"Jennie sayang pada oka-san bukan?"
Jennie mengangguk.
"karena oka-sanlah, Jennie sanggup melakukan tugas menjijikkan ini oppa"
Aku tersenyum lalu melepaskan pelukkanku padanya dan mencium dahi mulus Jennie lama.
"sudah, tidak perlu merajuk kau bisa manja-manja pada oppa atau pada Chanyeol kalau kau sudah pulang sekolah."
Jennie tersenyum cerah.
"em! kalau begitu, aku panggil Chanyeol nii-chan saja ketika kita pulang sekolah ya! Jennie sudah lama tidak bermain dengan Chanyeol nii-chan"
Aku pun lagi-lagi hanya bisa tersenyum.
"ya~ tapi ingat jangan sampai mengabaikan oppa kesayanganmu ini ya?"
Jennie mengangguk patuh.
"ayo, oppa belikan kau cake chocolate"
[REMAKE] My Husband Is a Samurai Prince
By : hinamoriamusilver (FFn)
Link : www fanfiction net/s/11750334/4/ {hapus spasi ganti titik.}
CHENMIN | BL | Drama | etc.
Summary : Menjalani pertunangan selama 3 hari dan setelah 3 hari tersebut langsung menikah? Itu tindakan yang benar-benar gila! Dan lebih parahnya lagi, orang yang akan kau nikahi tidak kau kenal latar belakangnya!
Disclaimer : ini ff punya hinamoriamusilver aku Cuma ngetranslate dari bahasa malay ke bahasa indo dan ganti cast nya doang. Cast milik tuhan, orangtua dan agensi masing-masing.
WARN! TYPO(s) Everywhere . BL . BxB
.
.
My Husband Is A Samurai Prince
.
.
Chapter 3: New Start
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
9:00 p.m
[Jennie POV]
Aku memandang ke arah langit yang kini diterangi oleh bulan yang bersinar terang dengan bintang yang bertaburan di langit malam yang terlihat sangat indah sekali dari jendela mobil yang sedang dikendarai oleh appa. lelah melihat keluar jendela, aku menyandarkan tubuh kecilku ke bahu Jongdae nii-chan, dan nii-chanku itu melingkarkan tangannya ke bahuku.
"bosan" kataku dan langsung disambut tawa kecil dari keluargaku.
"sabar sayang tidak lama lagi kita akan sampai" kata oka-san dengan lembut kepadaku.
"tapi oka-san, Jennie ada tugas yang harus Jenni kerjakan" kataku sedikit merengut.
"tidak perlu menipu oka-san sayang, kau mana pernah mengerjakan tugasmu"
aku tersenyum.
"ah, ketahuan"
Jongdae nii-chan mengusap kepalaku dengan lembut.
"bersabarlah sebentar lagi. Kita akan sampai, ini perjumpaan yang penting Jennie"
aku menghembuskan nafasku.
"bukannya tidak mau sopan, tapi Jennie tidak pernah suka dengan mereka yang selalu memandang rendah terhadap Jennie, oka-san, appa, nii-chan"
appa tersenyum sambil melihatku melalui cermin yang ada didalam mobil.
"itu karena mereka semua tidak tahu kekuatanmu yang sebenarnya Jennie sayang, wajah dan tubuhmu menyembuyikan segala kekuatan kamu sepenuhnya"
"kenapa tubuh Jennie tidak seperti nii-chan? kenapa tubuh Jennie sangat kecil dan berwajah imut?"
Jongdae nii-chan mengecup kepalaku sekilas.
"justru itulah yang paling bagus. mereka tidak akan menyangka kalau ada kekuatan raksasa dalam tubuh sekecil ini"
aku mencubit perut Jongdae nii-chan sebal.
"kau tidak sesuai dengan tubuh tinggi sayang, apa kau mau terlihat tua?" tanya oka-san lalu aku membayangkan wajah ku berubah dan tubuhku yang tinggi. Aku hanya bisa bergidik geli campur ngeri.
"tidak mau! Jennie tetap mau awet muda!".
.
.
.
Akhirnya mobil yang appa kendarai, berhenti ketika kami sudah berada di bukit ujung kota seoul. Lantas aku segera keluar dan melihat ke sekelilingku.
"wah! 'teman' Jennie banyak disini" seruku girang.
tiba-tiba oka-san mengusap kepalaku dengan lembut.
"kontrol emosimu bila kita sedang berada di dalam nanti ya.."
aku mengangguk dan Jongdae nii-chan mengenggam tanganku dengan lembut. kami berjalan kearah pohon tua yang hampir mati itu. appa mengetuk 3 kali pohon itu, lalu pohon tua itu bergerak ke pinggir, membuka sebuah jalan untuk masuk. ada sebuah tangga menuju kebawah. kami semua masuk kedalam menggunakan tangga tersebut. Ketika aku melangkah masuk, tiba-tiba saja rasa marah dan benci datang kepadaku.
