"ayo makan" kata Jennie lalu menarik tanganku sekali lagi keluar dari sekolah menuju mobil.

"katanya mau makan kenapa tidak ke kantin?" tanyaku.

"makanan di kantin tidak cukup memenuhi selera Jennie, nii-chan"

Aku paham. Aku lalu masuk ke dalam dan duduk dibagian pengemudi sedangkan Jennie memilih duduk disebelahku sambil memakan bekalnya.

"apa yang kau bawa itu?" tanyaku karena Jennie makan dengan asyik sekali.

"roti dengan mayones. Mau?"

Aku mengangguk dan Jennie memberikanku sepotong roti.

.

,

,

[REMAKE] My Husband Is a Samurai Prince

By : hinamoriamusilver (FFn)

Link : www fanfiction net/s/11750334/7/ {hapus spasi ganti titik.}

CHENMIN | BL | Drama | etc.

Summary : Menjalani pertunangan selama 3 hari dan setelah 3 hari tersebut langsung menikah? Itu tindakan yang benar-benar gila! Dan lebih parahnya lagi, orang yang akan kau nikahi tidak kau kenal latar belakangnya!

Disclaimer : ini ff punya hinamoriamusilver aku Cuma ngetranslate dari bahasa malay ke bahasa indo dan ganti cast nya doang. Cast milik tuhan, orangtua dan agensi masing-masing.

WARN! TYPO(s) Everywhere . BL . BxB

.

.

My Husband Is A Samurai Prince

.

.

Chapter 6: Who My Fiance? (2)

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

.

.

Waktu ekstrakurikuler telah berakhir. Minseok dan Chanyeol berjalan bersama menuju tempat parkir dimana Jongdae dan Jennie sedang menunggu. Minseok bertanya ketika ia sampai didekat Jongdae dan Jennie.

"hyung, Jennie apakah kalian bolos?"

Jennie tidak menjawab.

"Jennie menewaskan guru Jung karena itu kami pulang lebih cepat" jawab Jongdae.

"apa?! Jennie menewaskan guru Jung?!" kata Minseok terkejut sedangkan Chanyeol hanya tertawa kecil.

"t.. tapi guru Jung adalah guru killer dan dihormati di sekolah"

Jennie memasang wajah datar dan dingin.

"dihormati? Namja menjijikan sepeti dia tidak berhak untuk dihormati! huh~ angel oppa membuat mood Jennie jadi buruk~"

Chanyeol dan Jongdae tertawa kecil.

"percayalah Minseok, Jennie bisa mengalahkan siapa saja asal dia mau" kata Chanyeol sambil mengusap mayones yang berada diujung bibir Jennie.

"hyung, Minseok, Jennie, aku harus pergi dulu, ada keperluan yang harusku beli" ujar Chanyeol.

Jennie langsung mengangkat kedua tangannya seperti anak kecil.

"ikut~"

Chanyeol tersenyum ketika ia melihat tingkah nona muda nya yang mirip anak usia 5 tahun.

"ini perintah jaga Jennie dengan baik" ujar Jongdae diangguki oleh Chanyeol.

"Baiklah"

"Ayo nii-chan~"

Minseok tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah Chanyeol dan Jennie. Namun, tiba-tiba wajahnya berubah menjadi pucat. Jongdae yang melihat perubahan raut wajah Minseok yang mendadak jadi sedikit terkejut.

"uuwa! Bagaimana caranya aku pulang?! Aku kan tadi pergi bersama Chanyeol!"

Jongdae menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Minseok yang terkadang hampir sama dengan Jennie.

"sudah, jangan khawatir. hyung akan mengantarmu pulang"

Minseok mengangguk semangat.

.

.

.

Di dalam mobil mereka hanya diam tanpa ada percakapan untuk memecah keheningan hingga Minseok memanggil Jongdae dengan lembut.

"hyung~"

"ya?"

Jongdae menoleh ke arah Minseok.

"apa hubungan antara hyung dengan Jennie?" tanya Minseok ingin tahu karena ia merasa kedekatan antara Jongdae dengan Jennie itu cukup 'lebih'.

"dia adik hyung, nama lengkapnya Kim Jennie bukan?"

Minseok mengangguk.

"aku ingat itu. Bukankah itu hanya sebuah kebetulan?"

