"selamat datang, ada yang bisa saya bantu tuan dan nyonya?" tanya penjaga toko itu kearah kami berdua.

"tolong carikan dress simple warna pastel untuk ukuran yeoja setinggi dadaku, bertubuh langsing dan dia juga mempunyai kaki jenjang dan tolong janga mengambil warna pink"

Penjaga toko itu mengangguk paham.

"baiklah tuan, anda nyonya?"

Aku mengelengkan kepalaku.

"aku dan istriku akan tunggu disini"

Aku terkejut dan ingin protes tapi Jongdae sudah menarikku ke ruang tunggu yang disediakan.

"kau akan merasa lebih malu lagi kalau penjaga toko itu tahu bahwa kau adalah namja, tampaknya mereka kagum dengan wajahmu"

Bibirku terkatup rapat, tidak mampu untuk berbicara lagi.

"pergilah berkeliling, tapi ingat hanya di dalam toko ini saja. Paham?"

Aku mengangguk lalu bangkit dari duduk dan melihat dress serta accessories yang ada di dalam toko itu. Mataku terpana pada sebuah gelang tangan platinum dengan ukiran flora lembut. Ditengah-tengahnya ada ukiran sayap angel yang sangat indah sekali dengan permata biru sebagai daya tariknya.

"indah sekali" ujarku monolog.

.

,

,

[REMAKE] My Husband Is a Samurai Prince

By : hinamoriamusilver (FFn)

Link : www fanfiction net/s/11750334/5/ {hapus spasi ganti titik.}

CHENMIN | BL | Drama | etc.

Summary : Menjalani pertunangan selama 3 hari dan setelah 3 hari tersebut langsung menikah? Itu tindakan yang benar-benar gila! Dan lebih parahnya lagi, orang yang akan kau nikahi tidak kau kenal latar belakangnya!

Disclaimer : ini ff punya hinamoriamusilver aku Cuma ngetranslate dari bahasa malay ke bahasa indo dan ganti cast nya doang. Cast milik tuhan, orangtua dan agensi masing-masing.

WARN! TYPO(s) Everywhere . BL . BxB

.

.

My Husband Is A Samurai Prince

.

.

Chapter 6: Who My Fiance?

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

.

.

[Jongdae POV]

Aku menyuruh Minseok berkeliling karena aku tidak ingin dia merasa bosan menungguku, dan aku sangat hafal dengan style Jennie jadi sangat sulit untuk menemukan dress yang sesuai dengan seleranya yang kadang terasa sangat aneh seperti alien dari luar angkasa. Sembari melihat sekeliling, mataku menangkap Minseok sedang asyik memperhatikan sesuatu. Jadi segera saja aku melangkah ke sana.

"indah" gumam Minseok terdengar olehku, aku melihat apa yang diperhatikan Minseok. Rupanya ia sedang memperhatikan sebuah gelang tangan platinum.

"Mau?" tanyaku di tepi telinganya. Secara otomatis, Minseok menutup telinganya dan menoleh ke belakang sedikit menjauh. Wajahnya memerah. Entah mengapa aku suka melihat wajahnya memerah dengan sempurna.

"a-apa?"

Haha.. suaranya lucu sekali.

"apa kau mau gelang itu?" tanyaku lagi.

"t-tidak perlu! ini sangat mahal! a-aku hanya kagum dengan designnya saja haha.."

Lalu Minseok menjauh dariku dan duduk dikursi yang disediakan untuk menunggu. Aku memanggil salah satu penjaga toko yang berada di sana.

"ya tuan" katanya sambil tersenyum.

"tolong bungkuskan gelang itu dengan cantik dan rapi lalu masukkan ke dalam paper bag yang berbeda"

Penjaga toko itu mengangguk sambil membawa gelan itu.

-.-.-.-.-.-

Hampir 1 jam kami berdua berkurung dalam toko lolita itu dan aku akhirnya menemukan 3 helai dress yang menurutku memenuhi 'style' alien Jennie. Setelah membayar, kami langsung keluar untuk menemui Jennie.

"kemana alien itu?" kataku perlahan dan memerhatikan sekeliling, namun terhenti ketika Minseok merapatkan tubuhnya kepadaku. Aku menoleh dan menatapnya aneh.

"kau kenapa, Minseok?"

Minseok melihat wajahku dan terlihat ia mencoba untuk tersenyum.

"aku tidak pasti ini perasaanku atau memang ada seseorang sedang memerhatikan aku hyung"

Keningku berkerut tanda bingung.

'memperhatikan Minseok?'

Aku melihat sekeliling tapi mataku tidak menemui suatu hal yang aneh.

'honami cari siapa yang memperhatikan Minseok. setelah menemuinya, segera bilang padaku' perintahku pada honami dalam hati. Setelah itu bayang-bayangku mulai bergerak menjauh.

"mungkin perasaanmu saja"

Minseok mengangguk. Aku kembali menautkan jemari kami dan berjalan pergi.

-.-.-.-.-.-.-.-

"Oppa~!"

aku hampir saja menyemburkan minumanku karena terkejut dengan kehadiran Jennie serta Chanyeol yang berjalan santai dibelakangnya, mataku membulat ketika melihat paper bag belanjaan Jennie. aku langsung mengurut dada menahan emosi.

