Trying to love.

Cast :

Jung Yunho

Choi Siwon

Kim Jaejoong

Etc.

This is only a fiction,not real.

Ff pertama yang dipublish dimohon untuk kasih saran dan komentar yang membangun.

.

.

.

Enjoy!

Yunho terbangun dengan kesal. Entah siapa orang gila yang terus meneleponnya pagi ini,Yunho terpaksa bangun dan mengangkat teleponnya. Benar-benar merusak moodnya untuk hari ini rasa kesal Yunho semakin bertambah ketika melihat nama Yoochun yang tertera dilayar handphonenya. Yoochun memang senang sekali membuat Yunho naik darah,namun mau bagaimana pun Yoochun adalah sahabat tergila yang pernah ia miliki. Sahabat yang selalu menemaninya sejak mereka bertemu di Shinki Junior High School.

"APA?!"

"Bodoh. Apa kau lupa sekarang ada meeting? Cepat kesini!"

Sialan.

Yunho langsung melempar handphonenya dan berlari kearah kamar mandi. Tanpa peduli jika teleponnya masih tersambung.

Ck,kenapa ia bisa lupa? Dan lagi ia lupa memasang alarm. Padahal ia setiap hari ia akan selalu memasangnya sebelum tidur.

Sebenarnya jika ia tinggal dirumah pasti umma atau adiknya Jihye akan membangunkannya. Tapi jika ia diapartemen yang membangunkan hanya alarm dan kadang-kadang si jidat lebar itu. Wajar bukan jika ia terkadang telat bangun karena semalam ia begadang karena pekerjaan. Ia hanya tidur 4 jam dan itu adalah waktu tersingkat untuk Yunho tidur karena ia senang sekali tidur.

Ketika dikamar mandi Yunho sempat berpikir jika ia mempunyai seorang istri,pasti ia tak akan kesiangan dan mungkin ia akan semakin gendut karena setiap pagi ia akan sarapan. Dan mulai makan dengan teratur,pagi,siang dan malam. Yunho terkekeh akan pikiran konyol nya.

Setelah dirasa cukup,ia keluar dari kamar mandi dan terburu-buru memakai setelan jasnya dan ia sedikit mengulur waktu ketika memakai dasi,menurutnya sangat merepotkan ketika kain panjang itu harus terpasang dilehernya. Yunho sebenarnya bisa memakai dasi sendiri namun tidak pernah terpasang dengan rapi.

Biarkan soal kerapihan dasi yang terpenting ialah ia harus tiba dikantor secepatnya.

Yunho berlari ketika ia sudah sampai dilobi kantor. Derap kakinya terdengar jelas didalam kantor,hampir semua pasang mata menatapnya kagum dan heran akan kedatangan sang atasan karena ini sudah lewat waktu masuk kantor.

Untuk hal ini jangan ditiru apa yang sudah Yunho lakukan pagi ini sebagai presdir. Terlambat.

Ia pasti akan ditatap orang-orang dengan setelan jas ketika ia masuk ruang rapat. Memalukan memang. Tapi lebih memalukan lagi jika tidak datang karena menghindari rasa malu. Lagipula ini adalah rapat penting karena berurusan dengan saham beberapa perusahaan yang bekerja sama dengan Jung Corp.

Yunho mengetuk pintu lalu masuk dengan tatapan orang-orang yang sudah duduk rapi. Seperti biasa Yunho akan memasang wajah datarnya dalam keadaan apapun. Yunho berdehem pelan dan berjalan menghampiri kursi kosong yang hanya tersisa untuknya. Yoochun sudah berada didepan layar,ia akan melakukan tugasnya mempresentasikan sesuatu.

Setelah 2 jam berada diruang rapat Yunho keluar dan masuk keruangannya yang dibuntuti oleh Yoochun.

"Kau sudah menyelidiki Go Ah Ra?" Tanya Yunho setelah tiba dan duduk dikursinya. Yoochun menghampiri Yunho dan berdiri didepan meja Yunho.

"Sesuai yang kau minta" Yoochun menyerahkan flashdisk hitam pada Yunho. Yunho yang paham langsung memasukannya pada lubang yang sesuai dilaptopnya.

Yunho menautkan kedua alisnya.

Dijodohkan denganku?

