.

-I Like It-

.

Your single status II

.

.

"Kau benar-benar jalang Park Jimin"

"Apa kau bilang?"

"Aku menyarankanmu memilih Yoongi bukan berarti kau bisa berciuman dengannya sementara kau belum putus dengan Jungkook."

Jimin memalingkan wajahnya, ia merasa perkataan Taehyung benar. "Argh! Molla!,,," Jimin mengacak-ngacak rambutnya frustasi. ",,,Kau benar! Aku jalang!"

"Putuskan Jungkook sebelum dia tau masalah ini!"

"Bagaimana? Haruskah aku bertemu dengannya lalu berkata aku ingin putus karena aku menyukai pria lain?"

"Kau memang terlahir menjadi wanita jahat Park Jimin."

"Arghhh! Aku bisa gila!"

"Kau memang sudah gila!"

"Katakan padaku apa yang harus aku katakan pada Jungkook."

"Jujur saja! Tak usah malu. Bukankah kau sudah tak tau malu sejak membirkan Yoongi sunbae menciumu?"

"Tae-ah! Kenapa kau jahat padaku?"


Hoseok menatap heran Yoongi yang senyum senyum sendiri melihat hujan.

"Langit terlihat indah!"

Hoseok mundur selangkah dan menatap horror Yoongi dan langit bergantian. Apa yang dikatakan indah oleh Yoongi adalah hal yang jauh berbeda dari sudut pandangnya. Diluar sana, comulunimbus sedang menari-nari bersama petir. Hanya Yoongi yang bisa melihat hal mengerikan menjadi indah dimatanya.

"Benar saja semboyan mahasiswa seni bahwa untuk menjadi seniman hebat kau akan menganggap gila dan genius adalah hal yang sama. Tak heran kau jadi komposer hebat hyung, kau memang genius gila!"

"Terimaksih untuk pujiannya!"

"Aku menyinggungmu bodoh!"

"Ya, aku sedang bodoh sekarang!"

"Hyung apa kau sangat stress dengan ujian?"

"Ah benar! Aku harus memeriksa Laporanku lagi! Aku ingin semuanya sempurna!"

"Hyung~! kau membuatku takut!"

"Hoseokah!"

"ne?"

"Aku berharap Jimin akan memutuskan hubungannya dengan bocah tari itu!"

"Namanya Jeon Jungkook!"

"Aku tak peduli namanya."

Yoongi masuk kamar dan menutupnya meninggalkan Hoseok dalam rasa penasaran. "Kau tak mau mengatakan apapun, maka aku yang akan mencari tau!"

Hoseok mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengirim pesan pada kekasihnya tentang keanehan Min Yoongi yang membicarakan Jimin. Hoseok berkata ia tak diberitahu Yoongi tentang apa yang terjadi, dan ia sangat penasaran. saat pesannya di balas Hoseok langsung teriak dan menerobos kamar Yoongi. Hoseok tidaklah heboh, reaksi Hoseok adalah wajar ketika mendengar sahabatnya beciuman dengan wanita yang memiliki kekasih.

"HYUNG!"

"Aku sedang sibuk Hoseok-ah!"

"Apa yang kau lakukan pada Park Jimin?"

"Melakukan apa?"

"Kau menciumnya Hyung!"

Yoongi menegakan badannya. "Dari mana kau tau?"

"Tae. Dia yang memberitahuku bahwa kau dan Jimin berciuman di ruang piano. Hyung apa kau benar-benar kehilangan akal sehat? Aku tau kau ingin kembali dengan Jimin tapi tak bisakah kau menunggu mereka putus dulu!?"

Yoongi menghela nafas dan konsentrasi dengan laptopnya lagi.

"Hyung!" tegur Hoseok yang merasa di acuhkan.

"Jika ingin Jimin dan bocah itu putus maka harus ada masalah yang membuat hubungan mereka berakhir."

"Hyung kau mengerikan!"

"Jimin tak benar-benar mencintai Jungkook jadi untuk apa hubungan mereka dipertahankan, sementara aku disini seperti orang bodoh tak berbuat apapun."

Hoseok menghela nafas. Ia tak habis fikir dengan hubungan Yoongi dan Jimin yang sedikit rumit. Ia hanya berharap semua akan berakhir dengan bahagia. Hoseok tau Yoongi tipe yang setia. Hanya ada Jimin di hati Yoongi. Menyarankan Yoongi mencari gadis lain bukanlah ide yang bagus karena ia yakin jawabannya akan tetap sama, Bahwa Yoongi mencintai Jimin.