'sabar Jongdae.. ini bukan salah Jennie. ini salahmu sendiri karena mengurung Jennie untuk bershopping ria selama 4 tahun.. huh~! TUHAN KENAPA AKU BIARKAN DIA MEMEGANG KARTU KREDIT UNLIMITTED-KU!'

Aku melihat ada 2 orang namja lain menolong Chanyeol mengangkat paper bag milik Jennie. Mereka segera menunduk hormat ketika aku memberi isyarat supaya mereka berhenti.

"hyung setahuku tadi hanya ada Chanyeol yang mengikuti Jennie, mereka ini siapa?" tanya Minseok.

"perkenalkan ini asisten pribadi Jennie, Do Kyungsoo, dan yang tinggi ini pula asisten appa, Wu Yifan"

Minseok menunduk hormat pada mereka.

"Jennie, coba uraikan pada oppa apa saja yang kau beli"

"oppa mau mendengarnya? kalau Jennie uraikan sekarang belum tentu besok akan selesai"

aku mengelengkan kepala.

"sudah, tidak mengapa".

[Jongdae POV end]

[Minseok POV]

Kalau mengikutkan kata hati, aku ingin sekali tertawa sekuat-kuatnya melihat wajah terkejut Jongdae walau tidak begitu terlihat dan juga wajah Jongdae ketika melihat barang belanjaan Jennie.

'hah~ dia anak orang kaya ternyata'

Aku tersenyum lalu mengait lengan Jongdae.

"ayo makan, aku sudah lapar ni~" kataku manja pada mereka semua. Jennie memasang senyum lebar.

"angel oppa sudah seperti koala saja.."

Aku melihat Jennie lalu Jennie menunjuk pada lengan Jongdae, OH TUHAN! aku mengait lengan Jongdae tanpa sadar! aku melihat Jongdae lalu tersenyum gugup.

"tak apa" kata Jongdae. Chanyeol pun tertawa kecil.

"sudahku bilang untuk mengubah kebiasaanmu memeluk lengan orang tetap saja tidak mau, kalau yang dipeluk aku tidak mengapa, gimana kalau orang lain?"

Aku menendang kecil kaki Chanyeol.

"bukan salahku! lagi pula Jongdae hyung tidak marah padaku bukan"

Chanyeol hanya mengangguk.

"sampai kapan kita mau berdiri disini seperti patung selamat datang?" tanya Jennie dengan wajah datar.

"hehe.. maaf" kataku pada Jennie.

"kita makan di luar ok?" tanya Yifan, namja tinggi asisten appa Jennie dan Jongdae.

"bagaimana dengan restaurant Perancis?" usul Jennie. Aku mengangguk.

"tentu saja!"

Dikarenakan wajahku yang terlalu semangat, mereka semua menganggukkan kepala saja.

―Restaurant Candy Perancis..

Setelah mendapatkan meja di sudut restaurant sebelah jendela, kami berenam duduk sambil bersenda gurau kecuali Jongdae yang hanya diam sambil melihat ke luar jendela memperhatikan yang berlalu lalang. aku memperhatikan auranya pula.

'tidak ada yang berubah seperti biasa saja'

Aku terus-terusan memperhatikan Jongdae hingga dia meraih tangan Jennie yang berada di atas meja lalu menggenggamnya. Jennie juga tidak menunjukkan reaksi apa-apa, malah ia mengobrol santai bersama Kyungsoo dan Yifan sedangkan Chanyeol sibuk bermain dengan ponselnya.

'apa sebenarnya hubungan mereka semua?'

Walaupun aku tidak tahu, tapi aura mereka bercampur dengan baik sekali seperti teman kecil. Tiba-tiba Jongdae bangkit dari duduknya.

"maaf hyung harus ke toilet"

Chanyeol dan aku memberi jalan agar Jongdae pergi. Aku merasa khawatir, aku langsung mengikuti Jongdae ke dalam toilet lalu aku bersembunyi di balik pintu toilet kedua.

"Kau sudah tahu siapa dia, Honami?"

Aku mengkerutkan dahiku heran.

'siapa honami? setahuku tidak ada siapa pun yang mengikuti Jongdae masuk ke sini kecuali aku'

Aku terus mendengar.

"apa maksudmu dengan mereka yang mengejar Minseok?"

Aku terkejut! siapa yang mengejarku?!

"Minseok tidak ada kaitannya dengan mereka kenapa mereka mengejar Minseok?"

Nada suara Jongdae sedikit meninggi. sepertinya dia sedang marah.

"gila! dia hanya seorang namja tidak berdosa! Bilang pada mereka dan sampai kan pesanku, kalau mereka tetap nekat melakukannya, aku sendiri yang akan turun tangan!"

Aku terkejut dan sedikit mundur ke belakang ketika mendengar suara marah Jongdae. Entah mengapa tubuhku menggigil takut pada Jongdae. aku mengaku memang hanya Jongdae seorang yang dingin tapi kelakuannya tetap lembut pada siapa pun.

