tak bisa berbohong jika Yoongi ada dalam fikirannya sekarang. Jimin memejamkan mata, mengumpulkan seluruh keberanian. Ia belum mampu mengatakan segalanya. Ia belum siap untuk jujur pada Jungkook. Begitu ia mendapat kekuatan Jimin menatap mata Jungkook "Aku mencintaimu. Tapi,,"

"Tanpa tapi!" Jungkook mulai mencium Jimin lagi.

"Jungkook hentikan! kau membuatku takut!"

"Baiklah! Maaf!" Jungkook mengecup kening Jimin. "Masuklah!"

Jimin menunduk dan langsung masuk tanpa mengucapkan selamat malam seperti biasanya. Ia hanya takut dan bimbang. Jimin menutup pintu kamarnya, ia bersandar dan menjatuhkan badanya. Jimin tak kuat menahan tubuhnya. Jimin menutup wajahnya dan mulai menangis.

"Ada apa denganku?!"

Jimin menghapus air matanya dan mencoba berhenti menangis. Matanya menangkap Jaket Min yoongi yang sudah ia cuci. Ia belum mengembalikannya. Jimin memejamkan mata sejenak, ia memikirkan hubungannya dengan Jungkook. Ia merasa harus menatanya kembali. Benar kata Taehyung, ia tak seharusnya membohongi perasaan Jungkook, dan sekarang ia juga merasa takut dengan Jungkook. Jimin merasa melihat sisi lain dari Jungkook yang membuatnya takut. Jimin membuka matanya, ia memegang leher yang tadi dicium oleh Jungkook, ia ingin memeriksanya, dan pergi ke kamar mandi untuk memastikan tak ada bekas disana.

Jimin hanya bisa melihat sosok lain dari pantulan dirinya di cermin. Gadis cantik dengan riasan yang sudah berantakan. Lipstiknya sudah mencoreng keluar bibirnya, rambut yang terlihat berantakan, dan lebih parah lagi kiss mark yang ada di lehernya. Jimin tak pernah seperti ini sebelumnya, ia terlihat kacau. Ia tak pernah tau jika hasilnya akan begini jika berpacaran dengan Jungkook. Dulu ia tak memikirkan apapun yang Jungkook lakukan. Tapi sekarang, melihat bagaimana dirinya di depan cermin membuatnya sadar. Bahwa ia tak menjadi lebih baik dengan Jeon Jungkook, ia justru terlihat lebih berantakan, dan Jimin menyesalinya.

...

Taehyung menutup mulutnya. Ia shock melihat beberapa kissmark di leher sahabatnya. "Jungkook yang melakukan itu?!"

Jimin tak menjawab, ia mengambil minum dan melahap sandwich yang Taehyung buat. Melihat wajah sembab Jimin, Taehyung duduk di samping Jimin, dan menatap sahabatnya meminta penjelasan.

"Jungkook melakukan ini padaku, dia bilang hubungan kami tak maju-maju!"

"Itu bukan alasan dia memberimu tanda memalukan seperti itu."

"Itulah kenapa aku menolaknya semalam. Kami berdebat dan dia mengingatkanku untuk melakukannya besok. Tidak! Jika ia mengatakannya kemarin maka malam ini dia menginginkanku."

"Ada apa dengan bocah itu? Dia tak bisa memaksamu! Semua itu harus dilakukan dengan persetujuan dua belah pihak. Meskipun kalian sudah berkencan cukup lama tapi bukan berarti dia bisa memaksamu."

"Itu dia masalahnya. Mendesaku dengan hal-hal yang membuatku tak enak hati. Dia sering memaksaku dan semalam adalah yang paling aku tak suka."

"Apa dia memintamu melakukannya saat itu?"

"Entahlah! Dia menyentuhku terlalu jauh dan itu di depan pintu tempat kita!"

"Itu gila!"

"Dia tak pernah peduli menciumku dimanapun. Aku tak suka dia yang tak memiliki privasi."

"Pilih Min Yoongi sunbae saja!"

"Itu terdengar aku mencari alasan untuk memutuskan Jungkook karena dia"

"Kita harus mencari yang terbaik Park Jimin. Carilah yang bisa memperlakukanmu seperti wanita yang berharga. Jungkook melihatmu seperti bunga yang harus ia petik dan ia miliki sendiri."

