.
.
.
-I Like It-
.
.
At That Place
.
Again With You
.
.
.
Pagi yang dingin membuat malas siapapun untuk bangun pagi. Diluar sana langit berwarna putih dengan gerimis menghujani kota Ansan. Kim Taehyung tetap memejamkan mata meskipun ia sudah bangun, ia memeluk tubuh hangat seorang pria disampingnya. Satu tarikan nafas, ia membuka mata. Ia bisa melihat cuaca mendung dari dinding kaca hotel. Taehyung tersenyum, mengingat kembali apa yang mereka lakukan semalam lalu matanya melihat Hoseok yang masih terpejam. Bulu mata panjang milik lelaki itu menggodanya untuk memainkan jarinya disana, membuat tidur pemiliknya terganggu.
"Irreona!"
"Hm!"
Hoseok hanya menggumam lucu yang membuat Taehyung terkikik. Taehyung mencium pipi pria itu lalu mengusap rambut Hoseok.
"Oppa tak ada kuliah pagi?"
"Ada, Jam 9." Hoseok memeluk pinggang Taehyung yang ada di atas tubuhnya tanpa membuka matanya. "Jam berapa sekarang?"
"07:15. Ayo mandi. Aku juga ada kuliah Jam 9."
Hoseok membuka mata dan melihat keseksian wanita di atasnya. Tangannya ia naikan dari pinggang ke atas menuju rambut Taehyung untuk merapikan rambut gadisnya yang berantakan. Lelaki selalu ereksi di pagi hari dan ketika melihat wanitanya telanjang seperti ini tentu hasratnya bangkit.
"Ayo mandi bersama!"
"Oppa ingin lagi. Iyakan?!"
"Semalam kau sangat liar dan aku menyukainya."
"Kaulah yang memancing sisi liarku. Oppa menggodaku terlau intens."
Hoseok duduk sambil mendorong tubuh Taehyung hingga kini mereka sama-sama duduk dengan Taehyung di atas pahanya. Taehyung sedikit mendesah saat junior Hoseok tak sengaja menyentuh titik sensitifnya.
"Kau pernah melakukannya di kamar mandi?"
Taehyung menggeleng.
"Aku juga!" Hoseok kali ini mengangkat tubuh Taehyung, menggendongnya masuk ke dalam kamar mandi untuk melanjutkan kegiatan semalam mereka didalam sana.
...
Jimin termenung dalam keheningan kamar yang didominasi suara detik jarum jam. Kamarnya redup dengan hanya pancaran sinar dari lampu tidurnya. Cahanya mengintip dari celah gorden jendela kamar Jimin, Tak membuat kamarnya menjadi terang. Ia sedang mengingat ajakan makan Min Yoongi semalam dan sekarang ia gelisah. Ia penasaran mengapa Yoongi ingin berrtemu. Dalam hati, Jimin ingin pria itu menyatakan cinta tapi otaknya menampik hatinya agar tak terlalu berharap pada Min Yoongi. Karena Jimin sangat mengerti bahwa berharap pada pria itu akan berakhir dengan rasa kecewa. Jimin menyalakan lampu kamarnya lalu pergi ke kamar mandi lalu membasuh wajahnya dengan air pada westafel. Jimin mengelap wajahnya lalu menatap wajahnya di depan cermin. Ingatan Jeon Jungkook dengan kekasih barunya muncul. Wanita itu berambut lurus dengan poni, wajah manis dengan pipi yang chubby, dan ketika tersenyum, gadis itu terlihat seperti boneka. Jika Jungkook sudah menemukan gadis yang lebih baik darinya, sesungguhnya Jimin bersyukur. Dengan begitu ia merasa tenang karena ia tak harus selalu merasa bersalah karena telah mencampakan pria itu, dan yang harus ia fikirkan sekarang adalah Min Yoongi.
"Apakah harus selalu seperti ini?" Menanti Min Yoongi dengan harapan yang tak pasti. Jimin mencintai pria itu dan berharap banyak pada pria itu untuk memintanya kembali.
...
Jimin bahkan tak bisa fokus mendengar apa yang dosen katakan di podium. Berbeda dengan Kim Taehyung yang secerah mentari, Park Jimin terlihat seperti mendung di luar gedung.
"Apa benar Jimin di campakan Jungkook karena Lisa?''
"Wah, padahal Jimin itu wanita baik. Bagaimana bisa dia mencampakannya begitu saja."