[Minseok POV end]

[Jongdae POV]

Aku mengusap wajahku kasar dengan rasa marah yang mulai menyerang diriku.

"Dasar pria tua tidak sadar diri!"

Aku melihat diriku di dalam cermin.

"tenang Jongdae kau pasti bisa, kau pasti bisa melindungi dia"

Aku mengangguk tapi semuanya hancur bila mengingatkan kegagalan ku pada Jennie dan keluargaku dahulu.

"AARRGGHH!"

Aku meninju cermin di hadapanku untuk meredakan amarahku. tangan ku langsung mengeluarkan darah namun tidak ku hiraukan.

"Nii-chan!"

Aku mengangkat kepala ketika mendengar suara Jennie.

"nii-chan dai joubu?! (Kakak kau baik-baik saja?) "

Jennie terlihat panik dan khawatir lalu mengambil tangan kananku dan meniupnya kecil.

"dai joubu desu.. (Gwaenchana..)"

Perlahan-lahan Jennie mulai mengeluarkan serpihan kaca dari dalam tanganku.

"Mengapa kau kesini?" tuturku dalam bahasa jepang.

"Jennie melihat honami keluar dengan terburu-buru sekali karena itu Jennie kesini, apa ada sesuatu yang terjadi?"

Aku mengangguk.

"Han Minseok, mereka mengejarnya"

Mata Jennie membulat karena terkejut.

"usosuke.."

Aku memandang Jennie yang kaku(terdiam).

"Jennie kau ada merahasiakan sesuatu dari nii-chan?"

Jennie menggelengkan kepalanya.

"tidak, Jennie cuma terkejut. Sebenarnya, apa yang mereka inginkan? Tidak berhasil menghalang Jennie menjadi ketua, sekarang mereka mengejar Minseok. Dia hanya namja biasa"

Aku mengangguk setuju.

"nii-chan sudah memberi mereka pesan kalau mereka tetap meneruskan semua ini, nii-chan sendiri yang akan turun tangan"

Jennie melukai jarinya lalu meneteskan sedikit darahnya ke tempat lukaku.

"kalau begitu Jennie juga akan turun tangan kalau terjadi sesuatu pada Minseok nii-chan"

Setelah 3 detik, luka yang berada pada tanganku sembuh tanpa ada cacat sedikitpun.

Jennie membantuku bangun.

"oh! apa nii-chan melihat Minseok oppa?" tanya Jennie dalam bahasa korea.

"tidak" kataku singkat.

"aneh"

Aku melihat ke arah Jennie.

"maksudmu?"

"setelah nii-chan pergi, Minseok oppa juga pergi, Jennie ingat! nii-chan bersama Minseok oppa"

Aku menggelengkan kepalaku.

"mungkin dia bertemu dengan temannya dulu"

Jennie mengangguk dan kami berdua keluar dari toilet.

"berani sekali kau masuk ke dalam toilet namja ya~"

Jennie mencubit lenganku.

"Jennie cuma khawatir, bagaimana kalau nii-chan sekarat di dalam sana dan Jennie di luar berfikir dua kali untuk masuk atau tidak, kalau nii-chan tidak keluar-keluar baru Jennie masuk ke dalam"

Aku tersenyum.

"wah~ tidak nii-chan sangka adik nii-chan yang paling menyebalkan dan mengesalkan, risau tentang keadaan nii-chan~ urashi~!"

Jennie memandang ku dengan wajah datar.

" seharusnya Jennie membiarkan nii-chan mati di dalam sina karena kehilangan darah"

Jennie berjalan pergi dan meninggalkanku yang tersenyum dengan sedikit tawa kecil.

"hah~ adikku sangat manis~!" kataku agak kencang. Jennie berjalan sedikit menghentakkan kaki kecilnya karena sebal.

"maafkan nii-chan karena merampas masa kecilmu karena garis keturunan kita".

-.-.-.-.-

Minseok kembali duduk setelah pesanan sampai, sepertinya dia sedang tidak mood.

"Minseok" panggilku.

Minseok menoleh ke arahku.

"ada sesuatu yang menganggu fikiranmu?"

Minseok menggelengkan kepalanya.

"tidak, maaf membuatmu khawatir"

Aku mengangguk dia kembali makan tanpa semangat. Dengan sangat ringan tanganku terangkat lalu menepuk puncak kepala itu dengan lembut.

"makanlah, hyung tidak mau dijadikan sarapan piranha oleh eomma karena membiarkan kau sakit tidak diberi makan"

Wajah Minseok memerah dan hatiku kembali tenang

"makan dengan banyak"

Minseok mengangguk.

"hyung juga"

Aku menoleh ke depan lagi untuk makan tapi mulutku langsung disumbat macaroon oleh Jennie.

"makan tuh banyak-banyak! Biar cepat kena diabetes!"

Sepertinya Jennie ingin balas dendam padaku. Aku tersenyum lalu menguyah macaroon itu.

"wah~ seorang puteri menyuapiku"

Jennie kembali sebal hingga Chanyeol menepuk kepala Jennie.