...

Jimin mondar-mandir di kamarnya dengan gelisah. Ponselnya ia genggam dengan sesekali menatapnya ragu. Gadis itu sedang dirundung gelisah, ia hendak mengirim pesan, hanya sebuah pesan untuk bertemu dengan kekasihnya tapi ia merasa sangat takut. Jimin duduk di pinggir tempat tidur lalu menekan kunci tombol ponselnya. Ia menekan ikon bergambar surat dan membuka nama Jungkook di dalamnya. Masih ada pesan obrolan mereka beberapa waktu lalu, dan dengan segenap keberanian Jimin mengirip pesan pada Jungkook untuk bertemu. Secepat mungkin ia menekan tombol kirim lalu melempar ponselnya ke kasur. Jimin menatap ponselnya was-was, ia merasa tegang dengan balasan yang akan Jungkook berikan. Jika iya, apa yang harus ia katakan nanti.

Sudah satu menit tapi belum juga ada balasan. Jimin membuka pesannya dan disana ia melihat jungkook sudah membacanya. Jimin yang merasa heran dengan Jungkook yang tak membalas pesannya, ia mengirimi pesan lagi, namun kali ini tak ada pertanda apapun. Jimin mencoba membuka akaun sosial Jungkook yang lain dan jantungnya terasa berhenti berdetak ketika melihat status sosial Jungkook yang berstatus single. Tanpa fikir panjang ia mengambil tasnya untuk menemui Jungkook yang mungkin ada di gedung jurusan seni Tari.

"Jungkook-ah!"

Panggil Jimin begitu ia melihat pria yang ia cari. Mengetahui suara siapa yang memanggilnya ia menoleh, menatap Jimin dengan malas.

"Weo?"

"Apa yang terjadi?"

"Apa yang terjadi? Seharusnya pertanyaan itu ditunjukan padamu Park Jimin!,,,," Jimin menatap Jungkook tak mengerti. matanya menginginkan penjelasan lebih dan Jungkook tak suka dengan wajah manis Jimin yang terlihat polos. ",,,,Jangan berpura-pura polos. Aku benar-benar muak melihatnya."

"Jungkook-ah!"

"Pergilah! Aku benar-benar marah sekarang."

"Jungkookah! Ada apa denganmu! Katakan padaku apa yang terjadi."

Jungkook mendekati pintu dan menguncinya. Ia menutup semua tirai membuat Jimin menjadi waspada.

"Kau tak memiliki hak untuk bertanya apa yang terjadi park Jimin. Disini hanya aku yang boleh bertanya. Apa yang terjadi denganmu dan Min Yoongi?" Jungkook memandang Jimin dengan tatapan meremehkan. "Terkejut? Tidakkah kau penasaran dari mana aku tau hubungan menjijikanmu dengan pria itu?"

Kali ini Jimin yang terkejut. Ia sangat merasa terhina dengan perkataan Jimin mengenai hubungannya dengan Yoongi. Jimin tau ia salah. Tapi, ia tak pernah sangka Jungkook bisa mengatakan bahwa dirinya menjijikan. "Jungkookah!"

"Aku melihatmu berciuman dengannya!"

Brak!

Jungkook menendang meja kesal sendiri. Jungkook mengusap kasar wajah dengan kedua tangannya lalu menghela nafas, memandang lantai dengan wajah yang terlihat kecewa.

"Kau tau aku mencintaimu Jimin. Sangat! Tapi lihat apa yang kau berikan padaku. ,,," Jungkook melirik Jimin dari ekor matanya, memandang Jimin dengan jijik. ",,,Hapus air matamu. karena bukan kau yang disakiti disini."

"Mianhae!" Jimin tersenggal tangisannya. "Aku tak bisa mengatakan jujur padamu bahwa aku,,,"

"Pergilah! Aku sangat ingin menghancurkanmu sekarang ini. Pergilah! sebelum aku berbuat kasar padamu." Jungkook sangat tak ingin mendengar penjelasan dari Jimin karena ia tak butuh. Baginya apa yang dilakukan Jimin sangtat melukai hatinya.

"Pukul aku jika memang kau mau! Aku pantas mendapatkannya."

