Wrong Option

aku yang baru ini sudah tak mempan dengan ucapan manis yang mengatasnamakan ketulusan maupun kasih sayang. Inilah diriku yang baru.

Terimalah, suka ataupun tidak. Aku sudah tak peduli.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

The story belongs to me.

Pairing: Narutoxsomeone, others…

Genre: School life, angst,…

Rate : T-M

Warnings! Mengandung boys love, bisa jadi OOC pada beberapa karakter.

Enjoy the story…

Seeing the Truth.

Digit digital telah menunjukan pukul setengah lima dini hari, hitamnya langit memudar seiring munculnya biru yang siap menyambut kedatangan sang mentari. Dalam sekejap, malam yang singkat telah kembali berlalu, kini waktu bagi sebagian orang untuk memulai harinya kembali. Sama halnya dengan seorang remaja tanggung yang terpaksa membuka kelopak mata berat miliknya, dibuat terjaga sepenuhnya oleh dering alarm pagi. Kedua iris biru yang mengintip dari balik kelopak matanya tampak begitu kusam, binarnya seakan telah sirna oleh rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya. Bahkan hangatnya ruangan dan ranjang yang nyaman seperti kehilangan daya tarik mereka, hingga tak mampu membuat pemiliknya jatuh dalam tidur lelap di ruangan segelap ini.

Dengan kondisinya yang masih setengah sadar, ia menyeret kedua tungkai jellynya untuk melangkah ke kamar mandi. Tubuhnya sedikit tersentak ketika dingin lantai kamar mandi menyentuh telapak kakinya, desisan kecil keluar dari bibirnya sebagai respon dari otaknya atas rangsangan yang baru saja ia terima.

"Oh, kau sudah bangun?", tanya seorang pemuda bersurai hitam padanya.

"Ya."

"Cuci muka dan sikat gigimu Naruto, kau berantakan."

"Hmm.", hanya gumaman kecil yang ia berikan sebagai jawaban.

.

Seperti yang dikatakan oleh Sai, nafas dan wajahku benar-benar terlihat menyedihkan saat ini. Cuci muka tidak akan cukup untuk menghilangkan kantung hitam di bawah mataku, dan pula aku masih sangat mengantuk. Dan sialnya lagi, ada orang kurang kerjaan yang mencoba membuat perkara denganku di pagi buta seperti ini.

"Sai, kau lihat sikat gigiku?"

"Ah, ternyata masih bisa bicara. Kukira kau sudah gagu, Naruto." Dapat ku lihat dengan jelas ekspresinya saat ini, lucu sekali melihat sarkasme disertai senyum semanis itu.

"Kemarikan."

"Maaf Naruto, tapi sikatmu jatuh ke toilet.",Jari telunjuknya terangkat menunjuk lubang kloset, tepat di mana sikat gigiku berada. Candaan yang benar-benar lucu.

Satu pukulan keras kulayangkan tepat di bagian belakang kepalanya, sebelum melanjutkan kegiatanku yang sempat tertunda. Kudengar dirinya mengaduh dan melayangkan protes, sambil mengusap-usap bagian kepalanya yang kupukul tadi. Masa bodoh. Jelas sekali itu ulahnya, lain kali ia harus belajar cara menyembunyikan kedutan jahil di wajahnya saat mengerjai orang lain. Sudahlah tak ada untungnya terus mengumpati anak satu itu, masih banyak hal penting lain yang harus diurus.

.

.

Tepat ketika Naruto selesai berkumur dan akan bertolak dari wastafel, bibirnya langsung dibungkam penuh oleh bibir pemuda di sampingnya. Berawal dari lumatan-lumatan ringan, berubah menjadi lumatan yang penuh dengan nafsu akan satu sama lain. Entah sejak kapan lidah ikut berpartisipasi dalam pergumulan bibir keduanya, lelehan saliva mengalir dari celah bibir keduanya. Tangan Sai telah beralih menekan tengkuk Naruto, berusaha memperdalam tautan bibir mereka, menyatukan gairah yang perlahan mengikis rasionalitas keduanya. Jemari Naruto telah aktif bergerak menelusuri lekuk pinggang Sai, telapak besarnya memberikan kehangatan lewat setiap sentuhannya. Jemarinya ia bawa menelusup di antara celah bokong Sai, menggesekan jemarinya pada anal pemuda itu, sesekali menggodanya dengan menusukan kuku-kuku jemarinya, menghantarkan jutaan rangsangan yang di respon baik oleh tubuh dalam rengkuhannya. Hanya kepuasan yang kini menjadi fokus keduanya, otak mereka seakan kehilangan fungsinya begitu saja, hingga pikiran dan tubuh mereka hanya dapat merasakan dan merespon sentuhan akan satu sama lain. Itulah saat dimana panasnya gairah telah membakar habis akal sehat setipis kertas milik keduanya.

