.
.
.
I Like It
.
In that place
.
If we can meet.
.
.
.
Std. Piano
Jin sedang bermain dengan kuasnya. Ia menggores wajah Yoongi dengan keahliannya memberi keajaiban dari sebuah make-up.
"Apa memar ini bisa kau hilangkan dengan bedak itu?"
"Ini bukan bedak Min Yoongi. Yang ini fondation dan ini concealer."
"Ya terserah apapun namanya yang penting adalah lukaku tak terlihat saat naik panggung."
"Baik Tuan! Kau tak usah khawatir. Biarkan aku bekerja dengan tenang."
"Kalau sampai orang tuaku tau habislah aku!"
"Siapa suruh kau cari masalah. Demi tuhan Yoongi. kemana perginya kontrol dirimu?,,, Kau itu bisa merebut Jimin setelah kau lulus bukan?"
"Entahlah Noona!"
Jin memeriksanya lagi. Melihat secara detail bahwa luka di wajah Yoongi benar-benar tertutup sempurna dan terlihat sealami mungkin.
"Done! Lihat!" Jin memberi Yoongi cermin.
"Wah!" Yoongi percaya sekarang, mengenai keajaiban sebuah Make-up. "Kau seniman Noona!"
"Your Wellcome!"
"Terimakasih Noona! Kau yang tebaik."
"Aku harus kebali utuk membaca kembali laporaku. Besok aku ingin memberi presentasi yang terbaik."
...
Jimin naik panggung dan harmoni dari lagu acapella mengisi keheningan panggung. Jimin begitu menawan dengan long dress berwarna hitam berbahan satin. Sangat jauh dari kesan imut seperti Jimin yang biasanya. Gaun hitam dengan v neck itu sama saja seperti yang di pakai teman-temannya hanya saja saat Jimin yang memakainya itu terkesan anggun, seksi dan mengagumkan. Seperti bunga mawar merah yang mekar, begitulah kesan yang orang lihat dari penampilan Jimin. Sebagai vocal utama Jimin sukses mencuri perhatian penonton semenjak gadis itu mulai melangkah menuju tengah panggung.
Mrs. Min tersenyum mendengar lagu accapella manis dari Jimin. Berkesan cute seperti mata sipit gadis tersebut, sedangkan Mr. Min hanya memandang Jimin dengan sesekali menutup mulutnya tanda bahwa ia sedang memikirkan sesuatu. Isterinya yang penasaran apa yang suaminya fikirkan, ia bertanya.
"Apa ada yang salah dengan opening?"
"Tidak! Ini bagus."
"Lalu kenapa kau terlihat memikirkan sesuatu?"
"Aku hanya serasa seperti familiar dengan gadis itu."
"Apa maksudmu?" Ucap Mrs. Min dengan mata tajam mengawasi mata suaminya.
Jimin disana terlihat sangat mempesona, batin Mrs. Min mengakui bahwa tak ada lelaki yang bisa menolak pesona gadis itu, dan bagaimana suaminya menatap Jimin dengan gelisah justru membuatnya berfikiran macam-macam.
"Maksudku, aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat."
"Suamiku! Kau mengajar disini dan dia mahasiswa disini. Tentu saja kau pasti pernah bertemu dengannya."
"Bukan disini tapi sebelum ini."
Mr. Min masih tenggelam dalam ingatannya, sampai ia menoleh mendapati isterinya yang menatapnya curiga. Mr. Min menahan senyum.
"Apa yang kau fikirkan?"
"Apa yang kau fikirkan?" Tanya Mrs. Min balik.
Sampai lagu itu berakhir. Taehyung kembali muncul dan mengisi jeda untuk penampilan berikutnya. "Beach boy - 'Sing a love song for me' Lagu yang segar dan mampu menarik semangat untuk membuka konser hari ini yang dibawakan mahasiswa angkatan pertama minat utama Vocal. Park Jimin,,,"
"Park Jimin?!"