[Jennie POV end]
[Jongdae POV]
Sembari berjalan ke bawah, aku terus mengenggam tangan Jennie untuk meredakan rasa marah yang mulai datang dalam dirinya.
"semuanya akan berakhir dengan cepat"
Jennie mengangguk. Kami semua sudah sampai ke ruang utama dimana di sana ada sebuah meja panjang berwarna putih yang telah dipenuhi oleh orang-orang tua yang sangat dibenci oleh Jennie.
"ah, anakku yang terakhir serta cucu-cucuku sudah datang. Silahkan duduk"
aku menarik tangan Jennie yang sedari tadi hanya berdiri tegak. aku mengambil tempat disebelah appa di belakangku ada Chanyeol yang berdiri dengan setia bersama asisten appa yang bernama jun di hadapan appa ada oka-san dan Jennie bersama asisten masing-masing.
"baiklah kalian boleh berpendapat sekarang" kata oji-san kepada kami semua. tiba-tiba salah seorang dari mereka menepuk meja dengan kuat menggunakan tangannya lalu berdiri dengan kasar.
"aku tidak setuju anak kecil itu menjadi ketua suku Hikaze ke 3!"
Jennie hampir saja berdiri untuk membantah tapi dengan segera Kyungsoo, asisten Jennie menenangkannya. aku menarik nafas lalu berdiri dan menunduk hormat kepada oji-san
"aku setuju jika Jennie menjadi ketua suku Hikaze ke 3. selain mempunyai kecerdasan di atas rata-rata dan fisik yang kuat, Jennie juga bisa memimpin dengan baik tanpa menimbulkan kericuhan oji-sama" kataku lembut sambil melihat Jennie yang terlihat sedikit tenang. oji-san mengangguk mengiyakan apa yang aku katakan.
[Jongdae POV end]
Jennie sedikit tersenyum ketika kakaknya berdiri untuk membelanya.
"tapi danna-sama! lihatlah dia! dia hanya seorang anak kecil yang lemah! memang dia mempunyai kepintaran di atas rata-rata tapi kita perlu seseorang yang mempunyai kekuatan untuk bertarung dengan tangkas bukan hanya fisik yang kuat! biarkan aku yang memegang suku Hikaze yang ke 3"
Jennie memandang tajam ke arah orang tua yang bernama Ryo itu.
"kalian semua tidak ada hak untuk menghina puteriku"
kali ini Himeko yang angkat bicara walaupun dalam nadanya terselit nada marah, masih dia tahan emosinya kali ini. Nanami ketua suku Hikaze ke 4 membuka suaranya.
"walaupun himeko-sama adalah pemegang tahta Hikaze sekarang, himeko-sama tetap tidak mempunyai hak untuk membela seorang bawahan yang lemah seperti dia walaupun dia adalah anak himeko-sama sendiri, ingat peraturan kita himeko-sama"
Jongdae memandang tajam kepada Nanami yang tersenyum sinis. sedikit mengepalkan tangan, Jongdae coba mengalihkan amarahnya yang seakan ingin meletus.
"otou-sama boleh kita berbicara tentang hal lain? Topik perbincangan ini bisa membangkitkan amarah orang-orang yang berada disini"
Kim haraboji mengangguk mendengar perkataan menantunya.
"Baiklah, pembicaraan yang tadi kita hentikan. sekarang laporkan keadaan suku Hikaze kalian secara detail. aku tidak mau ada masalah".
Satu per satu orang tua berdiri sambil memberitahu keadaan suku Hikaze yang mereka ketuai kepada Kim haraboji dengan sangat sopan sekali, walaupun Himeko adalah pemegang tahta saat ini, mereka tetap harus patuh pada arahan yang diberikan oleh Kim haraboji karena selama dia masih hidup, setiap pergerakan harus di laporkan kepadanya dengan teliti tanpa meninggalkan satu kurang pun.
Setelah hampir beberapa jam berbincang, mereka berhenti sejenak untuk istirahat (as an coffee break). Asisten masing-masing mulai menghidangkan tuan mereka dengan teh hijau hangat untuk menenangkan diri.
"Chanyeol-ah sekarang pukul berapa?"
Chanyeol melihat jam tangannya sebentar.
"11:15 p.m Jongdae-sama"
Jongdae mengangguk lalu melihat kearah Jennie yang sedang berbincang dengan Himeko.
[Jongdae POV]
Aku sedikit mengurut kepalaku yang sedikit pusing karena ulah orang-orang tua yang membenci Jennie itu. aku tahu kenapa mereka sangat membenci Jennie, selain karena dia keturunan sah Hikaze, Jennie juga sudah meraih pangkat paling tinggi dalam kumpulan Hikaze dengan umur yang terbilang masih sangat muda. sedangkan mereka yang lain perlu bersusah payah untuk mendapatkan kepercayaan oji-san selama berpuluh-puluh tahun untuk menjadi ketua bagi setiap suku Hikaze yang ada, rasanya aneh ketika mereka menerima saja aku dilantik menjadi ketua suku ke 2 tapi tidak pada Jennie.
