Chanyeol hanya memerhatikan Jennie yang sedang mengemudi dengan tenang.
"kau sedang merencanakan sesuatu kan?"
Jennie tersenyum licik.
"Tentu saja! nii-chan terlampau kaku ketika bersama Minseok oppa, Jennie jadi kasihan kepadanya"
Chanyeol mengangguk tanda ia paham.
"lalu apa yang akan Jennie lakukan?"
sekali lagi Jennie memperlihatkan senyuman liciknya.
"bagaimana kalau mulai saat ini Chanyeol nii-chan, menjadi 'nii-chan' untuk Jennie?"
Chanyeol tersenyum lembut plus licik.
"Boleh juga. sudah lama nii-chan tidak melihat wajah cemberut Jongdae hyung... walau nantinya aku akan mati"
Suara Chanyeol mengecil diakhir kalimat membuat Jennie tertawa kecil.
"Chanyeol nii-chan tidak akan mati selagi masih ada Jennie"
sekali lagi Chanyeol hanya bisa mengangguk.
"so.. let's start this game" ucap Jennie dan Chanyeol bersamaan.
.
,
,
[REMAKE] My Husband Is a Samurai Prince
By : hinamoriamusilver (FFn)
Link : www fanfiction net/s/11750334/5/ {hapus spasi ganti titik.}
CHENMIN | BL | Drama | etc.
Summary : Menjalani pertunangan selama 3 hari dan setelah 3 hari tersebut langsung menikah? Itu tindakan yang benar-benar gila! Dan lebih parahnya lagi, orang yang akan kau nikahi tidak kau kenal latar belakangnya!
Disclaimer : ini ff punya hinamoriamusilver aku Cuma ngetranslate dari bahasa malay ke bahasa indo dan ganti cast nya doang. Cast milik tuhan, orangtua dan agensi masing-masing.
WARN! TYPO(s) Everywhere . BL . BxB
.
.
My Husband Is A Samurai Prince
.
.
Chapter 4: Shopping
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
.
.
Disepanjang perjalanan, Minseok dan Jongdae hanya diam tanpa berbicara satu patah kata pun. keduanya hanya diam tanpa berniat memecahkan kesunyian hingga ponsel Jongdae berbunyi dan langsung diangkat oleh Jongdae.
Jongdae hanya mengangguk sepanjang perjalanan dengan ponsel yang berada di dekat telinganya. Sedangkan Minseok, dia lebih memilih menikmati pemandangan yang berada diluar jendela mobil.
"Minseok-ah" panggil Jongdae setelah meletakkan ponselnya. Minseok menoleh.
" Tolong katakan ke kelas hyung, hyung tidak masuk karena demam ok"
Minseok memandang aneh pada Jongdae.
"apa hyung sedang tidak sehat? kenapa datang ke sekolah juga? Hyung seharusnya istirahat di rumah"
Jongdae menggelengkan kepalanya, tanda kalau ia sebenarnya sedang tidak sakit.
"Aku... ada suatu hal yang perlu ku urus"
"urusan apa?" tanya Minseok spontan.
"kerja"
Minseok hanya mengangguk lalu kembali melihat ke luar jendela.
.
.
.
12 menit berlalu (keripik baper heyak :v) akhirnya mobil yang dikendarai Jongdae masuk ke dalam perkarangan sekolah. Setelah memarkir mobilnya di sebelah mobil Chanyeol, Jongdae dan Minseok segera keluar dari mobil lalu berjalan ke arah Jennie dan Chanyeol yang sedang menunggu di depan mobil Jongdae.
"Jongdae oppa dan Minseok oppa lambat sekali" kata Jennie sambil melihat kedua oppanya dengan tatapan bosan.
"maaf"
Jondae berkata sepatah lalu langsung merangkul pundak Chanyeol erat.
"hyung harus pergi, jalankan perintah yang hyung berikan dengan baik" bisik Jongdae di telinga Chanyeol lalu Jongdae melepaskan rangkulannya pada Chanyeol. Chanyeol mengangguk hormat pada Jongdae.
"baik"
Jennie ikut mengangguk ketika Jongdae melihat ke arahnya.
"baiklah, hyung pulang dulu"
Minseok, Chanyeol dan Jennie lalu memberi jalan pada Jongdae. Jongdae masuk kembali ke dalam mobil, menghidupkan mesin, lalu pergi.
"ayo" kata Jennie mengapit lengan Minseok dan Chanyeol dengan manja.
[Jennie POV]
Aku mengapit lengan Minseok oppa dan Chanyeol nii-chan masuk ke dalam bangunan sekolah. Sambil berjalan, aku memikirkan Jongdae nii-chan yang pergi dengan wajah dingin sekali. aku akui, memang wajah nii-chan selalu dingin ketika orang asing ada disekitar dia, tapi kali ini lain. Raut wajah yang ditunjukkan oleh Jongdae nii-chan adalah wajah dingin bercampur duka.
"Jennie, kita sudah sampai"
Aku tersadar ketika aku mendengar suara berat Chanyeol nii-chan memanggilku dengan lembut. Aku mengangguk lalu melepaskan pautan tanganku pada lengannya lalu melangkah masuk kedalam kelas.
"Jennie?"
Langkahku terhenti ketika Chanyeol nii-chan menunjukkan pipi kanannya. Aku tersenyum tipis lalu mengecup pipi itu sekilas dan Chanyeol nii-chan memeluk tubuhku dengan erat.
"Jongdae hyung ada di Anyang"
Aku tersenyum lalu mengangguk setelah itu. Chanyeol nii-chan menepuk kepalaku dan Minseok oppa dengan lembut lalu pergi. Aku dan Minseok oppa langsung duduk ditempat masing-masing
"Jennie?"
Aku menoleh ke belakang ketika aku merasa Minseok oppa memanggilku.
"ya, Minseok oppa?"
"apa Jongdae baik-baik saja?" tanya dia padaku.
