Ace of Diamond (c) Terajima Yuji
Copyright story/spanish (c) lilleline
English translation (c) meredreams [AO3]
Indonesian ver (c) Panda Dayo


2 : Kau akan menyesalinya, Okumura!


Tak mudah menemukan makna di balik wajah kurang ekspresi, Miyuki mengetahuinya. Walaupun meminta jawaban mengapa ia mengambil keputusan yang beresiko, nyatanya hanya keheningan sebagai representasi jawaban hingga keluar ruangan. Tentu saja, kemungkinan Sawamura mengatakan sesuatu yang sembrono termasuk dalam asumi. Namun pasti ada alasan lain mengapa catcher tahun pertama tak berminat menangkap lemparan senpainya. Ia sendiri mengaku kesulitan dengan bocah itu.

Okumura tak dapat diprediksi daripada yang terlihat. Lalu, kata-kata apa yang tepat untuk saat ini? Tak mungkin dia menepuk pundaknya dan berkata, "Jangan pikirkan bila kau tak menangkap lemparan Sawamura. Aku mengerti."

Karena sebenarnya, ia tak paham akar masalah mereka. Meskipun ia menyadari Sawamura memang terkadang mengganggu bagi beberapa personal, tetapi bayangan dirinya yang turut mengganggu bagi Okumura juga merupakan sebuah musibah.

Di samping itu, Okumura selalu menyembunyikan alasan penolakannya.

Beberapa kali, Miyuki mencoba tak terlalu memikirkannya, tapi ia malah sakit kepala. Menghela nafas, menggosok leher sebagai rutinitas di saat tengah menghadapi situasi yang sulit.

"Lihatlah Okumura, bahkan jika kau berbicara denganku, kau tak bisa mengambil keputusan yang tak jelas," jawabnya sembari menyilangkan kedua lengan. Bagian atas wajah tampak menggelap karena kacamatanya, tak tahu apa yang ada di dalam pikirannya sebab tak melihat pandangan catcher kelas tiga itu.

"Jika pelatih Kataoka menginginkanmu menangkap lemparan Sawamura, kau tak bisa menolak. Kau harus patuh setidaknyamanpun itu. Aku hanya tak tahu apa yang terjadi di antara kalian, tapi..tidakkah kau pikir ini berlebihan? Sawamura memang idiot, tapi dia adalah pitcher yang bagus."

Okumura terdiam sejenak, manik hijaunya tak menunjukkan apa-apa, namun ketika Miyuki berprasangka ia hanya akan diam, ia merespon seperti ini;

"Dia tak terlihat menjanjikan. Lemparannya tidak spesial,"

Miyuki memaksakan senyumnya untuk menyahutnya, tetapi buru-buru dilanjutkan oleh yang lebih muda,

"Benar ketika aku melihatnya melawan Teito, menuntunku untuk ke sekolah ini. Kukira ia mengagumkan, tapi saat aku berada di sini untuk menangkap dengannya, aku kecewa karena telah berharap lebih."

Miyuki mendadak berkeringat. Jadi, ia tertarik pada lemparan Sawamura? Ya, ia bisa mengerti mengapa, tapi baginya menyerah terlalu cepat adalah yang paling mengejutkan.

Sawamura punya kemampuan untuk itu ketika berdiri di atas mound, dan menjadikannya sosok yang berbeda, sebab itu, Miyuki suka menangkapnya. Bagaimanapun, Okumura masihlah baru dan masih punya banyak hal yang harus dipelajari, -serta harus menoleransi sesuatu seperti Eijun si senpai yang bodoh.

Sekarang, cara untuk mengatakannya? Bagaimana langkah mengirim pesan pada seseorang seperti Okumura? Ia rasa tak peduli yang manapun itu, ia takkan didengarkan oleh catcher tahun pertama.

"Kau tak serius mengatakannya, bukan?" Miyuki menatapnya jenaka. "Sawamura adalah hal yang berbeda saat berada di atas mound. Dia tak terlihat menjanjikan di bullpen, lain cerita bila ia dimainkan, ia akan jadi sesuatu yang menarik, sebagai catcher aku meyakinkanmu. Cukup beri ia kesempatan untuk membuktikan diri."

Okumura memejamkan mata beberapa detik, dan menggelengkan kepalanya.

"Aku yang memutuskannya."

"Kau tak serius tentang itu, kan?" Miyuki mendesak.

"Okumura, ini adalah tahun terakhirku sebagai pemain, dan Sawamura membutuhkan macam-macam catcher untuk menarik seluruh potensinya tahun depan."