"Ya seperti yang Mc katakan dia Park Jimin. Apa kau mengingatnya sekarang?." tanya Mrs. Min dengan nada yang dingin.
"Ya! Aku ingat!"
"Apa? Dia mahasiswa yang menarik perhatianmu?"
Mr. Min tertawa kecil agar tak mengganggu penonton lain. Ia merasa geli dengan sikap cemburu isterinya. "Kenapa kau cemburu dengan mantan anakmu sendiri?."
Mrs. Min terdiam masih belum bisa mencerna. Merasa isterinya bingung, Mr. Min mencoba mengingatkan isterinya tentang Jimin.
"Dia Park Jimin gadis yang dulu pernah berpacaran dengan Yoongi saat SHS."
Akhirnya Mrs. Min teringat nama gadis yang dulu sering anaknya sebut-sebut. "Ah!,,," Mrs. Min ingat tapi ia menatap panggung yang tak ada lagi Jimin disana. "Benarkah? Tapi,,, Bagaimana bisa? Bukankah dulu dia?"
"Ya! Kesan pertama dengan mengenakan pakaian olah raga saat bertemu kita. Aku masih ingat matanya yang terlihat terpejam saat tersenyum."
"Benarkah itu Jiminnya Yoongi?"
"Aku yakin Ya."
"Aku tak tau dia kuliah disini dan dengan Vocal major ?."
...
Selalu membutuhkan toilet setelah tampil. Itulah Park Jimin. Kebiasaan memalukan yang hanya Taehyung yang tau. Jimin tentunya tak mengatakan ia ke toilet, ia hanya bilang ia butuh juice. Tampil sebagai penyanyi berbeda dengan tampil menjadi seorang penari. Energi yang ada di panggung musik sungguh menekan. Tak seperti panggung tari yang ceria, dengan penonton yang penuh sorak dan gembira. Panggung musik berisi penonton yang diam, mereka hanya tersenyum ataupun tepuk tangan denagan begitu teorganisir. Membuat tekanan yang lebih kaku, membuat Jimin lebih gugup. Beruntung ia mampu mengontrol rasa gugupnya tadi.
Begitu suara cello terdengar Jimin segera bercermin untuk merapikan lagi make-upnya. Setelah cello adalah permainan piano Min Yoongi. Sama seperti gadis-gadis lain yang selalu tak sabar menanti penampilan Yoongi, Jimin juga tak ingin melewatkannya. Jimin hendak berdiri di samping panggung, mengintip seperti gadis-gadis lain. Tapi melihat banyaknya mahasiswa yang melihat dari sana, Jimin memutuskan mencari tempat lain. Ia melihat hoseok berdiri di belakang podium berbicara melewati holky talky. Jiminpun kesana melewati pintu depan dan berdiri disamping kekasih sahabatnya itu.
Taehyung selesai berbicara dan masuk ke pintu samping panggung, lampu penonton seketika redup.
"Yoongi masuklah!"
"Aku sudah siap!" suara Yoongi terdengar dari benda hitam yang di pegang pria tinggi itu.
"Bagus!" Hoseok mengoper saluran. "Lighting Top and Right. 3 2 1."
Lampu diatas Yoongi dan disamping kanan Yoongi menyala, menciptakan sebuah siluet indah dari Piano dan Yoongi di lantai panggung. Jimin tersenyum karena Yoongi terlihat sangat keren di tengah panggung sana.
"Tunggu Yoongi!,,, Lighting podium nyalakan redup. And,,,," Lampu podium yang gelam menyala perlahan dengan masih remang-remang. ",,, Yoongi Go!"
Yoongi mengangkat jarinya ke atas tuts piano dan berikutnya lantunan lagu piano sonata terdengar. Jimin terpana untuk yang kesekian kalinya. Cahaya diatas kelapa Yoongi membuatnya terlihat seperti seorang peri, membuat jantungnya kembali berdetak. Jimin tanpa sadar memegang dada kirinya.