"mana Jennie tahu Minseok oppa"
Minseok memperhatikan wajahku dengan teliti. Aku langsung menatap matanya.
"katakan saja rahasiamu oppa, Jennie tidak akan menjauhi Minseok oppa"
Minseok terlihat shock. Ia menghembuskan nafasnya gusar.
"oppa melihat aura tubuh Jongdae hyung sangat aneh daripada biasanya"
Aku terkejut. Bagaimana bisa manusia biasa bisa melihat aura seseorang, tapi aku mencoba menyembunyikannya.
"maksud Minseok oppa?"
"auranya terlihat dingin dan memilukan hati"
nafasku terhenti seketika.
"mungkin Jongdae oppa sedang mengkhawatirkan miko" jawabku berusaha mengecoh Minseok.
"miko?"
aku mengangguk.
"kucing gebu* perliharaan Jongdae oppa"
Minseok oppa mengangguk. Aku melihat buku note Minseok oppa yang berada di ujung meja. sengaja aku dorong buku itu hingga buku itu terjatuh.
"buku Minseok oppa terjatuh"
Minseok menunduk untuk mengambilnya. Dengan segera aku berdiri dan melompat keluar dari jendela.
"mudah saja"
Aku terjun dari lantai tiga lalu berpaut(?) pada tiang bendera yang setinggi lantai dua lalu mendarat dengan selamat ke bawah. (Anggap aja Jennie disini turun kayak rider nya Paw patrol  ̄ω ̄)
"maaf Minseok oppa"
[Jennie POV end]
[Minseok POV]
Aku mengambil bukuku yang terjatuh, dan ketika aku melihat ke atas, Jennie sudah hilang. Aku melihat sekeliling tapi tetap saja, aku tidak menemukan Jennie.
"jeremmy dimana Jennie?" tanyaku pada namja blonde yang duduk di meja belakang. Dia mengelengkan kepalanya.
"aku tidak melihatnya"
Hembusan angin lembut menyapu kulit wajahku dengan cepat. Aku menoleh ke arah jendela disebelah meja Jennie. Jendelanya terbuka aku berdiri lalu melihat keluar jendela.
"mana mungkin yeoja sekecilnya akan terjun dari lantai 3 ini bukan?"
Aku melihat kebawah untuk memastikannya. Hingga satu tepukan lembut di bahu kananku, membuatku berhenti melihat ke bawah lalu menoleh ke belakang.
"Kim saem dalam perjalanan kemari. Sebaiknya kau duduk"
Aku mengangguk lalu menutup jendela dan duduk di tempatku kembali. Beberapa menit kemudian, Kim saem ―guru matematika― masuk ke dalam kelas. kami semua memberi hormat padanya lalu kembali duduk.
"dimana Jennie" tanya Kim saem ketika ia melihat tempat duduk Jennie kosong. Setelah pertanyaan itu keluar dari guru kami itu, terdengar suara pintu diketuk. Segera aku menoleh ke arah pintu. Terlihat Chanyeol sedang berdiri sambil tersenyum lembut ke dalam kelas mengundang jeritan para yeoja yang ada di dalam kelasku.
"sempat pula dia tebar pesona"
Chanyeol melangkah masuk ke dalam kelas dan membungkuk hormat pada Kim saem.
"maafkan saya karena menganggu kelas anda saem-nim, tapi saya akan menggantikan tempat Jennie karena dia sedang sakit"
Aku shock setelah mendengar perkataan Chanyeol.
"Jennie sakit?!"
Hampir semua orang kini melihat kearahku.
"m.. kenapa Jennie bisa sakit?"
Chanyeol hanya tersenyum lalu berjalan ke arahku atau lebih tepatnya ke meja Jennie.
"jangan khawatir. Jennie hanya kelelahan. itu saja"
Aku mengangguk dan Chanyeol menepuk kepalaku dengan lembut.
"baiklah kelas akan dimulai sekarang"
.
.
.
.
Aku meregangkan tubuhku ketika mata pelajaran matematika berakhir.
"kenapa Jennie tidak bilang padaku kalau dia sakit, Yeol?"
Chanyeol menoleh ke arahku.
"kau itu selalu panik dan risau bila melihat orang yang ada disekelilingmu sakit atau terluka jadi karena itu Jennie tidak ingin memberitahumu"
Aku mengangguk paham.
"bosan" kata Chanyeol sepatah lalu tangan jahilnya kini bermain dengan poni yang menutupi dahiku.
"Lebih baik kau tebar pesona saja. pasti kau tidak akan bosan lagi"
Chanyeol hanya tertawa kecil.
"A~ manisnya"
Aku cemberut dan Chanyeol mencubit pipi kananku.
" Kau ini apa-apaan?! "
"bukan salahku. kau saja yang dilahirkan jadi manis seperti ini" kata Chanyeol lagi dan tetap bermain dengan poniku.
"sebaiknya kau berhenti Chanyeol-ah. Aku tidak mau dijadikan makan malam oleh fansmu"
Chanyeol menoleh sebentar, melihat ke arah fansnya.
"maafkan aku. Tapi bisa tidak, kalian tidak menatap Minseok seperti itu? Aku tidak bisa melihat wajah manisnya kalau dia terus-terusan memasang wajah ketakutan"
Rasanya ingin sekali aku melempar Chanyeo dari atap dan langsung terjun ke bawah! Dengan mudahnya, pandangan fans Chanyeol berubah hanya karena permintaan bodoh darinya itu. Chanyeol kembali tersenyum ke arahku.
"selesai"
Aku langsung bangkit dari bangku ku dan segera keluar dari kelas. Chanyeol mengikutiku.
"berhentilah mengikutiku Yeol. Kau bukan lah bodyguard-ku."
Bukannya berhenti, Chanyeol malah menyamakan langkahku dan mengenggam tanganku dengan erat.