"sudahlah. jangan dihiraukan orang gila ini, semakin kau layani, dia jadi semakin gila"

Jennie tersenyum sedikit.

"ok Chanyeol oppa!"

[Jongdae POV end]

―9:00 p.m

―Golden garden―

Keluarga Kim sedang bersantai di ruang tamu sambil melakukan aktivitas masing-masing seperi Tuan Kim sedang mengecek laporan perusahaannya, Nyonya Kim yang sedang mengelap senjata kesayangannya dan Jennie yang sedang berbaring diatas sofa sambil membaca manga dengan Jongdae yang duduk di atas pinggangnya. Jongdae sedari tadi memperhatikan kotak baldu kecil berwarna hitam di dalam gengamannya.

"ada yang menganggu pikiranmu Jongdae?" tanya nyonya Kim pada putera sulungnya.

"Minseok tertarik pada gelang ini jadi aku membelikannya, dan sekarang aku jadi berfikir, kenapa aku melakukan itu"

Tuan dan Nyonya Kim mengangguk.

"itu artinya hati nii-chan sudah terbuka untuk menerima angel oppa" kata Jennie santai.

"mana mungkin nii-chan jatuh cinta pada Minseok. Hati ini.."

perkataan Jongdae terhenti ketika Jennie menatapnya dengan pandangan tajam.

"ingat keluarga kita Kim Jongdae"

Jongdae mengangguk.

"oh! oka-san kemana oka-san dan appa pergi sore tadi?" tanya Jennie.

"Mengurus pertunangan nii-chanmu dengan Minseok"

Jongdae dan Jennie mengangguk paham. tapi―

"APA?! KENAPA OKA-SAN DAN APPA TIDAK MEMBERITAHU JENNIE?!" kata Jennie dengan kencang lalu bangun dari tidurnya yang mengakibatkan Jongdae hampir jatuh. Beruntung Jongdae cepat-cepat memindahkan tubuhnya ke atas meja ruang tamu.

"Baka! nii-chan hampir jatuh tahu!" kata Jongdae pada Jennie sambil mengusap belakangnya karena pendaratan darurat yang dia lakukan.

"OKA~ SAN!, APPA~! KEJAM SEKALI PADA JENNIE" kata Jennie dengan mata berkaca-kaca.

"sayang? apa kau suka pada Minseok?"

Jennie mengelengkan kepalanya.

"lah? lalu kenapa puteri appa menangis?"

Jennie mengusap matanya.

"kan lebih seru kalau ada Jennie, Jennie bisa menjadi saksi kejadian yang langka ini tahu"

Tuan dan Nyonya Kim hanya tertawa melihat tingkah alien puteri mereka.

"jadi Jongdae kau setuju? Eomma Minseok juga sudah memberi restu"

Jongdae hanya menganggukkan kepalanya.

"setuju"

[Kediaman keluarga Han]

"APA EOMMA DAN APPA SUDAH GILA?!" teriak Minseok menggunakan note tinggi.

"appa hanya setengah gila, kalau eommamu sudah sepenuhnya gila" ujar Tuan Han santai.

Minseok menarik rambutnya sedikit kasar.

"TUHAN KENAPA AKU BISA MENDAPATKAN EOMMA DAN APPA YANG SIFATNYA SEPERTI ALIEN?!" tanya Minseok sambil melihat ke atas. Tuan Han hanya tersenyum sedangkan Nyonya Han sedang menyeringai lebar(?).

"kau seharusnya bersyukur mempunyai orang tua alien. Itu berarti kalau kau juga alien dan berbeda daripada manusia yang ada di sini"

Bukannya mendengar seluruh keluh kesah putera mereka, Tuan dan Nyonya Han malah tidak menghiraukan keadaan Minseok yang seperti ingin minum racun tikus lalu mengantungkan dirinya ke atas atap rumah.

"huwaa~! eomma dan appa tidak mendengarkan aku! sudahlah membuat pertunangan untukku, tapi tidak mau bilang siapa yang akan jadi tunanganku~!"

Eomma Minseok tersenyum.

"sayang~ kau sendiri yang bilang bukan? tidak apa kalau melakukan pernikahan dini karena akan ada bodyguard yang akan menjagamu tanpa imbalan~" kata Nyonya Han sambil memainkan pisau pemotong daging di depan wajah mulus Minseok.

"bilang sekarang kau setuju atau tidak~?"

Minseok meneguk ludah dengan susah ketika sifat alien eommanya sudah datang.

"a.. a. a..appa tolong aku~" panggil Minseok pada Tuan Han.

"yeobo.. darimana kau mendapatkan pisau itu? cantik sekali"

Nyonya Han tersenyum lembut.

"rahasia, tapi appa tidak perlu khawatir karena eomma membelinya dengan harga discount"

mau tidak mau Minseok tetap mengangguk kepalanya.

"aku setuju".

Hawa ruangan yang tadinya terlihat sangat seram kini berubah menjadi ceria dalam sekedip mata saja.

