Pasangan Sejenis, Cinta, dan Moral
Halaman 2
...Mungkin ini adalah keputusan yang salah.
Naruto duduk di ruang makan apartemennya yang terletak tepat di depan kamar Sasuke, menghadap sarapan yang baru berkurang beberapa sendok. Tangan kanannya menyentuh pinggiran gelas jus, sementara tangan kiri menggenggam ponsel yang menampilkan akun instagram milik Sakura. Baru saja Naruto mengetahui bahwa Sakura sudah memiliki pacar, dan dari foto-foto di dalam akun gadis itu, sepertinya hubungan mereka sangat bahagia.
Sebenarnya, ia tidak benar-benar merasa patah hati. Tapi dengan ini, ia jelas harus berhenti mendekati Sakura. Naruto sendiri tidak merasakan gelora cinta yang mendebarkan jantungnya seperti terakhir kali yang ia rasakan pada mantan pacar terakhirnya. Yang menjadi alasan ia ingin mendekati Sakura karena Sakura adalah gadis yang cantik dan termasuk tipe idealnya. Mungkin dari pada mencoba membuka hati untuk seseorang yang baru dikenalnya, ia harus membuka hati untuk orang-orang terdekatnya.
Ah.
Uzumaki Naruto menghentak napas lalu meminum jus jeruknya sambil meletakkan ponsel ke meja. Siapa orang terdekatnya kira-kira? Pekerjaan sebagai Divisi Menejer yang menyita waktunya selama sepuluh jam setiap hari membuatnya tidak bisa berinteraksi dengan baik dengan orang lain di luar perusahaan. Bahkan satu-satunya orang terdekat yang ia punya saat ini hanya Uchiha Sasuke. Wajar saja, mereka teman sekamar dan rekan kerja, dari bangun hingga bangun lagi, ia lebih banyak berinteraksi dengan Sasuke. Andai saja...
"Hmm." Naruto mengerutkan keningnya seraya bersandar dagu di atas satu tangan yang menyangga ke meja.
Sasuke mempunyai kepribadian yang bagus minus sifatnya yang irit bicara. Dia orang yang pintar dan rapi. Dan perbedaan diantara ia dan Sasuke malah membuat interaksi mereka terasa saling melengkapi. Andai saja Sasuke itu wanita, mungkin Naruto akan memilihnya.
Naruto mendesah. Gelas jus itu diletakkan kembali ke tempat semula. Ia menggelengkan kepala, memutuskan berhenti memikirkan perihal jodoh saat ini dan lebih mementingkan mengisi perutnya. Ramen instan sebagai menu sarapannya itu sayangnya tidak lagi seenak tadi, mungkin karena sudah dingin, tapi ia tetap memakannya. Lalu ia mendengar suara kursi digeser, dari depannya. Naruto berhenti sejenak dan mendongak. Uchiha Sasuke baru saja datang dan duduk di kursi yang berseberangan meja dengannya. Naruto meneruskan sarapan, menghabiskan mie ramen di dalam mangkuk sebelum meminum jus jeruk sebagai penutup.
"Kau sudah sarapan, Teme?" Ia mendesah pelan setelah menyelesaikan satu pertanyaan itu, lega karena rasa pedas yang menyerang lidahnya sedikit reda.
"Hn," Jawab Sasuke sambil menggeleng samar.
"Kau mau makan ramen seperti punyaku? Rasanya lumayan enak. Aku masih punya satu di dalam lemari." Naruto menunjuk lemari dapur di depannya.
"Aku tidak suka ramen, Dobe." Sasuke kembali menggelengkan kepala.
Naruto hanya mengangkat bahu sekilas mendengar balasan itu. Ia kembali menengguk jusnya, kali ini sampai habis. Ketika gerakkannya berhenti dan menatap wajah teman sekamarnya, ia teringat pemikirannya beberapa menit lalu yang membuatnya langsung salah tingkah. Ia menggaruk kepala dan memalingkan mata. Naruto yakin, jika Sasuke tahu apa yang sempat ia pikirkan barusan, pemuda stoic itu akan memakinya.