Erangan tertahan mengalun dari bibir Sai yang telah memerah dan basah oleh saliva, menyampaikan birahi yang mengekangnya. Seakan godaanya belum cukup, Naruto menggesek dinding rektum milik Sai dengan jarinya dalam tempot lambat. Bibir Sai yang telah memerah dan basah ia kulum bergantian, atas dan bawah, terus seperti itu sampai ia puas. Gigitan dan hisapan tak jarang ia berikan pada bibir Sai yang kini makin memerah. Rengkuhan Sai pada leher Naruto mengerat, kepala penisnya menekan selangkangan Naruto tanpa sadar.

Secara sengaja ia hembuskan nafas hangatnya di leher Naruto, bersamaan dengan desahan dan bisikan rendah yang ia sampaikan. "Kau sangat menggoda saat bangun tidur,dengan wajah dan rambutmu yang masih berantakan." Ia bawa tangan kanan Naruto berhadapan dengan mulutnya, dengan tatapan sensual ia jilat dan kulum jari tengah dan telunjuk Naruto.

"Benarkah? Kau menikmatinya?" Suaranya yang menjadi lebih rendah juga deru nafas yang terdengar hampir di setiap perkataanya, adalah bukti apa yang Sai perbuat berhasil membawa efek pada tubuhnya.

Belum puas dengan respon yang ia terima dari Naruto, lidahnya bergerak melumuri kedua jari Naruto dengan salivanya, ia jilat perlahan dan ia gigit ujung jari tengah yang telah basah oleh saliva. Remasan kuat pada penisnya ia dapat sebagai balasan dari perbuatannya. Tanpa sadar pinggulnya telah ia gerakan untuk menekan jari Naruto dalam rektumnya agar masuk lebih dalam. Ia ingin lebih.

Tangannya bergerak menyentuh kulit tan di balik kaos pemuda itu secara langsung, di bawah telapaknya dapat ia rasakan otot-otot yang sudah terbentuk. Jemari-jemarinya bergerak naik ke atas, menyapa dada bidang milik Naruto, di kecupnya rahang kokoh pemuda itu. Kemudian tanganya kembali turun hingga menekan karet boxer yang Naruto kenakan, wajahnya menengadah menatap manik Naruto yang juga tengah menatap padanya. Tatapannya menjadi isyarat bahwa dirinya ingin melanjutkan permainan yang ia mulai, dan saat salah satu sudut bibir Naruto tertarik ke atas, ia tahu Naruto mengerti. Tubuhnya merendah bersamaan dengan karet boxer Naruto dalam genggamannya yang ia tarik turun, namun pergerakan tangannya terhenti saat Naruto menahan pergelangan tangannya.

"Kita harus bergegas, pagi ini ada ujian. Ingat?", suara rendah milik naruto menyapa pendengarannya. Hisapan dan jilatan ia terima di jakunnya sebagai sentuhan akhir, seketika ia menyadari dirinya telah dikerjai oleh pemuda pirang itu.

.

Sementara otaknya sibuk mengumpati pemuda pirang yang baru saja mengerjainya, kedua tangan pucatnya justru tengah sibuk menjamah tubuhnya sendiri, menyentuh titik-titik sensitive yanga ada di tubuhnya. Sentuhan telapak besar dan kasar Naruto masih membekas di permukaan kulitnya, reseptor di tubuhnya masih menginginkan panas dari sentuhan kasar yang sempat ia rasakan. Posisi tubuhnya kini tengah terlungkup dengan bokong yang terangkat ke atas, saliva telah mengalir dari sudut bibirnya. Sementara telapaknya aktif meremas dan memompa batang kejantanannya, di belakang sana jemari kurusnya memaksa untuk masuk dalam analnya sendiri, berusaha mencapai titik kenikmatan yang akan membawanya pada kabut nafsu. Nafasnya menderu seiring dengan birahi yang tak juga terpuaskan, desahan mulai tercampur dengan erangan frustasi akan birahinya. Jari-jarinya terlalu kurus untuk memenuhi rektumnya, ia membutuhkan lebih dari ini. Entah sejak kapan posisi vibrator telah menggantikan posisi ketiga jarinya, menghentakan rektumnya dalam tempo acak.