Jungkook mendekati Jimin dan Jimin menutup matanya bersiap untuk mendapat tamparan. Ia tau Jungkook bukan pria yang kasar, tapi ia tetap memejamkan matanya rapat-rapat karena tetap merasa takut. Jungkook menarik pinggang Jimin dan menciumnya kasar. Melumat dengan sesekali menggigitnya. Jimin yang berontak justru membuat gigitan kecil Jungkook merobek kulit bibirnya yang manis itu.

"A!" Jimin hanya bisa memekik sakit sambil berontak. Saat tangan Jungkook masuk ke dalam roknya, Jimin mulai panik dan berusaha lebih keras melepas cengkraman Jungkook. Tangan Jimin yang memukul pundak dan lengan Jungkook terasa sia-sia. Jimin tak kehabisan akal, dia meraih rambut Jungkook dan menariknya. Berhasil, Jimin berhasil menjauhkan bibir Jungkook dari bibirnya.

"Hentikan!"

"Kenapa aku harus menghentikannya? Kau yang memintaku untuk berbuat kasar padamu."

"Jungkook lepaskan aku sebelum aku menyakitimu."

"Apa yang bisa kau lakukan untuk menyakitiku lebih parah huh? Tidur dengannya di depanku?"

"Jungkook aku mohon hentikan!"

Melihat wajah Jimin yang berontak sambil menangis ketkutan membuat Jungkook semakin marah, ia seolah melihat Jimin yang tak mencintainya sedikitpun. Dimata Jungkook sekarang ini Jimin seperti ingin lari dari dekapannya dan berlari ke sisi pria itu. Melihat mata Jimin rasa sakit Jungkook semakin menjadi. Tak bisa menahannya lagi Jungkook mendorong Jimin menjauh dari tubuhnya, lalu berpaling memukul tembok di belakangnya. Tangannya sakit tapi rasa sakit di tangannya tak seberapa dibandingkan rasa sakit di dalam hatinya. Bayangan mata Jimin yang menatap Min Yoongi lebih sakit daripada apapun.

Jimin terkejut, ia melihat tembok itu sedikit retak dan Jimin yakin tangan Jungkook terluka. Rasa bersalah semakin menutupi batin Jimin, bahkan rasa bersalahnya membuat Jimin melupakan kakinya yang terkilir akibat dorongan Jungkook tadi. Jimin mencoba bangkit dari lantai dan mendekati pria itu. tapi langkahnya terhenti ketika melihat air mata meluncur melewati pipi Jungkook.

"Apa kau begitu mencintainya?"

Jimin menunduk merasakan sesak di dadanya. Melihat air mata Jungkook membuat hatinya sakit. Ia tak pernah tau bahwa ini melukai Jungkook sampai sejauh itu. Seketika ia merasa bahwa cintanya terhadap Min Yoongi salah. Jimin ingin Jungkook memaafkannya dan tak melukai dirinya sendiri lagi. Tapi ia tak tau harus bagaimana. Hatinya terus berhianat pada Jungkook dan ia tak tau harus bagaimana lagi.

"Aku mohon maafkan aku Jungkookah!" Jimin tau meminta maaf tak akan membuat semuanya lebih baik. Tapi kata itu keluar begitu saja. Hanya itu yang Jimin fikirkan meskipun akan sia-sia.

"Jika kita bertemu lagi. Berpura-puralah bahwa kita tak saling kenal. Menjauhlah dariku saat kau melihatku. Dengan begitu aku akan lebih mudah melupakanmu." Jungkook membuka pintu. "Aku mohon pergilah. Wajahmu membuat lukaku semakin terasa sakit."

Jimin keluar dengan air mata yang terus mengalir dari matanya. ia menunduk menutupi rasa malunya terhadap apa yang ia lakukan pada Jungkook. Jimin terlalu hanyut dalam rasa bersalahnya hingga tak peduli lagi dengan imagenya. Ia mengacuhkan orang-orang yang menanyakan keadaan kakinya yang pincang dan bisik-bisik melihat pakaian dan rambut kusutnya. Ia ingin pulang dan menangis di rumah tapi air matanya tak tak terkendali. Air matanya menetes sepanjang jalan ia pulang. Dalam fikirannya hanya Jungkook, hanya rasa sakit Jungkook yang dapat Jimin lihat.

...