'Bukan dia yang mencampakanku tapi akulah yang mencampakannya'. Jimin menghela nafas mendengar bisik-bisik yang masih bisa ia dengar dengan jelas. Lisa, Jimin baru tau nama kekasih baru Jungkook. Saat jam pelajaran selesai, Jimin keluar untuk makan siang. Ia mengikuti Taehyung dari belakang, mengikutinya menuju caffetaria. Ia ingin menanyakan bagaimana kencan mereka tapi entah kenapa Jimin tak bisa. Ia yakin Taehyung bahagia, tak seperti dirinya yang kini terombang ambing dengan perasaan berharap pada Yoongi.
"Hey!" Taehyung mengenggol bahu Jimin pelan. "Kau ini kenapa murung sekali? Apa karena Sunbae?"
"Bagaimana kencanmu kemarin?"
"Tentu saja menyenangkan. Tapi kau tak boleh menghindari pembicaraan. Katakan padaku"
"Yoongi oppa menelfonku kemarin. Dia mengajakku pergi ke Ansan Tower, tempat yang dulu sering kita kunjungi."
"Benarkah? Aku yakin dia akan segera menyatakan cinta lagi."
"Aku tak ingin berharap Tae-ah! Kau tau sendiri dia itu,,, Tidak bisa diharapkan"
"Ya! Tapi kau masih tetap berharap. Hanya kau yang bisa sesabar ini. Jika aku jadi kau aku akan mencari pria lain."
"Apa?! Mencari pria lain? Kim Taehyung kau." Hoseok tiba-tiba muncul di belakang Taehyung.
"Anio oppa! Maksudku jika aku jadi Jimin aku akan mencari pria lain dibanding Yoongi sunbae itu kalimat lengkapnya. Jangan salah faham. Aku tak mungkin bisa mencari pria lain yang lebih baik darimu."
Jimin rasanya ingin muntah mendengar rayuan Taehyung yang kini memeluk Hoseok.
"Jimin-ah! Tenanglah! Yoongi hyung sangat mencintaimu."
"Darimana oppa bisa seyakin itu?" sindir Taehyung.
"Apa kalian tau debut Min Yoongi?"
Jimin dan Taehyung menggeleng lalu Hoseok mengeluarkan ponselnya dan memasang hansfree. Yang satu ia pasang pada telinga Taehyung dan yang satunya ia berikan pada Jimin.
"Ini album kedua Yoongi saat konsernya di salah satu stasiun Tv. Ini album kedua setelah debutnya. Kalian tau nama albumnya apa?"
"Apa?" Tanya Jimin dan Taehyung bersamaan.
"JMP"
"JMP?" Tanya Taehyung merasa bingung dengan album yang hanya berjudul tiga huruf saja.
"Itu insial nama Jimin."
"Woaaahhh! Daebak!"
Taehyung terperangah, sungguh itu sangat romantis. Wanita mana yang tak akan kagum jika seseorang membuatkan album untuk wanitanya. Taehyung melirik Jimin yang terlihat fokus mendengarkan liriknya. Memang lirik dan melodinya menyedihkan. Isinya tentang permintaan maaf dan penyesalan Yoongi pada Jimin.
"Ini suara Jin sunbae bukan?" Tanya Jimin pada Hoseok.
"Ne! Aku dan Jin yang menyanyikannya. Album ini dibuat atas penyesalannya putus denganmu. Kau tau Yoongi belum juga punya pacar padahal dia diperebutkan banyak sekali wanita. Kau harusnya tau itu karena siapa,,,, Dia masih mencintaimu dan kau tau betapa anehnya dia ketika melihatmu lagi? Dia berubah jadi orang gila."
"Aku sedih mendengar lagu ini." Ucap Taehyung sambil melepas earphonenya.
"Jimin-ah! Jangan pernah meragukan cinta Yoongi padamu. Selain karir kau adalah yang paling penting untuknya."
Jimin tersenyum, merasa sedikit percaya diri dengan penjelasan Hoseok tentang Yoongi. Tentu Jimin percaya karena ia tau Hoseok dan Yoongi berteman baik. "Terimakasih oppa sudah bercerita padaku."
"Aku hanya tak ingin kau murung terus. Orang-orang berfikir kau baru dicampakan Jungkook gara-gara pacar barunya."
"Aku belum tau siapa pacar baru Jungkook." Sela Taehyung dengan wajah yang marah seolah dibuat-buat.
"Namanya Lisa, dia jurusan tari, aku rasa satu angkatan dengan kalian."
Jimin kembali teringat wajah gadis manis seperti boneka itu, dilihat dari sisi manapun wanita bernama Lisa itu jauh lebih cantik dan mempesona dibandingkan Jimin.
