Wrong Option
Naruto© Masashi Kishimoto
The story belongs to me.
Pairing: Narutoxsomeone, others…
Genre: School life, angst,…
Rate : T-M
Warnings! Mengandung boys love, bisa jadi OOC pada beberapa karakter.
"italic"dalam hati
Enjoy the story...
Expectation
Langit begitu cerah, begitu biru hingga membuat laut yang menjadi cerminnya semakin biru. Kicauan burung-burung yang bertengger di dahan pohon ek menembus gendang telinga orang-orang yang telah terjaga, menjadi musik bagi yang menikmatinya. Oops. Tampaknya kita salah scene, karena hari ini dimulai dengan pagi yang sangat suram dan tanpa kicau burung. Matahari tampaknya sedang malas untuk memunculkan diri, terbukti dari langit yang nampak sangat gelap dan temperatur udara yang terus menurun walau hari semakin siang. Dapat dipastikan hujan akan segera turun, dan hujaman hujan di Konoha tidak pernah tanggung-tanggung . Tapi, bukan itu yang membuat paginya begitu suram.
"Narutooo~"
…
"Sudahlah anata, nanti juga dia keluar sendiri."
"Tapi Ku-chan…"
"Kau berangkat saja ke kantor, telingaku sudah panas mendengar rengekan mu sejak pagi." Kushina tidak tahan lagi, suaminya lebih parah dari Naruto saat merengek.
Ahh, rupanya Naruto sedang marah pada ayahnya, alasannya sudah jelas karena Minato lupa ulang tahunnya. Bagaimanapun Minato berusaha untuk berdamai, bujuk rayunya sama sekali tidak mempan pada Naruto kali ini. Jelas, semalam Naruto sudah merengek pada ibunya untuk dibelikan ramen dan coklat. Anaknya memang agak kalap kemarin, walau begitu Kushina senang-senang saja memenuhi rengekan anak tercinta.
Minato sudah habis akal. Salahnya memang melupakan hari penting anaknya, sesibuk dan sesempit apapun waktu luang yang ia miliki, seharusnya ia tidak melupakan yang satu itu. Ditambah lagi semalam ia pulang terlalu larut karena menunggui anak yang baru ia ketahui namanya itu, Sai.
Setelah mengetahui kondisi Sai, ia tidak bisa pulang begitu saja. Menurut dokter yang menanganinya, kondisi Sai cukup parah -itu sudah jelas- lengan dan pergelangan tangan kanannya terkilir, belum lagi tulang pinggulnya yang mengalami sedikit pergeseran, diperparah kondisi analnya. Efek paling ringan adalah demam sedangkan kasus terburuknya adalah gejala traumatis yang berujung pada trauma fisik maupun mental dan gangguan mental, tidak mengejutkan bagi Minato setelah ia tahu apa yang telah dialami oleh Sai. Untuk itu ia pergi menemui psikolog anak-masih dirumah sakit yang sama- dan menanyakan apa saja kemungkinan-kemungkinan yang akan dialami oleh Sai, sekedar memastikan saja. Dia sendiri tidak tahu berapa banyak pertanyaan yang ia ajukan hingga memakan waktu dua jam, setelah itu ia kembali ke kantor polisi untuk menambahkan tuduhannya terhadap Danzo. Berakhir dengan anaknya yang merajuk.
Dan sikap Kushina sama sekali tidak membantu.
.
Tembok putih dengan beberapa lukisan tokoh kartun anak-anak menjadi pemandangan pertamaku saat cahaya menubruk retinaku, aku sudah tidak asing lagi dengan pemandangan ini. Entah sudah seberapa sering aku berada di ruang seperti ini, membosankan. Bisa ku tebak, sebentar lagi orang yang datang dan melihatku akan memasang wajah itu. Wajah yang bertopengkan mimik seolah mereka khawatir dan peduli padaku, tapi tak pernah sekalipun mengulurkan tangan mereka padaku. Hal itu jauh lebih memuakan dibanding bebauan yang menusuk indera penciumanku saat ini, bahkan aku sudah gatal ingin mencabut infus di tanganku.
"Apa ada yang sakit?", siapa dia? Aku tak pernah melihat pria berambut putih ini, mungkin orang baru.
"Tidak apa paman, tidak perlu cemas.", aku menyukai paman ini. Wajahnya datar sekali, tapi justru menyenangkan bagiku untuk melihat tidak adanya ekspresi disana. Tebakanku tidak tepat, tidak ada mimik menyebalkan yang muncul pagi ini. Eh, apa ini masih pagi? Entahlah, aku tidak begitu peduli. Aku lebih senang memikirkan cara untuk berteman dengan paman ini. Dari mana harus ku mulai? Ah, biasanya orang-orang memulai dengan nama.