Jongdae menggelengkan kepalanya. Minseok melihat Jongdae dan mulai membandingkan kepribadian Jongdae dengan Jennie yang sangat berbeda.

"jangan bedakan kepribadian hyung dengan Jennie kami tetap punya hubungan darah"

Minseok melihat ke depan seperti semula.

"kenapa Jennie tidak masuk waktu hyung masuk? dan kenapa aku tidak pernah melihat Jennie di rumah?"

"Jennie masuk terlambat karena kemeja sekolahnya terlalu panjang dan harus dipotong. Dan untuk rumah, setiap kali waktu sekolah berakhir, dia akan berkeliling kota untuk menghafal jalan"

.

.

-.-.-.-.-.-.-

.

.

[Minseok POV]

[10.40 a.m]

Aku membaringkan tubuhku ke atas ranjang sambil memperhatikan cincin di jari manisku.

"kalau aku akan menjadi seorang suami kenapa design cincinku terlihat seperti cincin khusus yeoja?"

aku bangun dari ranjang dan berjalan ke arah balkon, membuka jendela lalu berjalan keluar.

"kemana lagi mereka?" kataku sambil melihat ke arah rumah Jongdae.

"tidak ku sangka aku akan bertunangan dengan Jennie, Kim Jennie adiknya Kim Jongdae"

Aku tersenyum..

"YAK! APAKAH AKU AKAN MENJADI ADIK IPAR JONGDAE HYUNG!"

Aku mengacak rambutku dan aku menjerit karena aku harus menerima kenyataan bahwa aku akan menjadi bagian dari keluarga Kim.

"bagaimana kalau Jongdae hyung tidak suka padaku? Bagaimana kalau aku berbuat salah dan Jennie mengadu pada Jongdae hyung?! Sudah tentu Jongdae hyung akan memancung kepalaku!"

Aku baru saja pulang dari kantor, melangkah ke arah sofa lalu merebahkan diri untuk meistirahatkan diri.

"Seok-ie oppa~! Ayo temani Jennie shopping!"

Aku yang kelelahan memandang sayu pada Jennie.

"chagi, oppa baru saja pulang.. Oppa masih lelah bagaimana kalau kita pergi besok saja?"

Jennie menggelengkan kepalanya lalu mengecup bibirku lembut. aku memeluk pinggang kecil itu dengan erat.

"oppa sudah mendapatkan hadiahnya, sekarang ayo temani Jennie shopping!"

Aku menggelengkan kepalaku.

"oppa payah! hiks.. Jennie seharusnya dengar perkataan Jongdae nii-chan supaya menolak pernikahan ini hiks.. NII-CHAN!"

Setelah itu pintu rumah kami terbuka dengan kasar. Terlihat Jongdae berdiri di depan pintu sambil memegang pisau pemotong daging.

"HAN MINSEOK AKAN AKU PANCUNG KEPALAMU KARENA KAU TELAH MEMBUAT JENNIE MENANGIS!"

"TIDAK HYUNG!"

Aku langsung memegang leherku.

"membayangkan saja sudah seram! Aku harus menulis surat wasiat kalau sudah menikah"

Lalu aku memandang ke arah luar.

"aura aurora sangat cantik!" jeritku lalu tertawa.

"Minseok sayang apa kau sudah gila?!"

Aku hanya tersenyum ketika mendengar jeritan eomma.

"ah! Aku mau bilang pada eomma dan appa!"

Aku terus berlari keluar dari kamar dan masuk ke dalam kamar orang tuaku lalu duduk di atas ranjang mereka.

"eomma! appa aku sudah menemukan siapa tunanganku!"

eomma langsung menoleh dan appa hanya mengangguk lalu menyumpal telinganya dengan koran.

"APA?! KAU SUDAH MENEMUKAN TUNANGANMU?!"

Aku terkejut dan telingaku jadi sakit ketika eomma mengeluarkan note tertingginya.

"jadi bagaimana kau suka atau tidak? dia sangat berbakat dan pintar bukan! kalau kau tidak suka, kau tetap akan menikah dengannya!"

Aku mengangguk.

"ya, aku akan mulai mencintainya dari sekarang"

eomma mengangguk.

"jadi kapan kalian akan date?"

"aku akan menjemputnya esok"

eomma mengangguk.