Yunho terpaku sebentar,ia bingung. Ia menatap Yoochun yang sedang duduk disofa dengan handphone ditangannya.

"Yoochun kau menyelidikinya dengan benar bukan?" Yunho menanyai Yoochun dengan wajah yang terlihat bingung.

"Kau sudah tahu kualitas kerjaku. Ada apa?"

"Coba kau baca," Yunho menyandarkan punggungnya dikursinya. Yoochun bangun dan menghampiri laptop Yunho lalu membacanya dengan bola mata yang bergerak.

"Ini bagus bukan?"

Menatap Yoochun dengan alis yang ditautkan. Yunho semakin bingung. Apanya yang bagus?

"Kau seharusnya senang dijodohkan dengan gadis ini. Oh lihatlah Bung! Body nya seperti gitar spanyol" Ujar Yoochun dengan mata berbinar. Dasar mata keranjang.

"Semua wanita juga pasti memiliki badan seperti itu Yoochun. Dan aku sama sekali tidak suka dengan hal ini" Ucap Yunho malas. Ia tidak mau dijodohkan memangnya ia lelaki yang tak laku sampai harus dijodohkan. Bahkan banyak wanita yang memujanya,menunggunya dan bahkan ada yang berani merayunya. Tapi sayang sepertinya ia telah jatuh pada pesona namja galak yang membuatnya tersenyum diawal pertemuan.

"Aku akan bertanya pada umma." Putus Yunho dan mengeluarkan ponselnya.

"Jika kau tidak mau buatku saja Yun" Kata Yoochun dengan cengiran lebarnya. Membuat Yunho menatap kearah lain,tak sadarkah kau memiliki kekasih Yoochun.

"Silahkan saja. Ingat kau punya kekasih Yoochun." Jawab Yunho cepat.

.

"Halo,ada apa Yun?"

"Umma tahu wanita bernama Go Ah Ra?"

"Ya. Umma tahu,"

"Apa maksudnya ia dijodohkan denganku?"

"Oh! Kau sudah tahu? Baru umma akan mengatakannya padamu. Ya itu benar. Ahra memang dijodohkan denganmu sayang"

"Aku tidak mau! Itu keputusanku."

"Yunho! Temui dia dulu baru memutuskan. Umma tidak mau tahu kau harus mendatangi undangan makan malam keluarga Go. Jangan memalukan."

"Ck. Terserah umma saja"

Klik. Sambungan telepon terputus.

Yunho tak habis pikir dengan Ummanya. Kenapa ia harus dijodohkan dengan gadis ini? Dan bahkan ia sama sekali tak menyukainya. Sepertinya belum puas karena selama perjodohan Yunho selalu menolak dan seharusnya umma nya tahu jika ia dijodohkan sudah pasti ia akan menolak bukan? Memang ummanya ini seperti kurang kerjaan.

"Jadi benar kau dijodohkan?" Tanya Yoochun.

"Ya. Dan aku tidak setuju."

"Kenapa?"

"Aku menyukai orang lain" istri orang lain ralat Yunho dalam hati.

"Siapa?"

"Yang pasti kau tidak tahu"

Yoochun melempar pulpen kearah Yunho dengan sadis.

Yunho tertawa.

.

.

.

datang dengan pakaian casual atasan blues berwarna putih dan celana hitam tak lupa tas jinjing berwarna merah terang dengan rambut yang dikonde rapi. Membuat semua akan mengira jika ia masih lah seorang wanita muda berumur 30-40 tahunan namun nyatanya ia sudah berumur 58 tahun. Ia datang kesini tentu ada perlu,tepatnya dengan anak tampannya.

Semua orang yang berada disitu seketika menyapa dan merundukkan badannya hormat dan dibalas senyuman ramah oleh .

Jung So Min.

Itulah nama ummanya Yunho.

langsung masuk keruangan Yunho tanpa ketukan terlebih dahulu membuat sang penghuni terkejut akan kedatangannya,baru saja ia telepon tadi dan sekarang sudah ada didepan mata.

Yoochun langsung membungkukan tubuhnya dan tersenyum.

"Imo terima kasih atas sup nya kemarin" timpal Yoochun tersenyum dengan lebarnya.

"Sama-sama Yoochun ah,lain kali mainlah kerumah"

Yoochun menggangguk.