"Itu adalah yang bisa dilakukan Kaoru Yui. Ia dipromosikan ke tim utama, bukan aku."

"Kita semua berkembang, Okumura. Mungkin akan ada waktu dimana kau menjadi catcher yang lebih baik daripada dia, dan dipromosikan. Apapun itu, seusai musim panas aku harus mengucapkan selamat tinggal, dan sepertinya pelatih mempertimbangkanmu untuk tim berikutnya."

Okumura terdiam lagi, malah justru setelahnya ia memilih membuka pintu.

"Mengatakan keputusan pada pelatih." adalah yang ia katakan sebelum pergi, meninggalkan Miyuki yang mengulum senyum. Ia melihat kusen pintu sejenak, menunggu Okumura kembali.

Tetapi tidak kunjung juga.

Ya, jangan buat keputusan yang gegabah. Kau hanya belum tahu tentang Sawamura, dan ia benar-benar menarik bagi catcher. Cepat atau lambat, rasa sesal itu pasti datang.


Hari berikutnya latihan berjalan seperti biasa. Ketegangan di antara Sawamura dan Okumura agak menurun, tetapi yang lain menyadari bahwa mereka kini saling menghindar. Sawamura mungkin tak lagi terlalu memikirkan perihal semalam. Meski kata-kata Okumura sangat menyakitkan, tapi bila ia membuat masalah lain, pelatih Kataoka takkan mengijinkannya mengikuti kegiatan klub, dan dia tidak mau hal itu sampai terjadi. Ia akan menjadi kakak kelas yang baik dan tak lagi merepetisi kesalahan di tahun sebelumnya. Ingin sekali ia mencari mesin waktu dan berbicara sendiri kepada dirinya waktu itu. Namun siapa yang mendengarkannya? Nyaris tidak ada. Ia mengingat kembali di hari ia mengganggu Okumura.

Lemparan selanjutnya sedikit lebih tinggi, dan Miyuki mengembalikannya seolah itu bukanlah hal yang besar.

Sawamura menangkap bola di udara, tapi..apa yang terjadi? Ia memindah objek di antara jemarinya, menatap ke arah seberang sembari menghela. Ia tak begitu yakin ini karena suhu mulai meninggi di waktu tahun ini, ataukah karena ia terlalu memaksakan diri, pokoknya ia ingin mengakhirinya dengan cepat. Tungkainya dan lengannya terasa berat.

"Sawamura, kau baik-baik saja? Keringatmu banyak…"

Ia tak mendengarkan dan melempar bola kembali. Sempat jatuh ke tanah sebelum sampai pada target dan bergulir dimana Miyuki dapat mengatasinya.

Sawamura tak terpengaruh dari missing ball tersebut. Rasanya teramat panas, pun punggungnya yang berkeringat namun terasa dingin, membuatnya gemetar. Teringat lagi dan lagi potongan kejadian semalam membuatnya menggemerutukkan deretan gigi ke sekian kali. Terlebih usai mendengarnya: ia pergi jogging lagi hingga Kuramochi dan Asada mencari dan menyeretnya balik. Yang lebih tua memaksanya mandi dan menyuruhnya istirahat setelah bergelut menahan kepalanya, dan Sawamura tak bisa protes. Malam berikutnya, kejadian yang sama terulang.

... Mungkin tubuhnya terlalu menekannya.

"Sawamura. Sawamura!"

Bila dia dapat menunjukkan pada Okumura bahwa ia salah, cepat atau lambat ia akan menjadi ace tim ini.

"Sawamura!"

"Huh?"

Ia bahkan tak sadar, namun semua berkumpul mengitarinya, menatapnya penuh cemas. Sawamura berkedip heran. Mengapa mereka di sini? Ia hendak mengatakan sesuatu, Miyuki mengecek kondisinya dan mendadak meninggi,

"Bodoh! Jika kau tak merasa sehat, mengapa kau tak mengatakan apapun? Tenangkan dirimu dan pergilah ke ruang perawatan."

"T-tapi kapten! Aku tak apa! Biarkan aku melempar!

"Mana mungkin. Pergilah, dan Okumura…" Miyuki menjatuhkan pandangan pada bocah tahun pertama. "Temani dia untukku, ya? Jangan cemas, aku akan mengawasi Nori."