Jimin berendam di dalam air hangat, dengan bath soap beraroma peach sakura kesukaannya. Berendam adalah hal yang paling Jimin sukai ketika ia sedang dalam masalah. Biasanya Jimin akan sedikit bisa melupakan apa yang terjadi tapi rasa bersalahnya pada Jungkook terlalu besar. Air mata Jungkook, wajah Jungkook yang terlihat sangat hancur, dan perkataan Jungkook tentang betapa ia mencintainya. Semuanya menghantui Jimin. Jika seandainya dulu ia tak menerima Jungkook, seandainya ia melupakan perasaannya terhadap Yoongi, semuanya tak akan sejauh ini. Tak akan ada yang terluka karenanya. Jika Jimin berfikir ia akan lega karena bisa putus dengan Jungkook dan berhenti membohongi perasaanya pada Jungkook, maka itu salah. Jimin tak lega, ia justru semakin merasa bersalah.

Jimin hanya ingin bahagia bersama Yoongi. Tapi kenapa hidupnya terasa salah? Kenapa putus dengan Jungkook tak membuatnya bahagia? Segala fikiran mengenai perasaannya berkecamuk. Ia dilema dengan Jungkook dan Yoongi. Ia mencintai Yoongi tetapi ia juga menyayangi Jungkook.

...

Jungkook masuk ruang piano dan menemukan pria yang ia cari. Ia tak mempedulikan sopan santun pada pria yang lancang mencium kekasihnya. ia tau ia sudah memutuskan Jimin. hanya saja, Jungkook kesal dengan penyebab Jungkook memutuskan hubungannya. Jungkook berdiri di samping Yoongi yang sedang membaca kertas-kerats bergambar not balok yang Jungkook tak mengerti. Melihat siapa yang mendatanginya, Yoongi meletakan corenya dan menatap Jungkook.

"Aku ingin bicara denganmu!."

"Sialahkan!"

"Tidak disini!"

"Aku sedang sibuk dan aku tak memiliki alasan harus mengikuti maumu."

Jungkook mendecih dan membuang muka. Ia tak menyangka bahwa pria yang disukai Jimin hanyalah pria arogan dan egois. Diperlakukan seperti itu, Jungkook tak bisa menahan emosinya dan mencengkram kerah Yoongi. Menarik tubuh Yoongi berdiri.

"Siapa kau beraninya mencium Jimin di belakangku?"

Taehyung yang hendak pergi ke auditorium untuk bertemu Hoseok menghentikan langkahnya saat melihat adegan Jungkook menarik kerah kemeja Yoongi. Bukan kesana memisahkan, Taehyung justru menyembunyikan dirinya di balik tembok dan menguping.

Yoongi menampik cengraman Jungkook di kerahnya. "Jika kau bertanya demikian aku berani bertaruh Jimin belum mendengar apapun dari Jimin tentang kisah cintaku dengan gadismu."

Jungkook mengeratkan giginya. Ia menahan marah pada lelaki di depannya. Taehyung yang mendengar percakapan Jungkook dan Yoongi tentang Jimin segera mengirim Hoseok pesan. Taehyung berfikir tentang kemungkinan yang pasti terjadi, Jika mereka bertengkar Hoseoklah yang akan memisahkan mereka. Taehyung memang tinggi tapi tetap saja ia wanita, dan ia tak memiliki keberanian untuk memisahkan dua orang di dalam ruang piano.

"Aku dan Jimin masih saling mencintai, aku ingin kau tau itu, dan aku berharap kau berbaik hati melepaskan gadis manis yang tak mencintaimu."

Bugh!

Taehyung terlonjak. Ia mengintip apa yang terjadi. Disana Jungkook tersungkur menahan tubuhnya di dinding agar tak jatuh, dan ia juga melihat Yoongi mengelap darah di bibirnya. Ia menatap Yoongi terkejut, selama ini Yoongi terlihat diam dan tubuhnya kecil. Yoongi bahkan lebih pendek dari dirinya, ia fikir Yoongi tak bisa bertarung, tapi saat ini ia melihat bagaimana Yoongi membalas pukulan Jungkook, dan ia kagum dengan pianis itu. Ia tak sangka seniornya itu bisa memukul Jungkook sampai seperti itu, wajah Yoongi terlalu manis dan jauh dari kesan kuat.

"Honey!" Hoseok merentangkan tangannya begitu melihat kekasihnya di lorong.