"ambil 'hati'nya ya!"

aku mengangguk semangat.

[Jongdae POV]

Aku menghembuskan nafasku bosan sampai akhirnya oka-san menepuk kepalaku dengan lembut.

"semangat lah sedikit. mereka itu anak buahmu"

aku melihat ke arah oka-san.

"oka-san kita semua sudah tahu kemampuan mereka semua kenapa masih mau mengadakan tantangan ini?"

oka-san menepuk bahuku memberi semangat.

"sekarang giliran Jennie, tunjukkan wajah semangatmu kalau tidak mau katananya melayang ke arahmu"

aku melihat Jennie masuk ke dalam gelanggang.

"Jennie! ganbatte kudasai!"

Jennie tersenyum lalu mengangkat katananya tinggi ke udara. Tak perlu di bicarakan lagi sudah pasti Jennie yang akan memenangi pertandingan ini dengan mudah. Oji-san hanya tertawa ketika Jennie berhasil membuat sekarat asistennya yang bermana Yixing a.k.a Lay.

"haha.. tanpa perlu dipikir aku sudah tahu Jennie yang akan menang! dia mewarisi sifat kejamku dengan baik!"

aku dan keluargaku yang lain turut tersenyum bangga dengan pujian oji-san.

Akhirnya upacara pemilihan asisten untuk ketua suku Hikaze ke-3 telah berakhir.

'huh~ penerbangan cepat dari jepang ke korea sangat melelahkan!'

Aku membaringkan tubuhku ke atas tatami* kamarku. Sebentar lagi kami semua akan pulang ke korea.

"Jongdae-sama"

Aku menoleh ke arah pintu.

"masuklah!"

Chanyeol menggeser pintu ke sisi lain lalu masuk ke dalam dan menutupnya kembali.

"Jongdae-sama"

aku menoleh ke arah Chanyeol.

"berhentilah berbicara formal pada hyung" Chanyeol mengangguk.

"apa hyung kelelahan? kita bisa menunda penerbangan sampai esok hari"

aku menggelengkan kepalaku.

"Aku tidak lelah, keluarlah"

Chanyeol mengangguk hormat lalu pergi. aku melihat ke arah luar menatap bulan indah yang menyinari langit gelap dikelilingi bintang-bintang yang bertaburan.

"kalau Minseok ada disini pasti dia sangat gembira"

tanpa sadar aku menggenggam cincin tunangan-ku.

"walaupun aku tidak mencintainya, aku tetap melakukan ini semua untuk melindunginya".

[Jongdae POV end]

[Jennie POV]

Sambil melihat langit malam aku bersandar pada pohon sakura tua yang tinggi. didekatnya ada sebuah kolam kecil dimana temanku tinggal. Kappa si raksasa air. Dari jauh aku bisa melihat nii-chan merenung ditengah gelapnya langit malam sambil menggenggam cincin pertunangannya.

"honami apa yang nii-chan bicarakan?" tanyaku pada honami yang kebetulan lewat dihadapanku.

"Jongdae-sama bilang walaupun dia tidak mencintai Minseok dia akan tetap melindunginya"

Aku mengangguk dan honami menunduk hormat lalu pergi. Aku tersenyum meremehkan.

"hah~ aku masih tidak percaya dia akan mengantikan oka-san memegang takhta yakuza" kataku dengan santai.

"memangnya kenapa Jennie-sama?" tanya kappa.

"bagaimana dia bisa menjdi ketua kalau perasaan hatinya sendiri saja dia tidak tahu?"

"maksud Jennie-sama?"

Aku menghembuskan nafasku secara perlahan.

"dia mencintai tunangannya, Minseok, hanya saja dia masih tidak mau menerima kenyataan bahwa hatinya semakin lama semakin melupakan namja menjijikan itu"

kappa mengangguk tanda mengerti apa maksud dari perkataanku.

"sudah, sampaikan salamku pada sahabatku yang lain kami harus pergi sekarang"

Aku memberitahu kappa perihal aku yang tak bisa berlama-lama disini dan kappa pun tersenyum.

"jaga diri Jennie-sama"

aku mengangguk dan terjun dari pohon sakura tua itu.