Okumura menarik pelindung kepala dari wajahnya dan menunjukkan keengganan, membuat Miyuki berkeringat dingin. Sejenak, Miyuki mengira ia akan protes, tetapi Okumura tetap melakukannya tanpa disertai perkataan apa-apa, mendekati Sawamura dan menepuk punggungnya sebagai isyarat agar segera berjalan. Walau ia tak melepas pakaian catcher miliknya. Miyuki mengira ia ingin segera kembali setelah mengantar Sawamura, bisa saja idenya berbalik tak menyenangkan.

Sawamura tak mengatakan apapun, hanya mengepalkan tangannya dan mulai melangkah. Memang benar ia meraasa tak enak badan, tapi mengapa Miyuki memberikannya pada Okumura untuk menemaninya? Apa yang dipikirkan Kapten Seido itu ketika memutuskannya? Seharusnya ia minta saja Miyuki yang menemaninya. Apalagi, Okumura bahkan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap ide ini, merasa terganggu lebih dari siapapun. Apa kesalahannya hingga si catcher tahun pertama itu sangat membencinya?

"Kalau kau tak ingin tak masalah." ujar Sawamura ketika mereka memasuki bangunan, memecahkan keheningan di antara keduanya, "Tinggalkan aku di sini dan jika mereka menanyakannya, aku tetap akan menjawab kau sudah menemaniku sampai di ruang rawat. Kau tak perlu mematuhi semua perintah kapten dengan serius!"

"Jika seperti itu, aku tetap akan menemanimu." suara Okumura nyaris tak terdengar dengan menolak semua ucapan kakak kelasnya.

"Ayo pergi."

Sawamura kesal namun tak menjawab. Ia ingin lari, meninggalkan adik kelasnya dan takdirnya, tetapi kakinya terasa sangat berat dan itu mustahil.

Mereka menapaki tangga dalam diam dan menuju destinasi awal. Sesekali Okumura melirik pada Eijun, dan ia tak tahu mengapa ia terlihat membencinya...atau kenapa. Atmosfer berubah, dan Sawamura berpikir ia pasti terlihat menyedihkan dalam pandangan Okumura.

Karena itulah yang terjadi. Sawamura tahu orang-orang seperti Okumura yang hanya tertarik oleh lemparan Furuya.

Dan hanya Furuya.

Setibanya di ruang pengobatan, mereka mengetuk namun tiada jawaban. Pintu tak terkunci, jadi mereka masuk bersama dan ternyata tak ada siapapun di dalam. Perawat mungkin sedang pergi sebentar, dan sampai lupa mengunci pintu.

Sawamura berbaring di salah satu stretchers, menutup matanya begitu cepat. Tak merasa sebelumnya bahwa ia sungguh lelah. Okumura bersamanya selama beberapa saat, dan ketika hendak pergi, Sawamura meraih lengannya sebelum catcher itu melaksanakan niatnya. Manik emasnya menatap ke arah netra hijau milik Okumura.

"Kau akan...kau akan menyesal tak ingin menjadi catherku." senyum Eijun mengembang, "ketika aku mendapat nomor ace, kau akan mengharapkannya."

Okumura nampak terkejut usai mendengarnya, terlebih saat, "Aku yakin kau pasti punya alasan untuk datang ke Seido, kan? Aku akan membuatmu terkesima dengan lemparanku jadi kau tau bahwa kau telah datang ke tempat yang benar."

"Senpai…" Sawamura menunggu Okumura melepas genggamannya, tapi ia tak melakukannya. "Aku menunggu saat itu lebih dari siapapun."

Eijun tak terbiasa dengan tipe jawaban seperti ini, jadi ia hanya berkedip dan tersenyum,

"Kau akan melihatnya! Akan kupastikan melebihi harapanmu!" ia tertawa namun tak sekeras yang biasa karena rasa kantuk.

Menunggu ke bullpen, Okumura tetap berdiri di sana hingga perawat datang dan menjelaskan kondisinya. Setelah memeriksa, ia berkata Eijun terkena flu dan setelah mendengarkan ceramah untuk memedulikan diri sendiri karena musim ini suhu masih berkisar tujuh derajat setelah musim dingin, ia pergi.

Yang tidak disangka Sawamura adalah kalimat yang dilontarkan tadi sebenarnya mengandung makna sebagai berikut;

Menguji kesabaran seorang Okumura Koushuu.


Bersambung


Misaki Younna : wah maaksih loh udah mampir XDD aku ngeship miyusawa juga loh, hardshipper malah, cuma lucu aja kalo bayangin KouSawa eheheheh Koushuu bikin gemesshhhhh/g. makasih jejak-jejaknya yaaa *love*

thanks for read

siluman panda