"Kau sepertinya lebih mengerti hubunganku dengan Jungkook daripada diriku sendiri."

"Semua orang yang tau cinta segi tigamu, akan lebih suka melihatmu dengan Yoongi sunbae!"

Jimin terkejut menatap Taehyung. "Apa kau bilang?"

"Apa?"

"Kau bilang semua orang tau cinta segitigaku?"

"Itu,,,"

"Kau menceritakan masalahku pada orang lain?"

"Apa mulutku terlihat tak bisa menyimpan rahasia?"

"Lalu apa maksudmu? Siapa yang tau masalah ini kecuali kita?"

"Hoseok oppa!"

Hoseok adalah senior yang tak begitu dekat dengan Taehyung, dan bagaimana Taehyung memanggil Hoseok dengan tambahan oppa, membuat Jimin mengerutkan kening. "Oppa? Mwoya?"

"Kita jadian beberapa hari yang lalu."

"Yack! Kim Taehyung! Beraninya kau tak bercerita padaku."

"em,,, Dia melakukan pendekatan padaku setelah aku putus dengan Bogum oppa. Awalnya aku tak suka, Tapi dia sangat lembut. Bogum oppa memang baik dan sopan tapi Hoseok oppa, di perhatian dan penyayang. Dia memperhatikanku dan aku suka bagaimana hoseok oppa memberiku perhatian."

"Aigoo,,, Lihat betapa kau berbunga-bunga."

"Maaf! Aku tak berani mengatakannya karena rasanya seperti aku bahagia sedangkan kau menderita."

"Terimakasih penjelasannya Kim Taehyung. Kau membuatku jauh lebih baik." Ucap Jimin sarkasme. Wajah bad mood Jimin dibalas tawa oleh Taehyung.

...

Jungkook memikirkan kejadian kemarin malam tentang pernyataan cinta Jimin. Mengingat berapa kalipun, Jungkook yakin Jimin telah berbohong. Mata Jimin tak bisa membodohinya. Jungkook adalah orang yang cukup peka. Ia akan cepat menyadari sesuatu yang terjadi disekitarnya. Termasuk bagaiman tatapan Jimin dan senior pianis yang selama ini diam-diam mengganggu kenyamanannya. Jungkook tak buta, ia hanya pura-pura tak melihat sejak Rapmon party. Sikap Jimin aneh sejak itu, membuat Jungkook merasa resah. Terutama bagaimana Jimin dan Seniornya itu diam-diam saling tatap, dan Jungkook membencinya. Rasa khawatirnya itu mendorong Jungkook untuk menjadikan Jimin miliknya. Dengan tidur bersama, ikatan mereka akan semakin dekat, dan Jungkook akan merasa lebih tenang. Ia tak akan lagi khawatir tentang hubungan Jimin dan seniornya yang Jungkook tak pernah tau.

'Tidak bisakah kita tunda samapi aku selesai konser? Hanya sepuluh hari lagi. Hm?'

Jungkook membaca pesan Jimin dan langsung kehilangan moodnya. Ia tak masalah jika Jimin belum siap, ia akan menundanya jika memang harus. Tetapi kali ini Jungkook benar-benar merasa takut kehilangan Jimin.

Baru Jungkook mendapat pesan dari Jimin, Jungkook berniat mengunjungi kekasihnya. Tapi sepertinya itu bukan keputusan yang baik ketika ia melihat dengan siapa kekasihnya itu. mereka hanya berdua di ruang piano dan Jimin terlihat memberikan minuman pada seniornya itu. Jungkook bisa melihat mata Jimin, bagaimana Jimin menatap seniornya itu sangat berbeda dengan cara Jimin menatapnya. Jungkook tanpa sadar mengepalkan tangannya lalu pergi.

...

30 menit yang lalu...

Jimin berencana mengembalikan jaket Yoongi yang dulu ia pinjam. Tak menemukan Yoongi di auditorium maka Jimin mencarinya di ruang piano, dan benar saja Yoongi disana sedang berlatih. Jimin melihatnya dari luar pintu kaca, ia akan masuk ketika Yoongi menyelesaikan permainannya agar Jimin tak mengganggu.