"Oppa! Yoongi dan Jungkook bertengkar. Cepat kemari!" Taehyung berjingkrang-jingkrak panik menunjuk ruang piano. Disana Yoongi dan Jungkook bertarung semakin sengit dan Taehyung menutup mulutnya saat melihat Yoongi di pukul lagi. Hoseok langsung masuk lalu Menahan Yoongi yang hendak memukul Jungkook. Jungkook kini yang akan melayangkan tinjunya. Yoongi melihat itu, tapi merasa Hoseok menghalanginya, ia menorong tubuh Hoseok ke arah Jungkook hingga mereka sama-sama terbentur tembok.

"OPPA!"

Taehyung hendak masuk mendekati Hoseok yang bengong. Namun langkahnya terhenti saat Jungkook melayangkan tinjunya pada Yoongi dan mereka bertarung lagi.

"OPPA! Cepat pisahkan mereka!"

Hoseok tersadar dari rasa terkejutnya tentang kekuatan Yoongi. Merasa di panggil Hoseok kali ini memeluk Jungkook. "Yack! Hentikan!"

Jungkook mencoba melepas kungkungannya dari Hoseok, sementara Yoongi merapikan pakaianya. Yoongi menatap bayangan wajahnya dari pintu kaca. Ia bisa melihat memar di tulang pipi dan darah di bibirnya.

"Sial sebentar lagi aku ujian."

"Lepaskan aku hyung! Biar aku memukul si brengsek itu."

"Jika kalian ada masalah kalian bisa menyelesaikannya dengan otak kalian. Apa kalian fikir dengan saling memukul satu sama lain masalah akan selesai?" marah Hoseok mencoba membuat kedua orang yang berdiri di antaranya itu berfikir.

"Dia yang memancing perkelahian dengan kesombongannya."

"Aku?! Jelas jelas kau yang kesini dan memukulku lebih dulu."

Jungkook hendak memukul Yoongi lagi tapi ditahan Hoseok. "Jungkook berhenti!"

Jungkook melihat sekelilingnya, Hoseok menahannya dan Taehyung terlihat cemas. Jungkook tau Hoseok sahabat Yoongi dan Jungkook yakin Hoseok memisahkan mereka karena ketua klubnya itu tak ingin sahabatnya di pukuli. Merasa tak ada di perahu yang sama, Jungkook mendorong Hoseok.

"Aku keluar dari klub sialanmu!"

Jungkook berjalan keluar dari ruang piano lalu Taehyung mengejarnya. Tae memanggil pria itu tapi ia di abaikan. Jungkook tetap berjalan tak menghiraukan Taehyung. Melihat tangan kanan Jungkook yang teluka Taehyung menahan pundak Jungkook.

"Jungkook-ah!"

"Apa?! Kau akan membela pria brengsek itu dan mengatakan Jimin tak mencintaiku lagi?"

Taehyung tercekat. Ia bisa melihat rasa sakit di mata Jungkook. Seolah ia bisa merasakan hati Jungkook yang hancur. Taehyung merasa ikut sedih dan iba terhadap pria itu.

"Tanganmu terluka!"

"Aku tau!"

"Kau harus ke rumah sakit."

...

"Wah! Selamat atas terciptanya masalah antara Jungkook dan Jimin.,,," Yoongi mengabaikan ucapan Hoseok yang menyinggungnya dengan sarkasme. ",,,Kau bahkan mendorongku tadi Hyung! Aku tak menyangka kau memiliki kekuatan sebesar itu padahal badanmu kecil."

Yoongi langsung melirik Hoseok dengan tatapan membunuhnya. Hoseok ternyum paksa dan mengacungkan dua jari berbentuk v pada sahabatnya itu.

"Maaf!"

"Ani! Aku meminta maaf karena mendorongmu tadi."

"Hyung tadi itu sakit kau tau!"

"Jangan merengek! Itu balasan karena kau sering mencuri makananku!"

"Hyung kau dendam padaku hanya karena makanan?"

...

"Terjadi kerusakan yang cukup fatal pada persendian tulang jarimu. Ini akan sembuh lama." Dokter menjelaskan tentang hasil x-ray yang memperlihatkan tulang jari Jungkook.

Taehyung meringis melihat hasil x-ray Jungkook. "Itu pasti sakit. Gwenchana?"

"ne!"

Tae menatap Jungkook iba. Ia memang senang jika Yoongi dan sahabatnya akan bersama tapi, ia tau persis siapa yang akan terluka parah jika Jimin dan Yoongi bersatu. Taehyung terus menatap Jungkook yang terlihat melamun dengan rasa sakit di dalam matanya. Bahkan sampai keluar rumah sakit Jungkook mendiamkannya.

