Wrong Option

Naruto © Masashi Kishimoto

The story belongs to me.

Pairing: Narutoxsomeone, others…

Genre: School life, angst,…

Rate : T-M

Warnings! Mengandung boys love, bisa jadi OOC pada beberapa karakter.

Enjoy the story...


The Beginning

Sai POV

"Mulai sekarang kau adalah bagian dari keluarga ini, selamat datang."

"Kami menyayangimu seutuhnya."

Itu adalah kata-kata yang pertama kali mereka ucapkan ketika aku resmi menjadi bagian dari mereka. Apa yang kurasakan? Tentu saja bahagia, dasar bodoh. Apalagi yang bisa kuharapkan lebih dari orang-orang yang menginginkanku dengan tulus? Kurasa tak ada.

Aku benar-benar bahagia, hingga semuanya mulai muncul ke permukaan.

"Kami akan membuatmu menjadi lebih baik."

Itu adalah kata-kata kedua mereka, yang ku ingat.

Bukankah kalian menerimaku seutuhnya? Menyayangiku seutuhnya? Kenapa sekarang ingin mengubahku?

Saat itu aku hanya menutupi seruan-seruan dalam diriku dengan beranggapan mereka mengharapkan yang terbaik untukku, dan semuanya masih dan akan tetap baik-baik saja.

Kemudian mereka membawaku ke suatu tempat, sebuah bangsal. Dari luar terdengar begitu ramai walau terasa begitu sunyi. Masuk kedalamnya, maka kau akan mengerti tempat apa ini. Seorang wanita menjerit-jerit dalam kukungan orang-orang berjubah putih, seorang pria berbicara seorang diri, sebagian tertawa entah pada apa, sebagian menangis dalam jeritan pilu. Kedua fungsi tungkaiku mendadak terhenti, tak bisa melawan medan gravitasi di mana kakiku menapak, penglihatanku terpaku pada apa yang kini ada di sekelilingku, jeritan, tangis, tawa, bagai kaset rusak yang terus berulang dalam kepalaku. Rasanya seperti berada di atas kepingan piring kuno yang terus berputar. Rasa tak tenang perlahan muncul, disusul sesak yang perlahan mencengkramku, aku ingin keluar. Aku sangat ingin keluar dari sini.

Ajaibnya, tungkaiku kembali bergerak mengikuti langkahnya ketika ia menyebut namaku. Hanya dengan ia menyebut namaku, aku merasa tenang. Apa ini black magic? Mereka masuk dalam sebuah ruangan. Sebagai anak yang baik aku diminta untuk menunggu di luar, hanya sebentar katanya. Yang tidak ku ketahui adalah, saat mereka keluar segalanya akan berbeda untukku.

.

"Tinggallah di sini untuk beberapa waktu, kami akan kembali datang menjemputmu pada waktunya nanti.", ia tersenyum padaku. Tidak seperti biasanya, kini senyumnya perlahan membuatku mulai takut.

"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu pergi! Jangan tinggalkan aku, kumohon!" Aku mulai menjerit, berusaha menggapainya, berusaha melepaskan diri dari tangan-tangan yang menahan pergerakanku. Berusaha berpijak untuk dapat mengejar langkahnya yang menjauh. Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya air mataku kembali mengalir. Mereka terus dan semakin manjauh, seakan jerit dan tangisku tak pernah ada.

"Kau menyayangiku. Kenapa meninggalkanku?" Kali ini hanya lirihan kecil, tapi berhasil membuatnya menatapku. Hanya sejenak, dan itu menyakitiku. Kemudian air mata membuat semuanya semakin buram, kurasakan benda dingin menembus epidermis kulitku, bersamaan dengannya kesadaranku hilang begitu saja.

.


Aku telah mengalami tahun-tahun yang berat selama tinggal bersama orang-orang pesakitan ini, orang sehat pun bisa menjadi gila jika tinggal di sini.

Mau kuceritakan? Kau dengar atau tidak, aku akan tetap bercerita. Sejak awal orang-orang berjubah putih itu selalu menekanku setiap saat, menyuntik ketika tangisanku mulai mangalun, mengikatku saat gelisah, dan semuanya membuatku takut. Aku benar-benar takut hingga tak berani untuk mengeluh, bahkan bicara. Hingga kutemukan cara untuk membuat mereka memenuhi semua kebutuhanku. Berilah mereka sesuatu saat kau menginginkan sesuatu, semudah itu. Kini semua terasa wajar bagiku, dan aku mulai menikmati segalanya. Masalahnya hanya satu. Hari ini, mereka akan kembali menjemputku. Bagi mereka semua aku telah "membaik", harapan yang mereka bebankan padaku telah terpenuhi.

Sekarang, giliranku untuk menunjukkan pada mereka bahwa sedari awal aku tak pernah rusak. Setidaknya setelah mereka mengadopsiku.

.

.

Kurva bibirku terangkat ketika melihat dua sosok yang selalu kuingat setiap malam dalam tidurku, sosok yang datang sebagai mimpi buruk. Kau tahu saat ini mereka tersenyum menyambut diriku yang baru, menceritakan begitu banyak hal. Mengatakan rindu. Rindu yang tak tertahankan, katanya.

"Kami merindukanmu Sai."

Dan aku menolak untuk mempercayainya. Rindu yang mereka elu-elukan itu hanya sebatas tiga kata dalam sebuah kalimat bagiku, tak berarti.

Jangan salah sangka. Aku tidak menaruh dendam pada mereka, tidak sedikitpun. Usiaku sudah menginjak 13 tahun, cukup dewasa untuk memahami keputusan mereka untuk menitipkanku di sana. Hanya saja aku yang baru ini sudah tak mempan dengan kata-kata yang mengatasnamakan ketulusan dan kasih sayang, inilah diriku yang baru.

Terimalah, suka ataupun tidak. Aku bahkan tak perduli.

.

ToBeContinued.

.

Yah ini memang singkat banget buat update yang begitu lama, karna sisanya akan saya sisipkan di plot-plot yang terpisah sebagai flashback.

Dan di chapter depan sudah beda masa ya. Di sini masih 13 tahun, tapi chapter depan sudah masa SMA. Mungkin akan sedikit bingung, karena di masa SMP itu ada satu plot penting yang bakal di ceritain sebagai flashback. Alasannya agar alur cerita yang ada tidak keluar dari gagasan utamanya sendiri. Oh buat yang bingung, ini total point of view nya Sai.

Dan alasan saya kenapa lama adalah karna setengah plot ch4 sudah jadi, yeay! #slapped

Terimakasih yang sudah baca note saya dan review. ^^

Tenang aja walau selingan hubungan NaruSai itu bukan hubungan satu malam, jadi jangan takut moment mereka akan sedikit yaaa.

14 September 2016