"Oh iya, Teme, kau sudah memutuskan siapa wanita yang akan kau dekati?" Naruto kembali menatap pria muda itu setelah berdehem pelan. "Aku baru saja tahu kalau Sakura ternyata sudah punya pacar. Aku rasa aku harus mencari wanita lain. Apa kau tidak punya seseorang yang ingin kau kenalkan padaku?"
Balasan dari pertanyaannya hanya sebuah dengusan pelan. Namun Naruto sudah cukup mengerti artinya. Ia merengut untuk mengespresikan kekesalan. Pertanyaan bodoh memang, seharusnya ia sudah mengetahui bahwa Uchiha Sasuke yang pendiam lebih sedikit memiliki kenalan wanita dibanding dirinya sendiri.
"Apakah harus wanita?" Pertanyaan Sasuke menghentikan pemikirannya, membuatnya menatap mata oniks itu lurus-lurus. "Apakah kita harus menikah dengan wanita?"
Kening Naruto berkerut sebelum ia menjawab Sasuke dengan sedikit bercanda, "Kalau kau hidup di Kanada dan seorang gay, kau bisa menikah dengan sesama pria."
"Memilih sembarangan wanita untuk dinikahi itu tindakan bodoh, Dobe. Terlebih jika tidak terlalu kenal." Sasuke menyandarkan punggung ke belakang dan melipat tangannya di depan dada.
"Tunggu dulu, apa kau bermaksud mengatakan..." Naruto serasa ragu meneruskan kalimatnya sehingga memilih berhenti untuk menunggu Sasuke yang menjelaskan sendiri.
"Menikah adalah keputusan yang besar. Aku harus hidup dengan seseorang seumur hidupku. Dan karena itu aku tidak yakin aku akan bisa hidup dengan seseorang yang baru aku kenal. Dari pada aku harus menikahi seorang wanita yang tidak bisa membuatku merasa nyaman, aku lebih memilih menikah dengan pria."
Mata Naruto berkedip-kedip selama beberapa dekit dengan mulut sedikit menganga.
"Itu tadi kalimat terpanjang yang pernah aku dengar keluar dari mulutmu selain saat rapat." Ia bergumam setengah kagum.
"Kau tidak menangkap inti dari perkataanku?" Sasuke menaikan sebelah alisnya sebelum mendengus kesal.
Naruto berdehem sejenak sebelum nyengir lebar. Ia menggaruk belakang kepalanya dan berkata, "Gomen, gomen..."
"Intinya, tidak masalah apakah pasanganku pria atau wanita, asal aku merasa cocok dengannya, aku akan memilihnya sebagai pasanganku."
"Hmm..." Tangan kanan Naruto berpindah ke depan dagu, memasang gaya berpikir. "Itu bukan pemikiran yang buruk. Lagipula, kau bukan tipe orang yang terlalu perduli dengan perkataan orang lain. Tapi pria mana yang bisa cocok dengan pria kaku sepertimu?"
"Kau." Jawab Sasuke dengan cepat dan singkat.
Sementara Naruto seperti tidak mendengar jawabannya dan hanya menatapnya dari posisi sama seperti sebelumnya, setidaknya sampai pemuda pirang itu tiba-tiba membelalakkan mata dengan kedua tangannya menggebrak meja.
"Apua?!"
"Ya, kau." Ulang Sasuke dengan tenang. "Aku bahkan tidak mengenal orang lain sedekat dirimu selama sepuluh tahun terakhir."
"Tu-tunggu dulu, Teme." Naruto berdiri dengan badan condong ke depan tanpa memindahkan tangannya dari atas meja. "Aku tahu kau mungkin sedikit frustasi mencari pasangan, tapi memilihku sebagai pasanganmu itu ide gila!"
"Bukannya kau barusan bilang itu bukan ide buruk, Dobe?" Bibir Sasuke membentuk seringaian keji dan sukses membuat Naruto kesulitan mencari kalimat balasan.
"Ta-tapi maksudku selain aku!"