"Ahkk.. mnhh"

Mengabaikan rasa panas yang menjalar di dinding rektumnya, ia dorong dildo itu untuk masuk lebih dalam. Sesekali ia tarik keluar , kemudian dalam sekali hentak vibrator itu telah kembali menghujam rektumnya. Matanya yang terpejam kini menghadap langit-langit kamar mandi, seakan ikut terangkat birahi yang terus membumbung. Erangan tak pernah berhenti mengalir dari bibirnya, seiring dengan prostatnya yang terus bertubrukan dengan kepala vibrator. Penisnya yeng sempat ia abaikan kembali ia manjakan dengan tangannya yang bebas. Hanya kedua lutut dan pipinya yang kini menopang massa tubuhnya, membuat salive mulai mengalir dari bibirnya ke lantai kamar mandi. Sesekali buah pelirnya ia remas, lalu kembali memompa batangnya dengan tempo yang ia inginkan, kasar dan cepat. Dinding kaca di sisinya memantulkan bayangannya, kondisinya benar-benar terlihat seperti jalang-jalang di luar sana. Tapi untuk saat ini ia hanya dapat memikirkan dan membayangkan penis milik Naruto yang tengah menggagahinya, telapak besarnya yang menggenggam dan memanja penisnya, suaranya yang memberat karena birahi, dan deru nafas kacau milik Naruto yang menerpa tengkuknya. Hanya dengan membayangkannya telah mampu mebuat batang kejantanannya berkedut, ia benar-benar tampak menyedihkan.

Cairan precum semakin mengalir dari lubang penisnya, urat-urat di batang penisnya semakin berkedut, tanda bahwa ia sudah dekat dengan puncaknya. Jarinya bergerak untuk mengusap nipplenya yang menegang dengan ibu jari, kemudian ia pilin dan tarik dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. Bersamaan dengan tarikan pada nipplenya, dinding rektumnya ikut berkedut, menekan permukaan vibrator dalam rektumnya. Getaran yang ia rasakan di dinding rektumnya membawanya pada puncak birahi, mendorong semen keluar dari kepala penisnya.

"Naruu..ahnn"

Ketika penyokong tubuhnya kehabisan tenaga, dinginnya ubin kamar mandi langsung menyapa permukaan kulitnya. Dingin yang merambat di epidermisnya langsung berimbas pada penisnya, ini karena tubuhnya masih terlalu sensitive. Menghela napas sejenak atas keadaannya, ia kembali berdiri untuk membersihkan diri meskipun kakinya masih terlalu lemas. Sebenarnya ia ingin melanjutkan permainannya, sayangnya ia sudah kehabisan tenaga, dan lagi ada jam pagi yang harus ia kejar. "Naruto sialan", batinnya kesal.

.

.

.

Sebenarnya, saat ini kita berada di salah satu sekolah elit yang terkenal berdisiplin dengan lulusan-lulusan terbaik, dan tentunya tenaga pengajar pilihan. Intinya sekolah ini berisi orang-orang pandai. Bahkan sangat pandai, terutama dalam bidang pemasaran.

Tapi sepertinya kau salah tempat, kalau berharap untuk melihat kutu buku berkeliaran dengan buku menempel di wajah mereka. Aku tidak tau bagaimana lingkungan sosial di sekolahmu, tapi di sini kau tidak akan melewati masa SMA dengan normal tanpa dilabeli pamor, status, harta, dan prestasi. Akan ku bocorkan sedikit wajah asli dari sekolah elit ini, jujur saja mungkin akan sedikit membosankan. Yah, bagaimanapun kehidupan SMA tidak akan terlalu berbeda antara sekolah yang satu dengan yang lainnya kan?

Baiklah, mari kita mulai. Di sini, asap tembakau dapat menguar kapan saja dari toilet -baik pria maupun wanita-, peluru kertas berterbangan di dalam kelas, piercing, seragam tak sesuai aturan, warna bahasa yang menarik sudah menjadi pemandangan sehari-hari… ah, barusan ada yang mengingatkanku. Jangan lupa dengan pembullyan yang bisa terjadi kapanpun, di sudut koridor atau di dalam kelas sekalipun. Sebentar, aku harus menelepon seorang teman.