Berkebalikan dengan suasana hati Sai yang begitu riang seakan mendapat mainan baru, Kakashi justru sedang bingung saat ini. Jangan hiraukan wajahnya, kau tidak akan mendapat informasi apapun disana.
Kakashi tak yakin harus menganggap senyum anak itu sebagai pertanda baik atau buruk. Kemarin malam Minato jelas mengatakan bahwa kemungkinan besar mental anak itu akan terganggu pasca apa yang dialaminya, tapi baru saja anak itu-Sai-tersenyum padanya. Senyumnya seolah mengatakan tak ada yang salah pada dirinya, pada semua situasi ini. Sudahlah, yang penting suhu tubuh Sai sudah jauh lebih baik dari kemarin malam. Ia tidak mau ambil pusing, kepalanya masih pening karena kurang tidur.
"Paman, nama paman siapa?"
"Kakashi."
Itulah awal dari obrolan satu arah antara Sai dan Kakashi, apa anak ini tidak bosan bicara dengan Kakashi? Kakashi sendiri sangat jarang mengeluarkan suaranya, seandainya keluarpun hanya sepatah dua kata.
"Paman Kakashi, apa ji-sama tidak datang?" Entah hanya perasaannya saja atau memang suara anak itu mengecil sekarang.
"Siapa yang kau maksud?"
"Kau tidak bekerja untuk ji-sama? Lalu siapa yang membawaku kesini?"
"Apa yang kau maksud Shimura Danzo?" Dan Kakashi yakin suara Sai memang semakin pelan saat menjawab "Ya" atas pertanyaannya. Mukanya masih –walupun sulit- dikategorikan ramah, jadi bisa dipastikan Sai bukan takut padanya. Lagipula ia terlihat senang-senang saja saat membanjirinya dengan pertanyaan sejak tadi. Ia akan mencari tahu hubungan Danzo dan anak ini nanti, sekarang ia harus mendekati anak ini untuk mempermudahnya nanti.
"Kau mau apel?"
"Sulit mengupas apel dengan satu tangan," Mengerling sejenak pada tangannya yang digips, ia melanjutkan perkataannya "apa paman bisa mengupasnya untukku?"
Hahh anak ini memang pintar menggunakan senyumnya, "Baiklah, tunggu sebentar."
"Huum"
.
Menjadikan tangan kirinya sebagai bantalan kepalanya, ia mulai mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi semalam. Sekarang ji-sama pasti sedang marah padanya karena semalam ia tertidur, ya pasti karena itu. Ughh, ini menyebalkan. Kakashi tidak terlihat buruk, hanya saja pria itu terlalu kaku. Sai tidak suka, ia ingin pulang.
Saat pintu kamar mandi berderit dan derap pantofel konstan mulai mendekatinya, seketika itu juga benang pikirannya yang sempat terurai berantakan ditarik paksa untuk kembali menggulung. Itu Kakashi, dengan apel dan pisau buah yang baru ia cuci di tangan kanannya. Kulit buah merah itu masih basah oleh jejak air yang tertinggal, sekilas permukaannya memantulkan kilatan di kedua iris hitam Sai.
.
Seperti yang sudah dikabarkan berita pagi tadi, hujan deras benar-benar mengguyur Konoha. Ia suka hujan, sangat. Biasanya ia akan langsung mengenakan sepatu boot karet orangenya dan berlarian di bawah guyuran air hujan yang baginya tampak seperti tirai bening di sekeliling tubuhnya, melompat ke setiap kubangan air yang ia temui. Pengecualian untuk kali ini, hidungnya sudah tersumbat karena kelenjar di hidungnya terlalu banyak memproduksi lendir. Kini ia mulai menyesali aksinya menangis semalaman, ia tidak tahu hujan akan turun hari ini.