"Baiklah. Saya permisi," Yoochun berjalan keluar ruangan,ia paham pasti akan berbicara tentang perjodohan Yunho dan Ahra itu.

"Umma ingin bicara" langsung tanpa basa-basi ketika Yoochun sudah keluar meninggalkan mereka yanh kini hanya ia berdua dengan Yunho.

"Jika tentang perjodohan aku tidak mau."

"Dengarkan Umma dulu Yunho!"

"..."

menghela nafas,ia harus mengucapkan dengan benar dan sedikit rayuan agar Yunho mau dijodohkan. Setidaknya membalas pembicaraanya.

"Malam ini kau harus datang. Tuan Go yang mengundangnya langsung pada umma"

Yunho menatap malas kearah kaca lebar yang tepat disamping mejanya.

"Dan kau harus datang-"

"Aku tidak mau" potong Yunho cepat tatapannya masih menatap ke kaca yang memperlihatkan kota seoul dari atas.

"Umma mohon Yunho kau harus datang kali ini. Jangan mempermalukan keluarga kita"

"Aku tahu jika undangan makan malam itu adalah untuk mendekatkan aku dengan Ahra. Dan apa umma tahu? Aku paling benci jika aku melakukan sesuatu hal yang tidak aku sukai" Jelas Yunho dengan nada suara sedikit berteriak,ia kesal.

"Pokoknya umma ingin kau datang malam ini. Umma akan datang ke apartemen mu sore nanti,"

Yunho mengatupkan rahangnya keras,ia tak mungkin melawan ummanya dia adalah orang tuanya dan wanita yang ia junjung tinggi. Dan ia harus menghormatinya.

"Umma-"

"Tidakk ada penolakan jika kau ingin masih kuanggap sebagai anak"

Yunho langsung menoleh kearah ummanya dan menatap tajam. Yunho tidak percaya ketika Ummanya berkata seperti itu,amarah Yunho semakin menjadi.

Ia menendang meja kayu dengan kaki kanannya.

Sebenarnya siapa itu Go Ahra? Sampai-sampai ummanya mengancamnya dengan kata-kata seperti itu bahkan ia baru saja mendengar nama Go Ahra dan ia semakin benci ketika tahu jika ia sedang dijodohkan dengannya.

"Umma keterlaluan" Yunho bangun dari duduknya dan berjalan keluar tanpa sedikit pun hormat pada ummanya. menghela nafas,anaknya memang sangat membenci kata perjodohan. Dan ia sudah terbiasa jika Yunho akan marah karena memang ini adalah perjodohan yang sudah ia coba ketiga kali dan ia berharap jika Yunho bisa menerimanya.

Tidak dengan Yunho. Yunho merasa jika ia tidak cocok dengan gadis itu.

.

.

.

Jaejoong berjalan gontai didepan koridor apartemen dengan Changmin yang disampingnya. Ia baru saja mengantar suaminya ke Bandara. Semalam ia memang sangat marah pada Siwon ia berusaha melawan ego dan amarahnya pada Siwon. Jaejoonh dengan berat hati ikut mengantarkan suaminya. Sewaktu dibandara tadi ia menangis melihat Siwon pergi,ia tak peduli jika harus menangis didepan dan dilihat orang banyak. Walaupun hari libur bandara Incheon selalu ramai orang-orang yang berlalu lalang baik orang korea maupun orang asing. Dan kini Siwon benar-benar sudah pergi. Dengan waktu yang cukup lama.

Kini Jaejoong sedang menemani Changmin bermain diruang tengah.

Hah.

Rumahnya sepi kembali dan ia hanya berdua dengan Changmin. Ia memang sudah terbiasa tapi ia merasa kasihan dengan Changmin pasti ia masih merindukan appanya. Tadipun ia menangis melihat ayahnya pergi tapi Siwon tak mungkin kan membatalkannya? Ia harus profesional. Hm profesional.

Jaejoong menghela nafas.

Tadinya ia ingin ikut ke Jepang bersama Siwon tetapi Siwon melarangnya karena ia akan tinggal bersama di asrama para pelajar. Dan jika Siwon menyewa kan rumahnya untuknya sama saja bukan ia tidak akan bertemu Siwon.