"Halo, ini aku."

[Aku tahu bodoh, ada apa], pelipisku berkedut mendengar balasan barusan. "Anak anjing satu itu, sudah membuat masalah masih berani mengataiku."

"Hehe, apa yang sedang kau lakukan?"

[Tidak perlu basa-basi, aku sedang sibuk saat ini.]

"Huft…Ya! Apa saja yang sebenarnya kau lakukan?", ku tarik napas sepanjang yang aku bisa sebelum meneriaki pemuda di ujung sambungan teleponku.

[Bertugas tentu saja, bisa tidak kau tidak berteriak.]

"Heh, bocah anjing! Di manapun kau sekarang, cepat kembali! Ada yang berulah lagi, BODOH." "Leganya~"

[Ap…ah!]

Tut tut tutt..

Nah, sampai mana kita tadi? Oh iya… Semuanya, selamat datang di Konoha High School!

Yamanaka Ino di sini, salam kenal. Mungkin kalian bisa ikut denganku sebentar lagi, karena kebetulan aku butuh teman dalam perjalananku menuju ruang ketua dewan siswa. Untuk apa? Sedikit obrolan pagi mungkin. Penampilanku ini mungkin terlalu menarik hingga selalu saja menjadi perhatian orang-orang disini, mereka hanya berlebihan saja sebenarnya. Apa yang salah dengan tambahan sol sepatu 5cm? Maaf saja kalau mereka merasa pendek, bukan salahku. Riasan? Sungguh aku hanya memakai riasan seadanya dan sedikit eyeliner untuk membuat kesan gothic, yang harus ku akui sedikit mencolok.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, kebetulan pagi ini aku –kembali- mendapat sapaan hangat dari salah satu guru, yang mengharuskan ku –secara terpaksa- menemui ketua dewan siswa lagi, ini dia ruangannya. Indera penciumanku membaui aroma pengharum ruangan yang khas begitu pintu ruangannya terbuka, menampakkan ruangan yang rapi dengan penerangan yang tidak berlebihan. Harus ku akui, seleranya tidak buruk.

Ruangan yang dari tembok hingga perabotannya didominasi warna biru pucat ini tertata sangat rapi, terlihat cukup nyaman. Ada jendela besar yang berhadapan langsung dengan pintu masuk, dari sana kau bisa mengamati lapangan olahraga dengan sangat jelas. Di sudut kanan ada satu rak besar, tempat di mana bermacam buku dan entah file apa saja tersusun dengan rapi sesuai abjad. Sementara di sudut yang lain ada satu meja kerja lengkap dengan komputer yang sedang digunakan ketua dewan siswa kita, yang sepertinya terlalu sibuk untuk menyadari eksistensiku di ruangannya. Dan yang terakhir, satu set sofa dan juga mejanya yang disediakan khusus untuk dewan siswa menjamu tamu-tamunya. Untuk bagian sofa dan meja, kurasa itu fasilitas yang terlalu berlebihan.

"Yamanaka? Lagi?" Well, ini memang bukan kunjungan pertamaku. Bisa dibilang, aku sudah cukup sering mampir ke sini.

"Halo juga, kurasa.", tak lupa ku sertakan senyum manis untuk membalas 'sapaan'nya.

"Kemari, dan tutup pintunya."

Ini dia, ketua dewan siswa kita. Di mejanya terpasang papan namanya yang dicetak setebal mungkin, Uzumaki Naruto.

"Suasana hatimu sedang baik ya?" Bukannya memperhatikan, ekspresinya saja yang terlalu kentara.

"Apa begitu jelas?" Lihat, ia bahkan terkekeh di depan lembaran-lembaran tugasnya.

"Pikir saja sendiri dengan otakmu. Baju gantiku?"

"Ino, kemari sebentar." Ia memberikan gesture dengan tangannya yang memintaku untuk berpindah posisi ke sisinya, kuturuti saja. Dan setelahnya aku menyesal. Ternyata ia menyembunyikan penggaris kayu di pangkuannya, yang sialnya ia gunakan untuk 'membelai' paha belakangku. Tentu saja aku menjerit, ia mengayunkan penggaris itu sepenuh hati.

"Datang ke ruanganku dengan rok kurang bahan sekali lagi, kupastikan bibi yang akan memukul bokongmu dengan rotan." Meski fokusnya tak beralih dari pekerjaannya, tangannya terulur memberikan satu set seragam perempuan padaku, yang tentunya memenuhi seluruh aturan berseragam.