"Yoongi sangat tampan hingga membuat kau jatuh cinta padanya. Iyakan?!" Ucap Hoseok berbisik intens.
"Ya!"
Ucap Jimin tanpa sadar dan detik berikutnya ia tersentak sendiri. Ia menatap Hoseok dan mematung seperti seseorang tertangkap basah. Hoseok menahan tawa membuat kuping Jimin semakin memerah.
DIM.
Lampu mati ketika Yoongi hendak memainkan lagu berikutnya dan Penonton bertepuk tangan.
"Berhenti!" Ucap Hoseok pada Yoongi. "Lighting?!"
'Listriknya mati Hyung!'
"Sial!" Hoseok menoleh ke samping pada panitia yang diam "kau nyalakan genset."
"Semua Panitia terlihat panik dengan apa yang terjadi sedangkan penonton hanya penasaran karena tak menyadari masalah yang terjadi."
Jimin menggigit kukunya ikut panik. Jimin melihat cahaya layar handphone dari salah satu penonton dan mendapatkan ide.
"Flashlight dari Handphone!" Bisik Jimin pada Hoseok.
"Lighting matikan dulu semua lampu kalian."
'Ini memang sudah mati Hyung!'
"Matikan saja tombolnya. Agar ini tak menyala tiba-tiba bodoh. Matikan semua cahaya di gedung ini,,, Back Stage Masuk ke panggung berjajar dari kiri ke kanan melingkari Yoongi 180 derajat ke arah penonton lalu nyalakan senter ponsel kalian dari Kiri ke kanan beruntun mengerti?"
"Ya Hyung!"
"Cepat!"
"Ne!"
"Yoongi bermainlah setelah semua lampu ponsel nyala!"
"ya"
Terdengar suara langkah banyak orang ke dalam panggung. Itu tak terlihat tapi Jimin bisa yakin Panitia sudah bekerja sesuai perintah Hoseok.
"Hyung Flashlight ready!"
"Ok 321 mulai."
Dan cahaya center menyala dari kiri ke kanan berbentuk zigzag dari atas ke bawah. Sekilas, Jimin bisa meliahat bagaimana para panitia berdiri dan berjongkok rapi dengan cahaya dari ponsel mereka. Ia memandang Hoseok kagum.
"Oppa itu keren."
"Of Course!"
Yoongi melanjutkan permainannya dan kembali memukau penonton dengan permainan gilanya. Meski tak seperti saat latihan tapi Yoongi tetap mendapat tepuk tangan paling banyak.
"Ok Lighting All On!"
Saat lampu gedung menyala. Yoongi berjalan ke depan panggung dan memberi salam.
"Kau tidak pergi ke belakang pangung?"
"Kenapa?"
"Memberi selamat pada Yoongi atas kelulusannya." Hoseok tersenyum penuh maksud yang berhasil membuat Jimin tersenyum memalingkan wajahnya karena malu.
"Jangan menggodaku."
...
Jimin kembali ke back stage tapi tak menemukan Yoongi. Mata Jimin mencari-cari samapi ia mendengar seorang panitia membicarakan Yoongi yang berbicara mengenai kekecewaan di wajah Yoongi. Jimin tiba-tiba teringat space kosong di belakng panggung. Itu tempat dimana Yoongi biasanya membutuhkan waktu sendirian. Meskipun harus melewati alat-alat musik di samping ruangan Jimin diam-diam kesana tanpa ada yang tahu.
Jantung Jimin berdetak kencang. Bukan karena akan bertemu Yoongi tapi karena penerangan redup di pojokan ruangan yang menyeramkan. Jimin memberanikan diri berbelok dan melihat Yoongi sedang menopang kening dengan kedua tangannya. Yoongi terlihat sangat frustasi membuat rasa takut Jimin hilang berganti menjadi rasa khawatir.