Jaejoong tersenyum melihat Changmin yang sedang bermain tanpa memperdulikannya. Sibuk dengan lego hadiah dari Junsu.

Ia duduk disamping Changmin dan mencium pipinya berulang-ulang.

"Ayo kita pergi"

"Kemana umma?" Changmin melepaskan pegangannya pada lego.

Jaejoong menggendong Changmin. Ia mengambil kunci mobil dan keluar dari rumahnya.

Ia ingin mengajak Changmin jalan-jalan dan ya ia bosan dirumah. Biasanya jika ada Siwon ia akan dengan senang memeluknya sepanjang hari,walaupun hanya memeluk tetapi ia tak pernah bosan.

"Umma akan mengajak Min ke restoran" Jaejoong menaruh Changmin dikursi depan.

"Ide bagus umma! Min akan makan yang banyak" ujarnya dengan kedua tangan terangkat keatas dan membentuk lingkaran mengartikan arti banyak.

"Ya sayang. Umma juga ingin mengajakmu ke tempat bermain,otte?"

"Hum! Min mau. Kajja umma"

Jaejoong mengacak rambut Changmin dan mulai memajukan mobilnya. Ia hari ini akan membuat Changmin senang. Sepertinya Changmin kesepian jika Siwon tidak ada,terbukti Changmin hanya mempunyai 3 orang teman saja. Jaejoong,Siwon dan Kyuhyun.

Jaejoong berniat akan mendaftarkan Changmin ditaman kanak-kanak.

Sudah waktunya Changmin belajar. Mungkin minggu depan ia akan mendaftarkannya. Ia berharap Changmin bisa berteman dengan anak-anak yang lain.

Jaejoong sudah sampai direstoran yang ditujunya. Ia turun dengan tatapan orang-orang yang terpesona mungkin?

Jaejoong memang menawan. Semua orang mengakui itu tapi Jaejoong tak memperdulikannya. Ia melangkah ke pintu mobil disamping dan menggendong Changmin. Changmin yang memang doyan makan alias rakus terlihat sangat senang ketika sampai ditempat makan. Mulutnya pun tak berhenti menyanyi,sangat lucu.

Banyak orang yang tersenyum geli mendengar suara Changmin yang cempreng. Restoran ini terlihat penuh dan ramai sekali,untungnya ia datang dan terdapat meja kosong tersisa.

Jaejoong mendudukan Changmin.

"Umma akan mengambil makanannya disana. Minnie diam disini arra?"

"Oke. Tapi umma halus membawa semua makanan ne? Min mau semua" jawab Changmin dengan antusias.

Jaejoong mengangguk.

"Tunggu oke?" Jaejoong tersenyum dan mengusap rambut Changmin.

"Chogiyo," Jaejoong menepuk pundak seorang lelaki yang sedang menikmati makannya dalam diam.

"Bisakah aku titipkan anakku denganmu? Aku akan mengambil makanan sebentar" lanjut Jaejoong dengan namja tadi yang masih sibuk menyuapkan makanannya. Namun akhirnya menoleh dan membuat Jaejoong terkejut dan mundur beberapa langkah.

"Jung Yunho?!"

Jaejoong menautkan alisnya dengan mata yang mendelik seram. Lagi-lagi ia bertemu dengan orang ini.

Ah.

Yunho tak menyangka jika Jaejoong sudah tahu namanya,bahkan ia memanggilnya dengan sangat jelas. Perkembangan yang bagus.

Yunho yang memang tak tahu akan bertemu dengan Jaejoong sama terkejutnya tapi ia juga merasa senang secara bersamaan. Ya Tuhan,ia merasa seperti ditakdirkan untuk selalu bertemu Jaejoong.

Yunho sedikit merasa aneh ketika tidak melihat Siwon. Kemana orang itu? Ia hanya melihat Changmin yang sedang memandangnya tak suka. Yunho tak peduli,untuk apa ia memikirkan Siwon? Tidak ada gunanya.

Yunho menatap Jaejoong.

"Aku akan menjaga Changmin. Dan bagaimana kau tahu namaku?" Jawab Yunho sesuai dengan yang diinginkan Jaejoong disertai pertanyaan yang sebenarnya tidak usah ditanyakan. Karena ia orang ternama pasti namanya sudah diketahui banyak orang terutama orang yang sering berbisnis.