"Ini sakit, sialan. Lagipula bukan rokku yang kurang bahan, kakiku saja yang kelebihan kalsium."

"Terserah apa katamu nona. Ganti seragammu sekarang, lalu kembalilah ke…'

Sebelum ia sempat menyelesaikan ocehannya, pintu kamar mandi sudah lebih dulu ku tutup –banting- rapat. Iya, memang ada kamar mandi di ruangan bocah sialan itu.

.

"Senang sekali sepertinya, ada apa?" Tak lama setelah Ino 'menutup' pintu kamar mandi, Sai masuk ke dalam ruangan Naruto. Disambut oleh tampang Naruto yang sedang tersenyum seperti orang idiot, itu hanya pendapat pribadinya. Sebaliknya senyum Naruto bisa dibilang menawan, deretan gigi rapinya yang mengintip kecil saat ia menarik kurva bibirnya membentuk busur, belum lagi lesung pipi di sisi kiri yang membuat senyumnya terlihat semakin manis. Sai memang, tak pernah mau mengakui nilai plus yang dimiliki Naruto, kecuali untuk urusan sex. Abaikan.

"Pergilah, pagi ini belum ada tugas untuk mu. Omong-omong bagaimana marathonmu pagi ini? Menyenangkan?" Pertanyaan Naruto –yang sudah jelas kemana arahnya- hanya dibalas dengusan oleh Sai, terlalu malas untuk menanggapi lelucon tak lucu teman pirangnya itu.

Ia rebahkan tubuhnya di salah satu sofa, lalu mengambil buku yang kemarin ia letakan di atas buffet. Buku itu baru ia baca setengah jalan. Isinya cukup menarik, jadi tak ada salahnya untuk diselesaikan. Buku filosofi ini mungkin tak terlalu menarik untuk remaja di zaman serba modern sepertinya, tapi ia tak bisa memungkiri ketertarikannya atas buku yang sedang ia baca. Kata-kata yang tertulis dalam buku ini seperti menempel di memorinya, terkadang akan terngiang kembali pada waktu tertentu.

Ini memang sudah jadi kebiasaannya untuk menghabiskan waktu luang di sini. Memanfaatkan statusnya sebagai sekretariat dewan siswa, ia bebas keluar masuk ruangan ini, begitu juga dengan Naruto. Buku-buku di lemari besar itu terlalu sayang untuk dijadikan sekedar pajangan ruangan, jadi ia dengan sukarela mambacanya satu persatu. Sebagian memang menarik, sisanya hanya berisi biografi dan kutipan orang-orang berlagak suci ataupun bijak yang sekali baca sanggup membuatnya mual. Kecuali buku yang sedang ia baca, tentunya.

Saat sedang melirik ke arah Naruto, ia tidak sengaja melihat vas bunga yang kembali terisi dengan bunga yang namanya tidak ia ketahui.

"Naruto, dia datang lagi?"

"Ya, seperti biasa."

"Dia keras kepala sekali, menarik."

"Menarik darimananya, merepotkan yang ada." Suaranya terdengar terlalu dekat, jadi kuputuskan untuk mendongak, benar saja kan dia sudah berdiri di sampingku. Melihatnya yang terus berdiri di situ, kulemparkan tatapan bertanya padanya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya, juluran tangan tannya yang mengusap helaian hitamku menjadi ganti dari kata-katanya. Kubiarkan saja, tidak ada ruginya juga. Tapi aku harus merutuki otakku yang tak bisa kembali berkonsentrasi pada buku di tanganku.

.

.

Setengah jam sebelum bel masuk berbunyi, kantin memang biasa disesaki beragam aktifitas siswa. Yah, beberapa memang hanya mengobrol atau bergosip mungkin. Ada juga yang sibuk menjejali perutnya dengan berbagai makanan, seperti pria besar –gendut- di sudut sana. Kantin benar-benar ramai saat ini, tapi di antara keramaian itu, tidak ada seorangpun yang menyadari aksi bullying yang dialami salah satu teman mereka di sudut kantin. Tidak menyadari, mungkin kata ini tidak tepat untuk menggambarkan situasi yang terjadi saat ini. Lebih tepat untuk dikatakan bahwa mereka mengabaikannya. Seperti di dorama, pembullyan memang tak jarang dilakukan oleh kelompok tertentu. Bedanya, ini bukan kelompok preman atau yang seperti itu. Mereka hanya anak-anak yang kebetulan penuh dengan label.