"Oppa gwenchana?"
Yoongi terlihat sedikit terlonjak. "kau?! Aku fikir siapa."
Yoongi bersandar di kursi dengan pundak yang terlihat lesu.
"Oppa! Panitia sudah bekerja dengan baik menutupi kecelakaan tadi."
"Aku tau!"
"Lalu,,, kenapa kau terlihat kesal?"
"Aku? Oh! Tolong jangan salah faham. Aku hanya kesal pada nasib sialku. Seharusnya aku tadi bisa melakukannya lebih baik."
"Oppa. Tak ada yang seberuntung dirimu tadi. Jika saja Hoseok sunbae tak memiliki ide itu, kau hanya akan melanjutkan permainanmu di tengah gelap gulita."
"Aku tau! Hanya saja,,, Entahlah! Aku hanya merasa kurang puas."
Jimin menghela nafas. Begitulah Yoongi, Jimin tau betul sifat perfectoinist pria itu dalam bermusik. Jimin bersandar di dinding masih menatap pria yang memiliki bau wangi menenangkan yang Jimin sukai.
"Apa oppa akan selalu seperti ini?"
"Apa? Seperti apa?"
"Terlalu ambisius dengan kariermu."
"Beginilah aku. Kau sendiri tau."
Meskipun Jimin tau Yoongi selalu menomor satukan karier entah kenapa Jimin masih tetap menyukainya. Jimin tau dia bodoh. Memutuskan Jungkook untuk Yoongi. Jimin merasa itu hal yang benar, tetapi kini ia kembali pada titik awal lagi dan membuatnya sedikit lelah. Mencintai seseorang yang lebih mencintai pekerjaannya dibandingkan dirinya. Siapapun akan merasa kesepian dan tidak dibutuhkan lagi. Jimin menegakan tubuhnya dari sandarannya pada dinding lalu pergi dari ruangan itu.
Jimin hanya ingin dirinya merasa dicintai. Ia dulu menerima Jungkook karena ia membutuhkan cinta yang bisa menggantikan cinta yang dingin Min Yoongi, tapi nyatanya ia merasa Jungkook hanya mencintai tubuhnya saja. Jimin duduk memikirkan bagaimana cara ia bisa merasakan istimewa. Bahkan ketika sekarang ia terlihat seperti angsa, Min Yoongi mengabaikannya seperti dulu. Jimin berfikir lalu tersenyum kecut mendapati pemikiran dirinya sendiri tentang bulu angsa yang ia miliki sekarang.
'Benar! Ini hanyalah bulu angsa, tetapi aku tetap saja itik. Semuanya tak akan berubah meskipun aku berubah jadi angsa karena itik tetaplah itik.'
Setelah konser, Jimin tak pernah lagi bertemu Yoongi. Yoongi libur untuk refisi setelah sidang dan mempersiapkan wisuda sedangkan Jimin ia sibuk ujian semester. Semenjak kejadian di belakang panggung itu Jimin merasa ia menyesal memutuskan Jungkook. Ia merindukan Jungkook yang selalu memperhatikannya tetapi entah memang Jimin bodoh atau apa. Setiap kali ia berfikir untuk memilih, hatinya terus memilih Yoongi.
...
Pulang kuliah, hari ini Jimin memutuskan untuk mampir ke Cake Shop untuk membeli red velvet karena ia ingin makan manis sekarang. Tapi memang Jimin yang sedang sial. Ia bertemu dengan Jungkook disana.