"otakmu itu tidak ada bedanya dengan anak kecil. Jadi aku harus dan tetap akan mengawalmu"
Aku mendengus kasar lalu memandang kedepan tanpa melihat Chanyeol.
"ini bukan keinginanku Minseok. Aku melakukannya karena perintah seseorang…"
Aku melirik Chanyeol sekilas.
'Perintah?.. apa maksud Chanyeol?'
[Minseok POV end]
Dijalanan kota Seoul yang kini sedang dalam keadaan macet, banyak sekali kendaraan yang dikemudikan untuk mencapai destinasi masing-masing. Dari kejauhan, bisa terlihat motor sport berwarna dark purple memotong laju kendaraan di hadapannya, dengan cepat sekali seolah-olah nyawa pengendaranya ada dua.
seorang pengendara yang sangat berani atau yang biasa di panggil Jennie.
Jennie terus-terusan mengendarai motornya secara cepat seolah-olah tidak akan ada hari esok.
"nii-chan menyebalkan! Lihat saja kalau ketemu! akan aku hukum!" sambil mengendarai motornya, Jennie masih sempat mengutuk nii-channya.
"Kyungsoo nii-chan juga sama! akan aku pastikan jatah makanannya berkurang daripada biasanya!"
Tiba-tiba ada panggilan masuk kedalam ponsel Jennie. Jennie menekan tombol kecil yang ada di fullhelm bagian kanan kepalanya.
"Ada apa?"
"tidak perlu sedingin itu, Jennie"
Jennie hanya bisa mendengus.
"yak! bagaimana Jennie tidak seperti ini! sampai hati Kyungsoo nii-chan tidak bilang pada Jennie kalau ada misi! apa yang Kyungsoo nii-chan ingat hanyalah Jennie yang masih seperti anak kecil?! walaupun Jennie harus mengakui bahwa Jennie menyelesaikan misi dengan kelakuan anak kecil! tapi seharusnya― "
"wahai Jennie-sama yang sangat nii-chan hormati~ nii-chan hanya ingin minta maaf itu saja ok"
Jennie mengerucutkan bibir manisnya.
"Kyungsoo nii-chan menyebalkan! menggunakan kelemahan Jennie untuk kepentingan diri sendiri!"
Jennie dapat mendengar suara tawa yang berasal dari bibir Kyungsoo.
"hatimu saja yang terlampau lembut, Jennie"
Jennie yanh merasa tak puas dengan percakapan via telepon dengan Kyungsoo langsung mengakhiri panggilan tersebut.
"baka!"
.
.
.
Jennie menghentikan motor sportnya di tempat parkir lalu membuka helm fullface-nya dan melihat ke atas.
"universitas anyang? anak kecil rupanya".
Jennie melihat sekeliling dan mulai melangkah dengan santai masuk kedalam universitas itu, tanpa menghiraukan pandangan aneh yang ditujukan pada dirinya hingga seseorang menegur Jennie.
"maaf tapi.. apakah adik punya urusan di sini atau tersesat?"
Jennie tersenyum kejam lalu mengamit lengan namja di hadapannya dengan lembut.
"ini perintah, di mana nii-chanku?"
bagaikan di hipnotis, namja itu membawa Jennie hingga ke atap gedung lama di belakang universitas. Disana terlihat seungcheol sedang berdiri dengan sniper di tangannya.
"membunuh tanpa mengajakku? memang nii-chan yang baik"
Jongdae hanya tersenyum ketika ia mendengar suara Jennie.
"kau terlalu buas bila mendapatkan misi, aku sampai tidak bisa membunuh siapapun"
Jennie melepaskan tautannya pada lengan namja asing itu.
"pergi dan… belilah minuman kesukaanmu. setelah itu campurkan dengan racun tikus, minum jangan bersisa"
Jennie memberikan beberapa lembar won, dan namja itu mengangguk lalu mulai melangkah gontai.
"sudah nii-chan bilang bukan? Padahal namja tadi tidak ada kaitan sama sekali dalam misi kali ini"
Jennie menghembukan nafas ringan.
"hanya pergi dan lupakan apa yang kau lihat" ujar Jennie.
[Jongdae POV]
Aku tersenyum ketika Jennie memberikan perintah baru pada namja itu, sekurang-kurangnya dia masih mendengar arahanku walau dia sendiri tidak suka dengan arahan tersebut.
"Kau ingin membunuhnya?"
Jennie kembali tersenyum. Dengan cepat dia berlari ke arahku dan mengambil alih sniper yang kupegang.
"bukankah dia teman dekat namja menjijikan itu?" tanya Jennie sambil melihatku dengan wajah dingin. Aku hanya mengangguk.
"Cih! kau seharusnya membunuh dia dengan kedua tanganmu bukannya dengan menggunakan peluru ini!"
Aku menunduk.
"aku tidak sanggup karena dia teman doo.."
Jennie menendang kursi bekas yang berada di sisi kanannya.
"apa kau masih mencintai dia?! setelah apa yang dia lakukan pada keluarga kita?! Sadar Kim Jongdae! dia hampir saja membunuhku! malahan dia tersenyum kejam ketika t.. tub.. tubuhku.."
Aku mengangkat kepalaku ketika ku dengar suara Jennie mulai bergetar. dia memeluk tubuhnya dengan erat dan matanya mulai menumpahkan liquid bening bernama air mata. Aku segera menarik tubuh kecil itu masuk ke dalam pelukkanku.
"dia.. hiks.. tubuhku.."
aku mengusap kepala Jennie dengan lembut.
"sayang maafkan nii-chan, nii-chan bersalah, nii-chan mohon kepadamu berhentilah menangis. nii-chan tidak tega melihatmu dalam keadaan seperti ini Jennie"
Jennie mengangkat kepalanya. Matanya menusuk tajam ke dalam retina mataku.
"bunuh dia! bunuh dia dengan kedua tanganmu Jongdae! bunuh dia hingga dia tidak mampu untuk meronta minta pertolongan lagi!"
Aku mengangguk dan mengecup kedua mata Jennie.