"kan mudah kalau bilang dari tadi jadi eomma tidak perlu susah-suah mengangkat pisau daging ini, kau kan tahu sendiri kalau pisau ini tidak ringan"

Tuan Han mendekat ke arah Minseok lalu memberikan sebuah cincin platinum dengan permata biru kecil disekelilingnya. Terlihat cukup simple dan sesuai sekali dengan jari Minseok yang manis dan berkulit halus.

"ingat! jangan pernah melepaskannya kalau itu terjadi eomma akan memotong semua jarimu tahu"

Minseok mengangguk patuh.

"eomma, siapa orang yang menjadi tunanganku?" tanya Minseok sedikit berhati-hati. ia takut kalau sifat alien eommanya datang kembali dan dia masih sayang nyawanya.

"kau perlu cari tahu sendiri dan eomma akan beri satu clue ok"

Minseok menangguk lalu Tuan Han membuka mulut, memberikan 1 petunjuk tersebut.

"tunanganmu memakai cincin yang sama seperti yang kau pakai bedanya cuma di cincinnya hanya ada satu permata biru saja. Paham?"

Minseok mengangguk.

"baiklah aku naik ke atas dulu"

6:00 a.m

[Minseok POV]

Hari ini aku bangun lebih awal karena aku mempunyai tekad untuk mencari tahu siapa tunanganku. aku mengambil handuk di ujung ranjang dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.

...

Aku sedang menyimpul dasi ku ketika pintu kamarku terbuka.

"ya tuhanku! Minseok"

eomma berteriak heboh ketika melihatku.

"eomma kenapa?" tanyaku aneh.

"Apa karena kau terlalu semangat ingin mencari siapa tunanganmu hingga kau bangun lebih awal?"

Wajahku memanas ketika mendengar apa alasan ku bangun pagi yang diuraikan oleh eomma.

"wah~ eomma seharusnya mempertunangkan mu sejak dulu kala! supaya eomma tidak perlu membangunkan mu setiap hari! Tekak eomma ini perlu dijaga juga tahu"

Aku mengembus nafas pasrah.

"iya eomma betul, sudah jangan bikin aku malu lagi ayo keluar, sebentar lagi aku turun"

Eomma mengangguk lalu memberikan flying kiss kepadaku yang langsung aku tolak.

"tuhan… eommaku alien dari planet pluto"

Diamond High School

Sepanjang perjalanan aku memperhatikan Chanyeol tapi aku melihat dia memakai cincin di jari kelingking dan manis tapi kedua-duanya adalah cincin silver tanpa permata hanya cincin kosong.

Kembali kedalam kasusku. Aku memperhatikan hampir semua pelajar di dalam sekolahku hanya untuk memastikan siapakah tunanganku, tapi hasilnya kosong! aku tetap tidak menemukannya hingga bel kembali berbunyi menandakan waktu istirahat sudah berakhir. Dengan langkah lemah aku berjalan pergi menuju kelas.

"angel oppa semangat!"

Aku melihat ke arah Jennie yang menggandeng lenganku dan Jongdae dengan mesra. Aku tersenyum ke arahnya lalu kembali melihat ke depan, hingga―

―aku tersadar ketika mataku tak sengaja melirik ke arah tangan kanan Jennie yang berpaut pada lengan Jongdae. Ada sebuah cincin tersemat di jari Jennie!

"em.. Jennie, boleh oppa melihat cincinmu?"

Jennie melihat ke arahku lalu membuka cincinnya.

"ini"

Aku mengambil cincin itu darinya.

'DIA TUNANGANKU?!'

Mataku membulat ketika melihat cincin Jennie dan semua ciri-ciri yang appa katakan ada pada cincin yang dipakai Jennie.

"Angel oppa bolehkan Jennie ambil kembali cincin Jennie?"

Aku mengangguk lalu kukembalikan cincin itu kepada Jennie.

'AKHIRNYA AKU TAHU SIAPA TUNANGANKU! tapi kenapa eomma dan appa mempertunangkanku dengan Jennie? apa mereka tidak tahu kalau Jennie masih di bawah umur? apa mereka merencanakan ini semua dari awal supaya Jennie tidak kabur atau diambil namja lain?'

pusing kepalaku bila memikirkan kenapa eomma dan appa memilih Jennie untuk menjadi istriku? aku mengaku kalau Jennie bisa melakukan banyak hal. Buktinya saja, hanya bersekolah dalam waktu 3 hari, nama Jennie sudah tersebar luas dengan kemahiran dan kepintaran yang dia punya.

"oppa?"

Aku tersadar dari lamunanku.

"ya?" kataku lembut pada Jennie.

"duduk ditempat mu"

Aku mengangguk.

'kalau begini aku akan mengajak Jennie date besok lalu memberitahunya aku adalah tunangannya. dia pasti akan terkejut'

Aku bertekad untuk mengajak Jennie date lalu mengatakan bahwa akulah tunangan nya.

[Minseok POV end]

Tanpa Minseok sadari, Jennie sedang menahan tawanya hingga matanya terasa mulai mengeluarkan air mata tapi segera ia hapus karena dia tidak mau rencana yang dirancangnya dengan rapi musnah karena tindakkan nya sendiri. Jongdae yang melihat kelakuan dongsaengnya hanya menggelengkan kepala.