Tapi duduk di depan perapian dengan segelas cokelat panas juga tidak buruk, selain itu ia akan langsung ambruk kalau sampai nekat bersentuhan dengan udara dingin di luar sana. Jadi, ia harus puas dengan situasinya saat ini. Duduk bersama ayah dan ibunya sambil menikmati hangat yang menjalar dari perapian di depan mereka sama sekali bukan ide yang buruk, jangan lupakan bantalan kapas nyaman yang menyangga tubuhnya, dan dengan satu tegukan cokelat hangat semuanya akan terasa sempurna. Bisa dibilang ia sedang terlena dengan kenyamanan yang ia rasakan saat ini, sangat nyaman. Jangan dibayangkan, nanti iri. Ayahnya juga sudah meminta maaf dan menjelaskan kejadian kemarin, jadi sudah tak ada alasan baginya untuk terus merajuk. Ia juga sudah tak tega melihat wajah jelek ayahnya yang ia intip dari lubang kunci, ingus bahkan hampir mengalir ke dalam mulutnya. Seperti anak kecil saja, membayangkannya membuatnya kembali mual.
Hei! Bicara soal anak, ia jadi ingat ayahnya ada menyebut nama sesorang tadi. "Tou-chan! Sai itu siapa? Kenapa namanya aneh?" Entah sudah berapa banyak namanya disebut oleh ayah, lama-lama ia kan jadi penasaran. Ia masih kecil ingat? Anak kecil selalu ingin tahu.
"Dia anak yang tou-san bawa ke rumah sakit."
"Apa dia sepertiku? Seumuran denganku?"
Rasa penasaran Naruto membuat obrolan mereka mengalir dan topiknya tak jauh-jauh dari Sai, ditimpali candaan di sana dan di sini. Hampir semua hal sudah Naruto tanyakan pada ayahnya, bagaimana ciri fisiknya, seberapa tingginya Sai, apa ia ramah, dan lain sebagainya. Minato sendiri heran dengan kelakuan anaknya yang bisa dibilang terlalu bersemangat menanyainya tentang anak yang ia tolongnya kemarin. Pertanyaan Naruto pun hanya ia jawab seadanya, minus kondisi Sai saat ia bawa ke rumah sakit. Kushina sendiri hanya menyimak saja, ia senang saat melihat Naruto bersemangat membicarakan anak seumurannya. Dari penjelasan Minato, sebenarnya Kushina mempunyai pemikiran sendiri soal anak bernama Sai yang sedang asik mereka bicarakan ini. "Naru, mau coba bertemu dengan Sai?" Tanyanya halus, dan pertanyaannya barusan disambut dahi berkerut suaminya.
"Mauuu! Can I?" Matanya berbinar memandang Kushina, kemudian kelereng bundarnya bergulir menoleh pada ayahnya.
"Kita lihat nanti ya Naru, Sai mungkin masih butuh istirahat."
"Okay dad!" Ia mengacungkan jempolnya, disusul ciuman di pipi ayah dan ibunya.
Minato bisa saja membawa mereka menemui Sai saat ini juga, Kakashi sudah memberitahunya lewat e-mail kalau Sai sudah sadar. Tapi, e-mail kedua dari Kakashi membuatnya ragu, pria itu mengatakan sesuatu yang aneh tentang Sai dan memintanya untuk segara datang ke rumah sakit secepatnya.
.
Binar di kedua iris bundar Naruto tak henti memantulkan kemilau api di perapian, otaknya terus mengirimkan bermacam spekulasi akan pertemuannya dengan Sai nanti. Meski ia tidak dapat membayangkan wajahnya, hanya dengan mendengar nama dan cerita dari ayahnya saja ia sudah menyukai anak itu. Ia selalu menginginkan teman. Baginya teman sama seperti barang di rak yang tinggi, seperti apapun ia mendambakannya, ia tidak bisa menggapainya. Ia seorang gaijin. Sebaik apapun ia bersikap, tetap sulit baginya untuk mendapat teman walau hanya seorang. Bukan berarti ia tidak punya teman seorang pun, ia punya meski sedikit. Orang tuanya tidak tahu soal ini, lagipula ia bisa mangatasi masalah ini sendiri. Ini bukan masalah besar bukan?
.
Saat ini, seorang dokter wanita tampak frustasi menghadapi pria aneh yang berdiri tepat didepannya. Alis menukik tajam dibawah dahinya yang berkerut, garis bibir merah gincunya sudah sangat tipis.
"Sudah ku katakan sebelumnya, kemungkinan besar psikis nya akan terganggu bukan?" sekali lagi ia menocba menjelaskan, entah untuk yang keberapa kalinya.
Wanita pirang itu menghela napas, lelah memberi penjelasan pada dua pria aneh di hadapannya. Sebenarnya hanya satu yang aneh, yang satu lagi baru datang beberapa menit lalu dengan tampang bodoh. Tampaknya ia sendiri masih belum mengerti dengan permasalahan yang ada, juga dengan kelakuan teman berambut putihnya.