.

Seorang siswa berlutut di depan tiga orang siswa lain yang duduk di depannya, penampilannya sungguh kacau. Seragam putihnya bagai kanvas yang telah terlukis tapak sepatu bertintakan lumpur, sedangkan tubuh nya penuh dengan memar yang mereka torehkan.

"Ukhh…shhh maaf, sungguh saya tidak bermaksud senpai.", ia meringis untuk tendangan yang kembali ia terima di perutnya. Memang tidak terlalu keras, tetapi telak mengenai ulu hatinya. Sepertinya berandal-berandal ini masih punya otak untuk tidak membuat masalah lebih besar dengan membuat siswa malang itu mendekam di rumah sakit.

"Gara-gara kicauanmu di media sosial kemarin, sekarang kami jadi diawasi. Mulutmu terlalu besar untuk badan kecilmu ini." Siswa dengan rambut perak keunguan itu menarik rambut 'temannya' agar menatap tepat ke wajahnya.

"Akh… sakit senpai, kumohon."

"Cukup Sui." Keempat remaja yang sedang asik 'bermain' itu kompak menoleh ke kiri, di mana ada seorang remaja lain yang duduk agak terpisah dari mereka. Matanya fokus memandang ke arah taman mini yang berada di samping kantin, kedua kakinya ia naikkan ke bangku keramik tempatnya duduk di sudut kantin, sementara lutut kanannya tertekuk ke atas sebagai tempat meletakan lengan kanannya, kaki kirinya ia biarkan dalam posisi horizontal, tangan kirinya ia jadikan penyangga untuk kepalanya yang sedikit miring ke kiri, menyebabkan sisi kanan wajahnya tertutup oleh surai hitam legam miliknya. Dari posisi mereka berempat saat ini, hanya wajah dengan kulit porselen miliknya yang dapat mereka lihat dengan tatapan heran. Pasalnya, pemuda itu lah yang paling kesal dengan masalah ini. Tapi sekarang ia malah menyuruh mereka untuk berhenti.

"Che, anjing patrolinya sudah datang.", desisnya sembari mengarahkan pandangannya ke arah seorang pemuda dengan surai coklat berantakan yang tengah berlari ke arah –mereka- kantin. Barulah mereka bertiga mengangguk paham maksud dari pemuda raven itu, dewan siswa sudah datang. Akan jadi masalah jika mereka tertangkap tangan sedang melakukan apa yang kemarin dituduhkan pada mereka.

"Aku akan membawanya pergi, kalian kembalilah ke kelas.", dengan itu ia bangkit dari posisinya semula. Memastikan seragamnya terlihat rapi, ia mengajak –menyeret- siswa yang masih meringkuk itu untuk ikut bersamanya. Walaupun terkesan seperti berjalan berdampingan, siswa itu tahu harus menjaga jarak dari orang yang berjalan di depannya.

Mungkin ia terlalu banyak berpikir hingga tau-tau saja ia sudah ditarik masuk ke dalam toilet pria dengan pintu yang dikunci dari dalam, ia hanya berharap ini bukan siksaan lebih lanjut.

"Dengar, aku masih memaafkanmu kali ini. Tapi, lain kali jaga kelakuanmu. Paham?" Perkataannya yang diucapkan dengan tenang tak mampu menyembunyikan amarah yang dipancarkan iris miliknya. Sorot yang gelap dan dingin, persis langit malam.

"Paham?"

"Pa-paham… Uchiha-san."

.

.

Ruangan yang tidak terlalu besar itu hanya diisi oleh suara gesekan antar kertas dari buku yang sedang dibaca oleh Sai, dan suara ketikan keyboard komputer yang sedang digunakan oleh Naruto. Hanya dua suara itu yang mengisi keheningan di antara keduanya. Meski begitu keheningan itu tidak terasa canggung bagi keduanya, karena mereka cukup menikmati kediaman masing-masing. Itu cukup untuk membuat mereka merasa nyaman. Ah… Naruto hampir melupakan sosok lain yang saat ini berada di toilet, seharusnya sebentar lagi ia akan selesai.

"Kau yakin tidak mau pergi sekarang?", tanya Naruto tiba-tiba. Tentu saja Sai tidak memahami maksud dari pertanyaan Naruto.