"Bukan urusanmu aku tahu darimana. Awas kau jangan membuatnya menangis!" Bentak Jaejoong pada Yunho. Yunho adalah orang asing yang telah membuatnya anaknya menangis dan parahnya Si Jung ini tak menyadari kesalahannya.

"Minnie ah~ jika ahjussi jelek ini melakukan sesuatu kau harus teriak oke?" Ucap Jaejoong dengan wajah serius mengingatkan Changmin akan bahayanya seorang Jung Yunho.

Ck. Yunho hanya berdecak dengan tingkah Jaejoong yang berlebihan,ia kira dirinya seorang penculik.

"Cepat sana bodoh. Aku tak akan membuatnya menangis" Ujar Yunho yang dihadiahi dengan cibiran bibir Jaejoong.

Jaejoong pun melangkahkan kakinya kearah meja prasmanan yang menyediakan makanan.

Yunho menarik kursinya dan pindah ketempat yang sedang diduduki Changmin.

Dan dengan tak sopannya tangan kecil Changmin langsung menyambar udang goreng yang sangat disukai oleh Yunho karena memang itu adalah primadona restoran ini.

Yunho kesal. Itu adalah udang terakhir dan tanpa permisi diambil oleh anak nakal ini. Yunho menutup matanya berusaha meredam emosinya ia tidak boleh membentak anak ini karena pasti ibunya yang seperti singa akan memarahinya.

Lagipula ia harus belajar sabar menghadapi em... calon anaknya.

"Lain kali jika mengambil milik orang lain kau harus ijin terlebih dahulu"

"Tidak untuk ahjussi" Jawaban Changmin membuat Yunho menatapnya horror. Anak ini benar-benar membuat nafsu makannya hilang.

"Dasar anak nakal" ledek Yunho dengan wajah meremehkan.

"Akan aku adukan pada umma nanti!" Ucap Changmin dengan mulut yang masih mengunyah udang milik Yunho.

"Adukan saja. Aku tidak takut"

"Tunggu saja"

Changmin melanjutkan suapannya. Dengan Yunho yang sedang duduk dengan wajah sedikit kesalnya. Ia mengeluarkan handphone dari dalam sakunya ketika merasakan jika handphonenya bergetar.

Ia langsung mengangkat teleponnya. Sepertinya urusan kantor. Ketika Yunho sedang menelepon Jaejoong datang dengan nampan berisi piring-piring makanan yang langsung disambut bahagia oleh Changmin.

"Sebentar sayang" Ujar Jaejoong ketika Changmin tak bisa diam dan berusaha mengambil piring makanan tersebut.

Jaejoong menaruhnya dan menatanya. Mengambil piring kosong dan menyendokkan semua makanan yang dibawanya lalu ditaruh didepan Changmin.

"Berdoa dulu. Makan dengan rapi ok?" Ucap Jaejoong penuh perhatian. Jaejoong benar-benar seorang ibu yang penuh kasih sayang walaupun ia seorang pria.

Jaejoong melirik sebentar kearah Yunho yang sedang menelepon dengan tubuh yang membelakanginya. Jaejoong baru menyadari jika punggung Yunho sangat lebar berbeda dengannya ia bahkan memiliki kulit putih seperti wanita. Ia iri tentu saja,ia namja.

Jaejoong melanjutkan suapannya. Sesekali menyendokkan ikan goreng kepiring Changmin.

"Umma ahjussi itu mengatai Min anak nakal" oceh Changmin dengan mulut yang sedang mengunyah. Membuat tak terdengar jelas oleh Jaejoong.

"Telan dulu makanannya sayang. Baru bicara"

Changmin mengunyah dengan cepat dan menelannya. Jaejoong tersenyum geli,ibu jarinya mengusap sisa-sisa makanan yang menempel di atas bibirnya.

"Ahjussi itu mengatai Min anak nakal umma~"

Jaejoong menoleh kearah Yunho yang sedang memainkan handphonenya.

"Dia?" Tunjuk Jaejoong kearah Yunho. Yunho bingung lalu menatap kearah Jaejoong dan Changmin bergantian.