[Jennie POV end]

Keluarga Kim tiba di korea tepat pada pukul 4:00 a.m. Dan karena besok adalah hari minggu, membuat Jennie sedikit bernafas lega karena ia tidak perlu berangkat kesekolah dan kemudian ia terdiam. Jongdae yang melihat Jennie hanya menepuk pundak Jennie lembut.

"Jongdae-ah gendong saja Jennie. appa melihatnya seperti tidak ada semangat untuk hidup lagi, biar appa yang membawa semua barang ini"

Jongdae mengangguk lalu mengangkat tubuh ringan Jennie yang tertidur sambil berdiri.

"sejak kapan dia belajar tidur sambil berdiri?" kata Jongdae entah pada siapa lalu masuk ke dalam rumah. Ia mengantar Jennie ke dalam kamarnya lalu mengecup pipi Jennie dengan sayang.

"Istirahat yang baik pewaris Hikaze"

-,-.-,-.-

Jongdae berjalan masuk ke dalam kamarnya lalu membuka jendela balkon kamarnya.

"sekarang aku tahu mengapa Minseok suka duduk disini"

Jongdae memandang sekeliling lalu menghirup nafas segar dan melepaskannya.

"Honami.." panggil Jongdae pada bayang-bayangnya.

"ya, Jongdae-sama"

Jongdae menghembuskan nafas lembut.

"apa mereka mendengarkan amanatku?"

honami mengangguk.

"ya, mereka mendengarkannya tapi aku tidak tahu apakah mereka akan mengikutinya atau tidak" Jongdae mengangguk.

"aku perintahkan kau untuk menjaga Minseok mulai sekarang, lindungi dia sebagaimana kau melindungiku dan kembali padaku bila tugasmu selesai" honami mengangguk.

"Baik Jongdae-sama"

[Jennie POV]

-8.00 a.m

Aku membuka mataku ketika aku merasakan sentuhan lembut di kepalaku.

"nii-chan~" kataku manja lalu memeluk tubuhnya.

"nii-chan tidak tidur?" tanyaku dan diangguki nii-chan.

"ayo, basuh wajahmu lalu sarapan"

Nii-chan mengangkat tubuhku seperti anak kecil dengan sebelah tangannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Nii-chan mulai membasuh wajahku dan menggosok gigiku kemudian mengangkat kembali tubuhku turun ke ruang makan dan ia letakkan ke atas kursi meja makan.

"Jennie sampai kapan nii-chan harus mengurusmu seperti ini?" tanya oka-san sambil menuangkan teh ke dalam cangkir appa.

"tanya pada nii-chan saja, nii-chan membiarkan Jennie mengangkat satu jari pun ketika bangun tidur"

Jongdae nii-chan mencubit pipiku dengan kuat.

"nii-chan tidak mau kamu cedera karena masih tidak sadar sepenuhnya dari tidur"

Dan kini appa juga ikut-ikutan membuka mulut

"sekurang-kurangnya gantikan dulu baju adikmu, bagaimana kalau ada tamu datang dan dia melihat adikmu hanya mengenakan kemeja besar milikmu tubuhnya pasti terekspos. kau tidak ingin itu terjadikan?"

Nii-chan menggelengkan kepalanya.

"aku tidak akan biarkan hal itu terjadi!"

-.-.-.-

Untuk hari ini aku hanya memakai kemeja lolita berwarna merah, shorts hitam, gold belt dan high thigh sock hita. Rambutku diikat waterfall dan memang itulah peraturan pakaian yang nii-chan tetapkan untukku, aku bisa memakai skirt kalau untuk short, aku harus padu padankan dengan high thigh sock. Setelah merasa penampilanku cukup, aku turun ke bawah.

"appa kartu kredit" kataku manja.

"kenapa tidak minta pada nii-chanmu saja?" aku tersenyum.

"rasanya Jennie sudah menghabiskan hampir separuh harta nii-chan"

Appa tersenyum.

"jadi sekarang harta appa ya?.. bagaimana dengan kartu kreditmu?"

Aku menggelengkan kepala.

"apa appa lupa? nii-chan menahan kartu kredit Jennie 4 tahun yang lalu"

Appa mengangguk lalu membuka dompetnya.

" ini appa mengembalikan kartu kreditmu" aku tersenyum cerah lalu mangambil gold card dari tangan appa.

"berapa?" tanyaku.

"999,999,99 dollar" kata appa

"eh? kenapa dollar?" tanyaku.