"kita perlu umpan".
Jennie mengangguk.
"Subaru" panggil Jennie entah pada siapa. Setelah itu muncul seorang namja secara tiba-tiba.
"apa kau tidak bisa memanggil yang lain? kenapa harus aku?"
Jennie melepaskan pelukkanku dan berkacak pinggang.
"biarlah! aku berhak memanggil siapa saja yang aku mau, tahu?!" kata Jennie.
"dengar, panggil namja tidak berguna itu kesini aku mau melihatnya dibunuh, paham?" tunjuk Jennie pada namja yang menjadi target kami.
"menyebalkan"
Setelah berkata satu patah kata, lelaki itu pergi.
"siapa dia?" tanyaku.
"salah satu dari serigala itu"
Aku mengangguk.
"Jennie tahu appa dan oji-san tentu sudah bercerita tentang mereka pada nii-chan bukan?"
"ya, melihat kau baik-baik saja, nii-chan jadi lega. Jadi... Ya tidak apa-apa"
Jennie tersenyum hingga eyesmile dan dimplenya terlihat.
"Nii-chan harus janji pada Jennie, berhenti mencintai dia dan buka hati nii-chan untuk menerima orang lain ok"
aku mengangguk walaupun separuh hatiku mengatakan bahwa aku akan melanggar janji itu.
[Jongdae POV end]
Setelah menunggu selama beberapa saat, akhirnya orang yang di tunggu mereka tiba.
"lama kita tidak berjumpa sakata" kata Jongdae pada namja yang bernama sakata itu.
"b.. bagaimana kau.."
Sakata tidak mampu meneruskan ucapannya karena perasaan takut yang menyerang.
"kalian lupa apa yang pernah aku katakan pada kalian semua?"
Kali ini Jennie pula yang bersuara.
"aku dan keturunanku yang lain akan tetap mencari kalian walau ke ujung dunia sekali pun! dan akan aku habisakan kalian satu per satu, 6x lebih kejam daripada apa yang pernah kalian lakukan pada keluargaku dulu!"
Sakata mengambil langkah untuk kabur namun kakinya tetap berada pada tempat itu. Dia berdiri dengan perasaan takut. Sakata melihat ke bawah dan ternyata perasaannya benar. kakinya sudah ditahan dengan sepasang tangan bayangan milik Jongdae.
"a.. aku mohon .. lepaskan aku"
Jennie mengelengkan kepalanya.
"nii-chan"
Jongdae berjalan dengan perlahan dengan katana yang berada di tangan kanannya. perlahan-lahan Jongdae menyayat dada Sakata. Pekat darah merah langsung merembes, membasahi kemeja yang dikenakan Sakata sedangkan Jennie, dia sungguh menikmati permandangan yang ada di hadapannya dengan senyuman lebar.
"aku moho―aarrgghh!" jerit Sakata menahan setiap irisan katana Jongdae pada tubuhnya.
"tidak! aku mau kau merasakan apa yang aku rasakan saat itu ketika aku memohon pada kalian untuk berhenti tapi kalian tidak melakukannya!" kata Jennie lantang. Nafasnya tampak terburu-buru.
"Nii-chan berhenti"
Jongdao berhenti menyayat tubuh Sakata dan berjalan mundur menjauhi Sakata. Jennie mendekati Sakata yang tampak kesakitan lalu tersenyum ke arah sakata.
"aku akan memaafkan kau jika kau bilang dimana keturunan menjijikan itu berada sekarang"
Sakata mengelengkan kepalanya.
"a..aku hah.. tidak tahu.. mereka melepaskan aku.."
Jennie mengangguk paham.
"baiklah aku maafkan kau" kata Jennie lalu tersenyum tulus.
"aku serahkan dia padamu, subaru"
Jennie menarik tangan Jongdae untuk sedikit menjauh.
"subaru tidak suka bila orang lain selain keluarga dia melihat bagaimana cara dia makan"
Jongdae mengangguk lalu menoleh ke arah depan. setelah itu Jennie dan Jongdae dapat mendengar dengan jelas suara tulang sakata yang patah dimakan oleh Subaru.
"ayo pulang"
Jennie mengangguk.
.
.
.
.
―Seoul, 4:14 p.m
.
.
Jongdae dan Jennie beristirahat di ruang tv dengan tubuh Jennie yang dibungkus selimut hangat.
"bosan" komentar Jennie sambil melihat televisi yang sedang menayangkan acara runningman.
"mau bagaimana lagi? sekarang sedang hujan jadi tidak banyak aktivitas yang bisa kita lakukan"
Jennie menganggukkan kepala.
"Jennie suka hujan tapi kadang hujan hanya terlalu membosankan"
Jongdae hanya mengusap lembut kepala Jennie yang berbaring di atas pahanya.
"oka-san dan appa kemana?"
"tugas"
Jennie mengangguk.
"nii-chan telpon Chanyeol nii-chan" kata Jennie ceria.
"untuk apa?"
Jennie tersenyum cerah.
"Jennie mau shopping!" seru Jennie dengan semangat.
"Jennie~ baju dan dressmu masih banyak yang belum dipakai"
Jennie mempoutkan bibirnya.
"ayolah nii-chan~ nii-chan sayang Jennie kan?" kata Jennie manja.
"satu gigitan"
Jennie menganggukkan kepalanya lalu naik ke atas dengan posisi menghadap Jongdae.
"pelan-pelan" ucap Jennie memperingatkan. Jongdae mengangguk lalu menyibak helaian rambut Jennie kebelakang dan menempatkan wajahnya di potongan leher Jennie. Perlahan-lahan Jongdae menjilat dan menciumi leher Jennie dengan lembut lalu mengigitnya dengan keras hingga mengeluarkan darah, Jongdae menghisap darah yang mengalir keluar dengan nikmat sekali dan memeluk pinggang Jennie dengan erat.