"Tidak tahan berada di dekatku, hn?" Salah satu sudut bibirnya terangkat, bermaksud untuk mengejek lawan bicaranya. Tak lama setelah kata-katanya terucap, pintu kamar mandi terbuka dengan suara yang terbilang cukup keras, Sai refleks menolehkan wajahnya untuk melihat siapa yang ada di sana. Kabar buruknya itu Ino, teman Naruto sedari kecil. Gadis pembuat onar dan urakan, yang belakangan ini jadi super menjengkelkan untuk Sai.

"Sssssaaaiiiii~kuuuunnn~" Bulu romanya sontak berdiri begitu mendengar namanya disebut dengan cara yang sangat sesuatu itu. Langsung saja pergulatan sengit keduanya terjadi, Sai yang sedang merebahkan diri di sofa sangat membantu Ino dalam melancarkan serangannya.

"Aku sudah mengingatkanmu tadi, sekarang nikmati saja.", Naruto terkekeh untuk ekspresi di wajah Sai saat ini. Ia telah selesai dengan tugas-tugasnya dan berniat untuk segera masuk ke kelasnya pagi ini, tapi jalan keluarnya terhalang oleh makhluk berambut merah dengan kanji 'ai' di keningnya yang tengah menatap ke arah mereka bertiga. Sontak pergerakan mereka bertiga terhenti, balas memandang sosok yang tengah menghalangi pintu masuk-dan keluar tentunya- di balik tubuh tegap Naruto.

.

Teman mereka yang satu ini memang mempunyai semacam kemampuan khusus untuk membuat suasana di sekelilingnya berubah suram, atau aku sendiri lebih suka menyebutnya awkward moment.

"Benar-benar sambutan yang hangat, terimakasih teman." Sebelum ia berbalik arah, kerahnya sudah lebih dulu ku tarik untuk kembali. Dia memang mudah kesal jika mendapat reaksi seperti itu untuk kehadirannya.

"Bercanda Gaara.", tukasku sambil menepuk-nepuk pundaknya.

"Hi Gaara! Seperti biasa ya, tensimu melewati batas tinggi badanmu.", Gaara memang terhitung 'sedikit' lebih pendek dari anak-anak sepantaran kami, dan Ino lah adalah pihak yang paling senang mengungkitnya.

"I don't hear you~" Yeah, yang satu ini Gaara. Sabaku Gaara, siswa dengan image paling menakutkan seantero Konoha High School.

Jangan menilai buku dari sampulnya, kutipan ini benar-benar berlaku untuk Gaara. Wajahnya memang 'sedikit' suram tapi kadang kelakuannya benar-benar konyol. Hanya orang beruntung yang mengetahuinya, untuk yang satu ini aku bisa sedikit besar kepala. Memang harus 'sedikit' hati-hati saat membicarakan Gaara. Uh, berapa kali kugunakan kutip untuk kata sedikit? Gaara memang 'sedikit' sensitive, haha…

Mereka bertiga sepertinya masih asik dengan keributan kecil mereka, di saat-saat seperti ini kami memang sering lupa waktu. Omong-omong soal waktu, arlojiku sudah menunjukan pukul delapan kurang sepuluh, sepuluh menit sebelum bel masuk jam pertama.

"Aku yakin kalian masih ingat dengan bel masuk yang sebentar lagi akan berbunyi.", ku tunjuk jam analog yang tergantung di dinding tepat di hadapan mereka bertiga.

"Untung kau ingatkan, aku sudah lupa tadi.", sahut Gaara. "Mereka berdua akan memakan waktu lama, sebaiknya kita duluan.",lanjutnya setelah melirik malas pada Sai dan Ino.

"Kau benar."

Di belakang kami Sai dan Ino masih sibuk saling mengunci pergerakan satu sama lain. Sebenarnya hanya Ino yang sekuat tenaga mengunci tubuh Sai, Sai sendiri hanya mencari cara untuk terlepas dari pitingan gadis pirang itu. Poor Sai.

.

Kelakuan Ino ini sepenuhnya salah Naruto. Sai saat itu benar-benar direpotkan dengan kebutuhannya, dan Naruto sama sekali tidak menghentikan kelakuannya. Secara tidak sengaja gadis gila ini pernah memergoki mereka berciuman –untung hanya itu- di bilik toilet pria, gadis gila ini memang benar-benar masuk ke toilet pria untuk entah apa tujuannya. Jadi menurut Sai, itu sepenuhnya salah Naruto.