"kau lupa? nii-chan mu menahannya waktu kita berada di Amerika"

[Jennie POV end]

[Minseok POV]

Aku mengiikat rambutku yang terasa mulai panjang dengan baik lalu memperhatikan penampilanku di cermin. Kemeja putih polos dan blazer hitam dengan skinny jeans warna hitam semakin menyempurnakan penampilanku.

"sempurna"

-.-.-.-

"eomma aku keluar!"

"baiklah! jaga kelakuanmu!"

Au mengangguk lalu keluar dari rumah dan berjalan ke arah rumah keluarga Kim. Aku melangkah dengan penuh sopan ketika masuk ke dalam rumah keluarga Kim.

"ah! Minseok! silahkan masuk ke dalam"

Aku mengangguk lalu duduk di hadapan Jennie yang sedang dipeluk erat oleh Jongdae.

"ahju―"

Nyonya Kim memotong perkataanku.

"panggil saja oka-san dan appa" kata Nyonya Kim. Aku menganggukkan kepalaku.

"o.. oka-san boleh aku minta izin untuk memngajak Jennie keluar?"

Seluruh keluarga Kim melihat kearahku.

"Ekhem"

Jongdae berdeham.

"baiklah hyung izinkan, dengan satu syarat yaitu Chanyeol dan hyung akan ikut"

Aku hanya mengangguk pasrah.

Sungai Han

Baruku tahu bahwa Jennie bukanlah seorang gadis biasa seperti gadis lain. Kebanyakan gadis akan mencoba menunjukkan sifat manja dan perhatian yang berlebihan tapi kalau Jennie dia hanya seorang gadis yang tidak terlalu menghiraukan tentang penampilan dan tuturkata orang di sekelilingnya.

"setelah ini mau kemana?" tanyaku pada Jennie.

"tidak tahu. Kalau oppa? Jennie hanya ikut saja"

Aku mengangguk lalu berfikir sebentar hingga tangan Jennie menyentak tanganku ketepi jalan.

"Ada orang bersepeda dan oppa tidak melihat ke depan"

Lihat! malahan aku rasa diriku lebih berperan seperti yeojachingu daripada namjachingu! Seharusnya aku menunjukkan sifat gentle bukan seperti ini! Dan sifat manja Jennie sama sekali tak tampak!

"apa sifat Jennie membuat oppa merasa tidak nyaman?" aku menggelengkan kepala.

"apa sifat manjamu hanya topeng?"

Jennie hanya tertawa kecil.

"sifat manja Jennie asli kok, tapi tidak keterlaluan seperti di sekolah. Jennie melakukan itu semua karena ada sebabnya, inilah diri Jennie yang sebenarnya. Pendiam dan membosankan atau sedikit gentle mungkin?" aku mengangguk.

"tapi sifat asli yang membuat seseorang itu jatuh cinta pada Jennie"

Jennie tersenyum lembut.

"ayo ke lottle world"

[Minseok POV end]

[Jongdae POV]

Aku dan Chanyeol hanya memperhatikan Jennie dan Minseok dari jauh.

"hyung. sudahlah. mereka tidak akan apa-apa"

aku menghembuskan nafasku.

"hyung tidak mengkhawatirkan Jennie tapi Minseok, hyung juga ingin melihat siapa yang akan menyerang Minseok hari ini"

Chanyeol menggelengkan kepala lalu menepuk bahuku.

"sudahlah hyung, hyung tahu bukan? kalau dalam keadaan bahaya sisi buas Jennie akan keluar secara otomatis untuk melindungi orang di sekelilingnya"

aku mengangguk.

"hyung tahu itu.. tapi Minseok.."

Chanyeol menatapku dengan tampang datar.

"Langsung saja menikah dan tak perlu khawatir lagi! suruh semua anak buahmu menjaganya 24 jam!"

Lalu Chanyeol berlalu pergi.

"aduh.. sayangku Chanyeollie~ hyung hanya khawatir itu saja.. ayo temani hyung.."

Chanyeol menoleh ke arahku lalu tersenyum tapi kemudian memasang wajah pokerface kembali.

"tak ada gunanya!" aku mengejar Chanyeol.

"tunggu~! chagi jangan merajuk!"