...
Setelah sibuk seharian mengisi formulir pendaftaran wisuda, Yoongi sampai di rumah dan langsung tidur sore. Ia tak ingin mengantuk nanti malam. ia terbangun ketika alarm berbunyi pada pukul enam, bak robot yang di aktifkan, Yoongi langsung masuk ke kamar mandi. Hoseok yang sedang makan di dapur mendengar gemercik air dari arah kamar Yoongi.
"Dia mulai aneh lagi. Dia akan berkencan dengan Jimin. Itu wajar jika dia harus rapi, tetapi dia tak harus mandi pada jam ini juga."
Hoseok makan kacang sambil menunggu Min Yoongi keluar kamarnya. Ia penasaran bagaimana penampilan pria itu nanti, dan ketika ia melihat Yoongi, Hoseok tersenyum. Yoongi mengenakan Suit bermotif paisley berwarna hitam, itu mewah dan sangat pas dengannya.
"Waaah! Jika aku wanita aku akan langsung jatuh cinta padamu hyung."
"Jika kau wanita, kau tak mungkin jadi hommatteku!"
"Berkencan dengan Park Jimin? Kau tak akan pulang juga malam ini?"
"Apa kau gila? Aku hanya akan menyatakan cinta."
"Benarkah! Itu bagus! Kau tau Jimin sejak kemarin murung karena kau belum juga menyatakan cinta padanya. Dia bahkan sempat putus asa dan berniat mencari pria lain lagi."
"Apa? Sial! Kalau begitu aku pergi."
Hoseok terkikik setelah mendengar pintu depan tertutup. "Dia memang harus di bodohi agar bisa tegas. Min Yoongi! Kau benar-benar bodoh dalam urusan cinta."
...
"Arhhh! Aku harus pilih yang mana?"
Jimin geram dengan tiga pakaian yang terus bolak-balik ia coba. Taehyung yang duduk di pinggir ranjang Jimin hanya mendengus. Ia lelah sejak tadi Jimin terus mengacak-ngacak lemarinya.
"Pakai saja yang peach!"
"Tapi yang biru juga bagus."
"Kau meminta saranku. Kau juga memintaku membantumu. Tapi kau terus saja menyangkalku, sebenarnya kau ini butuh bantuan atau tidak?"
Taehyung sudah kehilangan kesabarannya dan pergi dari kamar Jimin. Jimin memang sudah kelewatan karena terus menampik argumen Taehyung sejak tiga puluh menit yang lalu. Jimin ingin yang terbaik sampai ia harus mengeluarkan semua pakaian terbaiknya tetapi naas Taehyung harus terseret dalam kelabilan Jimin dalam berpakaian. Pada akhirnya, Jimin memakai gaun peach pilihan Taehyung. Vintage memang selalu menjadi gaya khas park Jimin.
"Haruskah aku memakai yang ini?!"
Jimin mulai lelah. Tapi fikirannya melayang pada artikel yang mengatakan bahwa pria menyukai wanita dengan pakaian dan warna feminin, dan Peach adalah warna yang feminin juga. Jimin memutuskan menggerai rambutnya dan sentuhan akhirnya adalah sepatu dengan warna yang sama. Jimin memurat badanya kiri kanan untuk memeriksa dirinya benar-benar sempurna. Jimin membuang nafas pelan dan memegang dadanya. Jimin gugup sekarang. Jimin keluar kamarnya.
"Apa kataku! Itu yang paling bagus! Kau terlihat innocent dengan baju itu!"
"Terimakasih Kim Taehyung-ah! Kau yang terbaik. Wish me luck!"
"Good luck!"
...
Ada cermin di dekat pintu masuk restoran. Jimin bercermin untuk memeriksa penampilannya kembali. Jimin dan Yoongi dulu memang sering pergi kencan ke Ansan Tower, tapi hanya di tamannya saja. Ini adalah pertama kalinya Jimin dan Yoongi akan makan di menara Towernya. Jimin gugup sekarang, Tapi ia harus berani. Jimin masuk dan disambut seorang waitrees yang menanyakan apakah Jimin membutuhkan bantuan mereka. Jimin mengatakan reservasi atas nama Min Yoongi, dan waitress dengan ramah memberi Jimin jalan menuju meja Yoongi. begitu tiba, Jimin melepas coatnya dan saat itu ia bisa melihat bagaimana tatapan Yoongi terpaku pada dressnya.
"Kau sangat cantik dengan pakaianmu!"
"Oppa juga kelihatan tampan."
"Kita sempurna!"