"Lepaskan sialan."

"No, you sucker. You should kiss me first."

"Jangan berani bermimpi."

"Tidak perlu bermimpi, karena itu akan jadi kenyataan."

"euwhh…"

Ini salah Naruto sebenarnya, hingga gadis itu penasaran dengan ciuman seorang Sai.

Adu mulut keduanya terhenti ketika suara bel masuk terdengar oleh mereka berdua, artinya mereka sudah telat untuk memasuki kelas mereka pagi ini. Yang berarti waktu mereka untuk mengerjakan ujian juga akan dikurangi, crap. Waktu ujian fisika dikurangi, itu benar-benar tak baik bagi keduanya.

"Ini salahmu!", tuding keduanya bersamaan.

.

.

Saat jarum jam menunjukan pukul sepuluh tepat dan bel kedua dibunyikan, lembar kerja para siswa pun dikumpulkan dan mereka dibebaskan untuk beristirahat sebelum jam pelajaran selanjutnya dimulai. Ketenangan yang ada saat ujian berlangsung tadi, kini hilang entah kemana saat anak-anak di kelas itu mulai membicarakan apa yang ada di pikiran mereka masing-masing.

"Akhirnya ujian ini sudah lewat, aku lega sekali."

"Hahh…semalam aku tak cukup tidur untuk mengejar bahannya."

"Bagaimana kalau hari ini kita karaoke beramai-ramai?"

"Ide yang bagus!"

.

Kelas ini benar-benar berisik, mambuat kepala pening saja. Ujian sudah membuat otakku mual, mereka tidak perlu menambahnya dengan teriakan dan sorakan menjengkelkan.

"Hey Neji! Ajak Naruto bersama kita malam ini."

Baru saja aku akan menegur Suigetsu yang berteriak tak tahu tempat di sampingku, tapi tak jadi mengingat nama siapa yang ia sebut tadi. Kuikuti ke mana arah pandangnya. Di sana, di dekat pintu kelas ada si ketua dewan siswa dan Neji yang sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang penting. Sepertinya mereka cukup akrab, bukan urusanku.

"Sasuke tadi ia santai sekali mengerjakan ujiannya."

"Otaknya itu berbeda dengan kita, sudah pasti soal-soal tadi mudah untuknya."

"Ku rasa kau benar."

Perhatianku teralih saat samar-samar terdengar beberapa anak membicarakanku. Mudah katanya. Aku bahkan berlajar seharian penuh untuk ujian ini, tidak hanya kemarin, sudah sejak dua hari lalu aku menyicil bahannya. Dan juga menurutku lebih baik untuk konsentrasi mengerjakan lembaran soalku, ketimbang membuang-buang waktu ujianku dengan mengeluh dan tertidur di atas lembar jawab kosong.

Kadang ekspetasi mereka terhadapku terasa lebih seperti beban ketimbang sanjungan, Hhh... ini melelahkan. Kepalaku yang mulai terasa berat kutelungkupkan di atas kedua tanganku yang terlipat di permukaan atas meja.

"Sas, kau mengantuk?"

"Hn."

.

ToBeContinued.

30 Oktober 2016

[Kemarin itu document finalnya ketuker sama document A yang sebelumnya memang mau dipost, tapi document A itu masih banyak diksi yang kurang pas menurut saya.]

Sebelumnya saya ga pernah bikin sexual scene, jadi maaf banget kalo ini super gaje dan ga dapet atmospherenya… T_T Jujur saya kaget karena bisa bikin sepanjang itu, semoga bisa dianggap sebagai upeti yaa ;)

Saya juga udah baca beberapa komen terakhir, kemarin. Memang setiap chapter yang saya bikin itu singkat banget, ga ada alasan khususnya sih buat itu. Mungkin saya masih terlalu canggung, jadi kesulitan untuk mendetailkan cerita yang saya buat, baik dari segi situasi maupun feelnya. Dan maaf banget ini ngaret update, karena kebetulan saya stuck pas bikin scene school live nya, dan karena satu dan lain hal saya ga bisa nyentuh cerita ini sama sekali selama 2 minggu.. Pengennya sih bikin yang bener-bener kerasa kalo ini tuh di SMA, tapi malah jadi gini. Jadi, saya bener-bener minta maaf.

Ps: karena sekarang sudah memasuki musim UAS, saya minta maaf kalau ke depannya akan ada keterlambatan lagi.