"apa ada yang salah pada Jennie?" ucapku lirih.
"karena kekuatan yang dimiliki Jennie sangat besar, Jongdae"
Aku langsung menoleh kearah appa.
"maksud appa? setahuku kekuatan yang selama ini mereka kejar adalah mata aura bukan?"
appa mengelengkan kepalanya.
"mata aura itu tidak ada Jongdae. itu hanya mitos yang aku dan oji-san ciptakan agar mereka tidak mengejar kekuatan Jennie"
aku jadi bingung sendiri.
"memang kekuatan Jennie itu sebesar apa? bukankah dia hanya bisa berbicara dan memerintah roh jahat?"
appa mengelengkan kepalanya.
"Saat usia Jennie baru menginjak usia 10 tahun, dia telah berhasil menundukkan penjaga gunung yang paling disegani dan ditakuti, Jongdae"
aku terkejut dengan apa yang dikatakan oji-san.
"S.. se. sembilan serigala penjaga gunung itu?"
oji-san dan appa mengangguk. aku menoleh sebentar ke arah Jennie.
"tapi kenapa dia meraahsiakannya dari aku appa? oji-san?" tanyaku pada mereka.
"setiap kali serigala melakukan sebuah tugas.."
aku terkejut.
"Makanannya adalah darah tuan mereka"
aku menutup mulutku karena shock.
"Jennie..."
aku mengusap wajah ku kasar.
"tuhan kenapa harus Jennie?"
[Jongdae POV end]
-Seoul, Golden Garden
Perumahan untuk orang kaya dikota Seoul terlihat nyaman sekali tanpa ada kericuhan, di sana juga lah rumah mewah keluarga Han berada.
Minseok sekarang sedang memerhatikan suasana perumahan dan bangunan kota Seoul yang berdiri dengan megah dari balkon rumahnya.
"hah~ cahaya kota melindungi bintang, aku ingin sekali melihat bintang di langit" keluh Minseok seorang diri lalu kepalanya menoleh melihat rumah sebelah.
"Cepat sekali mereka semua tidur" katanya dan melihat kearah semula.
"yah~ walaupun aku tidak bisa melihat bintang, aku masih bisa melihat aura manusia di mana-mana saja. warnanya juga tidak kalah cantik"
Lelah melihat keluar, Minseok memutuskan untuk berjalan-jalan diluar. Ia masuk ke dalam kamarnya dan memakai jacket lalu keluar dari kamarnya.
"eomma, appa aku keluar sebentar ya~" kata Minseok dengan kuat supaya Tuan Han dan Nyonya Han bisa mendengar suaranya tanpa perlu keluar kamar.
"baiklah! jaga dirimu dengan baik jangan sampai terluka!"
Minseok bergumam 'hmm', menuruni tangga dan keluar dari rumah. Minseok mulai berjalan sambil melihat sekeliling.
"malam yang indah, cahaya bulannya sangat terang".
[Minseok POV]
Aku berjalan dengan tenang sekali. Rasa takut ku hilang karena cahaya bulan yang bersinar terang hingga aku bisa melihat bayang-bayangku sendiri ketika berjalan, sambil berjalan aku melihat warna aura manusia yang berada di dalam rumah mereka masing-masing.
"pasti mood Lee ahjussi sedang buruk hehe.."
aku hanya tertawa sedikit ketika melihat aura hitam pudar keluar dari rumahnya.
"bosan ah, kenapa aku keluar sendiri tadi? ah! Telepon Chanyeol saja!"
aku mengambil ponselku dari kantung jacket lalu mendial ponsel Chanyeol.
'Yeoboseyo?, ada apa Minseok-ie?'
"Kau bisa keluar temani aku berjalan-jalan? aku sedang bosan ni"
Chanyeol menghembuskan nafasnya.
'maaf, aku tidak bisa, sebaiknya kamu pulang ke rumah sekarang. tidak baik untuk namja manis seperti kamu berkeliaran malam-malam begini'
"yak! apa kau bilang! manis?! aku ini tidak manis tahu pokoknya―"
Aku mendengar ponsel Chanyeol seperti dirampas seseorang.
'maaf Minseok, Chanyeol sedang sibuk sekarang. Annyeong'
suara Jongdae terdengar dalam ponsel Chanyeol. aku terkejut. sejak kapan Chanyeol bisa begitu dekat dengan orang yang baru dikenalinya? aku tahu, Chanyeol memang baik pada semua orang tapi dia bukan tipe seseorang yang senang di ajak keluar oleh orang yang baru dikenalnya dalam sehari.
"mereka aneh"
tiba-tiba moodku langsung hilang. Aku langsung berputar kebelakang untuk pulang kerumah. selain mood hilang aku juga turut merasa heran dengan kedekatan antara Chanyeol dengan Jongdae. tambahan pula Jennie yang begitu mengenali Chanyeol. Dan juga perlakuan Chanyeol yang terlalu overprotective padaku akhir-akhir ini.