"Hmm.. nii-chan berhenti! Darah Jennie bisa kering kalau begini" kata Jennie sambil mengusap kepala nii-channya dengan lembut. Jongdae yang ketagihan, tidak menghiraukan ucapan Jennie. Mau tidak mau, Jennie terpaksa menarik kepala Jongdae menjauh dari lehernya.
"nii-chan.. darah Jennie hampir kering" kata Jennie dengan suara lemah.
[Jongdae POV]
Aku terkejut ketika suara Jennie melemah. Sadar akan kesalahan yang aku lakukan, segera aku mengangkat tubuh ringan Jennie dan ku baringkan dia ke atas sofa.
"sebentar" kataku lalu menuju ke arah kulkas mengambil darah simpanan yang ada dan membawanya untuk Jennie. Aku menuangkannya ke dalam gelas dan memberikan kepada Jennie untuk diminum.
"ini"
Jennie mengambil gelas itu dari tanganku dan minum menggunakan sedotan.
"Suda lebih baik?"
Jennie mengelengkan kepalanya.
"mau lagi"
Akhirnya Jennie menghabiskan 2 pack darah.
"maafkan nii-chan karena tidak bisa mengontrol diri"
Jennie hanya tersenyum.
"bukan salah oppa"
Setelah itu pintu rumah kami terbuka menampakkan tubuh Chanyeol yang masuk ke dalam.
"hyung kelepasan lagi?"
Aku mengangguk.
"hyung seharusnya bisa mengontrol diri tapi hasilnya tetap saja" ujarku.
Chanyeol tertawa kecil.
"bukan salah hyung, darah Hikaze memang yang paling enak untuk diminum"
"yak! kalian berbicara seakan-akan darah yang berada dalam badan ini adalah minuman paling 'wah'!"
Aku mengusap lembut kepala Jennie.
"kau harus coba minum darahmu sendiri nanti"
"malas bicara dengan nii-chan! Chanyeol nii-chan angkat violet ke kamar sekarang!"
Chanyeol tersenyum lalu mengangkat tubuh ringan Jennie naik ke atas.
"jangan kau minum darah Jennie" kataku
"tidak perlu, aku ada simpanan sendiri"
Aku tersenyum.
"kalau Jennie tahu bahwa Chanyeol bersama dengan orang yang dia sayang, pasti dia gembira"
.
.
.
.
.
"Wah.."
Aku mengusap kepala Jennie karena ia tampak kalap melihat shopping mall yang besar.
"sudah berapa tahun hyung mengurung Jennie demi menghindari shopping?" tanya Chanyeol padaku.
"Entahlah"
Chanyeol hanya tersenyum lalu Jennie memeluk lengan Chanyeol dengan erat.
"nii-chan tidak dipeluk?" tanyaku pada Jennie. Bukannya menjawab, Jennie malah menjulurkan lidahnya.
"wekk~ Jennie tidak bebas shopping kalau sama nii-chan" kata Jennie.
"ya! nii-chan melakukan ini hanya untuk keselamatanmu tahu!"
[Jongdae POV end]
Jennie memutar bola matanya malas.
"iya, Jennie sangat tahu kalau nii-chan sangat mementingkan keselamatan Jennie, tapi tidak perlu berlebihan. Jennie masih bisa melindungi diri sendiri"
Jongdae mengusak rambutnya sedikit kasar.
"tapi Jennie…"
"apa yang Jongdae hyung lakukan?"
Chanyeol memotong pembicaraan antara kakak beradik tersebut. Jennie langsung menjawab.
"Jongdae nii-chan menyuruh anak buahnya untuk menemani Jennie berbelanja"
Chanyeol tampak kebingungan dan memasang wajah aneh.
"memangnya kenapa kan bagus?"
Jongdae yang berjalan di belakang mereka mengangguk setuju dengan perkataan Chanyeol.
"kalau yang menemani hanya 2 orang tidak apa-apa. Tapi ini jumlahnya melebihi 20 orang! kalau Jennie anak raja pasti Jongdae nii-chan menyewa satu mall ini hanya karena Jennie ingin shopping!"
Chanyeol hanya tertawa sambil menepuk bahu Jongdae tanda simpati.
"Jongdae hyung hanya ingin melindungimu Jennie"
Jennie mempoutkan bibirnya.
"Jennie tahu, tapi tidak perlu berlebihan"
Jongdae menghembuskan nafas panjang.
"baiklah sebagai tanda permintaan maaf, nii-chan akan membelikan apa saja yang kau inginkan"
Wajah Jennie tampak berbinar.
"benar nii-chan?! nii-chan tidak bohong'kan?"
Jongdae mengangguk lalu mengusap kepala Jennie lembut.
"iya, nii-chan janji"
Kemudian Chanyeol mengecup pipi kiri Jennie.
"oppa juga akan traktir Jennie sebagai hadiah karena Jennie pindah ke sini"
Jennie mengukir sebuah senyum manis hingga menimbulkan eyesmile yang cantik serta dimple di kedua pipinya.
"asyik!" seru Jennie.
"tapi ada imbalannya" kata Chanyeol dan Jongdae serentak. Jennie mengecup kedua pipi nii-channya dan mengapit lengan mereka berdua. Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada sekumpulan yeoja sedang memerhatikan mereka dengan pandangan benci.
[Minseok POV]
Aku merebahkan tubuhku keatas sofa ruang tamu ketika aku telah selesai mandi.
"AAAAAHHHHH!"
Aku terkejut ketika telingaku mendengar suara jeritan eomma yang terasa sangat aneh. Aku langsung berlari ke dapur diikuti oleh appa yang tampaknya baru saja turun dari kamar.
"Eomma?! Wae-yo?!" tanyaku pada eomma.
"Minseok-ie! kau harus bantu eomma!"
aku langsung memasang wajah aneh karena tiba-tiba saja eomma mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya tepat didepan wajahku.
"kau harus dapatkan tas tangan ini untuk eomma!"