Yoongi memamerkan warna motif kaos Yoongi di dalam bazzernya. Itu warna yang sama dengan dress Jimin. Jimin tersipu dan untuk kesekian kalinya, Jantung Yoongi kembali berdetak kencang. Ia merasakan hidup, sama seperti ketika ia bermain musik. Dua hal itulah yang bisa membuat Yoongi merasa bahagia. Waitress memberikan buku menu pada Yoongi dan Jimin. lalu bersiap dengan note dan ballpoint di tangannya.
"Bukankah kau suka seafood?"
"Ne! Aku ingin sea bass. Baked, dengan chitrus spash atau lemon dan sejenisnya."
"Anda Tuan?"
"Beff steak. meddium."
"Kami memiliki dry wine tahun 1999 terbaik dari Inggris yang akan sangat cocok diminum dengan seafood buatan koki terbaik kami. Apakah anda menginginkannya?"
"Apa kau bisa minum alkohol sekarang?." tanya Yoongi pada Jimin, Ia hanya teringat ketika Jimin mengatakan ia tak meminum alkohol sebelum konser, dan Yoongi tak tau jadwal Jimin ke depan. Maka dari itu ia bertanya untuk memastikan apakah Jimin sudah bisa meminum alkohol atau belum.
"Aku mungkin hanya bisa meminumnya segelas."
Demi apapun Jimin tak bisa mabuk jika harus meminum lebih dari dua gelas wine. Jimin bukanlah tipe yang tahan dengan alkohol. Ia bahkan bisa mabuk hanya dengan meneguk segelas besar beer.
"Baiklah! Beri wine yang standar menu saja."
"Baik Tuan. Sea bass dengan cithrus splah dan dry wine, lalu beffsteak meddium dengan red wine. Apakah ada yang lain?."
Yoongi menatap Jimin untuk meminta konfirmasi, dan Jimin menggeleng.
"Tidak! Itu saja!" Ucap Yoongi pada sang waitress.
"Baik! Mohon tunggu sebentar." Pramusaji mengambil buku menu di meja Yoongi dan Jimin lalu pergi.
"Oppa sering makan disini?"
"Hanya beberapa kali dengan orang tuaku. Ibuku suka seafood juga."
"Benarkah?"
"Dia sangat menyukai binatang mollusca. Setiap ke restoran seafood dia akan memesan jenis kerang-kerangan."
"lalu oppa?"
"Aku seperti ayahku! Pecinta daging berkaki empat."
Jimin tersenyum, memang Yoongi sangat suka daging. Tapi ia tak mengerti mengapa Yoongi selalu terlihat kurus meskipun memakan daging diluar porsi orang makan. Seperti terakhir kali mereka makan di kedai pinggir jalan. Yoongi memakan tiga porsi daging sampai habis. Begitu pesanan datang, Jimin dan Yoongi langsung melahap makanannya.
"Bagaimana kabar orang tuamu?" Yoongi mencoba memulai percakapan lagi.
"Mereka baik."
"Apakah kedai Tteokbokkinya ok? Aku ingin makan disana lagi."
"Orang tuaku menjual kedainya."
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Appaku ditipu dan beruntung kami memiliki tabungan untuk memulai bisnis baru. Itu tepat setelah kita putus."
Pisau Yoongi tiba-tiba berhenti bergerak untuk memotong daging, ia membeku, menatap dagingnya dengan dipenuhi rasa bersalah.
"Aku minta maaf!"
"Itu bukan salah oppa. Lagipula aku tak mungkin memaksakan oppa yang mungkin dulu sudah bosan padaku."
"Aku hanya butuh konsentrasi bermusik Jimin. Hanya itu." Yoongi tak pernah menganggap Park Jimin adalah hal yang membosankan.
"Benar! Dan aku selalu menjadi beban bagimu."
"Aku tak menganggapmu beban hanya saja,,, Aku dulu butuh waktu."
"Maaf!"
Jimin meminta maaf untuk mengakhiri percakapan, ia tak ingin makan malam mereka dihabiskan untuk membahas masa lalu mereka. Jimin tak ingin suasana rusak karena ikan yang kini di mulutnya menjadi tak seenak tadi. Yoongi menghela nafas.
"Harusnya aku yang meminta maaf karena tak berusaha mengejarmu. Aku menyakitimu, itulah yang selalu aku lakukan,,, Aku minta maaf."
"Aku baru mendengar album kedua oppa."
"Kau tau dari mana? Itu hanya demo yang dipasarkan pada management musik."
"Hoseok sunbae yang memberitahuku."