Setelah beberapa detik pendek, Sasuke menegakkan duduknya. Wajah mereka berjarak kurang dari satu meter sekarang. Naruto menyadarinya dan langsung berdiri tegak untuk memperlebar jarak, sementara Sasuke menyangga dagu di atas kedua tangan.
"Aku tidak memaksamu." Ucap pemuda berambut raven itu. "Ini hanya gagasan, kau menolakku atau menerimaku, itu terserah padamu."
Naruto menelan ludah. Ini untuk pertama kalinya ia dilamar, dan orang pertama yang melamarnya adalah seorang pria. Gila. Dunia benar-benar sudah menjadi gila.
"Tentu saja kita tidak akan langsung menikah." Sasuke menambahkan, menatap lurus yang bukan pada Naruto, bahkan tatapannya seperti kosong. "Aku sendiri tahu banyak imbas buruk kalau kita benar-benar menikah. Mungkin kita bisa berpacaran lebih dulu untuk mencari tahu seberapa buruk ini akan berjalan, sekaligus mencari tahu, apakah kita akan benar-benar cocok sebagai pasangan... suami-suami."
Naruto menarik napas yang tanpa sadar sudah ia tahan sejak tadi. Dicengkram dan diremas kepala bagian depannya, lalu menjatuhkan diri di kursi sambil menghembuskan napas melalui mulut. Ia yakin Sasuke belum gila, bahkan ia sangat percaya bahwa Sasuke jauh lebih jenius darinya dalam segala hal, namun ide itu benar-benar diluar nalarnya.
Naruto bukanlah seorang gay, jadi bagaimana bisa ia menerima Sasuke yang merupakan seorang pria?
"Jujur padaku, Teme," Naruto kembali mempertemukan pandangan mereka, matanya memincing tajam sambil melanjutkan, "Apa kau sebenarnya seorang gay?"
"Apa kau pernah melihat aku berhubungan dengan seorang pria?" Tanya Sasuke balik dengan suara malas.
"Tidak," Naruto mengerang pelan seraya mengacak-acak rambutnya. "Tapi aku juga tidak pernah melihatmu berhubungan dengan seorang wanita. Lagipula, mana ada laki-laki normal yang mau menikah dengan semasa pria?"
"Hn." Bibir Sasuke membentuk garis lurus nyaris melengkung ke bawah. "Itulah mengapa aku berpikir kau adalah satu-satunya yang akan cocok menjadi pasanganku."
Mendengar jawaban itu, Naruto menggaruk kapalanya dengan kasar. Kemudian tangannya di lipat di depan dada dan berpaling muka. Ia tidak bisa menyalahkan Sasuke atas pemikiran itu, karena sejak berteman di bangku kuliah, Sasuke memang sedikit sekali memiliki teman. Bahkan teman yang sedikit itu didapat dari Naruto sendiri.
"Sudah aku bilang 'kan, Dobe, aku tidak akan memaksamu." Suara Sasuke membuat Naruto memandang ke arah pemuda itu. "Kau tidak perlu memikirkannya terlalu keras kalau kau memang tidak mau. Otakmu yang kecil itu bisa meledak kalau kau berpikir terlalu keras."
"Teme kau!" Naruto meraung emosi seketika.
Padahal keadaan saat ini bisa diartikan sebagai sesi penembakan, tapi Uchiha bungsu ini malah mengata-ngatainya. Ia bisa membayangkan bagaimana kalau mereka benar-benar menjalin hubungan, pasti akan penuh dengan pertengkaran dan berdebatan.
Tapi.
Mata Naruto beralih menatap meja yang membatasi mereka. Ia menyadari sesuatu. Selama ini mereka tinggal bersama dan keadaan tidak seburuk itu. Malahan, mereka bisa bekerja sama dengan baik selama ini. Lagipula bukankah tadi dirinya sendiri juga berpikir bahwa Sasuke adalah kandidat yang cukup bagus sebagai pasangannya seandainya Sasuke adalah seorang wanita?