Ketika sampai didalam rumah, aku langsung naik ke atas, masuk ke dalam kamar dan merebahkan diriku ke atas ranjang tanpa melepaskan jacket-ku.
"ARGGH!"
Aku berjerit didalam kamarku. Setelah aku berjerit, pintu kamarku tiba-tiba didobrak dengan kuat dan terlihat eomma yang memegang pisau dan appa yang memegang stick golf.
"Minseok kau baik-baik saja"
aku menganggukkan kepala.
"memangnya kenapa eomma dan appa mendobrak masuk ke dalam kamarku?"
eomma dan appa menarik nafas lega.
"syukurlah kalau kau tidak apa-apa"
[Minseok POV end]
-Seoul, Ujung Kota
Semua orang yang berada didalam ruangan terkejut ketika Jennie melempar cangkir teh hijau yang akan di minum oka-sannya.
"sudah! aku tidak tahan lagi! cepat katakan siapa di antara kalian yang meletakkan racun ke dalam minuman oka-san!?" teriak Jennie dengan lantang sambil melihat sekeliling. Jongdae dan Tuan Kim tampak terkejut ketika mendengar kata racun keluar dari mulut Jennie.
"cucuku sedang bertanya sebaiknya kalian jawab sebelum kesabaran dia habis" kata Kim haraboji dengan tenang.
"cepat! kalau kalian tidak mau mengaku, aku sendiri yang akan mencarinya!"
mereka yang lain tetap diam membisu.
"anak kecil! sebaiknya kau diam! tahu apa kau tentang racun? mungkin kau sendirilah yang ingin meracuni oka-sanmu itu!" kata Hakaji ketua suku Hikaze ke 5.
"kunci semua pintu jangan biarkan siapa pun keluar dari sini sampai kita semua tahu siapa yang dengan beraninya ingin meracuni isteriku" perintah Tuan Kim pada Yifan dan segera dilakukannya. Jongdae melihat kearah Jennie yang sedari tadi tidak berhenti memerhatikan Ryo yang duduk dengan tenang.
Jongdae sudah tahu pasti bahwa Jennie telah menemukan siapa yang meletakkan racun ke dalam minuman oka-sannya. Jongdae selalu percaya dengan apa yang di lakukan Jennie karena Jennie tidak pernah 'pilih kasih' pada siapa pun walau pun orang itu adalah kakaknya sendiri.
"Chanyeol." panggil Jongdae dengan suara kecil lalu Chanyeol langsung mendekat.
"apa ryo punya kekuatan?" tanya Jongdae yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Chanyeol.
"apa itu?"
"racun ular putih"
Jongdae melihat Jennie lagi. tiba-tiba saja Jennie berdiri di atas meja lalu menyerang Ryo.
"le―lepas" kata Ryo tersendat karena di cekik dengan kuat oleh Jennie.
"Kesabaranku sudah habis" jawab Jennie tanpa melepas tangannya. Jongdae berdiri lalu mengambil katana Chanyeol dan berjalan pergi ke arah Ryo dan Jennie. 2 langkah lagi Jongdae akan sampai tapi―
"serang"
― tubuhnya dan Jennie terlempar jauh dari Ryo juga beberapa orang yang berada disekitarnya.
Jongdae membantu Jennie untuk bangun dari posisinya lalu memberikan katana Chanyeol kepada Jennie.
"bunuh dia"
Jennie dan Jongdae melihat ke arah Ryo yang kini dilindungi oleh ular putih raksasa sambil tersenyum dan tertawa dengan kuat. Ryo menunjuk ke arah Jennie.
"lembab"
satu kata keluar dari mulut ringan Ryo yang disertai senyuman kejam milik Jongdae.
"perkataanmu salah manusia kotor"
Jennie mengeluarkan katana dari sarungnya.
"mari bermain~"
Jennie langsung saja berlari dan melompat ke arah Ryo tapi ia dihalangi oleh ular putih penjaga Ryo.
"ikat" kata Jongdae. Dan dalam sekejap mata, badan ular putih itu dipegang oleh ratusan tangan bayangan.
"semoga pintu neraka terbuka lebar untukmu" kata Jennie lalu menikam jantung Ryo.
"nii-chan boleh melepaskan dia" kata Jennie pada Jongdae, lalu Jongdae melepaskan bayangan yang mengikat tubuh ular putih itu.
"pergilah, kau sudah bebas dari tuanmu yang kejam" ucap Jennie dengan lembut. ular putih itu menunduk hormat pada Jennie dan menghilang.
"Siapa lagi yang ingin menentangku menjadi ketua suku Hikaze ke 3? percayalah kali ini aku akan membunuh tanpa pertolongan nii-chanku"
Jennie berjalan ke arah Nanami sambil meletakkan sisi tajam katana Chanyeol di lehernya.
"bilang setuju dan lehermu selamat"
Nanami mengangguk
"s.. se..tuju"
Jennie tersenyum lalu menyimpan kembali katana Chanyeol dan mengembalikannya pada pemiliknya.