"Dia memang besar mulut."
"Tapi jika sunbae tak mengatakannya aku tak akan tau perasaan oppa padaku."
Yoongi menahan senyum. "Perasaanku padamu. Lalu bagaimana perasaanmu padaku?"
"Oppa sendiri tau."
'Ini saatnya' Lampu hijau sudah menyala. "Lalu,,, Apakah kita bisa kembali seperti dulu?"
Jimin terdiam, dalam hati ia ingin berkata iya, tapi entah mengapa ia masih belum bisa. Ia shock dengan pernyataan Yoongi.
"Tidak bisakah,,, kau menerimaku kembali?"
"Aku ingin oppa berjanji."
"Apa?"
"Berjanji bahwa aku lebih penting daripada bermusik."
"Itu,,, "
"Lihat oppa bahkan berfikir dulu. Apa mencintaiku lebih sulit daripada piano oppa?"
"Bukan itu, Hanya saja, aku tak ingin membuat janji yang mungkin tak bisa aku tepati. Tapi Jika itu yang kau mau aku akan berusaha lebih mengutamakanmu daripada musik. Aku hanya bisa berjanji menjadi pasangan yang lebih baik untukmu."
"Sesibuk apapun Oppa nanti, Jangan pernah lupa untuk menghubungiku. Jika lebih dari enam hari oppa tak bicara apapun maka aku anggap oppa mengingkari janji oppa."
"Deal." Yoongi tersenyum. "Kita ini jadian atau melakukan kontrak?"
"Siapa bilang kita jadian?"
"Apa?"
"Aku ingin melihat dulu bagaimana perhatian oppa padaku selama seminggu baru aku akan memberi jawaban."
"Apa itu masuk akal? Chim aku ini menyatakan cinta padamu bukan melamar pekerjaan."
"Katakan ya atau tidak."
"Apakah aku punya pilihan berkata tidak?!"
"Kau punya. Aku baru saja mengatakannya tadi."
"Dan jika aku bilang tidak, itu berarti penolakan darimu. Benarkan?"
Jimin tersenyum dan meneguk winenya.
"Park Jimin kau sungguh berubah menjadi sepintar ini. Baiklah! Aku tak punya pilihan selain berkata 'ya' untuk mendapatkanmu."
...
Taehyung tertawa terbahak setelah mendengar cerita dari sahabatnya.
"Aku tak habis fikir darimana ide itu berasal, tapi itu luar biasa. Min Yoongi memang harus dikerjai sesekali. Park Jimin kau hebat."
"Aku hanya ingin melihat kesungguhannya dulu. Aku ingin melihat seberapa besar dia menginginkan aku kembali padanya."
"Tapi aku suka caramu. Oh,, Park Jimin kau pintar,,," Taehyung kembali tertawa ",,, Seandainya aku bisa melihat bagaimana wajah sunbae.
Kali ini Jimin yang tertawa. "Itu Saaangattt Lucu. Dia seperti habis menelan duri."
...
Sama halnya Taehyung tang terbahak mendengar cerita Jimin, Hoseok bahkan menahan tawa sampai perutnya terasa sakit. Hanya satu orang yang bisa berbuat seperti itu pada Min Yoongi, dia adalah Park Jimin. Hoseok tak pernah tau Jimin bisa menaklukan Yoongi hingga hommattenya itu bertekuk lutut.
"Kau pantas mendapatkannya Hyung."
"Kau puas?!"
"Kaulah yang selalu menyakitinya. Kau yang mendorongnya menjauh, kau yang selalu tak mempedulikannya dan kau juga yang menghancurkan hubungannya dengan Jungkook, dan sekarang kau harus bertanggung jawab. Kau memang harus belajar bagaima caranya memperhatikan wanita sama seperti musik."
Yoongi menghela nafas dan Hoseok kembali tertawa.
"Park Jimin menjadi pelatih beruang sekarang."
...
Seminggu ini Yoongi bukan hanya di sibukan dengan pendaftaran wisuda tetapi juga Park Jimin. Jika dulu dia istirahat setelah menyelesaikan semua tanggungannya sebagai mahasiswa, kali ini Yoongi mau menyempatkan diri makan di kantin bersama Jimin dan teman-temannya. Belum lagi Yoongi mengajak Jimin kencan seperti yang dilakukan pasangan pada umumnya. Dari bermain ke taman kota, menonton film romantis yang membuat Yoongi tidur, dan yang lebih melelahkan bagi Yoongi adalah Taman Bermain dan kebun binatang. Yoongi sudah dewasa dan betapa malunya ia ketika harus berkencan di kebun binatang. Jimin bahkan memaksa Yoongi mengenakan topi bergambar panda yang sangat kekanakan. Mereka juga berfoto bersama layaknya pasangan.