"Jungkook-ah!"

"Weo?"

"Jangan melukai dirimu sendiri karena Jimin. "

"Maksudmu aku harus melukai orang lain karena Jimin?."

"ANIO!" Taehyung berteriak menampik perkataan Jungkook "Maksudku, Aku tau kau kesal padanya. Tapi, jangan menyakiti dirimu karena Jimin pasti akan sedih."

"Kenapa dia harus sedih?."

"Karena dia menyayangimu."

"cham!. Kau tak tau aku dan dia sudah berakhir?."

"MWO? Kenapa? Kapan? Bagaimana bisa?"

"Kau tanya sendiri saja pada sahabatmu itu."

"Apa ini karena Yoongi sunbae?."

"Sebagian ya. Sebagian lagi karena kebohongan Jimin."

"Jungkook-ah mian!"

"Temanmu yang salah kenapa kau yang meminta maaf?. Ah benar! Karena kau sebenarnya sudah tau semuanya sejak awal dan ikut serta dalam rencana Jimin membodohiku."

Ya, Taehyung tau sejak awal dan ia juga yang meminta Jimin memutuskan Jungkook. "Jungkook-ah! Aku,,"

"Aku selesai bicara denganmu."

Tanpa memberi kesempatan Taehyung bicra, Jungkook pergi meninggalkan Taehyung. Ia sangat lelah dengan segala hal tentang park Jimin sekarang. Demi tuhan Jungkook sangat mencintai Jimin. Ia merasa sudah memberikan semua yang Jungkook miliki tapi sekarang Jimin mendorongnya menjauh. Membuatnya hilang akal dalam kebingungan dengan apa yang telah terjadi. Jimin menyakitinya dan ia masih belum percaya.

...

Sepertinya menguntit Jimin melalui media sosial sudah menjadi kebiasaan Min Yoongi sekarang. Bahkan disela-sela kesibukannya Tugas Akhir dimana ia memiliki 5 hari lagi untuk konser Yoongi masih sempat membuka akun sosialnya. Seperti biasa, setiap akun sosial Jimin dibanjiri like dan komentar. Namun kai ini berbeda, beberapa komentar menyinggung hubungan Jimin dan Jungkook. Mengenai putusnya hubungan mereka. Yoongi memeriksa profil jimin, kemudian Yoongi tak sadar tersenyum ketika melihat jimin telah mengubah status profilnya menjadi "Single".

"Yes!" Yoongi bersorak penuh kemenangan di kamarnya.

Hoseok yang lewat di depan kamar Yoongi langsung membuka pintu. "Ada apa? Ada sesuatu yang menyenangkan?"

"Ani! Keluar!"

Hoseok melihat layar laptop Yoongi dan mendengus. "Jangan terlalu senang! Ketika Jimin single akan ada puluhan pria yang harus kau lawan untuk mendekati Jimin."

"Ya aku tau dan itu termasuk kaukan?!"

"Apa kau begitu membenciku karena makanan sampai sekarang ini kau menuduhku? Aku sudah punya Kim Taehyung! Kau tak tau?"

"Secepat itu?"

"Sudah sebulan lebih hyung aku mengejarnya. Kau tak ingat kencan buta dulu? Itu strategiku Hyung. Kau ini terlalu sibuk dengan Tugas Akhir dan Park Jimin. Jadi, kau tak akan menyadari berapa banyak waktu telah berlalu." Hoseok mendengus, ia benar-benar kesal dengan temannya yang maniak musik dan maniak Park Jimin itu. "Park Jimin sudah berstatus single tiga hari yang lalu. Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?"

"Tiga hari yang lalu? Saat anak bodoh itu memukulku?"

"ya! Tapi Tae bilang beberapa hari sebelumnya Jungkook sudah memutuskan hubungan. Entahlah! Aku tak tau pasti. Aku harap kau tak sia-siakan kesempatan! Park Jimin lebih popular di kalangan namja karena status singlenya sekarang ini."

"Aku harus mengklaimnya. Tapi aku harus ujian terlebih dulu. Ujianku lusa kau ingat?"

"Benar! Itulah Min Yoongi. Karier adalah segalanya."

.

-I Like It-

.

"Mari kita segera bertemu lagi."