"Sebenarnya aku juga sempat memikirkanmu." Naruto menghembuskan napas secara khusus sebelum menyandarkan punggung ke belakang dengan mata terpejam. "Aku pikir, kalau saja kau wanita, kau pasti akan menjadi pasangan yang tepat untukku."
"Hn."
Naruto mendengar Sasuke bergumam, sebuah tanda bahwa temannya itu mendengarkan. Tanpa membuka mata, ia memutuskan untuk melanjutkan, "Kita selalu bisa bekerja sama dengan baik meski memiliki banyak perbedaan."
"Bahkan karena perbedaan itu aku merasa kita sangat cocok seperti kepingan puzzle." Suplai Sasuke yang langsung Naruto setujui melalui dua kali angukkan.
"Tapi kalaupun kita berdua bisa menoleransi gender masing-masing," Mata Naruto terbuka, memperlihatkan keseriusan di dalamnya. "Keluarga, teman-teman, bahkan negara, apa bisa? Lagipula, pernikahan tanpa cinta akan bertahan seberapa lama?"
"Bukannya aku sudah mengatakan kalau kita bisa berpacaran lebih dulu?" Sasuke menaikkan bahunya dengan samar ketika mengangkat kepalanya dari atas tangan. "Kita akan tahu seberapa parah imbasnya, dan kita bisa memutuskan untuk melanjutkannya atau tidak setelah itu."
Alis Naruto terangkat, memikirkan baik-baik perkataan Sasuke. Tidak mencoba sama sekali tidak akan menghasilkan apapun, tapi jika mencoba, setidaknya mereka akan mengetahui sesuatu.
"Kita tidak perlu memikarkan hal terlalu jauh soal negara, orang lain, maupun keluarga, karena kita bisa merahasiakannya dulu. Tapi kalau soal cinta..." Sasuke mendengus geli sebentar. "Pasangan yang menikah dengan dasar cinta saja banyak yang bercerai. Cinta tidak menjadi jaminan akan seberapa lama sebuah pernikahan."
Harus Naruto akui, bahwa Sasuke selalu berpikir lebih luas dari pada dirinya sendiri. Walau itu memang ide yang sangat gila, nyatanya Uchiha satu ini berhasil membuatnya terdengar rasional. (Ya) Menikah tidak harus dengan lawan jenis. Kalau memang tidak ada wanita yang cocok dengannya, seharusnya ia tidak memaksa demi kebaikan semua pihak. Dan meski Naruto bukan seorang gay, tapi ia percaya kalau Uchiha Sasuke bisa menjadi pasangan yang sesuai dengannya.
"Baiklah, Teme." Naruto sekali lagi menggaruk kepalanya, kali ini lebih pelan. "Kita bisa mencobanya. Jadi kita pacaran sekarang."
"Hn." Balas Sasuke singkat.
"Hanya itu?" Naruto mengerang sebal sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku baru saja menerimamu sebagai pacarku. Harusnya kau terlihat senang, atau merayakannya, atau berteriak!"
Sasuke mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
"Hari ini giliranmu membersihkan ruang depan, cepat bersihkan." katanya sebelum berdiri. "Jangan lupa membersihkan kolom meja, Dobe."
Pria muda berambut raven itu pergi begitu saja meninggalkan Naruto yang melongo. Tiba-tiba saja ia merasa menyesal sudah setuju berpacaran dengan pria stoic itu.
Status kasat mata yang tidak dapat dilihat siapapun kecuali mereka berdua itu, ternyata sedikit berpengaruh bagi Uchiha Sasuke. Dengan misterius, indranya menjadi lebih peka terhadap keberadaan Uzumaki Naruto. Sebelum ia menengok, ia sudah tahu jika pria pirang itu ada di ujung lorong rak toko. Ia sendiri tidak ingat apakah sebelum ini indranya sepeka sekarang tapi tidak terlalu memperhatikan, atau baru kali ini ia mengalaminya.
Dilihatnya Naruto sedang mengawasi beberapa sales menejer yang sedang memasang hiasan di atas rak lemari. Pria berambut pirang itu sesekali juga membantu. Dia menaiki tangga lipat sambil memangkul kardus berukuran sedang di atas pundaknya.