'sifat jahilnya masih tetap sama seperti dulu' kata Jongdae lalu melihat Minseok yang sedang tersenyum memandang Jennie.

Jongdae memegang dadanya dimana dalam kemeja sekolahnya ada sebuah rantai kalung yang berbandul cincin pertunangan dia dengan Minseok. Jongdae sengaja tidak memakainya karena ia tidak ingin Minseok terkejut ketika ia tahu kalau Jongdae lah tunangannya.

"aku janji akan menjagamu dengan baik Minseok" bisik Jongdae melirik Minseok.

...

Bel sekolah sudah berbunyi dan saat ini adalah waktunya jam ekstrakurikuler. Jennie, Jongdae, Chanyeol dan Minseok berjalan bersama-sama keluar dari kelas.

"Chanyeol oppa ambil ekskul apa?" tanya Jennie pada Chanyeol.

"taekwondo"

Jennie mengangguk.

"kenapa tidak kendo saja?"

Chanyeol tersenyum.

"Untuk sementara waktu aku ingin beristirahat memegang katana"

Jongdae menggelengkan kepalanya.

"sayang sekali"

"jangan risau aku berlatih setiap malam"

Jongdae mengangguk.

'katana? katana itu pedang samuraikan? kenapa Chanyeol perlu berlatih?' batin Minseok aneh.

"baiklah, aku harus pamit undur diri dulu" ucap Chanyeol lembut lalu mengecup sekilas dahi Jennie dan dibalas dengan kecupan pula oleh Jennie di pipi kanan Chanyeol.

"oppa pergi dulu"

Sebelum Chanyeol pergi dia masih menyempatkan diri untuk menepuk kepala Minseok. Setelah Chanyeol pergi mereka kembali berjalan.

-.-.-.-.-

"Baiklah kita sudah sampai. Ekskul kalian ada di bagian kanan sementara ekskulku ada di bagian kiri. bye.."

Jennie mengangguk lalu mengecup pipi kanan Minseok sebelum pergi. Ketika sampai ke dalam ruang ekskul, wajah Jennie langsung berubah menjadi tegang sedangkan Jongdae mamasang wajah tenang. Guru yang sedang mengajar anak muridnya langsung menghentikan aktifitasnya ketika melihat Jennie dan Jongdae berdiri di hadapan pintu dojo.

"kalian pasti pelajar pindahan itu bukan?"

Jongdae dan Jennie mengangguk.

"ah, karena kalian masih baru, aku memberikan kalian istirahat untuk hari ini dan melihat kami saja"

Jongdae mengangguk hormat.

"terima kasih"

Sedangkan Jennie hanya berdiri tegak dan mengikuti Jongdae dari belakang yang memilih untuk duduk ditepi melihat mereka semua berlatih.

[Jongdae POV]

Semenjak kami berdua masuk ke dalam dojo aku sudah sadar akan perubahan wajah Jennie. Dia langsung tidak tunduk hormat pada guru yang mengajar padahal dia adalah seorang yang sangat menghormati orang lain. pandanganku teralih dari memandang Jennie ke arah depan dimana ada seorang pelajar yang jatuh tersungkur dengan keras akibat pukulan shinai. Aku menghembuskan nafas perlahan.

"kau terlalu lemah! tidak ada satu pun dari anak muridku yang mempunyai sikap lemah sepertimu! jadi kau harus dihukum!" teriak guru Jung sambil mengayunkan shinai untuk memukul.

"nii-chan"

Aku mengangguk dengan tenang.

"HENTIKAN!"

Setelah itu Jennie adikku mengeluarkan suara lantangnya, aku tahu dia sudah tidak tahan melihat penganiayaan yang dilakukan guru Jung pada para pelajar dalam dojo itu.

[Jongdae POV end]

"HENTIKAN!" jerit Jennie pada guru yang menurutnya tidak pantas untuk mengajar atau mengangkat shinai.

"kenapa?" tanya guru Jung. Dengan tenang Jennie berdiri lalu berjalan mendekat dan membantu hoobaenya yang terjatuh itu berdiri.

"pergi dan duduklah disebelah oppaku" kata Jennie dengan tenang lalu berdiri tegak melihat wajah guru Jung yang memperhatikan dia dengan wajah sagar.

"kau" kata Jennie dengan penuh nada dingin.

"kau tidak berhak atau layak untuk mengangkat katana apalagi memegangnya walau shinai sekalipun".

Guru Jung menurunkan shinainya.

"apa kau bilang? aku tidak berhak atau layak untuk memegang shinai ini?"

Dan Jennie hanya mengangguk santai, bersamaan dengan itu pula, guru Jung langsung mengayunkan shinai untuk memukul tubuh kecil Jennie tapi dielak dengan cepat dan halus.

"untuk memegang katana kau harus mempunyai rasa hormat pada orang lain termasuk juga shinaimu sendiri, kalau shinaimu sendiri kau tidak hormati maka kau tidak layak untuk memegangnya"

Guru Jung hanya tertawa.

"shinai atau katana hanyalah benda mati dan dikontrol oleh orang yang memenagnya jadi tidak ada keistimewaan sama sekali"

Jennie tersenyum meremehkan.