Changmin mengangguk, "Ya umma. Padahal appa selalu bilang Min anak baik"

Yunho yang melihat udang goreng diatas piring Changmin langsung mengambilnya,tak apa kan ia mengambilnya? Toh ini sebagai ganti udang yang tadi diambil Changmin. Changmin yang melihat hartanya diambil langsung memukul tangan Yunho,otomatis Yunho langsung melepaskan tangkapannya.

"Umma!" Adu Changmin pada Jaejoong yang membuat Yunho terdiam. Ingat,Jaejoong itu sangat galak. Apalagi jika berhubungan dengan anak nakal ini.

"Ya! Jung! Kalau mau ambil sendiri"

"Tadi anakmu mengambil udang ku tanpa permisi"

"Jadi?"

"Aku mengambilnya lagi sebagai ganti"

"Kalau kau mau tinggal ambil lagi apa susahnya?"

Yunho memutar bola matanya sebal. Dasar ibu-ibu memang doyan sekali mengomel.

"Kau yang ambilkan bagaimana?"

Jaejoong mendelik tajam kearah Yunho. Apa? Mengambilkan untuknya? Memangnya ia siapa?

"Kau kira aku pelayan?"

"Sebagai gantinya kau harus mengambilkannya Kim Jaejoong"

"Aku tidak ma-" Omelan Jaejoong terputus ketika tangan Yunho memasukan selada kedalam mulutnya. Jaejoong semakin kesal dengan sengaja ia memukul bahu Yunho. Tak sopan sekali si Jung ini.

Jaejoong mengunyah seladanya dengan ganas Yunho menahan tawanya ketika melihat mulut Jaejoong yang mengerucut penuh mengunyah makanan. Changmin langsung memasukan nasi kemulut Yunho yang akhirnya tak bisa menahan tawanya. Changmin terkikik melihat pembalasannya berhasil.

Yunho tersedak. Dan kini gantian Jaejoong yang tertawa,mengacungkan jempolnya kearah Changmin. Anaknya pintar sekali.

"Hahaha. Rasakan itu Jung!" Changmin dan Jaejoong masih tertawa dengan Yunho yang sedang sibuk mengunyah dan menelan. Ia merasa kalah dengan ini.

Yunho mengambil air minumnya dan menegaknya sampai habis. Changmin tidak bisa dianggap seperti anak-anak karena kelakuannya berbeda dengan anak yang lain,pikirnya jika seorang anak-anak hanya bisa menangis dan terdiam duduk manis ternyata ia baru tahu jika anak-anak itu tak bisa diam dan merepotkan. Apalagi si Changmin ini,nakal,tidak sopan,cempreng,tukang makan dan sebagainya. Hanya satu poin plus yang dimilikinya Changmin itu tampan dan lucu disaat bersamaan.

Changmin masih terkikik geli akan tingkah yang ia buat tadi. Membuat Yunho mendengus sebal. Ia jadi terlihat lemah didepan Jaejoongnya.

"Dimana suamimu Jaejoong-ah?" Yunho bertanya ketika ia sadar bahwa itu adalah pertanyaannya yang mengganjal sejak tadi. Biasanya ia akan melihat Siwon yang selalu disamping Jaejoong yang tentunya membuat hatinya terbakar oleh api cemburu.

"Dia pergi ke Jepang." Jawab Jaejoong singkat. Ia sangat malas berbicara dengan si Jung itu.

"Untuk apa?" Jaejoong menoleh kearah Yunho. Kenapa orang ini ingin tahu sekali? Memangnya ada apa?

"Tugas seorang pilot. Ia pergi 4 bulan lamanya,sudah jangan bertanya lagi aku sedang makan!"

Yunho serasa seperti orang paling dibenci karena Jaejoong selalu berbicara dengan nada tak suka kepadanya. Padahal ia orang yang baik dan sangat tampan -ucapnya dalam hati-. Kesempatan yang bagus jika ia melakukan pendekatan dengan Jaejoong ia harus bisa membuat Jaejoong memandangnya,ia akan mengajak Yoochun nanti kesalon untuk mempertampan diri(?).

Yunho diam dengan kedua mata musangnya yang menatap Jaejoong lekat. Mata rubahnya menatap Jaejoong dari rambut blonde Jaejoong yang terlihat lembut lanjut kearah kedua matanya,hidung mancung yang runcing dan bibir berkilat merah merona.