"Anak itu sengaja. Kilatan itu jelas-jelas ada di matanya!" Pria satu ini terus mengulangi perkataanya, ia juga sudah bosan mendengarnya berulang kali.
"Kumohon ten…", Tsunade memijat keningnya. Ucapannya tidak pernah selesai sejak tadi, kesabarannya sudah hampir mencapai batas.
"Dia meremas penisku! Penis!" Sedari tadi, kata penis selalu diikuti penekanan paling kuat. Dia pikir siapa yang tidak tahu arti dari lima huruf itu.
"Tuan kumohon anda tenang sekarang." Pertama, pria ini harus ia tenangkan terlebih dahulu. Kalau perkataannya masih tidak mempan, ia akan menggunakan caranya sendiri.
"Demi Tuha…" Kali ini Kakashi tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena abdomennya sudah terlebih dahulu dihantam Tsunade.
"Dia benar Kakashi. Kontrol dirimu, ini unit anak-anak."
Kakashi adalah satu dari sekian banyak orang yang hidupnya kelewat santai, jadi Minato tidak menyangka racauan Kakashi dapat berimbas pada saraf-saraf otaknya.
"Tapi…"
"Diam. Biarkan nona Tsunade menyampaikan penjelasannya, racauanmu hanya membuat kepalaku pening."
Tsunade yang melihat situasi mulai tenang pun mengeluarkan dokumen yang telah ia siapkan, hasil pemeriksaan Sai tadi pagi. Dan Minato rasa dadanya baru saja bersingungan dengan defibrilator setelah mendengar penjelasan dari Tsunade, sedangkan Kakashi masih sibuk dengan dunianya sendiri.
.
Minato sudah berdiri di sana cukup lama, berdiri di balik kaca yang menjadi pembatas lorong rumah sakit dengan kamar rawat Sai. Mengamati interaksi antara dua orang anak didalam sana, terlihat akrab walau masih canggung satu sama lain. Senormal apapun interaksi di depannya, rasa bimbang dan khawatir tak dapat ia cegah untuk mengalir. Naruto sedang bersama anak itu, anaknya ada di dalam sana. Naruto tidak boleh berada disana lebih lama lagi, tidak dengan Sai bersamanya. Sai baru saja mengalami serangan panik beberapa saat lalu, kemungkinan karena penolakan dari Kakashi. Kurang lebih itu yang ia tangkap dari penjelasan singkat Tsunade, sebelum wanita itu terburu-buru membantu para perawat yang mulai kesulitan menangani Sai.
Ia baru saja akan masuk kedalam untuk mambawa anaknya pulang, tapi sedetik sebelum gagang pintu tersentuh oleh jemarinya, tangannya sudah lebih dahulu ditarik mundur oleh seseorang. Ternyata Kushina.
"Ikut denganku." Minato tidak punya pilihan selain mengikuti istrinya, bukan tanpa alasan ia memilih mengikuti Kushina ketimbang langsung membawa pulang anaknya. Ia mengenal baik istrinya, dan Kushina tidak akan memasang raut wajah seperti itu kecuali ia akan membicarakan hal penting.
"Aku akan mengadopsi Sai." Satu kalimat darinya sukses memancing segala kontradiksi yang dapat dihasilkan otak Minato, seperti boneka berisi permen yang kau hantam dengan pemukul kayu.
"Dengarkan aku. Sai bukan pilihan yang tepat Kushina, kita bisa mencari anak lain yang lebih manis diluar sana."
"Minato, aku sudah tau tentang anak itu. Alasan kau membawanya kemari, dan apa yang dideritanya. Ini bukan soal manis, aku ingin anak itu. Ia bisa menjalani terapi, dan semuanya akan baik-baik saja."
Kali ini ia sama sekali tidak mengerti dengan keinginan Kushina. Mereka bisa memilih anak lain yang lebih normal, jika memang ingin mengadopsi anak. Kenapa harus Sai? Kushina sendiri tidak dapat memberikan jawaban atas pertanyaan suaminya, ia hanya merasakan dorongan yang kuat untuk keinginannya itu. Ia ingin merawat Sai, perasaan itu muncul begitu saja ketika melihat interaksi antara anaknya dan Sai.
"Tunggu hasil terapinya. Jika menunjukan hasil yang baik, kita bawa ia pulang. Ini keputusan akhirku, setuju atau tidak sama sekali." Minato tersenyum di akhir kalimatnya, dan Kushina tidak bisa mengelak dari perasaan lega yang membuncah di dadanya. Minato pernah tidak mempercayai wanita yang dicintainya itu, dan ia menyesalinya hingga kini. Ia hanya bisa meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja, keluarganya akan baik-baik saja.