'Jika kita bertemu lagi. Berpura-puralah bahwa kita tak saling kenal. Menjauhlah dariku saat kau melihatku. Dengan begitu aku akan lebih mudah melupakanmu'
Jungkook sedang duduk mesra menatap seorang gadis yang bisa dikatakan lebih cantik dari Jimin. Jimin hanya diam, dan memutuskan untuk membungkus makanannya saja. Jimin cepat keluar begitu cakenya selesai di bunggkus. Tapi saat itu ia bertemu mata Jungkook yang memandangnya dingin. Jimin masih bisa mnedengar bisik-bisik tentang Jimin dan Jungkook. Mereka kini pasti berfikir Jimin sedang dicampakan Jungkook. Meski faktanya ialah yang mencampakan pria itu, tapi keadaan tak terlihat seperti itu. Jimin merasa dirinya sangat kasihan. Jungkook disana menemukan kekasih baru yang berkali lipat lebih cantik. sedangkan dirinya, lelaki yang menyebabkan hancurnya hubungan Jimin dengan Jungkook tak sekalipun terlihat melakukan pendekatan.
Jimin hanya bisa melihat nama Yoongi di setiap Like pada setiap status update sosial Jimin. Kenyataan itu membuatnya sedih, tetapi satu sisi ia pantas mendapatkannya karena apa yang telah ia lakukan pada Jungkook. Sampai di rumah, Jimin melihat Taehyung terlihat cantik dengan dress hitam merahnya.
"Kalian akan kencan?"
Taehyung tersenyum dan mengedip pada Jimin penuh makna. "Ini 100 kami."
Jimin tersenyum dan meletakan red velvetnya ke meja dapur.
"Aku mungkin tak akan pulang malam ini jadi,,, tak usah menungguku."
"Siapa pula yang akan menunggumu."
Taehyung terlihat merapikan make-upnya lalu mengontrol nafasnya. Tae jelas terlihat gugup.
"Oh god! Aku gugup sekali."
"Kau bertingkah seperti perawan saja."
"Yack!"
"Bukankah kau sudah pernah melakukannya dulu jadi kenapa sekarang harus gugup lagi?."
"Ini pertama bagi aku dan Hoseok oppa. Jadi wajar kalau gugup. Kau itu payah Park Jimin. Dasar perawan."
"Apa kau bilang?"
"Godalah Yoongi sunbae. Kau sudah 20 tahun dan sudah sah secara hukum untuk melakukannya."
Jimin terlihat murung 'Bagaimana aku menggodanya kalau bertemu saja tak pernah. Dia tak peduli padaku.'
"Yoongi oppa belum melakukan pendekatan lagi padamu? Bagaimana dia menjadi seorang Ass hole setelah merusak hubunganmu dengan Jungkook?!"
"Oppa pasti sibuk refisi sekarang. Kau tau dia akan melupakan apapun ketika sedang fokus terhadap sesuatu."
"Dan sesuatu itu bukan fokus terhadap cintanya."
Jimin membuka kotak kuenya, memotongnya dan memakan potongan kecil kue itu.
"Benar! Makanlah kue. Sesuatu yang manis bisa membantu stessmu."
"Kim Taehyung mengapa rasanya sejak tadi kau itu menyiggungku?"
"Kau hanya sedang sensitif Park Jimin."
...
Hoseok heran melihat Taehyung yang tak fokus dan terkesan ingin mengatakan sesuatu padanya. Hoseok membawa Taehyung naik bianglala dan ketika merasa momennya tepat hoseok memulai pembicaraan lebih serius.
"Kau terlihat tidak fokus, Apa ada sesuatu yang kau fikirkan?"
Taehyung tersenyum kecut. "Sebenarnya,,,"
"Katakanlah sayang."
"Ini tentang Jimin dan Yoongi sunbae."
"Kenapa dengan mereka?!"
"Aku hanya merasa tak enak dengan kebahagiaan kita sementara sahabatku sedang dalam suasana hati yang sedih,,, Oppa!"
"Ne?!"
"Oppa sahabat Yoongi sunbaekan?!"
"Ya" meski bilang iya, Hoseok merasa ragu sendiri. Ia tak pernah berfikir tentang posisi dirinya di mata Yoongi. Hoseok tak tau dirinya itu sahabat atau hanya homemate di mata Yoongi.