Untu kesekian kalinya Jimin terpesona dengan permainan piano Yoongi. Jimin selalu menyukainya, karena disanalah pesona Yoongi berada. Saat Yoongi berhenti, saat itulah Jimin mengetuk pintu. Yoongi yang hendak melanjutkan latihannya menoleh, dan ia cukup terkejut melihat siapa yang datang.

"Apa aku menggangu?!"

"Tidak!" 'Kau tak akan pernah aku anggap sebagai gangguan Park Jimin!'

"Aku ingin mengembalikan jaket milik oppa!"

Yoongi menerimanya. Ia memasukannya ke dalam tas, dan berencana mengambil minum karena haus. Naas botol airnya sudah habis. Yoongi memegang tenggorokannya. Jimin yang menyadari situasi mengambil botol minumnya dan ia berikan pada Yoongi.

"Oppa! sudah berapa lama kau disini?"

Yoongi menelan air di mulutnya. "Sejak pagi!"

Sejak pagi di ruang piano itu berarti Yoongi sama sekali tidak keluar hanya untuk membeli makan maupun minum. Matahari sudah tenggelam dan Jimin merasa khawatir Yoongi belum makan apapun. Jimin sedikit bingung, ia ingin sekali membelikan Yoongi sesuatu yang bisa dimakan. Tapi hubungan mereka tak seperti itu.

"Berhenti menatapku seperti itu Park Jimin!"

"E?"

"Wajahmu! Kau sangat terlihat khawatir. Apa kau sedang mengasihani aku?"

"Tidak! Tidak sama sekali! Aku hanya khawatir oppa belum makan."

Yoongi menatap keluar jendela dan tersenyum. 'Kita tidak dalam suatu hubungan dimana kau bisa memperhatikan pola makanku'

"Kau tau Chim?!"

Jimin tersentak mendengar Yoongi memanggilnya dengan pangilan sayangnya dulu. Ia tegang, bahkan tak bisa bernafas.

"Jika kau memperhatikan aku seperti ini aku tak akan bisa menahannya."

'apa? Tak bisa menahan apa?' Jimin masih menatap Yoongi dalam kebekuan. Begitu Yoongi bangkit dari kursinya, Jimin menutup matanya dan kembali menahan nafas. Jimin fikir Yoongi akan menciumnya, namun karena tak ada pergerakan apapun Jimin membuka matanya. Yoongi mengusap rambut Jimin sambil menahan tawa. Yoongi sangat terlihat tampan dengan senyumannya.

"Apa yang kau fikirkan hm?" Yoongi menggoda Jimin sedikit bercanda.

Jimin menunduk malu dengan apa yang baru saja ia fikirkan. Ia sungguh bodoh berfikir Yoongi akan menciumnya. Karena malu Jimin mencoba menghindar.

"Aku akan pergi latihan"

Gep

Tangan Yoongi mencengkram lengan Jimin. Jimin yang hendak berbalik berhenti seketika, ia kembali menatap Yoongi. Tangan Yoongi perlahan turun, menggenggam tangannya lembut, dan Jimin merasakan suatu getaran yang ia tak mengerti. Jimin menelan ludah begitu melihat wajah Yoongi yang serius. Yoongi maju selangkah dan Jimin memejamkan mata. Ia membiarkan Yoongi menciumnya.

Mereka berciuman, saling melumat untuk melepas rasa rindu mereka. Yoongi sangat mengidamkan Jimin menjadi miliknya lagi dan kesempatan ini tak bisa ia sia-siakan. Yoongi ingin terus menikmati bibir Jimin yang sangat lembut. Yoongi bahkan bisa merasakan aroma cherry dari bibir gadis itu. Membuat Yoongi mabuk dalam energi Ruangan yang menekan mereka berdua lebih dekat.

"Kembalilah padaku Chim! Aku mohon!"

.

.

.

Tbc

.

.

.

Fiuh! Akhirnya dapat mood nulis setelah liat MV barunya BTS. ha ha ha

Lagu adalah segalanya buatku dan Blood sweat and Tears bisa buat Yoo nulis kilat ini chapter.

Aku suka banget adegan Yoonmin disitu. Kinky banget!

Aku merasa menjadi paling benar bikin Yoongi on Top. Karena demi apapun Jimin itu manis, imut, caper, dan doyan dandan. Emang selera sih yang bikin dia Top, Tapi aku gx pernah bisa bayangin Jimin on TOP.