.
"Jadi kau bersekolah di Konoha Primary school? Dulu juga aku bersekolah disana."
"Benarkah? Apa Sai memiliki banyak teman?"
"Huum, di sana menyenangkan. Tapi aku harus menemani ji-sama, jadi aku harus tetap tinggal di rumah. Bagaimana denganmu?" Sai tampak sedikit menerawang, mungkin dia sedang mengenang masa-masa sekolahnya. Bagaimanapun itu adalah masa-masa menyenangkan baginya, bagi sebagian besar anak lainya.
"Entahlah. Ayo, ceritakan tentang teman-temanmu."
"Aku tidak begitu ingat nama-nama mereka, itu sudah lama sekali." Wajahnya yang sempat berbinar tadi, kini berubah murung. Aku harus mencari topik lain!
"Sai, matamu bagus." Bodoh, Naruto bodoh, suara kekehan Sai sudah memenuhi ruangan tempat mereka berada saat ini. Sekarang aku pasti terlihat konyol. Masa bodohlah, yang penting Sai tetap mau bicara padaku.
"Terimakasih, tapi aku lebih menyukai matamu. Birunya terlihat seperti langit musim panas." senyum. Woahh, dia tersenyum!
"Eum, apa kau mengejekku?" Astaga! Aku terlalu malu sampai kelepasan, bagaimana ini!
"Naruto,"
"Naruto,"
Mulutku baru saja akan terbuka untuk membantah perkataan Naruto, tapi tidak jadi saat mendengar namanya dipanggil seseorang.
"Halo Sai," Perempuan itu tersenyum padaku, matanya ikut melengkung seperti bulan sabit. Rambutnya merahnya tergerai menyentuh pinggulnya, dia cantik sekali.
"Ya bu?" Apa perempuan ini ibu naruto? Wajahnya mirip sekali dengan Naruto.
"Tolong bantu ayahmu dulu, ia kesulitan mencari cafetaria rumah sakit." Tampaknya ia sedang kesal, ada helaan di akhir kalimatnya. Tapi kenapa ia tersenyum begitu?
Kenapa ia mendekatiku? Dan tersenyum lagi padaku? Apa wajahnya tidak lelah, pipiku saja sakit saat terlalu banyak tersenyum.
"Kenapa anda tersenyum terus? Apa pipi anda tidak sakit?" kenapa sekarang ia justru tertawa?
"Tidak, wajahmu tidak akan sakit untuk tersenyum." Suaranya halus.
"Tapi pipiku sakit saat terus-menerus tersenyum."
"Yang harus kau lakukan hanya tersenyum dengan tulus, maka rasanya akan menyenangkan untuk terus menerus tersenyum pada seseorang ataupun sesuatu." Aku tidak mengerti ucapannya.
"Sai apa kau mau menjadi anakku?" Hanya pertanyaan kenapa yang keluar dari mulutku untuk menjawabnya.
Di balik pintu, seorang penguping kecil dengan surai pirangnya terlonjak atas apa yang didengarnya. Ia tidak tahu harus bagaimana untuk menyalurkan perasaan bahagia di dadanya, perutnya bahkan ikut melilit. Tangannya terulur untuk menyetuh jantungnya yang berdegup kencang, ia tidak sadar masing-masing sudut bibirnya telah tertarik membentuk senyum yang menampakan gigi-gigi susunya. Melihat ekspresi putranya, Minato tak bisa menahan perasaan bahagia yang ikut menjalar ke dadanya. Ia hanya berharap keputusannya sudah tepat. Ya, semuanya akan baik-baik saja. Semua penyakit bisa disembuhkan, Sai akan sembuh dengan terapinya. Itu hanya Sexual Control Disorder, ini tidak akan jadi masalah.
.
"Apa kau yakin menginginkanku nyonya?", Kushina tidak menyangka akan mendapat pertanyaan itu.
"Kenapa aku harus ragu? Kau anak yang manis, dan sopan tentunya."
"Tidak apa nyonya, aku mengerti latar belakangku. Apa yang dilakukan tuan Danzo selama ini, aku mengerti. Aneh rasanya ada yang menginginkanku." Sai mengatakan semuanya dengan tenang, ia tidak malu atas kehidupannya. Nyatanya itulah kehidupan yang ia pilih, dimana dirinya diinginkan oleh seseorang.