"O~. Kyeowo.,,, Aku akan upload yang ini."
Yoongi melihatnya, foto dia dengan topi pandanya. Itu imut, tapi itu menjijikan bagi Min Yoongi.
"Tidak boleh!"
"Ups! Sudah terunggah."
"MICHOSO?!"
Plung
Jimin yang terkejut dengan bentakan Yoongi sampai reflek melepaskan ponsel di tangannya. Ini pertama kalinya ia dibentak oleh Yoongi, memang Yoongi dingin dan sarkasme tapi Yoongi tak pernah membentak. Ini adalah yang pertama. Jimin bengong beberapa detik hingga ia menyadari handphone masuk ke dalam kolam.
"Oppa ponselku!"
Yoongi yang sama-sama baru sadar dengan bentakannya tadi, ia mencoba menyadarkan dirinya. Pertama Yoongi membentak Jimin dan kedua, ia telah membuat ponsel Jimin masuk ke kolam air mancur. Merasa bersalah Yoongi melepaskan sepatunya lalu masuk ke dalam kolam tanpa ragu. Yoongi berfikir kolam itu dangkal tapi ternyata air menutupi hingga lututnya, membuat celana jeansnya basah. Yoongi merasa kesal lagi dengan apa yang sekarang ia lakukan. Ia fikir kenapa ia harus repot masuk ke kolam padahal ia bisa menyuruh petugas. Karena sudah terlanjur, Yoongi melanjutkan pencariannya mencari ponsel Jimin dengan kakinya. Tak butuh waktu lama sampai kakinya menyentuh benda keras dan pipih. Yoongi memasukan tangannya mengambil benda tersebut yang ternyata memang ponsel Jimin.
Jimin langsung merebut ponselnya dari tangan Yoongi dan mengulurkan tangannya untuk membantu Yoongi keluar dari kolam. Yoongi memgang tangan Jimin dan keluar dari kolam lalu menggerutu kesal. "Sial! Kenapa ini harus terjadi."
"Maaf oppa!"
Melihat dirinya yang basah ia merasa risih dan ingin sekali mengganti celananya. Lalu selintas ide datang. 'Ini adalah kesempatanku pergi dari kebun binatang terkutuk ini.'
"Ayo kita pulang!"
Entah itu ajakan atau perintah, Jimin hanya bisa mematuhinya. Ia telah membuat Yoongi marah karena foto dan membuat pria bungkuk di depannya basah. Jimin sekarang hanya bisa mengikuti pria itu lalu mengecek ponselnya yang masih menyala. Tentu saja, ponselnya memang tahan air. Mereka berjalan keluar kebun menuju pintu keluar untuk mencari taxi.
"Kita tak perlu menunggu sampai hari seratus kita jika kita dulu pernah pacaran." Ucap seseorang laki-laki disamping Jimin pada kekasihnya.
"Tetap saja oppa! Itukan dulu dan inikan beda lagi."
"Beda apanya. Kita dulu sudah pacaran lebih dari setahun, dan kita sudah dekat, jadi perpisahan itu tak bisa di hitung. Lagipula umurmu sudah legal sekarang."
"Oppa aku belum,,,"
"Arra! Tak usah saja. Kita menunggu seratus hari. Padahal kita sudah balikan, harusnya kita selangkah lebih maju dari hubungan kita sebelumnya."
Pria itu menggerutu. Tak perlu lebih di jelaskan lagi apa yang telah pasangan itu bicarakan. Yoongi dan Jimin mengerti, dan apa yang mereka bicarakan kurang lebih sedikit menyinggung Jimin. Hubungan satu langkah lebih maju setelah hubungan sebelumnya, ia merasa ada benarnya. Jimin sudah legal untuk berhubungan dengan siapapun secara hukum, dan ia juga ingin orang pertama baginya adalah Yoongi. Karena itu akan sangat bagus untuknya. Tidak ada yang lebih baik dari cinta pertamamu.
"Kau masih beruntung masih bisa langsung diterima, sedangkan aku harus melakukan beberapa hal bodoh untuk mendapatkan hatinya terlebih dahulu."
Yoongi menyela pembicaraan pasangan itu, membuat mereka diam dalam perdebatan kencan mereka. Jimin menyenggol lengan Yoongi untuk diam. Itu masalah mereka yang Jimin rasa tak layak untuk disinggung di depan orang yang mereka tak kenal.