"baiklah, sekarang waktunya untuk membincangkan masalah yang sebenarnya. Ayo! aku tidak ingin pulang terlambat, kerana aku masih perlu bangun pagi untuk pergi ke sekolah"
[Jongdae POV]
Aku tidak bisa berhenti tertawa sepanjang perjalanan di dalam mobil karena mengingat muka-muka orang tua yang takut pada ancaman Jennie.
"bagaimana keadaanmu?" tanya appa pada Jennie.
"sudah tentunya bahagia, appa tahu sudah hampir 3 tahun Jennie menahan rasa marah ini!"
tawaku semakin kuat dan kencang karena reaksi berlebihan Jennie.
"nii-chan berhenti tertawa!"
aku langsung berhenti tertawa seperti perintah Jennie.
"ok, ok tapi bukan salah nii-chan sepenuhnya, reaksimu itu terlalu berlebihan"
Jennie mengangguk.
"terlalu bahagia itu saja"
Appa memberhentikan mobil yang dikendarainya ketika kami sudah berada di perkarangan rumah.
"angel oppa masih belum tidur"
aku melihat jendela kamar Minseok yang kebetulan berhadapan dengan jendela kamarku.
"mungkin dia tertidur dengan lampu yang hidup"
aku menepuk pundak Jennie lembut.
"pergilah masuk, lalu tidur. Kau pasti lelah bukan?"
Jennie mengangguk. Ia mengecup kedua pipiku dengan lembut dan ku balas dengan ciuman di dahinya lalu Jennie masuk kedalam rumah. aku melihat jam di ponselku.
"1:00 a.m?"
apa dia belum tidur? aku mengangkat kedua bahuku dan mulai melangkah masuk ke dalam rumah hingga sebuah suara lembut menyapa pendengaranku.
"Jongdae hyung!"
aku melihat ke atas dan terlihat Minseok yang berdiri di balkon bagian depan rumahnya .
ya" jawabku singkat.
"hyung, bisa temani aku berjalan-jalan?".
aku melihat keluar sebentar lalu melihat Minseok kembali.
"Sepertinya bisa"
Minseok tersenyum cerah.
"tunggu aku ambil jacket"
aku mengangguk lalu keluar dari perkarangan rumah dan menunggu Minseok di depan pagar rumahnya. 2 menit, menunggu akhirnya Minseok keluar dalam keadaan terengah-engah. aku menepuk kepalanya perlahan.
"terlalu semangat"
Minseok berdiri tegak.
"ayo!"
[Jongdae POV end]
[Minseok POV]
Kami berdua berjalan dalam keadaan senyap. sebenarnya aku bertanya bertanya atau apa saja dengan Jongdae, hanya saja berbicara dengan orang sedingin dia bukannya perkara yang mudah. setiap pertanyaan yang aku tanya hanya akan dijawab dengan singkat dan padat, tidak ada peluang untuk berbicara lebih dengannya.
"hyung" panggilku.
"hm.."
benar bukan? dia hanya menjawab dengan singkat. aku kembali diam dan melihat aura yang bertebaran di mana-mana saja seperti aurora di langit canada. tiba-tiba aku merasakan sesuatu melingkar pada pinggangku. aku segera melihatnya.
"h―hyung?" panggilku gugup.
"bulan mulai menggelap, kau takut pada gelap bukan?"
aku hanya mengangguk membiarkan Jongdae melingkarkan lengannya pada pinggangku.
"pinggangmu ramping".
aku jadi cemberut sendiri.
"tidak perlu dibilang pun, aku sudah tahu" ucapku perlahan. aku sebenarnya tidak suka bila seseorang sadar akan ukuran pinggangku yang boleh dibilang seukuran pinggang yeoja.
"hyung kemana tadi?" tanyaku untuk memecahkan suasana sunyi .
"ujung kota seoul"
aku melihat ke arah Jongdae.
"untuk?"
"melihat bintang"
mataku berbinar setelah mendengar kata bintang keluar dari bibir Jongdae.
"benarkah?! apa bintangnya cantik?" ucapku dengan nada bersemangat. Jongdae menoleh, melihat ke arah ku.
"ya, cantik"
lalu ia kembali melihat ke depan.
"hyung beruntung." kataku tanpa mengalihkan pandanganku dari Jongdae. aura yang dikeluarkan tubuhnya saat ini sangat cantik. warna biru lembut bercampur putih. sangat sempurna di mataku. agak dingin tapi dingin yang membuat nyaman. tanpa aku sadari, aku semakin merapatkan tubuhku pada Jongdae.
[Minseok POV end]
[Jongdae POV]
"Hyung akan membawa kamu kesana nanti" kataku.
"kemana?" tanya Minseok dengan wajah keheranan.
"melihat bintang"
senyuman cerah langsung terukir dibibir namja manis itu.
"betul?! hyung janji?"
aku mengangguk.
"hyung janji"
Minseok menepuk kedua tangannya seperti anak kecil. tanganku yang memeluk pinggang ramping Minseok, aku angkat untuk mengelus kepalanya dengan lembut lalu kembali memeluk pinggangnya. aku melihat sekeliling, tanpa aku sadari, kami berdua sudah berjalan cukup jauh hingga ke jalan komplek 6 sedangkan rumahku dan Minseok ada di jalan komplek 4.