Yunho meneguk ludah. Ini tidakk bagus.

Gara-gara Jaejoong ia jadi berbelok,baru kali ini ia melihat seorang namja semenarik Jaejoong. Yunho heran ibunya Jaejoong dulu mengidam apa bisa melahirkan seorang namja namun bisa cantik seperti ini?

Jaejoong yang risih diperhatikan langsung menggeplak kepala Yunho dengan sendoknya.

"Aku tahu aku tampan. Tidak usah menatap seperti singa lapar!"

Tampan? Kebohongan yang terbesar.

"Umma ayo ke taman belmain. Min sudah kenyang"

"Sebentar sayang. Umma belum selesai" balas Jaejoong ia mempercepat kunyahannya dan menghabiskan makanannya. Changmin mengerucutkan bibirnya dan terdiam menunggu ummanya.

"Kalian akan pergi? Boleh aku ikut?" Ujar Yunho membuat Changmin dan Jaejoong menoleh kearahnya bersamaan.

"Boleh. Asal kau tidak merepotkan" Jawab Jaejoong santai,tangan kanannya mengusap bibirnya yang belepotan begitu pula dengan Changmin.

"Ayo berangkat" Jaejoong menggendong Changmin dan berjalan kearah kasir untuk membayar. Tadinya Yunho akan sekalian membayar makanan Jaejoong namun ia malah menolaknya. Yunho menunggu Jaejoong dipintu mobilnya,senang juga jika hari ini ia bisa kencan dengan Jaejoong. Kencan? Ah ia baru ingat bahwa ada satu makhluk yang akan mengacaukannya. Faktanya Ini bukan kencan.

Jaejoong keluar dan langsung memasuki mobilnya tak memperdulikan Yunho yang masih berdiri. Sial,bahkan ia seperti orang biasa dimata seorang Kim Jaejoong.

.

.

.

Jaejoong dan Changmin keluar dari mobil ketika sudah sampai ditempat bermain. Hanya memakan waktu 15 menit perjalanan dari restoran tadi,mereka berjalan beriringan dengan Yunho yang berjalan dengan langkah kaki sedikit berlari agar bisa menyamai mereka berdua.

Hah. Kalau bukan orang sexy mana mau ia berlari seperti ini.

"Jangan naik itu Min. Umma tidak berani" Jaejoong jongkok menyamai tingginya dengan Jaejoong. Memberi penjelasan kepada Changmin bahwa ia tidak mau menaiki biang lala tersebut. Permainan itu memang dikhususkan untuk anak-anak namun menurutnya ini menakutkan. Karena Jaejoong takut ketinggian.

"Min pokoknya mau naik itu!" Oh gosh! Keras kepala lagi. Ia tidak mungkin memperbolehkan Changmin menaiki sendiri karena ia takut terjadi sesuatu dengan anaknya. Bisa saja kan bianglala ini tiba-tiba berhenti di atas? Itulah yang ia pikirkan sejak tadi.

"Aku saja yang menemaninya" sambung Yunho. "Aku akan naik bersama Changmin" tawar Yunho dengan menaik-naikan alisnya.

Yunho tersenyum dengan Changmin yang langsung beralih memegang jari telunjuk Yunho.

"Kajja Ahjussi" tangan Changmin menarik-narik jari Yunho.

"Jaga baik-baik anakku Jung!" Ucap Jaejoong sedikit berteriak ketika Yunho pergi menghampiri loket tiket.

"Tentu. Manis" Balas Yunho menggoda. Disertai dengan kedipan dimata kirinya.

Jaejoong memandang Yunho sebal,genit sekali si Jung itu. Kaki jenjangnya menendang angin menandakan jika ia sedang menendang pantat si Jung itu.

TBC

Konflik masih belum muncul-_- maaf ya kalo ada yang ga suka lanjutannya(?) ini kayanya juga makin mendrama banget hahaha. Ini updatenya lama banget ya kaya orang sibuk aja.

Maklum ini pertama kali bikin ff dan nekat dipublish.

Masih butuh bimbingan,yang mau membimbing silahkan(?)😅

Terima kasih yang dichap sebelumnya sudah ngasih saran dan voment. Itu membuat saya bersemangat.

Thank You.