"Lihat bagaimana dia berkorban untuk kekasihnya oppa. Harusnya kau contoh dia. Kau harus merebut hatiku dulu baru memikirkan hal kotor. Argh! Nona kau beruntung sekali memiliki kekasih tak semesum pacarku ini."
"Apa kau bilang? Mesum? Hey. Aku hanya ingin hubungan kita lebih maju, kenapa kau samakan kita dengan mereka? Secara teknis hubungan kita memang sudah legal untuk melakukannya."
Plak. Wanita itu menampar mulut pacarnya pelan. "Jaga ucapanmu! Ini di depan umum." wanita itu menoleh pada Jimin dan Yoongi lalu tersenyum. "Maafkan pacarku! Dia memang suka bicara seenaknya."
Pasangan itu pergi, Jimin masih bisa melihat mereka berdebat sampai sang pria mengangkat tangannya dengan senyuman lebar. Jimin yakin si pria bahagia karena si wanita mengiyakan ajakan pacarnya. Jimin menoleh pada Yoongi, ia berfikir apakah Yoongi berfikiran hal yang sama dengan pria itu.
"Apa?"
Tanya Yoongi dingin melihat Jimin yang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ia artikan. Melihat taxi datang Yoongi memanggilnya. Ia membukakan pintu lalu mempersilahkan Jimin masuk duluan. Jarak dari kebun binatang menuju distrik dekat institut memang agak jauh sehingga mereka menghabisakan waktu di taxi cukup lama. Mereka hanya diam, tak ada yang mengawali pembicaraan. Sampai mobil mereka berhenti ditengah kemacetan. Disana ambulance, mobil pemadam dan mobil poslisi terlihat sibuk kesana-kemari.
"Sepertinya terjadi kecelakaan besar di depan sana."
Yoongi membuang muka menatap trotoar dimana orang-orang terlihat berhenti berjalan dan memperhatikan sesuatu di depan mobil-mobil depan taxinya. Yoongi menghela nafas, ia menahan kesal karena ia ingin sekali mengganti celananya saat itu juga. Saat mata Yoongi berkeliling ia melihat sepasang kekasih yang mereka temui tadi di kebun binatang. Mereka berdua terlihat bergandengan tangan memasuki sebuah motel. Membuat Yoongi kembali teringat kata-kata mereka mengenai hubungan satu langkah lebih maju. Yoongi menghela nafas, sungguh di dalam hati Yoongi ingin. Dia normal dan lelaki mana yang tak ingin melakukannya. Ia menampik pikirannya dan kembali menatap ke depan, tapi merasa ada yang memperhatikan, Yoongi menoleh dan matanya bertemu mata Jimin. Seketika suasana di sekitar mereka membeku. Kebekuan diatara Yoongi dan Jimin membuat sang supir merasakannya. Yoongi yakin Jimin melihatnya, adegan dimana pasangan tadi memasuki motel dan entah mengapa Yoongi melihat keinginan yang sama dimata Jimin. Jika Yoongi boleh percaya diri.
"Apa kalian sepasang kekasih?"
Mata Jimin dan Yoongi terputus. Kini mereka sama-sama menatap kedepan ke arah sang supir. Yoongi tak menjawab karena ia sangat tau dirinya sedang di gantung wanita cantik di sampingnya.
"Ya!"
Kali ini Yoongi menatap Jimin lagi. Jimin berkata 'Ya' dan bukankah itu pengakuan?.
"Ya?" Tanya Yoongi menatap Jimin lekat. Ia mengkonfirmasi apa yang Jimin katakan dengan maksud jawaban dari ungkapan perasaannya seminggu lalu.
"Ya!" Jimin tersenyum sambil mengangguk penuh arti.
Yoongi percaya diri sekarang. Ia tersenyum menatap keluar jendela. Menahan diri agar tak berteriak ataupun jungkir balik karena merasa terlalu senang. Ia baru saja mendapat jawaban. Lelaki mana yang tak akan senang.
"Apa kalian sedang ada masalah?" Tanya sang supir taxsi tak mengerti keadaan.
"Anio!" ucap Jimin singkat.
"Kalian sepertinya sudah lama berpacaran. Kalian tau, Hotel di lingkungan ini terkenal sebagai hotel paling baik untuk pasangan. Bahkan pasangan yang sedang dalam masalahpun bisa menjadi rujuk setelah keluar dari sana."
"Benarkah!"
"Omong kosong."