"kau salah, kalau kau tidak menghormati katana atau shinai maka dia juga tidak akan menghormatimu" kata Jennie lalu mengambil shinai hoobaenya yang berada beberapa inci dari kakinya.

"ayo" ucap Jennie dengan aura dinginnya yang mampu membuatkan Guru Jung sedikit takut untuk bergerak. Tanpa bicara Jennie langsung menuju kearah guru Jung lalu mengayunkan shinainya ke kaki kanan guru tersebut.

"sial!" maki guru Jung dengan kuat dan mulai menyerang Jennie secara terus-menerus tapi mampu dielak dengan halus sekali oleh Jennie.

[Jongdae POV]

Aku tertawa dengan perlahan sambil menutup mulutku dengan tangan kananku.

"guru bodoh, dia salah memilih lawan" kataku sambil tersenyum jahat.

"maafkan aku, tapi kenapa dia begitu marah?"

Aku melirik pada hoobae yang dibantu Jennie tadi.

"Jennie sangat tidak suka melihat orang lain ditindas dan juga karena guru bodoh kalian yang tidak bisa menghormati orang atau benda yang digunakannya. Karena itu dia marah" kataku tenang sambil melihat perlawanan Jennie dengan guru Jung.

"hormat?"

Aku mengangguk.

"biar Jennie yang menerangkannya"

Ketika aku berhenti berbicara, Jennie ternyata sedang menghabiskan waktu perkelahiannya dengan memukul tulang rusuk kanan guru Jung dengan kuat sekali.

"ketika kau mengangkat katana atau shinai kau harus menghormati mereka! katana membawa maksud harga diri yang tinggi dan saling menghormati! shinai pula untuk mendisiplinkan diri! ketika kau melawan menggunakan mereka musuh juga harus kau hormati! kalau kau tidak menghormatinya kau tidak ada bedanya dengan orang bodoh! walaupun ilmu pedangmu sangat tinggi tapi pada akhirnya kau akan tetap kalah!" kata Jennie dengan lantang lalu berjalan pergi ke arahku. Guru Jung yang merasa tidak puas hati langsung bangun untuk menyerang Jennie dari belakang tapi ia terkejut ketika Jennie menoleh dan mengarahkan shinai pada leher guru tersebut.

"dengar. rasa marahku sudah hampir pada tahapnya kalau kau tidak menurunkan shinaimu sekarang aku akan pastikan kau terbunuh"

Guru Jung tercengang melihat tatapan mata Jennie yang dingin seolah-olah menarik rohnya keluar dari badan. Serta merta pedang yang dipegang Guru Jung jatuh ke lantai dan diambil Jennie lalu diletakkan pada tempatnya dengan baik. Setelah itu Jennie kembali berjalan ke arah guru Junga.

"tidur"

Seperti di hypnotis, guru Jung langsung jatuh tertidur. Semua yang berada dalam dojo terkejut tapi tak diacuhkan Jebbie.

"Maaf, apa oppa merasa cedera?" tanya Jennie lembut sambil duduk dihadapan hoobae yang ditolongnya tadi.

"aku tidak apa-apa terima kasih sunbae" kata pelajar itu sambil menundukkan kepalanya.

"tidak perlu memanggilku sunbae, aku lebih muda darimu panggil saja Jennie, dan ini oppaku Kim Jongdae"

Aku mengangguk lalu tersenyum tipis sambil mengulurkan tangan lalu segera disambut pelajar itu dengan gugup.

"tidak perlu takut, kami cuma akan marah bila seseorang itu melakukan kesalahan" kataku dengan lembut diangguki pelajar itu.

"Siapa nama oppa?" tanya Jennie.

"Jongin. Kim Jongin" kata pelajar itu sambil tersenyum hingga menunjukkan kedua gigi taringnya. *bayangin aja kai punya taring kayak mingyu*

"wah! gigi taring oppa cukup panjang seperti vampire" kata Jennie dengan wajah 180° berbeda ketika ia berkelahi tadi.

"t.. terima kasih"

Kemudian, Jennie berdiri secara tiba-tiba.

"baiklah mulai hari ini Jongin oppa adalah teman Jennie dan Jongdae oppa. Paham?" kata Jennie semangat yang diangguki oleh Jongin.

"sudah tidak perlu takut untuk tersenyum~ senyumlah~" kata Jennie sambil tersenyum didepan Jongin hingga aku ikut tersenyum.

"ayo, pulang" kata Jennie mengajakkku pulang. Aku mengangguk.

"kau akan pulang Jongin? Mau ikut atau pulang sendiri?" tanyaku kepadanya.

"tidak, terima kasih sunbae aku pulang sendiri".

Aku mengusap kepala itu lembut.

"baiklah jaga dirimu dan panggil saja aku hyung".

.-.-.-.-.-.-.

Setelah keluar dari dojo, Jennie langsung mengait lengan kananku dan pergi ke club drama yang diikuti Minseok. Aku hanya bisa pasrah ketika tanganku ditarik dengan kuat oleh Jennie. Ketika kami sampai, aku bisa melihat Minseok yang sedang menyanyi dari luar. walaupun begitu aku masih mampu mendengar suara merdu Minseok. Perlahan-lahan aku terbuai dengan suara merdunya.