"Kenapa tidak eomma beli sendiri?" tanyaku lagi.
"eomma tidak bisa pergi membelinya karena eomma dan appa harus menghadiri pertemuan para pejabat."
Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
"tidak boleh besok saja?"
Eomma menghadiahkan tamparan sayangnya di lenganku.
"ini tas tangan limited edition tahu! Banyak wanita di luar sana yang menginginkan tas tangan ini, eomma tidak mau melepaskkannya. jadi tolong~"
appa menepuk bahuku.
"pergilah.. apa kau sanggup melihat sifat alien eommamu kambuh?"
Aku mengelengkan kepalaku.
"sumpah! aku tidak mau eomma kambuh lagi!"
Appa tersenyum.
"Bergegaslah! kami harus pergi sekarang"
Aku bingung.
"Kalau kalian pergi, siapa yang akan mengantarku ke mall?"
Eomma tersenyum.
"Tak usah risau! eomma yang urus! Ini kartu kredit eomma" kata eomma lalu menyerahkan kartu kredit golden miliknya kepadaku.
"bye~"
Setelah itu, eomma langsung menarik tangan appa dan meninggalkanku.
"aku harus menerima kenyataan kalau ternyata eommaku adalah seorang alien".
.
.
.
Setelah bersiap, aku keluar dari rumah lalu menguncinya. Ketika aku menoleh ke belakang, aku melihat sosok Jongdae sedang menunggu sambil bersandar pada buggati putih miliknya. Aku melangkahkan kakiku mendekatinya.
"apa yang hyung lakukan disini?" tanyaku sambil melihat sekeliling. Mungkin eomma menyewakan taksi untukku.
"apa yang kau cari?"
Aku berhenti melihat sekeliling dan kini melihat ke arah Jongdae.
"taksi" jawabku sekenanya.
Jongdae mendekat lalu menarik tanganku lembut.
"eomma menyuruh hyung menjemputmu"
.
.
.
.
Aku terkejut ketika kami sedang dalam perjalanan ke mall. Aku heran pada Jongdae.
"hyung.. kenapa hyung memanggil eommaku dengan panggilan eomma juga?"
"eomma mu dan oka-san sudah lama berteman jadi eommamu menyuruh hyung memanggil dia dengan panggilan eomma"
Aku mengangguk.
.
.
.
.
.
Jongdae memarkirkan mobilnya dan kami berdua masuk ke dalam mall dan lansung menuju foodcourt area.
"wah, oppa! bajunya sama dengan angel oppa"
Aku melihat Jennie dan Chanyeol sudah duduk di meja makan berdua. Kini aku melihat ke arah sweater yang aku kenakan dengan kemeja Jongdae. warnanya senada sama-sama royal blue.
"ini hanya kebetulan saja! kalian pun sama! dan Jennie.. kenapa kamu menganggil oppa dengan sebutan angel?" tunjuku pada tank top dan kemeja Chanyeol yang berwarna peach.
"apa lagi kalian ditinggalkan berdua pasti kalian date bukan?!" kataku.
Jennie tersenyum lalu mengecup pipi Chanyeol.
"kalau benar Jennie date sama Chanyeol oppa apa yang akan angel oppa lakukan? benarkan Chanyeol-ie oppa?" kata Jennie dengan manja. Chanyeol tersenyum lalu merangkul erat bahu Jennie dan mencium kepala Jennie.
"ya chagi~"
'Pletak'
Jongdae mendaratkan jitakan 'sayang dan cintanya' pada kepala Chanyeol.
"langkahi mayat hyung dulu baru pacaran sama Jennie"
Aku tersenyum lalu mengusap lengan Jongdae lembut.
"hyung tidak perlu overproctective pada Jennie. Dia sudah besar"
Jongdae hanya mendengus kasar. Secara refleks, tanganku mencubit pipi Jongdae, Jennie dan Chanyeol termasuk aku sendiri shock dengan apa yang telah kulakukan. Jongdae menoleh melihatku.
"maaf" kataku lalu menurunkan tanganku. Jongdae hanya mengusap kepalaku lembut.
"baiklah sekarang mau kemana dulu?" tanya Jongdae dan Jennie langsung mengangkat tangannya.
"beli dress dan Jennie sudah tahu nama yang sesuai untuk Minseok oppa yaitu angel" kata Jennie semangat lalu diangguki yang lain.
"setuju?" tanya Jongdae kepadaku.
"maksud hyung?"
Jennie langsung memotong pertanyaanku.
"angel oppa mau ikut Jennie ke butik? kalau tidak mau, Jongdae oppa bisa menemani angel oppa ke tempat lain dan Chanyeol oppa akan temani Jennie"
Aku mengangguk.
"kalau begitu oppa akan pergi dengan Jongdae hyung ok?"
Kali ini giliran Jennie yang mengangguk.
"baiklah"
Jennie mendekat lalu mengecup pipiku dan Jongdae.
"jaga diri oppa dengan baik"
dan aku mengusap kepala itu dengan lembut.
[Minseok POV end]
Hati Jongdae terasa sejuk ketika melihat kelembutan yang ditunjukkan oleh Minseok. Lalu Jongdae melihat ke arah Chanyeol yang sedang tersenyum.
"dan kau Park Chanyeol, jaga Jennie dengan baik. ini adalah perintah" kata Jongdae tegas dan dijawab dengan tunduk hormat dari Chanyeol.
"Baiklah"
Minseok yang melihat kelakuan Jongdae dan Chanyeol jadi merasa aneh sendiri.
"kenapa kau bersikap seolah-olah Jongdae itu adalah tuan mu Chanyeol?"
Chanyeol terlihat sedikit panik ketika Minseok bertanya.
"ah! itu permainan Chanyeol oppa dan Jongdae oppa ketika mereka kecil"
"kecil?" Tanya Minseok lagi.
"bukan! mereka baru saja bermain kata perintah barusan hahaha..." kata Jennie lalu tertawa canggung.