Ajak Yoongi pada Jimin dari telfon. Yoongi butuh bicara mengenai status mereka. Yoongi tau ini bukan waktu yang tepat mengingat Jimin belum lama putus dengan Jungkook tapi ia tak bisa membiarkan pria lain mendekati Jimin lagi. Cukup Jungkook yang harus ia singkirkan.

kecanggungan mengelilingi mereka. Jimin berbeda dari sebelumnya, dalam rangka untuk menutupi luka di hatinya. Yoongi tau itu.

"Aku minta maaf soal Jungkook." Yoongi berbicara santai untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka. Berbicara mengenai kebalikan dari hatinya 'Tidak! Aku bersyukur soal dia'

"Aku tak ingin mrmbicarakannya"

"Apa kau selalu terlihat lebih cantik setiap putus dengan seoran pria?"

Jimin melihat pakaiannya sendiri dan tersenyum kecut. "Semua pria hanya melihat wanita dari fisiknya." 'aku juga tak mengerti kenapa aku berias diri sebelum bertemu denganmu.'

"Tidak semua."

"Benarkah?!"

"Ya! Aku menyukai gaya tomboy dan rambut berantakanmu dulu"

"YA. dulu sebelum kau masuk institut dan menemukan banyak gadis chic."

"hey! Aku tak pernah meliriknya."

"Tapi kau menerima banyak bunga mawar."

"Semua orang memberiku mawar. Itulah yang biasanya dilakukan seorang gadis sebgai simbol ucapan selamat."

"Ya! Setangkai bunga mawar merah." Setangkai bunga mawar merah berari 'Aku Mencintaimu' . Itulah yang Taehyung maksud. Simbol dari bunga tersebutlah yang melukai Jimin. Mawar itu berduri, dan ya. Durinya menyakiti Jimin bahkan tanpa ia memegangnya sekalipun.

"Mereka hanya mengagumiku! Tunggu! Itu yang membuat kau menjauhiku?"

...

Mawar merah, cokelat, dan wangi tubuh Yoongi. Semua itu menusuknya. Sejak Yoongi masuk institut ia merasa Yoongi berubah. Yoongi terkenal dan dikelilingi banyak wanita cantik yang membuatnya cemburu. Jimin memang sering ke institut untuk latihan dance, ia salah satu member disana, dan waktunya bersama Yoongi memang sering. Namun tak seperti bagaimana sepasang kekasih menghabiskan waktunya bersama. Berawal dari setangkai mawar merah dan cokelat yang selalu terselip di tas Yoongi lalu aroma parfum wanita pada tubuh Yoongi. wanita mana yang tak akan curiga?

Bang!

Senior-senior cheersnya menutup pintu loker Jimin keras hingga ia terlonjak dari lamunannya. Jimin terlalu fokus dengan fikirannya mengenai Yoongi hingga tak menyadari seniornya sudah ada di sampingnya. Masalah seperti biasa. Hari ini Jimin ditunjuk untuk menciptakan koreo untuk perlombaan cheerleader oleh kepala sekolah, dan tentu itu bukan hal yang baik bagi seniornya. Setelah kemenangannya menari dengan team di Institut Jimin mendapatkan citra positif dari kepala sekolah. Ia menganggap Jimin adalah kebanggaan sekolah yang memiliki talenta besar. Maka dari itu, Kepala sekolah mempercayakan perlombaan cheer padanya.

"Aku tak mengerti dari mana rasa percaya diri itu berasal."

"Sepertinya menjadi penjilat memang ahlinya."

"Kau fikir kau bisa menguasai team?"

"Aku tak pernah berfikir seperti itu!"

"Dengar Park Jimin. Hanya karena Kepala sekolah menyukaimu dan memasukanmu ke dalam team kami kau bisa selevel dengan kami. Argh kau benar-benar membuatku muak."

"Sepertinya dia terlalu berambisi untuk menjadi pusat perhatian dengan menjilat semua orang."

"Aku tak pernah begitu!"

"Benarkah? Lalu untuk apa kau berusaha menguasai team."

"Bukan mauku membuat koreografi untuk team."

"Jimin-ah! Bukankah kau busa menolaknya?"

"Bagaimana bisa dia menolak apa yang selama ini dia incar."

Brak!

"Dengar baik-baik. Selama kami masih bersikap baik keluarlah dari team."

Kali ini seniornya membully jimin lebih keras. Jimin di seret ke toilet wanita lalu disiram air kotor. bahkan rambut Jimin kerap di tarik dan pipinya di tampar. Sepertinya seniornya telah lelah membuli batin jimin sehingga mereka kini bermain fisik.