'hah~ bersama dia membuatku tidak sadar akan waktu yang berlalu juga keadaan sekeliling, Han Minseok, namja bertubuh dewasa dengan pemikiran setingkat anak-anak 3 tahun, menarik'
dengan perlahan aku menarik pinggang ramping itu untuk berputar arah menuju rumah.
"eh? kemana hyung?"
dia benar-benar terbawa suasana.
"pulang. ini sudah sangat pagi"
aku melihat jam di ponselku.
"2:09 a.m"
kataku padanya.
"t-tapi a-aku masih ingin berjalan~"
Minseok memasang wajah memelas.
"Jebal~"
aku mengelengkan kepalaku.
"tidak Minseok, besok kau harus ke sekolah jadi kita harus pulang sekarang"
mau tidak mau Minseok terpaksa mengikuti langkahku berjalan pulang.
"aura manusia ketika tenang sangat menenangkan untuk dilihat~"
sekali lagi telingaku dapat menangkap perkataan aura keluar dari mulut Minseok.
"aura?"
Langsung saja aku bertanya.
"A-ani. tidak ada apa-apa, aku cuma bilang malamnya cantik itu saja"
dia terlihat gugup tapi langsung ku buang pikiran negative yang datang berkunjung ke dalam kepalaku.
[Jongdae POV end]
6:00 a.m
Rutinitas biasa yang terjadi di dalam rumah mewah keluarga Han adalah Nyonya Han yanh akan melontarkan high note-nya untuk membangunkan anaknya hingga terdengar oleh Jongdae yang selalu bangun awal tanpa perlu dibangunkan.
"HAN MINSEOK! BANGUN! INI SUDAH PAGI!"
begitulah cara Nyonya Han membangunkan Minseok setiap hari tapi hari ini berbeda daripada hari-hari yang sebelumnya. Jongdae yang iba mendengar suara Nyonya Han, membuka jendela kamarnya lalu memanggil Nyonya Han.
"eomma!"
Nyonya Han berhenti menjerit ketika merasa dirinya dipanggil.
"eomma!"
sekali lagi Jongdae memanggil Nyonya Han, Nyonya Han langsung berjalan membuka jendela kamar anaknya yang berada di bagian kanan kamar, lalu melihat wajah Jongdae yang sedang tersenyum dihadapannya.
"ya tuhan! Jongdae! sudah lama eomma tidak bertemu denganmu!"
heboh Nyonya Han sendiri hingga ia lupa akan tugasnya untuk membangunkan Minseok.
"Butuh bantuan?" tanya Minseok pada Nyonya Han.
"tentu saja! kau adalah anak eomma yang paling baik sekali~!"
Jongdae hanya tertawa kecil.
"eomma juga terbaik! eomma pergilah turun aku akan mengantikan eomma membangunkan Minseok"
Nyonya Han tersenyum.
"gomawo chagi, pulang sekolah nanti langsung kesini ok? bawa adikmu sekalian"
Jongdae mengangguk.
"pergilah aku akan mengejutkan Minseok"
Nyonya Han mengangguk lalu keluar dari kamar anaknya itu. Jongdae tersenyum sebentar lalu mulai memanjat jendela kamarnya. kalau ada orang yang melihatnya, pasti mereka berfikir bahwa Jongdae sedang berusaha untuk bunuh diri. Setelah itu, Jongdae dengan ringan melompat pergi ke jendela kamar Minseok lalu masuk ke dalam.
"Han Minseok! Sudah waktunya untuk bangun" panggil Jongdae dengan nada lembut plus dingin(?). Minseok tetap tidak merespon hingga Jongdae terpaksa menggunakan tubuhnya untuk membangunkan Minseok. perlahan-lahan Jongdae mendekat ke arah ranjang Minseok. Dalam sekejap mata, Jongdae mengangkat tubuh Minseok dari atas ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi. Jongdae meletakkan Minseok ke dalam bathtub dan menghidupkan air hangat. perlahan-lahan jeonghan membuka matanya.
"dimana?" tanya Minseok.
"kamar mandi" jawab Jongdae. Mata sipit Minseok langsung membulat.
"hyung!"
Jongdae tetap memasang wajah datar andalannya.
"ya" kata Jongdae sambil menunduk menghadap Minseok.
"cepat mandi, waktu untuk pergi ke sekolah"
lalu Jongdae mengusap kepala Minseok dengan lembut.
"hyung tunggu di bawah"
[Jennie SIDE]
Jennie membuka matanya ketika ia merasakan tangannya digengam dengan lembut.
" O hayo~reiji" kata Jennie dengan senyuman lembut yang turut di balas dengan senyuman reiji namja tampan penjaga Jennie.
"kenapa berubah menjadi manusia?" tanya Jennie heran.