'wah, tampaknya aku harus belajar bagaiman cara menipu yang baik dari Yifan oppa' batin Jennie sedangkan Minseok hanya mengangguk.
"ayo pergi" kata Jennie lalu menarik tangan Chanyeol menjauh.
"kau mau kemana?" tanya Jongdae pada Minseok.
"toko yang menjual tas tangan"
Jongdae mengangguk lalu mulai berjalan. Sepanjang perjalanan banyak orang yang memperhatikan mereka.
"wah! lihatlah pasangan itu mereka sangat cocok"
"aku iri~ kenapa namjachinguku tidak setampan dia~"
itulah beberapa ucapan yang dilontarkan untuk mereka berdua dan akhirnya mereka sampai di toko yang menjual berbagai macam jenis tas tangan.
"masuklah hyung akan tunggu diluar"
Minseok mengangguk lalu masuk ke dalam.
Ketika Minseok masuk ke dalam toko dia langsung disambut dengan ramah oleh penjaga toko tersebut.
"ada yang bisa saya bantu?"
Minseok mengangguk.
"apakah toko ini ada menjual tas tangan limited edition yang baru saja keluar?"
Penjaga itu tersenyum.
"Ya, dan anda beruntung, masih tinggal satu, ingin melihatnya dahulu?"
Minseok mengangguk (keripik bosen, umin ngangguk mulu) lalu duduk di atas kursi yang disediakan, sedangkan penjaga toko itu membuka lemari kaca yang ada dibelakangnya lalu mengeluarkan tas tangan itu dan meletakkannya di atas meja kaca dihadapan Minseok. Minseok mengambil tas tangan itu untuk diteliti.
"designnya simple tapi terlihat elegant dengan taburan krystal"
Penjaga toko itu tersenyum.
"nampaknya anda adalah seorang pemerhati barang yang baik. jadi bagaimana? anda setuju membelinya?"
Minseok mengangguk. (Keripik : LAAGIII?! Ga copot tuh kepala ngangguk mulu?)
"ya"
Penjaga toko itu mengambil tas tangan itu dan mulai membungkusnya ke dalam kotak dan di masukkan ke dalam paperbag lalu diserahkan kepada Minseok. Minseok mengeluarkan kartu gold milik eommanya untuk membayar.
Usai membayar Minseok keluar dari toko sambil tersenyum tapi senyuman itu pudar ketika matanya melihat ke arah Jongdae yang sedang berbicara dan tampak mesra sekali pada seorang namja bertubuh mungil dengan surai magenta. Malahan Minseok bisa mendengar dengan jelas suara tawa Jongdae. Hati Minseok terasa nyeri dan jantungnya berdetak memburu ketika melihat pemandangan tersebut. Minseok segera berjalan mendekat lalu mengapit lengan kekar Jongdae.
"maaf, apa kau lama menunggu?" tanya jeonghan dengan nada lembut sambil tersenyum. Jongdae melihat Minseok dengan tatapan datarnya.
"tidak juga, karena hyung punya teman yang bisa diajak bicara"
Minseok melihat namja mungil yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.
"ini siapa hyung?" tanya Minseok.
"perkenalkan ini Byun Baekhyun panggil saja Baekhyun atau Bacon. Dia salah satu teman dekat hyung"
Minseok mengangguk (keripik : oh tuhan kasian kepala umin noona~) . Entah mengapa jantungnya kembali berdegup normal ketika Jongdae mengatakan bahwa Baekhyun hanyalah teman dekatnya.
"salam kenal aku Han Minseok"
Namja mungil itu mengangguk.
"salam kenal juga, sebaiknya aku pergi sekarang. masih ada keperluan lain yang perluku beli" kata Baekhyun sambil tersenyum.
Jongdae mengangguk lalu tersenyum hangat dan mengusap lembut kepala Baekhyun.
"baiklah jaga dirimu dengan baik, sampaikan salam hyung pada keluargamu ok"
Baekhyun mengangguk.
"Ok, tapi jangan khawatirkan aku karena tubuhku yang mungil"
Jongdae hanya bisa terkekeh setelah mendengar perkataan Baekhyun.
"hyung tahu kau bisa membunuh siapa saja dengan ucapanmu yang tajam itu"
Baekhyun hanya tersenyum. Lalu sepasang kaki nan jenjang itu mulai melangkah pergi, meninggalkan Jongdae dan Minseok.
"mau kemana lagi?"
Minseok melihat wajah Jongdae yang kebetulan menoleh kearahnya, membuat jarak wajah mereka menjadi sangat dekat. Minseok yang pertama sadar akan hal itu, lansung mundur selangkah kebelakang.
"a.. aku sudah selesai, hyung bisa mencari Jennie kalau mau"
[Minseok POV]
Wajahku terasa panas ketika aku sadar bahwa jarak antara wajah kami berdua sangat dekat. Jongdae mengelengkan kepalanya.
"Ah, hyung mau membelikan sesuatu untuk Jennie sebagai hadiah"
Aku mengangguk lalu kami mulai berjalan. Sesungguhnya aku sangat sulit berjalan karena orang-orang yang berlalu lalang sedang padat. Aku berusaha mengelak dan tanpa sengaja aku telah menabrak seseorang.
"maaf" kataku lalu segera melihat siapa orang yang tertabrak bahuku.
"yak! hyung kalau mau berhenti beri peringatan dulu" kataku sambil mengusap hidungku. Aku melihat Jongdae yang tingginya beberapa cm diatas ku.
"tanganmu"
Aku merasa aneh sendiri ketika Jongdae meminta tanganku.
"ayo"
Aku memberikan tangan kananku dan segera disambut oleh Jongdae. Jongdae menautkan jemarinya pada jemari tanganku dengan lembut dan hangat sekali.
"kalau begini kau tidak akan kesulitan berjalan lagi"
"hm.." jawabku gugup.