[Jongdae POV end]

-Roda paris (keripik ga tau apa maksudnya, mungkin semacam bianglala gitu)..

Jennie sibuk melihat ke arah luar tanpa menghiraukan Minseok yang sedari tadi terlihat cemas memainkan jarinya.

"indah" kata Jennie dengan mata berbinar.

"emm.. Jennie" panggil Minseok gugup. Jennie menoleh ke arah Minseok dan memberikkan Minseok seluruh atensinya. Minseok memperhatikan mata light purple Jennie lalu menunduk ke bawah.

"kau tahu Jennie? oppa telah dijodohkan"

Jennie memasang wajah terkejut.

"begitu juga Jennie! cincin yang oppa kenakan adalah cincin yang sama dengan cincin yang Jennie kenakan"

Minseok menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.

"Jennie sebenarnya.. .. .. .. .. .. oppa adalah tunanganmu"

Dan ekspresi yang keluar dari wajah Jennie adalah wajah terkejut.

Hingga mereka keluar dari roda paris, Jennie masih memasang wajah terkejut sampai Minseok menarik bahu kecil Jennie menghadap ke arahnya.

"Kim Jennie dengar sini, oppa tahu oppa tidak sempurna kalau mau dibandingkan denganmu yang kaya dan mempunyai segala-galanya tapi oppa janji akan menyanyangimu sepenuh hati oppa dan juga mencintai kamu setulus hati oppa"

Lalu Minseok mengecup dahi Jennie lembut perlahan-lahan membuat Jennie tersenyum. Namun, tak lama kemudian, tawa Jennie menggelegar membuat Minseok merasa bingung.

"haha.. Hahahah! Oppa lucu sekali! Sebenarnya Jennie bukan tunangan oppa"

Minseok terkejut setelah ia mendengar penjelasan dari Jennie.

"apa yang kau katakan, Jennie?" tanya Minseok masih tidak percaya

"hahaha.. Jennie hahaha.. bukan tunangan oppa haha"

Jennie tertawa sambil mengusap air mata nya yang keluar saat menjawab pertanyaan Minseok.

"J.. Jadi siapa tunanganku?"

Suara Minseok terdengar terbata-bata. Jennie tersenyum hingga menimbulkan eyesmile dan dimple di kedua pipi tembamnya.

"Kim Jongdae, nii-chanku" jawab Jennie santai membuat Minseok menjadi sangat-sangat terkejut.

'seharusnya Jennie yang terkejut tapi sekarang semuanya terbalik.. aku yang malah dikejutkan dengan sangat dahsyat' batin Minseok.

T B C

A/N : hai! Maapkeun keripik ya. Keripik terlalu sibuk dengan kesibukan anak tingkat akhir sekolah menengah atas *dan keripik lagi ada job lain nih, ngebuat sketsa wajah. lumayan lah pendapatan nya 1 sketsa wajah bisa sekitar 50K-100K (keripik masih belum terlalu pro makanya ga berani masang harga tinggi-tinggi). Bisa buat ngurangin beban hidup yang makin lama makin mahal* Btw, Happy 70+ review! Ah, keripik bahagia sekali melihat review nya. Ya walaupun ga sebanyak fiksi lain sih. Aing mah sadar diri kalau ff ini jauh dari kata sempurna. Oh iya, keripik rencananya mau nge discon ff ini, karena keripik takut keripik jadi terlalu sibuk buat ngelanjutin fic ini. Dan juga, TODAY IS WU YI FAN'S BIRTHDAY! Ga nyangka ya, mamas krissie udah tambah tua tapi ganteng nya ga pudar *tonggos nya juga* dan juga(2) layge, chenppa, baekppa sama minppa udah debut dan keripik suka semua lagu mereka~ dan juga(3) keripik udah terlalu banyak ngebacot. Last for this Chapter, mind to review?

Thank's to : (4D team alien) (chenmin son) (chenma) (daebaektaeluv) (pancipinkmamajin) (pikachubias) (dedekmomon) (Hyera832) (bebekchen) (pau gendut) (aoisafitrixm) (kpop wife) (Park Eun Yeong) (kpop princess) (chuacu) (Fanyssi)

KeripikBalado99

Wo ai ni men~

P.S : kalo kalian ga setuju fic ini di discontinue, keripik bakal usahain tetap update kok, walaupun lama.