"Ini yang terakhir, Kiba." Suara Naruto sampai ke telinga Sasuke meski jarak mereka cukup jauh.
Ia masih mengawasi teman sekamar sekaligus pacar barunya itu, menemukannya berdiri di atas anak tangga teratas. Tangan kiri Naruto berpegangan pada rak, sementara tangan kanannya mengangkat kardus yang berusaha diberikan pada Kiba. Uchiha Sasuke tahu kalau Naruto itu sangat ceroboh. Ia sudah bisa memprediksi kalau pria pirang itu akan kehilangan keseimbangan. Dan benar saja, tidak sampai satu menit kemudian ia sudah melihat badan Naruto limpung ke belakang dan berakhir terkapar di lantai.
"OUCH!"
Reflek, melihat adegan konyol itu, sebelah sudut bibir Sasuke terangkat naik meski nyaris kasat mata.
"Sialan kau, Teme!" Naruto tiba-tiba memakinya. Sambil duduk bersila di lantai, pria pirang itu menunjuk-nunjuknya dengan tidak sopan. "Aku jatuh kau malah menertawakanku!"
Orang-orang yang tidak mendengar suara tawa Sasuke langsung memandang heran pada keduanya. Namun Sasuke sendiri tidak menyangkal bahwa ia menertawakan Naruto, karena memang ia baru saja menertawakan Naruto. Hanya saja cara tertawa Sasuke itu tidak sama dengan cara orang lain tertawa.
Setelah mendengus geli, Sasuke mengalihkan mata dari Naruto, sementara Naruto baru saja bangun dengan bantuan rekan-rekannya. Pria muda ini meringis kesakitan sebab punggungnya terasa sakit, ia tadi jatuh dengan punggung menghantam lantai.
"Naruto-san, lebih baik kau istirahat saja, biar kami yang menyelesaikan semua ini." Usul Chouji, salah satu sales menejer di divisinya.
"Aku rasa aku memang memerlukannya, punggungku benar-benar sakit." Naruto menangguk pelan sebelum berputar dan berjalan menjauh.
Namun Divisi Menejer dari bagian grocery ini tidak pergi jauh dari area divisinya. Ia memilih duduk di salah satu set meja yang berjajar rapi di depan area divisi fresh, mengamati pekerjaan bawahannya dari sana. Hiasan-hiasan pohon mapel tiruan itu terlihat bagus jika di lihat dari tempatnya duduk. Ia berharap dengan begini, para pengunjung akan tertarik melihat ke rak barang di divisi grocery. Jika sudah tertarik melihat, pasti tertarik mendekat, 'kan? Dan siapa tahu kalau sudah mendekat, mereka ingin membeli sesuatu. Yap. Begitulah rencananya.
"Bagaimana, Naruto-san, apa ada yang kurang?" Kiba mendatanginya, ikut melihat hiasan pohon plastik itu dari tempat yang sama.
"Aku rasa sudah cukup." Naruto mengangguk sambil tersenyum puas.
Kiba menarik kursi di sebelah Naruto dan duduk. Matanya digiring melihat ke seluruh toko yang mengikuti tema musim gugur. Meski sudah menampilkan penataan toko dengan sangat menarik, sayangnya penjualan Konohamart belum juga mengalami kenaikan. Sepertinya yang menjadi masalah bukan penampilan, karena Konohamart sendiri mendapat gelar hypermarket terbaik dari segi penataan. Masalahnya ada pada harga. Banyak minimarket di tokyo yang menjual produk lebih murah di banding mereka. Dari segi fasilitas dan kualitas, Konomaret memang unggul, tapi dari segi harga, mereka kalah.
"Kita baru mencapai 40% dari target hari ini." Kiba mengembalikan pandangannya pada Naruto.
"Kurang 60% lagi, ya?" Balasnya sebelum membalas tatapan sales menejernya itu. "Tidak apa-apa, ini masih siang, kita masih punya banyak waktu."