"Jadi apa ji-sama baik-baik saja? Dia orang baik, mohon anda jangan terlalu membebaninya. Apa yang ia lakukan pada saya selama ini semata-mata balas budi saya atas kebutuhan saya yang beliau pen…"
Bibirnya berhenti bergerak, terkejut dengan dua lengan hangat yang kini tengah merengkuh pundaknya. Tubuhnya dapat merasakan jalar kehangatan dari tubuh yang mendekapnya. Ada lelehan hangat mengalir di permukaan dadanya, apa ia mimisan lagi? Ia menyentuh hidungnya, tidak ada apapun disana. Tubuh di depannya terasa mulai bergetar, dan ia bisa mendengar isakan halus di bawah dagunya. Apa ia menangis?, rengkuhannya pun semakin erat. Hangat. Ini sangat hangat. Tubuhnya tanpa sadar bergerak, mencoba untuk tenggelam dalam rengkuhan wanita di depannya, berusaha menyelami kehangatan yang ditawarkannya.
"Apa anda benar-benar menginginkanku?" Pertanyaan terakhir dari Sai menjadi jawaban "ya" bagi Kushina, dan awal dari segalanya.
.
.
ToBeContinued
Side story
"Demi Tuha…", ia tak dapat menyelesaikan kalimatnya. Bukan, ini bukan karena sakit di tubuhnya. Sakit yang dirasakannya sama sekali tak sebanding dengan apa yang menjadi fokus retinanya. Walaupun abdomennya terasa sakit luar biasa, matanya begitu dimanja dengan kulit mulus yang membungkus bongkahan dada milik wanita yang tangannya menjadi penyebab nyeri di abdomennya. Mulus dan terlihat kenyal, dan lihat mata biru dan helaian pirangnnya yang menjuntai! Dia…dia sempurna.
"Dia benar Kakashi. Kontrol dirimu, ini unit anak-anak." Huh?
"Tapi…" Ia bahkan tidak menyentuh benda kenyal dihadapannya, ini kontrol diri terbaik yang pernah Ia lakukan.
"Diam. Biarkan nona Tsunade menyampaikan penjelasannya, racauanmu hanya membuat kepalaku pening."
Tsunade? Seperti pernah dengar. Dimana ya?
"Permisi. Kapan anda akan keluar dari ruangan saya?" Dengar, suaranya pas sekali! Dan apa-apaan ekspresi itu, ia bisa mimisan sekarang juga. Dia persis tokoh wanita di novel kesukaannya belakangan ini. Sepertinya Kakashi terlalu sibuk dengan lamunannya, hingga tak menyadari waktu yang telah berlalu.
Oh tidak.
"Permisi? Anda sudah 3 jam di sini."
"Maaf, apa anda kenal dengan Jiraiya-san?", katakan tidak kumohon!
"Tentu, dia teman saya saat kuliah dulu. Apa anda cucunya?"
Dan citra Kakashi di depan Tsunade semakin aneh ketika pria itu tiba-tiba berdiri dari duduknya, kemudian lari keluar dari ruangannya seperti orang kesetanan.
End.
Well yeah akhirnya up new chapter!
Gimana-gimana? Seberapa banyak typonya?wkwk Maaf ya yang chapter1 banyak diedit soalnya baru sadar itu typonya banyak banget ditambah terlalu datar. Dan side story itu cuma iseng-iseng aja, soalnya pengen banget bikin Kakashi yang sesuai imajinasi saya wkwkw..
Oke, sebenernya ini masih mau dibikin langsung masuk ke awal cerita supaya lebih panjang. Tapi saya hapus lagi karena ga "sreg". Seperti biasa, kalau ada krtitik dan saran silakan mereview
Dan terima kasih untuk yang sudah menyempatkan diri untuk review ^^
PinkeuShuu : Jahatnya Danzo itu pembentuk awal ceritanya loh..
Kita Nakamura : Aminnn. Semoga ini makin baik dan menarik kedepannya.
Dan untuk kritik keras seperti nona mesha new, sekali lagi saya ingatkan kalau saya nerima segala jenis pendapat. Dengan syarat itu kritis dan berdasarkan fakta, soal sopan itu relative. Jadi jangan takut untuk mengkritik ^^, dan makasih juga untuk yang sudah mampir/fav/fol. Buat yang baca curcol ini ada sedikit bocoran, NaruSai itu cuma selingan.
Ps: buat yang ada masalah dengan fic ini kedepannya, tinggal klik pm button diatas.
19 agustus 2016