Wajahku kembali memanas. Aku tidak menyangka kalau Jongdae sebenarnya memerhatikanku, sedangkan dia berjalan di depan tanpa menoleh sedikit pun. Akhirnya kami singgah ke toko pakaian lolita.
"hyung pasti mau masuk ke dalam?" tanyaku sambil melihat toko yang terlampau ceria menurutku.
"ayo" kata Jongdae lalu menarik tanganku masuk ke dalam.
"selamat datang, ada yang bisa saya bantu tuan dan nyonya?" tanya penjaga toko itu kearah kami berdua.
"tolong carikan dress simple warna pastel untuk ukuran yeoja setinggi dadaku, bertubuh langsing dan dia juga mempunyai kaki jenjang dan tolong janga mengambil warna pink"
Penjaga toko itu mengangguk paham.
"baiklah tuan, anda nyonya?"
Aku mengelengkan kepalaku.
"aku dan istriku akan tunggu disini"
Aku terkejut dan ingin protes tapi Jongdae sudah menarikku ke ruang tunggu yang disediakan.
"kau akan merasa lebih malu lagi kalau penjaga toko itu tahu bahwa kau adalah namja, tampaknya mereka kagum dengan wajahmu"
Bibirku terkatup rapat, tidak mampu untuk berbicara lagi.
"pergilah berkeliling, tapi ingat hanya di dalam toko ini saja. Paham?"
Aku mengangguk lalu bangkit dari duduk dan melihat dress serta accessories yang ada di dalam toko itu. Mataku terpana pada sebuah gelang tangan platinum dengan ukiran flora lembut. Ditengah-tengahnya ada ukiran sayap angel yang sangat indah sekali dengan permata biru sebagai daya tariknya.
"indah sekali" ujarku monolog.
T B C
Balasan review
Hyera832 : Nado annyeong~ jangan bingung-bingung  ̄ω ̄ iya dung keluarga ChenPa bahagia banget. Ayahnya Jennie kan orang Koriya, cuma ibunya yang Jepun.
Aku juga ga tau kenapa umma bisa baca aura disini, karena aku baru baca sampai chap 5 di FF aslinya.
Jennie pan cewek strong #cewekstrong. Kalo reiji mah, tergantung bayangan kamu aja, mau dibuat ganteng atau temsek #heyaaaakkk #menistakanbias
Cie yang berasa baca komik jepang #CIIAAA
Maafkan TYPO saia. Ga sempet ngedit. Kehidupan anak kelas duabelas makin syulit.
Kita sama! Sama-sama ga bisa ngebayangin ChenPa jadi cool. Coba perhatiin ChenPa di MV lucky one, disonoh ChenPa cukup cool dan dingin kok  ̄ω ̄
Kalo keripik ga salah, dia ada bilang ogeb lah, otak author nya ada di dog food lah. (Keripik lupa persisnya gimana, tapi kalau kamu mau liat bisa kok, kamu cari FF aslinya, terus klik ke arah jumlah reviewnya)
Authornya emang baik kok  ̄ω ̄ kalo ga baik, mana mungkin dia ngasih keripik nge trans. ye gak?
Keripik udah sembuh kok. Sembuh dari sakit yang satu, pindah lagi ke yang lain. Semoga aja keripik bisa sembuh seperti sedia kala #heyaaaaakk
Makasih makasih~ udah di next heyak~
daebaektaeluv : iya dung. Chenmin mulai deket  ̄ω ̄ udah dinext heyakkk~
anson : peran Jennie itu banyak sebenernya. Mungkin di awal-awal chapter, terasa kayak nge ganggu ya? Padahal nanti Jennie jadi mak comblangnya ChenMin, tukang urus acara pernikahan ChenMin terus nanti bakal ada part dimana Jennie nyelamatin Xiumin dan ngebuat Chen sadar kalo Chen suka ama Xiumin. Jadi, Chara Jennie disini gabisa dihapus. Maaf kalau chara Jennie mengganggu.
Yeonie21 : 나는남자 아니요ω나는 여자, 언니.Kenapa keripik manggil Xiu noona? Udah kebiasaan manggil 'eonni-eonni' di sekolah pake kata 'noona', jadi ya gitu deh noona. Ini udah dinext noona~
Guest : keripik juga ga paham sama haters itu. ANDWAAEE! Jangan fall in love ama keripik, keripik udah punya someone #heyaaakkk
inlovewithjennie : keripik ga hapus chara Jennie kok tenang aja.
fans author : ini udah dilanjut. What the... Fans author? 이거 amu 누나?
princess of kpop : kamu mah lebih sangat. Fanfic ini tak kan lah terlalu menyentuh hati korang. Makasih ye review korang~
paugendut : ini udah update, maaf telat .-. File nya sempat hilang ._.
kpop saintic : udah update~
A/N : di author note kali ini, keripik ga banyak cuap kok. Cuma mau bilang aja, keripik nanti bakalan Late update *kayaknya* apalagi sekarang udah kelas 3 SMA, banyak mata pelajaran yang mesti dikuasain dalam waktu 1 semester. Mana buku mata pelajaran wajibnya tebel-tebel. Mana keadaan tubuh kayak gini. Masa keripik bisa hampir pingsan cuma gara-gara main Basket. Keripik bingung sendiri. Maafkan TYPO yang menyempil. Udah ah, Last for this Chapter, mind to review?
keripik balado
Wo ai ni men~
P.S : ada yang tau cara buat nebelin rambut?
P.S.S : lagu nya Yifan Daddy enak banget. Yang 'Wu Yi Fan - From Now On (从此以后)' rilis nya 160722 sumpah, keripik jadi pengen tidur setelah mendengar lagu Kris daddy ini. #recommendedsong
P.S.S.S : keripik bakal late update kayaknya. Keripik lagi pusing sekarang. Yang penasaran next chapternya gimana, bisa liat FF aslinya. FF aslinya udah 10 Chapter. Author nya lagi demam, jadi chap 11 mungkin agak lama.