"Kenapa Yoongi sunbae belum juga menyatakan cinta pada Jimin?!,,, Maaf! Tapi aku merasa Yoongi sunbae jahat. setelah membuat hubungan Jimin dan Jungkook berpisah, sekarang ia terkesan tak peduli pada Jimin. Apakah,,, Yoongi sunbae hanya,,, ingin,,, menghancurkan hati Jimin?"
"Itu tak mungkin! Bagaimana kau bisa berfikir begitu? Yoongi mencintai Jimin aku sangat tau itu. Hanya saja,,, dia sekarang sedang sibuk merefisi dan mengurus wisudanya. Kau taukan ketika dia sedang fokus terhadap sesuatu dia akan mengacuhkan segalanya."
"Tapi bukan berarti dia bisa melupakan Jimin begitu saja. Kasian Jimin."
Hoseok bersandar dan berfikir. "Aku yakin Yoongi akan mulai mendekati Jimin lagi ketika ia selesai menjilid Laporannya.,,, Aku juga merasa kasihan pada Jimin, terlebih sekarang Jungkook sudah punya pacar yang lebih cantik."
"Apa? Jungkook sudah punya pengganti Jimin? Hey tak ada yang lebih baik dari Jimin bagaimana ia semudah itu mendapat pengganti?"
"Dia korban disini sayang. Biarkan saja. Lagipula kenapa tak ada yang lebih baik dari Jimin? bagiku ada yang lebih baik dari wanita manapun di dunia ini."
Taehyung tersipu, ia yakin Hoseok akan mengatakan bahwa itu dirinya. Meskipun gombalan itu bisa Tae tebak tapi tetap saja jika yang mengatakan adalah pria yang kau sukai, kau akan merasa malu.
"Bagiku Eomaku adalah yang terbaik dari apapun."
Taehyung menatap Hoseok yang sedang tersenyum menatap langit. Taehyung fikir Hoseok sedang membicarakan dirinya. Taehyung tau ibu adalah segalanya, tetapi moment disini membuatnya menjadi tak tepat. Taehyung menghela nafas dan menatap kota ansan dari luar jendela bianglala.
Cup
Taehyung tersentak saat pipinya di kecup tiba-tiba. Tae melihat mata Hoseok yang berada beberapa senti dari matanya. ia bisa melihat bayangan wajahnya dimata kekasihnya itu.
"Dan,,, wanita terbaik ke dua selain ibuku adalah kau."
Taehyung tersenyum dan meraih pipi Hoseok lalu mencium pria itu dengan lumatan yang penuh cinta dari Taehyung. Seorang pria yang dapat membuat hati dan jantung Taehyung seperti ini hanyalah Hoseok. Taehyung melepas ciumannya.
"Aku mencintaimu oppa!"
"Aku mencintai ibuku!"
Taehyung mendorong Hoseok menjauh lalu cemberut. "Itu tidak lucu!"
Bagaimana bisa Hoseok bercanda di saat moment romantis mereka membuat Taehyung marah tapi juga merasa sesuatu menggelitik perutnya. Hoseok adalah pria yang yang humoris dan Taehyung yakin hanya Hoseok satu-satunya pria yang tepat untuknya.
"Hey! Aku bercanda!,,," Hosek menarik pinggang Tae mendekat padanya. ",,,Yah! Walaupun sebenarnya tak bercanda juga. Aku mencintai ibuku dan mencintaimu Taetae."
"Ya! Dan kau mencintai nenekmu, adikmu lalu member clubmu, dan lain-lain."
"Benar!"
"Ish! Menyebalkan!"
"kenapa kau marah!? kenapa kau cemburu pada ibuku? aku mencintai ibuku karena dia yang melahirkanku, tanpa harmoni ibuku tak akan lahir, dan adikku,, karena dia adikku!"