Jimin cemberut melihat Yoongi menggerutu lagi. "Kenapa? Kau fikir disana sejenis lembaga atau tempat psikologi yang menawarkan pasangan untuk menyelesaikan masalah mereka? Itu adalah hotel dan hotel adalah tempat untuk menginap."
"Oppa benar-benar. Maksudnya,,,, Argh terserah." Jimin tak mungkin bilang making love di depan Yoongi, itu sama saja mengajaknya kesana dan mempermalukan dirinya sendiri.
"Making love adalah cara terbaik dalam menyelesaikan masalah dalam setiap pasangan. Jika kalian memiliki waktu berdua yang intim, kalian akan lebih nyaman untuk terbuka satu sama lain, dan itu bisa mempererat hubungan kalian."
"Apa kau psikolog atau semacamnya?" Tanya Yoongi dingin. Membuat sang supir langsung diam.
"Oppa! Kenapa kau marah-marah?! Dia hanya menjelaskan dan dia benar."
"Apa kau mau masuk kesana denganku? Huh?" Jimin diam. "Kau fikir bagaimana otak pria berfikir jika membicarakan hal ini? Apa aku terlihat seperti penyabar?"
'Oppa hanya menciumku sekali!'Batin Jimin berharap lebih lalu otak Jimin menampiknya.
'Apa yang kau fikirkan bodoh? Oh tuhan! Ada apa denganku?'
"Tidak. Tapi oppa punya kontrol diri yang lebih."
"Lalu biarkan aku berfikir tenang. Ok?!"
Akhirnya suasana taxi menjadi kembali dingin setelah perdebatan mereka. Yoongi menghela nafas, lagi. Meskipun baru saja Jimin membalas cintany tapi sekarang ia malah geram dengan hal sensitif tadi yang menyinggungnya. Jika saja Yoongi tak memiliki kontrol, ia bisa saja menurunkan Jimin disini dan membawanya ke Hotel dihari pertama mereka kembali. Tapi Yoongi bukan orang brengsek, ia ingin melakukannya jika Jimin sudah benar-benar siap.
"Aku akan menunggu jika kau benar-benar siap."
Jimin mengerti apa yang Yoongi maksud. Yoongi memang pria baik, Jimin tau itu. Meskipun dingin, keras kepala, dan menyebalkan, tetapi Jimin tau Yoongi adalah pria yang sangat peduli pada wanita. Yoongi tak pernah memaksanya. Yoongi adalah pria yang sopan. Jimin kini hanya tersenyum memandang wajah tampan pria itu. Sesekali Yoongi menghela nafas, Jimin semakin mengerti. Ketika Yoongi diam, dan menghela nafas seperti itu, Jimin yakin Yoongi sedang mengoontrol dirinya sendiri. Jimin memegang tangan Yoongi dan bersandar di pundaknya.
"Beri aku waktu seminggu lagi agar aku benar-benar siap."
'ada apa dengan seminggu?' Fikir Yoongi. "Apa kau akan meminta waktu seminggu jika suatu saat nanti aku melamarmu?"
'Melamar?' Jimin tak berfikir sampai sana dan Yoongi sepertinya menganggap hubungan ini sangat serius. Jimin senang hanya saja berkata pernikahan di awal hubungan kembalinya mereka sangatlah mengejutkan.
"Oppa tak perlu melamarku. Hanya pakaikan saja aku cin-cin lalu kita tentukan tanggalnya." Cara Min Yoongi. Langsung pada tujuan. Jimin yakin Yoongi akan lebih menyukainya dibandingkan cara romantis dengan ribuan bunga seperti yang kebanyakan gadis sukai.
"Joa!"
Sepertinya jalan terbaik agar hubungan mereka tak dipenuhi dengan pertengkaran adalah Jimin harus selalu mengerti sifat Yoongi yang sekarang seratus kali lebih dingin. Jimin tak pernah mempermasalahkan itu. Selama ia bahagia bersama Min Yoongi, Jimin akan selalu mencintai dan mengasihi pria itu. Karena bagi Jimin, Nama Yoongi sudah tertulis saat High School dulu dan Jimin sudah tau bahwa nama Yoongi tak pernah bisa ia hapus meskipun Jimin menemukan pria yang lebih baik dari Yoongi. Cinta memang buta, dan Jimin sekarang merasakan kebutaannya terhadap sikap dingin Yoongi.
.
.
_The End_
.
.
.
Kecewa endingnya? Mereka hidup bahagiakan?!
Rasanya aneh banget bikin ending kayak gini. Dari awal I Like It emang mainstream jadi endingnya cuman ini yang bisa aku dapat.