"Bagaimana dengan divisi lain? Seperti fresh? Apa mereka sudah mendapat lebih tinggi dari kita?"
Kepala Naruto menggeleng pelan sebelum menatap ke arah rak buah di sisi kanan tubuhnya. "Aku tidak tahu, tapi sepertinya sama saja."
Dapat ia lihat di area divisi fresh saat ini juga tidak lebih ramai dari areanya, pelanggan bisa dihitung dengan jari. Weekdays memang sering berjalan seperti ini, apalagi siang hari. Inuzuka Kiba juga memperhatikan area fresh. Tepat saat itu, matanya melihat Hinata.
"Aku tiba-tiba ingat sesuatu?" Sales menejernya membuat Naruto mempertemukan mata mereka lagi. "Kau belum punya pacar 'kan?"
Pertanyaan yang begitu tiba-tiba itu membuat Naruto sedikit terkejut, dan secara bersamaan ia teringat pada pacar barunya, Uchiha Sasuke.
"Eh, itu..." Naruto menggaruk kepala bagian belakang dengan reflek.
"Kemarin Tenten cerita kalau Hinata menyukaimu. Kau tahu 'kan kalau tunanganku itu dekat sekali dengan Hinata?"
Mendengar nama sales menejer dari devisi Sasuke itu, mata Naruto langsung melebar. Kepalanya menengok lagi ke area rak buah dan menemukan Hyuga Hinata berdiri di depan salah satu rak, sedang memegang sebuah buku.
"Hinata?" Ulang Naruto sambil menggiring matanya ke arah Kiba. "Kau yakin cewek pendiam itu menyukaiku?"
"Aku yakin sekali!" Jawab Kiba mantap. "Dia bahkan bertanya nomer ponselmu pada Tenten, dan Tenten kemarin menanyakannya padaku."
"Kau memberikannya?" Naruto bertanya dengan suara pelan namun terkesan penasaran, dan Kiba langsung menjawabnya dengan anggukan.
Pria muda berambut pirang itu kemudian menengok, melihat Hinata dan memergoki gadis itu mencuri pandangan ke arahnya sebelum tiba-tiba berpaling muka. Seulas senyum ramah tumbuh di bibir Naruto. Selama ini ia tidak pernah memperhatikan gadis itu, kepikiran untuk mendekatinya apalagi. Hinata adalah gadis yang cantik, dan sepertinya berkepribadian baik. Untuk dibawa pulang dan dikenalkan sebagai seorang calon istri, Hyuga Hinata sudah lebih dari pantas.
Dan hanya lima jam setelahnya, Uzumaki Naruto berani mendudukkan diri di sebelah Hyuga Hinata yang sedang makan malam di kantin kariyawan, di lantai dasar Konohamart yang menjadi satu lantai dengan ruang loker. Tak lupa lelaki berambut pirang itu meletakkan makan malamnya di meja, dan menyapa,
"Boleh aku duduk di sini, 'kan?"
Tubuh Hyuga Hinata berjengit sedikit, entah karena kaget atau malu, Naruto tidak tahu. Tetapi gadis itu tersenyum tipis dan mengangguk.
"Bagaimana penjualan fresh hari ini? Apa sudah memenuhi target?"
"I-Itu..." Hinata meliriknya sedikit sebelum menunduk sambil mengaduk-aduk makanannya sendiri. "Su-sudah mencapai 95% saat ini, Na-Naruto-kun..."
"Hmm," Naruto mengangguk-angguk sambil menyumpit onigiri-nya. "Setelah jam makan malam pasti tembus target."
"Di-divisi, Na-Naruto-kkun sendiri, sudah sampai target?"
Alih-alih menjawab, Naruto malah menghela napas. Ia kemudian menggeleng pelan. Divisinya bahkan baru menembus 60% dari target hari ini. Walau bagaimana pun, target di bagian grocery memang jauh lebih tinggi dari bagian fresh.