"apa kau lupa Jennie? tubuh serigalaku lebih besar dari pada kamarmu. kalau aku muncul dalam keadaan serigala mungkin kamarmu akan pecah"
Jennie mengangguk.
"aku harus bersiap"
Reiji mengangguk lalu menghilang.
Setelah Jennie siap memakai seragamnya, dia langsung saja mengambil tas, lalu keluar kamar menuju ke kamar Jongdae yang berada disebelah kanan.
"O hayo~ nii-chan! Waktunya un―"
ucapan Jennie terhenti ketika ia melihat kamar Jongdae yang dalam keadaan kosong .
"kemana pula nii-chan ini? Biasanya dia selalu ada"
Jennie melihat sekeliling.
"mungkin dibawah"
Jennie menutup pintu kamar Jongdae dengan perlahan lalu turun. tak lupa, ia juga membawa tas Jongdae ke bawah.
"eh? Chanyeol nii-chan? kenapa kesini?" tanya Jennie ketika dia sampai do meja makan dengan Chanyeol yang sudah duduk di sana.
"menjemput Minseok. Jam segini dia baru bersiap, jadi nii-chan masuk kesini dulu"
Jennie mengangguk lalu mengambil tempat disebelah joshua.
[Jennie SIDE end]
Minseok turun dari kamarnya dengan santai sambil membawa tas ke meja makan.
"pagi eomma, appa" kata Minseok lalu duduk dihadapan Jongdae.
"pagi Minseok"
terdengar suara Jongdae yang menyapa Minseok.
"HYUNG?!"
Minseok terkejut hingga berdiri dari duduknya. Nyonya Han yang melihatnya langsung memukul kepala Minseok dengan piring sarapan di tangannya.
"sopan sedikit Minseok" kata Nyonya Han lalu meletakkan piring tersebut dihadapan Jongdae.
"t―tapi aku kira semuanya hanya mimpi"
Tuan Han tersenyum.
"Jongdae yang membangunkanmu tadi, jadi semuanya bukan mimpi, cepat sarapan setelah ini pergi ke sekolah bukan?"
Minseok mengangguk lalu memakan sarapannya.
"aku selesai, pergi dulu eomma, appa" kata Jongdae sambil berdiri. Minseok langsung tersedak makanannya ketika mendengar Jongdae memanggil orang tuanya dengan panggilan eomma dan appa.
"hati-hati" kata Tuan dan Nyonya Han bersamaan. Jongdae menunduk hormat pada Tuan Han dan mengecup dahi Nyonya Han lalu pergi. sedangkan Minseok, ia masih bingung dengan apa yang terjadi barusan.
[Jongdae POV]
"Nii-chan!"
Aku mengangkat kepalaku ketika mendengar suara Jennie. aku tersenyum ketika melihat Jennie dan Chanyeol menunggu didepan rumah Minseok, Chanyeol berdiri dari posisi bersandar pada mobilnya sedangkan Jennie duduk di dalam mobilku dengan mengeluarkan kepalanya dari Jendela.
"nii~ chan~ kenapa tidak bangunkan Jennie?"
aku melangkah mendekat ke arah Jennie lalu mengecup dahi yeoja manis itu dengan lembut dan membuka pintu mobil. bukannya membalas perlakuanku, Jennie malahan berlari memeluk Chanyeol dengan erat.
"yak! mau kemana kau?! berhenti bermanja-manja pada Chanyeol! sekarang giliran nii-chan!"
bukannya mendengar perkataanku, Jennie malah semakin memeluk manja Chanyeol yang tertawa kecil.
"sudahlah hyung, biarkan Jennie bersamaku sehari ok?"
aku menghembuskan nafas.
"baiklah"
Jennie menoleh ke arahku sambil tersenyum.
"terima kasih oppa"
oppa? aku memandang ke belakang dan terlihat Minseok sedang berdiri di depan pagar rumah.
"apa kalian sudah lama menunggu karenaku?"
aku mengelengkan kepala.
"tidak" jawab Chanyeol.
Jennie melepaskan pelukkannya pada Chanyeol lalu melihat ke arahku dan Minseok secara bergantian.
"Nah! Karena Jennie mau bermanja-manja pada Chanyeol oppa, Jennie akan naik mobil Chanyeol oppa dan Minseok oppa naik mobil Jongdae oppa ok? ayo!" seru Jennie dengan bahagia.
[Jongdae POV end]
Dengan semangat 45, Jennie mendorong Chanyeol masuk ke dalam mobil lalu dia berlari ke bagian pengemudi.
"sayonara!" ucap Jennie lalu mulai mengendarai buggati hitam berkilat milik Chanyeol yang hanya meninggalkan asap di udara. Jongdae dan Minseok hanya tercengang melihat tingkah Jennie.
"A―apa Jennie b―bisa mengemudi?" Tanya Minseok.
Beberapa detik berlalu dan Jongdae mulai mendapatkan kesadarannya seperti semula.
"ya. ayo berangkat. kau tidak ingin dihukum karena terlambat bukan?"