"Lalu aku?! Kenapa oppa mencintaiku?"
"Karena kau Kim Taehyung."
"Lalu bagaimana kalau aku bukan Kim Taehung?"
"Aku tak mungkin membawamu kesini dan menciumu seperti tadi jika kau bukan Kim Taehyung."
"Oppa terkadang kau ini menyebalkan!"
"Dan pria menyebalkan ini adalah pria yang bisa membuat Kim Taehyung menciumnya."
"Benar!"
"Kalau begitu cium aku lagi!"
"Byuntae! Aku sudah memberimu tadi."
"Itu hanya poppo bukan Kissing."
"Apa bedanya?"
"Rapmon bilang bedanya hanya saat kau memainkan lidahmu atau tidak."
Taehyung langsung mendorong Hoseok menjauh dari tubuhnya. "Oppa kau benar-benar"
Hoseok tertawa kencang melihat Tae yang menatapnya dengan matanya yang nyalang.
...
Satu like lagi dari Yoongi setelah Jimin memposting red velvetnya. Jimin mendengus menatap ponselnya.
"Taehyung dan Hoseok pasti sedang bahagia sekarang. Jungkook Juga. Tapi aku?" Jimin meletakan ponselnya kemeja dengan kesal.
"Min Yoongi kau pengecut, kau bodoh, dan kau menyebalkan."
Karena kesal ia mencabik-cabik kue dipiringnya hingga tak lagi terlihat seperti kue.
.
-I Like It-
.
Suara detik jarum jam itu mengisi ruang dosen yang sepi. Profesor Do sedang membaca hasil refisi laporan Min Yoongi. ini sudah seminggu setelah sidang kelulusannya.
"Ok! Bagus! Kau sudah boleh hard covering."
"Yes! Terimakasih Prof."
"Kau terlalu rajin Min Yoongi. Persis seperti ayahmu."
Hanya seminggu bagi Yoongi selesai merefisi semuanya. Ia bergadang hampir setiap hari hanya untuk terus merefisi laporannya. Ia bukan ingin menjadi mahasiswa yang pamer bahwa dirinya bisa menyelesaikan refisi hanya dalam satu minggu tetapi, ia hanya ingin semuanya cepat selesai sehingga ia memiliki waktu luang yang bebas untuk mendekati Park Jimin. Begitu Yoongi keluar dari ruang dosen, Yoongi pergi ke percetakan untuk mencetak laporannya.
"Kau bisa ambil Jilidmu besok."
Ucap petugas percetkan. Sedah seminggu ia bekerja habis-habisan dan sekarang ia merasa lemas karena ia sangat membutuhkan tidur. Melihat jarum jam yang baru menunjukan pukul 11.32 Yoongi bimbang untuk makan siang ia lapar tapi ia juga mengantuk. Pada akhirnya ia memilih kamarnya seperti biasa, mengabaikan lunch box yang baru saja ia beli di meja.
...
Hoseok berdandan sangat rapi, ciri khas seorang pria yang akan mengajak pacarnya berkencan. Hari ini adalah hari jadinya dan Taehyung yang ke seratus dan mereka akan merayakannya di hotel. Hoseok terus bernyanyi hingga matanya menemukan lunch box di meja makan. Hoseok yakin itu milik Yoongi. Hoseok mengintip ke kamar Yoongi dan melihat homematenya sedang tertidur terlenteng seperti kelelahan. Jelas saja, Hoseok tau Yoongi bergadang siang malam untuk laporannya jadi Hoseok memutuskan untuk tak berpamitan dengannya. Ia hanya akan menulis memo bahwa ia akan pergi dengan Taehyung sekaligus pamer bahwa ia memiliki hubungan manis dengan gadisnya. Hoseok memasukan makanan Yoongi ke dalam lemari pendingin barulah ia pergi.
...