"chan? nii-chan!" aku tersadar dan terlihat Jennie memandangku dengan wajah aneh lalu tersenyum lebar.

"apakah hati anda telah tercuri oleh seorang malaikat bernama Han Minseok? silahkan berikan komentar anda" kata Jennie layaknya wartawan dengan tangan digenggam seolah-olah mic. Aku mengengam tangan mungil itu lalu menciumnya dengan lembut.

"aku mengabdikan seluruh raga dan jiwaku untuk adik perempuanku saja, yaitu Kim Jennie. Kalau dia merestuiku menikah, baru aku melakukannya"

Wajah Jennie berubah cemberut.

"nii-chan tidak seru! seharusnya Jennie yang menghormati nii-chan"

Aku tersenyum ke arah Jennie.

"kau tetap pemegang takhta waris yang sah setelah nii-chan, Jennie".

[Jongdae POV end]

Setelah puas melihat Minseok berlatih, mereka berdua kini berjalan menuju club yang diikuti Chanyeol. Jennie dengan penuh semangat memberikan dukungan pada Chanyeol jika namanya dipanggil ke arena untuk bertanding. Sebelum memulai pertandingan, Chanyeol menyempatkan diri melihat ke arahku untuk meminta izin memulai dan aku mengangguk perlahan. Setelah itu pertandingan dimulai dan Chanyeol menjatuhkan lawannya dalam sekedip mata. Aku tersenyum tipis dan menepuk perlahan tanganku sedangkan Chanyeol menunduk hormat pada lawannya dan juga kepadaku serta Jennie.

"ah, tidak salah menjadikan Chanyeol nii-chan pengawal keluarga kita dia berbakat"

Aku mengangguk.

"keluarga mereka adalah salah satu keluarga yang menakutkan karena itu mereka menjadi pelindung kita Jennie"

Jennie mengangguk paham.

"ayo makan" kata Jennie lalu menarik tanganku sekali lagi keluar dari sekolah menuju mobil.

"katanya mau makan kenapa tidak ke kantin?" tanyaku.

"makanan di kantin tidak cukup memenuhi selera Jennia, nii-chan"

Aku paham. Aku lalu masuk ke dalam dan duduk dibagian pengemudi sedangkan Jennie memilih duduk disebelahku sambil memakan bekalnya.

"apa yang kau bawa itu?" tanyaku karena Jennie makan dengan asyik sekali.

"roti dengan mayones. Mau?"

Aku mengangguk dan Jennie memberikanku sepotong roti.

T B C

Balasan review

chuacu

Iye dong Chen appa warbyazah~

Biarkan Chenmin jalan berdua~ semoga. Udah update ya~ makasih reviewnya .-.

dewi cinta

Udah update ya~ makasih reviewnya .-.

paugendut

Sama-sama~ makasih reviewnya .-.

Hyera832

Nado annyeong (panggil keripik aja ga usah pake authornim)~

Kalo menurut keripik sih, biarkan orang berkata apa~ mau dibilang caper kek atau yang lainnya, abaikan aja. Kan kamu nge review panjang sebagai bentuk apresiasi kamu terhadap fic ini ..

Sebenernya yang mau dibeliin dress itu bukan Minseok noona.-.

Thank's buat sarannya :D

Keripik udah update loh~ makasih reviewnya ya .-. Jan lupa review lagi ._.

daebaektaeluv

Masa lalu Jennie, ya gitu lah (ga boleh spoiler) kalo langsung deket nekat kan kurang seru. Kalo sedikit-sedikit, kan banyak modusnya *smirk* udah update ya~ makasih review nya .-.

kpop saintic

Maaf ye, keripik sedang sibuk akhir-akhir ini dan juga lagi sakit (lagi). Gara-gara kena hujan beberapa hari yang lalu. Ini udah update ya~

A/N : hai hai hai hai! Keripik update lagi nih! Aduh maaf ya kalo update nya lumayan lama, kemarin keripik lagi sibuk buat ikut Aubade Sirinade di provinsi, jadi semua fic yang keripik translate atau yang keripik buat sendiri jadi terabaikan. Terus sekarang ibu keripik lagi sakit, dan hari ini bakal di operasi. Keripik jadi sedih karena ibu pergi tanggal 18 kemarin, dan keripik masih ada acara di provinsi. Jadi ga sempat ketemu sama ibu (╥_╥). Semoga ibu cepat sembuh. Aamiin. Last for this Chapter, mind to review?

keripik balado

Wo ai ni men~

P.S : mari berteman! Sok di invite, tapi jan lupa dipesan undangannya tulis aja keripik, biar keripik tau kalau pin yang masuk itu dari readersnya keripik. Kalau ga ketulis, kemungkinan ga keripik acc  ̄ω ̄ (+) 28E2BC04

P.S.S : sok dibaca juga Absolute Chanyeol! Ini fic translate-an juga dan di update bareng sama fic ini. Terus di review juga heyaaakk.