"Jika besok kau tak keluar kau akan mendapatkan yang lebih dari ini."

"Dan jangan berfikir untuk melapor kepala sekolah karena kami akan membalikan semuanya. Ah! Min Yoongi Sunbae. Aku rasa kau juga tak bisa melapor padanya karena dia sepertinya sibuk dengan gadis kampus yang cantik."

"ha ha ha. Dia tak akan meapor karena Yoongi sunbae tak akan peduli padanya lagi."

"Kau hanyalah pelabuhan sementara Park Jimin. Jika kau berfikir Yoongi oppa akan mencintaimu sampai mati maka itu hanya ada dalam mimpimu."

"dari awal kau ini hanya mahluk rendah. Bagaimana bisa kau masuk kemari dan mengencani Yoongi sunbae dan menjilat kepala sekolah."

"Dia memang tak tau diri."

...

Merasa lelah Jimin ingin meminta pindah tetapi kedai deokboki orang tuanya bangkrut. Jimin tak bisa merepotan orang tuanya. Jimin akhirnya memutuskan bertahan di sekolah itu meskipun ia terus di bully padahal ia sudah keluar dari team.

Sementara itu ayah Yoongi memperkenalkan Yoongi pada seorang produser dan mereka membatu Yoongi debut. Debut dengan solo concert bukanlah hal yang main-main, Ia butuh konsentrasi penuh. Tapi masalah Yoongi muncul justru datang dari kekasihnya. Park Jimin berubah, Yoongi merasakannya, gadis itu menjadi terlalu banyak menuntutnya dan berlaku cemburu berlebihan dengan teman-teman wanita Yoongi. Ia hanya menyukai Jimin dan ketika Jimin mencurigainya ia merasa Jimin tak percaya lagi padaya. Itu membuatnya muak.

"Apa oppa tak mencintaiku lagi?"

"Mwo?"

"Kenapa oppa selalu mengabaikanku?!"

"Jimin aku tak mengabaikanmu! Aku butuh waktu untuk mendapatkan kontrak debut soloku! Aku harus bisa meyakinkan produser dengan kemampuanku. Aku hanya butuh waktu Jimin untuk musikku. Kau tau ayahku bukan?"

"Tapi aku juga butuh oppa!"

"Jimin sampai kapan kau akan bertindak lemah seperti ini?"

"Karena aku terlanjur tergantung pada oppa!"

"Kalau begitu berhenti bergantung padaku!"

"Apa?"

Seketika dunia terasa membeku. Mereka sama-sama terkejut dengan apa yang Yoongi katakan. Yoongi tak sengaja mengucapkan kata-kata itu. Ia panik melihat air mata mengalir dari mata indah Jimin.

"Aku mengerti!"

Jimin langsung pergi meninggalkan Yoongi yang masih terdiam di tempatnya. Semua tiba-tiba terjadi. Yoongi ingin mengejarnya tapi ia juga menginginkan Jimin pergi agar tak menggangu karirnya. Yoongi hanya ingin yang terbaik bagi karirnya dan Jimin. Yoongi merasa gadis itu terlalu mencekik kebebasannya.

...

"Oppa lebih mempedulikan karier dari pada aku. Itulah yang membuat kita putus."

"Musik adalah prioritasku saat itu. Kau tau kalau aku akan debut."

"Lalu apa prioritasmu saat ini?"

"em,,, haruskah jujur?"

"Tentu saja"

"Ujian akhir tentu saja."

Jimin mendengus kesal. "Pantas kau tak pernah memiliki kekasih setelah kita putus"

"Jadi sekarang, Xku sedang merendahkanku?!"

"Untuk apa? Aku sudah menang."

"Ya. You Win. Apa itu membuatmu lebih baik? Menyiksa batinku."

"Oppa yang melukaiku lebih dulu dengan gadis-gadis cantik di sekelilingmu."

"Siapa yang lewat tanpa memperhatikan satu sama lain? Kau yang lebih dulu bersikap seolah kau tak mengenalku."

"Oppa yang tak pernah memperhatikanku."

Yoongi menghela nafas. "Jadi itu masalah kita. Dua orang yang lewat tanpa memperhatikan satu sama lain dan menciptakan dinding di antara kita. Itu buruk."

"Ya! Itu buruk."

Mereka saling pandang dan kecanggungan mengelilingi mereka lagi.

.

.

.

mind to review? aku butuh kritik dan saran