Mata Yoongi terbuka dan mendapati kegelapan mengelilingi dirinya. Ia mengingat kalau ia tidur siang tadi. Yoongi mencari-cari ponselnya di meja untuk memberinya penerangan agar bisa menemukan saklar lampu. Yoongi melihat lagi ponselnya, di layarnya tertera angka 23:21. Ia sudah tertidur selama 11 jam lebih dan itu bukanlah rekor terlama tidurnya. Ia pernah tidur lebih dari 20 jam dulu, setelah bergadang hampir setiap hari dalam sebulan selama konser solonya.
Merasa lapar Yoongi pergi ke dapur. Tapi ia kehilang sebuah kotak makan siang yang siang tadi ia letakan di meja. Ia hanya melihat sebuah note bahwa Hoseok akan pergi kencan. Yoongi sangat tak peduli dengan urusan Hoseok dan saat ia membaca catatan bahwa lunch booxnya di lemari pendingin Yoongi pergi kesana untuk mengambilnya. Setelah ia membuka makanan dengan ponsel di tangannya Yoongi makan sambil membuka akun sosialnya. Ia hanya penasaran dengan kabar Jimin. Ia ingin menelfon gadis itu tapi ini sudah tengah malam. Tapi melihat room chat Jimin aktif, Yoongi mencoba mengiriminya pesan.
"Bagaimana kau akhir-akhir ini?"
Yoongi melihat pesannya di baca tetapi ia menunggu cukup lama pesannya untuk dibalas. Yoongi membuka beranda Jimin untuk melihat apakah ada update sosial Jimin sebelumnya, dan sebuah foto Jimin yang di tag temannya saat di konser tugas akhirnya dulu. Jimin tertawa bersama teman-temannya di foto itu, terlihat bahagia meskipun gadis itu baru saja berstatus single.
Setelah Jimin putus dengan Jungkook, sejak saat itu perbedaan waktu telah meningkat. Dirinya dan Jimin memiliki peluang hubungan yang lebih besar. Ia bisa saja kembali dengan Jimin tetapi gadis itu baru putus dengan Jungkook, dan ia memberi waktu pada gadis itu untuk melupakan Jungkook lebih dulu. Jika Yoongi mendekati Jimin lebih cepat ia khawatir Jimin tak bisa kembali padanya.
Yoongi menghela nafas. Bahkan jika Yoongi mencoba mengulangi apa yang aku lakukan. Fakta dia mantan Jimin tidak akan berubah. Meskipun begitu, Yoongi masih saja menekan tombol 'Like'. Melihat foto Jimin di monitornya membuat ia kembali merindukan gadis itu. Yoongi berfikir lagi, tapi ia tak sabar. Ia ingin bersama Jimin.
'Apa kau punya waktu untuk bertemu? Di tempat itu, saya akan menunggu. Aku ingin kau datang Chim.'
'Jam?'
Yoongi langsung menepuk kedua tangannya. Jimin membalasnya dan ia sangat bersyukur.
'08.00'
'Aku ada jam kuliah! Bagaimana Jika 8 pm?'
'Aku menunggumu.'
'Baik.'
Yoongi mematikan ponselnya dan melahap habis makanannya. Makanannya menjadi lebih enak meskipun itu kotak makan siang tadi. Jika saja kotak makan siangnya bisa dimakan ia akan melahapnya sampai habis.
"Aku menginginkanmu sampai rasanya seperti mati Park Jimin."
Yoongi berbaring di kasurnya setelah menggosok gigi.
"Park Jimin kembalilah padaku."
.
.
.
One last chapt.
.
.
Maaf lama up-date. aku butuh kerja setelah lulus. Jadi ceritanya lagi sibuk kesana kemari nyari lowongan yang pas. Berharap bisa kerja di salah satu instansi industri seni yang bisa aku jadiin tempat kerja sekaligus riset. Wish me luck guys.
Oh. Jangan lupe review. Aku selalu merasa ada yang kurang.