Minseok menganggukkan kepalanya. Jongdae membukakan pintu mobil untuk Minseok masuk ke dalam lalu menutupnya dengan lembut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
T B C
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[Bonus part : Chanyeol & Jennie side]
Chanyeol hanya memerhatikan Jennie yang sedang mengemudi dengan tenang.
"kau sedang merencanakan sesuatu kan?"
Jennie tersenyum licik.
"Tentu saja! nii-chan terlampau kaku ketika bersama Minseok oppa, Jennie jadi kasihan kepadanya"
Chanyeol mengangguk tanda ia paham.
"lalu apa yang akan Jennie lakukan?"
sekali lagi Jennie memperlihatkan senyuman liciknya.
"bagaimana kalau mulai saat ini Chanyeol nii-chan, menjadi 'nii-chan' untuk Jennie?"
Chanyeol tersenyum lembut plus licik.
"Boleh juga. sudah lama nii-chan tidak melihat wajah cemberut Jongdae hyung... walau nantinya aku akan mati"
Suara Chanyeol mengecil diakhir kalimat membuat Jennie tertawa kecil.
"Chanyeol nii-chan tidak akan mati selagi masih ada Jennie"
sekali lagi Chanyeol hanya bisa mengangguk.
"so.. let's start this game" ucap Jennie dan Chanyeol bersamaan.
T B C
Balasan review
Fany Hwang : iya~ alhamdulillah keripik makin keren + rapi ngeremake-nya~ ini udah dilanjut~ makasih reviewnya~
Hyera832 : NADO ANNYEONG~ eommanya umin noona emang perhatian kok, kayak aku yang perhatian ama kamu. Iya. Kamu~  ̄ω ̄ *korban redaksiana* CY appa mah takut nona muda nya kenapa-napa. Takut disambit sama tuan mudanya kalo nona mudanya kenapa-napa  ̄ω ̄ Chen appa udah nongol dari chapter awal kok, tapi dalam wujud namja dingin *brrr* pengen jadi kek Jennie? (Thehun Thaid : THTOP DREAMING PLEATHE!). Iya, keripik lagi sakit. Tapi udah mulai sembuh kok~ Amin~ semoga semua do'a kamu terkabul~ makasih reviewnya~
Guest (1) : pengen punya abang kayak Chen? Minta aja ke tuhan, siapa tau dikasih sama tuhan. Makasih review dan juga do'anya~
Guest (2) : akhirnya! Makasih reviewnya~
Guest (3) : jangan mati dulu! Fanfic nya belum tamat loh :D makasih reviewnya~
Guest (4) : YEYY! *tebar banner Chenmin*
Yeonie21 : umin noona mah gitu  ̄ω ̄. Biarkan aja papih cahyo manggil umin noona 'chagi' karena janur kuning belum melengkung  ̄ω ̄ iya dong chen appa keren. Makasih reviewnya~ ini udah dilanjut~
Guest (5) : keripik juga ngeliat kok review di akun asli author FF ini. Kamu mau nge review di FF asli nya ga?
daebaektaeluv : ini udah dilanjut~ makasih reviewnya~
A/N : akhirnya keripik update juga. Ada yang bisa ngebayangin kalo Chen Appa berubah jadi namja dingin? Sejujurnya keripik ga bisa ngebayangin tau ga. Wajah Chen Appa itu penuh dengan troll yang cukup garing (?) Oh iya, buat seseorang yang ngereview pake anonim (Haters) di FF author aslinya, *kalo kamu ngebaca ini* tolong jangan review pakai kata-kata kasar dong. Author aslinya lagi sedih, karena ngeliat review kamu yang ga pake otak sama sekali. Wajar ajalah kalo FF nya pake bahasa malay karena author aslinya tinggal di Malaysia sejak umur dia baru 3 tahun, berbicara percakapan sehari-hari dalam bahasa malaysia, tapi dia berusaha untuk bisa ngembangin bahasa ibunya yang orang indonesia. Kalau pengaturan, mungkin author aslinya sengaja pake 'bahasa indonesia' sebab hampir beberapa bagian di FFnya ada bahasa Indonesianya kok. author aslinya ga bisa ngelanjutin FF nya. Kalo author asli ga ngelanjutin, otomatis keripik juga ga bisa ngelanjutin FF ini. Baydewei, author aslinya itu perhatian banget loh :D keripik lagi sakit aja dia tau, dan dia langsung PM keripik kayak gini»
'Yah... Perasaan aku benar kamu sakit.. Aku jadi kasihan dan panic dalam satu masa! Mulanya aku fikir kamu ada kerja yang perlu dilakukan itu kata otakku tapi hatiku bilang kamu sakit aku jadi pusing sendiri heh.. Sampai2 waktu sekolah juga aku fikirin kamu. Jaga kesihatanmu jangan pernah abaikkannya ok? Kesihatan itu penting.. #^_^# '
Baca FF keripik yang lain juga ya~ check stories~
Oke, this is very long author note. Last for this Chapter, mind to review?
keripik balado
Wo ai ni men~