Tanpa mereka berdua sadari, Uchiha Sasuke sedang melintas tepat di depan area kantin saat itu. Mata oniks lelaki ini melirik ke arah si pirang. Bukan sebuah perasaan yang menggebu-gebu apa yang ada di dalam hatinya, namun tidak dapat ia pungkiri, melihat Naruto duduk di dekat Hinata, ada sesuatu yang tidak enak terasa mengganggu pemikirannya.
Sasuke membuka pintu lokernya sambil berusaha membuang pemikiran negatif. Masih terlalu dini untuk merasa curiga. Lagipula hubungan mereka belum ada sehari, ia sangsi jika dalam waktu sehari si Dobe itu sudah mulai melirik orang lain. Naruto adalah orang yang ramah, mungkin saja―
"Itu karena aku sudah memberi tahu Naruto kalau Hinata menyukainya."
Reflek, mata Sasuke bergulir ke sudut untuk mencari sumber suara tersebut. Inuzuka Kiba baru saja datang bersama Tenten, berjalan ke arah loker tempatnya berada.
"Kau jenius, Kiba! Aku rasa tidak akan lama lagi mereka berdua akan jadian!" Tenten berhenti di ujung lorong loker, sementara Kiba yang menengok wanita itu berhenti di sebelah Sasuke.
"Ya, kalau itu terjadi jangan lupa kalau semua ini berkat aku!"
Sasuke mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Kekesalan tidak memancar dari mata maupun ekspresinya, namun perasaan di dalam dadanya mulai memanas. Ditutup kembali pintu lokernya sebelum ia berjalan pergi, melewati punggung Kiba dan juga sosok Tenten.
Hampir tengah malam hari itu, ketika Sasuke dan Naruto duduk di beranda seperti biasa. Naruto menikmati sebatang rokok dan berdiri di samping pembatas, sementara Sasuke menghadap laptop tanpa mengerjakkan apapun. Uchiha bungsu ini menunggu. Jika mungkin Naruto sudah menemukan pasangan lain, seharusnya pemuda pirang itu memberitahunya dan meminta hubungan mereka diakhiri. Tapi. Tidak. Entahlah, mungkin belum? Semenjak mereka pulang sampai sekarang, Naruto tidak mengatakan apapun yang berkaitan dengan hubungan aneh mereka. Mereka bahkan menjalani semuanya dengan normal seperti sebelum mereka terikat dengan hubungan khusus itu. Tapi hal itu juga yang membuat Sasuke menyadari kemungkinan hubungan mereka akan berhasil dibawah 50%. Mereka tidak seperti pasangan, mereka tetap berperan sebagai teman dan rekan.
"Teme," pada akhirnya, Naruto yang membuka suara lebih dulu, sama seperti sebelumnya.
"Hn?" Sasuke bergumam pelan sebelum mendongak lawan bicaranya sekilas pandang.
"Bagaimana menurutmu kalau kita batalkan saja hubungan kita dan kembali ke rencana semula?"
Entah bagaimana, Sasuke sudah memperkirakan kalimat semacam itu akan keluar dari mulut Naruto, tapi mendengarnya secara langsung tetap saja membuat beberapa urat pelipisnya menegang.
"Aku rasa hubungan kita tidak akan berhasil. Kita sama-sama normal," Naruto menghisap asap rokok ke dalam mulutnya dan menghembuskannya ke udara sebelum melanjutkan, "sebaiknya kita mencari pasangan lain seperti rencana awal."
"Hyuga Hinata?" Sahut Sasuke sambil tersenyum sinis, sementara Naruto seperti tertohok sehingga berhenti bergerak secara mendadak.
"Bagaimana kau tahu?"
Terlebih dulu, Uchiha muda ini mendengus. "Gosip menyebar dengan cepat, Dobe."
"Yah," Naruto berdehem berusaha menguasai dirinya. "Aku baru tahu kalau ternyata Hinata menyukaiku. Mungkin ini kesempatan yang bagus untukku."
Sasuke mendongak pemuda itu saat mendengar suara langkah mendekat yang terganti oleh suara pemiliknya sendiri setelah duduk di kursi seberang.
"Tapi sebagai teman baikmu, aku tidak mau mengkhianatimu begitu saja. Jadi aku menunggu kesepakatan darimu."
"Terserah kau saja." Sasuke menyelesaikan jawaban singkatnya sambil menatap layar laptop.
"Tapi kalau kau memintaku untuk terus melanjutkan hubungan gay kita," Naruto berdehem sebentar karena merasa tidak enak menyebut kata asing itu. "Aku akan mempertimbangkannya. Aku tidak mau kau menganggapku egois atau tidak tahu diri. Selain itu aku juga memikirkan tentangmu."
Alis Sasuke naik tinggi-tinggi saat menatap mata biru safir di depanya. Ia tidak pernah memikirkan bahwa Naruto bersikap egois atau tidak tahu diri, tetapi perihal memikirkan tentang dirinya, ia benar-benar tidak menyangka Naruto memikirkan hal itu.
"Aku tidak memasksa, Dobe." Sasuke memutus pertemuan pandang mereka. "Kalau kau mau berhenti, itu hakmu."
"Ceh!" Balasan dari kalimat datar dan dingin dari Uchiha Sasuke justru decihan kejam. "Aku sempat berpikir kau benar-benar serius dengan hubungan kita, ternyata tidak." Naruto menyandarkan punggungnya dengan kasar dan menghebuskan asap rokok ke udara.
"Aku tidak pernah tidak serius dengan keputusanku." Sasuke menatap pria itu lurus sambil menyilangkan lengan di depan dada.
"Kalau kau serius, kau akan mencoba mempertahankannya." Naruto tertawa remeh.
"Memang apa yang kau harapkan? Aku merayumu agar kau tidak meninggalkanku?" Alis Sasuke kembali naik di atas wajahnya yang tetap tidak berekspresi, kontras dari Naruto yang jelas mulai serius. "Aku tidak akan menghadapi sebuah hubungan dengan serius, kalau pasanganku sendiri tidak serius."
"Tunggu dulu, tuan Uchiha." Naruto menegakkan badannya sekaligus menumbuk putung rokonya ke asbak di atas meja. "Maksudmu aku yang tidak serius?"
"Menurutmu?" Sasuke menyahut cepat. "Bukan aku yang berubah pikiran kurang dari 24 jam."
"Cks!" Naruto jelas tersindir telak. Ia menggaruk kepalanya dengan kasar sesuai dengan kebiasannya kalau kehabisan kata-kata. Apa yang Sasuke katakan tidak dapat ia sangkal. Ia memang setengah serius. Tapi untuk mengakuinya sangat sulit. Walau bagaimana pun ia lelaki normal yang sedang berusaha menjadi tidak normal. Bukan sesuatu yang bagus. Bagaimana ia bisa serius?
"Aku rasa aku mengambil keputusan terlalu gegabah pagi ini." Naruto merogoh sakunya sambil bicara, mencari letak pemantik api dan ingin menyalakan sebatang rokok lagi.
"Hn."
Balasan Sasuke datang lebih cepat dari yang ia duga. Bahkan sebelum ia mengeluarkan semua apa yang ada di pemikirannya, pria berambut jabrik itu sudah menutup laptop dan berjalan meninggalkan beranda.
"Oi, Teme!" Seru Naruto sambil buru-buru mengejarnya.
Sasuke berhenti tepat di depan pintu beranda, menengok Naruto sebentar sambil berkata, "Aku bilang, terserah kau."
Tapi mendapat pilihan bebas itu, Naruto justru bingung dengan apa yang harus ia putuskan. Akan lebih mudah jika Sasuke yang memilih kelanjutan hubungan mereka. Naruto berdecak kasar sambil menggaruk belakang kepalanya, berputar dan kembali berdiri di dekat pembatas beranda. Matanya memandang jauh ke bangunan-bangunan kota, sementara tangannya mengeluarkan pemantik api dan bungkus rokok dari dalam saku. Ia menghisap sebatang rokok lagi.
written by he thea ariea, Nov 08 2016, words: 3.7k+
